Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
    279 research outputs found

    PENENTUAN KADAR UNSUR RUNUTAN DALAM BAHAN MAKANAN MENGGUNAKAN TEKNIK ANALISIS AKTIVASI NEUTRON

    No full text
    PENENTUAN KADAR UNSUR RUNUTAN DALAM BAHAN MAKANAN MENGGUNAKAN TEKNIK ANALISIS AKTIVASI NEUTRON. Kadar berbagai unsur runutan dalam cuplikan makanan umumnya sangat rendah. Walaupun demikian unsur runutan tertentu, yang dikenal sebagai unsur esensial, ternyata mempunyai peran penting dalam proses metabolisme. Defisiensi atau intoksikasi unsur runutan esensial tersebut dapat menimbulkan gejala ketidak normalan kesehatan manusia. Pada  penelitian ini ditentukan kandungan unsur Zn, Fe, Al, Mn, Co, serta masukan harian unsur-unsur tersebut dalam cuplikan makanan. Cuplikan makanan yang digunakan berasal dari bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Penyiapan cuplikan makanan dilakukan dengan metode duplicate diet dan pengeringan beku pada suhu — 54°C. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis aktivasi neutron. Uji kesahihan hasil analisis dilakukan dengan menerapkan tatakerja analisis untuk menentukan kandungan unsur dalam cuplikan acuan standar NLST-SRM-1548a, dan membandingkan nilal hasil analisis dengan nilai pada sertifikat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis unsur Zn, Fe, Al. Mn, dan Co memberikan presisi dan ketelitian yang cukup baik. Hasil penentuan masukan harian unsur Zn dalam cuplikan makanan dan berbagai daerah di Pulau Jawa berkisar antara 2,8 — 22,8 mg/hari (batas normal 5 — 40 mg/hari), unsur Fe berkisar antara 3,1 — 26,5 mg/hari (batas normal 6 — 40 mg/hari), unsur AI berkisar antara 4,2 — 32,9 mg/hari (batas normal 2 — 45 mg/hari), unsur Mn berkisar antara 1,0 — 5,6 mg/hari (batas normal 0,4 — 10,0 mg/hari) , dan unsur Co berkisar antara 0,005 — 0,074 mg/hari (batas normal 0,005 — 1,8mg/hari)

    PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT KEKERASAN PADUAN Zr - Sn - Fe - Nb

    No full text
    PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP SIFAT KEKERASAN PADUAN Zr—Sn—Fe—Nb. Penelitian perlakuan panas paduan logam Zirkonitim Zr-Sn-Fe-Nb pada temperatur 700-900°C dengan waktu pernanasan 1 - 4 jam, Hasil peleburan menggunakan tungku pelelehan busur tunggal dengan atmosfer gas argon telah dilakukan. Hasil analisis dengan difraksi sinar X menunjukkan bahwa fasa yang  terbentuk didorninasi oleb fasa-α. Hasil karakterisasi dengan mikroskop optic rnenunjukkan bahwa naiknya temperatur pemanasan akan rnengubah struktur mikro paduan logam dan basket wave menjadi basket wave dengan ukuran yang Iebih besar. sedangkan bertambah Iamanya waktu pemanasan akan menaikkan jumlah pembentukan struktur mikro basket wave yang besar. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan bahwa kenaikan temperatur dan waktu perlakuan panas akan menurunkan kekerasan paduan Zr-Sn-Fe-Nb

    SISTEM KOMUNIKASI RADIO UNTUK MEMANTAU STATUS PENCACAH DI LIMBAH RADIOAKTIF

    No full text
    SISTEM KOMUNIKASI RADIO UNTUK MEMANTAU STATUS PENCACAH DI LIMBAH RADIOAKTIF. Telah dibuat sistem komunikasi radio untuk memantau status pencacah di limbah radioaktif. Sistem yang dibuat terdiri dari detektor GM, pencacah, shift register, gerbang nand, encoder, DTMF, rangkaian pesawat pemancar frekuensi modulasi, rangkaian pesawat penerima frekuensi modulasi, decoder, interface dan komputer. Prototype ini telah diuji coba dengan menggunakan sumber radioaktif I-131. Hasil uji coba menunjukan bahwa sistem komunikasi radio berbasis komputer ini dapat bekerja dengan baik

    KARAKTERISTIK KEKUATAN TARIK DAN DERAJAT KRISTALINITAS POLIPROPILENA TERIRADIASI

    No full text
    KARAKTERISTIK KEKUATAN TARIK DAN DERAJAT KRISTALINI-TAS POLIPROPILENA TERIRADIASI. Polipropilena (PP) yang telah diiradiasi mengalami perubahan kekuatan tarik dan derajat kristalinitas. Perubahan sifat fisik lain yang mengikutinya adalah titik leleh, massa jenis dan perubahan struktur molekul. Dibandingkan dengan yang belum diiradiasi, PP yang telah diiradiasi mengalami kenaikan pada sifat fisik dan mekanik tersebut. Kekuatan tarik meningkat sesuai dengan peningkatan dosis iradiasi yang diberikan. Demikian pula dengan derajat kristalinitas, titik leleh dan massa jenis, mengalami kenaikan sesuai dengan kenaikan dosis iradiasi, terutama pada dosis >20 kGy. Penyimpanan sampai dengan 3 bulan pada temperatur kamar tidak memberikan efek nyata pada perubahan sifat. Hal ini menunjukkan bahwa PP teriradiasi lebih baik kualitasnya. Analisis spektroskopi IR tidak menunjukkan munculnya puncak-puncak baru pada daerah pita serapan maupun daerah sidikjari

    KEBERGANTUNGAN TANGGAPAN DOSIMETER FOTOGRAFIK PERORANGAN KODAK TIPE 2 PADA SUDUT RADIASI DATANG DAN JARAK IRADIASI BETA

    No full text
    KEBERGANTUNGAN TANGGAPAN DOSIMETER FOTOGRAFIK PERORANGAN KODAK TIPE 2 PADA SUDUT RADIASI DATANG DAN JARAK IRADIASI SUMBER BETA. Telah dilakukan penelitian tentang kebergantungan tanggapan dosimeter fotografik perorangan Kodak tipe 2 pada sudut radiasi datang dan jarak iradiasi dari sumber standar sekunder beta 90Sr + 90Y, Tiga buah film badge disinari pada permukaan fantom berukuran 30 cm x 30 cm x 15 cm menggunakan sumber beta 90Sr+90Y pada sudut radiasi datang (α) berturut-turut 20°, 40°, 60° dari normal (0°) serta jarak radiasi 12 cm, 16 cm, 20 cm, 30 cm, 35 cm, 40 cm dan 50 cm dari pusat sumber dengan dosis penyinaran 3 mSv. Kerapatan optik pada posisi jendela terbuka (OW) dan di bawah filter plastik 1,5 mm (PI 1,5 mm) dibaca dengan densitometer untuk mendapatkan tanggapan dosis beta. Tanggapan maksimum diperoleh pada sudut radiasi datang 0° dan jarak iradiasi 30 cm dari pusat sumber standar sekunder beta 90Sr+90Y. Besaran dosis yang diukur adalah H'(0,07,α) yang ditentukan dari nilai nisbah tanggapan dosimeter pada α normal R(0,07,0). terhadap tanggapan dosimeter pada α normal, R(0,07,α)

    KARAKTERISASI UNJUK KERJA POMPA SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA 2000

    No full text
    KARAKTERISASI UNJUK KERJA POMPA SISTEM PENDINGIN PRIMER REAKTOR TRIGA 2000. Pompa sistem pendingin primer adalah salah satu komponen utama pada sistem pendingin Reaktor TRIGA 2000. Karakteristik unjuk kerja pompa sangat penting diketahui agar pompa dapat dioperasikan dengan baik dan aman. Penelitian dilakukan dengan cara memverifikasi kurva kinerja pompa yang diberikan oleh pabrik. Proses verifikasi dilakukan dengan mengubah-ubah laju alir pompa (dengan cara mengatur besar kecilnya pembukaan katup) dan mencatat besarnya laju alir, head dan efisiensi pompa yang diperoleh. Dengan demikian akan diperoleh kurva unjuk kerja pompa tersebut. Hasil yang diperoleh, rnenunjukkan bahwa unjuk kerja kedua pompa primer cukup mernenuhi kebutuhan dan sistem pendingin primer. Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat dan menjadi acuan dalam proses pengoperasian dan perawatan sistern pendingin primer

    KARAKTERISASI VARISTOR ZnO-Bi203-CuO

    No full text
    KARAKTERISASI VARISTOR ZnO-Bi203-CuO. Untuk mengetahui peran CuO dalam pembentukan varistor, pembuatan dan karakterisasi varistor ZnO-Bi2O3-CuO telah dilakukan. Dalam studi ini dilakukan penyinteran pelet ZnO-0,8% mol Bi203 yang ditambahi 0,5; 1 dan 2 % mol CuO pada suhu 1100°C selama 1 jam. Pelet sinter dianalisis memakai metode metalografi dan difraksi sinar-x. Karakteristik listrik dan pelet tersebut juga dievaluasi. Penambahan CuO menaikkan tegangan patah dan memperbesar arus bocor varistor ZnO-Bi203, tetapi tidak meningkatkan faktor kenon-linearannya. Dengan konsentrasi CuO 0,5-2 % mol, harga faktor kenon-linearan yang didapat masih lebih kecil dari pada harga faktor kenon-linearan untuk varistor ZnO Bi203 dan masih lebih kecil dari pada faktor kenon-linearan untuk kebutuhan pasar (lebih besar 20), karena penambahan CuO tidak dapat membentuk jebakan elektron dalam. Hasil analisis metalografi dan difraksi sinar-x memperlihatkan bahwa pada struktur mikro varistor ZnO-Bi203-CuO, lapisan batas butir dibentuk oleh ZnO.24Bi2O3 dan butirnya dibentuk oleh larutan padat ZnO-Cu

    PENENTUAN DOSIS SERAP BERKAS RADIASI 60Co MENGGUNAKAN DETEKTOR IONISASI DENGAN FAKTOR KALIBRASI DOSIS SERAP AIR.

    No full text
    PENENTUAN DOSIS SERAP BERKAS RADIASI 60Co MENGGUNAKAN DETEKTOR IONISASI DENGAN FAKTOR KALIBRASI DOSIS SERAP AIR. Protokol IAEA TRS No. 398 merekomendasikan penentuan dosis serap air berkas radiasi 60Co menggunakan detektor ionisasi dengan factor kalibrasi dosis serap air pada kondisi standar dengan jarak sumber kepermukaan fantom, SSD = 80 cm, luas lapangan 10 cm x l0 cm dan kedalaman pengukuran 5 cm dan 10 cm. Pengukuran dilakukan dengan detektor volume 0,6 cc tipe 2581 yang dirangkai dengan elektrometer Farmer tipe 2570 A. Diuraikan juga hasil perbandingan dosis serap air tersebut dengan protokol TRS No. 277 yang menggunakan faktor kalibrasi paparan dan kerma udara. Hasil yang diperoleh menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan sebesar ± 2%

    PEMBUATAN RADIOFARMAKA 153Sm-EDTMP UNTUK PENGOBATAN KANKER TULANG METASTASIS.

    No full text
    PEMBUATAN RADIOFARMAKA 153Sm-EDTMP UNTUK PENGOBATAN KANKER TULANG METASTASIS. Kanker tulang metastasis terjadi pada kebanyakan penderita kanker, seperti antara lain pada penderita kanker payudara, kanker prostat, kanker paru-paru dan lain-lain. Kanker ini menyebabkan rasa nyeri yang kuat dan kronis serta sering diobati dalam jangka waktu yang panjang dengan analgesik narkotik. Meskipun demikian pengobatan ini memberikan hasil yang tidak memuaskan, dan menimbulkan banyak masalah. Salah satu alternatif yang terbaik saat ini adalah radioterapi internal dengan menggunakan samarium-153 etilen diamin tetra metilen fosfonat (153Sm—EDTMP). Samarium-153 mempunyai sifat fisika pemancar beta yang sangat cocok untuk menghilangkan rasa nyeri yang kuat pada kanker tulang metastasis dan sinar gamma pada 103,2 keV sangat cocok untuk pencitraan selama terapi. Penyiapan radiofarmaka 153Sm-EDTMP dilakukan dengan mereaksikan Sm3+ hasil iradiasi dengan ligan EDTMP dalam larutan dapar fosfat 0,5 M, pH 7,5. Hasil penandaan dengan kemurnian radio kimia lebih besar dan 95% diperoleh bila perbandingan mol antara samarium dengan EDTMP paling sedikit 1 : 25. Hasil uji praklinis pada tikus dan hasil uji klinis pada beberapa pasien di rurnah sakit di Jakarta dan Bandung menunjukkan bahwa 153Srn-EDTMP paling tinggi terakumulasi pada tulang dan pada umumnya pasien menyatakan rasa sakitnya berkurang setelah dilakukan pengobatan dengan 153Sm—EDTMP.

    METODE ALTERNATIF SINTESIS ETILEN-L,L-DISISTEIN (EC) SEBAGAI LIGAN PEMBENTUK RADIOFARMAKA PENYIDIK FUNGSI TUBULUS GINJAL

    No full text
    METODE ALTERNATIF SINTESIS ETILEN-L,L-DISISTEIN (EC) SEBAGAI LIGAN PEMBENTUK RADIOFARMAKA PENYIDIK FUNGSI TUBULUS GINJAL. Pencitraan ginjal dengan radioisotop merupakan cara yang ideal dan noninvasive untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Dengan pemilihan radiofarmaka yang cocok, dapat diperoleh informasi yang cepat dari beberapa parameter sebagai indikasi dari fungsi ginjal, seperti antara lain kecepatan filtrasi glomerulus, aliran plasma di ginjal, dan aliran plasma di tubulus ginjal. Pada saat ini fasilitas kedokteran nuklir di rumah sakit melakukan studi fungsi tubulus ginjal menggunakan radiofarmaka(131I-hipuran. Radiofarmaka bertanda teknesium-99m (99mTc) yang dapat mengganti peranan hipuran di antaranya adalah 99mTc-etilen-L,L-disistein (L,L-EC). Radiofarmaka tersebut diperoleh dari pembentukan kompleks antara ligan L,L-EC dengan radionuklida 99mTc. Ligan EC dapat dibuat melalui berbagai jalur reaksi dari berbagai macam bahan awal. Dalam penelitian ini sintesis L,L-EC dimulai dari senyawa L-sistem hidroktorida melalui dua tahap reaksi. Tahap pertama yaitu metilasi menggunakan formaldehida sebagai sumber gugus metil, dan dengan bantuan piridin menghasilkan asam L-tiazolidin 4-karboksilat. Endapan yang diperoleh dimurnikan dengan jalan rekristalisasi dalam air panas, menghasilkan kristal berupa jarum, berwarna putih bening dengan titik leleh 197-198 °C, Tahap ke dua adalah konyugasi dua molekul asam tersebut dengan bantuan reduktor kuat sodamida pada kondisi reaksi -40 °C, menghasilkan senyawa etilen-L,L-disistein (EC) yang dimurnikan dengan cara rekristalisasi berulang pada suasana basa (pH 11-12) dan asam (pH 2). Hasil yang diperoleh berupa serbuk putih amorf mempunyai titik leleh 234-235 °C. Ke dua senyawa basil sintesis tersebut bila dibandingkan dengan zat standar memberikan spektrum IR dan noda yang identik pada kromatografi lapis tipis dan kertas. Senyawa etilen-L,L-disistein (L,L-EC) hasil sintesis ini diharapkan dapat digunakan untuk, pembuatan radiofarmaka penyidik fungsi tubulus ginjal 99mTc-L,L-EC.

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇