Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain
Not a member yet
545 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penambahan Arang Tempurung Kelapa Terhadap Durabilitas Campuran Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC)
With the rise in the number of vehicles on Indonesian roads, the frequency of loads that occur on road pavements rises, and extreme weather changes can damage the pavement layer, particularly at the level of durability (durability), particularly at the top layer, namely the AC-WC (Asphalt Concrete Wearing Course). As a result, it is required to improve the quality of road surface, one of which is to add additives to asphalt mixtures. Coconut shell waste, which is converted into charcoal, was used as an additive in this study. Because coconut shell waste is readily available in Indonesia, but its utilization is inefficient, this study intends to assess the effect of adding coconut shell charcoal at levels of 0%, 3%, 6%, and 9% on the durability of asphalt mixtures. Furthermore, the test objects at each level of coconut shell charcoal were submerged for 30 minutes, 1 day, 7 days, and 14 days at a temperature of 60˚C. Because coconut shell charcoal is an organic material, it is susceptible to the influence of water, the effect of adding coconut shell charcoal to the AC-WC mixture in terms of the First Durability Index (IDP) and Second Durability Index (IDK) values show a greater loss of strength as the coconut shell charcoal content increases
Studi Transmisi Gelombang Dengan Model Cylinder Concrete (Buis Beton) Breakwater Tenggelam Dengan Permodelan Fisik 2D
One way to prevent damage caused by sea waves is to build a breakwater to reduce wave energy before it reaches the coast. In making the breakwater model the author chose to make a breakwater model with a concrete cylinder because it can be obtained easily. The research data obtained wave height (H), wavelength (L), and wave period (T). From the research data obtained, it can be made a table of incident wave height (H0), transmission wave height (Ht), and wave transmission coefficient (Kt). In this study, 12 models were used, namely 4 breakwater devices with different breakwater widths (lb), and in each breakwater device using 3 heights of still water level clearance or ds (2 cm, 4 cm, and 6 cm). Based on the research, the smallest transmission coefficient value occurs in the longest lb with ds of 2 cm, which is 0.3567 and the largest transmission coefficient occurs in the shortest lb with ds of 6 cm, which is 0.7190. The biggest change in wavelength occurred in the longest lb with ds 2 cm, which was 21.57% and the smallest change occurred in the shortest lb with ds 6 cm, which was 9.23%. The biggest change in wave propagation speed occurred in the longest lb with ds 2 cm, which was 20.14% and the smallest change occurred in the shortest lb with ds 6 cm, which was 5.93%
Pemodelan Hujan-Debit Menggunakan Program Hec-Hms di Subdas Bendung Argoguroh – Bendungn Margatiga
Pemodelan hujan – debit bertujuan untuk perencanaan bidang teknik sipil, dengan kalibrasi hujan – debit menggunakan sofware HEC-HMS, Pemodelan hujan - debit pada penilitian ini yaitu untuk mengetahui debit aliran minimum. kemudian mengkalibrasikan dengan program HEC-HMS 4.5 dan mengetahui besaran debit priode kala ulang hasil program HEC-HMS 4.5. Metode yang digunakan kalibrasi debit minimum dengan program HEC-HMS 4.5 adalah metode kesalahan relatif. Pada penelitan ini untuk mengetahui besaran debit minimum pada penelitian ini data yang di perlukan adalah data hujan minimum, peta subdas dan peta tutupan lahan argoguroh – margatiga. Berdasarkan penelitian ini di peroleh model HEC-HMS 4.5 pada tahun 2014 ialah 14,4 m3/s, tahun 2015 ialah 5,0 m3/s, tahun 2018 ialah 3,7 m3/s dan tahun 2019 ialah 4,1 m3/s. Berdasar kan hasil perhitungan kalibrasi hujan dan debit metode kesalahan relatif yaitu rata – rata kesalahan relatif adalah 59, 65 %. Maka dapat di simpulkan bahwa kesalahan dalam pemodelan memiliki kesalahan kategori sedang, Selanjutnya hasil debit priode kala ulang dua tahun yaitu 1,7 m3/s kala ulang lima tahun yaitu 20,1 m3/s, kala ulang 10 tahun yaitu 51,8 m3/s, kala ulang 25 tahun yaitu 88,9 m3/s, kala ulang 50 tahun yaitu 174,5 m3/s, kala ulang 100 tahun yaitu 249,8 m3/s, kala ulang 200 tahun yaitu 780,2 m3/s, dan kala ulang 1000 tahun yaitu 927, 1 m3/s
Evaluasi Sistem Transit Oriented Development Pada Stasiun MRT Lebak Bulus
Hingga tahun 2020, Badan Pusat Statistik mencatat jumlah penduduk di DKI Jakarta mencapai10,56 juta jiwa. Pertumbuhan masyarakat terus meningkat dan memengaruhi perkembangandaerah di sekitar DKI Jakarta, mengakibatkan bertambahnya jarak dan waktu tempuh dari tempattinggal ke pusat kegiatan. Fenomena ini mendorong penggunaan kendaraan pribadi yangmemperburuk kondisi lalu lintas di DKI Jakarta. Untuk mendukung mobilitas, Pemerintah ProvinsiDKI Jakarta dan PT MRT Jakarta bekerjasama merancang Urban Design Guide Lines (UDGL)untuk sistem angkutan umum yaitu Mass Rapid Transit (MRT) dengan konsep kawasan TransitOriented Development (TOD). Kini 13 stasiun MRT terbentang sepanjang 16 km di DKI Jakartadengan penerapan konsep TOD yang berbeda sesuai karakteristik dan kebutuhan tiap wilayah.Stasiun MRT Lebak Bulus menjadi operator utama kawasan TOD memiliki konsep “Gerbang SuarJakarta” dengan visi meningkatkan jumlah ruang publik, dan mengintegrasi area pengembangandengan fasilitas transit yang ditujukan untuk masyarakat DKI Jakarta dan Tangerang Selatan.Setelah 2 (dua) tahun beroperasi, evaluasi kelayakan fasilitas dan fungsi pada kawasanMRT Lebak Bulus perlu dilakukan berdasarkan kebijakan dan indikator yang telah ditetapkan olehPemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta
Pengaruh Penggunaan Fly Ash Sebgai Bahan Pengganti Sejumlah Semen dan Bahan Tambahan Terhadap Kuat Tekan pada Self Compacting Concrete (SCC)
Self Compacting Concrete (SCC) is an innovation of concrete which has an ability to flow on its own to fill the empty voids between reinforcement and formwork without support of compaction equipment to obtain its optimum compaction. In this research, concrete cylinder with dimension of 15 cm for diameter and 30 cm for height were used as a specimen and mixed with fly ash type C as cement partial substitute material and additional substance by variation of 0%, 3%, 6%, 9%, and 12% with water cement ratio of 0.41. Slump flow test was perform to identify concrete flowability and workability followed by concrete compression test to identify compressive strength which was conducted at the age of 35 days and 56 days. Due to the fact that percentage variation of fly ash increment, the value of slump flow test was experiencing degradation whereas the compressive strength was increased. Nonetheless, the optimum fly ash application appeared when fly ash was applied as a cement partial substitute at variation of 3%, which provide concrete compressive strength in the amount of 35.98 MPa (35 days) and 33.68 MPa (56 days), and the value of concrete density were 2313.21 kg/m3 and 2279.66 kg/m3 , where the standard of slump flow test and T50 values had accomplished
Desain Peningkatan Tebal Lapis Tambah (Overlay) Jalan Menggunakan Pendekatan Simplified Pada Jalan Tegineneng – Sp. Tanjung Karang
Salah satu infrastruktur yang berperan penting dalam berkembangnya suatu daerah adalah infrastruktur jalan. Kondisi kerusakan dini pada jalan raya terutama disebabkan oleh muatan berlebihan kendaraan berat (overloaded), ketidaksesuaian standar mutu lapisan perkerasan jalan untuk lalu lintas berat, kekeliruan dalam pedoman penentuan tebal lapisan perkerasan jalan, serta kurang baiknya sistem drainase jalan. Rekayasa Lapangan merupakan bagian penting dari kegiatan proyek untuk menuju penanganan jalan secara optimal dari sisi mutu, biaya dan waktu. Kebijakan diperkenalkannya simplified design dalam perencanaan jalan membuat sebagian besar perencanaan teknis jalan nasional dilakukan dengan menggunakan prinsip simplified design. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung tebal peningkatan lapis tambahan (overlay), dan mengetahui kebutuhan biaya rehabilitasi dengan menggunakan pendekatan simplified pada ruas jalan tegineneng – sp. tanjung karang. Hasil dari penelitian ini yang menggunakan pendekatan simplified didapat perencanaan tebal lapis tambah (overlay) pada STA 13+449 - 15+849 sebesar 18 cm, STA 25+188 – 26+488 sebesar 18 cm dan STA 31+650 – 32+450 sebesar 16 cm untuk ruas jalan tegineneng – sp. tanjung karang. Dari hasil data yang didapatkan yaitu tebal lapis tambah (overlay) biaya rehabilitasi dengan pendekatan simplified untuk ruas jalan tegineneng – sp. tanjung karang sebesar Rp 52.253.768.426,00,-. Kata kunci : pendekatan simplified, tebal lapis tambah (overlay), rencana anggaran biaya, rehabilitasi
Analisis Korelasi Data Curah Hujan BMKG dengan TRMM (Studi Kasus Stasiun BMKG di Sumatera Utara)
Pengukuran curah hujan di Indonesia dilakukan oleh beberapa instansi, diantaranya adalah Badan Meteorologi dan Geofiska (BMKG) dan The Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) NASA. Keduanya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung nilai korelasi data curah hujan antara TRMM dan BMKG dengan mencari persamaan hubungan antar data dan menganalisis data curah hujannya. Data yang digunakan merupakan curah hujan harian dari tahun 1998-2014. Data dianalisis dalam bentuk data 7 harian, bulanan, dan tahunan. Berdasarkan hasil analisis didapatkan jika data curah hujan yang diukur oleh TRMM memiliki kesamaan pola distribusi temporal curah hujan dengan yang diukur oleh BMKG. Nilai korelasi antara data TRMM dan data BMKG menunjukan hasil yang lebih baik jika menggunakan data bulanan, dimana nilai korelasi dari data bulanan 4 stasiun yang dihitung yang terbesar adalah 0,7992 dan yang terkecil adalah 0,5283
Studi Analisis Pemadatan Tanah Modified Proctor untuk Tanah Dasar pada Konstruksi Jalan
Dalam pembangunan infrastruktur jalan, salah satu hal yang harus di perhatikan adalah keadaan tanah pada lokasi konstruksi. Daya dukung tanah dasar pada konstruksi sebuah jalan merupakan salah satu faktor utama yang sangat berperan dalam menentukan kestabilan (kekuatan) dari kostruksi jalan tersebut. Tanah yang dipadatkan umumnya akan stabil dan mampu memberikan kuat geser yang cukup.Penelitian ini menggunakan tanah berbutir halus jenis lanau yang di ambil dari Desa Marga Kaya, Lampung Selatan. Metode yang digunakan yaitu dengan cara pengujian CBR Laboratorium dan pemadatan tanah modified proctor untuk mencari perbandingan menggunakan metode tumbukan dan alat modifikasi. Untuk beban yang digunakan pada pengujian CBR alat modifikasi adalah 5 Mpa dan 10 Mpa. Dalam pemadatan tanah pada alat modifikasi adalah 5 Mpa, 10 MPa, 15 Mpa.Pada uji CBR dengan metode tumbukan didapat 9,6% dan berat volume kering optimum sebesar 1,6850 gr/cm3. Pemadatan tanah dengan metode tumbukan didapat kadar air optimum yaitu 15,2% dan nilai berat volume kering sebesar 1,78 gr/cm3. Pada metode tekanan dapat disimpulkan bahwa semakin besar tekanan maka semakim besar nilai kadar air dan berat volume keringnya. Kata kunci : Pemadatan Tanah, CBR, Metode Tekan
Stabilitas Campuran Aspal Berbahan Dasar Reclaimed Asphalt Pavement (RAP)
Metode penanganan kerusakan perkerasan jalan dapat dilakukan dengan prinsip greenroads, yaitu menggunakan material yang didaur ulang (recycle) yang bisa didapat dari hasil pengerukan atau pembongkaran lapis perkerasan jalan yang telah mengalami kerusakan atau RAP (Reclaimed Asphalt Pavement). Namun perlu dilakukan pengujian kembali untuk meninjau parameter marshall pada campuran aspal berbahan dasar RAP, mengingat material tersebut merupakan bahan daur ulang yang telah mengalami penurunan kekuatan. Hasil penelitian ini diperoleh nilai IKSbenda uji campuran AC-WC dengan persentase RAP 25%, 50%, 75% menggunakan KAO berturut-turut 5,8%, 5,6%, dan 5,4% sebesar 96,63%, 91,82%, dan 86, 27%. hal ini menunjukkan nilai IKS pada campuran RAP 25% dan 50% memenuhi persyaratan yang disyaratkan Bina Marga yaitu sebesar 90%, sedangkan RAP 75% tidak memenuhi standar
Evaluation of Stucture Performance the Building a Regional Police Headquarters of Lampung using Direct Displacement Based Design Method of Base Shear Forces
Direct Displacement Based Design (DDBD) is a new method in computing the loading of earthquakes resistant building structures with displacement as a performance target, which is considered to be more efficient than the method often used previously, namely the Force Based Design (FBD). The purpose of this research is evaluate the performance of the Lampung Regional Police Headquarters building based on the ATC-40 and FEMA 440, where the dimensions of the structure used from shop drawings and can be change if the dimensions not meet requirements. The loads used are gravity loads and base shear force designed using DDBD, where the design performance target is life safety. In the evaluation process of this research, there is one type of main beam that must be changes in dimensions, and the result of structure performance evaluation is immediate occupancy, based on ATC-40 and FEMA 440. Keywords: Displacement, DDBD, Evaluation of Performance