Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Not a member yet
    195 research outputs found

    Response of Landuse Change on Hydrological Characteristics of Way Betung Watershed - Lampung

    Get PDF
    Perubahan penggunaan lahan akibat peningkatan jumlah penduduk dari 114.973 pada tahun 2007 menjadi 134.792 pada tahun 2012 (meningkat 14,70%) berpengaruh terhadap karakteristik hidrologi DAS Way Betung. Model hidrologi SWAT (Soil and Water Assesment Tools) dapat memprediksi karakteristik hidrologi DAS yang dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan. Tujuan penelitian adalah: 1) mengkaji pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap karakteristik hidrologi DAS Way Betung; 2) menyusun rekomendasi penggunaan lahan terbaik di DAS Way Betung. Aplikasi model SWAT digunakan untuk mensimulasi perubahan penggunaan lahan DAS Way Betung. Pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap karakteristik hidrologi berupa total air sungai pada tahun 2001, 2006, dan 2010 masing-masing sebesar 874,66 mm, 1.047,70 mm, dan 774,04 mm. Nilai koefisien aliran permukaan (C) di tiga tahun masing-masing sebesar 0,16, 0,31, dan 0,23, sedangkan nilai koefisien regim sungai (KRS) berturut-turut sebesar 30,65, 66,25, dan 53,57. Penerapan agroteknologi pada lahan pertanian dan pengembalian fungsi kawasan hutan (skenario 4) memberikan respons terbaik terhadap karakteristik hidrologi berupa total air sungai sebesar 709,69 mm dengan C sebesar 0,14, sedangkan nilai koefisien regim sungai (KRS) sebesar 34,66

    Sebaran Spasial Tumbuhan Penghasil Minyak Kayu Putih di Taman Nasional Wasur

    Get PDF
    Pemanfaatan jenis tanaman penghasil minyak kayu putih di Taman Nasional(TN) Wasur perludidukung data dan informasi yang akurat. Hal ini menjadi penting mengingat eksploitasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan terganggunya fungsi kawasantamannasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran spasial tigajenis tanaman penghasil kayu putih, yaitu jenis Asteromyrtus symphyocarpa, Melaleuca cajuputidan Melaleuca viridiflorayang ada di kawasan TN Wasur. Secara umum sebaran tigajenis tanaman penghasil kayu putih sebagian besar berada pada wilayah Yanggandur.Pusat sebaran ketiga jenis kayu putih ini berada di sekitar Kampung/Desa Yanggandur, Mbembi, Wasur dan Sota.Sebaran ketiga jenis penghasil minyak kayu putih ini sebagian besar terdapat di sekitar rawa, khususnya di Rawa Sermayam, Rawa Buaya dan Rawa Biru. Luas habitat ketiga jenis penghasil kayu putih adalah 103.011,75 ha. A. symphyocarpa merupakan jenis yang mendominasi Taman Nasional Wasur yaitu 8,30% dari luas taman nasional, diikuti oleh jenis M. cajuputi seluas 8,27% dan M. viridiflora seluas 7,03%. Jenis A. symphyocarpaumumnya dominan tumbuh pada jenis tanah Kambisol, sedangkan M. cajuputi dan M. viridiflora tumbuh dominan pada jenis tanah Kambisol dan Gleysol

    Perbedaan sifat pemesinan kayu timo (Timonius sericeus (Desf) K. Schum.) dan kabesak (Acacia leucophloea (Roxb.) Willd.) dari Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Sifat pemesinan merupakan salah satu parameter untuk menentukan kualitas kayu. Pengujian terhadap sifat pemesinan kayu penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kemudahan pengerjaannya sebagai bahan baku industri mebel/furniture, kayu kontruksi maupun produk-produk kayu lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat pemesinan kayu timo (Timonius sericeus (Desf) K. Schum.) dan kabesak (Acacia leucophloea (Roxb.) Willd.) yang berasal dari Desa Reknamo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pengujian dilakukan menurut metode ASTM D1666. Adapun sifat-sifat pemesinan yang diuji meliputi: pembentukan, penyerutan, pengampelasan, pengeboran dan pembubutan. Pengamatan terhadap mutu hasil pemesinan dilakukan secara visual dengan menghitung persentase cacat yang timbul pada permukaan contoh uji setelah proses pemesinan, kemudian diklasifikasikan kualitasnya ke dalam lima kelas mutu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu timo dan kabesak mempunyai sifat pemesinan yang sangat baik, termasuk kelas I. Adapun perbedaan yang signifikan antara kedua kayu tersebut adalah pada sifat pengampelasan, dimana rata-rata bebas cacat kayu timo 85% sedangkan kabesak 84,5%. Kedua kayu tersebut cocok digunakan sebagai bahan baku produk mebel dan moulding

    Model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat: Studi di Desa Ranggang, Kalimantan Selatan

    Get PDF
    Kapasitas petani merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan praktek-praktek pengelolaan hutan rakyat. Akan tetapi, tingkat kapasitas petani di beberapa daerah masih rendah sehingga berpotensi menghambat keberhasilan praktek pengelolaan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat dan merumuskan model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang, Kalimantan Selatan. Data dianalisis menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan bantuan program SmartPls 2.0 M3. Hasil penelitian menunjukkan (1) tingkat pengalaman belajar petani berpengaruh langsung terhadap tingkat kapasitas petani sedangkan dukungan karakteristik petani, dukungan pihak luar, dukungan lingkungan sosial budaya, peran penyuluh, dan ketersediaan informasi berpengaruh tidak langsung terhadap tingkat kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang dan (2) model peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Desa Ranggang dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengalaman belajar petani hutan rakyat melalui pendidikan, pelatihan dan penyuluhan secara intensif, terjadwal, dan berkelanjutan dengan dukungan seluruh stakeholder terkait

    Menuju pengelolaan kolaborasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Provinsi Sulawesi Selatan

    Get PDF
    Salah satu misi Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) adalah mengembangkan kelembagaan dan kemitraan/kolaborasi dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Untuk mengembangkan pengelolaan kolaborasi TN Babul, maka aktivitas-aktivitas Balai TN Babul sudah seharusnya mengarah kepada perwujudan misi pengelolaan kolaborasi sejak misi tersebut ditetapkan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai fondasi pengelolaan kolaborasi TN Babul yang telah terbangun dalam mewujudkan misi tersebut di atas. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan wawancara dengan sejumlah informan kunci seperti aparat desa dan kecamatan, tokoh masyarakat, aparat instansi teknis terkait, dan staf dosen Universitas Hasanuddin. Data dianalisis dengan menggunakan model deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fondasi pengelolaan kolaborasi TN Babul (jaringan kerja, koordinasi, dan kerjasama dengan stakeholder lainnya) belum terbangun dengan baik. Kondisi ini akan mempengaruhi keberhasilan pencapaian misi pengelolaan kolaborasi yang telah ditetapkan sebelumnya

    Altitudinal gradient affects on trees and stand attributes in Mount Ciremai National Park, West Java, Indonesia

    Get PDF
    Understanding the effect of altitude on trees and stand attributes of tropical forests is crucial for the development of effective management and conservation strategies. However, study on this issue in Mount Ciremai National Park is still lacking. A total of 136 plots were set on the eastern slope of Mount Ciremai in Mount Ciremai National Park and investigated in six different altitudes: 500 m a.s.l., 840 m a.s.l., 1,300 m a.s.l., 1,400 m a.s.l., 1,780 m a.s.l., and 2,530 m a.s.l. The objective of this study was to analyze the effect of altitude to trees and stand attributes i.e. species and family richness, tree density, basal area, and tree biomass. The changes on trees and stand attributes to altitudinal gradient were analyzed using regression analysis. The result showed that tree species number, family number, tree basal area, and tree biomass significantly declined with increasing altitude, meanwhile tree density significantly increased with increasing altitude. These findings indicate a distinct effect of altitude on tree and stand attributes in Mount Ciremai National Park

    Local perspectives on tenure rights and conflict in FMU Rinjani Barat, West Nusa Tenggara Province

    Get PDF
    Local perspectives on tenurial rights and conflict needs to be known in overcoming forest tenurial conflict thoroughly. Aiming at knowing this local perspective, study was conducted in FMU Rinjani Barat in 2013 at the villages of Senaru, Santong and Rempek, North Lombok District. Research activities included literatures review, and interview. Data were analyzed using CDA and multiple linier regression. Results indicated that there is need for rearrangement of forest rule and the propriety of the rule, improving forest management, and accommodation to various interests on forest land as well as resources. In high forest destruction condition, forest tenurial conflict resolution should be done in the context of sustainable management which was accompanied by an increase in communication, cooperation, alignment, and mentoring to community. Related to these efforts, law enforcement is needed for improving sustainability of management, and avoiding irregularities in implementation of forest management

    Sortasi Benih Dengan Ayakan Untuk Meningkatkan Viabilitas Benih Eucalyptus pellita f. Mull

    Get PDF
    Benih Eucalyptus pellita mempunyai ukuran yang sangat kecil, sehingga diperlukan teknik sortasi benih dengan menggunakan ayakan untuk meningkatkan mutu fisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan ukuran ayakan yang sesuai untuk sortasi benih E. pellita sehingga dapat meningkatkan viabilitasnya. Benih E. pellita yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari kebun benih semai (KBS) yang terdapat di Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Riau. Sortasi benih dilakukan dengan menggunakan beberapa ukuran ayakan, yaitu ukuran 200 μm, 400 μm, dan 600 μm. Parameter yang diamati adalah kemurnian, berat 1000 butir benih dan daya berkecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran ayakan 600 μm merupakan ukuran ayakan yang sesuai untuk sortasi benih E. pellita, karena dapat menghasilkan berat 1000 butir (0,0362 gram), kemurnian (60,54%) dan daya berkecambah (184 kecambah/0,1 gr) benih E. pellita yang paling tinggi

    The growth success of Alstonia scholaris (L.) R. Br. shoot cuttings from several shoots position and the cut type of cuttings

    Get PDF
    Alstonia scholaris (L) R.Rr. is one of the fast growing species has a wide distribution in Indonesia and good prospect to be developed for forest plantation. This species could be propagated both generative and vegetative method. This study was conducted to identify the effect of shoot position and the cut type of cuttings. The experiment was arranged in Randomized Complete Design in two factors. The fisrt factor was shoot position (P1= < 50 cm, P2=50-100 cm, P3=100-150 cm and P4=150-180 cm above ground) and second was the cut type of cuttings (horizontal, diagonal 45o and “V” types). The result showed that shoot position significantly influenced rooting ability and the growth of cuttings. The best result of shoot cuttings was taken from P3 treatment (100-150 cm above ground) with survival percentage 87.50%, rooting percentage 85.42%, growth of height 4.02 cm, with 10 number of root, length of root 19.08 cm and 4 number of leaf . The cut type of cuttings and interaction between shoot position and type of cuttings were not significantly differences to the growth of shoot cuttings

    Kesesuaian Media Tabur, Sapih dan Naungan pada Semai Lada-Lada (Micromelum minutum Wight & Arn) sebagai Pakan Larva Papilio peranthus untuk Pembinaan Habitat Kupu-Kupu

    Get PDF
    Kupu-kupu merupakan fauna khas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung namun jumlahnya semakin lama semakin menurun. Upaya menjaga keberlangsungan ekosistem hutan terutama spesies kupu-kupu adalah dengan melaksanakan penanaman tumbuhan pakan larva (host plant) kupu-kupu. Salah satunya jenisnya adalah lada-lada (Micromelum minutum). Hal yang terpenting pada penanaman tanaman pakan adalah ketersediaan bibit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui media tabur, sapih dan naungan yang sesuai dengan lada-lada untuk produksi bibit yang optimal. Kegiatan ini dilakukan di persemaian dengan pengamatan pada perlakuan media tabur, media sapih dan naungan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Micromellum minutum dapat berkecambah dengan baik pada media pasir, tanah dan arang sekam padi maupun serbuk gergaji sedangkan media sapih dan naungan terbaik adalah campuran tanah, pupuk kandang dan sekam padi komposisi 1:1:1 dengan intensitas naungan 50%

    188

    full texts

    195

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇