Jurnal Sosioteknologi
Not a member yet
592 research outputs found
Sort by
Modul Pembelajaran Multimodal Berbasis Teknologi Augmented Reality untuk Meningkatkan Literasi Informasi dan Digital Siswa
This study investigates the multimodal representation in the Grade 10 Bahasa Indonesia textbook published under the Kurikulum Merdeka, focusing on how various semiotic modes verbal, visual, typographic, layout, and color are functionally integrated to support meaning-making and student comprehension. Employing a qualitative content analysis method, data were collected through document analysis and analyzed using a multimodal categorization instrument. This instrument classified modes by type, communicative function, and modal integration. The analysis involved identifying modes on selected pages, evaluating the communicative function of each mode, and interpreting the relationships among modes, categorized as complementary, redundant, dominant, or incoherent, to assess cohesion and pedagogical relevance. The results show that visual modes are the most dominant, with typographic and layout features providing emphasis and structural clarity. Complementary relations were most frequent, demonstrating a high degree of synergy between modes in conveying meaning. Instances of redundancy, dominance, or incoherence were minimal but signal areas for improvement. The study concludes that the textbook reflects a pedagogical shift toward multimodal literacy aligned with 21st-century competencies. Practically, the findings inform educators and textbook designers on how to optimize visual-verbal coordination, design layout more coherently, and utilize typography and color meaningfully to foster more inclusive, engaging, and effective language instruction.Penelitian ini mengkaji representasi multimodal dalam buku teks Bahasa Indonesia kelas X yang diterbitkan dalam kerangka Kurikulum Merdeka, dengan fokus pada bagaimana berbagai moda semiotik (verbal, visual, tipografi, tata letak, dan warna) diintegrasikan secara fungsional untuk mendukung pemaknaan dan pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kualitatif, dengan pengumpulan data melalui studi dokumen dan dianalisis menggunakan instrumen kategorisasi multimodal. Instrumen ini mengklasifikasikan moda berdasarkan jenis, fungsi komunikatif, dan bentuk integrasi antarmoda. Proses analisis meliputi identifikasi moda pada halaman-halaman terpilih, evaluasi fungsi komunikatif tiap moda, serta interpretasi hubungan antarmoda—dikategorikan sebagai hubungan komplementer, redundan, dominan, atau tidak koheren—untuk menilai kohesi dan relevansi pedagogis. Hasil penelitian menunjukkan moda visual paling dominan, sedangkan unsur tipografi dan tata letak berperan dalam penekanan dan kejelasan struktur informasi. Hubungan komplementer paling banyak ditemukan menunjukkan sinergi tinggi antarmoda dalam menyampaikan makna. Beberapa kasus hubungan redundan, dominan, dan tidak koheren ditemukan dalam jumlah kecil, namun mengindikasikan perlunya perbaikan dalam aspek tata letak dan koordinasi antarmoda. Penelitian ini menyimpulkan buku teks mencerminkan pergeseran pedagogis menuju literasi multimodal yang sejalan dengan kompetensi abad ke-21. Secara praktis, temuan ini memberikan panduan bagi pendidik dan perancang buku teks untuk mengoptimalkan koordinasi visual verbal, merancang tata letak yang lebih koheren serta memanfaatkan tipografi dan warna secara bermakna guna menciptakan pembelajaran bahasa yang lebih inklusif, menarik, dan efekti
Enhancing Budgeting Preparation Quality through Information Technology: A Casual Study on Motivation’s Moderating Effect
This study aims to determine and analyze the causal factors that contribute to the quality of budget preparation of the regional government budget (APBD). This causal study with motivation as a moderating variable employed 76 respondents from 34 sub-regional administrative units (SKPD) in Medan, Indonesia, using a saturated sample. Utilizingstructural equation modelling (SEM) with Smart-PLS, this study concludes that human resource competence and the use of information technology have a significant effect on the quality of APBD preparation. Motivation as a moderating variable does not exhibit a causal factor between the other two variables.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dengan motivasi sebagai variabel moderating di kota Medan. Penelitian ini memiliiki populasi sebanyak 76 orang responden dari 34 SKPD di kota Medan. Sampel yang digunakan yaitu sampel jenuh, dimana seluruh populasi dijadikan sebagai sampel. Pengolahan data menggunakan uji Structural Equation Modelling (SEM) menggunakan Smart-PLS. Penelitian ini mengahsilkan bahwa kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas penyusunan APBD, sedangkan variabel motivasi tidak dapat memoderasi terhadap kualitas penyusunan APBD di kota Medan
Dilema Desainer: Keresahan dan Pragmatisme dalam Persepsi Publik akan AI Generatif dalam Industri Kreatif Indonesia
The rise of generative AI presents a dilemma due to the public’s pragmatic acceptance of AI-generated design works (M=5.33, SD=1.89), alluding to the possibility of creative labor displacement. Grounded in Christensen’s Innovator’s Dilemma and Mori’s Uncanny Valley, this study examines how the Indonesian public perceives the ethical and utilitarian tensions of AI adoption. Using a sequential explanatory mixed-methods approach, an online survey (n=553) was conducted with respondents aged 20 to 50 in 10 Indonesian cities. Participants evaluated four case studies—advertisement, book cover, Instagram post, and photo manipulation—alongside their general sentiments. Findings indicate lower acceptance of GenAI for commercial (M=4.78, SD=1.84) than for personal use (M=5.43, SD=1.58), and concerns about GenAI’s potential to replace designers (M=5.2, SD=1.70). The lowest receptivity was observed in video and photo manipulation, reflecting the uncanny valley effect. Meanwhile, respondents tend to justify the use of GenAI when there are no formal regulations, thereby diminishing their ethical concerns, while also exhibiting difficulties in identifying AI-generated images. These perceptions underscore the importance of AI governance in protecting human designers from being replaced by machines and ensuring the authenticity of design works.Kebangkitan Generative AI menghadirkan dilema akibat penerimaan publik yang bersifat pragmatis terhadap karya desain yang dihasilkan AI (x̄ M=5,21, x̄ SD=1,64) mengarah pada kemungkinan tergesernya tenaga kerja kreatif. Berlandaskan pada teori Innovator’s Dilemma dari Christensen dan Uncanny Valley dari Mori, studi ini meneliti bagaimana masyarakat Indonesia memandang ketegangan etis dan utilitarian dalam adopsi AI. Dengan menggunakan pendekatan sequential explanatory mixed-method, survei daring (n=553) dilakukan terhadap responden berusia antara 20–50 tahun di 10 kota besar di Indonesia. Partisipan mengevaluasi empat studi kasus—iklan, sampul buku, unggahan Instagram, dan manipulasi foto—bersamaan dengan pandangan umum mereka. Temuan penelitian menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih rendah terhadap GenAI untuk penggunaan komersial (M=4,78, SD=1,84) dibandingkan dengan penggunaan pribadi (M=5,43, SD=1,58) serta adanya kekhawatiran mengenai potensi GenAI untuk menggantikan desainer (M=5,2, SD=1,70). Penerimaan terendah ditemukan pada video dan manipulasi foto yang mencerminkan efek uncanny valley. Sementara itu, responden cenderung membenarkan penggunaan GenAI apabila tidak ada regulasi formal, mengabaikan kekhawatiran etis mereka. Responden juga menunjukkan kesulitan dalam mengenali gambar yang dihasilkan AI. Persepsi ini menegaskan urgensi tata kelola AI untuk melindungi desainer manusia dari risiko tergantikan oleh mesin dan memastikan keaslian karya desain
Palu City MSME Strategy to Face Data Leakage Risks and Digital Transformation Safely and Efficiently
The gap in digital technology adoption for operational purposes poses a significant barrier to the growth of MSMEs, particularly in Palu City. According to data from the central statistics agency or BPS-Statistics Indonesia of Central Sulawesi (2022/2023), only 13.42% of MSMEs utilize digital technology in their business activities. This study aims to identify the main obstacles in the digital transformation process of MSMEs by integrating the diffusion of innovation (DOI) theory and the technology acceptance model (TAM), as well as Islamic values and local cultural perspectives. Employing a qualitative case study approach, data sources include in-depth interviews with MSME actors in Palu City and related official documents. The data were analyzed using thematic analysis. The findings indicate that technological complexity, limited availability of skilled personnel, low digital literacy, and concerns about data breaches are the primary inhibiting factors. Local traditions such as nogae (cooperation) and cross-sector collaboration are identified as potential accelerators for promoting inclusive digital technology adoption. This study contributes theoretically by integrating sociocultural approaches into technology adoption models and by advocating for sustainable digital education strategies and collaborative cross-sector policies. The findings provide a foundation for formulating adaptive digital transformation strategies for MSMEs tailored to the local context.Studi ini meneliti tantangan MSM di Kota Palu dalam mengadopsi teknologi digital, terutama mengenai risiko seperti kebocoran data dan serangan dunia maya. Ini mengidentifikasi kesenjangan dalam mengadopsi teknologi digital untuk tujuan operasional dan mengeksplorasi solusi untuk mempercepat transformasi digital yang aman dan efisien. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan aktor UMKM, dokumen resmi dari Biro Statistik Pusat (BPS), data dari Kantor Koperasi dan MSM, dan dokumen terkait. Analisis tematik digunakan untuk mengungkap pola dan tema dalam data. Temuan menunjukkan bahwa hanya sejumlah kecil MSM di Kota Palu mengadopsi dan secara strategis menggunakan teknologi digital. Hambatan utama termasuk kompleksitas teknologi, kurangnya profesional yang terampil, akses terbatas ke modal, dan kekhawatiran tentang keamanan data. Namun, nilai -nilai budaya lokal, seperti tradisi "nogae" dalam masyarakat Kaili, dapat mendukung transformasi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Studi ini menyoroti perlunya program literasi digital yang berkelanjutan, meningkatkan kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan, dan peningkatan infrastruktur digital untuk mengatasi tantangan ini secara efektif
Apakah Kamu Peduli Lingkungan? Implementasi Teori Planned Behavior Pada Minat Beli Konsumen Hotel Ramah Lingkungan di Indonesia
Green hotels are one of the products of sustainable tourism. The theory of planned behavior (TPB) could be a valuable approach for understanding consumer behavior, including visitors' preferences for eco-friendly choices. By looking at sociopsychological components, TPB makes a difference in anticipation, such as tourists' choices to visit green goals or remain eco-friendly. This study aims to examine consumer behavior regarding their interest in staying at a green inn, using the theory of planned behavior (TPB). The research focused on testing the variables of attitude, subjective norm, and perceived behavioral control on customer purchase intention. Data collection was conducted through a questionnaire analyzed by SEM-PLS to determine the causal relationship among latent variables contained in the structural equation with a sample of 121 people who stayed or had stayed at Hyatt Regency Hotel Yogyakarta. The research shows that there is a significant influence among the variables of attitude, subjective norm, and perceived behavioral control on customer purchase intention.
Green hotel merupakan salah satu produk pariwisata berkelanjutan. Teori Perilaku yang Terencana (TPB) dapat menjadi pendekatan yang berguna untuk memahami perilaku konsumen, termasuk preferensi pengunjung terhadap pilihan ramah lingkungan. Dengan mempertimbangkan faktor sosiopsikologis, TPB dapat membantu memprediksi secara lebih akurat keputusan pengunjung untuk mengunjungi destinasi ramah lingkungan atau menginap di akomodasi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan menggunakan TPB untuk mengamati perilaku konsumen yang berminat menginap di hotel ramah lingkungan. Penelitian ini berfokus untuk menyelidiki variabel sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan terkait dengan niat membeli konsumen. Untuk mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel laten yang dimasukkan dalam persamaan struktural, data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dianalisis menggunakan SEM-PLS. Sampel yang diambil berjumlah 121 orang yang menginap atau pernah menginap di Hotel Hyatt Regency Yogyakarta. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan terhadap niat membeli konsumen
Prediksi Model Zonifikasi Wilayah Peri-urban Kota Bandung Bagian Timur
Urbanization pressure has driven the expansion of Bandung's urban area to the East, especially in Cileunyi, Rancaekek, and Jatinangor Districts. As a peri-urban area of Bandung City, which is a transition zone between urban and rural areas, the challenges of its development are increasingly complex, especially since the area has physical limitations but does not hinder land conversion. This study aims to predict land cover changes and zonification models in the Eastern peri-urban area of Bandung City using the Cellular Automata Markov model. The results indicated that urban growth in the peri-urban area of Bandung City, especially in Cileunyi District, occurred significantly, forming an urban-rural frame zone (zobikodes). This pattern indicates strong competition between development interests and environmental conservationefforts. This transformation indicates that urbanization in the peri-urban area is not only triggered by population growth but also by economic dynamics, accessibility, and spatial planning policies that have not been fully able to control urban sprawl. The conclusion of this study confirms that without stricter and evidence-based policy interventions, uncontrolled urban expansion risks accelerating environmental degradation, reducing ecological resilience, and threatening the sustainability of agricultural land. Therefore, the resulting zonification models can be the basis for formulating a more adaptive and sustainable spatial planning strategy to balance economic growth with environmental preservation in the peri-urban areas of Eastern Bandung City.Tekanan urbanisasi telah mendorong ekspansi wilayah perkotaan Bandung ke wilayah Timur, terutama di Kecamatan Cileunyi, Rancaekek, dan Jatinangor. Sebagai wilayah peri-urban Kota Bandung yang menjadi zona peralihan antara kawasan perkotaan dan perdesaan, tantangan pengembangannya semakin kompleks, wilayah tersebut memiliki keterbatasan secara fisik namun tidak menghambat terjadinya perubahan tata gunalahan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi perubahan tutupan lahan dan pola zonifikasi di wilayah peri-urban Kota Bandung bagian Timur dengan menggunakan model Cellular Automata Markov. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan perkotaan di wilayah peri-urban Kota Bandung, khususnya di Kecamatan Cileunyi, terjadi secara signifikan membentuk zona bingkai kota-desa (zobikodes). Hal ini mengindikasi adanya persaingan kuat antara kepentingan pembangunan dengan upaya pelestarian lingkungan. Model zonifikasi yang dihasilkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan tata ruang yang lebih efektif untuk mengendalikan urban sprawl dan menjaga keseimbangan ekologis di wilayah peri urban
Dampak Perubahan Garis Pantai terhadap Status Titik Dasar dan Garis Pangkal Indonesia: Studi Kasus Nias Utara, Pulau Wunga, dan Bireun, Indonesia
Beach is a very dynamic environment because, in that environment, various processes occur, such as sedimentation, abrasion, and transportation. Likewise, the shoreline has a dynamic nature to change. Shoreline Changes can affect a country's maritime boundaries. This is because the changing shoreline can change the draw of the Baseline, which is the reference for measuring the maritime boundary. Therefore, it is necessary to monitor the shoreline where the Basepoint and Baseline are located. In this study, measurements of shoreline changes were made using SPOT 6 data which has a spatial resolution of 1.5 m. Shoreline changes were calculated using the DSAS. From the calculation results, the average rate of accretion in the Base Point 167 area is 5.63 m/year. Then in the area around Base Point 168 it has an average accretion rate of 2.27 m/year. In the area around Base Point 180, an average accretion rate of 15.11 m/year is obtained. The accretion process results in a change in the shoreline, resulting in a change in the configuration of the low water line which is the location where the base point is placed. Thus, changes in the shoreline can affect the withdrawal of Indonesia’s maritime boundaries.Pantai adalah lingkungan yang sangat dinamis karena dalam lingkungan tersebut, berbagai terjadi proses seperti sedimentasi, abrasi, dan transportasi. Demikian pula, garis pantai memiliki sifat dinamis yang berubah-ubah. Perubahan garis pantai juga dapat memengaruhi batas laut suatu negara. Hal ini karena perubahan garis pantai dapat mengubah tata letak garis pangkal, yang merupakan acuan untuk mengukur batas laut negara. Oleh karena itu, penting untuk memantau garis pantai di tempat titik dasar dan garis pangkal berada. Perubahan garis pantai dalam penelitian ini diukur menggunakan citra satelit SPOT 6 yang memiliki resolusi spasial 1,5 meter. DSAS digunakan sebagai alat untuk mengukur perubahan garis pantai. Dari hasil perhitungan, rata-rata laju akresi di area Titik Dasar 167 adalah 5,63 m/tahun. Rata-rata laju akresi di sekitar Titik Dasar 168 tercatat sebesar 2,27 meter per tahun. Laju pertumbuhan garis pantai di sekitar Titik Dasar 180 mencapai rata-rata 15,11 meter setiap tahunnya. Proses akresi mengakibatkan perubahan garis pantai, sehingga terjadi perubahan konfigurasi garis air rendah yang merupakan lokasi titik dasar ditempatkan. Dengan demikian, perubahan garis pantai dapat memengaruhi penarikan batas laut Indonesia
Potensi Emisi Gas Rumah Kaca dari TPA Galuga dan Kelayakan Finansial Teknologi RDF
Many cities are confronting significant challenges due to the rising volume of waste. This surge in waste generation not only risks overcapacity but also contributes to increased greenhouse gas (GHG) emissions. This study aims to estimate the amount of waste directed to the Galuga landfill, evaluate the potential GHG emissions resulting from the landfill, and analyze the financial viability of implementing Refuse DerivedFuel (RDF) technology, which has the potential to reduce waste volumes. This research employs three key methods: 1) Multiple Linear Regression (MLR) to identify the factors that influence waste generation, 2) the IPCC guidelines for National Greenhouse Gas Inventories Volume 5 to estimate potential greenhouse gas emissions, and 3) a financial feasibility analysis to evaluate the viability of implementing RDF technology.The results show that the volume of waste directed to the Galuga landfill in 2022 was 195,787.10 tons, with a projected increase of 2.43% by 2030, bringing the total to 200,544.26 tons. The potential greenhouse gas (GHG) emissions from waste generated at the Galuga landfill are estimated to be 109 kt CO2e in 2030, reflecting a decrease of 29.48% compared to 2022. Furthermore, the plan to implement RDF technologyis deemed financially viable, as it fulfills the necessary criteria for Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost (B/C) Ratio, and Payback Period. Therefore, the governments may introduce various incentives to promote the adoption of RDF technology, stricter waste segregation is essential for better RDF quality, and attracting private investment through PPPs can enhance RDF infrastructure.Sejumlah kota menghadapi masalah serius akibat peningkatan volume sampah. Timbulan sampah yang terus meningkat berpotensi menyebabkan overcapacity, serta meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK). Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi timbulan sampah yang masuk ke TPA Galuga, potensi emisi GRK yang dihasilkan dari TPA Galuga, serta menganalisis penerapan teknologi RDF yang dapat mereduksi jumlah sampah. Penelitian ini menggunakan Multiple Linear Regression (MLR) untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi timbulan sampah, Guidelinesfor National Greenhouse Gas Inventories Vol.5 (Waste) untuk mengestimasi potensi emisi GRK TPA Galuga, serta analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan penerapan teknologi RDF. Hasil penelitian menunjukkan jumlah sampah yang masuk ke TPA Galuga tahun 2022 sebesar 195.787,10 ton dan meningkat 2,43% pada tahun 2030 menjadi 200.544,26 ton. Potensi emisi GRK dari timbulan sampah TPA Galuga berkisar 109 kt CO2e pada tahun 2030, turun 29,48% dari tahun 2022. Rencana penerapan teknologi RDF layak dijalankan secara finansial karena memenuhi kriteria kelayakan NPV, IRR, B/C Ratio, dan Payback Period. Oleh karena itu, pemerintah dapat memberikan berbagai insentif untuk mendorong penerapan teknologi RDF,pemilahan sampah yang lebih ketat sangat penting untuk meningkatkan kualitas RDF, dan menarik investasi swasta melalui kemitraan pemerintah dan swasta dapat meningkatkan infrastruktur RDF
The Role of e-Government in Bogor City’s Smart City Strategy toward SPBE Enhancement
The increase in the electronic-based government system (SPBE) has increased by 4% throughout 2024 in Bogor City, showing the success of Bogor City's smart city in the aspect of e-goverment. On the other hand, Bogor City also has many awards. Therefore, this research will analyze the smart city strategy through e-government as an example of digital services. This research employs a qualitative method with a constructivist paradigm and a case study approach as proposed by Creswell. The case analyzed represents a positive example of how Bogor City has successfully implemented its smart city initiatives through the concept of e-governance. Data in this study were collected through in-depth interviews with six participants, consisting of three key informants, two supporting informants, and one expert informant. Data were analyzed using thematic analysis with the assistance of NVivo software to construct an understanding of Bogor City’s e-government strategies in enhancing the SPBE implementation. This study indicates that the Government of Bogor City has effective strategies like (1) strategic orientation and stakeholder mapping, (2) substantive policy underpinnings, and (3) symbolic action and hooked tagline. Implementation in Bogor smart city is (1) urban infrastructure and experiential signals, (2) strategic publicity and digital presence, and (3) public opinion and responsive governance.Peningkatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebesar 4% sepanjang tahun 2024 di Kota Bogor menunjukkan keberhasilan smart city Kota Bogor dalam aspek e-government. Di sisi lain, Kota Bogor juga telah meraih banyak penghargaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis strategi smart city melalui e-government sebagai contoh layanan digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan pendekatan studi kasus sebagaimana dikemukakan oleh Creswell. Kasus yang dianalisis merepresentasikan contoh positif tentang bagaimana Kota Bogor berhasil mengimplementasikan inisiatif smart city melalui konsep e-governance. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam partisipan, terdiri dari tiga informan kunci, dua informan pendukung, Peningkatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) sebesar 4% sepanjang tahun 2024 di Kota Bogor menunjukkan keberhasilan smart city Kota Bogor dalam aspek e-government. Di sisi lain, Kota Bogor juga telah meraih banyak penghargaan. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis strategi smart city melalui e-government sebagai contoh layanan digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan pendekatan studi kasus sebagaimana dikemukakan oleh Creswell. Kasus yang dianalisis merepresentasikan contoh positif tentang bagaimana Kota Bogor berhasil mengimplementasikan inisiatif smart city melalui konsep e-governance. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan enam partisipan, terdiri dari tiga informan kunci, dua informan pendukung
Desain Asesmen Diagnostik Adaptif melalui Optimalisasi Google Form dan jMetric untuk Mendeteksi Level Kesulitan Belajar Matematika Siswa
The level of difficulty students experience in learning mathematics can help teachers design learning activities that are appropriate for students' abilities and foster an independent learning environment. Google Forms and jMetric can be used as alternative software to construct adaptive assessments that accurately detect students' level of difficulty in learning mathematics and are easy to apply. The results of calibrating the content of the instrument with jMetric show that the overall instrument is in the “fairly good” category with a stratum of 2.81. Meanwhile, the development of adaptive assessments based on Google Forms is deemed valid in terms of website appeal and ease of use, with an average of 64.5%. Level kesulitan belajar matematika yang dialami oleh siswa dapat memudahkan guru dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa dan menumbuhkan iklim merdeka belajar. Google form dan jMetric dapat dijadikan sebagai software alternatif untuk mengkonstruksi asesmen adaptif pendeteksi level kesulitan belajar matematika siswa yang presisi dan mudah diaplikasikan. Pengembangan asesmen adaptif berbasis google form yang telah dilakukan, diketahui hasil dari validator Pada tahap uji coba soal, diperoleh keterbacaan asesmen sebesar 80%, beberapa item direvisi agar sesuai dengan perkembangan bahasa peserta didik, dan pada tahap uji coba model asesmen serta respon pengguna dinyatakan valid secara aspek ketertarikan website dan kemudahan website rata – rata 64,5 %