Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
    379 research outputs found

    Perbandingan Oral Care Menggunakan Povidone Iodine 1% dengan Chlorhexidine 0.2% terhadap Jumlah Bakteri di Mulut pada Pasien Penurunan Kesadaran

    No full text
    Oral care klien penurunan tingkat kesadaran tidak boleh diabaikan dan membutuhkan antiseptik oral yang mempunyai sifat antibakteri. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dengan kelompok kontrol, pre dan post test untuk mengidentifikasi perbandingkan povidone iodine 1% dengan chlorhexidine 0.2% terhadap jumlah koloni bakteri di mulut klien penurunan kesadaran. Hasil penelitian pada 30 responden yang diambil secara consecutive sampling dibagi tiga kelompok. Ada perbedaan yang signifikan penurunan jumlah koloni bakteri sebelum dan setelah oral care pada povidone iodine (p=0.007), chlorhexidine (p=0.001) dan air (p=0.001). Perbandingan selisih jumlah bakteri antara povidone iodine 1%, chlorhexidine 0.2% dan kontrol tidak signifikan (p=0,343). Disimpulkan chlorhexidine 0.2% , povidone iodine 1% dan air minum masing-masing mempunyai kemampuan yang signifikan menurunkan koloni bakteri dan dapat digunakan sebagai pembilas oral care. Disarankan secara ekonomis air minum digunakan dalam oral care apabila klien penurunan kesadaran tidak mengalami infeksi mulut, dan chlorhexidine 0.2% atau povidone iodine 1% digunakan bila ada infeksi mulut.Kata kunci: Chlorhexidine 0.2%, koloni bakteri mulut, oral care, penurunan kesadaran, povidone iodine 1%. The Comparison of Oral Care Using Povidone-iodine 1% and Chlorhexidine 0.2% to the Amount of Bacteria on the Patients with Altered State of ConsciousnessAbstractThe oral care of unconscious patients should not be ignored and requires oral antiseptics that have antibacterial properties. This research was a quasi-experimental design with control groups, using pre-post test design. The study was aimed to compare the amount of bacteria colonies after oral care using povidone iodine 1% and chlorhexidine 0.2% on the patients with altered state of consciousness. Using consecutive sampling technique, 30 eligible respondents were divided into three groups. The results of this study identified that there was a significant decreased of the amount of bacteria colonies after oral care using povidone iodine (p= 0.007), chlorhexidine (p=0.001) and water oral care (p=0.001). The difference of the number of colonies for oral care using povidone iodine 1%, chlorhexidine 0.2%, and the control group was not significant (p=0.343). It can be concluded that each of oral care using chlorhexidine0.2%, povidone iodine 1% and water has a significant ability to reduce colonies of bacteria and can be used as an oral care. For economic reason, it was advised to use water for oral care if clients do not experience oral infections, and to use chlorhexidine 0.2% or povidone iodine 1% when there is infection of the mouth.Key words: Chlorhexidine 0.2% , oral care, oral bacteria colonies, povidone iodine 1%, unconsciousness

    Pengaruh Latihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Kualitas Tidur Lansia

    No full text
    Lansia merupakan kelompok orang yang paling sering mengalami penurunan kualitas tidur. Beberapa penelitian menunjukkan manfaat latihan relaksasi otot progresif untuk menghadirkan rasa nyaman yang dibutuhkan dalam mereduksi penyebab gangguan tidur. Penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh relaksasi otot progresif terhadap kualitas tidur lansia. Rancangan penelitian ini Quasi Experimental dengan pendekatan Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel diambil secara Purposive Sampling. Besar sampel 51 responden, terdiri dari 26 responden kelompok intervensi dan 25 responden kelompok kontrol. Kelompok intervensi melakukan latihan relaksasi otot progresif selama empat minggu. Kualitas tidur diukur sebelum dan sesudah latihan relaksasi otot progresif menggunakan instrumen PSQI. Pengukuran dilakukan empat kali, yaitu sebelum intervensi (pre test), dua minggu setelah intervensi (post test 1), tiga minggu setelah intervensi (post test 2), dan empat minggu setelah intervensi (post test 3). Data dianalisis menggunakan t test dan Repeated Anova. Hasil Uji t berpasangan kelompok intervensi menunjukkan nilai t hitung > t tabel, dengan p = 0,000. Pada kelompok kontrol diperoleh nilai t hitung < t tabel, dengan p > 0,05. Uji Repeated Anova memeroleh nilai F hitung (71,415) > F tabel (3,89) dengan p=0,000. Uji t tidak berpasangan didapatkan skor pretest, posttest 1, posttest 2 dan posttest 3 berbeda signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan p < 0,05. Rata-rata skor PSQI kelompok intervensi menunjukkan kecenderungan penurunan setelah latihan relaksasi otot progresif, sedang kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan skor secara bermakna. Hal ini dimungkinkan karena latihan relaksasi otot progresif bermanfaat menimbulkan respon tenang, nyaman, dan rileks. Implikasi penelitian ini bahwa latihan relaksasi otot progresif secara bermakna meningkatkan kualitas tidur lansia sehingga dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer dalam tatalaksana gangguan tidur pada lansia sebagai tindakan mandiri keperawatan.Kata kunci: Kualitas tidur, lansia, relaksasi otot progresif.The Effect of Progressive Muscle Relaxation Exercise towards Older People’s Quality of SleepAbstractOlder people are the group of people who often experience the decreasing of quality of sleep. Few studies showed the benefit of progressive muscle relaxation exercise to give comfort that is needed to reduce the cause of sleep disturbance. This study aimed to examine the effect of progressive muscle relaxation exercise towards older people’s quality of sleep. The research design is quasi experimental using pretest-posttest control group design. The sample were recruited using purposive sampling. The total sample were 51 participant which consist of 26 participants in intervention group and 25 participants in control group. Intervention group were conducted progressive muscle relaxation exercise for four weeks. The quality of sleep were measured before and after the exercise using PSQI instrument. The measurements were conducted four times, which were before intervention (pretest), two weeks after intervention (posttest 1), three weeks after intervention (posttest 2), and four weeks after intervention (posttest 3). The data were analyzed using t-test and Repeated ANOVA. The paired t-test for intervention group showed that the score of counted t > table t, with p = 0.000. In the control group, the results showed that counted t < table t score, p >0.005. The repeated ANOVA showed that counted F (71.415) > table F (3.89) with p= 0.000. Independent t-test showed that scores of pretest, posttest 1, posttest 2 and posttest 3 were different significantly between intervention and control groups with p<0.05. The average PSQI scores in intervention group showed a tendency of decreasing after progressive muscle relaxation exercise, while in the control group there was no significant changes in the scores. This is because the progressive muscle relaxation exercise is benefit to give calming, comforting and relaxing responses. The implication of this study is that progressive muscle relaxation exercise can significantly improve the quality of sleep of older people so that this exercise can be considered as a complementary therapy for management of sleep disturbance among older people as an independent nursing care.Keywords: Older people, progressive muscle relaxation exercise, quality of sleep

    Efektivitas Comprehensive Breastfeeding Education terhadap Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Postpartum

    No full text
    Pemberian Air Susu Ibu (ASI) masih merupakan masalah bagi pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi baru lahir. Dukungan agar ibu menyusui bayi merupakan hal penting dalam menginisiasi dan mempertahankan pemberian ASI. Strategi dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan menyusui. Tujuan penelitian adalah menganalisis efektivitas comprehensive breastfeeding education terhadap keberhasilan pemberian (ASI) pada periode postpartum. Jenis penelitian ini menggunakan kuasi eksperimen one group pre post test repeated measured design. Jumlah sampel sebanyak 22 ibu dengan menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2013 di Puskesmas wilayah Kota Tangerang Selatan. Intervensi dilakukan selama 30 menit. Pengumpulan data dilakukan sebelum intervensi, 3 hari setelah intervensi (post1), dan 10 hari setelah intervensi (post 2). Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan observasi. Keberhasilan pemberian ASI berdasar pada parameter pengetahuan, langkah menyusui, perlekatan bayi, dan kecukupan ASI. Analisis data menggunakan general linear model repeated measureANOVA. Hasil penelitian menunjukkan adanya signifikansi comprehensive breastfeeding education (p=0.001). Rata-rata keberhasilan pemberian ASI sebelum dan setelah intervensi meningkat. Sebesar 93,9% intervensi memengaruhi tingkat keberhasilan. Rata-rata sebelum intervensi 56,74 (SD 5,92), post 1 sebesar 60,83 (SD 6,38) dan post2 sebesar 74,55 (SD 5,32). Subvariabel yang memiliki efek secara signifikan setelah intervensi adalah pengetahuan (p=0.001) dan langkah menyusui (p=0.001), sedangkan subvariabel perlekatan bayi (p=0.061) dan kecukupan ASI (p=0.162) tidak secara signifikan berbeda antara sebelum dan setelah intervensi. Pelaksanaanbreastfeeding education disarankan pada ibu agar dapat melakukan posisi perlekatan bayi yang benar sehingga dapat mengurangi masalah-masalah berkaitan dengan perlekatan yang tidak sesuai seperti puting perih, lecet atau berdarah, dan bayi kurang puas dalam menyusu yang bisa mengakibatkan gagalnya program ASI ekslusif.Kata kunci:Menyusui, pendidikan, perlekatan, postpartum AbstractBreastfeeding have still been problem for adequate newborn nutrition. Adequate breastfeeding support is essential for mothers to initiate and maintain optimal breastfeeding practices. A strategic needed to support successful breastfeeding. The purpose of research is to analyze the effectiveness comprehensive breastfeeding education on successful breastfeeding at postpartum periods. A quasi-experimental one group pretest, post test, repeated mesaured was used. This study was conducted at public health in Tangerang Selatan municipality in September-October 2013 among 22 postpartum mothers, convenience sampling methods. Intervention was done 30 minute. Data were collected before intervention (pretest), third day after intervention (post 1) and tenth day after intervention (repeated/post 2) using four parameter, that are knowledge, breastfeeding steps, proper lacth-on and adequate breastmilk. Using repeated measures analysis of variance there was a significant increase (p=0.001) in the overall Successful breastfeeding mean. Around 93,9% the effectiveness of intervention influence on successful. The mean before intervention is 56,74 (SD 5,92), increased at post 1:60,83 (SD 6,38) and post 2:74,55 (SD 5,32). Subvariable which has effect significantly after intervention is knowledge (p=0.001) and breastfeeding steps (p=0.001), in contrary, proper latch-on (p=0,061) and adequate breastmilk (p=0.162) have no significant effect after intervention. Suggestion to support breastfeeding education and counselling proper latch-on adequately that can decrease the problem such as painful, creaks or bloody putting.Key words: Breastfeeding, education, latch-on, postpartu

    Peripherally Inserted Central Catheterdan Pemberian Terapi Intravena pada Neonatus

    No full text
    Penelitian sebelumnya menemukan bahwa Peripherally Inserted Central Catheter (PICC) efektif dalam pemberian terapi intravena. Belum banyak penelitian yang membandingkan pemberian terapi intravena antara akses intravena yang biasa dilakukan saat ini. Penelitian ini bertujuan membandingkan antara akses intravena perifer dengan Peripherally Inserted Central Catheter(PICC) terhadap efektivitas pemberian terapi intravena pada neonatus. Jenis penelitian ini adalah deskriptif komparatif. Dengan teknik purposive sampling, 32 neonatus diikutsertakan sebagai subjek yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok dengan akses intravena perifer dengan PICC. Pada kelompok dengan akses intravena perifer (n=16) dan pada kelompok dengan PICC (n=16). Efektivitas akses intravena dinilai dari kesesuaian terapi intravena yang didapat neonatus dengan kebutuhan yang seharusnya selama 24 jam dalam waktu lima hari menggunakan lembar observasi. Data dianalisis menggunakan uji fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian terapi intravena menggunakan PICC lebih efektif dibandingkan pemberian terapi intravena menggunakan akses intravena perifer (Ï=0.00). Perawatan neonatus yang membutuhkan terapi intravena di rumah sakit lebih disarankan menggunakan PICC dibandingkan dengan akses intravena perifer.Kata kunci:Akses intravena perifer, neonatus, Peripherally Inserted Central Catheter(PICC), terapi intravena AbstractPrevious studies have found that peripherally inserted central catheter (PICC) is effective for delivering an intravenous therapy. However, few studies were found to compare the effectiveness of PICC with peripheral intravenous access. The purpose of this study was to compare the effectiveness of intravenous therapy using peripheral intravenous access and PICC in hospitalized neonates. This study was a descriptive comparative. By using a purposive sampling technique, 32 neonates were involved as subjects of peripheral IV access group (n=16) and PICC group (n=16). Data were collected using observation forms for 24 hours within 5 days in a row. A Fisher Exact test was utilized to analyze the data. The results indicated that PICC was more effective than peripheral intravenous access (Ï=0.00) in providing intravenous therapy for neonates. Accordingly, PICC is recommended for neonates requiring intravenous therapy in the hospital. Key words: Intravenous therapy, neonates, peripheral intravenous access, Peripherally Inserted Central Catheter (PICC

    Efek SuctionMelalui Catheter Mouth terhadap Saturasi Oksigen Pasien Cedera Kepala

    No full text
    Tindakan suction endotrachealpada pasien cedera kepala berat dapat menyebabkan terjadinya oxygendesaturationarteri yang berakibat pada peningkatan intracranial pressure, pembengkakan otak dan hipoksemiasistemikbahkan dapat menyebabkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplai oksigen melalui catheter mouthsaat suction terhadap saturasi oksigen pada pasien cedera kepala yang terpasang ventilator yang dirawat di ruang perawatan intensif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian desain kuasi eksperimen pendekatan pre dan post test dengan kelompok kontrol dan perlakuan. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 responden yang dibagi menjadi kelompok perlakuan sebanyak 20 responden yang dipasang catheter mouthdan kelompok kontrol sebanyak 20 responden tanpa menggunakan catheter mouth. Teknik sampel menggunakan accidental sampling. Penurunan saturasi oksigen nilai thitung (-16,538) < ttabel (-2,024) dan nilai p-value(0.000) < 0.05. Saturasi oksigen saat suctionpada kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan adalah memang berbeda secara nyata. Hasil penelitian ini dapat dijadikan evidence basedbagi perawat di ruang intensif untuk meningkatkan pelayanan perawatan dalam melakukan tindakan suctionuntuk mengurangi resiko terjadinya penurunan saturasi oksigen pada pasien cedera kepala berat yang terpasang ventilator. Kata kunci : catheter mouth, suction,saturasi oksigen AbstractThe intervention of endotracheal suction to patients with the severe head injury may have effected to oxygen desaturation in arteries. The oxygen desaturation process could be impacted to increase the intracranial pressure, brain’s swelling, hypoxemia systemic, and deaths. This study aimed to evaluate the influence of the oxygen supply via oral catheterization in the suction process to the oxygen saturation level in the patient with the severe head injury who using ventilator. This research has been conducted in the intensive care unit. This study was applied the quasi experiment design using pre and post-test. Samples were chosen using accidental sampling. There were two groups of samples, the first group was the intervention group with 20 respondents using oral catheterization, and the second group was the control group with 20 respondents. The result showed that the oxygen saturation was reduced with t value (-16.538) < t table (-2.024), and p value (0.000) < 0.05. The oxygen saturation was significantly different between two groups. This study could be an evidence that nurses should enhance their services to reduce the risk of decreasing the oxygen saturation in the severe head injury patient who using ventilator.Key words:Catheter Mouth, oxygen saturation, suctio

    Urban Diabetic Women’s Perception of Healthy Eating Lifestyles from West Java

    No full text
    This study aimed to explore perceptions about a healthy-eating lifestyle and reasons to practice a healthy-eating lifestyle of women with type 2 diabetes in a city of West Java by using a case study design. Six female patients, with type 2 diabetes, ages 47-63 from a hospital were interviewed guided by the health promotion model. Their healthy-eating lifestyle included currently practicing or not practicing a healthy-eating lifestyle. Reasons to practice were: beliefs for health and for physical energy to work for family, definition of multidimensional health and self-efficacy increased by: support from God, support from family, support from health professionals and improved or deteriorated health status by prior experience. Reasons not to practice were: difficulty in arranging diet, rejecting eating, controlling appetite, and accessing health care services. Related difficulties were interpersonal relations with family and social situation such as social events, expensive medical fee, and distance to the hospital. These findings suggest that women with type 2 diabetes in Indonesia need to be supported with the reasons to practice a healthy-eating lifestyle.Key words:Diet, health promotion, Indonesia, type 2 diabetes, women AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi persepsi tentang gaya hidup mengonsumsi makanan sehat dan alasan untuk mempraktikkan gaya hidup memakan makanan sehat pada wanita penderita diabetes tipe 2 di satu kota di Jawa Barat dengan menggunakan desain penelitian studi kasus. Enam pasien wanita penderita diabetes tipe 2 berumur antara 47-63 tahun. Penelitian ini dilakukan di sebuah rumah sakit. Pasien diwawancara secara terbimbing menggunakan model promosi kesehatan. Gaya hidup partisipan dalam mengonsumsi makanan sehat dinilai dalam penelitian ini, termasuk yang sedang dipraktikkan atau tidak sedang dipraktikkan. Hasil penelitian menunjukkan alasan partisipan untuk mengonsumsi makanan sehat adalah: keyakinan untuk sehat dan kekuatan fisik untuk bekerja bagi keluarga, definisi kesehatan multidimensi dan efikasi diri meningkat oleh dukungan Tuhan, dukungan dari keluarga, dukungan dari petugas kesehatan, dan meningkatnya atau menurunnya status kesehatan oleh pengalaman sebelumnya. Alasan untuk tidak mengonsumsi makanan sehat adalah kesulitan dalam: mengatur diet, menolak makan, mengontrol nafsu makan, dan kesulitan mengakses pelayanan kesehatan. Kesulitan-kesulitan yang terkait dengan masalah ini adalah hubungan interpersonal dengan keluarga dan situasi sosial seperti acara-acara sosial, biaya medis yang mahal, dan jarak ke rumah sakit. Penelitian ini menyarankan peningkatan dukungan bagi wanita penderita diabetes tipe 2 di Indonesia agar mempraktikkan gaya hidup memakan makanan yang sehat.Kata kunci:Diabetes tipe 2, Indonesia, makanan, promosi kesehatan, wanit

    Hubungan Persepsi dengan Perilaku Ibu Membawa Balita ke Posyandu

    No full text
    Posyandu merupakan pusat pemantauan tumbuh kembang balita berbasis masyarakat, namun masih banyak ibu yang tidak membawa anak berkunjung teratur ke posyandu. Di Kabupaten Bandung, Posyandu Desa Cimekar memiliki angka kunjungan balita yang terendah yaitu 70,3% pada Bulan Oktober- Desember 2013. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara persepsi ibu dengan perilaku membawa balita ke posyandu dengan pendekatan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 94 ibu balita yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling di 10 Posyandu Desa Cimekar. Analisis menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,12% memiliki persepsi positif tentang posyandu dan 59,57% responden memiliki perilaku rutin membawa balita ke posyandu. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan antara persepsi dengan perilaku ibu membawa balita ke posyandu (nilai p=0,000; α=0,05). Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi ibu tentang posyandu belum merata dengan baik. Hasil penelitian ini merekomendasikan agar puskesmas memberikan pembinaan terhadap para ibu balita bukan hanya penyuluhan, namun diberikan pengarahan dan bimbingan tentang pentingnya membawa balita ke posyandu. Kata kunci: Balita, Health Belief Model, perilaku, persepsi, posyandu The Relationship between Mother’s Perception and Behavior on Attending Posyandu Abstract Community health post as well known as posyandu provide as center to monitor growth in children under five years old. Data showed that the number of mother’s attendance behavior to Posyandu in Cimekar’s Village was very low, only 70.5% from October to December 2013. The aimed of this study was to identify the relationship between mother’s perception and parents behavior on taking their children to posyandu based on Health Belief Model Theory. The method of this study was descriptive with cross sectional study. Simple random sampling was used as sampling technique with 97 mothers who has child under five years old among 10 Posyandu in Cimekar was taken in this study. Data was analyzed by chi-square. The result of this study showed that there was significant relationship between mother’s perception and mother’s behavior to attend Posyandu (p=0.000; α=0.05). Data showed that 52.25% respondents had a positive perception about posyandu and 59.5% respondents had positive behavior to take their child to posyandu. The recommendation for Puskesmas is to give further information and motivation to mother to attend posyandu frequently.Key words: Behavior, child under five years old, Health Belief Model, perception, posyandu

    Studi Kasus Ketidakpatuhan Orang Kontak Serumah terhadap Anjuran Pemeriksaan Tuberkulosis

    No full text
    Ketidakpatuhan orang kontak serumah terhadap anjuran pemeriksaan Tuberkulosis (TB) merupakan fenomena kompleks, dinamis dari faktor yang berkaitan dengan perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menggali perilaku ketidakpatuhan orang kontak serumah terhadap anjuran pemeriksaan TB dengan menggunakan Health Belief Model(HBM). Penelitian ini adalah studi kasus yang dilakukan di Kelurahan Pajajaran Kota Bandung. Subjek penelitian adalah sembilan orang kontak serumah dan enam orang perawat Puskesmas Pasirkaliki. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, observasi pasif tidak berstruktur, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah. Data dianalisis dengan menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian meliputi persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat pemeriksaan orang kontak serumah, dan isyarat untuk melakukan tindakan berdasarkan HBM. Persepsi orang kontak serumah tentang kerentanan TB meliputi adanya perasaan takut tertular, melakukan pemisahan, dan menerima takdir. Persepsi orang kontak serumah mengenai keseriusan penyakit TB yaitu kematian, perasaan malu atau minder. Persepsi orang kontak serumah tentang manfaat skrining yaitu akan diketahui apakah orang kontak serumah terkena TB atau tidak. Isyarat untuk melakukan tindakan pemeriksaan TB menurut orang kontak serumah yaitu apabila mereka sudah sakit atau muncul gejala-gejala TB. Hasil penelitian dari perawat menunjukkan bahwa perawat mengetahui bahwa salah satu standar program penanggulangan TB (P2TB) adalah pemeriksaan TB pada orang kontak serumah penderita TB paru terutama yang basil tahan asam (BTA) positif dan anak dengan TB. Pemeriksaan TB tersebut dilakukan dengan pemeriksaan dahak sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Persepsi perawat mengenai hambatan dalam menjalankan peran dan fungsinya yaitu adanya keterbatasan jumlah tenaga di puskesmas, pendidikan perawat masih rendah, dan perawat mendapat tugas limpahan di klinik. Kata kunci:Ketidakpatuhan, kontak serumah, pemeriksaan TB, studi kualitatif. AbstractNon-adherence of household contacts to undergo screening for Tuberculosis (TB) is a dynamic and complex phenomenon of the various factors related to behaviour. The objective of this study was to explore the behaviours related to non-adherence of household contacts to undergo screening for TB. This study is a descriptive case study that was conducted at the Pajajaran village, Bandung city. Participant were 9 household contacts of smear positive TB patients and 6 nurses who is working in the Pasirkaliki Community Health Center (CHC). Data collection was performed with the study documentation, non-structured passive observation, in-depth interview, and focus group discussion (FGD). Data analysis was according to Miles and Huberman model, which consist of data reduction, data display and drawing conclusions. The result includes perception of vulnerability of TB, perceptions of seriousness of TB, perceptions of benefits of TB screening, and cues to action for the TB patients household contact. The result showed that perceptions of the household contact of TB vulnerability were: fear of infection, make the separation and accept fate. Perceptions of the seriousness of TB were that TB could cause death and feelings of shame or inferiority. As for the perception of benefits was by doing screening,it will be known whether household contacts are exposed to TB or not. While the cues to action for household contact to perform screening for TB was if they are sick or have emerging symptoms of TB. The nurses knew that according to P2TB (TB management program) standards, the household contacts of TB patients should undergo screening for TB, especially for smear-positive pulmonary TB patients and paediatric TB. They knew that TB screening was done through sputum smear microscopy. Nurses’ perceptions about the barriers in carrying out their role and function were limited number of human resources in CHC, lack of education, and the presence of abundance tasks at the clinic. . Key words:Household contact, non-adherence, qualitative study, TB screening

    Analisis Faktor Risiko Reproduksi yang Berhubungan dengan Kejadian Kanker Payudara pada Wanita

    No full text
    Kanker payudara paling banyak ditemui pada perempuan dan merupakan penyebab kematian kedua setelah kanker leher rahim.Penyebab kanker payudara tidak diketahui dengan jelas karena multifaktor. Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor penyebab terjadinya kanker payudara yaitu faktor hormonal, faktor genetik dan faktor lingkungan. Provinsi Sumatera Utara menempati urutan kelima kejadian kanker payudara di antara seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko reproduksi dengan kejadian kanker payudara. Jenis penelitian ini adalah kasus kontrol dengan pendekatan retrospektif. Subjek penelitian adalah perempuan penderita kanker payudara yang mendapatkan perawatan dan pengobatan di Rumah Sakit Umum Pemerintah H.Adam Malik dan Rumah Sakit Umum Daerah dr.Pirngadi Medan. Jumlah sampel 100 responden yang terdiri dari 50 kasus dan 50 kontrol. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara berdasarkan analisis bivariat adalah usia menarche (p=0.001), paritas (p=0.001), usia kehamilan pertama (p=0.001) dan menyusui (p=0.002). Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa keempat faktor risiko yang diteliti secara statistik bermakna (p<0.05), yaitu usia menarche (OR=4,41;95%CI: 1,33 ̶14,63), paritas (OR=6,38;95%CI: 1,57-25,90), usia kehamilan pertama (OR=7,91;95%CI; 1,86−33,60) dan menyusui (OR=4,24;95%CI:1,22-14,76). Dapat disimpulkan bahwa faktor risiko reproduksi yang berhubungan dengan kejadian kanker payudara adalah usia menarche<12 tahun, paritas 1-2, usia kehamilan pertama 20-30 tahun dan tidak menyusui. Faktor risiko yang paling dominan dalam penelitian ini adalah usia kehamilan pertama.Kata kunci: Faktor risiko, kanker payudara, reproduksi AbstractBreast cancer is most commonly found in women, and is the second leading cause of death after cervical cancer. Due to its multifactorial nature, the cause of breast cancer is indeterminate. Epidemiological evidence suggests that there are 3 possible factors contributing to the occurrence of breast cancer, namely hormonal, genetic and environmental factors. North Sumatra is the 5th province having the highest breast cancer prevalence among all other provinces in Indonesia. The purpose of this study was to analyze various reproductive risk factors contributing to breast cancer incidence in women. The study was a retrospective case-control. Subjects were women with breast cancer who received care and treatment in H.Adam Malik General Hospital and dr.Pirngadi Medan General Hospital. The sample size was N=100 (n=50 - case group; n=50 - control group). The data were analyzed using bivariate analyses (Chi-square tests) and multivariate analyses (multiple logistic regressions). Bivariate analyses showed that reproductive risk factors associated with breast cancer were menarche period (p=0.001), parity (p=0.001), age of first pregnancy (p=0.001) and breastfeeding (p=0.002). Moreover, multivariate analyses showed statistically significant correlations (p <0.05) between the four reproductive risk factors and breast cancer incidence, including menarche period (OR=4.41, 95% CI: 1.33 ̶ 14.63), parity (OR=6.38, 95% CI : 1.57 ̶ 25.90), age of first pregnancy (OR=7.91, 95% CI: 1.86 to 33.60) and breastfeeding (OR= 4.24, 95% CI: 1.22 ̶ 14.76). In conclusion, the reproductive risks associated with breast cancer incidence in women were the menarche period of <12 years, parity of 1 ̶ 2 times, first pregnancy age of 20 ̶ 30 years old and non-breastfeeding status. In this study, the age of the first pregnancy was found to be the most dominant factor. Key words: Breast cancer, reproductive, risk facto

    Perbedaan Penurunan Suhu Tubuh Anak Bronchopneumonia yang diberikan Kompres Hangat di Axilla dan Frontal

    No full text
    Bronchopneumoniapada anak saat ini menjadi penyakit yang paling sering terjadi pada anak. Masalah keperawatan utama yang terjadi pada anak dengan pneumonia adalah terjadinya demam yang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan penurunan suhu tubuh pada anak demam dengan bronchopneumonia yang diberikan intervensi kompres hangat di axilladan frontaldi Ruang Anak RS “Xâ€. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan rancangan pretest and posttest two group before after design. Sampel berjumlah 30 orang dengan usia 0-12 bulan, diambil secara purposivesampling. Alat ukur yang digunakan termometer digital. Analisis data dilakukan dengan dependent sample t testdan independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata suhu tubuh pada anak demam dengan bronchopneumoniasebelum diberikan intervensi kompres hangat di daerah axilla38,51ºC sedangkan di frontal38,34ºC. Rata- rata suhu tubuh setelah diberikan intervensi di axilla37,89ºC dan di frontal37,98ºC. Rata-rata penurunan suhu tubuh setelah diberikan intervensi di axilla0.62ºC sedangkan di daerah frontal0.36ºC (nilai p=0.000; α=0.05), sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara pemberian kompres hangat di axilladan di frontalterhadap penurunan suhu tubuh pada anak demam. Saran berdasarkan hasil penelitian, pemberian kompres hangat di axilladapat dijadikan intervensi dalam menurunkan suhu tubuh anak yang mengalami demam. Kata kunci: Axilla, bronchopneumonia, demam, frontal, kompres hangat AbstractBronchopneumonia is the most common diseases in children. The primary nursing problems occurred in children with bronchopneumonia is fever. This could be danger if could not treated appropriately. The aimed of this study was to identified the differences between warm compress intervention in axilla and frontal to reduce fever in children with bronchopneumonia in hospital X in Bandung. The method used in this study was quasi experiment with two group pre and post test design. Purposive sampling was used as sampling technique in this study, with 30 respondents were participated in this study. Data was analysed using dependent t test and independent t test. Result of this study showed the average of body temperature in febrile children with bronchopneumonia before warm compress intervention in axilla is 38.51 º C , while in the frontal 38.34º C. The average of body temperature after a given intervention in the axilla is 37.89º C, while in the frontal is 37.98ºC. There was a significant temperature’s decreases between frontal and axilla after intervention (p = 0.000; α = 0.05). There was a significant difference between giving a warm compress in the axilla and in the frontal the decrease in body temperature in febrile children. Based on this study, it can be concluded axillary warm compress can be used as an effective intervention to reduce fever in children.Key words:Axilla, bronchopneumonia, fever, frontal, warm compresse

    0

    full texts

    379

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Padjadjaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇