Jurnal Sosioteknologi
Not a member yet
592 research outputs found
Sort by
ANALISIS MANAJEMEN GALERI PADA GRIYA SENI POPO ISKANDAR
Griya Seni Popo Iskandar (GSPI) merupakan salah satu galeri di Bandung yang sudah bertahan selama 40 tahun. Melalui tulisan ini, akan menganalisis sistem manajemen galeri yang mengubah format menjadi Griya Seni Popo Iskandar. Penelitian ini dibatasi pada periode 2016-2019, dengan pertimbangan dalam periode tersebut kegiatan pameran di GSPI memperlihatkan freukensi yang tinggi.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan teori teori manajemen seni oleh Giep Hagoort yang berhubungan dengan strategi, struktur, kepemimpinan, budaya organisasi dan fungsi. Penelitian ini juga menggunakan teori medan sosial seni oleh Hans Van Maanen yang berhubungan dengan aesthetic production, audiens dan means (PAM).Berdasarkan aesthetic production yaitu seniman yang berpameran di GSPI berasal dari mahasiswa dan seniman dari masyarakat umum. Seniman yang sering berpameran adalah seniman dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), selanjutnya dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Universitas Maranatha, dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Seniman di GSPI juga memamerkan karya yang beragam (fleksibel) dan di dominasi oleh karya kontemporer. Di samping itu GSPI memamerkan karya Popo Iskandar sebagai daya tarik bagi pengunjung. Audiens yang mengapresiasi karya di GPI berasal dari berbagai segmen, kolektor, akademisi, curator, dan pengunjung umum. Terdapat beragam tingkat pengetahuan mereka terhadap kesenirupaan. Berdasarkan means yang berkaitan dengan fsilitas GSPI, letak GSPI tidak berada di jalan utama sehingga menjadi salah satu kendala bagi pengunjung. Interior GSPI sendiri tidak terfokus pada gaya arsitektur tertentu, pengaturan tata letak masih memberikan kesan bangunan rumah.Melalui pemaparan di atas, manajemen GSPI yang dikelola oleh keluarga dan meminimalisir staf manajemen mengakibatkan penumpukan kerja pada Kurator. Perlu dilakukan evaluasi penambahan staf agar manajemen galeri dapat menajdi optimal. Berdasarkan analisis PAM pihak manajemen perlu memfokuskan target audiens yang dibidik, sehingga GSPI memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya dengan mempertegas sebagai galeri Pendidikan. Hal ini sesuai dengan kondisi saat ini dan di sisi lain Popo Iskandar memang seorang pendidik. Karya yang dipamerkan dapat saja difokuskan pada karya-karya kontemporer sehingga menjadi sejalan dengan perkembangan Pendidikan seni saat ini. Fakor terakhir yang berkaitan dengan means adalah memperbaiki interior maupun eksterior GSPI menjadi satu gaya yang menyatu. Hal tersebut akan mempertegas karakter yang ingin disampaikan. Pihak manajemen perlu lebih kreatif dalam menjaring audiens mendatangi GSPI, salah satunya dengan mengaktifkan café yang tersedia dan menata menjadi tempat yang nyaman serta layak ditampilkan di media social.Kata kunci : GSPI, galeri, PAM, Popo Iskandar.
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI MENTORING DENGAN KONSEP SOFTWARE AS A SERVICE (SAAS)
Mentoring adalah bentuk hubungan antara mentor dan mentee yang bertujuan untuk menghasilkan perkembangan positif dan sehat pada mentee lewat bimbingan dari mentor. Terbatasnya sumber daya menjadi masalah dalam pengelolaan mentoring di Indonesia karena lembaga pengelola mentoring merupakan lembaga nirlaba. SI (sistem informasi) dengan konsep SaaS (Software as a Service) dirancang untuk mengatasi kendala keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh pengelola mentoring. Perancangan SI didasarkan pada analisis masalah yang dilakukan di mentoring Bidikmisi 2016/2017. Perancangan yang dilakukan terdiri dari perancangan arsitektur sistem, basis data, antarmuka, dan ketersediaan. Rancangan SI kemudian diimplementasikan dalam bentuk purwarupa web app dan mengalami pengujian fungsional dan pengujian penerimaan pengguna. Hasil pengujian fungsional menunjukkan semua kebutuhan fungsional berhasil dijawab melalui purwarupa dan rancangan sistem. Hasil pengujian penerimaan pengguna yang dilakukan kepada 46 pengguna dari pengelola, mentor, dan mentee menunjukkan bahwa SI berguna bagi pengelolaan mentoring (85%) dan mudah digunakan (57%)
WACANA KESANTUNAN BAHASA SUNDA PADA MEDIA VISUAL DI WILAYAH PENGEMBANGAN GEOPARK PANGANDARAN:Kajian Sosiopragmatik
Penelitian ini mengungkapkan strategi kesantunan berbahasa dalam mengungkapkan tuturan ajakan, imbauan dan permohonan melalui figure ilustrasi gambar yang mengungkapkan masing-masing tuturan tersebut. Tujuan utama penelitian ini adalah mengkaji wacana kesantunan berbahasa Sunda sebagai produk budaya daerah Jawa Barat melalui media visual papan imbauan, sekaligus sebagai sarana menjaga keasrian alam wilayah pengembangan Geopark kabupaten Pangandaran. Metode penelitian yang digunakan berdaasar pada analisis deskriptif dan observasi di lapangan dengan sumber data lokasi dan kondisi di Pangandaran. Teori yang digunakan adalah sosiopragmatik untuk mengkaji unsur sosial berkaitan dengan masyarakat, dan pragmatik untuk mengkaji implikatur tuturan tersebut.Hasil penelitian sementara mengungkapkan belum adanya media visual yang dilengkapi dengan kesantunan berbahasa Sunda dan Indonesia yang diperlukan sebagai sarana mengajak, menghimbau, dan memohon kepada pengunjung agar mengikuti apa yang telah dituturkan dalam media visual tersebut
DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA GAGRAK SURAKARTA DALAM PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SECARA MATEMATIS
Arjuna dalam wayang kulit memiliki bentuk ekspresi (disebut dengan wanda) yang penciptaannya didasarkan pada bentuk dan posisi tubuh dan diidentifikasi dengan menggunakan rasa. Penelitian ini melangkah lebih jauh dari sekedar rasa untuk mencari diferensiasi secara terukur pada wanda-wanda Arjuna dan membaca pola dari diferensiasi tersebut. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan mengukur dan menghitung secara matematis elemen-elemen Arjuna wayang kulit. Arjuna wayang kulit dalam penelitian ini dilihat sebagai suatu struktur di mana setiap elemen-elemennya terkait satu sama lain sehingga dapat diketahui diferensiasinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pola diferensiasi yang bersifat kontinum dari tiga yang menjadi obyek penelitian, di mana wanda Kinanthi mengantarai diferensiasi wanda Kedhu yang menjadi patokan (titik awal) dan wanda Muntap yang menjadi titik akhir. Pola yang muncul ini dapat digunakan untuk memperkirakan arah penciptaan wanda berikutnya
KEKERASAN VERBAL DALAM VLOG GAME PADA KANAL YOUTUBE: SEBUAH KAJIAN ILMU KOMUNIKASI RBAL VIOLENCE IN GAME VLOG ON YOUTUBE CHANNEL
Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai kekerasan verbal yang terdapat di media sosial, khususnya pada kanal YouTube Rezaoktovian karena dalam video blog yang diunggah banyak terdapat kata-kata kasar yang termasuk ke dalam tindak kekerasan nonfisik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mencari jumlah dan kategori kekerasan verbal yang terdapat dalam video blog pada kanal Rezaoktovian dengan menggunakan pendekatan secara kuantitatif dan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan verbal dibagi menjadi empat kategori, yaitu eufemisme, hiperbol, umpatan, dan umpatan dalam bahasa asing, dengan frekuensi kekerasan verbal rata-rata sebanyak 924 kali. Menyangkut masalah etika, Reza Oktovian telah melanggar norma kesopanan, serta hukum yang ada pada Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik), Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 27 ayat III Bab VII tentang Perbuatan Yang Dilarang (Republik Indonesia, 2008). Hal ini dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif kepada anak-anak berusia di bawah umur, yaitu mereka dapat meniru menggunakan kata-kata kasar yang sering diucapkan oleh Reza Oktovian yang mengandung kekerasan verbal di YouTube
Perilaku eksternalisasi anak rumah susun sederhana Leuwigajah Cimahi dalam optimalisasi ruang terbuka hijau
Penelitian perilaku externalizing anak berkaitan pemanfaatan optimalisasi ruang terbuka hijau di rumah susun sederhana Leuwigajah Cimahi. Mayoritas anak beraktivitas di selasar rumah susun dengan kondisi ruang minimalis. Sesekali mereka memanfaatkan ruang terbuka hijau, namun bagi anak yang tinggal di lantai 2 dan 3 sangat jarang mengoptimalkan ruang tersebut. Hipotesis yang diajukan partisipan akan menunjukkan perilaku externalizing: (1) perilaku melanggar aturan, mengganggu (delinquent behavior), (2) perilaku agresif (aggressive behavior). Sebagai subjek, penelitian ini melibatkan 42 anak usia 6-12 tahun yang tinggal di rumah susun dengan berbagai latar belakang orang tua. Metode penelitian yang digunakan ialah metode observasi, metode wawancara dan pemberian kuesioner CBCL (Child Behavior Checklist). Setelah orang tua mengisi kuesioner, peneliti melakukan pengamatan pada anak yang biasa hanya bermain di seputar selasar rumah lalu berinteraksi di ruang terbuka hijau dengan teman sebaya. Hasil penelitian memberi konfirmasi bahwa 20 anak pada kategori normal, 5 anak kategori borderline, 17 anak kategori klinis dan hanya 11 anak memanfaatkan ruang terbuka hijau. Kata kunci: Perilaku Externalizing, Rusuna Cimahi, Ruang terbuka hijau
A sense of belonging contribution towards employee performance: a case in Small and Medium-sized Enterprise (SMEs) Indonesia
Small Medium Enterprises (SME) Employees in Indonesia are relatively around 10 to 30 people. Because the number of employees just a view number, the relation between each employee is very close even like family. Even though there is an SME company in Indonesia that their employee is in line family, and because they were family, they feel belong to each other furthermore they feel a sense of belonging and become a part of the company. Feeling a sense of belonging in the workplace leads to more than just good vibes and friendships. Belonging is what allows employees to feel like they can be their authentic selves without fear of different treatment or punishment, and it has a major impact on performance and retention. From this phenomenon, this paper investigates if an employee's sense of belonging is good then it will contribute to employee performance. Employee performance has to manage because it will contribute to the productivity and effectiveness of the company. So that the company can compete with a competitor and deal with the dynamic environment. The importance of managing performance is needed for the company to adapt and compete with the competitor in any circumstances. This research prior study is to collect data and insight into employee performance based on their sense of belonging. The hypothesis of the research is a sense of belonging gives a positive influence on employee performance. The sample of the research consisted of 30 employees in one of Small Medium Enterprise (SME) in Bandung, Indonesia. A sense of belonging scale was used to collect the data. And then, data is analyzed through regression analyses with a 95% confidence interval. The regression result indicates that a sense of belonging contributes up to 69.4% of the variance towards employee's performance in Bandung SME. It means an employee with a higher sense of belonging has higher performance. Contrary, an employee with a low sense of belonging has low performance
PEMANFAATAN FACE RECOGNITION SYSTEM DALAM MENDUKUNG UPAYA PENGAMANAN DI WILAYAH BATAS NEGARA
Minimnya personil yang bertugas melakukan pengamanan di wilayah batas negara memerlukan sejumlah langkah strategis agar stabilitas wilayah tetap terjaga ditengah keterbatasan yang ada. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menggambarkan pemanfaatan teknologi untuk mendukung upaya pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan, terutama di wilayah perbatasan Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan face recognition system dapat dimanfaatkan dan mendukung upaya pengamanan di wilayah batas negara, terutama dalam mengawasi pergerakan manusia, pergerakan barang, dan pergerakan hewan yang terjadi di sepanjang wilayah perbatasan negara. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat menekan potensi ancaman yang muncul sehingga kondusivitas wilayah tetap terjag
Book Review; Menjadi Saintis Muslim
Book Title :Menjadi Saintis IslamAuthor : Usep Mohamad Ishaq, Ph.DPublisher : Indie Publishing, Depok IndonesiaPublishing Year : 2014ISBN : 978-602-281-089-6Pages : 209Genre : Scientific Boo
STANDARDISASI DESAIN SERAGAM SEKOLAH SISWA TAMAN KANAK-KANAK
ABSTRAK Pendidikan formal di Indonesia identik dengan kebutuhan seragam dan telah diatur dalam Peraturan Pemerintah. Taman Kanak-Kanak (TK) merupakan pendidikan awal jalur formal juga telah menerapkan aturan berseragam bagi siswanya meski belum tercantum dalam peraturan pemerintah. Seragam siswa TK yang termasuk dalam kategori busana anak memiliki karakteristik desain khusus agar sesuai dengan fisiologis dan aktivitas anak. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik desain seragam sekolah yang ideal dan sesuai dengan aktivitas sehingga dapat menjadi rekomendasi standar seragam siswa TK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis isi. Penelitian ini melihat seragam sekolah dari aspek pengguna dan konsumen untuk mendapatkan rekomendasi desain yang memenuhi kedua aspek tersebut. Observasi dilakukan pada 3 (tiga) sekolah TK di Bandung untuk mendapatkan data aktivitas dari aspek pengguna. Data preferensi dari aspek konsumen (orang tua siswa) diambil menggunakan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa preferensi desain seragam sekolah berdasarkan konsumen sebagian besar dapat memenuhi standar desain untuk seragam sekolah TK dan menyetujui penerapan aturan wajib berseragam sekolah TK