Jurnal Ilmiah Visi
Not a member yet
373 research outputs found
Sort by
MAKNA BELAJAR BAGI PESERTA DIDIK PROGRAM MANDIRI PAKET C DI HOMESCHOOLING (Studi Fenomenologi di Homeschooling Bandung)
Education is a process of interpreting experience that plays an essential role in developing individuals’ potential, skills, and character. The Independent Paket C Program at Homeschooling Focus serves as a non-formal education alternative that emphasizes flexibility, personalized learning, and a learner-centered approach. This study aims to explore the meaning of learning as experienced by learners in the Independent Paket C Program using a phenomenological approach. This research addresses a gap in phenomenological studies on the independent Paket C program, which has been less explored compared to homeschooling in general. The findings contribute to improving the management of non-formal education and encourage flexibility-oriented policies in homeschooling. This study employed a phenomenological qualitative research design involving active learners, alumni, tutors, and the school principal as participants. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and document analysis. Data analysis followed phenomenological stages, including horizontalization, thematic clustering, the development of textual and structural descriptions, and the formulation of the essence of learning experiences. Data trustworthiness was ensured through source and method triangulation, member checking, peer debriefing, and audit trails. The findings indicate that learners perceive learning as a process of self-development, goal attainment, character formation, and a meaningful and enjoyable learning experience. Flexibility in learning time, methods, and objectives, supported by supportive tutor–learner relationships and a psychologically safe learning environment, plays a significant role in shaping learners’ perceptions of learning. Furthermore, the study reveals positive attitudinal changes among learners, who developed from passive and less confident individuals into more independent, responsible, and intrinsically motivated learners. In conclusion, the Independent Paket C Program facilitates a humanistic, holistic, and adaptive learning process.
Keywords: The Meaning of Learning, Paket C Program, Homeschooling, Independent Program, Phenomenology.Pendidikan adalah proses interpretasi pengalaman yang memainkan peran penting dalam mengembangkan potensi, keterampilan, dan karakter individu. Program Paket Mandiri C di Homeschooling Focus berfungsi sebagai alternatif pendidikan formal yang menekankan fleksibilitas, pembelajaran yang disesuaikan, dan pendekatan berpusat pada peserta didik. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna pembelajaran yang dialami oleh siswa dalam Program Paket Mandiri C menggunakan pendekatan fenomenologis. Penelitian ini menanggapi kesenjangan dalam studi fenomenologis tentang Program Paket C Mandiri, yang kurang dieksplorasi dibandingkan dengan homeschooling secara umum. Temuan penelitian ini berkontribusi pada perbaikan pengelolaan pendidikan non-formal dan mendorong kebijakan yang berorientasi pada fleksibilitas dalam homeschooling. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif fenomenologis yang melibatkan peserta aktif, alumni, tutor, dan kepala sekolah sebagai peserta.
Data dikumpulkan melalui pengamatan non-partisipan, wawancara semi-terstruktur, dan analisis dokumen. Analisis data mengikuti tahap-tahap fenomenologis, termasuk horizontalization, pengelompokan tematik, pengembangan deskripsi teks dan struktural, serta formulasi esensi pengalaman belajar. Keandalan data dijamin melalui triangulasi sumber dan metode, verifikasi anggota, diskusi antar sesama, dan jejak audit. Temuan menunjukkan bahwa peserta didik memandang pembelajaran sebagai proses pengembangan diri, pencapaian tujuan, pembentukan karakter, dan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan. Kekuatan fleksibilitas dalam waktu, metode, dan tujuan pembelajaran, didukung oleh hubungan tutor-peserta didik yang mendukung dan lingkungan pembelajaran yang aman secara psikologis, memainkan peran penting dalam membentuk persepsi peserta didik tentang pembelajaran. Selain itu, studi ini mengungkapkan perubahan sikap positif di kalangan peserta didik, yang berkembang dari individu pasif dan kurang percaya diri menjadi peserta didik yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan termotivasi secara intrinsik. Kesimpulannya, Program Paket C Mandiri memfasilitasi proses pembelajaran yang humanis, holistik, dan adaptif
ETNOPEDAGOGI DALAM LINGKUNGAN PENDIDIKAN MASYARAKAT: ANALISIS KOMPARATIF KI HADJAR DEWANTARA DAN TRADISI PANSORI KOREA
The 21st-century educational paradigm, which tends to be functionalist, often overlooks aspects of character building and communal responsibility. This study responds to these limitations by exploring the 'Community Education Environment' through a comparative study between Ki Hadjar Dewantara's Ethnopedagogy and the Korean Pansori tradition, as well as Indonesian oral literature. The main objective is to reconstruct a 'Community-Based Learning' model sourced from Asian local wisdom for application in modern education. Using a structural-semiotic approach, this research analyzes the homology between the philosophy of the 'Three Centers of Education' (Tripusat Pendidikan) and Dewantara's three leadership principles (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani) with the interactive dynamics of Pansori elements (Sorikkun, Gosu, Chuimsae). Specifically, the analysis of the Simcheongga text and the Sundanese epic Mundinglaya Di Kusumah proves that traditional narratives are not merely entertainment but high-level non-formal educational platforms that transmit moral values and social norms. The study also examines the media transition from simple orality to literacy through the case of Wawacan to provide insights for developing educational content in the digital era. The results confirm that traditional arts contain prototypes of participatory learning relevant to addressing the dehumanization of education. It is concluded that a society's cultural assets are vital 'Social Capital' to complement the modern school system and foster learners into complete human beings.Paradigma pendidikan abad ke-21 yang cenderung fungsionalis sering kali mengabaikan aspek pembentukan karakter dan tanggung jawab komunal. Penelitian ini merespons keterbatasan tersebut dengan mengeksplorasi 'Lingkungan Pendidikan Masyarakat' melalui studi komparatif antara Etnopedagogi Ki Hadjar Dewantara dan tradisi Pansori Korea, serta sastra lisan Indonesia. Tujuan utamanya adalah merekonstruksi model 'Pembelajaran Berbasis Masyarakat' yang bersumber dari kearifan lokal Asia untuk diterapkan dalam pendidikan modern.
Menggunakan pendekatan struktural-semiotik, penelitian ini menganalisis homologi antara filosofi 'Tripusat Pendidikan' dan tiga prinsip kepemimpinan Dewantara (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani) dengan dinamika interaktif elemen Pansori (Sorikkun, Gosu, Chuimsae). Secara khusus, analisis terhadap teks Simcheongga dan epik Sunda Mundinglaya Di Kusumah membuktikan bahwa narasi tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan platform pendidikan non-formal tingkat tinggi yang mewariskan nilai moral dan norma sosial. Penelitian ini juga menelaah transisi media dari kelisanan ke keberaksaraan melalui kasus Wawacan untuk memberikan wawasan bagi pengembangan konten pendidikan di era digital.
Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa seni tradisional mengandung prototipe pembelajaran partisipatif yang relevan untuk mengatasi dehumanisasi pendidikan. Disimpulkan bahwa aset budaya masyarakat merupakan 'Modal Sosial' yang vital untuk melengkapi sistem sekolah modern dan membina peserta didik menjadi manusia seutuhnya.
 
The Role of Schools in Family-Resource Interventions to Improve Family Quality Of Life in Children with Intellectual Disabilities
The family plays an important role and responsibility in the development of children. School is an important part of improving the quality of individuals. School has a role in child development. The family and school are part of the microsystem environment. Unfortunately, families with children with intellectual disabilities often face different challenges than other families. Parents who have children with intellectual disabilities often feel stressed, angry, rejected, have a deep sense of guilt, and lack confidence. Family Quality of Life is a concept of how well family needs and well-being are met based on five domains: family interaction, parenting, physical well-being, emotional well-being, and disability-related services. If families do not receive support in the form of family-resourced intervention programs, this will affect the quality of families with children with special needs in a negative direction. The purpose of this research is to strengthen the role of schools to families so that families get support, information, strength, abilities, and needs of their children who experience intellectual disabilities so that a positive family quality is created because parents get the best support to create closeness and support with their children. The research method uses design and development research (D&DR). This research took place at one of the Extraordinary Schools in Jakarta. The results of the study show that schools provide full support and teachers build positive collaboration with parents so that parents have a support system from their immediate environment and can improve the quality of the famil
Pola Asuh Demokratis Terhadap Penggunaan Smartphone Pada Anak di Lingkungan 18 Binjai
This research aims to describe the application of democratic parenting patterns towards children’s smartphone usage, the resulting impacts, and the strategies employed by parents in managing smartphone use in the 18 Binjai environment. The method used is descriptive qualitative research with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The informants in this study consist of three parents who have children using smartphones. The research results indicate that all informants apply a democratic parenting pattern, which involves granting limited freedom to children to use smartphones by setting usage duration, selecting age-appropriate content, and accompanying them during usage. The use of smartphones has positive impacts such as enhancing children’s knowledge through educational content such as shalawat songs and animal introduction videos, but it also has negative impacts such as tantrums, lack of focus, and screen dependency. Parents’ strategies to reduce negative impacts include inviting children to play, recite the Quran, perform congregational prayers, and setting an example by limiting smartphone use in front of the children. This study concludes that democratic parenting patterns are effective in managing smartphones, use wisely and in balance, and can reduce negative impacts if practiced consistently and attentively
Family Development Session Intervention as an Effort to Increase Family Capability
ABSTRACT
Looking at things through the lens of Amartya Sen's capability theory, this study looks at how the Family Development Session (FDS) program helps family members improve their skills. We employ a literature study as our research method, which entails a theoretical and empirical analysis of reliable sources. Sen's capability theory emphasizes the importance of individual freedom to choose the desired way of life and improve their ability to achieve a dignified life. The FDS program, as a family development initiative, is carried out with the aim of enhancing the capabilities of Program Keluarga Harapan (PKH) beneficiary members who are underprivileged. The results of the literature analysis show that the FDS program has great potential in improving the capabilities of family of hope members through a holistic approach, covering aspects such as health, education, financial management, and participation in community life. The program provides opportunities for family members to acquire the necessary knowledge, skills, and resources to achieve a better life in accordance with their preferences and values. The results of this study reinforce the understanding that the FDS program can be an instrument in enhancing the capabilities of family of hope members, thus enabling them to be more actively involved in society and achieve a more dignified life in accordance with Amartya Sen's vision.ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menelaah peningkatan kapabilitas anggota keluarga harapan melalui program Family Development Session (FDS) dengan menggunakan pandangan teori kapabilitas yang dikemukakan oleh Amartya Sen. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang melibatkan analisis teoritis dan empiris dari sumber-sumber terpercaya. Teori kapabilitas Sen menekankan pentingnya kebebasan individu untuk memilih cara hidup yang diinginkan dan meningkatkan kemampuan mereka untuk mencapai kehidupan yang bermartabat. Program FDS, sebagai inisiatif pengembangan keluarga, dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapabilitas anggota penerima Program Keluarga Harapan (PKH) yang berada dalam kondisi kurang mampu. Hasil analisis literatur menunjukkan bahwa program FDS memiliki potensi besar dalam meningkatkan kapabilitas anggota keluarga harapan melalui pendekatan yang holistik, mencakup aspek-aspek seperti kesehatan, pendidikan, pengelolaan keuangan, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Program ini memberikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik sesuai dengan preferensi dan nilai-nilai mereka. Hasil penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa program FDS dapat menjadi instrumen dalam meningkatkan kapabilitas anggota keluarga harapan, sehingga memungkinkan mereka untuk lebih aktif terlibat dalam masyarakat dan mencapai kehidupan yang lebih bermartabat sesuai dengan visi Amartya Sen.
Kata Kunci: Kapabilitas, Family Development Session, Program Keluarga Harapan, Amartya Sen, Kemiskina
The Quality of English Learning at Home: A Case Study of Three Years Old Indonesian Young Learner
Parental involvement in introducing English at the early childhood education (ECE) level has been increasingly recognized for its positive impact. However, concerns raised regarding the quality of English learning provided at home, especially in the Indonesian context where research has primarily focused on teachers rather than parents. This study aims to explore the quality of English learning at home facilitated by parents of a three-year-old child. A qualitative case study method was employed, with data collected through three sessions of home observations involving painting and shared book reading activities. The analysis followed the Miles and Huberman (1994) model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that parents successfully integrated the child's interests (e.g., painting and animals) into English learning, fostering positive interaction and engagement. However, certain practices were less effective, such as the use of overly simple and close-ended questions, and a parental tendency to dominate the learning process, limiting the child's active participation and critical thinking development. While parents play a vital role in early English learning at home, the quality of instruction can be improved. ECE teachers are encouraged to support parents through workshops or parenting events that focus on effective questioning strategies, scaffolding techniques, and ways to foster child-led learning experiences.Keterlibatan orang tua dalam memperkenalkan Bahasa Inggris di jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) semakin diakui dampak positifnya. Namun, muncul kekhawatiran mengenai kualitas pembelajaran bahasa Inggris di rumah, terutama dalam konteks Indonesia di mana penelitian lebih berfokus pada guru daripada orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kualitas pembelajaran bahasa Inggris di rumah yang difasilitasi oleh orang tua dari seorang anak berusia tiga tahun. Metode studi kasus kualitatif digunakan, dengan data dikumpulkan melalui tiga sesi observasi di rumah yang melibatkan kegiatan melukis dan membaca buku bersama. Analisis ini mengikuti model Miles dan Huberman (1994), yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa orang tua berhasil mengintegrasikan minat anak (misalnya, melukis dan hewan) ke dalam pembelajaran bahasa Inggris, yang mendorong interaksi dan keterlibatan positif. Namun, praktik-praktik tertentu kurang efektif, seperti penggunaan pertanyaan yang terlalu sederhana dan tertutup, serta kecenderungan orang tua untuk mendominasi proses pembelajaran, sehingga membatasi partisipasi aktif dan perkembangan berpikir kritis anak. Meskipun orang tua memainkan peran penting dalam pembelajaran bahasa Inggris dini di rumah, kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan. Guru PAUD didorong untuk mendukung orang tua melalui pelatihan atau seminar pengasuhan anak yang berfokus pada strategi bertanya yang efektif, teknik scaffolding, dan cara untuk mendorong pengalaman belajar yang berpusat pada anak
Literature Review: mengenai Stigma atau Pandangan Sosial Terhadap Anak dengan Hambatan Intelektual
Children with intellectual disabilities often experience unfair treatment due to the social stigma imposed on them by society. Society often gives negative labels such as "stupid", "incapable", and "family curse". In this study, we summarize ten national and international journals to see how the stigma is formed, spreads, and affects the lives of children and their families. Through the Systematic Literature Review (SLR) method, it was found that stigma often arises due to a lack of understanding and direct interaction between society and children with special needs. This writing is a form of reflection that every child has the right to a safe growing space, acceptance by their environment, and to be loved. It is hoped that this study can be a small step towards building a better understanding in society, so that children with intellectual disabilities can live without negative labels and stigmas and can develop according to their potential.Abstrak: Anak-anak dengan hambatan intelektual masih sering mengalami perlakuan tidak adil akibat stigma sosial yang dilakukan masyarakat kepada mereka. Masyarakat kerap memberikan label negatif seperti “bodoh”, “tidak mampu”, hingga “kutukan keluarga”. Dalam kajian ini, kami merangkum sepuluh jurnal nasional dan internasional untuk melihat bagaimana stigma tersebut terbentuk, menyebar, dan berpengaruh terhadap kehidupan anak dan keluarganya. Melalui metode Systematic Literature Review (SLR), ditemukan bahwa stigma banyak muncul karena kurangnya pemahaman serta interaksi langsung antara masyarakat dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Penulisan ini menjadi bentuk refleksi bahwa setiap anak, berhak mendapatkan ruang tumbuh yang aman, penerimaan oleh lingkungan nya, dan dikasihi. Harapannya, kajian ini bisa menjadi langkah kecil untuk membangun pemahaman yang lebih baik di tengah masyarakat, agar anak-anak dengan hambatan intelektual dapat hidup tanpa label dan stigma negatif dan dapat berkembang sesuai potensinya
Bahasa Inggris
Rural tourism sustainability relies heavily on community competence, yet significant skill gaps among residents remain a critical barrier. This study aims to systematically synthesize the role and models of Non-Formal Education (NFE) in developing tourism village potential. Employing a Scoping Review methodology, twenty-one (21) articles published between 2016 and 2025 were analyzed based on specific inclusion criteria regarding NFE in rural contexts. The review identifies three dominant NFE intervention models: (1) Economic Empowerment (vocational training), (2) Socio-Cultural Preservation (heritage education), and (3) Institutional Capacity Building (governance strengthening). These interventions are proven to essentially transform passive residents into skilled tourism actors. However, this study is limited to academic literature and may exclude practical insights from non-published field reports. Consequently, it is recommended that stakeholders integrate standardized NFE curricula into village policy to ensure consistent human resource development.Pembangunan desa wisata sangat bergantung pada kapasitas dan partisipasi aktif masyarakat lokal, namun sebagian besar penduduk sering kali kekurangan keterampilan teknis dan manajerial yang diperlukan, yang menjadi kendala signifikan bagi pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan dan mensintesis secara sistematis peran dan model Pendidikan Non Formal (PNF) serta program pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi, sosial, dan budaya desa wisata dalam satu dekade terakhir. Dengan menggunakan metodologi Scoping Review (ScR), penelitian ini secara sistematis mengidentifikasi, menyaring, dan menganalisis dua puluh satu (21) artikel, termasuk jurnal nasional dan prosiding yang diterbitkan antara tahun 2016 hingga 2025, menggunakan kriteria inklusi yang telah ditetapkan yang berfokus pada PNF/Pemberdayaan Masyarakat dalam konteks pariwisata pedesaan. Tinjauan ini menemukan bahwa PNF memainkan peran penting terutama melalui tiga model intervensi: (1) Pemberdayaan Ekonomi, yang berfokus pada pelatihan kejuruan (misalnya, keramahtamahan, pengolahan produk lokal, pemasaran digital); (2) Pelestarian Sosial-Budaya, yang berfokus pada edukasi kearifan lokal, manajemen warisan, dan etika interaksi pengunjung; serta (3) Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, yang berfokus pada penguatan organisasi seperti Pokdarwis dan BUMDes. Intervensi PNF ini ditemukan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan keterampilan, kemandirian, dan peningkatan kualitas SDM, yang sangat penting untuk pengelolaan pariwisata berkelanjutan. Sebagai kesimpulan, PNF bukan hanya pelengkap tetapi pendorong penting yang mengubah penduduk pasif menjadi wirausahawan pariwisata yang aktif dan terampil serta penjaga potensi lokal, menekankan bahwa strategi pendidikan yang disesuaikan sangat diperlukan untuk mencapai pengembangan desa wisata yang berkelanjutan
Implementasi Peningkatan Kompetensi Siswa Melalui Muatan Lokal Primary Global Islamic School
This research used qualitative approach with case study as their methodology. The instruments were used in this research are observation, interview, and documentation. This research was conducted in Primary Global Islamic School condet, East Jakarta. The observation, interview, and documentation conducted toward school teacher for grade III and IV. The aims of this research is to describe the design of local content such as English subject and Al- Qur’an education, and analyzing the implementation of the local content in appartein to increasing speaking ability in english for studentd. The local content is a part of four pilar academics in which the exellency from Primary Global Islamic Scool condet. Therefore, the students not only excel speaking in english but also able learn Al Qur’an so that the student is ready to be the leader of rahmatan lill alamin for the strong foundation to face the rapid change of the global world.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode studi kasus. Instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada sekolah Primary Global Islamic Scool condet, jakarta timur. Observasi, wawancara, dan dokumentasi dilakukan terhadap guru kelas III dan IV yang bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan dan menganalisis implementasi muatan lokal bahasa Inggris dan Pendidikan AlQur’an dalam meningkatkan kemampuan berbicara dalam bahasa inggris pada siswa. Muatan lokal tersebut merupakan bagian dari empat pilar keunggulan akademik yang dimiliki oleh sekolah Global Islamic School. Dengan demikian, siswa tidak hanya pandai berbicara dalam bahasa inggris tapi mampu mempelajari membaca Al Qur’an yang siap menjadi pemimpin rahmatan lill alamin sebagai pondasi kuat untuk menghadapi tantangan dunia global yang begitu pesat. 
Pengembangan Media Kartu Bergambar Berbasis Literasi Sains Pada Materi Ekosistem
It is known that the science literacy score in Indonesia in PISA (Programe for International Student Assement) which is carried out in 2022 is up 6 positions compared to 2018. However, the score dropped by 13 points. This needs to be improved the quality of education in Indonesia, one of the factors that influence it is the lack of innovation in the use of science literacy-based learning media. The purpose of this study was to determine the characteristics, feasibility, and response to picture card media based on science literacy in grade V elementary school ecosystem materials. The research method used is R&D with the ADDIE model, namely analysis, design, development, implementation, and evaluation. To determine the feasibility of the media, a validation test was carried out by material experts and media experts using validation sheets. From the expert validation test, the material obtained a percentage of 100% with a very decent category. The results of the media test obtained a percentage of 100% with a very decent category. To determine the media response, respondents were filled out questionnaires by teachers and students. The results of students' responses to the media obtained a percentage of 93% in the very good category. While the results of the teacher's response obtained a percentage of 95% with a very good category. This study found that the picture card media based on science literacy ecosystem material is very feasible and very good to be used as a learning medium that can be an idea and motivation for teachers to make learning media innovations. In addition, it can help students in the learning process and increase knowledge related to science literacy skills. Further research can develop picture card media with other subjects and materials.Diketahui bahwa skor literasi sains di Indonesia dalam PISA (Programe for International Student Assement) yang dilaksanaan pada tahun 2022 berada naik 6 posisi dibanding tahun 2018. Namun, perolehan skor menurun 13 point. Hal ini perlu diperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah kurangnya inovasi penggunaan media pembelajaran berbasis literasi sains. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik, kelayakan, dan respon terhadap media kartu bergambar berbasis literasi sains materi ekosistem kelas V sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan yaitu R&D dengan model ADDIE yaitu analysis, design, development, implementation, and evaluation. Untuk mengetahui kelayakan media, maka dilakukan uji validasi oleh ahli materi dan ahli media dengan menggunakan lembar validasi. Dari uji validasi ahli materi memperoleh persentase 100% dengan kategori sangat layak. Hasil uji media diperoleh persentase 100% dengan kategori sangat layak. Untuk mengetahui respon media, dilakukan pengisian angket responden oleh pendidik dan peserta didik. Hasil respon peserta didik terhadap media memperoleh persentase sebesar 93% dengan kategori sangat baik. Sedangkan hasil respon pendidik diperoleh persentase sebesar 95% dengan kategori sangat baik. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa, media kartu bergambar berbasis literasi sains materi ekosistem sangat layak dan sangat baik untuk digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat menjadi ide serta motivasi pendidik untuk membuat inovasi media pembelajaran. Selain itu, dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran dan menambah pengetahuan terkait keterampilan literasi sains. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan media kartu bergambar dengan mata pelajaran serta materi yang lainnya