Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Not a member yet
83 research outputs found
Sort by
BETHEK-SINOMAN: MEMUPUK GOTONG ROYONG, MENOPANG ANJANGSANA, DAN MEMELIHARA JATI DIRI MASYARAKAT TENGGER
Penelitian ini berupa mengungkap nilai kerja bersama dalam toleransi yang terwujud dalam ungkapan, tuturan, atau ekspresi lisan (oral), tindak/gerak atau perilaku simbolik ekspresi folkloristik tradisi bethek-sinoman. Penelitian yang bertempat di Desa Tengger wilayah, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model/desain etnografi. Model ini mampu mengkaji peristiwa kultural, yang menyajikan pandangan hidup subjek sebagai objek studi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa bethek-sinoman memiliki andil kuat bagi tegaknya pilar-plar tradisi. Jiwa kegotong-royongan bertumbuh subur karena terpupuk oleh tradisi, sebaliknya tradisi yang terus-menerus bertumbuh telah memberikan ruang eksistensi bagi semangat gotong royong, baik dalam wujud membantu dalam hajatan personal atau bahu-membahu dalam hajatan upacara desa. Selain gotong royong, nilai-nilai anjangsana juga mengakar dalam tradisi ini. Lebih jauh, anjangsana mampu memelihara spirit toleransi dalam masyarakat Tengger yang semakin majemuk. Beberapa jati diri masyarakat Tengger yang terepresentasikan dalam tradisi bethek-sinoman adalah sungkan, tepat janji, dan totalitas. Ketiga sikap itu menandakan bahwa masyarakat Tengger saling menghargai antar sesama tanpa membeda-bedakan penduduk asli atau bukan, agama asli atau bukan. Ketika tradisi bantu-membantu secara sukarela ini mengakar dalam kehidupan sosio-kultural, jati diri wong Tengger semakin menemukan area eksistensi. Bethek-sinoman menjadi roh sekaligus nafas yang menghidupkan tradisi.Kata Kunci: bethek-sinoman, anjangsana, gotong-royong, jati diri masyarakat Tengger
MODAL SOSIAL, INOVASI, DAN SKENA MUSIK: STUDI KUALITATIF KOMUNITAS MUSIK INDIE BANDUNG 1994-2004
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendalami bagaimana modal sosial pada komunitas musik indie di Kota Bandung memengaruhi ekosistem musik pada era 1994-2004 yang melahirkan berbagai inovasi pada industri kreatif. Dengan menerapkan pendekatan kualitatif sejak Maret hingga November 2020, penelitian ini melibatkan 16 informan dengan berbagai latar belakang peran pada industri musik. Penelitian ini fokus pada (1) aktivitas bersama yang dilakukan oleh komunitas, (2) relasi, nilai dan norma pada komunitas, (3) pengaruh modal sosial pada proses difusi, produksi dan distribusi musik, dan (4) peran modal sosial dalam inovasi musik indie. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa modal sosial berpengaruh secara signifikan dalam perkembangan komunitas musik indie Bandung. Dengan modal sosial yang ada, komunitas musik indie saat itu secara kolektif mengenal dan mengaplikasikan konsep do-it-yourself, terutama dalam bermusik. Kondisi tersebut pada akhirnya menjadi awal terciptanya beberapa inovasi yang membuat musik indie sebagai warna baru yang diperhitungkan dan hingga kini menjadi salah satu kekuatan besar di industri musik. Penelitian ini juga menemukan bahwa dimensi struktural pada modal sosial yang mencakup bonding, bridging, linking connections berperan dalam menopang eksistensi musik indie Bandung. Kata kunci: modal sosial, inovasi, komunitas, musik, BandungABSTRACT This study aims to explore how social capital in the indie music communities in Bandung City influenced the music ecosystem in the 1994-2004 era which created various innovations in the creative industry. By applying a qualitative approach from March to November 2020, this study involved 16 informants with various backgrounds in music industry. This study focuses on (1) joint activities carried out by the community, (2) relationships, values and norms in the community, (3) the influence of social capital on the diffusion process, production and distribution of music, and (4) the role of social capital in indie music innovation. The result of this study illustrates that social capital has a significant effect on the development of the Bandung indie music community. With the existing social capital, the indie music community at that time collectively recognized and applied the do-it-yourself concept, especially in music. This condition eventually led to the creation of several innovations that transformed indie music and now become one of the great forces in the music industry. This study also found that the structural dimensions of social capital which include bonding, bridging, linking connections play a role in sustaining the existence of Bandung indie music.Keywords: social capital, innovation, community, music, Bandun
Kuasa Perempuan Bali: Peran dan Kapasitas Perempuan Bali dalam Menghadapi Erupsi Gunung Agung
Women are one part of a vulnerable group in the event of a disaster. Data from the National Disaster Management Agency (BNPB) states that women have a 14 times higher risk of becoming victims of disasters than adult men. This is due to the instinct of women who want to protect their families and children, which often makes them neglect their own safety. Therefore, providing access to information and disaster education is important to reduce the number of victims when a disaster occurs. This research aims to how the preparedness of women in the village of Besakih in facing the risk of the eruption of Mount Agung in Karangasem Regency, Bali. Through ethnographic methods with live-in strategy for gathering data during July-October 2019, this research found some potential of Balinese women when facing disasters. The character of Balinese women who are independent, tough and adaptive is their key to survive in a disaster situation. In addition, the woman of Besakih Village claimed to be actively seeking information on Mount Agung disaster through Facebook as a form of self-mitigation before the disaster occurred. Research recommendations are directed at training to increase women's capacity such as recognizing the initial symptoms of disasters, how to find and select correct information on social media related to disasters, and to play an active role as an agent of disaster vulnerability in the family
PERILAKU IMPULSE BUYING DI MASA PANDEMI
Tujuan riset ini adalah untuk menghasilkan kajian tentang perilaku konsumen tertama impulse buying di masa pandemi. Masa pandemi merupakan kondidi terjadinya wabah yang disebabkan oleh virus, sehingga membuat orang tidak berani melakukan kegiatan di luar rumah. Metode yang digunakan adalah deskriptif yaitu menggambarkan kondisi perilaku impulse buying dalam masa pandemic. Teknik pengumpulan data adalah Teknik observasi dan wawancara.Perilaku impulse buying terjadi karena adanya rangsangan dari toko atau ritel yang menawarkan barang yang menarik sehingga mengakibatkan adanya dorongan untuk membeli lebih banyak. Dalam masa pandemi, barang yang laku adalah berkaitan dengan alat pelindung diri dan makanan.Kata kunci. Pandemi, impulse, buyingThe purpose of this research is to produce a study of consumer behavior, especially impulse buying during a pandemic. A pandemic period is a condition for an outbreak caused by a virus, which discourages people from doing activities outside the home.The method used is descriptive, which describes the conditions of impulse buying behavior during a pandemic. Data collection techniques are observation and interview techniques.Impulse buying behavior occurs because of stimulation from stores or retailers that offer attractive goods, resulting in an urge to buy more. During a pandemic, the items that sell are related to personal protective equipment and foodKey word Pandemic, impulse, buyin
Proses Reog Anti Minuman Keras di Padepokan Batara Singo Jalu Wono Wonogiri
Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses padepokan Reog bernama Batara Singo Jalu Wono dalam membentuk anggota mereka menjadi seniman Reog anti minuman keras di kota Wonogiri. Reog yang dikenal identik dengan minuman keras dan dunia mistis ternyata membuat para pendiri Padepokan Batara Singo Jalu Wono tergerak untuk berupaya menghilangkan stigma tersebut, atau setidaknya stigma tersebut tidak melekat pada padepokan mereka. Analisis data dalam penelitian menggunakan teori fungsionalisme struktural dengan 4 fungsi AGIL milik Talcott Parsons. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan padepokan berhasil membentuk anggota mereka menjadi seniman Reog anti minuman keras. Dilihat dari proses pertama yaitu fungsi adaptasi, padepokan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat, dengan cara menyeimbangkan antara nilai kebudayaan dan norma yang berlaku. Kedua tujuan, pada tahun 2013 para pendiri padepokan mencetuskan tujuan mereka, yakni ingin menjadi padepokan Reog anti minuman keras dan anti narkoba. Ketiga integrasi, unsur-unsur yang terlibat mampu bekerjasama dalam mewujudkan tujuan tersebut, yakni anggota padepokan, stakeholder, dan masyarakat. Keempat latensi, tujuan mereka dapat terwujud karena padepokan mampu menjaga motivasi anggota dan proses yang berlangsung dengan menjunjung nilai kekeluargaan.Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses padepokan Reog bernama Batara Singo Jalu Wono dalam membentuk anggota mereka menjadi seniman Reog anti minuman keras di kota Wonogiri. Reog yang dikenal identik dengan minuman keras dan dunia mistis ternyata membuat para pendiri Padepokan Batara Singo Jalu Wono tergerak untuk berupaya menghilangkan stigma tersebut, atau setidaknya stigma tersebut tidak melekat pada padepokan mereka. Analisis data dalam penelitian menggunakan teori fungsionalisme struktural dengan 4 fungsi AGIL milik Talcott Parsons. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan padepokan berhasil membentuk anggota mereka menjadi seniman Reog anti minuman keras. Dilihat dari proses pertama yaitu fungsi adaptasi, padepokan mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat, dengan cara menyeimbangkan antara nilai kebudayaan dan norma yang berlaku. Kedua tujuan, pada tahun 2013 para pendiri padepokan mencetuskan tujuan mereka, yakni ingin menjadi padepokan Reog anti minuman keras dan anti narkoba. Ketiga integrasi, unsur-unsur yang terlibat mampu bekerjasama dalam mewujudkan tujuan tersebut, yakni anggota padepokan, stakeholder, dan masyarakat. Keempat latensi, tujuan mereka dapat terwujud karena padepokan mampu menjaga motivasi anggota dan proses yang berlangsung dengan menjunjung nilai kekeluargaan
KONTEKS SOSIAL-KEPERCAYAAN & WARISAN KELEMBAGAAN: FAKTOR BERKEMBANGNYA STUNTING DI TINGKAT LOKAL
Tulisan ini berupaya menggali konteks yang membentuk dan mengembangkan ancaman stunting (gangguan tumbuh dan kembang) sumber daya manusia Indonesia di tingkat lokal masuk dalam status kronis. Dengan meneliti kasus stunting di Trenggalek, mengindikasikan pelembagaan urusan wajib pemerintahan bidang kesehatan oleh pemerintah di tingkat lokal sebagai hasil pembagian kewenangan pusat dan daerah di Indonesia tidak bekerja pada ruang hampa bebas nilai, bahkan seringkali terbawa arus sehingga tidak ada kelembagaan kesehatan yang kokoh di tingkat lokal. Absennya pelembagaan terhadap masalah kesehatan stunting ini tidak terlepas dari pembiaran kekosongan pengetahuan tentang stunting di masyarakat yang lambat laun menyusup dalam logik berfikir negara di tingkat lokal. Data dalam tulisan ini dicari mempergunakan wawancara mendalam kepada kepada aktor-aktor pengambil kebijakan, orang tua anak stunting, petugas pemberi layanan kesehatan kepada anak stunting, dan perangkat desa di Kabupaten Trenggalek. Hasilnya adalah terjadi perubahan logika berfikir dari stunting adalah hanya permasalahan kesehatan menjadi stunting adalah permasalahan sosial yang harus diselesaikan oleh berbagai sektor. Perubahan logika berfikir ini memberikan dampak secara kelembagaan pada kebijakan penanganan stunting di Kabupaten Trenggalek
Tradisi Maulid: Perkuat Solidaritas Masyarakat Aceh
Tradisi maulid merupakan peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagi masyarakat Aceh, tradisi ini dilakukan sebagai perayaan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap Islam, memperkuat keimanan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Rasulullah SAW serta memperkokoh rasa persaudaraan yang menumbuhkan solidaritas sosial sesama umat muslim. Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW merupakan suatu keharusan dalam masyarakat dan dirayakan setiap tahun berdasarkan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tujuan dari penelitian mengkaji dan menganalisis solidaritas dalam tradisi maulid yang dibentuk melalui kepentingan bersama didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik analisis data berdasarkan interprestasi dari data primer maupun sekunder. Hasil penelitian menunjukan perayaan tradisi maulid merupakan budaya dalam masyarakat Aceh yang didasarkan pada nilai nilai agama yang diperkuat oleh ikatan solidaritas seluruh masyarakat. Solidaritas yang terjadi diwujudkan dalam bentuk kesetiakawanan tanpa memandang status sosial dan kerjasama antar masyarakat dalam menjaga keeksistensian tradisi hingga sekarang
ANCAMAN KEAMANAN NASIONAL DI WILAYAH PERBATASAN INDONESIA: STUDI KASUS PULAU SEBATIK DAN TAWAU (INDONESIA-MALAYSIA)
Artikel ini meneliti tentang ancaman keamanan nasional di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia khususnya di pulau Sebatik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan beberapa teknik dalam pengambilan datanya, yaitu wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan focus group discussion. Data diperoleh dari lapangan di Perbatasan Republik Indonesia dengan Malaysia di Pulau Sebatik. Lebih spesifik penelitian dilakukan di Desa Aji Kuning Kecamatan Sebatik Tengah dan Tawau (Malaysia). Hasil penelitian menunjukkan ada tiga ancaman ketahanan nasional yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Ketiga ancaman itu ialah Ketiga ancaman itu ialah ancaman bidang pertahanan dan keamanan atau ancaman militer, ancaman ekonomi, dan ancaman ideologi. Ancaman terhadap bidang pertahanan dan keamanan mencakup tingginya penyelundupan narkotika terutama melalui jalur-jalur tikus, hal ini terjadi karena minimnya pengawasan yang disebabkan kurangnya jumlah personil keamanan (TNI dan Polri) yang bertugas di wilayah perbatasan. Ancaman terhadap ekonomi terjadi karena pemerintah belum sepenuhnya berpihak pada wilayah perbatasan di Pulau Sebatik, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat masih bergantung ke Malaysia. Ancaman berikutnya ialah ancaman ideologi berkaitan dengan ideologi, potensi lunturnya kebanggaan dan nasionalisme terhadap Indonesia di daerah perbatasan sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena tingginya desakan kebutuhan ekonomi yang mendorong para pekerja dari Indonesia untuk berbondong-bondong pindah ke Malaysia, karena secara ekonomi Malaysia lebih menggiurkan dibandingkan Indonesia sehingga banyak orang Indonesia yang berpindah warga negara menjadi warga Malaysia.
URGENSI PENGUATAN PARTISIPASI DAN INISIATIF MASYARAKAT LOKAL DALAM PENGEMBANGAN WISATA PERDESAAN
ABSTRAKPariwisata merupakan sektor yang sedang dan terus berkembang di Indonesia baik dari sisi industrinya maupun dari sisi kajian akademik. Pariwisata tidak saja dilihat dari sisi ekonomi melainkan lintas disiplin keilmuan yang salah satunya adalah sosiologi pariwisata. Aktivitas wisata perdesaan erat kaitannya dengan masyarakat karena mempertemukan antara wisatawan dan masyarakat lokal dalam suatu interaksi sosial. Wisata perdesaan merupakan salah satu peluang bagi perkembangan desa di Indonesia dan juga bagi perkembangan pariwisata nasional. Pengembangan wisata perdesaan sangat berkaitan dengan partisipasi masyarakat dan inisiatif lokal hal ini sebagaimana telah berlangsung di beberapa destinasi wisata perdesaan di Indodnesia. Kajian ini mencoba untuk menganalisa strategi menumbuhkan partisipasi dan inisiatif lokal dalam pengembangan wisata perdesaan. Kajian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus destinasi wisata perdesaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dan inisiatif lokal merupakan kunci yang harus dilakukan untuk keberhasilan pengembangan wisata perdesaan di Indonesia. Inisiatif lokal perlu dimunculkan dan dipromosikan bersamaan dengan penguatan local champion yang mampu menjadi agen perubahan masyarakat. Lebih dalam lagi, pada pengembangan wisata perdesaan, proses membangun partisipasi masyarakat dan inisiatif lokal harus didukung pula dengan penguatan jejaring antar stakeholder yang terlibat di dalamnya sehingga mempercepat keberhasilan suatu destinasi wisata perdesaan.Kata Kunci: Partisipasi Masyarakat, Inisiatif Lokal, Wisata Perdesaan ABSTRACT Tourism is a sector that is being and continues to develop in Indonesia both in terms of industry and in terms of academic studies. Tourism is not only seen from the economic side but across scientific disciplines, one of which is tourism sociology. Rural tourism activities are closely related to the community because they bring together tourists and local communities in a social interaction. Rural tourism is one of the opportunities for rural development in Indonesia and also for the development of national tourism. Rural tourism development is closely related to community participation and local initiatives, as has happened in several rural tourist destinations in Indonesia. This study tries to analyze strategies to foster participation and local initiatives in rural tourism development. This study was conducted with a qualitative approach through case studies of rural tourism destinations. The results of the study indicate that community participation and local initiatives are the keys that must be done for the success of rural tourism development in Indonesia. Local initiatives need to be raised and promoted together with strengthening local champions who are able to become agents of community change. Deeper, in rural tourism development, the process of building community participation and local initiatives must be supported by strengthening networks between stakeholders involved in it so as to accelerate the success of rural tourism destinations.Keywords: Community Participation, Local Initiatives, Rural Touris
PROSES PENGKOTAAN DAN DIVERSIFIKASI LAHAN DI DESA NAMLEA
The urbanization process in Namlea village is a consequence of the change in the administrative status of Buru regency into a district. The phenomenon of change affects the social-economic life of the community, such as kinship patterns and interaction patterns that shift from homogeneous to heterogeneous traits. The research location focuses on the village of Namlea in consideration of changes in community structure and the reduction of agricultural land. The number of informers interviewed was as many as farmers, village apparatus, religious figures, community leaders as well as traders. Analytical techniques used to follow the concept of Miles and Huberman where activities in the analysis of qualitative data are conducted interactively and continuously. The results showed that the urbanization process has brought about the impact of changes in the fulfilment of life needs in which life orientation shifts from agriculture to nonagricultural. Diversification is the basis for increasing the value of land selling and the limitation of agricultural products as a result of the increasing number of needs that are not followed by the improvement of land resources and agricultural products