Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
379 research outputs found
Sort by
Persepsi Keluarga terhadap Skizofrenia
Keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan skizofrenia mengalami isolasi sosial karena stigma yang melekat pada penderita. Oleh karena itu, penderita skizofrenia sering kali disembunyikan dan dikucilkan agar tidak diketahui oleh masyarakat. Padahal persepsi keluarga yang positif sangat dibutuhkan dalam perawatan pasien skizofrenia. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui persepsi keluarga terhadap skizofrenia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sampel pada penelitian ini berjumlah 80 responden, yang diambil dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner persepsi keluarga mengenai skizofrenia yang dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan hasil uji reliabilitas sebesar 0.70. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dalam bentuk analisis nilai mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (62,5%) memiliki persepsi positif terhadap skizofrenia, sedangkan sisanya sebanyak 30 responden (37,5%) memiliki persepsi negatif terhadap skizofrenia. Hal ini menunjukkan masih terdapatnya persepsi keluarga yang negatif terhadap skizofrenia. Salah satu cara yang dapat dilakukan perawat untuk merubah persepsi keluarga tersebut adalah dengan melakukan penyuluhan kepada keluarga tentang skizofrenia. selain itu, rumah sakit jiwa perlu mengembangkan promosi kesehatan di masyarakat agar terciptanya persepsi yang positif terhadap skizofrenia. Kata kunci: Deskriptif kuantitatif, keluarga, persepsi, skizofrenia AbstractFamilies who have a family member suffering from schizophrenia experience social isolation related stigma. Therefore, people with schizophrenia often hide and isolated in order to be not known by the public, whereas positive perception of the families towards schizophrenia is needed in the treatment of schizophrenia. The purpose of this study was to determine the perception of the families about schizophrenia. This research used descriptive quantitative method. Samples in this study amounted to 80 respondents using consecutive sampling. The data was collected for one week by using the questionnaire. The reliability test results of the questinnaire obtained for 0.70. Analysis of the data used descriptive statistical analysis in the from of a mean. The results showed that most of the respondents have a positive perception of schizophrenia by 50 respondents and the remaining 30 respondents had negative perceptions toward schizophrenia. This shows there is still a negative perception of families towards schizophrenia . One of the ways that can be done to change the familie’s perception is by giving health education to the families and psychiatric hospitals need to develop health promotion in the community to creat a positive perception towards schizophrenia. Key words: Family, perception, quantitatif study, schizophreni
Pengaruh Dukungan Keluarga dalam Meningkatkan Perilaku Adaptif Remaja Pubertas
Periode pubertas merupakan masa kritis bagi remaja. Perubahan akibat pubertas sering menimbulkan berbagai perilaku maladaptive seperti membolos, membangkang, dan tawuran. Keluarga sebagai lingkungan utama remaja memegang peranan penting dalam membentuk perilaku remaja. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi pengaruh optimalisasi dukungan keluarga terhadap perilaku adaptif pada usia pubertas. Desain quasi experimentaldengan pendekatan pre-post test without control group design. Responden dipilih secara purposive samplingdi Rempoah Baturaden. Perilaku adaptif remaja meningkat dari 60% menjadi 97% setelah diberikan perlakuan dukungan keluarga. Kesulitan orang tua dalam memberikan dukungan adalah ketika mengarahkan untuk belajar, menjalin komunikasi terbuka, dan menghadapi emosi remaja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh optimalisasi dukungan keluarga yang signifikan terhadap peningkatan perilaku adaptif remaja (p value0.001). Orang tua hendaknya selalu meningkatkan pengetahuan untuk melaksanakan dukungan keluarga kepada anak remaja.Kata kunci:Dukungan, keluarga, perilaku, pubertas, remaja Abstract The period of puberty is a critical period for adolescents. The consequence of changing puberty is often arise a dis-adaptif behaviour such as a shirker, protester, gang fighter. Family as the primary environment teenager plays an important role in shaping adolescent behavior. The research objective was to identify the influence of family support for adaptive behavior of adolescent puberty. Quasi-experimental design approach without pre-posttest control group design was applied. Respondents was selected by purposive sampling in Baturaden. Adaptive behavior that increased from 60% to 97% after optimization family support. Difficulties of parents in providing family support when directed to learn, to establish open communication, and teenagers emotional. There is the influence of family support optimization significantly to the increase of adaptive behavior adolescents with p value of 0.001. Parents should always increase their knowledge to implement family support to teenagers.Key words: Behavior, family, puberty, support, teenager
Persepsi Perawat Neurosurgical Critical Care Unitterhadap Perawatan Pasien Menjelang Ajal
Tingginya angka kematian yang terjadi di unit perawatan intensif, menuntut peningkatan pelayanan perawatan paliatif termasuk perawatan pasien menjelang ajal, yang melibatkan perawat perawatan kritis. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran persepsi perawat terhadap perawatan pasien menjelang ajal di ruang Neurosurgical Critical Care Unit(NCCU). Delapan perawat pelaksana di ruang NCCU RSHS Bandung dilibatkan dalam penelitian deskriptif kualitatif ini dengan rentang usia antara 27- 43 tahun, dan bekerja selama 3-20 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive samplingdan jumlah informan dibatasi setelah data jenuh. Pengumpulan data dengan melakukan wawancara semi terstruktur, dan analisis yang digunakan adalah content analysis. Hasil penelitian didapatkan 4 tema dan 15 subtema yaitu: (1) Pemahaman perawat tentang perawatan pasien menjelang ajal yaitu: membantu pasien meninggal dengan tenang, menghadirkan keluarga untuk memberikan dukungan, dan lebih berfokus pada bimbingan spiritual; (2) Cara menghadapi kematian yang sering terjadi yaitu: adaptasi perawat terhadap kondisi pasien menjelang ajal, kesulitan menentukan fase menjelang ajal pasien kritis, dilema dalam pengambilan keputusan, dan empati; (3) Peran perawat dalam mempersiapkan pasien menjelang ajal yaitu: pembimbing spiritual pasien, komunikator, fasilitator, dan pemberi dukungan emosional keluarga; (4) Hal-hal yang perlu diperbaiki dalam perawatan menjelang ajal yaitu: diperlukan pelatihan perawatan paliatif pada pasien kritis, diperlukan ruangan khusus pasien menjelang ajal, diperlukan pembimbing rohani khusus, dan diperlukan standar operasional prosedur (SOP) perawatan pasien menjelang ajal. Perawat perlu memberikan perawatan yang membantu pasien meninggal dengan tenang, memberikan dukungan untuk keluarga, dan lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien.Kata kunci: Intensive Care Unit, perawatan akhir hidup, persepsi perawat AbstractThe high number of death that occurred in the Intensive Care Unit, strive to improve palliative care services including the provision of care of dying patients by critical care nurses. The purpose of this study was to obtain a perception of nurses toward the care of dying patients in the Neurosurgical Critical Care Unit ( NCCU ). Eight nurses who work at NCCU were involved in this study, age between 27- 43 and have been working from 3 to 20 years. The sampling technique used the purposive sampling method and a limited number of informants after data saturated. Data collection was done by conducting semi- structured interviews, content analysis was used to analyse the data. There are four themes with 15 sub-themes include: 1) Nurse understanding about caring for dying patients: help the patients to die peacefully, presenting the family to provide supports, and more focused on spiritual guidance. 2) Way of handling the frequent of death occurance: adaptation of nurses to dying condition, difficulty determining the critical phase of the dying patient, dilemmas in decision-making, and empathy. 3) The role of nurses in preparing for the dying patient: the patient spiritual guides, communicators, facilitators, and providers of family emotional support. 4) The Things that need to be improved in end of life care: the palliative care training is required in critically ill patients as well as separate unit for dying patients, exclusive spiritual guide, and standard operating procedures (SOP) of care for the dying patients. It can be concluded that nurses need to provide treatment that helping patients to die peacefully, and providing support for the family, which is focused on meeting the spiritual needs of patients.Key words:Intensive Care Unit, end of life care, nurses perceptio
Analisis Faktor-Faktor yang berhubungan Toilet Trainingpada Anak Prasekolah
Anak bukan dewasa kecil, anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan usianya. Toilet trainingperlu dilakukan selama anak berada dalam periode optimal untuk menghindari efek jangka panjang seperti inkontinensia dan infeksi saluran kemih (ISK). Anak yang terbiasa memakai diaper sejak kecil akan mengalami keterlambatan dalam toilet training. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keberhasilan toilet trainingpada anak usia 4-5 tahun (prasekolah). Jenis penelitian yang digunakan deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive samplingdengan jumlah 60 responden. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan analisis regresi logistik ganda. Jumlah responden yang berhasil dalam toilet training sebanyak 36 responden (60%). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang, menerapkan pola asuh anak campuran, hampir seluruh responden mempunyai lingkungan baik dan sebagian besar anaknya berhasil dalam toilet training, terdapat hubungan antara pengetahuan, lingkungan dengan keberhasilan toilet trainingpada anak usia prasekolah. Sedangkan pola asuh tidak menunjukkan hubungan dengan keberhasilan toilet training. Faktor yang paling dominan memengaruhi keberhasilan toilet trainingadalah faktor lingkungan dengan nilai OR 29,615 dan p value0.005. Perawat sebagai tenaga kesehatan diharapkan dapat menjadi edukator kepada orangtua tentang pentingnya toilet trainingpada anak dengan memerhatikan aspek lingkungan baik fisik maupun psikologis dalam menunjang proses toilet training.Kata kunci: Keberhasilan toilet training, lingkungan, pola asuh, pengetahuan, toilet training AbstractChildren are not early adult, they describe their growth and development as their age. Toilet training is one of development tasks in preschooler whom needed to be given to the children for avoid problem in urinating such as incontinence urine infection in urinary tract. The children are used diaper early they must be done toilet training. The aim of the research is to identify and test factors that interrelates with the success of toilet training arrange 4 to 5 years old (preschooler). This research used quantitative descriptive with cross sectional design, and used purposive sampling technique. Data were collected using quesioner and analized with double logistic regression. This research using sample are 60 mothers with children age 4-5 years old who came to pediatric policlinic of Dustira`s hospital. It ‘s has result indicates that most respondents have lacked of knowledge,used mix parental style, most of the sample has good environment considered their succeed in toilet training. There are related between knowledge, environment and succeed in toilet training for children age 4-5 years old. Dominant factor influenced the success of toilet training is environmental factor with score 29,615 and p value 0.005. It suggestion that recommended nurse role as health power to expected whom can be educator to the parents for promoting the importance of toilet training in children by paying attention on environmental aspect both physical and psychological in providing toilet training process. Key words: Toilet training, environment, Parental style, knowledg
Risiko Terjadinya Dekubitus Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Pasien di Ruang Perawatan Neurologi
Dekubitus merupakan masalah akut yang sering terjadi pada situasi perawatan pemulihan. Gangguan ini terjadi pada individu yang mengalami tirah baring lama serta mengalami gangguan tingkat kesadaran. Ketika dekubitus terjadi maka lama perawatan dan biaya perawatan rumah sakit akan meningkat. Hasil penelitian di beberapa Rumah Sakit pemerintah di Indonesia kejadian dekubitus pada pasien tirah baring 15,8% sampai 38,18%. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi gambaran risiko terjadinya dekubitus berdasarkan tingkat ketergantungan pasien minimal care, partial care, dan total care. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Sampel berjumlah 88 orang. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi menurut Teori Orem: Self Careuntuk mengkaji tingkat ketergantungan pasien dan Skala Braden untuk prediksi luka tekan. Hasil penelitian gambaran risiko terjadinya dekubitus berdasarkan tingkat ketergantungan pasien minimal caresebesar 88,24% atau hampir seluruhnya tidak memiliki risiko untuk terjadinya dekubitus, partial caresebesar 45,95% atau hampir setengahnya yang berisiko terjadinya dekubitus dan total caresebesar 44,12% atau hampir setengahnya yang memiliki risiko tinggi terjadinya dekubitus. Hasil Penelitian dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) pencegahan dekubitus khususnya pada pasien yang berisiko sampai dengan total care. Sehingga perawat khususnya perawat klinik dapat mengantisipasi risiko terjadinya dekubitus sesuai dengan SOP yang sudah ada.Kata kunci: Dekubitus, orem, skala Braden, tingkat ketergantungan pasien AbstractThe incidence of decubitus is one of the most acute problems in recovery phase. This problem occurred to individual who has long-term bed rest period and has alteration of consciousness. Previous studies in public hospitals in Indonesia showed that the incidences of decubitus among the bed-rest patients are 15.8% to 38.1%. The aim of this study is to identify the risk of incidence of decubitus based on patients’ dependency level: minimal care, partial care, and total care. This study used descriptive quantitative design with 88 patients as the research samples. Observational check-list which is developed from Orem’s theory is used as the research instrument. Self-care is used to assess level of patients’ dependency and Braden Scale is used to predict the decubitus. The result shows that most of the patients at minimal care level (88.24%) do not have the risk of decubitus wound; almost half of patients at partial care level (45.95) have the risk of decubitus; while almost half of patients at total care level (44.12%) have the high risk of developing decubitus. This result can be considered to develop Standard Operational Procedure (SOP) of decubitus prevention, particularly for patients with total care who are at risk of developing decubitus. Therefore, nurses in the ward can prevent the incidence of decubitus among patients. Key words: Braden scale, decubitus, orem, patients’ dependency leve
Kualitas Hidup berdasarkan Karekteristik Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Karekteristik pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 yang dapat memengaruhi kualitas hidupnya meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, sosial ekonomi, lama menderita DM, dan status pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kualitas hidup berdasarkan karekteristik pasien DM tipe 2. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 89 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner karekteristik responden dan Quality of Life Instrument for Indian Diabetes Patients (QOLID)yang terdiri dari 34 pertanyaan. Data yang terkumpul dikategorikan menjadi kualitas hidup tinggi/rendah berdasarkan nilai mean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup (QoL) pasien DM tipe 2 secara keseluruhan adalah tinggi (56,18%). Berdasarkan umur, QoL tinggi terbesar adalah lansia (65,9%) dan QoL rendah terbesar adalah dewasa madya (53,84%). Jenis kelamin, QoL tinggi terbesar adalah laki-laki (58,97%) dan QoL rendah terbesar adalah perempuan (46%). Tingkat pendidikan, QoL tinggi terbesar berada pada perguruan tinggi (78,26%) dan QoL rendah terbesar berada pada SD (65%). Berdasarkan sosial ekonomi, QoL tinggi terbesar adalah penghasilan lebih dari >5 juta (87,5%) dan QoL rendah terbesar adalah <1 juta (66,67%). Berdasarkan lama menderita, QoL tinggi terbesar adalah >10 tahun (66,67%) dan QoL rendah terbesar adalah < 1 tahun (53,33%). Berdasarkan status pernikahan QoL tinggi terbesar adalah menikah (56,16%) dan QoL rendah terbesar adalah janda/duda (46,67%). Perawat diharapkan dapat membantu pasien dengan karekteristik tingkat pendidikan SD, usia dewasa madya, penghasilan <1 juta dan lama menderita <1 tahun dengan cara mengembangkan aktivitas yang dapat mendukung peningkatan QoL pasien DM tipe 2.Kata kunci:DM tipe 2, karekteristik pasien, kualitas hidup AbstractAges, sex, education levels, economic status, marital status, and the length of life with diabetes mellitus are characteristics of patient with type 2 DM that can affect to their quality of life. The purpose of this study was to describe type 2 diabetes mellitus patients’ quality of life based on patients’ characteristics. Descriptive quantitative approach with purposive sampling was applied to 89 respondents. Data were collected using Quality of Life Instruments for Indian Diabetes Patients (QOLID), which consists of 34 questions. Data were analyzed using means scores. The result showed that quality of life (QoL) of patients with type 2 diabetes were high (56.18%). Based on age categories, the highest QoL was the elderly group (65.9%) and the lowest was the middle adulthood group (53.84%). Men had higher QoL than women with (58.97%) and (46%), respectively. This study also found that university graduates had the highest QoL (78.26%) and the lowest were elementary school graduates (65%). Based on the economic status, people with income >5 million (50%) had the highest QoL and the lowest was people with income <1 million (35.90%). Diabetic patients who suffering for more than 10 years (66,67%) had the highest QoL and the lowest was people who suffer of type 2 DM for less than a year (53.33%). Based on marital status, the highest QoL was married people (56.16%) and the lowest was widow (46.67%). Nurses are expected to help patients with low level of QoL and develop some activities to enhance the QoL of patient with type 2 DM.Key words: Patient’s characteristic, quality of life, type 2 D
Hubungan Tingkat Pendidikan, Pekerjaan, dan Paritas Ibu dengan Usia Penyapihan pada Balita
Penyapihan cepat adalah salah satu penyebab anak terserang infeksi karena daya tahan tubuhnya menurun, namun ditemukan banyak ibu-ibu yang melakukan penyapihan cepat di Wilayah Posyandu “Xâ€. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan, pekerjaan, dan paritas ibu dengan usia penyapihan pada balita di Wilayah Posyandu X menggunakan metode deskriptif korelasional dengan studi retrospektif terhadap 60 responden ibu yang memiliki anak usia 2−5 tahun dengan tehnik purposive samplingdan dianalisis menggunakan spearman rankdan odd ratio(OR). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan usia penyapihan (p=0.868), ada hubungan negatif antara pekerjaan dengan usia penyapihan (p=0.016) dan ada hubungan antara paritas dengan usia penyapihan (p=0.027) serta nilai odd ratio (OR) 8,143. Dari hasil penelitian disarankan bahwa pendidikan kesehatan tentang ASI perlu ditambahkan tentang cara penyapihan ASI yang benar dan mengevaluasi pendidikan kesehatan yang diberikan secara teratur.Kata kunci: Balita, paritas, pekerjaan, penyapihan ASI, tingkat pendidikan AbstractThe early weaning process is one of the infection causes among children. That process have influenced in reducing the children’s immune. However, many mothers in the “Posyandu X†have applied the early weaning process to their children. This study aimed to know the relationship between the level of education, job status, maternal parities and the weaning time in toddlers in the “Posyandu Xâ€. This study used the descriptive correlational approach with retrospective study. Samples were 60 mothers who have children aged 2-5 years old. Samples were chosen using the purposive sampling method, and data were analysed using spearman rank and odd ratio (OR). The result showed that there were no correlation between the level of education and the age of weaning (p=0.868), there were negative correlation between mother’s job status and the age of weaning (p=0.016), and there were correlation between the maternal parity and the age of waning p=0.027). The study also found that the odd ratio= 8.143. The study suggests that the health education program related to breast feeding should involve the weaning process as part of the health education material.Key words:Job status, parities, the level of education, the weaning process, toddler
Dukungan Keluarga pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dalam Menjalankan Self-Management Diabetes
Penyakit diabetes melitus tipe 2 (DMT2) memerlukan pengontrolan untuk meminimalisir komplikasi melalui penerapan self-managementyang baik. Efektifitas penerapan self-managementdipengaruhi banyak faktor salah satunya dukungan keluarga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling dekat dengan pasien DM sehingga diharapkan dapat membantu, mengontrol dan membentuk perilaku pasien DM termasuk dalam hal ini perilaku self-management. Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang ini bertujuan untuk menggali dukungan keluarga dalam konteks pasien DM di Indonesia. Sebanyak 78 responden dilibatkan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode concecutive sampling. Dukungan keluarga diukur menggunakan instrumen yang di modifikasi dari The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) dengan skor Alpha Cronbach 0,973 dan korelasi inter-item0.386-0.859. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan dukungan keluarga dikategorikan menjadi favorable(bila skor total individu > nilai mean kelompok 69,62). Hasil penelitian menunjukkan lebih dari setengah responden (55,1%) melaporkan dukungan keluarga favorable. Dari analisis domain dukungan keluarga, dimensi dukungan lingkungan sosial secara umum menunjukkan persentase terendah (48,71%) dibandingkan domain dukungan keluarga yang lainnya. Dengan demikian menjadi penting bagi perawat untuk meningkatkan keterlibatan keluarga dalam perawatan DMT2 serta meningkatkan aspek dukungan lingkungan sosial. Kata kunci: Diabetes melitus, dukungan keluarga, perilaku self-managementAbstractType 2 diabetes mellitus (T2DM) must be controlled to reduce complications through good self-management behaviour (SMB). The effectiveness of SMB is influenced some factors, one of them is family support. family is the closest social enviroment for patients of DM, thus it is hoped to help, control, and create patient of DM behaviour includes self management behaviour. This study was descrition quantitative with cross sectional approach purposed to determine the level of patients’ perceived of family support in Indonesia. Seventy-eight respondents were included for this study by using concecutive sampling methode. The questionnaire for family support was modified from The Diabetes Social Support Questionnaire-Family Version (DSSQ-Family) with Chronbach Alpha 0,973 and inter-itemcorrelation 0,386-0,859. The data collected were analyzed using descriptive analysis, where family support categorized into favorable (if individual score > the respondents mean score = 69.62) and oppositely. The results showed that more than half of respondents (55,1%) reported favorable family support. Regarding family support domains, social network support noted as the lowest percentage (48.71%). Therefore, it is important for nurses and other healthcare professional to improve family involvement in diabetes care especially improving network support aspect.Key words:Diabetes mellitus, family support, self-management behaviou
Makna Spiritualitas pada Klien dengan Sindrom Koroner Akut
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kematian dan kecacatan di dunia akibat sindrom koroner akut (SKA). Perawatan klien dengan SKA masih terfokus pada aspek fisik, sedangkan aspek spiritualitas banyak dilupakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara mendalam makna spiritualitas yang dipersepsikan oleh klien dengan SKA yang menjalani perawatan di ruang intensif jantung RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung. Untuk mencapai tujuan tersebut penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif, dengan jumlah partisipan sebanyak sepuluh orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan content analysis.Berdasarkan hasil penelitian teridentifikasi empat kategori makna spiritualitas dengan sepuluh buah tema, yaitu: (1) Spiritual adalah hubungan dengan diri sendiri dengan dua buah tema antara lain, menerima penyakit sebagai suatu teguran atau cobaan, dan hidup menjadi lebih baik; (2) Spiritual adalah hubungan dengan Tuhan dengan lima buah tema yaitu: kepasrahan pada Tuhan, ibadah atau komunikasi dengan Tuhan, harapan, permohonan ampunan (pertobatan), dan rasa syukur; (3) Spiritual adalah hubungan dengan orang lain dengan dua buah tema yaitu: perhatian, cinta, dan kasih sayang dari orang lain, serta keberhasilan keluarga, memberikan manfaat bagi sesama; dan (4) Spiritual adalah hubungan dengan alam dengan satu buah tema yaitu menyalurkan hobi atau aktivitas di alam. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan perawat lebih sensitif terhadap makna spiritualitas klien dan mendorong penggunaan sumber spiritualitasnya untuk proses penyembuhan klien. Institusi pendidikan diharapkan mampu mempersiapkan perawat yang peka terhadap kebutuhan spiritualitas klien serta diperlukan penelitian lebih lanjut dan lebih luas dalam lingkup perawatan spiritualitas.Kata kunci:Persepsi, spiritualitas,sindrom koroner akut AbstractThis research was conducted due to the high of mortality and disability rate in the world caused by Acute Coronary Syndrome (ACS), however the treatment of ACS’ clients are still focusing on physical aspects rather than spirituality aspects. Actually, these aspects are equally important. Through awareness of the meaning of spirituality, the clients can achieve spirituality comfort. Spiritual comfort can give peacefulness and positive impact to clients’ health. The purpose of the study was to explore the meaning of spirituality in clients with ACS who undergone treatment in the cardiac intensive care RSHS Bandung. The study used a descriptive exploratory design with 10 participants. The data was collected through interviews and observations. The data were analysed using content analysis the data analysis performed using content analysis. The result identified four categories of the meaning of spirituality followed by 10 themes, namely : (1) Spirituality was self-relationship that consists of two themes, include a. Accepted of disease as a reproach or temptation b. Better in life; (2) Spirituality was relationship between human and God, it consists of five themes, namely : a. Self-reliance, b. Worship or communication with God, c. Hope, d. Asking forgiveness or repentance, e. Grateful; (3) spirituality was a relationship with others, it consists of two themes, namely : a. caring, love, affection from others, and the success of the family b. Giving to others; (4) Spirituality was relationship between human with nature, consist of one theme, namely : doing personal interest or activity in the nature environment. Based on the results, nurses are expected to be more understood to the meaning of clients’ spirituality and encouraging them to use their spirituality sources for their healing process. Educational institutions are expected to prepare the student with high sensitivy of clients’ spirituality needs, and then further research of spirituality care is needed with broader scopesKey words: Acute Coronary Syndrome, perception, spiritualit
Pengalaman Ibu dalam Melakukan Perawatan Metode Kanguru
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab tingginya kematian bayi dalam satu bulan pertama kehidupan di Indonesia. Bayi BBLR rentan terhadap hipotermia. Salah satu penanganannya dengan Perawatan Metode Kanguru (PMK). Metode ini tak sekedar menggantikan peran inkubator tapi juga memberi peluang bayi untuk beradaptasi baik dengan lingkungan ekstrauterin. Tujuan penelitian kualitatif deskriptif fenomenologi ini untuk mengeksplorasi pengalaman ibu dalam melakukan PMK. Delapan partisipan terpilih dengan metode purposive dan memenuhi kriteria memiliki bayi BBLR dan berpengalaman melakukan PMK selama dirawat di rumah sakit serta menindaklanjuti di rumah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam sebanyak dua kali yang dilengkapi dengan catatan lapangan, baik yang dilakukan di rumah ataupun di tempat lain yang disepakati oleh partisipan. Wawancara direkam kemudian dibuat transkrip verbatim dan dianalisis dengan metode Colaizzi. Hasil penelitian mengungkapkan kelahiran bayi BBLR menimbulkan ekspresi emosional baik positif dan negatif. Makna, perasaan, alasan dan motivasi yang diungkapkan partisipan adalah mempertahankan kelangsungan hidup bayi, memberi kehangatan, melakukan yang terbaik untuk bayinya. Gambaran cara ibu melakukan PMK mengikuti cara yang diajarkan di rumah sakit, PMK secara kontinu dengan posisi pronasi. Bentuk dukungan berupa dukungan edukasi, emosional dan fisik. Harapan partisipan adanya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, sosialisasi PMK, dan pemantauan perkembangan bayi BBLR. Hasil penelitian ini memberikan implikasi berupa informasi yang bermanfaat untuk mempromosikan posisi lateral dekubitus yang dapat memperbaiki kondisi psikologis ibu dan neuromotor bayi, meningkatkan pelayanan konseling dan memfasilitasi pembentukan kelompok pendukung PMK. Kata kunci: beratbadan lahir rendah, fenomenologi, perawatan metode kanguru AbstractLow birth weight (LBW) baby is one of the causes of high infant mortality rate, especially in the first one month of birth, in Indonesia. LBW babies are vulnerable to hypothermia. The kangaroo mother care method can be used to prevent hypothermia in LBW babies. This method is not only replacing the incubator, but also giving the chance for babies to adapt well with extra-uterine environment. The aim of this descriptive phenomenology study is to explore the mothers’ experience in performing the kangaroo mother care method. Eight participants were chosen using purposive method and fulfilled criteria of having LBW baby and has been performing the kangaroo mother care method in the hospital and continuing this method of care at home. The data were collected twice through in-depth interview in the mothers’ house or elsewhere that has been agreed by participants. The interview is recorded and then transcribed verbatim and analyzed using Colaizzi method. The result shows that the baby, who was born with LBW, caused positive and emotional expression for the mothers. The reason and motivation that is expressed by participants are maintaining the baby survival, giving the warmth for the baby, and doing the best for her baby. The mothers followed the kangaroo method as shown in the hospital which is continuous kangaroo mother care method in prone position. The mothers perceived that they have received support in terms of educational, emotional and physical. The mother are hoping that there will be improvement in health care service quality, socialization of kangaroo mother care method, and monitoring of LBW babies’ development .This study can be used to give information to promote lateral decubitus position that could improve mothers’ psychological condition as well as improve neuromotor of babies , to improve the counseling service, and to facilitate the establishment of support group for kangaroo method. Key words: Low birth weight baby, kangaroo mother care method, phenomenolog