Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Not a member yet
    83 research outputs found

    Konstruksi Sosial Kemiskinan Pada Masyarakat Adat Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis

    Get PDF
    ABSTRAKArtikel ini menjelaskan tentang konstruksi sosial kemiskinan pada masyarakat Desa Adat Kuta Kabupaten Ciamis dengan cara mengeksplorasi realitas sosial kemiskinan pada masyarakat adat dan proses konstruksi sosial kemiskinan di desa adat tersebut. Konsep teori konstruksi sosial digunakan untuk menganalisis proses konstruksi sosial kemiskinan masyarakat sebagai realitas sosial dalam kehidupan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan proses pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik utama yaitu observasi partisipatif dan wawancara mendalam kepada kepala adat, tetua adat, keluarga penerima manfaat (KPM) program Keluarga Harapan (PKH), pendamping PKH setempat, dan kader desa yang bertugas mengelola data pengajuan dan penerimaan bantuan sosial PKH sebagai upaya kajian dan eksplorasi yang selanjutnya menjelaskan fenomena konstruksi sosial kemiskinan pada masyarakat desa adat sebagai realitas sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai adat dijadikan pedoman oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, salah satu aturannya adalah tidak boleh membangun rumah permanen dari semen dan batu bata. Jadi, masyarakat di sana memiliki rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap jerami, bukan karena kemiskinan dan kondisi ekonomi mereka, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas kepercayaan leluhur untuk hidup sederhana dan tidak merusak lingkungan alam. Kajian penelitian ini akan membuka pemahaman tentang nilai-nilai kearifan lokal yang memengaruhi masyarakat Desa Adat Kuta dalam mendefinisikan konsep kemiskinan.Kata Kunci: Realitas Kemiskinan, Konstruksi Sosial, Masyarakat Desa Adat ABSTRACTThis article explains the social construction of poverty in the Kuta Traditional Village community, Ciamis Regency, by exploring the social reality of poverty in traditional communities and the process of social construction of poverty in these traditional villages. The theoretical concept of social construction is used to analyze the social construction process of community poverty as a social reality in their lives. This study uses a descriptive qualitative approach with the data collection process carried out through two main techniques, namely participatory observation and in-depth interviews with traditional heads, elders, beneficiary families (KPM) of the Family Hope (PKH) program, local PKH assistants, and village cadres who responsible for managing data on applications for and receipt of PKH social assistance as an effort to study and explore which then explains the phenomenon of the social construction of poverty in traditional village communities as a social reality. The results of the study show that traditional values are used as guidelines by the community in their daily lives, one of the rules is not to build permanent houses made of cement and brick. So, people there have houses on stilts made of wood and thatched roofs, not because of their poverty and economic conditions but as a form of appreciation for the ancestral trust to live rustic and not damage the natural environment. This research study will open up an understanding of the local wisdom values that influence the Kuta Traditional Village community in defining the concept of poverty.Keywords: Reality of Poverty, Social Construction, Traditional Village Communitie

    Solidaritas Perempuan Dalam Tradisi Majengan Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat

    Get PDF
    Who then doesn't think that in almost every social activity the contribution of women is questioned. Not limited to the role and position but also the results of this share which later becomes the value of recognizing the role of women. Phenomenological analysis is used to see the urgency of the role of women in social traditions, especially in the Indramayu community, West Java. How does the construction of women affect the position of women in the social system more broadly, and how solidarity between women forms its own strength for women to remain visible in the social environment. The results of the study revealed that women have an important role in the social system of the Indramayu community. Solidarity between women is used as a source of strength for women's empowerment in society. From here we learn about women who do not only play a role in the domestic sphere, but make the domestic sphere the beginning of women's empowerment in the social system of society.  ABSTRAKArtikel ini membahas mengenai peran perempuan dalam tradisi Majengan di Kabupaten Indramayu, yang seringkali dipertanyakan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Praktik mempromosikan perempuan di belakang seperti pada dapur dan sumur seringkali mengabaikan potensi dan peran sesungguhnya yang dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengungkap nilai pengakuan terhadap peran perempuan, tidak hanya terbatas pada peran dan posisi fisiknya, tetapi juga pada hasil kontribusi yang mereka berikan. Pendekatan analisis fenomenologi digunakan untuk mengekplorasi urgensi peran perempuan dalam konteks tradisi kemasyarakatan, terutama di masyarakat Indramayu, Jawa Barat. Konstruksi sosial tentang perempuan mempengaruhi cara perempuan ditempatkan dalam struktur sosial secara lebih luas, sementara di sisi lain, solidaritas diantara perempuan menciptakan kekuatan kolektif yang memungkinkan perempuan untuk tetap relevan dalam lingkungan sosial masyarakat. Temuan penelitian menegaskan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat Indramayu. Solidaritas diantara perempuan menjadi sumber kekuatan yang mendorong pemberdayaan perempuan dalam ranah sosial kemasyarakatan. Melalui temuan ini, kita memahami bahwa peran perempuan tidak hanya terbatas pada ranah domestic, tetapi mampu menggunakan ranah domestic sebagai pijakan awal dalam upaya pemberdayaan perempuan dalam struktur sosial masyarakat yang lebih luas. Kata kunci: Nilai Perempuan, Sistem Sosial, Solidaritas ABSTRACTThis article discusses the role of women in Majengan tradition in Indramayu district, which is often questioned in various social activities. The practice of promoting women in the back like in the kitchen and wells often ignores the real potential and role that the woman herself has. The aim of this article is to reveal the value of recognition of women's roles, not only limited to their physical roles and positions, but also to the results of their contributions. The phenomenological analysis approach is used to explore the urgency of the role of women in the context of social tradition, especially in Indramayu, West Java. The social construction of women affects the way women are placed in the broader social structure, while on the other hand, solidarity among women creates collective forces that enable women to remain relevant in the social environment of society. Research findings confirm that women have an important role in the social structure of Indramayu society. Solidarity among women is a source of strength that encourages women's empowerment in the social sphere of society. Through these findings, we understand that women's roles are not only limited to the domestic sphere, but are able to use domestic as a starting point in efforts to empower women in the wider social structure of society.Keywords: Social system, Solidarity, Women's values. 

    Interaksi Sosial Pada Masyarakat Adat Di Kampung Adat Kuta Ciamis

    Get PDF
    ABSTRAK  Penelitian ini akan mengkaji mengenai interaksi sosial yang terdapat di wilayah Kampung Adat Kuta Ciamis yang berfokus mengenai bagaimana kontak sosial dan komunikasi yang terdapat pada masyarakat setempat. Metode penelitian ini secara kualitatif dengan teknik Survei Deksriptif untuk melihat langsung proses interaksi yang terjadi dalam masyarakat. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam secara tidak struktural, observasi partisipasi dan dokumentasi penelitian. Teknik analisis data penelitian ini kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada penelitian ini menggunakan teori Konstruksi Sosial Peter L Berger. Hasil penelitian ini berupa gambaran mengenai daerah dan juga bagaimana proses interaksi yang terdapat pada masyarakat adat di Kampung Adat Kuta dalam sehari-hari. Interaksi yang terjadi pada masyarakat adat disini terjalin dengan baik dan bersifat dinamis karena adanya sebuah kontak sosial dan komunikasi antar masyarakat yang masih terjaga. Faktor nilai dan tradisi yang sudah ada serta kesamaan bahasa dalam masyarakat adat menjadikan proses interaksi antar penduduk tetap berjalan sesuai dengan norma adat.Kata Kunci: Interaksi Sosial, Konstruksi Sosial, Masyarakat Kampung AdatABSTRACT  This research will examine social interactions in the Kuta Ciamis Traditional Village area, focusing on how social contact and communication exist in the local community. This research method is qualitative with a descriptive survey technique to see directly the interaction processes that occur in society. Data collection techniques use non-structural in-depth interviews, participant observation and research documentation. This research data analysis technique is data condensation, data presentation, and drawing conclusions. This research uses Peter L Berger's Social Construction theory. The results of this research are in the form of an overview of the area and also the daily interaction processes of the traditional community in the Kuta Traditional Village. The interactions that occur in indigenous communities here are well established and dynamic because there is social contact and communication between communities that is still maintained. The factors of existing values and traditions as well as the common language in indigenous communities mean that the interaction process between residents continues to run in accordance with customary norms.Keywords: Social Interaction, Social Construction, Traditional Village Communit

    TikTok, Identitas Sosial dan Stereotip Negatif Etnik Madura di Kalangan Gen-Z

    Get PDF
    ABSTRAK  Artikel ini mengkaji fenomena pembentukan dan penguatan stereotip negatif terhadap etnik Madura melalui TikTok di kalangan Generasi Z. Dengan menggunakan metode penelitian mixed methods dan pendekatan fenomenologi, penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, dan Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara-mendalam dan kuesioner. Teori konstruksi sosial dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menjadi kerangka analisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa TikTok berperan signifikan dalam membentuk dan memperkuat stereotip negatif terhadap etnik Madura di kalangan Generasi Z, seperti dalam konten-konten yang diproduksi oleh akun @FuadSasmitha dan @Boger_Bocor93meledak_Bum. Dari total 108 responden dalam penelitian ini, 73 responden atau 67,9% menyetujui pernyataan bahwa konten-konten TikTok saat in menjadi sumber rujukan utama pembentukan dan penguatan citra dan stereotip negatif terhadap etnik Madura. Lebih jauh, hasil wawancara dengan 20 informan dalam penelitian ini menegaskan bahwa stereotip negatif terhadap etnik Madura turut mempengaruhi hubungan antaretnik, memperlebar jarak sosial, menumbuhkan bias, prasangka negatif dan diskriminasi terhadap kelompok etnik Madura. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa di kalangan Gen-Z TikTok bukan hanya sekadar pelantar (platform) hiburan, melainkan juga berperan sebagai media yang mempengaruhi konstruksi sosial negatif terhadap etnik tertentu, dengan implikasi pada pelemahan kohesi sosial dan hubungan antaretnik di dalam masyarakat. Kata Kunci: Media Sosial, TikTok, Stereotip Etnik, Gen-Z, Madura ABSTRACT This article examines the phenomenon of the formation and reinforcement of negative stereotypes against the Madurese ethnic group through TikTok among Generation Z. Using mixed methods and a phenomenological approach, this research was conducted in Kamal District, Bangkalan Regency, and Lenteng District, Sumenep Regency. Data were collected through observation, in-depth interviews and questionnaires. The social construction theory of Peter L. Berger and Thomas Luckmann became the main analytical framework in this study. The results of this study show that TikTok plays a significant role in shaping and reinforcing negative stereotypes of ethnic Madurese among Generation Z, such as in the content produced by the accounts @FuadSasmitha and @Boger_Beak93meledak_Bum. Of the total 108 respondents in this study, 73 respondents or 67.9% agreed with the statement that TikTok content is currently the main source of reference for the formation of negative images and stereotypes of ethnic Madurese. Furthermore, the results of interviews with 20 informants in this study confirmed that negative stereotypes of the Madurese ethnic group also affect inter-ethnic relations, widen social distance, foster negative prejudice and discrimination against Madurese ethnic group. The findings of this study indicate that among Gen-Z TikTok is not just an entertainment platform, but also acts as a medium that influences negative social construction of certain ethnicities, with implications for weakening social cohesion and interethnic relations in society.  Keywords: Social Media, TikTok, Ethnic Stereotypes, Gen-Z, Madur

    Okupasi Perkebunan Dan Masyarakat Hukum Adat: Studi Keberlanjutan Sumber Penghidupan (Livelihood) Komunitas Adat Sendi, Mojokerto Jawa Timur

    Get PDF
    ABSTRAKPartisipasi warga adat dalam demokrasi Indonesia dan konstruksi republik bersumber kepada perlindungan ketersediaan basis material berupa sumber pangan alami yang menjamin keberlanjutan dan tradisi adat, sehingga diperlukan upaya proteksi terhadap warga adat yang melakukan akses terhadap sumber daya hutan karena sumber penghidupan yang bersifat agro-forestry dan subsistensi pemungut hasil hutan. Studi observasi-partisipan ini bertujuan untuk mengamati praktik subsistensi yang masih tersisa. Dengan aksi konservasi sumber penghidupan, komunitas ini berupaya membuktikan bahwa terdapat relasi subsistensi melalui rekognisi hukum adat Sendi yang meliputi keseimbangan kebutuhan materiil dan spirituil. Identifikasi Sustainable Livelihood (Keberlanjutan) Approach (SLA) kami mencatat bahwa praktik subsistensi dan gotong-royong dalam merancang wisata lokal merupakan kekuatan komunitas adat Sendi yang terhubung dari hulu (upstream) menuju hilir (downstream), sekaligus tindakan ramah lingkungan menggunakan hasil hutan secara natural. Hasil studi menunjukkan fenomena okupasi dalam relasi komunitas dengan kebijakan negara, berupa peralihan hutan alami menjadi kawasan hutan tanaman industri dengan berbagai tipe komoditi perkebunan menyebabkan komunitas adat Sendi semakin subsisten. Hal ini mengimplikasikan aktor komunitas adat Sendi semakin menyadari area hutan alami sebagai ruang eksistensi yang senantiasa bertumbuh berlandaskan memorial spirit. Hasil analisis teori akses mengilustrasikan bahwa akses pengetahuan menjadi landasan eksistensial dan fleksibilitas komunitas dalam perubahan sosial.Kata Kunci: Komunitas Adat, Okupasi Perkebunan, Sumber Penghidupan.ABSTRACTThe participation of indigenous peoples in Indonesian democracy and the construction of the republic is based on the protection of the availability of a material base in the form of natural food sources that ensure the sustainability and customary traditions, so it is necessary to protect indigenous peoples who have access to forest resources because of the source of livelihoods that are agroforestry and the subsistence of forest as foragers. This participant-observation study aims to observe the remaining subsistence practices. The action of conserving livelihoods, this community seeks to prove that there is a subsistence relationship through the recognition of Sendi customary law which includes a balance of material and spiritual needs. Our Sustainable Livelihood Approach (SLA) identification noted that subsistence practices and mutual cooperation in designing local tourism are the strengths of the Sendi indigenous community that are connected from upstream to downstream, as well as environmentally friendly actions using natural forest products. The study results show that the phenomenon of occupation in the community's relationship with state policy, in the form of the conversion of natural forests into industrial plantation forest areas with various types of plantation commodities, has caused the Sendi indigenous community to become increasingly subsistence. This implies that the actors of the Sendi indigenous community are increasingly aware of the natural forest area as a sphere for existence that grows based on the memorial spirit. The results of the access theory analysis illustrate that access to knowledge is the existential basis and flexibility of the community in social change. Keywords: Indigenous Community, Livelihoods, Occupation of Plantations

    Tinjauan Buku How To Die: An Ancient Guide to the End of Life

    No full text
    Buku ini memberi ruang untuk memaknai kematian secara mendalam. Saya berpikir bahwa kehidupan masa kini yang penuh dengan kemajuan dunia, perlu merefleksikan bagaimana kehidupan dimaknai. Pada sebagian masyarakat kita, kematian adalah tradisi yang sakral. Kematian dianggap sebagai kabar yang menyedihkan, menyayat hati dan oleh karenanya kita harus bersedih. Ketika keluarga dekat, teman, atau orang yang kita kenal meninggal dunia, maka akan lebih terbiasa respon kita adalah menangis dan bersedih. Adalah perihal yang wajar apabila orang yang ditinggalkan akan merasa sedih dan hatinya perih.Kata Kunci: Kematian, Sosiologi Kematian, KesedihanThis book gives space to interpret death deeply. I think that today's life, which is full of world progress, needs to reflect on how life is interpreted. In some of our societies, death is a sacred tradition. Death is considered sad, heart-wrenching news and therefore we should grieve. When close family, friends, or people we know pass away, we are more accustomed to crying and grieving. It is natural that the person left behind will feel sad and his heart hurts.Keywords: Death, Sociology of death, Grie

    Negosiasi Pada Keluarga Campuran: Studi Tentang Keluarga Tiri

    Get PDF
    ABSTRAKPada keluarga campuran, terdapat perubahan yang membutuhkan penyesuaian dalam aspek-aspek keluarga. Proses perwujudan keluarga dalam keluarga campuran memiliki perbedaan dengan keluarga pada pernikahan sebelumnya. Studi ini bertujuan untuk mengkaji adaptasi yang terjadi pada keluarga campuran dan negosiasi yang dilakukan anggota keluarga campuran dalam berbagai kegiatan dan interaksi pada keluarga campuran. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan konsep family practice dari David Morgan. Informan dalam penelitian ini sebanyak sembilan orang. Studi ini menemukan variasi proses adaptasi pada keluarga campuran yaitu proses adaptasi secara holistik, natural, dan secara terpaksa. Pada negosiasi terkait dengan kegiatan komunal keluarga campuran dilakukan secara eksplisit dan implisit. Proses perwujudan keluarga pada keluarga campuran dapat dilihat melalui proses adaptasi dan negosiasinya. Kedua hal ini yang kemudian membedakan dengan keluarga pada pernikahan pertama. Dalam aspek-aspek tertentu, keluarga campuran di Indonesia masih dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat kultural seperti dalam hal mediasi ketika terjadi konflik hingga rasa sungkan dengan anggota keluarga baru. Kata Kunci: Praktik Keluarga, Keluarga Campuran, Adaptasi, Negosiasi, Keluarga Tiri  ABSTRACTChanges in blended families necessitate adaptations to several aspects of the family. As a result, the process of building a family in a blended family differs from that of a family formed through a first marriage. This research stems from a desire to comprehend the embodiment of the family in a blended family through family communal activities such as family rituals and routines. This study examines the adaptations that occur in blended families and the negotiations that blended family members engage in addressing various activities and interactions. This study employed a qualitative method using the concept of family practice by David Morgan. Nine informants were involved in this study. This study revealed three types of adaption processes in blended families: holistically, naturally, and forcibly. Negotiations around communal activities in blended families take place both explicitly and implicitly. In a blended family, the process of an embodiment of the family can be seen through adaptation and negotiation processes. These two factors distinguish a blended family from a family formed through a first marriage. In certain ways, blended families in Indonesia continue to be influenced by cultural factors, such as mediation when there is a problem or feeling reluctant with new family members. According to the findings of this study, cultural traits are able to unite two families. Keywords: Family Practice; Blended Family; Adaptation; Negotiation; Stepfamil

    Analisis Dampak Pembangunan Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) Bagi Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Kawasan Tegal-Brebes

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi adanya proyek pembangunan jaringan jalan baru non-tol yang disebut Jalan Lingkar Utara (Jalingkut) di kawasan Tegal-Brebes. Dalam praktiknya, pembangunan jalan baru senantiasa diindikasikan sebagai wujud pendorong kemajuan ekonomi nasional guna memudahkan berlangsungnya proses distribusi antar wilayah. Jalingkut merupakan satu diantara upaya pemerintah pusat dan daerah untuk melancarkan gerak pertumbuhan ekonomi, utamanya mendukung kelancaran industrialisasi. Artikel hasil penelitian ini bertujuan menganalisis lebih lanjut terkait Jalingkut dalam berkontribusi  merealisasikan integrasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang akan mempengaruhi pemeringkatan klasifikasi negara di kancah internasional dengan dikaji berdasar pada teori milik Wallerstein, Sistem Dunia. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui dampak tidak langsung dari Jalingkut terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan sumber data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dibangunnya Jalingkut memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional nantinya, Jalingkut berpotensi untuk mengurangi kepadatan dan kemacetan di jalan Pantura, selain itu hadirnya Jalingkut yang sekaligus menjadi jalan arteri nasional membawa pengaruh perubahan sosial ekonomi bagi masyarakat di antara kedua kawasan Jalingkut di bangun, yakni daerah Tegal dan Brebes. Kata Kunci: Dampak Pembangunan, Jalingkut, Sosial-Ekonomi, Teori Sistem DuniaABSTRACT This research is motivated by the existence of a development project called North Ring Road (Jalingkut) in the Tegal-Brebes area. The construction of new roads is always indicated as a form of encouragement for national economic progress in order to facilitate the distribution process between regions. Jalingkut is one of the efforts by central and regional governments to accelerate the movement of economic growth, primarily to support industrialization. The article of this study aims to further analyze Jalingkut in contributing integration of domestic economic growth which will affect the ranking of country classifications in the international arena by studying it based on Wallerstein's theory, the World System. This article determine the indirect impact of Jalingkut on the socio-economic life of the surrounding community. The method used in this study is a qualitative method with data sources obtained through observation, interviews, and literature study. The results show that Jalingkut construction provides great opportunities for future national economic growth, Jalingkut has the potential to reduce congestion on Pantura Road, besides that the presence of Jalingkut which is also a national artery road that has an impact on socio-economic changes for the community between Jalingkut area, that is Tegal and Brebes areas. Keywords: Development Impact, Jalingkut, Socio-Economic, World System Theor

    Definisi Sexual Harassment Berdasarkan Jenis Kelamin di Kalangan Mahasiswa

    Get PDF
    Pelecehan seksual memiliki cakupan definisi yang luas. Tindakan pelecehan seksual sangat beragam bentuknya namun secara umum dikategorikan ke dalam bentuk verbal maupun non-verbal (fisik). Seberapa jauh suatu tindakan dianggap sebagai sexual harassment tergantung pada bagaimana seorang individu mendefinisikannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix methods (campuran) eksplanatori sekuensial. Pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap yaitu mengumpulkan data kuantitatif pada tahap pertama, menganalisis hasilnya, dan kemudian menggunakan hasilnya untuk merencanakan (atau membuat) fase kedua yakni data kualitatif. Responden dan informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Ganesha.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mendefinisikan pelecehan seksual oleh mahasiswa/i dipengaruhi oleh tingkat kenyamanan relasi yang dimiliki. Faktor penyebab terjadinya pelecehan seksual yang paling utama adalah adanya keinginan seseorang untuk melakukan tindakan pelecehan seksual yang didasari oleh hawa nafsu yang menyimpang. Bentuk pelecehan yang paling banyak dialami oleh responden dan informan adalah siulan dan dibagikan hal-hal yang berbau pornografi oleh orang lain yang lebih banyak direspon dengan diam oleh para korban. The definition of sexual harassment is broad. Sexual harassment can take many forms, but it is generally classified as verbal or nonverbal (physical). The extent to which an act is perceived as sexual harassment is determined by the individual. A sequential explanatory mix methods approach is used in this study. Data collection is conducted in two stages: collecting quantitative data in the first stage, analyzing the results, and then using the results to plan (or create) the qualitative data in the second stage. The respondents and informants in this study were Sociology Education students of Universitas Pendidikan Ganesha. The findings demonstrated that the students' definitions of sexual harassment are influenced by the level of comfort in their relationship. The desire to commit acts of sexual harassment based on deviant passions is the most important factor causing sexual harassment. The most common form of harassment experienced by respondents and informants is whistling and sharing pornographic things by others, to which more victims respond silently.

    Relasi Gender Pada Keluarga Perempuan Miskin Di Kelurahan Wonokusumo Kota Surabaya

    Get PDF
    Artikel ini mengkaji salah satu penyebab feminisasi kemiskinan, yaitu ketimpangan gender. Ketimpangan gender yang terjadi pada hubungan keluarga miskin semakin memperparah kondisi perempuan miskin di kota Surabaya. Relasi gender pada keluarga perempuan miskin di Surabaya akan dijelaskan melalui tiga hal, yaitu relasi gender di bidang reproduktif, produktif, dan manajemen komunitas. Dari relasi gender tersebut akan diketahui bentuk-bentuk ketimpangan gender yang dialami perempuan pada keluarga miskin di kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan di Desa Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Lokasi ini dipilih karena Kecamatan Wonokusumo merupakan salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Peneliti melakukan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi literatur dalam proses pengumpulan data. Penelitian ini menggunakan teori analisis gender yang dikemukakan oleh Caroline Moser sebagai pisau analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ketimpangan gender pada keluarga perempuan miskin di kota Surabaya. Kontribusi dan kehadiran perempuan dalam keluarga miskin di Surabaya kurang diakui, tetapi perempuanlah yang harus menanggung beban produksi, reproduksi, dan pengelolaan masyarakat. Perempuan dalam keluarga miskin di Surabaya mengalami triple burden, dan mengalami bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender lainnya, termasuk subordinasi, marginalisasi, kekerasan, dan stereotip negatif

    70

    full texts

    83

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇