Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi
Not a member yet
168 research outputs found
Sort by
Komunikasi Lintas Budaya Dalam Proses Belajar Bahasa Inggris Di Kampung Inggris Pare Kediri
Kampung Inggris merupakan sebuah tempat yang cukup terkenal di Indonesia yang mana terdapat banyak lembaga kursus Bahasa Inggris di dalamnya, Kampung Inggris terletak di Desa Pelem dan Tulungrejo Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Jawa Timur. Menariknya Kampung Inggris selalu di penuhi pendatang dari berbagai daerah dan berbagai kebudayaan, dengan tujuan pada umumnya untuk belajar Bahasa Inggris. Penelitian ini di maksudkan untuk menjelaskan aktivitas komunikasi lintas budaya yang terjadi di antara murid pendatang dan masyarakat Pare. Pada penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi dengan pendekatan penelitian kualitatif, didukung oleh paradigma konstruktivisme. Teori yang di gunakan adalah teori global komunitarianisme. Data diperoleh dari hasil observasi partisipatif yang dilakukan oleh peneliti di lokasi penelitian, dan didukung dengan hasil wawancara secara mendalam. Kemudian hasil data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis tematik etnografi komunikasi. Hasil penelitian yang diperoleh, yaitu situasi komunikatif pada komunikasi lintas budaya di Kampung Inggris Kabupaten Kediri menciptakan situasi komunikatif yang kondusif, kooperatif, keramahan, keakraban, dan perilaku saling menghormati kesetaraan antara satu sama lain. Peristiwa komunikatif dalam aktivitas komunikasi lintas budaya di Kampung Inggris berupa interaksi sosial. Sedangkan tindak komunikatifnya terdiri atas transaksi dan himbauan dalam dimensi sosial budaya masyarakat Pare yang berkebudaan Jawa. Ketiga unsur hasil penelitian yang terdiri dari situasi komunikatif, peristiwa komunikatif, dan tindak komunikatif menjadi kunci dalam mendeskripsikan komunikasi lintas budaya di Kampung Inggris Kabupaten Kediri sebagai komunikasi lintas budaya yang berjalan efektif.
Kata Kunci : Etnografi Komunikasi, Kampung Inggris, Komunikasi Lintas Buday
MEMBANGUN BRAND AWARENESS MENGGUNAKAN STRATEGI CYBER PR PADA PERUSAHAAN START-UP DI INDONESIA
Perkembangan teknologi pada era globalisasi ini memberikan dampak yang sangat besar pada berbagai aspek, salah satunya adalah berkembangnya perusahaan rintisan (start-up) di Indonesia. Salah satu perusahaan perintis yang sedang berkembang di Indonesia adalah Jendela360, yang bergerak di bidang penyewaan apartemen yang berlokasi di Jakarta. Meskipun telah hadir selama hampir 2 tahun, Jendela360 masih belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Hasil dari pra penelitian membuktikan bahwa brand awareness masyarakat terhadap Jendela360 masih sangat rendah.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi cyber PR yang digunakan oleh Jendela360 untuk membangun Brand Awareness karena aktivitas dari perusahaan start up banyak dilakukan di dunia maya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data berupa wawancara.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa strategi cyber PR yang dilakukan oleh Jendela360 sebagai perusahaan start up dalam membangun brand awarenessnya adalah dengan meningkatkan SEO melalui tulisan, release dan postingan di media sosial.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Jendela360 telah melakukan strategi humas untuk meningkatkan brand awarenessnya secara baik, mulai dari definisi masalah, perencanaan program, aksi dan komunikasi, serta melakukan evaluasi yang sesuai dengan strategi humas. lebih meningkatkan lagi program atau kegiatan yang memang bertujuan untuk meningkatkan brand awareness dari Jendela360
Kampanye KOMNAS Perempuan Pada Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
The 16 Days Against Women Violence Campaign is a campaign to encourage liberation struggles against women throughout the world. As a national human right in Indonesia. This campaign has been carried out since 2003 and is routinely carried out every period with a 16-day campaign set in November. Problems in the 16-Day Campaign Against Violence Against Women, this campaign has been running for 15 years, but this is not directly proportional to the protected numbers against women has increased over the past three years. The main theory in this research is campaign theory using Nowak & Warneryd's campaign model. The method used is a descriptive qualitative research method that looks for facts with the right interpretation. Descriptive research on problems in society, views, and processes - ongoing parts and effects of phenomena. Komnas Perempuan is still too broad in setting its campaign targets, as well as a lot of messages to be conveyed. the extent of challenging the campaign audience makes KOMNAS Perempuan against barriers ranging from language and culture, there is a GAP about knowledge of challenges, to obstacles in choosing what campaign techniques to use. In the 16 Days Anti Violence against Women campaign, KOMNAS Perempuan chose to generalize the message to be conveyed, accepting their own challenges, which made the objectives of the 16 Days Anti Violence Against Women Campaign unsuccessful.
Keywords: Campaign, KOMNAS Perempuan, Violenc
Intensitas Warga High Reputation Dalam Melaporkan Informasi Keluhan Aplikasi Qlue : Studi Gamefikasi Dalam Aplikasi Smartcity
Pada saat ini saluran komunikasI berupa aplikasi menjadi platform yang digunakan oleh masyarakat di DKI Jakarta. Oleh karena itu Pemerintah Daerah DKI Jakarta menyediakan platform smartcity sebagai sarana keterlibatan warga dalam menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah. Dengan adanya saluran ini maka terjadi komunikasi dari warga ke pemerintah. Peneliti mencoba menganalisis seberapa antusias warga dalam melaporkan permasalahan kota dengan mengukur itensitas warga. Pengukuran itensitas menggunakan metodelogi data science yaitu dengan menggunakan big data untuk melihat prilaku manusia. Peneliti menemukan bahwa gamifikasi yang berbentuk permainan pelaporan dapat meningkatkan intensitas pelaporan warga mengenai keluhan kepada pemerintah
Teoritisasi Komunikasi Dalam Tradisi Sosiokultural
ABSTRACT
The Last Samurai is a Hollywood production film made by Edward Zwick (2003) which won 4 (four) Oscars for several categories at the 2004 Academy Award. In this film, we can see Katsumoto and Algreen at first debating or disagreeing about ways the customs. Socioculturally, there are keywords that can be seen in the film's story, namely "culture" and "interaction". First, that there are different cultural settings from the two figures. They think in terms of two different structural meanings. Sociocultural theories provide explanations in many communication contexts. In general, this tradition explains the following ideas (Littlejhon and Foss, 2005: 45). First, our way of understanding, meaning, norms, roles and rules work interactively in communication. Sociocultural traditions authorize communication in a concept of "reproduction of social order". In this case the interaction as a discussion of communication events becomes an activity that involves the symbols that are based on the meaning, interpretation. And in interaction there is also a convention, an agreement based on the division of meaning of symbols between community members that determines the internal factors (self-concept, or identity, etc.) of each group member, so that the order or rules change as the actuality of the communication itself .
Keywords: Sociocultural; Social Order; The Last Samura
ANALISIS TEKSTUAL GAYA BAHASA IKLAN HARBOLNAS VERSI SAKIT JIWA TOKO ONLINE BUKALAPAK.COM DI INTERNET
ABSTRACT
This paper aims to reveal the meaning of the style of the National Online Shopping Day advertising language or abbreviated as HARBOLNAS in 2016 BukaLapak.com online version of the mental illness with, textual analysis techniques from the ad text using the study of textual and contextual cohesion. The approach utilizes the concept of language style that focuses on grammatical aspects, words or groups of words that become references, substitutions, and ellipsis. It is seen that, the advertisement uses aspects of grammatical aspects in terms of references, substitutions, and ellipsis in the text that it uses to listen to the attention of its readers or prospective consumers. The discourse of the ad language is intentionally used even if it is not in accordance with the rules of language, this is more due to the efforts of the advertiser to provide information briefly and with an impact that can immediately affect the reader. Based on the above conclusions, it is recommended in the production of advertising texts to take advantage of the practice of language that has aesthetic values ​​to attract the interest of readers, the target audience of advertisements or prospective consumers.
Keywords: Advertisements, Language Style, Grammatical Aspects
ABSTRAK
Makalah ini bertujuan untuk mengungkap makna gaya bahasa iklan Hari Belanja Online Nasional atau disingkat HARBOLNAS tahun 2016 toko online BukaLapak.com versi sakit jiwa dengan, teknik analisis tekstual dari teks iklan tersebut dengan memanfaatkan kajian kohesi tekstual dan kontekstual. Pendekatan memanfaatkan konsep gaya bahasa yang memfokuskan pada aspek-aspek gramatikal, kata-kata atau kelompok kata yang menjadi referensi, substitusi, dan ellipsis. Terlihat bahwa, iklan tersebut menggunakan aspek aspek gramatikal dalam hal referensi, substitusi, dan ellipsis dalam teks yang digunakannya untuk mearik perhatian pembacanya atau calon konsumen. Wacana bahasa iklan tersebut sengaja digunakan walaupun tidak sesuai dengan kaidah bahasa, hal ini lebih karena upaya dari pihak pengiklan untuk memberikan informasi secara singkat dan dengan dampak yang segera dapat mempengaruhi pembaca. Berdasarkan simpulan di atas direkomendasikan dalam produksi naskah iklan agar memanfaatkan praktik berbahasa yang memiliki nilai-nilai estetis untuk menarik minat pembaca, khalayak sasaran iklan atau calon konsumen.
Kata Kunci: Iklan, Gaya Bahasa, Aspek Gramatika
Analisis Framing Pemberitaan Kasus Dugaan Penistaan Agama Ustadz Abdul Somad dalam Kompas TV
Komunikasi tidak pernah lepas dari kehidupan manusia sebagai makhluk social. Komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial, yang berguna untuk mengetahui dan memprediksi sikap orang lain, serta mengetahui keberadaan diri sendiri. Pada awalnya, komunikasi hanya bisa dilakukan dengan bertatap muka, namun seiring berkembangnya zaman, komunikasi telah membuat batas ruang jarak dan waktu menjadi kabur. Faktor yang mendukung hal ini yaitu karena keberadaan media massa. Pada akhir Agustus 2019, media massa di gemparkan dengan kasus dugaan penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ustadz Abdul Somad. UAS dilaporkan ke kopilisian daerah NTT oleh Ormas Brigade Meo karena diduga melakukan penistaan terhadap simbol agama yaitu salib. Atas fenomena ini penulis tertarik untuk meneliti pembingkaian berita oleh Kompas TV yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberimbangan berita dalam Kompas TV mengenai pemberitaan kasus dugaan penistaan agama oleh Ustadz Abdul Somad.Jenis penulisan yang kami gunakan adalah penulisan kualitatif dengan metode analisis framing dari model Zhongdang Pan dan Koscki. Penulisan ini menggunakan dua jenis data yakni Data primer yang diperoleh dengan mengumpulkan data ( dokumentasi ) dari beberapa program berita di Kompas TV yang telah diunggah dalam channel youtube resmi Kompas TV yang terkait dengan kasus dugaan penistaan agama UAS pada pemberitaan Agustus 2019. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui buku-buku, artikel, dan data-data internet yang relevan dengan masalah yang di teliti.Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa pembingkaian berita oleh Kompas TV lebih menunjukkan tanda netral karena dalam pemberitaannya seringkali Kompas TV menghadirkan beberapa narasumber dari beberapa pihak dengan agama terkait untuk memberikan pendapat atau solusi mengenai kasus ini. Kompas TV pun cenderung tidak menyudutkan UAS selaku pihak terlapor. Kompas TV dominan menggunakan bahasa yang lebih halus saat menyuguhkan beritanya. Jadi bisa disimpulkan bahwa pemberitaan Kompas TV dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Ustadz Abdul Somad ini tergolong berimbang dan tidak mewakili kepentingan golongan manapun
Perilaku Komunikasi Digital Native dalam Pengungkapan Identitas Keagamaan di Media Sosial Instagram
The development of information technology in the past ten years has influenced communication behavior. Digital natives are a generation who are used to using gadgets in their daily lives since they were small. The emergence of social media applications such as: Facebook, Instagram, WhatsApp and others are accompanied by mobile communication devices. make someone share communication content easily simultaneously with other people both personally and in bulk (broadcast). Their self-disclosure of religious identity is demonstrated through social media applications. This study uses descriptive qualitative method that will observe the behavior of their cpmmunication for self-disclosure of their religious identity.
Keywords: Communication behavior, religious identity, digital native
Diffusion Innovations of the Ministry of Social Affairs of the Republic of Indonesia in Disseminating Innovation of the E-Warong Program
This research aims to find out and to depict the public relations activities in spreading the information of E-Warong program, as well as to discover the obstacles in running the aforementioned public relations activities. A descriptive-qualitative method is used to depict and to describe the examined objects according to the real facts in the field by using interviewees as the source of data. The data is presented using primary and secondary data through in-depth interview, documentation of activities, references related to the research, and data from the internet. The data analysis procedure used is qualitative data with interactive model from Metthew B. Miles and Michael Huberman. The results show that the public relations activities performed by the public relations team of the Ministry of Social Services in spreading the information include the following steps: 1) planning and decision-making in spreading the information of the E-Warong Program; 2) informing and performing the information spreading of E-Warong Program; 3) evaluating the performed information-spreading activity of E-Warong Program. Less appropriate selection of the communication channel for target audiences can be an obstacle faced during the means of information spreading of the E-Warong Program. In the end, the information spreading activity performed by the Ministry of Social Services ran well enough even though there were some flaws in the execution.
Keywords: Public Relations activities, Spreading the Informatio
Rebranding LPP TVRI Melalui Logo Baru
ABSTRACT
Rebranding process undertaken by LPP TVRI through its creation of new logo has been undisclosed, specifically to millennials. This research aims to perceive the information about the objective, process, and as well to analyze the impact of rebranding process through the new logo. This research utilizes a main concept about rebranding process in accordance to Ahonen, M (2008) which comprises of four stages, namely analyzing, planning, implementation, and evaluation. The method used is descriptive qualitative research. The technique used is intrinsic study case supported by data collection technique by conducting an in-depth interview, observation, and literature study. One key interviewee and four other interviewees are chosen using purposive technique. The result of this research shows that the objective of rebranding of LPP TVRI by creating a new logo is to mobilize the public perception to a positive image of corporate identity. The new logo-rebranding attempt is consisted of four stages, first is analyzing to know the state of affair of the corporate. Second, it takes planning which ensues two strategies. They are re-positioning, which it used to be merely a single platform and turns out it becomes a media that unites the multiplatform, and re-design of TVRI logo with the assistance of DMID brand consultant service. Third, implementation that can be evidenced through a show called New Logo Launching TVRI. Fourth, it ends with evaluation which has not done completely yet. The aftermath of new logo-rebranding process is to create a betterment of TVRI image, escalates the rating and numbers of audience, performance, and public perceptions. The conclusion of this research is the implementation attempted by TVRI by launching a brand-new logo is inefficacious, it hasn’t reached to all levels of population. The suggestion offered by this research is TVRI to directly involve millennials as they are the main targets of the corporate brand acknowledgement. Other than that, corporate is advised to execute a publication strategy through social media with impressive and consistent contents.
Keywords: Rebranding; Image; Logo