Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan
Not a member yet
129 research outputs found
Sort by
Pendidikan Lingkungan Hidup untuk Siswa Sekolah Dasar
Pendidikan perduli lingkungan adalah salah satu pendidikan karakter yang dirumuskan berdasarkan UU Republik Indonesia Nomor 20 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2003. Karakter ini diajarkan pada siswa terutama siswa sekolah dasar. Pengayaan karakter lingkungan dilakukan melalui pendidikan lingkungan yang diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan dan dapat dilakukan saat jam pelajaran ataupun di luar jam pelajaraan dalam proses belajar dan mengajar. Peningkatan karakter perduli lingkungan dibina melalui isu-isu lingkungan yang terjadi saat sekarang maupun pada masa yang akan datang, dikenalkan serta diajarkan kepada siswa tentang bagaimana mengatur lingkungan. Metode umum untuk pengembangan dan implemantasi pendidikan lingkungan telah dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Hasilnya, diperoleh informasi bahwa ada separuh siswa sekolah dasar yang mampu mencapai pencapaian pembelajaran dalam pendidikan lingkungan.
Environmental care character is one of the character education formulations based on UU Republic of Indonesia No. 20 released by Ministry of Education and Culture in 2003. This character is educated for students, espescially for elementary school students. The enrichiment of environmental character is carried out through environmental education which is integrated in the educational curriculum and could be carried out during class or out of class in the learning and teaching process. The fostering environmental care character is based on environmental issues occur today and the future that to be introduced and taught to students about how to manage the environment. Several methods for developing and implementing environmental education have been complesed by teachers and students. As a result, by providing implementation standards and indicators, it is obtained the information, there are only the half of elementary school students are able to achieve educational attainment in environmental education.  
Konsep Whole of Government (WoG) Sebagai Solusi Permasalahan Pencemaran Aliran Sungai Dalam Bingkai Politik Hijau (Studi di Sungai Citarum)
Permasalahan pencemaran aliran sungai sangat marak terjadi, hal tersebut terjadi dikarenakan banyaknya masyarakat yang membuang air limbahnya dan sampahnya ke sungai. Oleh sebab itu banyak sungai yang kondisinya tercemar, padahal sungai memiliki peranan yang sangat penting. Sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga kualitas aliran sungai, akan tetapi belum terkoordinir dengan baik. Tanpa adanya koordinasi maka permasalahan pencemaran sungai yang bersifat multi stakeholder tidak akan terselesaikan. Untuk menjawab permasalahan tersebut muncullah konsep Whole of Government, dimana Whole of Government adalah konsep yang berusaha menyatukan keseluruhan elemen dari pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan karakteristik tersebut, dirasa mampu untuk menjawab permasalahan utama dari pencemaran aliran sungai yaitu koordinasi. Tapi konsep Whole of Government masih sangat sedikit diterapkan untuk menangani permasalahan pencemaran aliran sungai. Minimnya pengimplementasian konsep Whole of Government dalam menangani permasalahan pencemaran aliran sungai, diindikasikan terjadi karena partai politik yang ada belum memasukkan Whole of Government kedalam alternatif cara untuk menangani permasalahan pencemaran aliran sungai. Untuk itu kita dapat meniru konsep Whole of Government yang diterapkan di Sungai Citarum. Dimana pemerintah pusat, pemerintah daerah, POLRI, TNI, dan kejaksaan saling bersinergi dan terintegrasi. Hasilnya Sungai Citarum dapat keluar dari status tercemar berat menjadi sedan
Analisis Persepsi Mahasiswa Yogyakarta dan Jawa Tengah tentang Konsep Green Hotel berdasarkan Pengalaman Kunjungan
Green hotel muncul sebagai salah satu solusi atas permasalahan lingkungan yang terjadi. Akan tetapi, apresiasi positif terhadap pelaksanan green hotel masih diperlukan. Penelitian ini mengkaji apakah green hotel sebagai salah satu solusi permasalahan lingkungan mendapatkan apresiasi positif dan diminati oleh pengunjung hotel. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dengan mengajukan kuesioner pada mahasiswa Yogyakarta dan Jawa Tengah terkait pengalamannya menginap di Hotel Yogyakarta. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa 34,28% sangat setuju lebih memilih tinggal di green hotel yang peduli dengan persoalan lingkungan, 57,14% setuju, 5,71% tidak setuju, 2,86% sangat tidak setuju. Selain itu, minat untuk dapat tinggal di green hotel sangat tinggi dengan persentase 28,57% sangat berminat, 65,71% berminat, 5,72% tidak berminat, 0% sangat tidak berminat. Sehingga green hotel sebagai solusi atas permasalahan lingkungan mendapat apresiasi positif dan minat yang tinggi dari calon pengunjung dan pengunjung hotel dan memiliki potensi besar untuk berkembang lebih baik
SPATIAL PLANNING BASED ON LOCAL WISDOM IN THE SAMBORI INDIGENOUS COMMUNITY THROUGH MANAGEMENT OF ETNO TOURISM POTENTIAL
The development of the population, which is accompanied by an increase in human needs invarious aspects, causes various spatial problems. Spatial problems include settlements andunhealthy community environments such as slums, prone to floods, droughts, fires, pollution anddamage to the environment, joblessness, and the spread of various diseases. Therefore, it isnecessary to have a spatial arrangement that is in accordance with the needs and capacity of thespace, so that a beautiful, cool and harmonious life can be achieved. Basically, the concept ofspatial planning, ideally, has long been known by elements of Indonesian society, even beforethe explosion of population growth that occurs today. The existence of sacred spaces, areas, andland that are not allowed to build houses, residential areas in groups, areas for graves, areas forroads, areas for places of worship, agricultural areas, are forms of local spatial planning knownto the general public. Local wisdom is one of the community's capital to combine aspects ofnature conservation with aspects of economic fulfillment which is conceptualized as Ethnotourism. One of the potentials that many regions have in Indonesia is the natural potential whichbecause of its beauty and uniqueness can be developed for Ethno tourism. A very closecorrelation between local wisdom and ecotourism is that the local wisdom of a particularcommunity is usually related to the way it relates to the environment and the naturalsurroundings. The interaction of this wisdom is a very good attraction to be packaged into aunique ecotourism concept. Based on the conceptual description of the analysis and the empiricalconditions. It seems that the implementation of local spatial planning is one of the mostfundamental alternatives to be presented in a scientific format so that we can understand moredeeply the spatial concept built by our ancestors. Moreover, in the era of globalization whichpresents a very strong influence on all dimensions of life, including spatial planning, thusrequiring us to have a strong foundation in managing space as a place to live and develop. This iswhere local values in managing spatial planning are needed to strengthen the identity andindependence of the Indonesian nation. One of the villages in the Bima Regency that is able tomaintain the traditions and local values of the Indonesian people's spatial planning is theSambori Traditional Village community. The Sambori community has used a spatial plan that isvery in line with the values and spatial patterns in ecotourism management that is rational and inaccordance with its ideal designation
Strategi Pengelolaan Pertambangan Pasir Berkelanjutan di Desa Luragung Landeuh, Kuningan, Jawa Barat
Most of the mining activities do not have a business license. This condition has been legally handled in court, but many have not taken firm legal action. There is no legal action yet because the implementation of government policies has not been carried out optimally (Ismail, 2007). One of the mining locations in Kuningan Regency is in Luragung Landeuh Village. This study was conducted to determine the sand mining management strategy that should be carried out in Lurangung Landeuh Village, Luragung District, Kuningan Regency. This study uses qualitative and quantitative descriptive analysis methods. The conclusion of this study is the management strategy of sand mining activities in Luragung Landeuh Village based on the results of the highest pairwise comparison assessment or the main priority at the criterion level is environmental and infrastructure sustainability (0.521) and the main priority at the alternative level is tax and environmental insurance (0.199). preserving the environment and infrastructure, which needs to be improved for the convenience of the community, the preservation of flora and fauna, and environmental ecosystems as well as the need for good cooperation between stakeholders and agencies related to the formation of CSR to improve the welfare of the community
Persepsi Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Terhadap Kesadaran Kesetaraan Gender
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana persepsi mahasiswa UNJ terhadap kesadaran kesetaraan gender. Sampel dari penelitian ini adalah mahasiswa dari seluruh Fakultas di Universitas Negeri Jakarta. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive random sampling. Pengambilan data dilakukan selama 2 minggu menggunakan 150 sampel responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa/i Universitas Negeri Jakarta memiliki persepsi terhadap kesadaran kesetaraan gender yang cukup tinggi dan sisanya memiliki persepsi terhadap kesadaran kesetaraan gender yang sedang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh mahasiswa/i Universitas Negeri Jakarta mengerti mengenai konsep kesadaran kesetaraan gender
Persepsi Ekologis Dan Ses Masyarakat Terhadap Penambangan Batu Alam Di Desa Mekarjaya Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
This study aims to analyze two things, namely: First, how is the sosial, economic and ecological perspective of the surrounding community towards natural stone mining activities; and Second, what factors influence the sosial, economic and ecological perspectives of surrounding communities on natural stone mining activities. This survey research was conducted in Mekarjaya Village, Cigudeg District, Bogor Regency, West Java Province with a population of 1,650 households. Samples totaling 67 respondents were taken randomly using the formula V = p (100-p) Data collection techniques were done through a questionnaire and data analysis was performed using SPSS software Data analysis includes validity testing with the corrected item-total correlation technique, reliability test, Independent T test and structural equation modeling (SEM).
The results showed that although the general perception of the surrounding community on natural stone mining activities in Mekarjaya Village was quite good, partially it showed that sosial and ecological perceptions were classified as bad whereas for the economic perception the community was quite good
Analisis Penerapan 3r (Reduce, Reuse, Recycle) Pada Masyarakat Di Sepanjang Aliran Siring Kelurahan Pondok Besi Kota Bengkulu
The society around Pondok Besi sewage was believed to have contributed for mass of waste in Tapak Paderi beach, Bengkulu City. The bad habit of those people that usually dump their waste into the sewage, and disembogue to Tapak Paderi beach, needs to be resolved. Besides interfering the allure of Tapak Paderi beach, the plastic part of this waste will unravel into micro- and nanoplastic in the ocean. This research aims to analyze the application of 3R (reduce, reuse, recycle) on the society around Pondok Besi sewage. Data collection was conducted by interviewing using a designed questionnaire. The research discovered that application of 3R in the people around Pondok Besi sewage is very low. 55% of the respondents didn’t bring their reusable bag for shopping, 88% will still buy their wanted product though it results a massive waste. 75% of them also didn’t reuse their empty bottles/containers and neither recycle their inorganic waste, and none of the respondents recycle their organic waste. Moreover, 85% of the respondents can’t provide an example of activity as application of 3R. Based on these results, a further action to improve the awareness of people around Pondok Besi sewage in applying 3R is required
The Urgency of Climate Change-Based Education For Sustainable Development
Pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals memuat salah satu tujuan yakni terkait dengan perubahan iklim. Hingga pada saat ini, urgensi perubahan iklim menjadi sorotan utama dunia karena berdampak pada setiap aspek keberlanjutan hidup manusia. Perubahan iklim dapat memberikan dampak yang bahkan berpengaruh pada keseluruhan sektor dan keseimbangan kehidupan global. Di sinilah peran pendidikan untuk mempersiapkan dan memanusiakan manusia agar dapat memahami perannya serta mengembangkan kompetensinya untuk kehidupan berkelanjutan. Pendidikan berbasis iklim yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan seharusnya diperluas dalam semua aspek mata pelajaran termasuk pada kurikulum. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif berdasarkan hasil tinjauan studi pustaka. Dalam penelitian ini membahas terkait urgensi pendidikan berbasis pembangunan berkelanjutan, keterkaitan antara pendidikan pembangunan berkelanjutan pada pendidikan berbasis perubahan iklim, serta penelitian yang telah berhasil mengembangkan kurikulum berbasis perubahan iklim
Peningkatan Peran Serta Komunitas Pecinta Lingkungan dalam Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Depok
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pentingnya peran dari komunitas masyarakat pecinta lingkunan dalam pemenuhan ruang terbuka hijau di Kota Depok. RTH sendiri merupakan bagian dari kebijakan penataan ruang kawasan yang memiliki manfaat tinggi dengan tidak hanya dianggap sebagai upaya penyeimbangan kualitas lingkungan, tapi juga dapat dijadikan identitas kebanggaan kota yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dimana fasilitas tersebut memiliki batas minimal pengadaan sebanyak 30% dengan rincian proporsi 20% untuk ruang public, dan 10% untuk ruang privat. Selain itu dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengumpulkan data dari jurnal artikel, buku, dokumen pemerintah, media sosial serta Web resmi Daerah yang kemudian yang di analisis menggunakan model sekunder hingga mendapatkan kesimpulannya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukkan kepada Pemerintah Kota Depok untuk mampu secara maksimal memanfaatkan komunitas tersebut sebagai pemeran dalam pengadaan RTH di Kota Depok