Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
379 research outputs found
Sort by
Pengalaman Spiritualitas pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis
Spiritualitas merupakan aspek yang sangat penting bagi pasien yang menderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi spiritualitas pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi deskriptif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang yang berasal dari unit hemodialisis RSUP H.Adam Malik dan RSU dr. Pirngadi Medan dengan kriteria partisipan berusia lebih dari 18 tahun, menjalani hemodialisis lebih dari 3 bulan, kesadaran compos mentis dan reguler menjalani hemodialisa 2 kali seminggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan Colaizzi. Dari hasil analisis penelitian di temukan 4 tema yang mencerminkan fenomena yang diteliti. Tema-tema tersebut antara lain adalah mendekatkan diri kepada Tuhan, dukungan dari orang terdekat, mempunyai harapan besar untuk sembuh, dan menerima dengan ikhlas penyakit yang diderita. Dengan demikian disarankan kepada perawat dialisis untuk membuat program yang mendukung kegiatan spiritualitas secara berkelompok sesuai dengan kepercayaan masing-masing pasien.Kata kunci: Hemodialisis, penyakit ginjal kronik, spiritualitas.Spiritual Experience of Chronic Renal Failure Patient Undergoing HemodialysisAbstractSpirituality is a very important issue in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. The purpose of this qualitative study was to explore the spirituality experience of patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. The design of this study is phenomenology. Data were collected through in-depth interviews that conducted with 10 participants selected from renal unit of RSUP. H. Adam Malik and RSUD dr. Pirngadi Medan hospital based on criteria including age more than 18 years old, undergoing hemodialysis more than 3 months, composmentis and reguler hemodialysis 2 times a week. The collected data were analyzed using Colaizzi apporach to analysis. The results of this study showed four including being closer to God, the support of the people nearby, had great hopes for recovery, and willingly accept the illness. This study suggested the dialysis nurses to create program to support spiritual activity.Key words: Chronic kidney disease, hemodialysis, spirituality
Faktor-faktor yang Melatarbelakangi Perilaku Adiksi Bermain Game Onlinepada Anak Usia Sekolah
Adiksi bermain game onlinemerupakan aktivitas bermain yang dilakukan secara berlebihan dan cenderung mengganggu kehidupan sehari-hari. Kecamatan Jatinangor, Sumedang memiliki angka adiksi bermain game onlineyang tinggi pada sebagian besar anak usia sekolah yang bermain di warung internet penyedia game online. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku adiksi bermain game online pada anak usia sekolah. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan teknik konsekutif dengan 52 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan 51 butir pertanyaan. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan faktor motivasi melatarbelakangi perilaku adiksi pada 56%, sedangkan faktor atraksi penghargaan sebanyak 60%. Oleh karena itu, diperlukan penanganan baik dalam mengatasi maupun mencegah adiksi bermain game onlineoleh keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan terkait.Kata kunci:Adiksi, anak, game online, usia sekolah AbstractOnline games addiction is an activity to excess playing online games tend to give a negative influence to daily life. District Jatinangor, Sumedang has a high rates in addiction of online games among school-age children. The purpose of this study was to identify the determinant factors that influence the behavior addiction toward the game onlie among children in the school age. This study design used descriptive method. The sample are 52 respondent. It’s were taken by consecutive sampling. The data collection used a questionnaire of 51 questions. The data was analysed by distributive frequencies. The results showed that 56% and 60% addiction behavior influenced by motivational factor and attraction factors. Based on this finding, it is recommended to treated and prevent games addiction behavior in children based on collaboration between family, school and health provider.Key words:Addiction, children, game online, school ag
Strategi Regulasi Emosi Kognitif dan Pola Asuh Orangtua pada Anak yang Menjalani Kemoterapi
Penelitian sebelumnya telah melihat kaitan antara regulasi emosi pada anak yang sehat dengan pola asuh orangtuanya, namun belum jelas gambaran tentang regulasi emosi pada anak yang sakit kronis dan pola asuh yang diterimanya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran strategi regulasi emosi kognitif yang digunakan oleh anak berusia 9-11 tahun dengan kanker yang menjalani kemoterapi dan perbedaan individunya yang terdiri dari pola asuh yang didapat dari orangtuanya serta jenis kelamin anak.Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Teknik sampling menggunakan accidental samplingdan didapatkan sampel sebanyak 42 orang (21 anak dan 21 orangtua). Instrumen menggunakan CERQ-k (Cognitive Emotion Regulation Questionnaire-kids) dan PAQ-R (Parental Authority Questionnaire-revised). Analisis data menggunakan skor mean. Hasil menunjukkan bahwa strategi regulasi emosi yang sering digunakan oleh anak adalah planning, rumination, dan putting into perspective. Perbandingan jenis kelamin sampel berimbang. Kemudian pola asuh orangtua yang sering dilakukan menunjukkan secara berturut-turut adalah tipe autoritatif, autoritarian, dan permisif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa regulasi emosi yang dilakukan oleh anak dengan kanker yang melakukan kemoterapi cukup adaptif, sedangkan pola asuh orangtua yang diberikan masih kurang efektif.Kata kunci: Anak, kanker, pola asuh, regulasi emosi The previous study was inquired the correlation between emotion regulations in healthy children and the parenting process. On the other hand, the emotion regulations in children with chronic diseases were little known. The aim of this quantitative descriptive study was to understand the strategic regulation of cognitive emotion that was used by children aged 9-11 years with chemotherapy, and to explore the individual parenting process based on genders. Samples were chosen using the accidental sampling technique. The samples were 21 children and 21 parents. Data were collected using Cognitive Emotion Regulation Questionnaire for kids (CERQ-k) and Parental Authority Questionnaire-revised (PAQ-R). Mean score were conducted to analyses data. Results showed that ‘planning’ was the most strategic used by children, followed by ‘rumination’ and ‘putting into perspective’. The result also described that the number of samples was balance in sex. Parents used authoritative, authoritarian, and permissive approaches in parenting. In conclusion, the emotion regulation of children with chemotherapy was adaptive and the parenting approach was ineffective. Key words:Cancer, children, emotion regulations, parentin
Tingkat Kecemasan Orangtua dengan Anak yang akan Dioperasi
Orangtua dengan anak yang akan dioperasi sering mengalami kecemasan karena sebagian besar orangtua masih berpikir bahwa operasi adalah prosedur invasif yang berisiko tinggi terhadap anak. Kecemasan ini dapat memengaruhi perawatan praoperasi pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan state(sesaat) dan kecemasan trait (bawaan) pada orangtua dengan anak yang akan dioperasi di ruang bedah anak Kemuning lantai 2 RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif dengan sampel 31 responden, menggunakan teknik purposive sampling.Penelitian ini menggunakan kuesioner STAI for adults form Y dan dianalisis dengan distribusi frekuensi. Hasil penelitian gambaran tingkat kecemasan statemenunjukkan bahwa hampir setengah responden (48,38%) mengalami kecemasan berat. Untuk gambaran tingkat kecemasan traitmenunjukkan bahwa sebagian besar (51,61%) responden mengalami kecemasan ringan. Disarankan bagi perawat untuk meningkatkan asuhan keperawatan pada orangtua pasien dengan mengembangkan intervensi kecemasan sebelum operasi seperti melakukan pengkajian dan memberikan dukungan psikologis terhadap orangtua serta pemberian informasi mengenai prosedur operasi yang lebih jelas sehingga dapat mengurangi state anxietypada orangtua.Kata kunci:Operasi, orangtua, state anxiety, tingkat kecemasan, trait anxiety AbstractParents with children who will undergoing surgical procedures frequently experienced anxiety because most parents still thought that surgery is invasive procedures, high risk to children, and anxiety could affect preoperative treatment of children. The purpose of this study was to describe the state and trait’s anxiety levels of parents with children who will undergoing surgical procedures in the pediatric surgery ward, kemuning 2nd floor RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. This study used a descriptive quantitative research methods, with 31 respondents were taken using purposive sampling. This study used STAI for Adults Form Y questionnaire and the data were analyzed by frequency distribution. The research about state anxiety’s level showed that nearly half of the respondents (48.38%) experienced severe anxiety. For trait anxiety’s level showed that the majority (51.61%) of respondents experienced mild anxiety. So it’s suggested the nurses to improve nursing care to parents with develop pre operative anxiety interventions such as conduct psychological assessments, and provide support to parents as well as providing information on surgery procedures more clearly so could reduce parent’s state anxiety.Key words:Surgery, parents, state anxiety, anxiety’s level, trait anxiet
Cervical Cancer Awareness: An Information Dissemination Campaign In Indonesia
This descriptive-correlational study was conducted to determine the level of cervical cancer awareness of 196 participants who were conveniently recruited from selected regions in South Cimahi, Melong, West Java,Indonesia. The survey was conducted on February 2014 for fifteen (15) days using a survey questionnaire for  data  collection.  Descriptive  statistics  such  as  frequency  and  percentage  distribution  were  used  for demographic profile and weighted mean for the assessment of the level of awareness on cervical cancer, and inferential statistics such as Pearson r and chi square for  hypothesis testing. They have moderate awareness on basic information on cervical cancer, foremost are the areas on prevention, anatomy, treatment and common diagnostic examination, but with very little knowledge or partial awareness on the items pertaining to signs and symptoms, etiology and mode of transmission of cervical cancer. The results of chi square and pearson r tests found that the participants’ gender and educational attainment were not significantly correlated with their level of awareness on cervical cancer while, family monthly income was significantly correlated to their level of awareness.  Hence, this study concluded that gender and educational attainment do not necessarily determine a person’s level of awareness or knowledge but family income could contribute to their level of awareness. The study findings formed the basis of designing an information dissemination campaign material on cervical cancer among the residents of South Cimahi, Indonesia. In this regard, an intensive information dissemination campaign  program  on  cervical  cancer  is  recommended  using  the  proposed  campaign  material  designed.Key words: Campaign, cervical cancer, detection, dissemination. Kampanye di Indonesia: Deteksi Dini Kanker Serviks AbstrakPenelitian deskriptif-korelasional ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesadaran 196 peserta yang nyaman direkrut dari daerah tertentu di Cimahi Selatan, Melong, Jawa Barat, Indonesia. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Statistik deskriptif digunakan untuk profil demografis dan rata-rata untuk penilaian tingkat kesadaran mengenai kanker serviks, dan statistik inferensi seperti Pearson r dan Chi square untuk pengujian hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki kesadaran moderat pada informasi dasar tentang kanker serviks, terutama adalah daerah tentang pencegahan, anatomi, pengobatan dan pemeriksaan diagnostik umum, tetapi dengan sedikit pengetahuan atau kesadaran parsial pada item yang berkaitan dengan tanda- tanda dan gejala, etiologi dan cara penularan kanker serviks. Kemudian ditunjukkan bahwa gender dan pendidikan  pencapaian  peserta  tidak  signifikan berkorelasi  dengan  tingkat  kesadaran  pada  saat  kanker serviks, pendapatan bulanan keluarga secara signifikan berhubungan dengan tingkat kesadaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gender dan pencapaian pendidikan tidak selalu menentukan tingkat kesadaran seseorang atau pengetahuan tetapi pendapatan keluarga dapat memberikan kontribusi untuk tingkat kesadaran.Kata kunci: Deteksi, disseminasi, kampanye, kanker serviks
Larutan Pembersih PeriuretraSebelum Pemasangan Kateter Urin Menetap: Literature Review
Pemasangan kateter urin menetap pada pasien baru di rumah sakit adalah 23,2% setiap bulan. Delapan puluh persen kejadian infeksi saluran kemih disebabkan oleh kateter urin menetap yang tidak aseptik. Kematian akibat infeksi ini adalah 32% dari seluruh kasus infeksi nosokomial. Penggunaan larutan pembersih periuretra sebelum pemasangan kateter urin menetap dalam mengurangi infeksi saluran kemih kurang memadai. Metode yang digunakan adalah literature review, dengan pencarian pada database CINAHL, proquest, dan google scholaryang dipublikasikan dari tahun 1995 sampai dengan 2013. Kata kunci yang digunakan meliputi catheterization, indwelling urinary catheter, bacteriuria, meatal atau periurethral cleaning, urinary tract infection, dan nursing. Dua puluh lima literatur yang berkaitan didapatkan. Larutan yang umum digunakan adalah air kran, air steril, larutan antiseptik, dan salin normal. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kejadian infeksi saluran kemih dengan penggunaan air kran dibandingkan dengan povidone-iodine10% atau chlorhexidine0.1%. Hal yang sama juga ditemui saat pengunaan air steril dibandingkan dengan povidone-iodineatau chlorhexidine gluconate10% atau 0.05%, saat penggunaan air dan sabun, busa pembersih kulit, povidone-iodine10%, dan salin normal. Air steril adalah larutan hipotonik, tidak mahal, dan tidak mengiritasi kulit. Salin normal juga lebih murah dan kurang mengiritasi kulit. Larutan antiseptik cukup mahal, dapat mengiritasi kulit, dan memiliki efek samping alergi atau toksik. Sabun memiliki sedikit kadar antiseptik dan relatif murah. Larutan pembersih periuretra sebelum pemasangan kateter yang dapat digunakan adalah air kran, air steril, larutan antiseptik, salin normal, dan air dan sabun. Diperlukan penelitian selanjutnya tentang penggunaan air steril atau salin normal. Kata kunci:Infeksi saluran kemih, kateter urin menetap, larutan pembersih periuretra AbstractMonthly, 23.2% of new patients in hospital had an indwelling urinary catheter, and 80% of them had urinary tract infections. Data showed that this infection was contributed to 32% of death in nosocomial infection cases. Using the periurethral cleaning solution before the insertion of indwelling catheter to reduce urinary tract infections are still debated. This literature review used some databases such as CINAHL, proquest and google scholar that published between 1995 and 2013. Key words included catheterization, indwelling urinary catheter, bacteriuria, meatal or periurethral cleaning, urinary tract infection, and nursing. This study reviewed 25 appropriate literatures. The solution were tap water, sterile water, antiseptic solution, and normal saline. Statistically, there was no differences of incidences of urinary tract infection when tap water solution compared with povidone-iodine or chlorhexidine 0.1% as well the use of sterile water compared with povidone-iodine or chlorhexidine gluconate 10% or 0.05%, water and soap, skin cleansing foam, povidone iodine, and normal saline. Sterile water is an inexpensive hypotonic solution and does not irritate the skin. Normal saline is also less expensive and less irritating to the skin. Antiseptic solution is quite expensive, can irritate the skin, and have an allergic or toxic side effects. Soap has little value as an antiseptic and relatively inexpensive. Tap water, sterile water, antiseptic solution, normal saline, and water and soap are some solutions that can be us as periuretral cleaning solution. Further study related to the usage of steril water or normal saline is needed.Key words: Indwelling urinary catheter, periurethral cleaning solution, urinary tract infectio
Hubungan Self Caredan Motivasi dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung
Kualitas hidup secara umum bersifat subjektif dan bervariasi sesuai dengan persepsi individu terhadap kesehatan dan kemampuan untuk mempertahankannya. Adanya perubahan fisiologis dan kondisi kronis terhadap kesehatan sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang khususnya pasien gagal jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan self caredan motivasi terhadap kualitas hidup pasien gagal jantung. Penelitian ini menggunakan metode analitis dengan desain studi potong lintang. Jumlah sampel penelitian sebanyak 73 sampel yang diambil secara purposive sampling. Self carediukur dengan self care of heart failure index (SCHFI), motivasi diukur dengan kuesioner yang dimodifikasi, dan kualitas hidup menggunakan minnesota living with heart failure questionnaire (MLHFQ). Uji statistik dilakukan dengan chi squaresehingga dihasilkan nilai p<0.05. Hasil penelitian didapatkan bahwa 41 (56,2%) responden memiliki self care yang kurang baik. Sebanyak 42 (57,5%) responden mempunyai motivasi yang rendah dan sebanyak 40 (54,8%) responden memiliki kualitas hidup pasien jantung yang kurang baik. Pada penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara self caredan motivasi terhadap kualitas hidup pasien jantung. Hubungan yang signifikan antara self caredan kualitas hidup (p=0.001;) dan OR=6,000. Hubungan yang signifikan antara motivasi dan kualitas hidup (p=0.009) dan OR=4,056. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa self caredan motivasi berhubungan dengan kualitas hidup pasien jantung. Dapat disarankan untuk pasien gagal jantung untuk lebih memperhatikan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup melalui perawatan diri, dukungan, dan motivasi.Kata kunci:Gagal jantung, kualitas hidup, motivasi, self care AbstractIn general, the quality of life is subjective. It based on individual perceptions related to the ability of individual to keep their body healthy. The changes of physiological and chronical health conditions have influenced to the quality of life especially in heart failure patients. This study aimed to identify the relationship of self-care, motivation, and quality of life in heart failure patients. This study applied a cross sectional design. The samples were 73 subjects recruited by purposive sampling. Self-care was measured by self care of heart failure index (SCHFI), motivation was measured using a questionnaire. Quality o life (QoL) was assessed using minnesota living with heart failure questionnaire (MLHFQ). The data were analyzed using chi square test and set at p<0.05. The findings have shown that 41 (56.2%) of subjects performed a poor self-care, 42 (57.5%) of subjects had low motivation, and 40 (54.8%) of cardiac patient’s quality of life were poor. There were significant relationships among self-care, motivation, and the quality of life of heart failure patients. There were significant relationship between practices of self-care and QoL (p=0,001) and OR=6.00. The relationship between motivation and QoL were significant (p=0.009) and OR=4.056 . This research can be concluded that the self-care and motivation had contribute positively to QoL in heart failure patients. It can be suggested that cardiac patients should pay attention to their health condition and improving QoL through self care, support and motivation.Key words: Heart failure, motivation, quality of life, self car
Mother and Family’s View on Exclusive Breastfeeding in Developing Country
Exclusive breastfeeding is something which has a lot of benefit both for mother and baby. It is recommended by WHO at let for the first six months. Then it also recommended until two years and beyond. In fact, mostly mother only gave their breastmilk to their babies until two months. The method of this study using systematic review-metasynthesize which an extensive of the literature was undertaken. Database searched were: MEDLINE, CINAHL, BioMed Central, Wiley, and EMBASE. Result shown that mother’s view on exclusive breast is an important part in an attempt to promote breastfeeding desire. Even though their view is influenced by her family and surroundings, but finally the decision is on her. This concurs with finding of some researcher who found women who have the experience of breastfeeding, especially within the family, are more likely to choose to breastfeed heir child.Key words:Exclusive breastfeeding, family, mother AbstrakPemberian ASI eksklusif adalah sesuatu yang memiliki manfaat sangat besar baik bagi ihu maupun bayi. Hal ini sangat direkomendasikan oleh WHO minimal sampai enam bulan pertama kelahiran bayi. Kemudian dapat dilanjutkan sampai usia dua tahun. Pada kenyataannya, kebanyakan ibu memberikan ASI mereka kepada bayinya hanya sampai usia bayi dua bulan. Metode yang digunakan adalah systematic review- metasintesisyang mana menggunakan pencarian literatur secara luas. Database yang dipilih adalah: MEDLINE, CINAHL, BioMed Central, Wiley, dan EMBASE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan ibu mengenai pemberian ASI eksklusif memiliki peranan yang penting dalam usaha meningkatkan keinginan untuk menyusui. Walaupun pandangan mereka dipengaruhi oleh keluarga dan sekitarnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan mereka. Hal ini sejalan dengan beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yang menyebutkan bahwa wanita yang memiliki pengalaman dalam menyusui, khususnya di dalam keluarga akan cenderung memutuskan untuk menyusui bayinya.Kata kunci:ASI eksklusif, keluarga, ib
Pengaruh Intervensi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) terhadap Penurunan Tingkat Depresi Ibu Rumah Tangga dengan HIV
Depresi adalah kondisi psikiatrik yang sering terjadi pada pasien dengan HIV, hal tersebut sangat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Dampak ini akan lebih buruk jika terjadi pada ibu rumah tangga, karena mereka bukan merupakan populasi resiko. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) diduga dapat menjadi salah satu terapi komplementer yang membantu menurunkan tingkat depresi pada ibu rumahtangga dengan HIV, karena SEFT merupakan penggabungan antara sistem kerja energy psychology dengan kekuatan spiritual sehingga memiliki efek berlipat ganda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi SEFT terhadap penurunan tingkat depresi pada ibu rumah tangga dengan HIV, karena itu digunakan metode quasi-experimental dengan pre test and post test design. Responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi (n=15) dan kelompok kontrol (n=15). Masing-masing kelompok diukur tingkat depresinya dengan menggunakan BDI (Beck Depression Invantory). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai mean pada kelompok intervensi sebelum diberikan intervensi adalah 24,00 dengan standar deviasi 6,325, setelah dilakukan intervensi menjadi 12,8 dengan standar deviasi 6,327. Perbedaan skor kelompok intervensi pada pre dan post test adalah 11,2 dengan standar deviasi 6,178. Data tersebut terdistribusi dengan normal sehingga uji statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan dengan hasil nilai p < 0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan tingkat depresi ibu rumah tangga dengan HIV secara signifikan, setelah dilakukan intervensi SEFT. SEFT dapat direkomendasikan sebagai salah satu terapi komplementer dalam memberikan asuhan keperawatan pada ibu rumah tangga dengan HIV yang mengalami depresi.Kata kunci: Depresi, ibu rumah tangga, HIV, SEFTÂ Effect of Intervention Spiritual Emotional Freedom Technique toward Decrease The Level of Depression Housewife with HIVÂ AbstractDepression is a psychiatric condition that often occurs in patients with HIV, it greatly effects the quality of life of sufferers. This impact would be worse if it happens to housewives, because they are not a risk populations. SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) could be expected to be one of the complementary therapies that help reduce depression of housewives with HIV, because it is a merger between systems of energy psychology with spiritual powers that have the effect of doubling. This study aimed to determine the effect of SEFT interventions in decreasing the level of depression housewives with HIV. This Quasi-experimental study method with pre-test and post-test design. Respondents who fit the inclusion criteria were divided into two groups: the intervention group (n = 15) and control group (n = 15). Each group measured levels of depression using the BDI (Beck Depression Invantory). The results of this study showed that the mean value of the intervention group before given intervention is 24.00 with a standard deviation of 6.325, after the intervention to 12.8 with a standard deviation of 6.327. Differences in the intervention group scores on the pre and post test was 11.2 with a standard deviation of 6.178. The data was normally distributed so that the statistical test used is paired t test with the results of the value of p <0.05. The conclusion from this study was that there are differences in the level of depression housewife with HIV significantly, after the intervention SEFT. SEFT can be recommended as a complementary therapy in providing nursing care of housewives with HIV who are depressed.Key words: Depression, housewives, HIV, SEF
Analisis Faktor yang Memengaruhi Self Management Behaviour pada Pasien Hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit kronik yang penanganannya diperlukan kemampuan untuk mengelola perilaku diri sendiri (self management behaviour) dalam kehidupan sehari-hari seperti; pengaturan diet, olah raga, minum obat serta kemampuan mengelola stres. Self management behaviour (SMB) merupakan landasan untuk dapat mengontrol hipertensi dan mencegah terjadinya komplikasi hipertensi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi SMB dan menganalisis faktor yang paling dominan memengaruhi SMB pada pasien hipertensi di Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik studi cross sectional, dengan menggunakan uji chi squaredan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara keyakinan terhadap efektivitas terapi (p=0.005; OR=3,48), self-efficacy(p=0.003; OR=3,67), dukungan sosial (p=0.015; OR=2,87) dan komunikasi antar petugas pelayanan kesehatan dengan pasien (p=0.002; OR=3,27) dengan SMB. Komunikasi antar petugas kesehatan dengan pasien merupakan faktor paling dominan memengaruhi kesuksesan SMB sehingga kemampuan komunikasi sangat diperlukan dalam implementasi asuhan keperawatan.Kata kunci:Hipertensi, kontrol hipertensi, self management behaviour AbstractHypertension is a chronic disease which requires to be controlled with self-management behaviour, such as diet, exercise, medication and stress management. Self-management behaviour (SMB) is the basis for controlling hypertension and preventing complications of hypertension. The purpose of this study was to determine several factors affecting the SMB and to identify the most dominant factor associated with the SMB in patient hypertension in General Hospital 45 Kuningan, West Java. The data were analyzed using chi square and logistic regression tests. The results showed that there were significant relationships between belief in the effectiveness of therapy (p=0.005;OR= 3.48), self-efficacy (p=0.003; OR=3.67), social support (p=0.015; OR=2.87), and communication between health professional and patient (p=0.008; OR=3.27) and the SMB. Communication between health care workers and patients was identified to be the dominant factor affecting the SMB. Therefore, the ability to communicate effectively is a requirement in the nursing care of patients with hypertension. Key words: Hypertension, control hypertension, self management behaviou