Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
379 research outputs found
Sort by
Persepsi Perawat tentang Customer Service yang Diaplikasikan oleh Perawat di Rumah Sakit Swasta
Customer service merupakan upaya yang dapat dilakukan suatu organisasi untuk memberikan kepuasan bagikonsumen. Istilah customer service lebih dikenal di dunia bisnis, namun aplikasi customer service juga dapatditemukan di dunia kesehatan. Penerapancustomer servicedi rumah sakit dapat meningkatkan kinerja pegawai rumahsakit termasuk perawat. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi perawat tentang aplikasi customer serviceoleh perawat di sebuah rumah sakit swasta di Indonesia. Penelitian ini merupakan satu siklus studi action researchyaitu tahap reconnaissance yang dilakukan di rumah sakit swasta di Medan. Tahap reconnaissance merupakansatu fase yang penting dalam pendekatan action research yang bertujuan untuk menemukan thematic concerndari setting penelitian. Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah sebanyak 10 perawat pelaksana. Partisipandirekrut dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data kualitatif dikumpulkanmelalui teknik focus group discussion (FGD). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan pendekatancontent analysis. Hasil penelitian ini mengungkapkan 4 tema persepsi perawat tentang costumer service, yaitu: 1)makna costumer service menurut perawat pelaksana (memberikan pelayanan maksimal, pemenuhan kebutuhanpasien, dan interaksi dan komunikasi efektif,); 2) Upaya perawat dalam mengaplikasikan customer service (sikapprofessional perawat, ketulusan, mengatasi masalah pasien, dan menciptakan caring moment); 3) Hambatandalam menerapkan customer service dalam pelayanan keperawatan (kurangnya pemahaman pasien terhadappenjelasan yang diberikan, permintaan pasien yang berlebihan selama perawatan, kurangnya reward terhadappekerjaan yang telah dilakukan); 4) Upaya meningkatkan aplikasi customer service dalam pelayanan keperawatan(sabar dan tulus dalam menghadapi keluarga pasien, tanggap dalam pemenuhan kebutuhan pasien, peningkatanpendidikan perawat, memberikan reward kepada perawat, dan memfasilitasi hubungan pasien dengan dokter)
Tinjauan sistematis: Efektifitas Palliative Home Care untuk Pasien dengan HIV/AIDS
Asuhan palitif untuk pasien dengan HIV/AIDS merupakan elemen inti dari asuhan pasien dengan HIV/AIDS. Asuhan paliatif yang berbasis home care saat ini menjadi elemen penting yang digunakan di berbagainegara. Akan tetapi, tidak ada studi atau tinjauan sebelumnya yang menganalisis efektifitas dari asuhanpaliatif yang berbasis home care pada pasien dengan HIV/AIDS. Tujuan dari tinjauan sistematik ini adalahuntuk mengevaluasi efektivitas Palliative Home Care untuk pasien dengan HIV/AIDS terhadap nyeri,pengendalian gejala, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan kepuasan asuhan, dan efektivitas biaya.Pencarian awal terbatas dilakukan di MEDLINE dan CINAHL. Kedua database tersebut dipilih denganpertimbangan bahwa keduanya merupakan database terbesar di bidang kesehatan dan kedokteran. Kemudiastrategi pencarian lainnya dilakukan pada database lain meliputi: Cochrane Library, UpToDate, Ovid, AIDSCare, Journal of Palliative Care, dan Journal of Palliative Medicine. Studi yang diterbitkan dalam Bahasa Inggrisdan tahun 2000-2016 dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam tinjauan ini. Data diekstrak oleh penulis dandiringkas menggunakan alat ekstraksi data dari JBI (Joanna Briggs Institute). Kami menemukan 4 studi yangmasuk kedalam kriteria tinjauan kami, satu studi randomizes control trial dan tiga studi prospectively control.Hasil dari tinjauan ini menunjukkan bahwa Palliative Home Care terbukti efektif dalam mengontol nyeridan gejala-gelaja lain, mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup pasien, tingginya kepuasan daripasien dan kelurga terhadap asuhan Palliative Home Care berkisar 93% - 96% dan lebih cost-effectivenessdibandingkan dengan Hospital-Based Palliative Care. Dengan demikian, penting untuk mengembangkanPalliative Home Care untuk pasien dengan HIV/AIDS terutama untuk negara dengan sumber daya yang terbatas
Pengaruh Bereavement Life Review terhadap Kesejahteraan Spiritual pada Keluarga Pasien Stroke
Spiritualitas adalah faktor protektif dalam proses berduka pada keluarga pasien kronis. Bereavement life review adalah salah satu intervensi dalam penguatan spiritual keluarga pasien penyakit kanker. Stroke dan kanker adalah penyakit kronis. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bereavement life review pada kesejahteraan spiritual keluarga pasien stroke. Desain penelitian ini adalah quasi-eksperimental dengan pretest posttest control group. Sampel yang digunakan adalah salah satu keluarga pasien stroke yang merawat pasien di rumah sakit. Sehingga didapatkan sampel sebanyak 28 responden dengan 14 kelompok kontrol dan 14 kelompok intervensi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan consecutive sampling. Kelompok intervensi mendapatkan bereavement life review dengan dua sesi yang dilakukan oleh spesialis keperawatan jiwa. Kesejahteraan spiritual diukur menggunakan instrumen SWBS (spiritual well-being scale). Analisis data menggunakan dependent t-test, Mann Whitney dan Wilcoxon. Uji homogenitas memerlihatkan tidak satupun karekteristik responden antara kelompok intervensi dan kontrol berbeda secara signifikan (p > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan skor rerata postest kesejahteraan spiritual pada kelompok kontrol dengan kelompok intervensi (98,71 ± 3,65 dan 106,5 ± 1,83; p = 0,000). Terdapat perbedaan skor rerata kesejahteraan spiritual pada pretest dengan posttest pada kelompok intervensi (99,07 ± 2,95 dan 106,5 ± 1,83; p = 0,001). Proses bereavement life review merupakan proses peningkatan spiritual melalui proses rekontekstualisasi, memaafkan terhadap diri, dan refleksi yang membentuk penguatan koping sehingga muncul pemaknaan terhadap diri sendiri. Dapat disimpulkan bereavement life review berpengaruh positif terhadap peningkatan kesejahteraan spiritual keluarga pasien stroke. Bereavement life review dapat digunakan sebagai intervensi perawatan pasien stroke dan keluarga. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah melihat pengaruh bereavement life review untuk penyakit kronis yang lain, seperti diabetes melitus atau kanker. Selain itu, indikator psikologis pasien dan keluarga sebagai output intervensi perlu dikaji lebih mendalam.Kata kunci: Bereavement life review, keluarga pasien stroke, keperawatan spiritual, kesejahateraan paliatif.Influence of Bereavement Life Review on Spiritual Well-Being of Stroke Family CaregiverAbstractSpirituality is a protective factor of grieving process in patient and family with chronic illness. Bereavement life review is one of the interventions which is enhancing the spiritual well-being in cancer diseases. Cancer and Stroke are chronic diseases. The purpose of this study was to determine the effect of bereavement life review of the spiritual well-being of stroke family. Quasi-experimental with pretest posttest control group used in study. Sample in this study are stroke family who caring the stroke patient in hospital which is 28 respondents. The intervention group was given bereavement life review with two sessions which given by expert in psychiatric nursing. Spiritual well-being was measured by SWBS (spiritual well-being scale). Data analysis were using a dependent t-test, Mann Whitney and Wilcoxon. Homogenity of respondent characteristics showed that it have not correlation between control and intervention group (p > 0,05). The study showed the difference in the mean posttest scores of spiritual well-being of the control group with the intervention group (98.71 ± 3.65 and 106.5 ± 1.83, p = 0.000). There were differences in the mean scores pretest to posttest spiritual well-being in the intervention group (99.07 ± 2.95 and 106.5 ± 1.83, p = 0.001). Bereavement life review is a process of enhancing spirituality through recontextualization, forgiveness, and reflection proccess that strengthening coping process. Bereavement life review has positive effect on the spiritual well-being of the stroke family which can be considered as an intervention in the treatment of stroke patients and families. Further study know the effect of bereavement life review in other chronic diseases patient, like hypertension or diabetes mellitus. Moreover, other psychological outcome for this intervention needs to be explored.Keywords: Bereavement life review, palliative care, spiritual well-being, stroke family
Process Evaluation: Standard, Effectiveness, Efficiency and Sustainability of Maternity Nursing Care
Although globally there is a change in the trend of epidemiology from infectious diseases to chronic diseases, the prevalence and incidence of infectious diseases as well as MMR (Maternal Mortality Rate) and IMR (infant mortality rate) in Indonesia is still high. In year 2000, Faculty of Nursing of the Universitas Padjadjaran in collaboration with Hasan Sadikin Hospital built a model of treatment room, which was affiliated with obstetric gynecology room for improving integrated quality of health care services and education. The model built in this room aimed to : 1) Improve the quality of health care service; 2) to develop the student’s experiences with patients; 3) Provide quality nurse education to support students; 4) encourage students to improve the results of clinical prctice. The objective of process evaluation in this study was to give an insight to an appropriate model for maternity nursing service. This results showed on the one hand , there are some records not yet achieved an ideal standard , lack of effectiveness and efficiency of care delivery, namely: 1 ) the ratio of midwives and patients are not ideal ; 2 ) No one consultant obstetrician gynecologist and one doctor for every room . As well as challenges to sustainability care that meets the standards of maternity care. Conclusion: this study recommends to take a comprehensive strategic planning for improving nursing and midwifery services that involve all relevant stakeholders in the government, civil society, service delivery, education, and professional organizations.Keywords:Effectiveness, efficiency, evaluation, maternity nursing care, standard.Proses Evaluasi: Standar, Efektifitas, Efisiensi, dan Keberlangsungan Pelayanan Keperawatan MaternitasAbstrakMeskipun secara global ada perubahan dalam tren epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit kronis, prevalensi dan insiden penyakit menular serta MMR (Angka Kematian Ibu) dan AKB (angka kematian bayi) di Indonesia masih tinggi. Tahun 2000, Fakultas Keperawatan Unpad bekerja sama dengan Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung membangun sebuah model dari ruang perawatan, yang berafiliasi dengan ruang obstetrik ginekologi. Model yang dibangun tersebut bertujuan untuk; 1) meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan; 2) pengembangan pengalaman mahasiswa dengan pasien; 3) penyediaan pendidik perawat yang berkualitas untuk mendukung mahasiswa; 4) mendorong mahasiswa untuk meningkatkan hasil praktek klinis. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan informasi dan evaluasi tentang standar, efektifitas, efisiensi, dan keberlangsungan (sustainaibility) pelayanan keperawatan maternitas. Hasil penelitian menunjukkan: di satu sisi, ada beberapa catatan tidak belum tercapainya standar ideal, kurang efektivitas dan efisiensi perawatan persalinan, yaitu: 1) rasio bidan dan pasien tidak ideal; 2) ada satu konsultan ginekolog obstetri dan satu dokter untuk setiap kamar. Serta tantangan terhadap keberlangsungan asuhan perawatan maternitas yang memenuhi standar. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan untuk mengambil perencanaan strategis yang komprehensif untuk meningkatkan pelayanan keperawatan dan kebidanan yang melibatkan semua pihak terkait di pemerintah, masyarakat sipil, pelayanan, pendidikan, dan organisasi profesiKata kunci:Asuhan keperawatan maternitas, efektifitas, efisiensi, evaluasi, standa
Pengaruh Konseling Short Message Service (SMS) Gateway terhadap Self Efficacy Menghindari Seks Bebas dan HIV/AIDS Remaja
Masalah perilaku berisiko di kalangan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan yang disebabkan oleh kemampuanself efficacy (kepercayaan diri) untuk menghindari seks bebas dan HIV/AIDS yang masih rendah. Peningkatan selfefficacy remaja dapat ditingkatkan dengan konseling SMS Gateway. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh dari konseling SMS Gateway terhadap kemampuan self efficacy menghindari perilaku seks bebas danHIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah quasi-experiment dengan rancangan one group pre-post test design. Sampelpenelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta sejumlah 450 siswa dari total populasitarget 850 siswa yang dipilih secara simple random. Hasil penelitian didapatkan bahwa rerata nilai self efficacysebelum konseling sebesar 90,7 ± 6,25 dan sesudah konseling sebesar 97,7±2,63 dengan nilai p 0,000. Nilairerata (± SD) masing-masing subvariabelnya yakni magnitude sebelum 27,70±3,47 dan sesudah 30,99±1,44dengan nilai p 0,000, generalizability sebelum 28,60±2,49 dan sesudah 31,28±1,24 dengan nilai p 0,000, danstrength of belief sebelum 30,85±1,85 dan sesudah 31,55±1,26 dengan nilai p 0,000. Kesimpulan penelitian iniadalah terdapat pengaruh secara signifikan konseling metode SMS gateway terhadap kemampuan self efficacymenghindari perilaku seks bebas dan HIV/AIDS. Penggunaan SMS gateway diharapkan menjadi bagian daripelayanan kesehatan di sekolah sehingga terjadi peningkatan perilaku pencegahan seks bebas dan HIV/AIDS.Masalah perilaku berisiko di kalangan remaja saat ini sangat mengkhawatirkan yang disebabkan oleh kemampuanself efficacy (kepercayaan diri) untuk menghindari seks bebas dan HIV/AIDS yang masih rendah. Peningkatan selfefficacy remaja dapat ditingkatkan dengan konseling SMS Gateway. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipengaruh dari konseling SMS Gateway terhadap kemampuan self efficacy menghindari perilaku seks bebas danHIV/AIDS. Jenis penelitian ini adalah quasi-experiment dengan rancangan one group pre-post test design. Sampelpenelitian ini adalah siswa SMK Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta sejumlah 450 siswa dari total populasitarget 850 siswa yang dipilih secara simple random. Hasil penelitian didapatkan bahwa rerata nilai self efficacysebelum konseling sebesar 90,7 ± 6,25 dan sesudah konseling sebesar 97,7±2,63 dengan nilai p 0,000. Nilairerata (± SD) masing-masing subvariabelnya yakni magnitude sebelum 27,70±3,47 dan sesudah 30,99±1,44dengan nilai p 0,000, generalizability sebelum 28,60±2,49 dan sesudah 31,28±1,24 dengan nilai p 0,000, danstrength of belief sebelum 30,85±1,85 dan sesudah 31,55±1,26 dengan nilai p 0,000. Kesimpulan penelitian iniadalah terdapat pengaruh secara signifikan konseling metode SMS gateway terhadap kemampuan self efficacymenghindari perilaku seks bebas dan HIV/AIDS. Penggunaan SMS gateway diharapkan menjadi bagian daripelayanan kesehatan di sekolah sehingga terjadi peningkatan perilaku pencegahan seks bebas dan HIV/AIDS
Efektifitas Self Management Module dalam Mengatasi Morning Sickness
Perubahan fisiologis pada kehamilan trimester pertama banyak menimbulkan keluhan, salah satunya adalahmual muntah. Ibu hamil yang mengalami mual muntah kebanyakan tidak mengetahui cara mengatasinya,hanya membiarkan saja ketika keluhan itu datang. Ibu baru pergi ke tempat pelayanan kesehatan ketika keluhantersebut sudah mengganggu aktifitas. Mual muntah pada kehamilan seharusnya dapat diatasi dengan perubahanperilaku. Self management module dapat merubah perilaku dengan informasi untuk mengatasi mual muntahtanpa penggunaan terapi farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self managementmodule dalam mengatasi morning sicknes pada ibu hamil. Penelitian ini merupakan penelitian pre experimentdengan rancangan pre and posttest one group. Data dikumpulkan melalui pengukuran frekuensi mual muntahmenggunakan (PUQE)-24. Responden yang terlibat sebanyak 30 orang. Data dianalisis menggunakanuji Wilcoxon. Hasil uji normalitas menunjukkan data terdistribusi tidak normal. Rerata nilai pretest=6,52(SD=1,947) dan posttest=4,52 (SD=1,895). Terdapat 27 responden yang mengalami penurunan skor, dua orangmengalami peningkatan skor, dan satu orang memiliki skor yang sama saat pretest maupun posttest. Perbedaannilai pretest dan posttest dianalisis menggunakan uji Wilcoxon, sehingga diperoleh nilai signifikansi 0,000(p<0,05). Terdapat perbedaan skor PUQE sebelum dan sesudah pemberian self management module morningsickness. Self management module morning sickness efektif dalam mengatasi morning sickness pada ibu hamil
Faktor Caregiver dan Kekambuhan Klien Skizofrenia
Caregiver merupakan orang yang bertanggung jawab memberikan perawatan secara langsung dalam segala situasi,baik saat pasien kambuh atau tidak kambuh. Beberapa faktor caregiver yang berhubungan dengan kekambuhanpasien skizofrenia adalah dukungan keluarga, pengetahuan tentang pengobatan skizofrenia, peristiwa kehidupan yang penuh stres, dan kualitas hidup caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor caregiver yang berhubungan dengan kekambuhan pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitikdengan rancangan crosssectional. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling sebanyak 30 orang. Datadikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment untukmelihat hubungan antara dua variabel dan uji regresi logistik untuk menentukan faktor yang dominan berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel memiliki hubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia. Variabel dukungan keluarga memiliki hubungan yangkuat dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,630). Variabel pengetahuan keluarga memiliki hubungan yangsedang dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,820). Variabel kualitas hidup memiliki hubungan yang sangatkuat dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,560). Variabel peristiwa hidup penuh stres memiliki hubunganyang sedang dengan arah hubungan yang positif (r = 0,447). Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwafaktor caregiver yang paling dominan berhubungan dengan dengan kekambuhan adalah kualitas hidup dengannilai r = -0,560 dan koefisien determinannya (r2) yaitu 0,768 yang memiliki kekuatan hubungan (OR) 25,093.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup caregiver merupakan faktor yang paling dominanterhadap kekambuhan. Penelitian ini merekomendasikan agar perawat berperan aktif dalam meningkatkan kualitashidup caregiver dan pentingnya caregiver support group dalam rangka meningkatkan kualitas hidup caregiver
Studi Kualitatif Pola Kehidupan Pasien Kanker Payudara
Kematian akibat kanker payudara masih menempati urutan pertama pada kasus baru kanker di Indonesiabahkan di dunia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pola kehidupan klien kanker payudaradalam menjaga kualitas hidupnya. Teori Culture Care Diversity and Universality digunakan sebagai kerangkakerja dalam penelitian ini. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilansampel dengan purposive sampling pada 6 orang informan klien kanker payudara yang berada di KabupatenGarut. Pengumpulan data dengan teknik wawancara dan observasi partisipasi. Transkripsi data dianalisismenggunakan metoda analisis Transcultural Nursing dari Medeleine Leininger. Hasil penelitian menunjukandomain muncul sebagai pola enkulturasi kehidupan wanita penderita kanker payudara dalam budaya Sundayaitu: 1) pengabdian wanita Sunda, 2) adaptasi klien kanker payudara dalam menjalani kehidupannya,3) makna end of life. Kesimpulan penelitian, pola budaya tersebut saling berhubungan dalam kehidupanWanita Sunda dengan kanker payudara. Disarankan perawat dapat memberikan pelayanan keperawatankepada klien kanker payudara dengan menerapkan asuhan keperawatan yang kongruen dengan nilai budaya
Pengaruh Swedish Massage Therapy terhadap Tingkat Kualitas Hidup Penderita Leukemia Usia Sekolah
Di Indonesia ALL menduduki peringkat tertinggi kanker pada anak yang menyebabkan kematian. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan jangka waktu yang lama dan paling sering dilakukan, dimana dapat menyebabkan efek samping yang mengganggu fungsi fisik dan fungsi psikososial. Fenomena di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung pun menggambarkan dimana angka kejadian penderita leukemia pada anak cenderung meningkat dan berfokus pada conservative therapy. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh swedish massage therapy terhadap tingkat kualitas hidup penderita leukemia usia sekolah di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan nonequivalent control group design with pretest and posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah yang berjumlah 34 orang (masing-masing grup 17 orang) dengan menggunakan consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan PedsQL general score dan cancer module yang berstandar internasional. Prosedur yang digunakan pada penelitian ini adalah tindakan swedish massage therapy yang dilakukan langsung oleh peneliti. Analisis data yang digunakan adalah paired t-test dan independent t-test.Hasil penelitian menggambarkan terdapat perbedaan kualitas hidup pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan swedish massage therapy (p = 0,000 pada α = 5). Hasil penelitian merekomendasikan bahwa swedish massage therapy bisa dipakai sebagai metode alternatif dalam meningkatkan kualitas hidup penderita leukemia usia sekolah.Kata kunci: Kualitas hidup, leukemia, swedish massage therapy
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Burnout pada Perawat Kesehatan Jiwa
Perawat merupakan kelompok tenaga kesehatan yang berisiko mengalami burnout. Faktor-fakor yang memengaruhi kejadian burnoutpada perawat masih perlu diteliti lebih lanjut karena karakteristik perawat dan lingkungan kerjanya di setiap negara tidak sama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan umur, jenis kelamin, status kepegawaian, beban kerja, dukungan keluarga dan kepemimpian dengan burnoutperawat, dan menganalisis variabel yang paling berpengaruh. Penelitian Cross Sectionaldilakukan terhadap 125 orang perawat di Rumah Sakit Atma Husada (RS AH) Samarinda. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji statistikchi squaredan analisis regresi logistik berganda. Hasil penelitian menunjukkan 56% perawat di RS AH Samarinda mengalami burnout, variabel jenis kelamin (p=0.000), status kepegawaian (p=0.034), beban kerja, (p=0.022), dukungan keluarga (p=0.000), dan kepemimpinan (p=0.000) berhubungan dengan burnout, sedangkan umur tidak berhubungan dengan burnout(p=0.426). Dukungan keluarga mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap burnoutperawat (nilai OR 17.87), disusul dengan variabel kepemimpinan (nilai OR 14.92) dan beban kerja (nilai OR 2.36). Rumah sakit disarankan untuk melakukan perbaikan sistem kerja untuk mengurangi beban kerja, meningkatkan dukungan sosial keluarga, dan memperbaiki efektivitas kepemimpinan. Kata kunci : Burnoutperawat, dukungan keluarga, kepemimpinan, status kepegawaian.Analysis Factors that are Related to Burnout in Mental Health Nurses AbstractNurses are a group of health professionals who are at risk to experience burnout. Factors that are influenced the incident of burnout to nurses need to be investigated further because nurses’ characteristics and work environment are different in every country. This study aimed to analyze relationship of age, gender, employee status, work load, family support, and leadership with burnout among nurses, as well as to analyze the most influencing variable. Cross Sectional study were conducted among 125 nurses in Atma Husada Hospital (RS AH) Samarinda. Questionnaires were used for data collection. The data were analyzed using Chi-square test and multiple logistic regression. The results showed that 56% nurses at RS AH Samarinda experienced burnout, variables gender (p=0.000), employee status (p=0.034), work load (p=0.022), family support (p=0.000), and leaderships (p=0.000) are related to burnout, while ages is not related to burnout (p=0.426). Family support has the biggest influence towards the nurses’ burnout (OR=17.87), followed by leaderships variable (OR= 14.92) and work load (OR= 2.36). Hospitals are suggested to improve the working system in order to reduce work load, increased family social support, and improve the effectiveness of leadership. Keywords:Burnout of nurses, employee status, family support, and leaderships