Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Not a member yet
    83 research outputs found

    DI BAWAH ANCAMAN MEKANISASI: MOTIF PEMILIHAN BAWON PADA PETANI DESA SAMBIREJO KECAMATAN SARADAN MADIUN

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara agraris dan mematok target besar menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Untuk mencapai target tersebut adapun beberapa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah salah satunya dengan menggencarkan mekanisasi pertanian. Tujuan dari mekanisasi pertanian ini ialah untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam proses pertanian. Namun mekanisasi pertanian juga berdampak negatif pada beberapa aspek seperti semakin sedikitnya lapangan pekerjaan buruh tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bawon sebagai sistem pengupahan tradisional masih tetap digunakan di era mekanisasi pertanian ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai sarana pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan teori Alfred Schutz dimana terdapat dua motif yang melatarbelakangi tindakan antara lain in order to motive dan because motive. Hasil dari penelitian ini mendapati ada 2 motif “karena” dan 1 motif “agar” yang mendasari pemilihan bawon sebagai sistem pengupahan. Dimana dapat diambil kesimpulan bahwasana petani/pemilik lahan yang masih menggunakan bawon lebih mengutamakan keuntungan sosial daripada keuntungan finansial. Maksud dari keuntungan sosial adalah terjalinnya hubungan yang baik antara petani/pemilik lahan dengan buruh tani yang kebanyak merupakan sanak saudara mereka sendiri

    PEMBERDAYAAN PURNA TKW BERBASIS UMKM DI INDRAMAYU

    Get PDF
    Tulisan ini untuk memberikan gambaran mengenai kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh Purna Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan sektor pada kegiatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini mendapat perhatian dan dukungan dari program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina RU VI Balongan, mengingat daerah Kabupaten Indramayu merupakah daerah pemasok dengan rating terbesar kedua di Indonesia sebagai penyedia jasa TKW ke luar negeri yang telah menyumbang devisa bagi negara, di sisi lain memiliki dampak pada tingginya angka pengangguran produktif yang tidak diimbangi dengan tersedianya lapangan kerja sehingga memilih bekerja di luar negeri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara mendalam, catatan lapangan dan teknik dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberdayaan UMKM oleh para Purna TKW di Kabupaten Indramayu dilakukan melalui kegiatan pembinaan, pembentukan kelompok hawa kreasi, dukungan pembiayaan, sertifikasi dan branding kemasan, pelatihan kewirausahaan dan kegiatan pemasaran. Keberhasilan program pemberdayaan UMKM yang dilakukan TKW purna ini tidak terlepas ditunjang dengan beberapa faktor yang mendukung kegiatan diantaranya melalui: sumber daya, komunikasi, dan struktur organisasi yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya

    Resensi Buku 'Stalking Ala Milenial di Era Digital'

    No full text
    Buku yang berjudul 'Stalking Ala Milenial di Era Digital' ini berisi tentang cara-cara milenial melakukan kegiatan 'stalking' atau menguntit akun orang lain tanpa sepengetahuan pemilik akun yang bersangkutan untuk mendapat kepuasan tersendiri

    Geopark dan Perubahan Sosial: Analisis Perubahan Sosial dalam Dimensi Struktural (peran, kelas sosial, lembaga sosial) masyarakat di kawasan Geopark Ciletuh Jawa Barat

    Get PDF
    Diresmikannya taman bumi ciletuh sebagai global geopark oleh UNESCO menyebabkan cepatnya perubahan sosial di segala aspek di sekitar kawasan Geopark Ciletuh. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis perubahan sosial dalam dimensi struktural yaitu peran, kelas sosial, dan lembaga sosial di Dusun Tegalcaringin pasca adanya peresmian Geopark oleh UNESCO tersebut dengan menggunakan teori Himes dan Moore mengenai dimensi perubahan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Peneliti menemukan: Pertama, Perubahan sosial dalam aspek peran terdiri dari adanya mata pencaharian baru, dan perubahan status dan peran. Kedua, perubahan dalam aspek kelas sosial adalah adanya perubahan dalam sistem kelas sosial dan perpindah kelas sosial. Ketiga, dalam aspek lembaga sosial adalah adanya perubahan dalam segi kualitas. Adapun dampak positif dari perubahan struktural tersebut yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatnya pekerjaan dalam sektor jasa, mengurangi angka pengangguran, kesetaraan gender, dan meningkatnya kualitas individu serta mempercepat mobilitas kelas sosial. Sementara dampak negatifnya ialah adanya disintegrasi sosial dan berkurangnya pekerjaan dalam sektor agraris.Kata kunci : Perubahan sosial, Dimensi Struktural, Geopark Ciletuh. ABSTRACTThe inauguration of Ciletuh Earth Park as a global geopark by UNESCO has caused rapid social changes in all aspects around the Ciletuh Geopark area. This study aims to analyze social changes in the structural dimensions, namely roles, social classes, and social institutions in Tegalcaringin Hamlet after the inauguration of the Geopark by UNESCO using Himes and Moore's theory of the dimensions of social change. This research uses a qualitative approach with a case study method. The researcher found: First, social changes in the aspect of roles consist of the existence of new livelihoods, and changes in status and roles. Second, changes in the aspect of social class are changes in the social class system and shifts in social class. Third, in the aspect of social institutions, there is a change in terms of quality. The positive impacts of these structural changes are improving people's welfare, increasing employment in the service sector, reducing unemployment, gender equality, increasing individual quality and accelerating social class mobility. Meanwhile, the negative impact is social disintegration and reduced employment in the agrarian sector.Keywords : Social Change, Structural Dimensions, Geopark Ciletu

    DERITA DI BALIK TAMBANG: KONTESTASI KEPENTINGAN EKONOMI POLITIK DALAM PERTAMBANGAN TIMAH, DI BANGKA BELITUNG

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dampak tambang timah inkonvensional terhadap kehidupan sosial-ekonomi dan lingkungan masyarakat di Desa Lampur, Kabupaten Bangka Tengah. Penelitian ini dilakukan di Desa Lampur, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan yang diwawancara adalah tokoh masyarakat, kepala desa, pekerja tambang timah dan komunitas nelayan. Proses analisis data dilakukan melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertama, munculnya dua kubu pada masyarakat Desa Lampur dalam merespon masalah pertimahan, yaitu kelompok yang pro terhadap pertambangan timah. Asumsi kelompok pro adalah dengan adanya Tambang Inkonvensional (TI) masyarakat desa bukan lagi hanya sebagai penonton dalam memanfaatkan sumber daya alamnya, namun mereka juga memiliki keterlibatan secara langsung. Kelompok kedua adalah golongan yang menganggap TI merupakan penyumbang kerusakan ekologis terbesar di Bangka Belitung  dan belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat secara langsung. Kedua, Beralihnya profesi masyarakat dari yang sebelumnya petani, nelayan dan buruh bangunan dengan penghasilan rendah menjadi penambang TI yang menghasilkan uang dalam waktu cepat. Ketiga, Meningkatnya angka putus sekolah. Anak-anak di Desa Lampur cukup banyak yang meninggalkan sekolahnya demi menjadi penambang. Keempat, Timbulnya konflik sosial di antara masyarakat. Para penambang kerap kali melakukan aktivitas pertambangan pada malam hari, dimana lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga.

    Social Network Analysis (SNA) Tentang Protes Digital di Twitter: Studi Pada Tagar #CabutPermenJHT56Tahun

    Get PDF
    Pada era digital, penggunaan Twitter sebagai medium aspirasi dan alat untuk menyebarluaskan gerakan sosial semakin meningkat. Artikel ini mengidentifikasi bentuk gerakan sosial online dalam tagar Twitter#CabutPermenJHT56Tahun menggunakan abstraksi teoritik Slavina and Brym (2019)  terhadap teori gerakan sosial di era digital Castell (2012). Mengisi kekosongan pembahasan jaringan sosial dalam gerakan sosial online pada studi sebelumnya (Coley, Cornfield, Isaac, & Dickerson, 2020; Walsh, 2012; Carty, 2006), penelitian ini menggunakan Social Network Analysis (SNA) untuk memetakan aktor penting dalam protes online. Kebaruan metodologi melalui pendekatan digital berkontribusi dalam proses pengumpulan dan analisis data menggunakan perangkat lunak NVIVO dan Gephi. Hasil penelitian ini menjelaskan mekanisme gerakan sosial online pada tagar Twitter #CabutPermenJHT56Tahun melalui empat indikator, yaitu aggrieved, available, digitally connected, dan globally conscious.  Jaringan sosial aktor yang terlibat dalam gerakan juga dibahas dalam artikel ini.In the digital era, social movements have increasingly used Twitter as a medium to mobilize their ideas. This article identifies the online social movement on Twitter Hashtag #CabutPermenJHT56Tahun using Slavina and Brym's (2019) adaption to Castell's (2012) theory of social movement in the digital era. Given the lack of social network discussion of online social movement in previous studies (Coley, Cornfield, Isaac, & Dickerson, 2020; Walsh, 2012; Carty, 2006),  this article used Social Network Analysis (SNA) on mapping the influential actors in the online protest. Methodological novelty through digital approach is contributed to data collection and analysis using NVIVO and Gephi Software. Finally, this study identifies the mechanism of online social movement through Twitter Hashtag #CabutPermenJHT56Tahun through four indicators: aggrieved, available, digitally connected, and globally conscious. The social network of actors in the movement is also provided in this article

    Intoleransi Di Tengah Toleransi Kehidupan Beragama Generasi Muda Indonesia

    Get PDF
    Tulisan ini meneliti tentang permasalahan agama serta perkembangan toleransi antar umat beragama khususnya generasi muda di Indonesia. Bertolak dari kondisi Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, setiap kelompok dan individu terbentuk secara alamiah dengan perbedaan pandangan serta pendapat yang sewaktu-waktu bisa saja lepas kendali. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan fokus kajian adalah kondisi toleransi beragama di Indonesia saat ini serta menunjukkan upaya pemerintah membangun toleransi beragama. Agama dan politik menjadi faktor penting bagi politik Indonesia sejak awal berdirinya. Pasca reformasi, masyarakat menjadi lebih terbuka dan demokratis. Meski begitu, di sisi lain, dunia internasional juga menyorot tren kelompok intoleran yang mengecam demokrasi Indonesia sebagai “budaya kafir”, Pancasila sebagai “sistem thoghut”, Indonesia sebagai negara tidak Islami, dan seterusnya. Praktek intoleransi beragama di Indonesia ditunjukkan dengan praktek pelarangan pendirian tempat ibadah, kekerasan yang dialami oleh para ulama, kasus penolakan terhadap identitas tertentu, dan lain sebagainya. Sejatinya, pasca reformasi ada tiga pihak yang seharusnya berperan dan bertanggung jawab sesuai dengan kapasitasnya dalam pemeliharaan kerukunan dan toleransi beragama yaitu individu, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Sejumlah fakta lapangan menunjukkan dalam perkembangannya, regulasi yang secara tegas disebutkan sebagai pedoman tugas pemerintah daerah nampaknya masih belum diperhatikan dan diimplementasikan secara optimal oleh sejumlah pemerintah daerah. Khususnya terkait dengan fasilitasi kerja dan dukungan untuk FKUB, banyak pemerintah daerah yang belum cukup memberikan perhatian kepada FKUB yang merupakan wadah bagi masyarakat untuk membangun, memelihara dan memberdayakan umat beragama untuk kerukunan dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. This paper examines religious problems and the development of tolerance between religious people, especially the younger generation in Indonesia. This study uses a descriptive qualitative approach with the focus of the study being the current state of religious tolerance in Indonesia and showing the government's efforts to build religious tolerance. Post-reform, society became more open and democratic. Even so, on the other hand, the international world also highlights the trend of intolerant groups that denounce Indonesian democracy as a "pagan culture", Pancasila as a "thoghut system", Indonesia as an un-Islamic state, and so on. The practice of religious intolerance in Indonesia is shown by the prohibition of the establishment of places of worship, violence experienced by scholars, rejection of certain identities, and so on. In fact, after the reform, there are three parties that should play a role and be responsible according to their capacity in maintaining religious harmony and tolerance, namely individuals, local governments, and the central government. A number of field facts show that in its development, regulations that are expressly mentioned as guidelines for local government tasks still seem to have not been considered and implemented optimally by a number of local governments. Especially related to the facilitation of work and support for FKUB, many local governments have not paid enough attention to FKUB which is a forum for the community to build, maintain and empower religious people for harmony and welfare in the life of society, nation and state

    Genealogi Kewirausahaan Sosial

    Get PDF
    Kewirausahaan sosial sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Pemerintah, lembaga non-profit, dan universitas terus mempromosikan kehebatan kewirausahaan sosial. Mereka mengklaim bahwa kewirausahaan sosial akan menghasilkan kemaslahatan. Sayangnya, meskipun banyak penelitian menunjukkan dampak baik kewirausahaan sosial, kajian historis dan kritis tentangnya jarang sekali dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan itu dan menunjukkan konteks serta kepentingan kewirausahaan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut, metode genealogi digunakan sebagai ujung tanduk penelitian dengan fokus pada studi pustaka. Setelah melakukan pembacaan kritis terhadap historiografi kewirausahaan sosial studi ini menghasilkan empat kesimpulan. Pertama, palingan sosial terjadi di tahun 1980. Ini mengizinkan lahirnya kewirausahaan sosial. Neoliberalisme dan penekanannya kepada pemotongan peran negara merupakan konteks kemunculan kewirausahaan sosial. Secara sederhana, keputusan pemerintah untuk memangkas bantuan sosial serta permasalahan sosial yang mengikutinya adalah alasan utama timbulnya ide kewirausahaan sosial. Kedua, kewirausahaan sosial lahir dari rahim kewirausahaan tradisional. Keduanya sama-sama mendayagunakan subjek kewirausahaan. Ketiga, institusionalisasi kewirausahaan sosial dipengaruhi oleh kepentingan pasar bebas dan individualisasi neoliberal. Keempat, organisasi internasional berperan penting dalam penyebaran kewirausahaan sosial di seluruh dunia, khususnya negara berkembang. In Indonesia, social entrepreneurship has became the new buzzword. Government, non-profit organizations, and university continuisly promoting the positives side of social entrepreneurship. It has been claimed that social entrepreneurship always yields prosperity. Unfortunately, although a number of publications has shown decent effects of social entrepreneurship, there was and is small attention to critical and historical reading of it. This study attempts to fill that gap and discloses the context and interest of social entrepreneurship. Genealogy method which depends on literature study will be used to attain the goals of this research. After doing critical reading of social entrepreneurship genealogy, the study has four conclusions to offer. First, social turn had been happening in the 1980 allowing the emergence of social entrepreneurship. Neoliberalism with its emphasis on minimal state was the exact context of the advent of social entrepreneurship. To simplify, government decision to retreat social benefits and social problems ensuing from it were important factors in supporting social entrepreneurship ascendancy. Second, social entrepreneurship was born out of traditional entrepreneurship. Both of them galvanize entrepeneur subject. Third, the institutionalization of social entrepreneurship was heavily influenced by neoliberal spirit of free market and individualization. Four, international organizations have been crucial to social entrepeneurship expansion across developing contries

    Social Media Trap: Remaja Dan Kekerasan Berbasis Gender Online

    Get PDF
    Artikel ini berfokus pada masalah kekerasan berbasis gender online (KGBO), khususnya keterkaitan antara remaja dan penggunaan media sosial. Pendekatan kualitatif dengan metode etnografi virtual dilakukan untuk melihat fenomena sosial dan kultural penggunaan ruang siber. Fokus kajian dalam artikel ini adalah membahas; (1) lingkup KGBO, dan (2) hubungan antara KGBO dan penggunaan media sosial pada kalangan remaja. Teori Interaksi Simbolik dari Mead digunakan dalam penelitian ini sebagai pisau analisis untuk mengupas fenomena KGBO di kalangan remaja. Kemunculan fenomena kekerasan berbasis gender online merupakan salah satu dari sekian banyak dampak negatif penggunaan media sosial. Sebanyak 61% KGBO dengan berbagai bentuk dilakukan oleh orang terdekat korban (intimate partner violence). Media sosial bagi remaja menjadi bukti eksistensi dirinya dalam masyarakat. Perlu adanya sosialisasi dan pemahaman yang cukup dalam penggunaannya sehingga remaja dapat terbebas dari bahaya KGBO dan dampak negatif lainnya. This article focuses on the issue of online gender based violence (OGBV), specifically the link between youth and the use of social media. A qualitative approach with a virtual ethnographic method is carried out to see social and cultural phenomena in the use of cyberspace. The focus of the study in this article is to discuss; (1) the scope of the OGBV, and (2) the relationship between the OGBV and the use of social media among adolescents. The Symbolic Interaction Theory from Mead is used in this study as a knife for analyzing the phenomenon of OGBV among adolescents. The emergence of the phenomenon of online gender based violence is one of the many negative impacts of the use of social media. As many as 61% OGBV in various forms were carried out by those closest to the victim (intimate partner violence). Social media for adolescents is proof of their existence in society. It is necessary to have sufficient socialization and understanding in its use so that young people can be free from the dangers of OGBV and other negative impacts.

    SAKRALITAS VIRTUAL: MAKNA SAKRAL DALAM IBADAH SALAT JUMAT VIRTUAL DI INDONESIA

    Get PDF
    This article discusses sacred experience in virtual worship. It focuses on virtual Friday prayer via zoom application leaded by Wawan Gunawan Abdul Wahid, scholar from Yogyakarta, which has been holding this ritual since the outbreak of COVID-19 pandemic. Using phenomenological approach, this research argues that congregation of virtual Friday prayers experience sacredness during the prayers through two conditionals: attachment and continuousness in a ritual. Devoutness in prayer emerges within engagement in a ritual. The sacred atmosphere ascends when the congregation of the virtual Friday prayer enter the virtual room for Friday prayer. This virtual Friday room demarcates an offline profane room from sacred virtual room for Friday prayer. In addition, the continually engagement in virtual Friday prayer contribute to devoutness and sacred feeling of the congregation. The engagement of the congregation stimulates collective bond among participant in virtual Friday prayers.             Keywords: sacred, profane, virtual Friday prayer, worship, devoutness    ABSTRAKArtikel ini membahas tentang pengalaman sakral dalam ibadah virtual. Fokus kajiannya adalah pada pelaksanaan salat Jumat virtual melalui aplikasi zoom dipimpin oleh Wawan Gunawan Abdul Wahid, seorang akademisi asal Yogyakarta, yang berlangsung sejak pandemi COVID-19. Melalui pendekatan fenomenologi, kajian ini berargumen bahwa para jamaah mendapatkan pengalaman sakral dalam pelaksanaan salat Jumat virtual. Pengalaman tersebut terbentuk melalui dua prasyarat: kebersamaan dan kesinambungan. Kekhusyukan itu timbul melalui kebersamaan sejak awal. Ketika semua jamaah memasuki ruang virtual zoom nuansa sakralitas mulai terasa. Di sini ruang virtual zoom menjadi pembatas antara ruang profan di alam nyata dengan ruang sakral di alam maya. Selain itu, perasaan kekhusyukan dan sakralitas itu juga tumbuh dan dikuatkan dengan kehadirannya pada salat Jumat virtual secara konsisten dan berkesinambungan. Jamaah yang selalu hadir secara tidak langsung menanamkan pada dirinya perasaan ikatan bersama dengan jamaah dan ibadah virtual tersebut. Kata Kunci: sakral, profan, Jumat virtual, ibadah, khusu

    70

    full texts

    83

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇