Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
379 research outputs found
Sort by
Hubungan Penggunaan Terapi Modern dan Komplementer terhadap Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara
Kejadian kanker payudara yang meningkat di Indonesia berpotensi terhadap penurunan kualitas hidup manusia.Secara umum, dalam rangka peningkatan kualitas hidup, pasien memilih terapi modern meskipun di sisi lainterdapat efek fisik pasca terapi. Selain itu, untuk mengurangi efek terapi modern dan melengkapi terapi moderndalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara dilakukan terapi komplementer namun belum banyakpenelitian yang membahas hal tersebut di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubunganpenggunaan terapi modern dan terapi komplementer (herbal, pijat, dan herbal-pijat) terhadap kualitas hidup pasienkanker payudara yang menjalani kemoterapi. Penelitian ini adalah jenis korelasi yaitu hubungan antara dua atau lebihvariabel dengan pendekatan cross sectional dan analisis data dengan Spearman test. Pengambilan data berdasarkankuesioner penelitian sebelumnya, meliputi terapi modern, terapi komplementer, dan kualitas hidup terhadap 178responden yang diambil dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan terapi modern dankomplementer berhubungan positif dengan kualitas hidup (Ï-value=0,00, Ï(rho) = +0,2), terapi modern secarabermakna berhubungan positif dengan kualitas hidup (Ï-value = 0,00, Ï(rho) = +0,5) dan terapi modern denganherbal secara bermakna berhubungan positif dengan kualitas hidup (Ï-value=0,00, Ï(rho)= +0,4). Adapun kombinasiterapi modern dan pijat (Ï-value = 0,57, Ï(rho) = -0,1) dan terapi modern, pijat, dan herbal tidak berhubungan dengankualitas hidup (Ï-value = 0,4, Ï(rho) = +0,2). Perawat komunitas dapat memberikan informasi mengenai pentingnyaterapi modern bagi kualitas hidup penderita kanker payudara. Penelitian lebih lanjut mengenai lama, intensitas,dan pemberi herbal sebagai pelengkap terapi modern dalam meningkatkan kualitas hidup pasien kanker payudara
Kajian Kebutuhan Family Centered Care dalam Perawatan Bayi Sakit Kritis di Neonatal Intensive Care Unit
Sistem perawatan bayi di NICU memberikan dampak negatif bagi bayi dan orang tua. Upaya yang dapat dikembangkan untuk meminimalkan dampak tersebut yaitu dengan mengaplikasikan family centered care (FCC). Langkah pertama upaya tersebut adalah mengidentifikasi kebutuhan orang tua. Dalam penelitian sebelumnya, kebutuhan orang tua sangat bervariasi. Penelitian bertujuan mengidentifikasi kebutuhan FCC dalam perawatan bayi sakit kritis di NICU. Metode penelitian menggunakan mixed method dengan strategi eksplanatoris sekuensial. Penelitian kuantitatif dilakukan terhadap 45 responden dan menggunakan kuesioner NICU Family Need Inventory. Analisis data dilakukan dengan mean. Penelitian kualitatif dilakukan terhadap 7 partisipan dengan menggunakan pedoman wawancara. Analisis data menerapkan teknik content analysis. Penelitian dilaksanakan di NICU Rumah Sakit Pemerintah Wilayah Bandung Raya. Orang tua memiliki urutan prioritas kebutuhan terhadap kepastian (M = 3,90), informasi (M = 3,82), kedekatan (M = 3,76), dukungan (M = 3,49), dan kenyamanan (M = 3,37). Pada penelitian kualitatif didapatkan, orang tua lebih membutuhkan kepastian terkait jaminan bayinya mendapatkan perawatan terbaik; kebutuhan terhadap informasi jujur, jelas, dan rutin mengenai kondisi, perkembangan, dan tindakan yang dilakukan terhadap bayi; dan kebutuhan terhadap kedekatan untuk selalu dekat dan melakukan kontak dengan bayi. Kebutuhan orang tua lebih berfokus pada kesejahteraan bayi. Dalam melakukan asuhan keperawatan, selain meningkatkan pelayanan terhadap bayi, perawat harus memerhatikan kebutuhan orang tua terkait jaminan kepastian bayinya mendapatkan perawatan terbaik, penyampaian informasi dengan komunikasi terbuka, dan menjalin kontak dengan bayi. Dengan mengidentifikasi kebutuhan orang tua, dapat menuntun perawat mengintegrasikan kebutuhan orang tua kedalam FCC sehingga orang tua dapat memenuhi kebutuhannya, mendapatkan kepuasan, dan meningkatkan kualitas hidup bayi.Kata kunci: Bayi sakit kritis, kebutuhan orang tua, perawatan berpusat pada keluarga. Study of Family Centered Care Needs in Critically Ill Infants Care in the Neonatal Intensive Care UnitAbstractInfants hospitalization in the NICU adversely affect for infants and parents. Efforts can be developed to minimize this impact is by applying family centered care (FCC). The first step is identify needs of parents. In previous study examined the differences needs of parents. This study aimed to identify the FCC needs in critically ill infants care in the NICU. The research method was mixed method design with sequential explanatory strategy. The samples in quantitative research were 45 respondents and using questionnaires NICU Family Need Inventory. Data analysis was done by mean. Qualitative research using 7 participants and using interview guidelines. Data analysis used analysis content technique. This research has been carried out in the NICU Government Hospital of Bandung Raya. The quantitative result indicated that parents with critically ill infants in the NICU need assurance most (M = 3.90), followed by information (M = 3.82), proximity (M = 3.76), support (M = 3.49), and comfort (M = 3.37). The main themes from qualitative analysis demonstrated needs of parents in assurance associated with assured the best care possible is being given to infants; information is honest, clear, and routine regarding condition, prognosis, and procedures that performed to infants; and proximity to always close and make contact with the infants. Needs of parents are focused on the wellbeing of their infants. In doing nursing care, beside improving care to the infants, the nurses should pay attention to needs of parents related the assurance their infants get the best care, open communication, and close contact with their infants. By identifying the needs of parents in the NICU, it can allow nurses to integrate the needs of parents into FCC so that parents can meet these needs, get satisfaction, and can improve the quality of life infants.Keywords: Critically ill infants, family centered care, needs of parents
Pengaruh Frekuensi Vibrasi terhadap Penyembuhan Luka Diabetes
Penelitian menyatakan bahwa vibrasi 47 Hz dapat meningkatkan penyembuhan luka diabetes. Namun sampai saat ini belum diketahui apakah frekuensi dibawah dan diatas 47 Hz dapat meningkatkan penyembuhan luka diabetes. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek frekuensi vibrasi yang berbeda terhadap penyembuhan luka diabetes. Desain penelitian eksperimen ini melibatkan 5 kelompok tikus putih; kelompok yang mendapatkan vibrasi 40 Hz (frekuensi rendah), kelompok 106 Hz (frekuensi menengah), kelompok 200 Hz (frekuensi tinggi), kelompok 300 Hz (frekuensi sangat tinggi), dan kelompok kontrol (tanpa vibrasi). Induksi diabetes dilakukan dengan Alloxan Monohidrat. Vibrasi diberikan selama 10 menit. Status luka didasarkan pada jaringan nekrotik, ukuran luka, inflamasi, dan reepitelisasi. Analisis histologi dilakukan dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin. Ukuran luka dianalisis dengan uji ANOVA, diikuti oleh tes Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan nekrotik dan intensitas inflamasi paling sedikit pada kelompok 40 Hz, dan paling banyak pada kelompok 300 Hz. Reepitelisasi paling baik pada kelompok 40 Hz, dan paling rusak pada 300 Hz. Ukuran luka di kelompok 40 Hz secara signifikan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok lain (p <0.05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vibrasi frekuensi rendah dapat mempercepat penyembuhan luka diabetes, sebaliknya, vibrasi frekuensi tinggi dapat merusak atau memperparah jaringan luka.Kata kunci :Diabetes, penyembuhan, luka, terapi komplementer, vibrasi.The Provision of Different Vibration Frequency to Accelerate Diabetic Wound HealingAbstractStudies have revealed that diabetic wound healing can be accelerated using the vibration therapy of 47 Hz. However, no strong evidence compelled the use of different vibration rates. Thus, this experimental study aimed to examine the effect of different vibration frequencies towards diabetic wound healing. Five groups of white rats were injected using Alloxan Monohydrate within ten minutes before the vibration therapy. The dosage was given categorized as 40 Hz (low), 106 Hz (moderate), 200 Hz (high) and 300 Hz (very high). Control group was created without given vibration therapy. Wound status was evaluated using the presence of necrotic tissues, size, inflammation, and reepithelization where Hematoxicilin and Eosin color-based were used to analyse the histological presentation. Using ANOVA and Tukey test, it was found that the necrotic tissues and the intended inflammation have less developed among low vibration group compared to others. Reepithelization and wound size reduction most experienced by the lower group, but the worst damaged occupied by the highest vibration group. It is suggested that lower vibration frequency enabled to accelerate the wound care healing, but a high-frequency rate can disturb or damage the injured tissues. Keywords:Complementary therapy, diabetes mellitus, wound healing
Fakor Determinan yang Memengaruhi Budaya Keselamatan Pasien di RS Pemerintah Kabupaten Kuningan
Budaya keselamatan merupakan kunci untuk mendukung tercapainya peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja dalam organisasi. Upaya membangun budaya keselamatan merupakan langkah pertama dalam mencapai keselamatan pasien. Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi dalam perkembangan budaya keselamatan yaitu; sikap baik individu maupun organisasi, kepemimpinan, kerja tim, komunikasi dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor determinan yang berhubungan dengan terciptanya budaya keselamatan pasien di RS Pemerintah Kabupaten Kuningan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan incidental sampling 88 orang perawat pelaksana. Rancangan penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan cross sectional, uji hipotesis digunakan Chi Square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang signifikan antara persepsi terhadap manajemen (p 0.0005, odd rasio 21.3), dukungan tim kerja (p 0.0005, odd rasio 13.34), stress kerja (p 0.006, odd rasio 3.94), kepuasan kerja (nilai p 0. 002) dengan budaya keselamatan pasien. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan kondisi kerja dengan budaya keselamatan pasien dengan nilai p 0.507. Berdasarkan analisis multuvariat diperoleh persepsi terhadap manajemen menjadi factor determinan dengan nilai p 0.000 < α 0.05. Simpulan; unsur pimpinan memiliki pengaruh yang signifikan dalam menciptakan budaya keselamatan pasien. Pimpinan memiliki kewenangan dalam menerapkan system yang berlaku dalam organisasi, oleh karena itu gaya kepemimpinan, teknik komunikasi serta kemampuan manajerial merupakan suatu hal yang sangat perlu diperhatikan dalam menciptakan atmosfer kerja yang kondusif sebagai upaya terciptanya budaya keselamatan pasien. Berdasarkan hasil penelitian bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan model yang sesuai diterapkan untuk meningkatkan budaya keselamatan pasien, pelatihan keterampilan komunikasi efektif serta pengembangan model pendidikan antar profesi sebagai upaya peningkatan kemampuan kolaborasi.Kata kunci:Budaya keselamatan pasien, stress kerja, kepuasan kerja.Determinant factors that are Influencing Patient Safety Culture in a Government-owned Hospitals in Kuningan Regency AbstractSafety culture is a key to support the achievement of occupational health and safety in an organization. An effort to build safety culture is the first step in ensuring patient safety. There are some factors that contribute in the development of safety culture, namely, individual and organizational attitude, leadership, team work, communication, and work load. This study aimed to identify the determinant factors that are related to achievement of patient safety culture in a government-owned hospital in Kuningan Regency. Eighty eight samples of nurses were recruited using incidental sampling technique. The research design was using cross sectional study, the hypothesis testing were using Chi Square and multiple logistic regression. The results showed that there were significant influenced between perception towards management (p= 0.0005, odd rasio 21.3), team work support (p= 0.0005, odd rasio 13.34), work-related stress (p= 0.006, odd rasio 3.94), work satisfaction (p= 0. 002) with patient safety culture. There was not significant influenced between work condition and patient safety (p= 0.507). The multivariate analysis showed that perception towards management was the determinant factor for patient safety culture (p 0.000 < α 0.05). In conclusion, leaders have significant influence in creating patient safety culture. Leaders have authority to implement systems in the organization. Therefore, leadership style, communication technique, and managerial ability are important in order to create a conducive atmosphere for developing patient safety culture. As recommendation, transformational leadership is a model that is appropriate to be applied in order to increase patient safety culture, trainings of effective communication and inter-professional education model are also needed to increase the collaboration skills among health professionals.Keywords:Patient safety culture, work-related stress, work satisfaction
Efektifitas Terapi Mendongeng terhadap Kecemasan Anak Usia Toddler dan Prasekolah Saat Tindakan Keperawatan
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa hospitalisasi menjadi saat yang memberikan perasaan tidak nyaman bagianak yang dapat mengakibatkan kecemasan. Hasil studi pendahuluan pada Ruang Anak RS X ditemukan 6 pasienkategori toddler-prasekolah menunjukkan reaksi cemas ketika akan dilakukan tindakan keperawatan, sedangkan4 pasien sebaliknya. Peran perawat dalam hal ini adalah mendukung perilaku koping anak, menstimulasiperkembangannya, dan mengurangi ketidaknyamanan, salah satu caranya dengan terapi mendongeng. Tujuanpenelitian untuk mengetahui pengaruh terapi mendongeng terhadap tingkat kecemasan anak usia toddlerdan prasekolah selama tindakan keperawatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desaineksperimen semu ini menggunakan pendekatan posttest design with a comparison group. Variabel yang digunakanadalah terapi mendongeng dan tingkat kecemasan. Sampel penelitian menggunakan teknik quota purposivesampling, yaitu 15 sampel untuk tiap kelompok. Hasil penelitian menunjukkan mean skor kecemasan toddler4.40, sedangkan prasekolah 1.80, artinya skor kecemasan prasekolah lebih rendah dibandingkan toddler setelahterapi mendongeng. Simpulan penelitian menunjukkan terdapat perbedaan skor kecemasan pada usia toddlerdan prasekolah setelah pemberian terapi mendongeng. Namun, terapi lebih efektif diberikan kepada prasekolah
Pengaruh Sentuhan Spiritual Quantum terhadap Nyeri Saat Perubahan Posisi pada Pasien Paska Operasi di Ruang Perawatan Intensif
Pasien paska operasi besar berisiko mengalami komplikasi yang mengancam kehidupan. Mobilisasi dinimerupakan salah satu prosedur untuk mencegah komplikasi tersebut, namun mobilisasi menyebabkan peningkatannyeri. Sentuhan Spiritual Quantum (SSQ) merupakan intervensi komplementer berbasis biofield energy yangtelah banyak digunakan pada praktik keperawatan untuk mengurangi nyeri post operasi. Tujuan penelitianini adalah untuk mengetahui pengaruh SSQ terhadap nyeri saat miring kiri kanan pada pasien paska operasi.Desain penelitian adalah pre-eksperimental one group pretest-post test design. Jumlah sampel dalam penelitianadalah 18 orang yang didapat melalui purposive sampling. Intensitas nyeri diukur dengan menggunakan NumericRating Scale (0-10). Analisis data menggunakan wilcoxon test untuk mengetahui perbedaan intensitas nyeri padapengukuran pre dan post test. Hasil penelitian menunjukkan nilai median intensitas nyeri saat istirahat adalah 5,posisi miring tanpa SSQ adalah 8, posisi miring setelah SSQ1 adalah 5,5 dan miring setelah SSQ 2 adalah 5. Terjadipenurunan yang bermakna saat miring setelah SSQ1(p=0,001) dan SSQ2. SSQ dapat menjadi alternatif bagiperawat di area keperawatan kritis dalam manajemen nyeri non farmakologis untuk meningkatkan kemampuanmobilisasi. Diperlukan penelitian lanjutan menggunakan sampel yang lebih besar dan kasus yang lebih bervariasi
Pengaruh Foot Massage terhadap Parameter Hemodinamik Non Invasif pada Pasien di General Intensive Care Unit
Kondisi hemodinamik yang tidak stabil merupakan kondisi yang biasa terjadi pada pasien di General IntensiveCare Unit (GICU). Hal ini dapat disebabkan karena stresor yang berasal dari aspek fisiologis, psikologis, maupunlingkungan. Saat ini terapi yang diberikan pada pasien di GICU didominasi oleh terapi farmakologi. Sementaraberdasarkan teori keperawatan holistik, asuhan perawatan pada pasien dapat dioptimalkan dengan terapikomplementer seperti foot massage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh foot massage terhadapparameter hemodinamik non invasif pada pasien di ruang GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Rancanganpenelitian ini menggunakan quasi experimental design dengan pendekatan time series design. Jumlah sampelyang digunakan sebanyak 33 pasien dengan teknik consecutive sampling. Data penelitian dianalisis menggunakanuji Friedman dan dilanjutkan dengan analisis Post-Hoc. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh footmassage secara signifikan terhadap penurunan MAP (p<0,001), penurunan denyut jantung (p=0,002), danpenurunan frekuensi pernafasan (p<0,001); namun tidak terdapat pengaruh foot massage secara signifikanterhadap peningkatan saturasi oksigen (p=0,150). Foot massage dapat menimbulkan aktivitas vasomotor dimedula. Aktivitas vasomotor ini dapat menurunkan resistensi perifer dan merangsang saraf parasimpatisuntuk menurunkan frekuensi jantung yang selanjutnya dapat meningkatkan curah jantung sehingga membuatpengiriman dan penggunaan oksigen oleh jaringan menjadi adekuat. Oleh karena itu, diharapkan perawat dapatmelakukan praktik foot massage terhadap pasien untuk melengkapi terapi farmakologi yang sudah diberikan
Exposure of Mental Health Nurses to Violence in Mental Hospital : a Systematic Review
Shortage of nurses and declining interest in becoming a mental health nurse are often attributed to workplacedistress and violence. These have become global issues and believed that shortage of nurses decreases the qualityof health care services. It leads distress among nurses, which is exposure to violence and traumatic experiences.In addition, nurses are also accused of seizing the rights of patients and committing violence against a patient.This paper focuses on the violence that occurred in mental health nurses during working in unpredictablesituation. A literature search of systematic review through the CINAHL, Medline, Google scholars and PsycInfodatabases, the empirical report using a nursing sample includes data on rates of violence exposure includingviolence, aggressive behavior, bullying, and sexual harassment. The result, a total of 400 articles provide dataon 2742 publications indicates near all of nurses in mental health experienced verbal abuse in the past month,furthermore, most of respondents’ ever experienced psychological abuse, and less of respondents experiencedphysical violence and sexual harassment. Rates of exposure vary by world region (Developed countries, Asia,Europe and Middle East), with the highest rates for physical violence and sexual harassment in the USA,Australia, United Kingdom, New Zealand region, and the highest rates of psychological violence and bullyingin the Middle East. The presence of violence signals an "alarm" that violence against nurses calls for specialattention in many countries. Essentially, the world must give a "priority" to handling violence against nurses
Pengaruh Edukasi Berbasis Keluarga terhadap Intensi Ibu Hamil untuk Optimalisasi Nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan
Periode emas tumbuh kembang seorang anak dimulai sejak anak dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Wanita hamil dan anak-anak usia dibawah 5 tahun berada pada risiko tertinggi micronutrient deficiencies (MNDs), masalah pertumbuhan, penurunan intelektual, komplikasi perinatal dan meningkatnya risiko morbiditas dan mortalitas. Oleh karena itu ibu hamil memerlukan program edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk kesehatan ibu dan janin. Edukasi berbasis keluarga sesuai program keluarga sehat dapat meningkatkan intensi untuk mengubah perilaku kesehatan. Menurut Theory of Planned Behavior (TPB), bahwa intensi untuk mengubah perilaku dipengaruhi oleh sikap, norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh edukasi berbasis keluarga terhadap intensi ibu hamil untuk optimalisasi nutrisi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan di wilayah kerja Puskesmas Neglasari, Kota Bandung. Desain penelitian menggunakan quasi eksperiment, pre-test and posttest with control group design. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling seluruh ibu hamil yang terdata di Puskesmas sampai bulan November 2016 berjumlah 44 orang yang kemudian dibagi dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kegiatan edukasi dilaksanakan melalui tiga kali pertemuan kunjungan rumah. Analisis data menggunakan Wilcoxon test dan Mann whitney test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara edukasi berbasis keluarga terhadap intensi ibu hamil untuk optimalisasi nutrisi pada 1000 hari pertama kehidupan (p = 0.00). Program edukasi berbasis keluarga adalah efektif meningkatkan intensi ibu hamil. Dengan demikian, disarankan penerapan edukasi berbasis keluarga dalam intervensi keperawatan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi yang dikandungnya.Kata kunci: Edukasi berbasis keluarga, intensi, ibu hamil, nutrisi, 1000 hari pertama kehidupan. Effect Of Family-Based Education Towards Pregnant Mothers’ Intention to Optimize The Nutrition at 1000 First Day Of LifeAbstractChildren “Golden Period†starts since in the womb until two years after birth. Pregnant mothers and children under five (5) years old are at risk to suffer from micronutrient deficiencies (MNDs), growth problems, intellectual impairment, perinatal complications and increase of morbidity and mortality risks. Therefore pregnant mothers need an education program about proper nutrition for mothers’ and the fetus’ health.Family based education can improve intention to change health behavior. According to Theory of Planned Behavior (TPB, behaviour is influenced by attitudes, subjective norms and perceived behavioral control. Intention in order to change the behavior. The study aimed to identified the effect of family-based education towards pregnant mothers’ intention to optimize the nutrition at 1000 First Day of Life in the working area of Puskesmas Neglasari, BandungResearch design was quasi experiment, pre-test and post-test with control group design. A total of 44 pregnant mothers’ were recruited and divided into intervention and control group. Intervention were conducted three times through home visits. The data were analyzed using Wilcoxon test and Mann Whitney testThe findings showed that there was a significant effect between the family-based education towards pregnant mothers’ intention to optimize the nutrition of 1000 first days of life (p = 0.00). Thus, it is recommended to apply family based education in nursing intervention to improve of mothers and fetus health.Keywords : Family based education, intention, pregnant mothers’, nutrition, 1000 first days of life
Kualitas Hidup Pasien Pasca Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK)
Penyakit Jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyebab utama dan pertama angka kematian di negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia. Angka kematian akibat PJK yang semakin meningkat perlu mendapatkan perhatian khusus. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan tindakan Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK) yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien pasca BPAK mengalami perubahan dalam hal bio-psiko-sosio-spiritual yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup selama ini masih umum dan mengacu pada budaya dan pelayanan kesehatan di luar negeri, padahal kualitas hidup dipengaruhi oleh budaya setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplor kualitas hidup pasien pasca BPAK di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan jumlah partisipan sebanyak 6 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur yang mengacu pada intrumen Short Form36. Analisa data menggunakan content analysis. Hasil Penelitian yaitu secara fisik semua partisipan masih merasakan nyeri di bekas luka operasi seperti kesemutan dan baal, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas sehari-harinya. Secara emosional semua partisipan mengungkapkan rasa bahagia karena sudah terbebas dari penyakitnya, walaupun tidak sembuh secara total tetapi semua partisipan menerima keadaan dirinya. Secara Sosial semua partisipan mengungkapkan bahwa dukungan keluarga dan dukungan orang sekitar sangat dibutuhkan. Bentuk spiritualitas pada penelitian ini adalah partisipan merasa lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mensyukuri keadaannya sekarang. Berdasarkan hasil penelitian terdapat aspek baru yang didapatkan dari hasil penelitian ini yaitu pentingnya spiritualitas dalam kualitas hidup partisipan. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam proses asuhan keperawatan.Kata kunci:Bedah Pintas Arteri Koroner, Kualitas Hidup,Short Form36.Quality of Life among Patients with Post Coronary Artery Bypass SurgeryAbstractCoronary Artery Diseases (CAD) remains one of the major problems lead to a high mortality rate in many countries including Indonesia. Thus, treatment such as coronary artery bypass surgery is considered as a common treatment to reduce the fatal risks. However, post-surgical problems may arise which can diminish the patient’s quality of life regardless cultural and contextual causal factors. This descriptive qualitative study aimed to explore the quality of life among patients undergone the coronary artery bypass surgery in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Data were collected using an individual semi-structured interview following the Short Form 36 instrument (SF-36) with six participants were recruited. Content analysis was employed to analysis the transcribed data. Findings revealed that all participants have experienced pain, numbness and tingling sensations particularly on the surgical sites without the presence of any daily activity living disturbances. They expressed more positive emotional feelings because of having freedom from their illness. The presence of strong social supports given by families and relatives has motivated the patients to face their recovery phase. In addition, participants expressed the need to have spiritual care which can help them to feel getting closer to the Lord and being more grateful for whatever situations they may have at the moment. Findings have further emphasised the importance of spirituality in the achievement of good quality of life among the participants. The result is expected to contribute to the improvement of best quality of post-operative nursing care plan. Keywords: Coronary Arterial By-Passed Surgery, post-operative care, quality of life, spirituality