Civil Engineering Dimension (E-Journal)
Not a member yet
443 research outputs found
Sort by
A REGIONAL REFINEMENT FOR FINITE ELEMENT MESH DESIGN USING COLLAPSIBLE ELEMENT
A practical algorithm for automated mesh design in finite element analysis is developed. A regional mixed mesh improvement procedure is introduced. The error control%2C algorithm implementation%2C code development%2C and the solution accuracy are discussed. Numerical example includes automated mesh designs for plane elastic media with singularities. The efficiency of the procedure is demonstrated. Abstract in Bahasa Indonesia : regional+refinement%2C+mesh+generation%2C+isoparametric+element%2C+collapsible+elemen
FAKTOR-FAKTOR STRATEGI POSITIONING DALAM PEMASARAN REALESTAT Suatu Studi Pengalaman Pengembang Realestat di Surabaya
Real estate development needs an exact positioning strategy by knowing the significant factors. Positioning strategy is the combination of marketing actions used to portray the positioning concept to targeted buyers. The factors of positioning strategy in this research are product attribute, product price, product usage, product user, product class, and competitor.
The research was focused on ten real estate developers with spesific criteria, i.e : located in Surabaya City, area bigger than 40 ha, in development stage, and average price of land more than Rp. 550.000,- per square meter. The results show that the highest rating is “consumers income” in “product user” factor with a mean of 3.9. Group A + B, and group B rejected null hypothesis, it means at least one of six factors has a different role. The developers can choose the significant factors such as “location” in “product attribute”. Group A accepted the null hypothesis, it means that six factors at positioning strategy have the same role in the real estate marketing.
There are some differences in the market positioning between group A and group B. This research also suggests the developers who will choose the factors of positioning strategy to consider the external strength and emphasize in “consumer income” and “location”.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Pengembangan realestat memerlukan strategi positioning yang tepat dengan mengetahui faktor-faktor yang signifikan. Strategi positioning adalah kombinasi dari tindakan pemasaran yang digunakan untuk memberikan gambaran konsep positioning kepada pembeli yang ditargetkan. Faktor-faktor strategi positioning dalam penelitian ini adalah atribut produk, harga produk, pemakaian produk, pemakai produk, kelas produk, dan pesaing.
Penelitian difokuskan kepada sepuluh pengembang realestat di Surabaya dengan kriteria spesifik yaitu merupakan lahan di dalam kota Surabaya luas lahan lebih besar 40 ha, berada dalam tahap pengembangan, dan harga jual kavling rata-rata di atas Rp. 550.000,- per meter persegi. Hasilnya menunjukkan bahwa peringkat tertinggi adalah “pendapatan konsumen” yang terdapat dalam faktor “pemakai produk” dengan nilai rata-rata sebesar 3,9. Grup A + B, dan grup B menolak hipotesis null, artinya sekurang-kurangnya ada satu diantara enam faktor tersebut mempunyai peran yang berbeda. Pengembang dapat memilih faktor yang signifikan misalnya ”lokasi” yang terdapat dalam “atribut produk”. Grup A menerima hipotesis null, artinya bahwa enam faktor dalam strategi positioning mempunyai peran yang sama dalam pemasaran realestat.
Ada perbedaan positioning pasar antara grup A dan grup B. Hasil penelitian juga menyarankan agar pengembang yang akan memilih faktor-faktor dalam strategi positioning untuk memperhatikan kekuatan eksternal dan mengutamakan pada “pendapatan konsumen” dan “lokasi”
PENINJAUAN FAKTOR-FAKTOR PENENTU RUMAH-TOKO DI SURABAYA DARI SUDUT PANDANG PENGEMBANG DAN PENGGUNA
Before the Indonesian economic crisis at the end of 1997, shophouse was considered as the most attractive investment in Indonesian real estate. But the business abruptly came to a halt after the economic crisis, particularly after the news about riots and lootings in 1998. That is the reason of this research, which analyze factors which influence the shophouse characters, by accommodating the developers and the consumers' view. The developers' view was observed through the characteristics, while the consumers' view was observed through Kotler's "Four-P". The survey was done in Surabaya in April & May 1999. Results show that in general the developers considered their factors as more influencing than the consumers. The most influencing factor from the developers' view is financial, followed by market, location and physical factors. The most influencing factors from the consumers' view are price and product factors.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia pada akhir tahun 1997, Ruko (Rumah-Toko) dipandang sebagai investasi yang paling menarik dalam real estat Indonesia. Namun bisnis ini secara drastis berhenti setelah krisis ekonomi, apalagi setelah banyak berita tentang kerusuhan dan penjarahan pada tahun 1998. Dengan alasan tersebut dibuatlah penelitian ini, yang menganalisa faktor-faktor penentu yang mempengaruhi karakter ruko, melihatnya dari sudut pandang pengembang dan pengguna. Sudut pandang pengembang diamati melalui faktor-faktor karakteristiknya, sedangkan sudut pandang pengguna diamati melalui "Empat-P" dari Koetler. Survei dilakukan di Surabaya pada bulan April dan Mei 1999. Hasil memperlihatkan bahwa secara umum pengembang melihat faktor-faktornya lebih menentukan daripada sudut pandang pengguna. Faktor-faktor yang paling menentukan dari sudut pandang pengembang adalah faktor keuangan, yang kemudian diikuti oleh faktor pasar, lokasi, dan fisik. Faktor-faktor yang paling menentukan dari sudut pandang pengguna adalah faktor price dan product
MODEL KORELASI ANTARA INDEKS KOMPRESI CC DENGAN INDEKS BATAS CAIR LL UNTUK TANAH LEMPUNG DI SURABAYA
This study tried to propose a correlation model between compression index,Cc, of clay with its liquid
limit index, LL. A statistic probabilistic correlation model was used for Surabaya soils. The
correlation established in this research gave a compression index, Cc, bigger than the one predicted by
Terzaghi and Peck for soft and very soft clay, but smaller for medium and stiff clay. For practical use
the correlation model still need further tests.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Studi ini untuk mendapatkan model hubungan antara indeks kompresi, Cc, dengan indeks batas
cair, LL. Dalam penelitian ini digunakan model korelasi yang bersifat statistik probabilistik untuk
tanah di daerah Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model korelasi ini memberikan
nilai Cc yang lebih besar dari perumusan Terzaghi dan Peck untuk jenis tanah lempung sangat
lunak dan lunak, tetapi lebih kecil untuk tanah lempung sedang dan kaku. Untuk pemakaian
praktis, hasil prediksi model korelasi ini perlu dibandingkan dengan pengujian lanjutan
PENGENDALIAN PELAKSANAAN KONSTRUKSI BERDASARKAN KONSEP NILAI HASIL PADA PEMBANGUNAN PABRIK X DI GRESIK
Abstract in Bahasa Indonesia : Catatan redaksi%3A%0D%0A%0D%0APengendalian biaya adalah suatu aspek yang sangat penting dalam manajemen proyek. Pengendalian biaya yang kurang baik%2C tidak jarang menyebabkan biaya konstruksi proyek yang berbeda dengan biaya yang direncanakan. Makalah ini menjelaskan suatu studi kasus pengendalian biaya kostruksi dengan menggunakan Konsep Hasil Nilai%2C suatu metode yang mengintegrasikan hubungan antara biaya dan waktu serta memberikan gambaran tentang kondisi kelangsungan proyek
WALL FORMWORK DESIGN
Perencanaan bekisting (Form Work) merupakan bagian penting dalam pelaksanaan struktur beton bertulang, bila tidak direncanakan dengan baik, tidak jarang kegagalan bekisting menyebabkan masalah pelaksanaan yang cukup rumit. Bekisting juga menjadi komponen biaya struktur beton bertulang yang cukup besar. Makalah ini memaparkan perencanaan bekisting, yang di Romania, merupakan bagian persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi Insinyur Profesional
PENGGUNAAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM MENGANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN MODA KE KAMPUS
Limitation of parking spaces in Petra Christian University need to be solved by deterring private cars usage. However, the factors that affect students to choose their mode to campus are unknown. Determination of factors that influence mode choices may support alternatives and policy that could be proposed. Analytic Hierarchy Process was used to analyze the factors. Trips characteristics data of the students was collected by questionnaires interview. The results of the analysis show that the main factors that influence student to choose their mode to campus is security (49,3%) and time (27,3%). Walking from student dormitory was the best alternative (33.2%), while carpool (16%) is slightly lower than private cars usage (18%). Vanpool (12.4%) is lower than carpool.
Abstract in Bahasa Indonesia :
Lahan parkir di Universitas Kristen Petra yang terbatas, memerlukan solusi alternatif yang mengalihkan penggunaan kendaraan pribadi. Permasalahannya, faktor-faktor apa yang menyebabkan mahasiswa memilih menggunakan mobil pribadi daripada alternatif moda yang lain belum diketahui. Dengan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan moda, serta besar pengaruhnya, berbagai alternatif dan kebijakan untuk menurunkan kebutuhan akan lahan parkir, dapat diusulkan dengan lebih efektif. Metoda Analytic Hierarchy Process (AHP) dapat dipergunakan untuk menentukan faktor-faktor pemilihan moda. Data karakteristik perjalanan dilakukan dengan wawancara berkuisioner kepada mahasiswa Universitas Kristen Petra yang mempunyai kemungkinan untuk melakukan pilihan terhadap alternatif-alternatif moda yang ada. Hasil analisa menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi pemilihan moda untuk berangkat kuliah adalah faktor keamanan (49,3%) dan faktor waktu (27,3%). Ditinjau dari berbagai faktor, alternatif jalan kaki dari pondokan merupakan alternatif yang terbaik (33,2%), sedangkan carpool (16%), sedikit lebih rendah daripada penggunaan mobil pribadi (18%). Angkutan kampus (antar jemput) justru lebih rendah daripada carpool (12.4%).
Kata kunci : Analytic Hierarchy Process, parkir, faktor pemilihan moda
ANALISA PRODUKTIFITAS PEKERJA DENGAN METODE WORK SAMPLING STUDI KASUS PADA PROYEK X DAN Y
There are various methods that can be employed to measure construction labor productivity. However it is difficult to measure accurately the labor productivity. Work sampling is a relatively easy- to-use method for measuring productivity.
The main objective of this research is to analyze labor productivity on projects X and Y utilizing work sampling method. The productivity measure obtained from the analysis is labor utilization rate (LUR). Besides, this research is intended to investigate factors influencing the LUR in both projects by way of questionnaire.
The work sampling analysis shows that in overall LUR of project X and Y was 55.13% and 44.45% respectively. Comparison of LUR on the same types of works indicates that productivity of project X was higher. The questionnaire analysis further confirms that in general the conditions of the influencing factors in project X were better that those in project Y, and that three factors were found significantly different, i.e. material, scaffolding and schedule. The research also details LUR analyses based on the labor working hours (morning, noon, and afternoon).
Abstract in Bahasa Indonesia :
Terdapat banyak metode yang bisa digunakan untuk mengukur produktivitas tenaga kerja di lapangan. Namun, pengukuran produktivitas tenaga kerja secara akurat sulit dilakukan. Work sampling adalah salah satu metode pendekatan yang bisa digunakan untuk mengukur produktivitas dengan cukup mudah.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisa produktivitas pekerja pada proyek X dan Y dengan metode work sampling. Ukuran produktivitas yang didapat dari analisa ini adalah labor utilization rate (LUR). Selain itu, penelitian ini juga meninjau faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LUR di kedua proyek tersebut dengan cara kuesioner.
Hasil analisa work sampling menunjukkan bahwa secara keseluruhan LUR pada proyek X dan Y adalah 55,13% dan 44,45%, secara berturut-turut. Perbandingan nilai LUR pada jenis pekerjaan yang sama, menunjukkan bahwa produktifitas pada proyek X lebih tinggi. Analisa kuesioner menunjukkan bahwa secara umum keadaan faktor-faktor di proyek X lebih bagus dari pada di proyek Y, dan tiga faktor ditemukan berbeda secara signifikan, yaitu faktor material, perancah dan schedule. Penelitian ini juga melihat LUR berdasarkan jam kerja (pagi, siang, dan sore)
MODELLED MECHANISMS IN THE SLAKE-DURABILITY TEST FOR SOFT ROCKS
The slake-durability test is regarded as a simple test for assessing weathering of rocks. This simple
test has been accepted as a standard test by the Rock Mechanics Society. However, mechanisms into
slaking processes have not been fully understood yet as many factors involved in the processes. The
current research explored mechanisms performed by the test by conducting a series of slakedurability
tests for four types of soft rocks taken from Coober Pedy, South Australia. Results show
that the slake-durability index (Id2) of weathered soft rocks was influenced by the degree of
weathering. Distinctly weathered rocks had lower indeces compared to partly weathered rocks.
Shapes also influenced the Id2 of these soft rocks. Different shapes displayed different mechanisms in
the slaking processes. Samples that had irregular shapes tended to have a lower Id2 compared to
samples that had rounded shapes. Thus, the slake-durability test might have simple procedures, but
it could have complicated mechanisms in slaking processes that contribute to the result of the test
ANALISA STUDI TENTANG KEMITRAAN ANTARA PENGEMBANG DENGAN KONTRAKTOR
Facing the competitive economic condition, partnering between developer and contractor in project
construction is used as a modern business strategy. Partnering is a team in which participants can
build partnership to develop a project. In this study, a survey to 25 developers and 20 contractors is
conducted.
Mean and Chi-Square Analysis is done using 6 partnering variables : (1) advantage of partnering,
(2) disadvantage of partnering, (3) measures of success of partnering, (4) key element of partnering, (5)
needs of partnering, and (6) partnering success.
From the analysis of the 6 variables of partnering, it is found out that commitment (maximum mean
5.60) is very important in partnership
Abstract in Bahasa Indonesia :
Menghadapi kondisi ekonomi yang kompetitif ini, kemitraan antara pengembang dengan kontraktor
pada proyek konstruksi dipakai sebagai strategi bisnis modern.
Kemitraan adalah suatu tim di mana partisipan dapat membangun hubungan kerjasama untuk
pengembangan sebuah proyek. Dalam penelitian ini didapatkan data survei dari 25 perusahaan
pengembang dan 20 perusahaan kontraktor. Analisa Mean dan Chi-Square dilakukan dengan
memakai enam variabel kemitraan yaitu: (1) keuntungan kemitraan, (2) kerugian kemitraan, (3)
pengukuran kesuksesan kemitraan, (4) elemen kunci kemitraan, (5) kebutuhan kemitraan, (6)
kesuksesan kemitraan.
Hasil analisa data dari keenam variabel kemitraan tersebut, menunjukkan bahwa komitmen (mean
maksimum 5.60) sangat penting dalam hubungan kemitraan, baik dari pihak pengembang maupun
kontraktor, dimana kepercayaan dalam suatu kerjasama merupakan wujud nyata dari komitmen