Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
    379 research outputs found

    Kualitas Hidup Pasien Pascaintervensi Koroner Perkutan

    No full text
    Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang dapat mengancam kehidupan seseorang. Pelaksanaan tindakan non bedah intervensi koroner perkutan pasien masih memiliki risiko terjadinya serangan berulang, stenosis dan ancaman kematian. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kualitas hidup pasien pascatindakan intervensi koroner perkutan. Desain penelitian ini adalah potong lintang. Pengambilan sampel secara consecutive samplingdidapatkan 50 responden yaitu pasien yang sedang kontrol pascaintervensi coroner per kutan di Poliklinik Spesialis Jantung RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, penelitian ini dilakukan pada 1-14 November 2013. Kualitas hidup diukur dengan instrumen WHOQOL-BREFdengan empat domain kualitas hidup yaitu domain fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan. Analisis menggunakan statistik deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki kualitas hidup baik sebesar 50%. Perawat memiliki peran dalam membantu pasien mencapai kualitas hidup yang optimal, diantaranya melalui peningkatan efikasi diri pasien melalui pendampingan dan pemberian informasi dalam usaha mencapai kualitas hidup.Kata kunci:Intervensi koroner perkutan, kualitas hidup, WHOQOL-BREF AbstractCoronary heart disease is a disease that can threaten person’s life, and can lead to the change of the quality of life. This coronary heart disease can be solved with non-surgical called percutaneous coronary intervention. This action will be normalized the quality of perfusion in the coronary arteries, which would certainly have an impact on the quality of life of patients. The research objective was to observe the patient of quality of life after treatment on intervention percutaneous coronary. The research design was cross sectional. There were 50 respondents taken by consecutive sampling. Data were collected in outpatient room in RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, who have came with treatment routine schedule after percutaneous coronary intervention during November 1st-14th 2013. The questionnaire use WHOQOL-BREF format with 26 questions that consisting of 4 domains of quality of life: physical domain, psychological domain, social domain, and environment domain. Majority of patients were male (74 %), with the range of age mostly 56-66 years ( 34 % ), married ( 96 % ), college education was the highest ( 66 % ), the majority had not a primary job like as housewife , retired, student, etc. ( 26 % ). Data were collected using the questionnaire WHOQOL - BREF. The result have shown that rates of quality of life was good ( 50 % ) and health condition after percutaneous coronary intervention neither satisfied nor dissatisfied ( 44 % ). Nurses have a role in helping patients achieve optimal quality of life like giving information to patient correctlyKey words: Percutaneous coronary intervention, quality of life, WHOQOL - BRE

    Pengalaman Keluarga sebagai Caregiver dalam Merawat Pasien Strok di Rumah

    No full text
    Sebagian besar pasien strok yang kembali ke rumah mengalami kecacatan. Kecacatan akibat strok tidak hanya berdampak bagi pasien, akan tetapi juga berdampak bagi anggota keluarga yang akan menjadi caregiver. Penelitian pada caregiverini penting karena caregiverberperan terhadap keberhasilan pengobatan dan perawatan pasien strok. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam tentang makna pengalaman keluarga sebagai caregiverpasien strok di rumah. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 16 orang yang dipilih dengan teknik purpossive sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan pendekatan Colaizzi. Hasil analisis penelitian ditemukan lima tema yaitu: memberikan dukungan total, memenuhi kebutuhan dasar, penderitaan dan hikmah bagi caregiver, kurangnya keterampilan dalam merawat, dan keterbatasan caregiver. Caregivermenderita masalah fisik, psikologis, dan sosial. Pada umumnya, caregivermerasa terabaikan, mereka membutuhkan informasi terkait penyakit pasien, cara merawat pasien strok, dan sumber-sumber komunitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, perawat disarankan untuk melakukan perencanaan pulang individual yang lebih berpusat pada keluarga daripada pendekatan berpusat pada pasien.Kata kunci: Caregiverkeluarga, merawat, pasien strok AbstractMost of the strok patients who return home suffer from disabilities. Disability caused by strok not only impact on strok patients, but also impact on family members who will be the caregiver. The concern to the caregiver is important because the success of the treatment and care of strok patients can not be separated from the help and support provided by the caregiver. This study aims to explore deeply the meaning of family experience as caregiver for strok patients at home. This study is a descriptive phenomenological study. Data were collected through in-depth interview. Participants in this study were 16 people who were selected by purposive sampling technique. The data obtained were analyzed by using Colaizzi approach. Results of analysis found 5 (five) themes, namely: giving total support, meeting basic needs, suffering and wisdom for the caregiver, lack of skills in caring for, and limitations of caregiver. Caregiver suffering from physical, psychological, and social problems. In general, caregivers feel neglected, they need information about the patient's illness and how to care for them as well as community resources for health services. Based on the results of the research, it is suggested that discharge planning approach should be focused more on family rather than patient.Key words:Family caregiver, caring, strok patien

    Pengaruh Progressive Muscle Relaxationdan Logoterapi terhadap Kecemasan, Depresi, dan Kemampuan Relaksasi

    No full text
    Kanker merupakan penyakit kronis yang mengancam kehidupan. Kanker dianggap sebagai satu stresor yang dapat menimbulkan masalah psikologis. Masalah psikologis yang paling banyak ditemukan pada klien kanker adalah kecemasan dan depresi. Kecemasan dan depresi yang dialami klien kanker bukan hanya berdampak pada kualitas hidup, juga berdampak pada pengobatan yang dilakukan, memperpanjang waktu hospitalisasi dan menimbulkan efek negatif pada prognosis serta ketahanan hidup klien. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh terapi progressive muscle relaxation(PMR) dan logoterapi terhadap kecemasan dan depresi, kemampuan relaksasi dan kemampuan memaknai hidup klien kanker. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperiman pretest-posttest with control groupdengan jumlah sampel 90 orang klien kanker yang dibagi dalam dua kelompok intervensi dan 1 kelompok kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan menurun secara bermakna p=0.00 (p< 0.05; α =0.05 ); depresi menurun secara bermakna p=0.002 (p< 0.05; α=0.05 ); kemampuan relaksasi meningkat secara bermakna p=0.00 (p< 0.05; α=0.05 ); dan kemampuan memaknai hidup meningkat secara bermakna p=0.01 (p< 0.05; α=0.05 ) pada kelompok yang mendapatkan PMR dan logoterapi. Terapi PMR dan logoterapi disarankan sebagai terapi keperawatan lanjutan dalam merawat klien kanker yang mengalami kecemasan dan depresi. Kata kunci:Ansietas, depresi, klien kanker, progressive muscle relaxation AbstractCancer is a chronic disease that threaten human life. Cancer regarded as a stressor that can cause psychological problems. The most commonly psychological problem found on the cancer client are anxiety and depression which will affect on quality of life, impact on treatment performed, prolong hospitalization and have a negative effect on prognosis and the survival of client. This research aimed to determine the therapeutic effect of Progressive Muscle Relaxation (PMR) and Logotherapy against anxiety and depression, relaxation ability and ability to interpret life. This study used quasi-experimental design pretest-posttest control group with a sample of 90 people cancer clients who were divided into two intervention groups and one control group. The results showed that anxiety decreased significantly p=0.00 (p<0.05; α=0.05); depression decreased significantly p=0.002 (p<0.05; α= 0.05); ability relaxation increased significantly p=0.00 (p<0.05; α=0.05); and the ability to make sense of life increased significantly p=0.01 (p<0.05; α=0.05) in the group receiving PMR and Logotherapy. PMR therapy and Logotherapy are recommended as advanced nursing therapy in treating cancer clients who experience anxiety and depression.Key words: Anxiety, depression, client cancer, progressive muscle relaxatio

    Metode Barbeau Test dalam Menilai Keutuhan Arteri Radialis Pascaintervensi Koroner Perkutan

    No full text
    Radial artery occlusion merupakan salah satu komplikasi vaskular postkateterisasi jantung trans radial. Kompresi lokal menggunakan alat kompresi setelah tindakan kateterisasi jantung trans radial dapat menurunkan angka kejadian komplikasi vaskular Radial Artery Occlusion(RAO). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara metode Barbeau test dan metode pengamatan klinik dalam menilai keutuhan arteri radialis selama proses kompresi pada pasien postprosedur kateterisasi jantung trans radial. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi komparatif. Subjek penelitian adalah 20 pasien yang menjalani prosedur kateterisasi jantung dengan akses arteri radialis. Pengukuran dilakukan secara bertahap menit ke-15 dan setelah tiga jam menggunakan alat kompresi stepty-p. Uji komparasi menggunakan uji McNemar. Data univariat dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan penilaian keutuhan arteri radialis antara metode Barbeau testdengan metode pengamatan klinik pada menit ke-15 (p=0.035) dan ke-30 (p=0.035). Namun secara keseluruhan hasil uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam menilai kepatenan arteri pada setiap waktu pengamatan dari kedua metode. Kata kunci:Arteri radialis, Barbeau test, kateterisasi jantung, keutuhan, pengamatan klinik AbstractRadial artery occlusion is one of the trans radial vascular complications post cardiac catheterization. The local compression using compression methods after cardiac catheterization can be reduced the vascular complication such as radial artery occlusion (RAO). This research was conducted to determine the comparison between the Barbeau test method and the clinical observation method carried out by the researcher in order to examine the patency of radial artery during compression, post procedure cardiac catheterization at the Angiography Coroner Unit and the Cardiac Intensive Care Unit, Hasan Sadikin Bandung General Hospital, Indonesia. This research was a quantitative research using the comparative study design. The subjects were 20 patients who took cardiac catheterization procedure using radial artery access and checked in pairs. The measurement divided into two periods: the fifteenth minute and the third hour using the stepty-p compression tool. The statistical test used the McNemar test to analyze the comparison, and the single variable data were analyzed using the distribution frequency. There were a significant difference in radial artery evaluation during compression period between two methods, in which at the first fifteen minutes (p=0.035) and the first thirty minutes (p=0.035), respectively. Overall, the result shows that there were no significant difference in comparison of two methods. Key words:Barbeau test, cardiac catheterization, clinical observation, patency, radial arter

    Emotional Freedom Techniques dan Tingkat Kecemasan Pasien yang akan Menjalani Percutaneous Coronary Intervention

    No full text
    Kecemasan yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) dapat memperparah kondisi penyakit, memengaruhi status hemodinamik, gangguan imunitas dan gangguan metabolisme yang mengakibatkan suplai oksigen dan perfusi jaringan semakin terganggu. Emotional Freedom Techniques (EFT) merupakan salah satu intervensi pilihan, karena berdasarkan beberapa literatur, EFT dapat menurunkan kecemasan, mengatasi kecemasan langsung di bagian korteks serebri serta mengatasi kecemasan berdasarkan akar permasalahannya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi pengaruh intervensi EFT terhadap tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani PCI di RS. X. Peneliti menggunakan metode quasi experimentaldengan rancangan one group pretest dan postest. Jumlah sampel 30 orang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol dengan menggunakan teknik concecutive sampling. Kelompok intervensi diberikan EFT selama 15 menit. Sebelum dan sesudah intervensi diukur tingkat kecemasannya dengan menggunakan kuesioner state trait anxiety inventory(STAI-S). Data dianalisis dengan uji t. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna antara tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi EFT (p<0.05) dan terdapat perbedaan yang bermakna intensitas kecemasan sesudah intervensi antara kelompok intervensi dan kontrol (p<0.05) . Kesimpulan penelitian yaitu EFT dapat menurunkan tingkat kecemasan pada pasien yang akan menjalani PCI. Penggunaan EFT dalam mengatasi kecemasan pasien di ranah kritis merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan karena berdasarkan bukti empiris, memberikan manfaat, menggunakan teknik yang sederhana, mudah digunakan oleh siapapun, serta tanpa efek samping.Kata kunci: Emotional Freedom Techniques, kecemasan, komplementer, Intervensi Koroner Perkutan AbstractAnxiety that happen before Percutaneous Coronary Intervention (PCI) can aggravate the condition of disease, affecting hemodynamic status, immune disorders and metabolic disorders that result in tissue perfusion and oxygen supply disruption, if. Emotional Freedom Techniques (EFT) is one of the preferred interventions, because based on some literature, EFT can reduce anxiety, overcoming anxiety directly on the cerebral cortex and also address the root causes of anxiety based. The objective of research to determine the effect of EFT intervention on level anxiety of patients undergoing PCI in Hospital X. The research using quasi experimental method to design one group pretest and posttest. 30 people were divided into intervention and control groups by using a concecutive sampling technique. The intervention group received EFT for 15 minutes. Anxiety level is measured before and after intervention using State Trait Anxiety Inventory questionnaire (STAI-S). Data were analyzed by t test. The result showed there were significant differences between anxiety levels before and after the EFT intervention (p<0.05) and significant difference intensity of anxiety after intervention between intervention and control groups (p<0.05). The Conclusion of research is EFT can reduce anxiety levels on patients undergoing PCI. EFT is something that needs to be considered as based on empirical evidence, provide benefits, easy and without side effects. Key words:Emotional Freedom Techniques, anxiety, complementary, Percutaneous Coronary Interventio

    Hubungan Host dan Lingkungan dengan Manifestasi Klinis Hepatitis A

    No full text
    Hepatitis A adalah infeksi sistemik oleh virus hepatitis A yang menyerang organ hati dan penularannya terjadi secara fekal-oral. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta sebanyak 160 orang terkena hepatitis A pada bulan Oktober-November 2011, dan mereka telah menjalani rawat jalan maupun rawat inap. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor hostdan lingkungan dengan manifestasi klinis penyakit hepatitis A pada mahasiswa Universitas X di Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei-Juni 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang terkena penyakit hepatitis A dari bulan Oktober-Desember 2011. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 114 mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian survei analisis cross sectional. Analisis data menggunakan Chi-Square. Dari hasil penelitian didapatkan kesimpulan bahwa faktor hostdan lingkungan memiliki hubungan dengan manifestasi klinis penyakit hepatitis A dengan nilai p<0.05. Kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan agar dapat mencegah terjadinya penyakit terutama hepatitis A.Kata kunci: Faktor host, hepatitis A, manifestasi klinis AbstractHepatitis A is a common systemic infection transmitted by fecal-oral. This study conducted based on increased hepatitis A incidence among students in a private university in Bandung (October-November 2011). The aimed of this study was to identified the relationship between host and environtment factor with clinical manifestation of hepatitis A in X University’s student in Bandung. This study was conducted in May-June 2011. The population of this study was 114 student who experienced hepatitis. A quantitative survey used as a method in this study. The data was analyzed by non parametric chi-square test. Result of this study showed there was a significant relationship between host and clinical manifestation of hepatitis A (p<0.05). Student should have a high body endurance to enhance immunity particulary in a distress condition and mainten health environment to prevent hepatitis A transmission.Key words:Clinical manifestation, hepatitis A, host facto

    Adversity Quotient Mahasiswa Baru yang Mengikuti Kurikulum Berbasis Kompetensi

    No full text
    Adversity Quotient (AQ) merupakan suatu bentuk pengukuran yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam merespons suatu tantangan atau kesulitan dalam kehidupannya untuk mencapai suatu keberhasilan. Salah satu tantangan dan kesulitan bagi mahasiswa keperawatan adalah menghadapi program Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan Metode Student Centered Learning(SCL). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran Adversity Quotientmahasiswa baru yang sedang mengikuti Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Metode Student Centered Learning(SCL). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah total populasi dengan jumlah sampel 142 orang mahasiswa. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari Adversity Response Profile Quick TakeTM. Hasil penelitian didapatkan Adversity Quotientmahasiswa baru yang sedang mengakui KBK dengan metode SCL adalah sebagian besar responden yaitu 87 orang (61,27%) pada kelompok climber, sebagian kecil dari responden yaitu 50 orang (35,21%) pada kelompok transisi camperke climber, sebagian kecil dari responden yaitu 5 orang (3,52%) pada kelompok camper,tidak seorang pun responden yaitu 0 orang (0.00%) pada kelompok transisi quitterke camper dan tidak seorang pun responden yaitu 0 orang (0.00%) pada kelompok quitter. Mahasiswa pada posisi climbermelihat masalah yang ada saat menjalani program profesi sebagai tantangan.Kata kunci: Adversity quotient, mahasiswa, student centered learning AbstractAdversity Quotient (AQ) is a form of measurement that used to determine a person’s ability to respond of challenges or difficulties as part of achieving a success in life. The challenges and difficulties for nursing students occurred when Competency-Based Curriculum (CBC) has applied using Student Centered Learning (SCL) method. The purpose of this study was to explore the Adversity Quotient Force of nursing students from class of 2011 who applied CBC and SCL as their study method. The research method was descriptive quantitative. Samples were 142 nursing student from class of 2011 who chosen by total sampling technique. The data were collected using a modification of the Adversity Response Profile Quick TakeTM tools. The result showed the majority of Adversity Quotient of respondent who attended CBC with SCL method was in climber categories with 87 people (61.27%). The second majority was transition to a camper climber with 50 people (35.21%), and then followed by camper, camper quitter, and quitter with 5 persons (3.52%), 0 (0.00%), 0 (0.00%), respectively.Key words:Adversity quotient, students, student centered learnin

    Pengalaman Hidup Pasien Stoma Pascakolostomi

    No full text
    Jumlah pasien pasca kolostomi akibat kanker kolon dan rektal di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Kolostomi menyebabkan masalah fisik, psikososial dan spiritual serta ekonomi. Tenaga kesehatan terutama perawat perlu memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien pasca kolostomi secara menyeluruh. Penelitian kualitatif terhadap pasien kolostomi sangat diperlukan sebagai upaya untuk mengungkap secara mendalam pengalaman hidup pasien pasca kolostomi dan menemukan new insight, sehingga dapat menambah pengetahuan perawat dalam upaya meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data didapatkan dengan wawancara mendalam terhadap delapan informan yang merupakan pasien rawat jalan, terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan, usia antara 30 tahun sampai dengan 73 tahun. Lamanya hidup dengan kolostomi antara empat bulan sampai dengan enam tahun. Analisis hasil wawancara menggunakan metode Colaizzi. Tema yang didapatkan dari pengalaman hidup pasien kolostomi antara lain: keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, perubahan psikososial informan, perubahan dalam perilaku ibadah dan distres spiritual, perubahan pada aktivitas seksual, sumber-sumber dukungan bagi informan, upaya menjalani hidup dengan kolostomi, adaptasi terhadap perubahan yang terjadi, serta penyulit dalam menjalani hidup dengan kolostomi. Individu yang hidup dengan kolostomi mengalami keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya, termasuk perubahan psikososial, distres spiritual dan masalah ekonomi. Berdasarkan penelitian ini, perawat disarankan memberikan dukungan dan dan perhatian pada pasien pasca kolostomi.Kata kunci:Kanker kolorektal, kolostomi, pengalaman hidup AbstractThe number of patient with colostomy that it caused by colorectal cancer has been increasing significantlyin Indonesia. Colostomy was affected to physical, psychosocial, spiritual and economic of patients. Health providers, especially nurses need to provide holistic care for post colostomy patients. The aims of this qualitative study were to describe the life experience of post colostomy patients and to explore new insight of nursing interventions. The new insight would increase nurses’ knowledge and improve the quality of nursing care. This phenomenological study was obtained data using in-depth interviews to 8 informants. The informants consist of 5 men and 3 women. The characteristic of informants included age between 30-73 years, and the length of time living with a colostomy between 4 months to 6 years. The data were analyzed using the Colaizzi method. This study found several themes such as limited daily activities, psychosocial changes; spiritual distress; changes in sexualactivities;sources of support;live with a colostomy; live adaptation; the burdens living with a colostomy. Living with a colostomy faced problems including the limitation to fulfill their needs, psychosocial changes, spiritual distress, and economic problems. Based on those problems, nurses can give support and attention for post colostomy patients.Key words: Colorectal cancer, colostomy, life experience

    Pengaruh Terapi Self-Help Groupterhadap Koping Keluarga dengan Anak Retardasi Mental

    No full text
    Keluarga dengan anak retardasi mental di Kabupaten Sumedang sekitar 10.898 orang dari 1.089.889 penduduk di Kabupaten Sumedang, dan yang tercatat di SLB-C se-Kabupaten Sumedang hanya 218 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh pelaksanaan terapi self-help groupterhadap koping keluarga dengan anak retardasi mental di SLB-C Kabupaten Sumedang tahun 2009 sehingga dapat mengurangi faktor risiko terjadinya gangguan. Metode penelitian menggunakan quasi experimental pre-post test with control groupdengan intervensi self-help group. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik purposive samplingdengan sampel sebanyak 22 keluarga. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner karekteristik keluarga dan kuesioner koping keluarga. Self-help group dilakukan pada dua kelompok, yaitu: kelompok I diberikan self-help groupdengan enam kali pertemuan (empat kali bimbingan dan dua kali mandiri) dan kelompok II tidak diberikan self-help group.Analisis data menggunakan univariat dengan menganalisis secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan tendensi sentral. Analisis bivariat menggunakan independent sample t-test, chi-square dan dependent sample t-test. Analisis multivariat menggunakan pearson product moment dan rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan koping setelah self-help grouppada keluarga dengan anak retardasi mental secara bermakna dan terjadi perubahan dari koping maladaptive menjadi adaptive(nilai p=0.000). Pada kelompok yang hanya diberikan terapi generalis terjadi juga peningkatan kemampuan koping keluarga dengan anak retardasi mental, tetapi peningkatan tersebut masih berada di koping maladaptive. Direkomendasikan untuk membentuk kelompok self-help grouplainnya di lingkungan SLB-C.Kata kunci: Koping keluarga, retardasi mental, self-help group AbstractFamily with children having mental retardation at Sumedang district are almost 10,898 childrenof 1,089,889 population and they are only 218 children which recorded at SLB-C at Sumedang district. The purpose of this study was to find descriptionof the effect of implementing self-help groups therapy toward coping family and children with mental retardation at SLB-C Sumedang district in 2009 and expected to decrease the risk factor of disturbance may occur. This study used quasi experimental pre-post test with control group by self help group intervention. The methode to pick up samples was purposive sampling, getting samples by 22 families. Data were collected using questionares of family characteristic and family coping. Self-help group has been done for two groups where the first group was given self-help group for six times of meeting (four times for guiding and two times for standing alone), while the second group was given self-help group. Data were analyzed using univariate method by calculating frequency distribution and central tendency. Bivariate analysis used independent sample t-test, chi-square and dependent sample t-test. Multivariate analysis used pearson product moment and rank spearman. Study result indicated improvement the abilities of coping family and children with mental retardation as means (pvalue = 0.000). It is recommended to build and implementing self-help group for family who had children with mental retardation.Key words:Coping family, mental retardation, self-help grou

    Hubungan antara Lama Tidur dengan Akumulasi Kelelahan Kerja pada Dosen

    No full text
    Fatigue merupakan fenomena normal bagi setiap orang sehat, yang dapat dikurangi dengan istirahat maupun tidur. Kurang tidur (sleepiness) telah menjadi fokus masalah dalam isu kesehatan kerja. Penelitian kelelahan kerja pada dosen masih sangat terbatas dan belum menjadi perhatian. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan lama waktu tidur dengan akumulasi kelelahan kerja pada dosen. Desain potong lintang digunakan dalam penelitian terhadap 236 partisipan berasal dari delapan sekolah tinggi ilmu kesehatan swasta di Jawa Barat. Lama waktu tidur per hari diukur menggunakan kuesioner dan akumulasi kelelahan kerja diukur menggunakan instrumen self-diagnosis check list for assessment of worker’s accumulated fatigue. Rerata waktu tidur adalah 6,23±1,1 jam per hari. Hasil uji statistik menggunakan uji korelasi product moment didapatkan lama waktu tidur berkorelasi negatif dengan gejala kelelahan subjektif (r=-0.132; p<0.05), kondisi kerja (r=-0.169; p<0.05), dan akumulasi kerja (r=-0.173; p<0.05). Semakin tinggi lama tidur, maka semakin rendah kelelahan kerja yang terjadi. Kurangnya waktu tidur dalam jangka waktu yang lama dapat berakibat pada kualitas hidup dosen dan dapat menyebabkan sakit. Perlunya mengurangi akumulasi kelelahan kerja agar cukup waktu tidur dan beristirahat bagi dosen. Kata kunci:Dosen, fatigue, kelelahan kerja, makan pagi, waktu tidur AbstractFatigue is a normal phenomenon for everybody, it can be reduced by rest and sleep. Sleepiness is a health issue in the occupational health and safety. However, a study related to job burnout in the lecturer community is limited. The aims of this study was to uncover the relationship between lecturers’ sleep duration and their job burnout. The cross sectional design was applied to 236 participants who came from eight different private Health Sciences School in West Java. Sleep durations were measured by a questionnaire and Self-diagnosis Check List for Assessment of Worker’s accumulated fatigue was used to measure lecturers’ job burnout. Results have shown that rates of the sleep duration in a day were around 6,23±1,1 hours. Product moment test has shown that the sleep duration had negative correlation with subjective fatigue (r=-0.132; p<0.05), working conditions (r=-0.169; p<0.05), and working accumulation (r=-0.173; p<0.05). The more sleep duration the lower job burnout. Long term sleepiness can be affected to lecturers’ quality of live. Enough rest and sleep are the best way to deal with job burnout problems.Key words:Breakfast, fatigue, job burnout, lecturer, sleep duratio

    0

    full texts

    379

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Padjadjaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇