Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
PERANCANGAN ULANG, PEMASANGAN DAN KOMISIONING SISTEM INFUSER REAKTOR TRIGA 2000
PERANCANGAN ULANG, PEMASANGAN DAN KOMISIONING SISTEM INFUSER REAKTOR TRIGA 2000. Dalam kegiatan peningkatan daya reaktor TRIGA Mark II, untuk mengurangi konsentrasi nitrogen-16 di permukaan air tangki reaktor telah dilakukan perancangan ulang dan pemasangan sistem difuser yang baru. Uji coba penggunaan sistem difuser ini juga sudah dilakukan dan sistem difuser dapat beroperasi dengan baik. Data percobaan menunjukkan bahwa debit aliran sistem difuser pada pipa utamanya adalah 60 GPM dan harga ini setara dengan kecepatan dispersi nosel sebesar 2.56 rn/s. Pengoperasian sistem difuser pada saat daya reaktor 2000 kW menghasilkan laju dosis di permukaan air tangki antara 30 - 50 mrad/jam, sedangkan laju dosis di permukaan air tangki bila sistem difuser dimatikan adalah antara 110 - 200 mrad/jam. Besarnya laju dosis di permukaan air tangki reaktor TRIGA 2000 pada daya 2000 kW mendekati laju dosis di permukaan air tangki reaktor TRIGA Mark II (sebelum dilakukan peningkatan daya) pada daya 600 kW
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PAPARAN RADIAS! ALAM DI LINGKUNGAN
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PAPARAN RADIASI ALAM DI LINGKUNGAN. Analisis terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi laju paparan radiasi di lingkungan telah dilakukan. Metode yang digunakan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut adalah dengan metode pencacahan yang dapat menyapu areal yang luas dengan karakteristik batuan dan kegiatan manusia yang berbeda dan beragam. Dan data diperoleh bahwa paparan radiasi dipengaruhi jenis batuan yang membentuk daerah yang bersangkutan, dan penggunaan lahan yang membantu sumbangan paparan radiasi alam ke lingkungan. Paparan radiasi rata-rata yang berasal dan semua jenis batuan adalah, 3,43 ± 0,69 µR/jam. Jenis batuan yang mempunyai paparan radiasi tertinggi adalah dan jenis batuan latosol dan batuan beku basis dan intermedier di daerah gelombang dan gunung, dengan paparan 14,99 µR/ jam, Jenispenggunaanlahan yang mempunyaipaparanradiasitertinggiadalahuntukpertaniandenganpaparan 14,99 p.R/jam, untuk lokasi perkebunan 13,87 µR/jam. Daerah — daerah yang penggunaan lahannya untuk kegiatan pertanian, perkebunan, dan industri memberikan kontribusi yang lebih dominan dibandingkan dengan kegiatan kehutanan dan perumahan.
PERANAN RISET SAINS DASAR DALAM MEMBANGUN DAERAH
Dalam era globalisasi, pembangunan Indonesia dihadapkan pada berbagai masalah dan tantangan yang cukup pelik, yaitu: . Pembangunan sistem sosial politik baru, . Pembenahan sistem perbankan dan perekonomian nasional, . Pemenuhan kecukupan pangan, . Pemenuhan kecukupan energi, . Persaingan pasar global, . Mencari sumber pertumbuhan ekonomi, . Peningkatan kesejahteraan masyarakat, . Penyediaan lapangan kerja, . Peningkatan produktivitas angkatan kerja industri dan pertanian, . Pelestarian sumberdaya alam. Untuk mengatasi semua permasalahan dan tantangan tersebut diperlukan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang memadai, sehingga dapat dibuat perencanaan dan solusi yang menyeluruh tanpa harus menimbulkan permasalahan pelik yang baru. Penguasaan iptek rnempunyai arti kapasitas sumberdaya manusia berpendidikan yang mampu melakukan kegiatan riset berbasis sains (ilmu dasar) maupun terapan hingga teknologinya. Kebijakan pengembangan riset dan teknologi tidak hanya cukup untuk mengejar ketertinggalan yang bersifat kekinian, tetapi harus dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan teknologi yang mendukung dan menjawab tantangan-tantangan tersebut
PENGARUH POLIETILEN GLIKOL TERHADAP SIFAT FISïKA KIMIA HIDROGEL POLYETHYLENE OXIDE-KARAGINAN HASIL IRADIASI
PENGARUH POLIETILEN GLIKOL TERHADAP SIFAT FISIKA-KIMIA HIDROGEL POLYETHYLENE OXIDE-KARAGINAN HASIL IRADIASI. Dalam rangka mengembangkan aplikasi radiasi pada pengolahan polimer alam (natural polimer), telah dilakukan sintesis hidrogel polietilen oksida (PEO) karaginan menggunakan iradiasi mesin berkas elektron dan dipelajari pengaruh polietilenglikol (PEG) terhadap karakteristik fisiko-kimianya. PEO dengan konsentrasi 2 % (b/b) dicampur dengan larutan karaginan konsentrasi 2 % (b/b) dalam air suling, lalu kedalam campuran ditambahkan larutan polietilen glikol (PEG) dengan konsentrasi 0; 0,1; 0,3 ; 0,5 ; dan 0,7 % (v/v). Campuran diaduk hingga homogen pada suhu 80oC selama 1 jam. Selanjutnya campuran dimasukkan kedalam cetakan plastik (10x10x0,2) cm3, lalu di iradasi dengan mesin berkas elektron pada dosis 10; 20; 30 ; dan 40 kGy dengan laju dosis tunggal 10 kGy/pass. Sifat fisika-kimia dan hidrogel yang diamati adalah fraksi gel, swelling, penguapan air dan tensile strength. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa dengan naiknya dosis iradiasi hingga 40kGy fraksi gel meningkat, dan dengan naiknya konsentrasi PEG fraksi gel dan hidrogel menurun. Naiknya konsentrasi PEG menaikkan kemampuan adsorpsi air dan hidrogel, dan menghambat penguapan air. Hidrogel PEO—karaginan menunjukkan karakter yang elastis dan transparan dan cocok sebagai bahan untuk wound dressing(pembalutluka).
EFEK PERLAKUAN KOMBINASI IRADIASI SINAR GAMMA, CADMIUM, N2, DAN O2 PADA KHAMIR Schizosaccharomyces pombe
EFEK PERLAKUAN KOMBINASI IRADIASI SINAR GAMMA, CADMIUM, N2, DAN O2 PADA KHAMIR Schizosaccharomyces pombe.Telah dilakukan penelitian efek perlakuan iradiasi sinar gamma 60Co, cadmium (Cd), N2, dan O2 terhadap 3 galur khamir yaitu S. pombe MN55, MN72 dan L972hˉ. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui nilai D10 ketiga galur khamir akibat efek Cd dan radiasi dalam kondisi N2 dan O2. Sampel yang dialiri N2 dan kontrol diiradiasi menggunakan sinar gamma 60Co pada dosis 0; 0,3; 0,6; 1,16; 1,72; 2,28 dan 2,85 kGy, yang dialiri O2 diiradiasi pada dosis 0; 0,22; 0,43, 0,84; 1,25; 1,65; dan 2,06 kGy, masing-masing dengan laju dosis 3 kGy/jam dan 1,5 kGy/jam. Setelah diiradiasi sampel dibiakkan pada media Yeast Peptone Glucose Agar (YPGA) dan diinkubasi pada suhu 30 ± 2 0C selama 3 hari. Koloni yang tumbuh dihitung, datanya dipakai untuk membuat kurva dan menentukan nilal D10. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai D10 sampel yang diiradiasi dengan dialiri N2 lebih tinggi dari pada nilai D10 sampel yang dialiri O2. Selain itu tidak ada perbedaan nyata nilai D10 sampel baik yang ditambah Cd maupun tidak, ini membuktikan bahwa Cd tidak jelas berperan sebagai sensitizer (bahan pemeka) atau tidak terhadap daya tahan galur-galur khamir yang diiradiasi
SEISMIC HAZARD ANALYSIS OF THE BANDUNG TRIGA 2000 REACTOR SITE
SEISMIC HAZARD ANALYSIS OF THE BANDUNG TRIGA 2000 REACTOR SITE. A seismic hazard analysis of the West Java region is carried out to estimate the peak ground acceleration at the Bandung TRIGA 2000 nuclear reactor site. Both the probabilistic and deterministic approaches are employed to better capture the uncertainties considering the enclosing fault systems. Comprehensive analysis is performed based on the newly revised catalog of seismic data, the most recent results of the construction of seismogenic structures, and on the up dated information on the geology and the seismicity of the region. Source parameters such as b-value, slip rate and maximum magnitude are reassessed for each seismic source. As none attenuation equation is available for the region, those developed some where else are used in the study, i.e., Abrahamson & Silva (1997); Boore, Joyner & FumaI (1998); Boore & Atkinson (1997); Campbell & Bozorgnia (2003); Sadigh (1997); Spudigh (1997) and Young (1997). They are properly selected by considering the fault and subduction systems in question and are incorporated in the logic tree models derived herein based on the total probability theorem. The objective is to generate a horizontal three dimensional uniform risk spectral acceleration as dependent on the period as well as the return period for rock that is characterized by its average shear wave velocity of Vs = 1.050 m/s. A particular value of 0.172g is obtained as the peak ground acceleration for the site with its return period of 500 years
APLIKASI TEKNIK NUKLIR DALAM BIDANG KESEHATAN MASA KINI
APLIKASI TEKNIK NUKLIR DALAM BIDANG KESEHATAN MASA KINI. Salah satu cabang ilmu kedokteran yang berkembang pesat sejak berakhirnya Perang Duma Kedua adalah kedokteran nuklirberikut aplikasinya dalam pelayanan kedokteran. Iilmu kedokteran nuklir mempelajari proses fisiologidan biokimia yang teijadi dalam organ tubuh manusia dengan menggunakan perunut bertanda radioaktif. Aplikasinya meliputi studi in vivo, in vitro atau in vivitro dan terapi radionukiida. Perkembangan daiam berbagai disiplin ilmu dan teknologi pendukungnya telah mampu meningkatkan produksi lebih banyak jenis radionuklida dan radiofarmakanya, mulai dan senyawa bertanda iodium radioaktif, kemudian dengan 99mTc dan 201T1 serta radiofarmaka berwaktu paro pendek produksi sikiotron seperti senyawa bertanda 123I,18F, 11C, 13N dan 82Ru. Begitu pula dalam hal peralatan telah dirancang dan mampu diwujudkan peralatan deteksi mulai dan skener rektilinear, kamera gamma dan yang lebih mutakhir seperti kamera SPECT dan PET. Bertumpu pada berbagai perangkat tersebut teknologi kedokteran nukiir telah dimampukan memberi kontribusi yang berarti dalam pelayanan kesehatan dan peneitian kedokteran dasar dan terapan.
KARAKTERISTIK KOROSI ALUMINIUM DAN BAJA TAHAN KARAT
KARAKTERISTIK KOROSI ALUMINIUM DAN BAJA TAHAN KARAT. Peristiwa korosi pada logam dan paduan seringkali merupakan peristiwa yang perlu mendapat perhatian yang serius, karena peristiwa ini berkaitan dengan umur pakai sesuatu bahan. Bahkan dalam hal tertentu, proses korosi yang tidak terawasi dan tidak terkendali, bisa mengakibatkan kecelakaan pada suatu instalasi. Makalah ini membahas peristiwa korosi pada logam, antara lain kondisi yang berpengaruh pada korosi serta kemungkinan jenis korosi yang terjadi terutama jenis korosi yang terjadi pada aluminium dan baja tahan karat
KINETIKA UNTUK REAKTOR CEPAT
KINETIKA UNTUK REAKTOR CEPAT. Dalam paper ini dibahas penurunan fomulasi analisis kinerja reaktor untuk diadaptasikan pada kondisi reaktor cepat. Analisis dimulai dari persamaan difusi bergantung waktu, selanjutnya diterapkan pendekatan nodal sehingga didapat berbagai opsi aproksimasi seperti pendekatan quasistatik yang diperbaiki, pendekaan quasistatik, pendekatan adiabatik, dan pendekatan point reactor model. Untuk reaktor cepat dengan jarak bebas rata-rata neutron cukup besar pendekatan adiabatik memiliki akurasi yang cukup baik. Selanjutnya dibahas metode numerik yang digunakan untuk memecahkan kinetika reaktor dengan model pendekatan adiabatik ini. Tahap berikutnya adalah ekstensi analisis dengan melibatkan sistem lebih realistik yaitu dengan melibatkan sistem standar dalam reaktor cepat seperti antara lain kanal pendingin, tanki panas dan dingin, penukar panas dan pompa. Contoh hasil analisis diberikan dan dibahas
PEMBUATAN SEDIAAN 153Sm—MIKROSFER ALBUMIN UNTUK SINOVEKTOMI RADIASI.
PEMBUATAN SEDIAAN 153Sm—MIKROSFER ALBUMIN UNTUK SINOVEKTOMI RADIASI. Pengobatan rematoid artritis selama ini dilakukan dengan cara pembedahan yaitu dengan mengangkat membran sinovial yang meradang yang disebut juga sinovektomi. Cara ini dianggap kurang praktis, sehingga diupayakan untuk menggantikannya dengan cara sinovektomi radiasi. Telah dilakukan percobaan pembuatan mikrosfer albumin bertanda Samarium-153 yang akan digunakan untuk sinovektomi radiasi. Telahdilakukan serangkaian percobaan untuk memperoleh kondisi pembuatan mikrosfer albumin yang optimal meliputi waktu dan kecepatan pengadukan pada pembentukan partikel mikrosfer, dan variasi parameter yang mempengaruhi reaksi penandaan dengan 153Sm yang meliputi pH, jumlah natrium sitrat, Sm2O3 dan jumlah mikrosfer albumin. Efisiensi penandaan diamati dengan cara memisahkan mikrosfer bertanda dan cairan supernatannya, kemudian mengukur prosentase radio aktivitas mikrosfer bertanda tersebut. Partikel albumin diharapkan berbentuk bulat berukuran rata rata 15-50 µm. Efisiensi penandaan lebih dan 80 % dan 153Sm terikat kuat pada partikel. Pengujian stabilitas in vitro 153Sm- mikrosfer albumin dilakukan dengan cara mengamati ion 153Sm yang lepas dan partikel setelah partikel albumin bertanda ini diinkubasi dalam larutan NaCl 0.9 % dan larutan HSA selama 7 hari, sedangkan uji in vivo atau uji biodistribusi dilakukan dengan mengamati radio aktivitas pada sendi yang diijeksi radioaktivitas selama 7 hari setelah suspensi 153Sm-mikrosfer albumin disuntikkan secara intraartikular pada lutut tikus putih. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kecepatan dan waktu pengadukan yang dapat menghasilkan partikel dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan ialah 750 rpm selama 15 menit. Penandaan mikrosfer albumin dengan 153Sm menghasilkan efisiensi penandaan tertinggi pada kondisi pH 5-6, kadar natrium sitrat 10 mg/mL, kadar Sm2O3 125 µg/mL dan jumlah partikel mikrosfer albumin 10 mg. Sediaan mikrosfer 153Sm—albumin yang diperoleh stabil sampai hari ke-5 penyimpanan dalam lemari es