Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
    379 research outputs found

    Pemanfaatan Terapi Tradisional dan Alternatif oleh Penderita Gangguan Jiwa

    No full text
    Sampai saat ini masih sedikit informasi dari hasil-hasil penelitian tentang pemanfaatan terapi tradisional dan alternatif oleh para penderita gangguan jiwa di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pemanfaatan terapi tradisional dan alternatif di antara penderita gangguan jiwa di Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan Charmaz Constructive Grounded Theory untuk mengeksplorasi pemanfaatan terapi tradisional dan alternatif di antara pasien yang menderita gangguan jiwa. Metode pengumpulan data termasuk interaksi langsung (wawancara semi-terstruktur), document review, catatan lapangan dan memo. Data analisis menggunakan pendekatan Paille data analisis. Penelitian menghasilkan lima kategori: 1) kerasukan oleh setan atau roh; 2) penyakit akibat berdosa; 3) Berobat ke tradisional dulu baru akhirnya ke rumah sakit jiwa; 4) kekerasan; 5) takut dengan pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi tradisional dan alternatif dan orang pintar (dukun, para pemimpin agama Islam, pendeta, paranormal dan pengobatan tradisional Cina) memiliki peran sentral dalam mendukung dan menawarkan solusi ketika seseorang memiliki gangguan jiwa di Indonesia. Para terapis atau ‘orang pintar’ biasanya merupakan pilihan pertama dari keluarga dan anggota ‘masyarakat lainnya jika berhubungan dengan terapi yang orang yang menderita gangguan jiwa. Penelitian lanjut diperlukan untuk melihat efektivitas terapi tradisional dan alternatif ini yang masih kurang diteliti dan didokumentasikan di Indonesia. Penelitian lebih lanjut juga perlu dilakukan untuk memahami sikap atau perspektif keluarga, masyarakat dan staf lembaga pemerintahan sebagai partisipan terkait dengan pengobatan tradisional dan alternatif ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian kuantitatif diperlukan untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaaatan terapi tradisional dan alternatif oleh penderita gangguan jiwa di Indonesia.Kata kunci: Gangguan jiwa, terapi, tradisional-alternatif. Traditional and Alternative Therapies Usage by Psychiatric Patients: A Grounded Theory.AbstractUntil recently, little information is known from studies regarding the use of traditional and alternative therapies by people with mental illness in Indonesia. This study explored the use of traditional or alternative therapies among mentally ill sufferers in Indonesia. A Charmaz’s Constructivist Grounded Theory method was used to explore the use of traditional or alternative therapies among patients as a result of suffering from mental illness. Data collection method involved direct interaction (semi-structured interviews), mute evidence (document review), field notes and memos. Paillé (1994) data analysis was employed to organize and manage data. Study has led to five categories: 1) possessed by Satan or spirit; 2) sinful illness; 3) treatment at traditional before going to the hospital; 4) violence; 5) fear of treatment. Study results indicated that complementary - alternative treatments and ‘smart people’ (shamans, Islamic leaders, chaplains, paranormal and traditional Chinese medicine) have a central role in supporting and offering solutions when someone has a mental illness in Indonesia. Visiting therapists or ‘smart people’, is usually the first choice of patients, families and other community members when dealing with the mentally ill treatments. Further research is needed to see the effectiveness of traditional or alternative therapy which is still poorly researched and documented in Indonesia. It is also needed to understand the attitude or perspective of the family, the community and government staff as participants regarding traditional or alternative therapies. This study used a qualitative approach, thus quantitative research is needed to examine the factors that affect the utilization of traditional or alternative therapies by mentally ill people in Indonesia..Key words: Alternative, mental illness, therapy, traditional

    Pengaruh Modul Pemberdayaan Keluarga tentang Toilet Training terhadap Kemandirian Eliminasi Anak di PAUD

    No full text
    Anak prasekolah harusnya dapat mengontrol BAB/BAK secara mandiri, namun berdasarkan survey kesehatan rumah tangga nasional, 75 juta anak prasekolah susah mengontrol BAB/BAK, sehingga anak mengompol dan buang air besar di celana, keadaan tersebut bila berlangsung lama akan mengganggu tugas perkembangan anak. Keluarga menentukan keberhasilan anak BAB/BAK di toilet, sehingga pengetahuan,sikap, dan keterampilan keluarga mengenai toilet training menjadi penting. Penelitian ini menganalisis pengaruh modul pemberdayaan keluarga tentang toilet training terhadap kemandirian eliminasi anak. Jenis quasi experiment, pre-post test two group design. Sampel sebanyak 58, yaitu 29 subjek kelompok perlakuan dan 29 subjek kelompok kontrol, diambil dengan multi stage random sampling. Lembar observasi digunakan untuk mengukur kemandirian eliminasi anak, variabel tersebut diukur sebelum dan sesudah keluarga diberi modul toilet training untuk digunakan melatih anaknya selama 4 minggu. Data dianalisis dengan uji T independent. Hasil uji statistik menunjukkan kemandirian eliminasi BAB/BAK anak di toilet pada kelompok perlakuan lebih baik daripada kelompok kontrol (p-value = 0,000) (p<0,05). Simpulan penelitian ini bahwa penggunaan modul toilet training oleh keluarga meningkatkan kemandirian eliminasi anak BAB/BAK di toilet. Disarankan bagi keluarga dan PAUD, agar anak umur prasekolah yang belum bisa BAB/BAK secara mandiri dikoreksi secara dini dengan toilet training secara benar dan intensif agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.Kata kunci: Anak, kemandirian eliminasi, modul, toilet training. The Effect of Family Empowerment regarding Toilet Training Module towards Children’s Independence for Toileting in PAUD (Early Child Education)AbstractPre-school children should be able to control urination/defecation independently, however, based on national household health survey 75 million of pre-school children were difficult to control their urination/defecation, so that they urinated and defecated in their pants. These conditions, if happened in prolonged time, would impair the development tasks of the children. Families determine the success of children toilet training. Therefore, knowledge, attitude, and skills of the families regarding toilet training are important. This study analyzed the effect of the module of family empowerment regarding toilet training towards the independence of toileting among children. Quasi-experiment with pre-posttest two group design was used. The sample of 58 participants, which divided into 29 participants in intervention group and 29 participants in control group, were recruited using multi stage random sampling. Observation sheet were used to measure the children’s independence for toileting, this variable were measured before and after the families were given toilet training module to train the children for 4 weeks. The data were analyzed using t-independent. The results showed that the children’s independence in toileting were better in the intervention group compared to the control group (p-value = 0.000) (p<0.05). The conclusion of this study is that the use of toilet training module by the families can increase the children’s independence in toileting. It is suggested for families and early child education to provide toilet training for children as early as possible in a right way intensively so that the children can grow and develop optimally.Keywords: Children, module, toileting independence, toilet training

    Hubungan IMT dan Kadar Albumin berhubungan dengan Penyembuhan Luka

    No full text
    Pasien perioperatif gastrointestinal berisiko tinggi mengalami malnutrisi. Malnutrisi dapat menyebabkan hasil yang tidak diharapkan pada asuhan keperawatan perioperatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan status gizi pasien bedah gastrointestinal berdasarkan parameter antropometri (Indeks Massa Tubuh, Tebal Lipatan Kulit, dan Lingkar Lengan Atas) dan klinis (albumin dan tingkat hemoglobin) dengan penyembuhan luka dan lama rawat inap, serta mengidentifikasi asupan makanan pasien pra dan pasca operasi. Penelitian cross-sectional ini mengukur 38 pasien yang menjalani pembedahan gastrointestinal di sebuah rumah sakit umum daerah di Indonesia. IMT, TLK, LLA, albumin dan kadar hemoglobin diukur sebelum dan sesudah operasi. asupan makanan diukur dengan 24 jam makanan Recall. Sementara penyembuhan luka pasien diukur pada hari ke-3 dan ke-7 hari pasca pembedahan. Terjadi peningkatan prevalensi malnutrisi pada pasien sebesar 60% selama tinggal di rumah sakit. IMT dan kadar albumin secara bermakna berhubungan dengan penyembuhan luka (p <0,05). Rerata lama rawat inap pasien dengan IMT normal (13,8 ± 5,6 hari) lebih pendek dari pasien gizi kurang (27,8 ± 17,7 hari) dan pasien gizi lebih (22,4 ± 11,6 hari). Asupan pasien umumnya di bawah kebutuhan mereka. IMT, tingkat albumin, dan asupan makanan memiliki peran penting untuk penyembuhan luka dan lama rawat inap pasien pembedahan gastrointestinal di rumah sakit. Rumah sakit harus melakukan penilaian awal status gizi pasien (setidaknya IMT dan kadar albumin) untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien, dan memberikan intervensi yang tepat sebelum dan setelah operasi.Kata kunci: Kadar albumin, lama rawat inap, penyembuhan luka, status gizi. Body Mass Index and Albumin Level related to Wound HealingAbstractPatients with gastrointestinal perioperative are at high risk of being malnutrition. Malnutrition could cause an adverse outcome of perioperative nursing care. This study aimed to identify the relationship of nutritional status of gastrointestinal surgical patients based on anthropometrical (Body Mass Index, Tricep Skin Fold, Mid Arm Circumference) and clinical laboratory (albumin and haemoglobin level) parameters to wound healing and length of stay (LOS), and identify food intake of patients pre and post surgery. This cross-sectional study included 38 patients who were undergoing gastrointestinal surgery at a regional hospital in Indonesia. BMI, TSF, MAC, albumin and hemoglobin level were measured pre and post surgery. Food intake was measured by 24 hours Food Recall. While patients wound healing was measured on the 3rd and 7thday of surgery. Malnutrition among patients increases 60% during the stay in the hospital. BMI and albumin level were significantly related to wound healing (p<0,05). The average LOS of patients with normal BMI (13.8 ± 5.6 days) was shorter than the underweight patient (27.8 ± 17.7 days) and overweight patients (22.4 ± 11.6 days). Intake of patients was generally under the need of their body. BMI status, albumin level, and food intake play a significant role to wound healing and length of stay patient gastrointestinal surgery at the hospital. The hospital should perform an initial assessment (at least BMI and albumin level) of nutritional status of patients to identify the need for patients, and provide appropriate intervention before and after surgery.Keywords: Albumin level, length of stay, nutritional status, wound healing

    Kebutuhan Spiritual pada Pasien Kanker

    No full text
    Spiritual care merupakan hal yang penting bagi pasien kanker. Namun pelayan keperawatan masih terfokus pada aspek fisik, sehingga data mengenai kebutuhan spiritual pasien kanker di Indonesia belum komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan spiritual pada pasien kanker serta tingkat kebutuhannya. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan 76 pasien kanker yang sedang menjalani perawatan di salah satu RS di Bandung yang diambil dengan accidental sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen Spiritual Needs Questionaire 2.1 (SPNQ 2.1) yang meliputi aspek religi, kedamaian dan eksistensi diri. Analisa data kebutuhan spiritualitas menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, sedangkan nilai rerata digunakan untuk mengidentifikasi seberapa kuat kebutuhan spiritual tersebut bagi responden dengan kategori 1 - 1,9  agak dibutuhkan; 2 - 2,9 dibutuhkan; 3 sangat dibutuhkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek religi, berdoa dengan orang lain dan seseorang berdoa untuk responden memiliki persentase paling tinggi (96,05%). Pada aspek kedamaian, tinggal di tempat yang tenang dan damai serta menemukan kedamaian batin memiliki persentase paling tinggi (89,47%). Pada aspek eksistensi diri, menemukan makna dalam sakit dan penderitaan memiliki persentase paling tinggi (94,74%). Adapun pada kebutuhan untuk memberi, beralih menjadi orang yang penuh cinta kasih memiliki persentase paling tinggi (89,47%). Kebutuhan tersebut masuk ke dalam kategori dibutuhkan dengan nilai rerata sebagai berikut : kebutuhan religi (2,28±0,47); kedamaian (2,19±0,47); eksistensi diri (2,11±0,76); dan kebutuhan untuk memberi (2,08±0,55). Penelitian ini menunjukkan bahwa semua dimensi kebutuhan spiritual sangat dibutuhkan oleh responden, dan kebutuhan religi merupakan kebutuhan yang paling banyak dipilih dan dirasakan paling dibutuhkan. Kata kunci: Kanker, kebutuhan spiritual, pasien.Spiritual Needs of Patients with CancerAbstractCancer affects a patient’s various life aspects, physical, psychological, as well as spiritual. However, more often than not, nursing care focuses only on the physical aspect, and neglects the spiritual side. This study aimed to identify the types and levels of spiritual needs affecting cancer patients. This quantitative descriptive study involved 76 cancer patients, selected using accidental sampling method, who were undergoing treatment in a hospital in Bandung, West Java. Data were collected using Spiritual Needs Questionnaire 2.1 (SPNQ 2.1) consisting of Religious, Inner Peace, Existential, and Actively Giving aspects. To analyse data of spiritual needs, the study used distribution of frequency and percentage. Mean value was used to identify how important those spiritual needs were to respondents (1-1.9: somewhat needed, 2-2.9: fairly needed, 3: strongly needed). The results showed that on Religious aspect, “praying with others†and “having someone pray for me†have the highest percentage (96.05%). On Inner Peace, “living in a calm and peaceful place†and “finding inner peace†have the highest precentage (89.47%). On Existential aspect, “finding meaning in pain and suffering†has the highest percentage (94.74%). On Actively Giving, “becoming a loving person†has the highest percentage (89.47%). Those needs were identified as “fairly neededâ€, with the following mean values: Religious (2.28±0.47), Inner Peace (2.19±0.47), Existential (2.11±0,76), and Actively Giving (2.08±0,55). This study indicated all dimensions of spiritual aspects were needed by respondents and religious aspects were most needed. Key words: Cancer, patient, spiritual needs

    Upaya Pencegahan Penularan TB dari Dewasa terhadap Anak

    No full text
    TB (TB) pada anak mencerminkan transmisi TB yang terus berlangsung di populasi. Laju penularan TB pada anak tidak terlepas dari penderita TB dewasa Basil Tahan Asam(BTA) positif yang tinggal disekitarnya sebagai sumber penularan utama. Perilaku penderita TB dewasa sangat berpengaruh besar terhadap jumlah penderita TB anak yang semakin meningkat, karena TB merupakan penyakit yang mudah ditularkan melalui udara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pencegahan penularan TB dari dewasa terhadap anak di wilayah puskesmas DTP Rancaekek. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan responden 54 orang dan menggunakan teknik total sampling. Teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner yang dikembangkan dari teori J. Gordon mengenai pencegahan penularan TB yang meliputi lingkungan, kepatuhan pengobatan, memutus transmisi serta status nutrisi dengan menggunakan skala guttman. Analisis data yang digunakan adalah dengan analisis deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi. Penelitian dilakukan di Puskesmas DTP Rancaekek. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa pencegahan penularan TB dari dewasa terhadap anak di wilayah Puskesmas DTP Rancaekek seluruh responden 54 orang (100%) tidak mendukung pencegahan penularan TB. Sebelumnya telah ada penyuluhan yang dilakukan oleh puskesmas DTP Rancaekek. Saran peneliti adalah mengevaluasi penyuluhan yang telah dilakukan agar memperoleh metode penyuluhan yang tepat dan menjalankan strategi DOTS.Kata kunci: Pencegahan, penularan, TB, TB anak.Prevention of Tuberculosis Transmission from Adults to Children AbstractTuberculosis (TB) in children reflects the continuing TB transmission in the population. The transmission rate of TB in children cannot be separated from adult TB patients who live near the children and are a major source of transmission. The behavior of adult patients has a big influence on the increasing number of pediatric TB patients because TB is a disease that is easily transmitted through air. The purpose of this study was to describe the prevention of TB transmission from adults to children in the area around Puskesmas (Primay Health Clinic) DTP Rancaekek.  This research used quantitative descriptive method with 54 respondents collected using total sampling technique. Data were collected by distributing questionnaires developed from J. Gordon theory which contained matters concerning the environment, treatment compliance, preventing transmission, and nutritional status using Guttman scale. Data were analysed with descriptive quantitative method using the frequency distribution. The study was conducted at the region of Puskesmas DTP Rancaekek.  The results of the study showed that all 54 respondents (100%) did not support the prevention of tuberculosis transmission from adults to children around the region of Puskesmas DTP Rancaekek. Previously there have been health education sessions carried out by the Puskesmas DTP Rancaekek. However, researchers suggest evaluating the methods of health education in order to find the right TB prevention techniques and effectively implement DOTS strategy.Key words: Transmission prevention, tuberculosis, tuberculosis children

    ingkat Kecemasan Pasien Post Operasi yang Mengalami Fraktur Ekstremitas

    No full text
    Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang dialami oleh pasien fraktur ekstremitas setelah dilakukannya pembedahan. Kecemasan yang tidak teratasi akan berdampak pada lamanya proses penyembuhan, akan tetapi data kecemasan pasien post operasi masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien post operasi fraktur ekstremitas berdasarkan karakteristik pasien. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 46 orang yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner STAI (State-Trait Anxiety Inventory). Tingkat kecemasan dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat. didapatkan bahwa state anxiety paling banyak berada pada tingkat sedang 54,3% dan trait anxiety paling banyak berada pada tingkat ringan 60,9%. Terdapat 46,4% responden yang memiliki state anxiety sedang berasal dari trait anxiety ringan. Berdasarkan karakteristik baik pada state anxiety ataupun trait anxiety, kecemasan berat dialami oleh pasien usia dewasa awal, perempuan, berpendidikan terakhir SMP dan SMA, bekerja sebagai pegawai swasta, belum pernah menjalani operasi sebelumnya, lokasi fraktur pada bagian ekstremitas bawah, dan merasakan nyeri sedang. Kondisi post operasi fraktur ekstremitas menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecemasan. Terlihat dari pasien yang memiliki state anxiety yang sedang, memiliki trait anxiety yang ringan. Maka disarankan bagi perawat untuk melakukan pengkajian dan penanganan kecemasan terhadap state anxiety dan trait anxiety.Kata kunci: Fraktur ekstremitas, post operasi, state anxiety, trait anxiety.Anxiety Levels of Patients with Extremity Fractures after SurgeryAbstractAnxiety is one of the psychological problems experienced by patients with extremity fractures after undergoing surgery. Anxiety that is not managed well will have an impact on the recovery process. However, anxiety in patients with extremity fractures is not well understood. The aim of this study was to determine the anxiety level of patients with extremity fractures after surgery based on the patients’ characteristics. This study used descriptive quantitative method. Fourty six patients were recruited in this study by consecutive sampling technique. The data was collected by STAI (State-Trait Anxiety Inventory) quetionnaires. Anxiety levels were categorized into mild, moderate, and severe. The results showed that 54.3% of patients experienced state anxiety at a moderate level, and 60.9% had trait anxiety at a mild level. There were 46.4% of the patients whose moderate state anxiety originated from mild trait anxiety. Based on the characteristics of both state and trait anxiety, severe anxiety was experienced by young adults, women, patients with secondary school-level educational background, private employees, patients who have never had surgery before, patients with lower extremity fractures and patients in moderate pain. The postoperative state of extremity fractures is a factor that affects anxiety. Patients who had moderate state anxiety were found to also have mild trait anxiety.  Thus, assessment and intervention of anxiety should be conducted on both state and trait anxiety.  Key words: Extremity fracture, post-operative, state anxiety, trait anxiety

    A Critical Review of Symptom Management of Auditory Hallucinations in Patient with Schizophrenia

    No full text
    Auditory hallucinations are a key symptom of schizophrenia. It is estimated that the prevalence of auditory hallucinations in people with schizophrenia range from 64.3% to 83.4%. The auditory hallucinations impacted on daily lives of the sufferer. An extensive review of the literature was undertaken to find symptom management that has been developed in reducing auditory hallucinations from CINAHL, PsyInfo, Health and Medical Complete, ProQuest Psychology Journals, ProQuest Social Journals, Science Direct, Web of Science and Scopus. Based on the analysis of the 15 articles, evidence was suggested that CBT and other psychological treatments have beneficial for individuals who experience auditory hallucinations. However, individuals who experience auditory hallucinations are not just sufferers who need to be treated but people who can develop their own strategies of living with auditory hallucinations. Therefore it is important for nurses to involve them in the management of the auditory hallucinations.Key words: Auditory hallucinations, literature review, symptom management. Reviu Kritis terhadap Pengelolaan Gejala Halusinasi Pendengaran pada Pasien SkizofreniaAbstrakHalusinasi pendengaran merupakan gejala utama skizofrenia. Prevalensi halusinasi pendengaran pada penderita skizofrenia diperkirakan berkisar antara 64,3% sampai 83,4%. Halusinasi pendengaran berdampak pada kehidupan sehari-hari penderitanya. Kajian literatur ini dilakukan untuk menemukan manajemen gejala yang telah dikembangkan dalam mengurangi halusinasi pendengaran dari CINAHL, PsycINFO, Kesehatan dan Kedokteran Lengkap, Jurnal Psikologi Proquest, Jurnal Sosial Proquest, Science Direct, Web of Science dan Scopus. Berdasarkan analisis terhadap dari 15 artikel, ada bukti yang menunjukkan bahwa CBT dan perawatan psikologis lainnya bermanfaat bagi individu yang mengalami halusinasi pendengaran dalam mengatasinya. Namun, individu yang mengalami halusinasi pendengaran bukan hanya penderita yang perlu diobati tetapi individu yang dapat mengembangkan strategi mereka sendiri hidup dengan halusinasi pendengaran. Karena itu penting bagi perawat untuk melibatkan mereka dalam manajemen halusinasi tersebut.Kata kunci: Halusinasi pendengaran, kajian literature, manajemen gejala

    Kualitas Hidup pada Anak dengan Kanker

    No full text
    Kanker anak merupakan penyakit yang memerlukan pengobatan dan perawatan berkelanjutan. Pengobatan kemoterapi yang berkelanjutan pada anak dengan kanker, selain memiliki efek terapeutik juga menyebabkan berbagai efek samping. Hal ini dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak, meliputi fungsi fisik, emosi, sosial, psikologis, sekolah, dan kognitif. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kualitas hidup pada anak dengan kanker. Penelitian ini menggunakan mixed method dengan strategi eksplanatoris sekuensial. Sampel penelitian kuantitatif dengan 60 responden. Kualitas hidup pada anak diukur dengan menggunakan instrumen PedsQoL Generic 4.0 dan PedsQoL Cancer Module 3.0. Analisis data dilakukan menggunakan nilai mean. Penelitian kualitatif menggunakan 10 partisipan dan pengumpulan data dengan pedoman wawancara. Analisis data menerapkan teknik analysis interactive model dengan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Hasil penelitian menunjukkan 32 orang (53,3%) anak kanker memiliki kualitas hidup buruk, dengan nilai terendah pada fungsi sekolah dan kekhawatiran anak dalam menghadapi pengobatan dan penyakit.Kualitas hidup yang buruk ini berpengaruh terhadap fungsi fisik, emosi, sosial, psikologis, sekolah, dan kognitif sehingga tumbuh kembang anakpun terganggu. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas hidup pada anak dengan menyediakan kesempatan bagi anak untuk tetap belajar dan saling berinteraksi dan dukungan dari perawat.Kata kunci: Anak, kanker, kualitas hidup. Quality of Life of Children Living with CancerAbstractCancer in children is an illness that needs continuous medication and treatment so that it has to be managed with high quality care. Continuous chemotherapy treatment in children with cancer, besides giving therapeutic effect, it also causes various side effects. These side effects could have negative effect for quality of life of the children, including physical, emotional, social, psychological, school, and cognitive functions. The aim of this study was to identify quality of life of children living with cancer. This study used mixed method design with sequential explanatory strategy. The quantitative study recruited 60 samples of children living with cancer. The quality of life of the children was measured using PedsQol Generic 4.0 and PedsQoL Cancer Module 3.0. Data were analyzed using mean score. The qualitative study recruited 10 participants and the data were collected using semi-structured interview. Qualitative data analysis used interactive analysis model which consisted data collection, data reduction, data presentation, and conclusion phases. Both of the studies were conducted at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. The results showed that based on PedsQol Generic 4.0, most of the children (53.3%) has low quality of life, with the school function as the lowest score. Based on PedQoL Cancer Module 3.0, most of children (61.7%) also has low quality of life, particularly in children’s worriedness aspect when dealing with treatment and their illness which has lowest score. This low quality of life would have negative impact towards children’s physical, emotional, social, psychological, school and cognitive function, so that it disturbed the children’s growth and development. One of efforts that can be done is to provide opportunities for children to continue studying and interaction in hospital, as well as an additional schedule for psychology therapies to help children overcome the negative emotion during their treatment.Keywords: Cancer, children, quality of life

    Pengalaman Pasien Mengalami Serangan Jantung Pertama Kali yang dirawat di Ruang CICU

    No full text
    Serangan jantung merupakan peristiwa terhambatnya aliran darah pada arteri koroner yang menyebabkan otot jantung kekurangan oksigen sehingga terjadi kerusakan irreversibel miokard, reaksi tidak percaya, penolakan, marah, dan takut akan kematian. Serangan jantung pada pasien dapat berdampak pada aspek fisik dan psikologis pasien tersbut dan keluarganya. Staf pelayanan kesehatan termasuk perawat perlu lebih memahami perubahan yang terjadi sepanjang perjalanan hidup pasien yang mengalami serangan jantung pertama kali agar tercapai asuhan keperawatan holistik.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis terhadap empat laki-laki dan tiga perempuan yang berusia antara 42-68 tahun melalui wawancara mendalam. Analisis hasil wawancara menggunakan metode Colaizzi. Pengalaman hidup pasien yang mengalami serangan jantung pertama kali dikelompokkan ke dalam tiga tahapan. Tahap pertama yaitu sebelum serangan; situasi yang mencetuskan dan menyebabkan serangan jantung. Tahap kedua yaitu saat terjadi serangan jantung; nyeri dada seperti dihimpit beton, takut meninggal dunia, tidak percaya mengalami serangan jantung, pentingnya kehadiran keluarga saat serangan, dan putus asa mencari pelayanan kesehatan. Tahap ketiga yaitu selama perawatan; merasa sudah sembuh karena tidak nyeri dada lagi, pasrah dan berdoa serta menganggap sakit sebagai cobaan dari Tuhan, keinginan tetap beribadah meskipun sakit, kebahagiaan memeroleh kehidupan ke dua dari Tuhan, gangguan tidur selama perawatan, dan kesulitan pembayaran biaya rumah sakit.Penelitian menemukan wawasan baru yaitu putus asa mencari pelayanan kesehatan, merasa sudah sembuh karena tidak nyeri dada lagi, dan kebahagiaan memeroleh kesempatan hidup kedua dari Tuhan. Berdasarkan hasil temuan maka perlu membuat sistem pertolongan yang cepat pada korban serangan jantung,  meningkatkan pemahaman pasien melalui pendidikan kesehatan mengenai serangan jantung yang dialami sehingga tercapai pelayanan yang paripurna.Kata kunci: Koroner, pengalaman, serangan jantung pertama.Life Experiences of First-Time Heart Attack Patients who are Hospitalised in CICUAbstractA heart attack is an inhibition of blood flow in the coronary arteries that causes oxygen deficiency to the heart muscles, causing irreversible myocardial damage as well as disbelief, denial, anger, and fear of death in patients. A heart attack affects the physical and psyhological aspects of the patient and their family. This situation requires doctors and nurses to better understand the changes in the lives of patients who have their first heart attack in order to reach holistic nursing care. This study uses qualitative method with phenomenological approach. Data was collected by in-depth interviews with 4 men and 3 women between the age of 42 to 68. Data were analyzed with Colaizzi method. Life experiences of patients who have their first heart attack are categorised into 3 phases. The first phase is before heart attack occurs, i.e. circumstances that triggered heart attack. The second phase is when heart attack occurs, e.g. chest pain as if being squeezed by a piece of concrete, fear of death, disbelief, the importance of family during the attack, and desperately seeking medical services. The third phase is during treatment, e.g. feeling better because chest pain has subsided, resignation, praying, considering pain as a test from God, the intention to keep practicing religion in spite of being sick, feeling relieved and happy to receive a second chance from God, sleep disorder during treatment, and difficulty to pay hospital costs.This study discovered new forms of life experiences, including desperately seeking medical care, feeling better because chest pain has subsided, and feeling happy to receive a second chance from God. The findings of this study suggest the need for timely medical response for people having a heart attack, increased involvement of family during the treatment of early heart attack, visits from clergy and improved understanding of patients through health education, in order to develop an excellent medical service.Key words: Heart attack, life experience, phenomenology

    Faktor-Faktor Berhubungan dengan Kualitas Hidup Anak Leukemia Limfositik Akut yang Menjalani Kemoterapi

    No full text
    Leukemia limfositik akut merupakan tipe leukemia yang paling banyak terjadi pada anak-anak yaitu sekitar75-80%. Kemajuan pengobatan kemoterapi pada pasien leukemia limfositik akut telah meningkatkan angkakeberhasilan hidup. Akan tetapi, lama kehidupan yang dapat dicapai oleh pasien belum diiringi dengan pencapaiankualitas hidup yang lebih baik akibat efek sekunder kemoterapi terhadap fisik dan psikososial pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup anak leukemia limfositik akut yang menjalani kemoterapi. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada 25 anak secara consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan PedsQLTM 4.0 Generic Core Scale dan peran perawat (Cronbach α = 0,90). Analisis data menggunakan korelasi Pearson dan uji t independen untuk mengetahui hubungan antar variabel serta regresi linear berganda untuk mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kualitas hidup generik. Hasil menunjukkan terdapat hubungan fase kemoterapi dan peran perawat dengan kualitas hidup generik(p<0,05). Peran perawat merupakan faktor prediktor kualitas hidup generic. Dengan demikian diperlukan upaya peningkatan peran perawat melalui pendidikan pelatihan terkait manajemen kemoterapi dan efek sampingnya.Kata kunci: Fase kemoterapi, kualitas hidup generik, peran perawat.Factors that are Related to Quality of Life of Children with Acute Lymphocytic Leukemia who Undergo ChemotherapyAbstractAcute lymphocytic leukemia is a type of leukemia that is most prevalent among children which is around 75-80%. The progress of chemotherapy for acute lymphocytic leukemia has increased the survival rate for this cancer. However, the length of life of the patients is often not accompanied by the better quality of life due to chemotherapy side effects towards patients’ physical and psychosocial conditions. This study aimed to identify factors that are related to the quality of life of children with acute lymphocytic leukemia who undergo chemotherapy in Dr. M.Djamil Hospital, Padang. Quantitative research with cross sectional approach was used to study 25 children who wererecruited using consecutive sampling. The data collection was conducted using PedsQLTM 4.0 Generic Core Scaleand nurses roles (Cronbach α = 0,90). The data analysis uses Pearson correlation and independent t-test to examinethe relationships between variable and multiple linear regression to identify the factor that is most related with the generic quality of life. The results showed that there was correlation between chemotherapy phases and nurses roles with generic quality of life (p<0.05). Nurses roles is a predictor factors for generic quality of life. Thus, there is a need to improve nurses’ roles through education and training regarding chemotherapy management and its side effects.Keywords: Chemotherapy phases, generic quality of life, nurses’ roles

    0

    full texts

    379

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Padjadjaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇