Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Not a member yet
    379 research outputs found

    Pengaruh Kontak Kulit ke Kulit Segera terhadap Keyakinan Ibu Menyusui Paska Bedah Sesar

    No full text
    Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan dalam menyusui. Kontak kulit ke kulit segera setelah bayi lahir merupakan faktor kunci dalam proses laktasi. Proses ini sangat tergantung dari keyakinan ibu dalam menyusui bayinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kontak kulit ke kulit segera terhadap keyakinan ibu menyusui paska bedah sesar. Penelitian quasi eksperiment posttest only design with control groups ini dilakukan pada 52 ibu dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi masing-masing 26 ibu secara consecutive sampling di kota Langsa-Aceh. Pengambilan data menggunakan instrumen Breastfeeding Self-Efficacy Scale-Short Form. Hasil uji statistik indenpendent t test menunjukkan adanya perbedaan nilai rerata keyakinan ibu menyusui pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol (59,00±6,54; 49,62±7,78; p=0,001). Kontak kulit ke kulit dapat meningkatkan keyakinan ibu menyusui yang dapat memengaruhi proses laktasi.Kata kunci: Bedah sesar, keyakinan ibu menyusui, kontak kulit ke kulit segera

    Hubungan Sumber Informasi dan Usia Remaja Puteri dengan Perilaku Perawatan Diri saat Menstruasi

    No full text
    Remaja putri merupakan kelompok rawan terjangkit infeksi saluran reproduksi, salah satunya disebabkan pola perilaku belum mendukung dalam perawatan diri saat menstruasi yang menyebabkan meningkatnya angka keputihan patologis. Pola perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh usia dan informasi. Pada pondok pesantren biasanya guru memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi sesuai dengan ajaran islam yang dirasakan lengkap untuk siswinya sehingga akan berpengaruh pada perilaku kesehatan reproduksi mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sumber informasi dan usia siswi dengan perilaku perawatan diri saat menstruasi. Metode: Desain penelitian deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sample total sampling dengan jumlah 100 siswi kelas VIII dan IX. Kegiatan: Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut tahun 2016. Instrumen terdiri dari quisioner data sumber informasi dan usia, serta lembar ceklis perilaku perawatan diri saat menstruasi. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan hampir setengahnya responden berusia 15 tahun (27%), seluruh responden (100%) mendapatkan informasi, hampir seluruh responden (82%) mendapatkan informasi dari ibu, dan hampir seluruh responden (87%) berperilaku tidak mendukung. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa hanya variabel usia yang memiliki nilai signifikan terhadap perilaku perawatan diri saat menstruasi (p = 0,033), sedangkan variabel sumber informasi tidak ada yang memiliki nilai yang signifikan seperti dari; ibu (p = 1,000), koran (p = 0,767), TV (p = 0,338), internet (p = 0,296), guru (p = 0,682), teman (p = 0,675), petugas kesehatan (p = 0,208), dan informasi lainnya (p = 0,780). Kesimpulan terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan perilaku perawatan diri saat menstruasi.Kata kunci: Perawatan diri saat menstruasi, siswi, sumber informasi. The Correlation between Information Source and Age of Adolscent Girls to Self Care Practices of Menstrual Hygiene BehaviorAbstractYoung female are prone to contracting of reproductive tract infections, one of which is due to a behavioral pattern in self-care during menstruation that leads to increase of pathological vaginal discharge. A person’s behavior patterns can be affected by age and information. In the boarding school, usually teachers provide education about reproductive health in accordance with Islamic teachings so that will affect the behavior of their reproductive health. The purpose of this study was to determine the relationship between the source of information and the age of female students with self-care behavior during menstruation. Method: Descriptive correlational research design was used in this study. Sampling technique was total sampling of 100 students of class VIII and IX. Activity: The research was conducted at Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Garut in 2016. The instrument consisted of information questionaire and data of age, as well as checklist of self-care behavior during menstruation. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results showed that almost half (27%) of respondents aged 15 years, all respondents (100%) received information, almost all respondents (82%) received information from mothers, and almost all respondents (87%) had unsupport behavior. The correlation test results showed that only the variable of age had significant value to the self-care behavior during menstruation (p = 0,033),whereas the variable of information source had not significant value such as from mother (p = 1,000), news paper (p = 0,767), TV (p = 0,338), internet (p = 0.296), teachers (p = 0.682), friends (p = 0,682), health providers (p = 0,208), and other informations (p = 0,780). Conclusion There was a significant relationship between age and self-care behavior during menstruation.Keywords: Self-care during menstruation, student, source of information

    Pengaruh Self Tapping terhadap Penurunan Level Dysmenorhea pada Mahasiswi Program Studi Ilmu Keperawatan

    No full text
    Dysmenorrhea primer adalah nyeri pada perut bagian bawah yang dirasakan pada saat menstruasi tanpa adanyakelainan pada panggul. Banyaknya gejala yang muncul saat dysmenorrhea dapat berpengaruh pada aktivitaskerja dan aktivitas sehari-hari. Ada beberapa manajemen nyeri untuk mengatasi dysmenorrhea primer, salahsatunya adalah dengan self tapping. Tujuan penelitian untuk menganalisis efektifitas terapi self tapping dalammenurunkan level nyeri dysmenorrhea primer pada mahasiswi PSIK FK UGM. Penelitian ini adalah jenispenelitian quasi experiment non randomized pretest-postest with control. Pada kelompok intervensi diberikanperlakuan self tapping, sedangkan pada kelompok kontrol diberikan perlakuan nafas dalam. Pengukuran levelnyeri dysmenorrhea primer dilakukan menggunakan instrumen Numerical Rating Scale (NRS) dengan skala1−10. Jumlah responden sebanyak 60 orang. Untuk mengetahui perbandingan level nyeri sebelum dan sesudahterapi pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dilakukan uji statistik Wilcoxon. Sedangkan untukmembandingkan perbedaan level nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dilakukan uji statistikMann Whitney. Hasil menunjukkan intervensi self tapping lebih efektif menurunkan level nyeri dysmenorrheaprimer pada mahasiswi PSIK FK UGM dengan nilai p = 0,007. Kesimpulannya terdapat pengaruh terapiself tapping terhadap terhadap level nyeri dysmenorrhea primer pada mahasiswi PSIK FK UGM. Terapi selftapping dapat dijadikan pilihan penanganan untuk mengurangi nyeri pada saat mengalami dysmenorrhea primer

    Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup Pasien dengan Penyakit Jantung Koroner

    No full text
    Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat saat ini. PJK berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan penderitanya baik fisik, psikososial maupun spiritual yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Isu kualitas hidup dan faktor-faktor yang berhubungan didalamnya belum tergambar jelas di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK yang sedang menjalani rawat jalan. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat penghasilan, revaskularisasi jantung, rehabilitasi jantung, kecemasan, depresi dan kesejahteraan spiritual. Kecemasan diukur dengan Zung Self-rating Anxiety Scale, depresi diukur dengan Beck Depression Inventory II, kesejahteraan spiritual diukur dengan kuesioner Spirituality Index of Well-Beingdan kualitas hidup diukur menggunakan Seattle Angina Questionnaire. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif deskriptif dan analitik multivariatedengan regresi logistic. Diteliti pada 100 responden yang diambil secara randomdalam kurun waktu 1 bulan di Poli Jantung. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK adalah cemas (p) 0,002; Odd Ratio(OR) 4,736 (95% confidence interval(CI), 1,749 - 12,827); depresi (p) 0,003; OR 5,450 ( 95% CI, 1,794 - 16,562); dan revaskularisasi (p) 0,033; OR 3,232 (95% CI, 1,096 - 9,528). Depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien PJK. Faktor yang memengaruhi kualitas hidup pada pasien PJK meliputi depresi, cemas dan revaskularisasi. Dari ketiga variabel tersebut depresi merupakan variabel yang paling signifikan berpengaruh, sehingga manajemen untuk mencegah depresi perlu mendapatkan perhatian lebih baik lagi dalam discharge planningataupun rehabilitasi jantung.Kata kunci: Cemas, depresi, faktor yang memengaruhi, kualitas hidup, spiritual.Factors Influenced the Quality of Life among Patients Diagnosed with Coronary Heart Disease AbstractCoronary Heart Disease (CHD) has affected multidimensional aspects of human live nowadays. Yet, quality of life and factors associated with quality of life among people who live with heart disease has not been explored in Indonesia. This study aimed to identify factors influenced the quality of life among people with CHD received outpatient services. Those factors are gender, income, revascularization, cardiac rehabilitation, anxiety, depression and spiritual well-being. Zung Self-rating Anxiety Scale was used to measure anxiety where depression level measured using Beck Depression Inventory II. Spirituality index was used to measure spiritual well-being. The quality of life level was measured using the Seattle Angina Questionnaire. This study used quantitative descriptive with multivariate analysis using logistic regression. 100 respondents were randomly selected from the Cardiac Outpatient Unit. Findings indicated factors influenced the quality of life of CHD patients using a significance of Æ¿-value < 0.005 were: anxiety (Æ¿=0,002, OR = 4,736, 95% CI, 1,749 - 12,827); depression (Æ¿=0,003; OR=5,450, 95% CI, 1,794 - 16,562); and revascularizations (Æ¿=0,033; OR=3,232, 95% CI, 1,096 - 9,528). Depression was considered as the most significant factor; therefore, managing depression is a priority in the discharge planning or cardiac rehabilitation programme. Keywords: Anxiety, depression, quality of life, spiritual, well-being

    Defining Service Learning in Nursing Education: An Integrative Review

    No full text
    Despite the wide use of service learning, there is lack of a standardised definition and measurable outcomes. Definitions of service learning found in the literature vary from the very broad to the highly specific. The aim of this review was to generate a functional definition of service learning and identify its components to constructively design and evaluate service-learning approaches in nursing education. An integrative review of scholarly literature was conducted to enable a concept analysis. A comprehensive database search using the search terms through a range of electronic databases, including CINAHL, MEDLINE, ERIC, Scopus, and the Web of Science from the earliest retrievable records of each database to June 23, 2015. The search terms used in this review were nursing students, nursing education, nursing school, community health nursing, community mental health nursing, health education, and service learning or community based education. A total of 42 studies were included in the review. A functional definition of service learning is proposed and four components of service learning were identified in this review, namely a structured form of intra-curricular experiential learning, reflection, reciprocity, and setting specific outcomes and benefits for stakeholders. The proposed conceptual model of service learning could contribute to consistent development, implementation, and evaluation of service learning in nursing education. Keywords:Components, definition, nursing education, service learning. Mendefinisikan Metode Belajar Service Learningdalam Pendidikan Keperawatan: Sebuah Kajian IntegratifAbstrakMetode service learning telah banyak digunakan di institusi pendidikan keperawatan di dunia, tetapi tidak ada definisi standar dan hasil yang terukur dari metode ini. Definisi service learning yang ada saat ini sangat bervariasi mulai dari yang sangat umum sampai sangat spesifik. Tinjauan literature ini bertujuan untuk menyusun definisi fungsional dari metode service learning dan mengidentifikasi komponennya sehingga dapat digunakan untuk merancang dan mengevaluasi metode service learning dalam pendidikan keperawatan. Integrative review (tinjauan pustaka terintegrasi) dilakukan untuk melakukan analisis konsep service learning. Pencarian literature secara komprehensif melalui database elektronik yang terdiri dari CINAHL, MEDLINE, ERIC, Scopus, dan the Web of Sciencedari publikasi yang paling awal sampai dengan tanggal 23 Juni 2015. Kata kunci yang digunakan adalah: nursing students, nursing education, nursing school, community health nursing, community mental health nursing, health education, and service learning or community based education.Total 42 artikel penelitian dimasukkan dalam analisis. Definisi fungsional service learning telah disusun dan empat komponen utama service learning telah diidentifikasi yang terdiri dari pengalaman belajar lapangan intra-kurikuler yang terstruktur, refleksi, reciprocity (manfaat timbal balik), dan penentuan hasil dan manfaat yang spesifik untuk semua pihak yang terlibat. Model konseptual yang disusun dapat berkontribusi bagi institusi pendidikan keperawatan untuk mengembangkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan service learning. Kata kunci : Definisi, komponen, pendidikan keperawatan, service learnin

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dukungan Keluarga dalam Pencegahan Primer Hipertensi

    No full text
    Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa di Indonesia terjadi peningkatan prevalensi hipertensi delam tiga tahun terakhir. Kabupaten Kuningan merupakan wilayah dengan prevalensi hipertensi terbanyak di Indonesia. Kasus hipertensi merupakan salah satu penyakit yang termasuk sepuluh penyakit terbesar selama tiga tahun di seluruh Puskesmas di Kabupaten Kuningan termasuk Puskesmas Windusengkahan yang memiliki catatan kenaikan hipertensi tiga tahun terakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor yang paling berhubungan dengan dukungan keluarga dalam pencegahan primer hipertensi pada di Wilayah Kerja Puskesmas Windusengkahan Kabupaten Kuningan. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan menggunakan multivariat regresi liniear. Responden pada penelitian ini adalah anggota keluarga usia dewasa baik pria maupun wanita di Wilayah Kerja Puskesmas Windusengkahan yang memiliki riwayat keluarga hipertensi dan memiliki minimal dua faktor dari risiko hipertensi yang bertempat tinggal bersama keluarga. Pengambilan sampel di setiap kelurahan dalam pada wilayah kerja Puskesmas Windusengkahan ini menggunakan proporsional random sampling. Hasil dari penelitian ini yaitu semua variabel bebas seperti tingkat pengetahuan, faktor spiritual, faktor emosional, tingkat ekonomi, latar belakang budaya, dan praktik keluarga berhubungan dengan dukungan keluarga dalam pencegahan primer hipertensi. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan dukungan keluarga dalam pencegahan primer hipertensi adalah paktor praktik. Persamaan yang muncul dari penelitian ini yaitu dukungan keluarga = 0.442 + 5.331 (Tingkat Pengetahuan Keluarga) + 2.532 (emosional)+ 3.112 (spiritual) + 7.330 (Faktor Praktik Keluarga). Kesimpulan penelitian adalah pengetahuan keluarga, faktor emosional, faktor spiritual dan praktik keluarga lebih ditingkatkan lagi di keluarga dalam memberikan dukungan pencegahan primer hipertensi. Keluarga menjadi faktor penting bagi anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatannya khususnya pada pencegahan primer hipertensi.Kata kunci: Dukungan keluarga, hipertensi, pencegahan, praktik keluarga

    Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Menopause terhadap Perubahan Kualitas Hidup Perempuan Klimakterik

    No full text
    Perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada masa klimakterium akan mempengaruhi kualitas hidup perempuan. Untuk itu diperlukan proses adaptasi terhadap berbagai masalah dan perubahan selama masa klimakterium sehingga akan meningkatkan kualitas hidup perempuan klimakterik. Kurangnya pengetahuan dan akses informasi merupakan tantangan besar yang dihadapi oleh wanita menopause. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan adalah melalui pemberian pendidikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang menopause terhadap perubahan kualitas hidup perempuan klimakterik. Penelitian ini merupakan penelitian quasy experimentdengan rancangan pretest and posttest nonequivalent control group design. Penelitian dilakukan di Dusun Gamping Kidul Ambarketawang bulan Desember 2013-April 2014. Jumlah populasi sebanyak 271 orang. Sampel terdiri dari 44 orang kelompok intervensi dan 44 orang kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 4 kali ceramah dan diskusi kelompok kecil, serta 1 kali praktik relaksasi dan senam yoga. Kelompok kontrol diberikan booklet tentang perubahan masa menopause, tanda dan gejala, nutrisi masa menopause, dan penatalaksanaan menopause. Instrumen yang digunakan adalah WHOQOL-BREF. Analisis yang digunakan adalah uji Paired t-test, Independent Samples t-Testdengan α 0.05.Nilai rata-rata kualitas hidup pretest pada kelompok intervensi sebesar 51,9 dan posttest sebesar 66,5. Hasil uji paired t-test menunjukkan ada perbedaan skor kualitas hidup sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi (t =14,436, p=0,001). Namun tidak bermakna pada kelompok kontrol (t=1,059, p= 0,0295) dengan perubahan skor kualitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa program pendidikan kesehatan tentang menopause dapat meningkatkan kualitas hidup perempuan selama periode klimakterium.Kata kunci: Klimakterium, kualitas hidup, menopause, pendidikan kesehatan.Influence of Health Education about Menopause towards the Quality of Life Changes in Climacteric Women AbstractPhysical and psychological changes that happen at the climacterium period would influence the quality of life in climacteric women. Therefore, the adaptation process is needed to overcome problems and changes during this period so that the quality of life of climacteric women could be increased. Lack of knowledge and access to information are major challenger that were faced by menopause women. One of efforts that can be done to improve their knowledge is through health education. This study aimed to identify the influence of health education about menopause towards the quality of live changes in climacteric women. The study used quasi experiment design with pretest and posttest nonequivalent control group. The location of this study was in Gamping Kidul Ambarketawang Village in December 2013 to April 2014. The total population is 271 people. Sample consisted of 44 people in the intervention group and 44 people in the control group. The intervention group received 4 times health education and small group discussion, as well as once relaxation and Yoga. Participants in control group received a booklet about menopause, signs and symptoms, nutrition during menopause period, and management of menopause. The quality of life was measured using WHOQOL-BREF. Analysis used paired t-test, independent samples t-test with α = 0.05. The mean scores of quality of life for intervention group were 51.0 (pretest) and 66.5 (posttest). The paired t-test showed that there was a significant difference of quality of life score before and after health education in the intervention group (t =14,436, p=0,001). However, there was no significant difference of quality of life in the control group (t=1,059, p= 0,0295). Based on this results, it can be concluded that health education program about menopause can increase quality of life of climacteric women. Keywords: Climacterium, health education, menopause quality of life

    Pengaruh Senam Rematik terhadap Perubahan Skala Nyeri pada Lanjut Usia dengan Osteoarthritis Lutut

    No full text
    Proses degeneratif tubuh yang terjadi seiring dengan pertambahan usia akan meningkatkan risiko terjadinya nyeri sendi akibat osteoarthritis lutut, terutama pada lansia. Nyeri sendi yang dialami akan menurunkan aktivitas fisik lansia dan berdampak pada penurunan lingkup gerak sendi. Salah satu tindakan nonfarmakologi yang dapat digunakan untuk mengurangi skala nyeri sendi adalah senam rematik. Gerakan aktif dan ringan tanpa menggunakan beban dalam senam rematik menjadi pemicu pengeluaran beta-endorfin, neuromudulator alami tubuh yang dapat menghambat pelepasan impuls nyeri sehingga skala nyeri sendi lansia berkurang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam rematik terhadap perubahan skala nyeri pada lansia dengan osteoarthritis lutut. Desain penelitian quasi experimentaldengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling di Panti Werdha Sinar Abadi Kota Singkawang kemudian dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Instrumen penelitian adalah Pain Assessment in Advanced Dementia Scaledengan analisis data menggunakan Paired T Testdan Independent T Test.Uji hipotesis dengan Paired T Testpada kelompok perlakuan p-value= 0,000 dan pada kelompok kontrol p-value= 0,017. P-valuekedua kelompok < 0,05 yang berarti terdapat penurunan skala nyeri setelah pemberian senam rematik pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Uji beda mean posttestantara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menggunakan Independent T Test menunjukkan p-value= 0,000 (p<0,05) yang berarti penurunan skala nyeri dengan senam rematik lebih bermakna daripada penurunan skala nyeri yang tidak diberikan senam rematik. Terdapat pengaruh senam rematik terhadap perubahan skala nyeri pada lansia dengan osteoarthritis lutut berupa penurunan skala nyeri pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, tetapi hasil uji beda mean kedua kelompok menunjukkan adanya perbedaan perubahan skala nyeri, skala nyeri kelompok perlakuan lebih rendah daripada kelompok kontrol. Penurunan skala nyeri lebih efektif pada kelompok menggunakan senam rematik daripada kelompok yang tidak diberikan senam rematik.Kata kunci:Lansia, nyeri sendi, osteoarthritis lutut, senam rematik, skala nyeri.The Effect of Rheumatoid Physical Exercises to Reduce Pain Intensity among Elderly Diagnosed with Knee Osteoarthritis AbstractIt is known that arthritis pain can reduce physical activities and join mobility among elderly. A rheumatoid physical exercise is considered as one of non-pharmacologic treatment to minimise their pain intensity. This activity stimulates the release of beta endorphin which inhibits pain impulse modulation that contributed to the reduction of pain intensity. This study aimed to examine the effect of structured physical exercises towards pain intensity among knee osteoarthritis. A quasi experimental with pretest-posttest with control group design was designed. Two groups of elderly were assigned in control and intervention groups. Respondent were recruited using purposive sampling from Panti Werdha Sinar Abadi in Singkawang Kalimantan. Data was assessed using Pain Assessment in Advanced Dementia Scale and then analysed by employing Paired T-test and Independent T-test. Findings indicated there was a different of pain intensity within the intervention group (p-value = 0,000) and controlled group (p-value=0,017). Thus, the reduction of pain score was more effective among the intervention group compared to the controlled group. Keywords: Arthritis pain, elderly, knee osteoarthritis, rheumatoid physical exercise, pain scale

    Diabetes Self-Management and Its related Factors

    No full text
    Self-management is essential in preventing complications among patients with Diabetes Mellitus. The behaviourof patients to implement Diabetes Self-Management (DSM) is influenced by several factors which needsfurther study. This descriptive study aimed to identify factors contributing to DSM among patients with Type2 Diabetes Mellitus (DMT2). 94 respondents were recruited using randomized sampling obtained from aninpatient unit in one hospital in West Java province. Self-rating instruments were used to identify demographydata, knowledge about DSM, self-efficacy scale, and DSM questionnaire. Descriptive analysis was conductedto explain demography data, knowledge, self-efficacy and DSM. Findings indicated respondents demonstratedmoderate level of knowledge (M=7,53), and self-efficacy (M=34,8), and high level of DSM (M=89,28).Post-hoc analysis demonstrated a significant relationship between age (r=-0,209); p=0,043), education level(p=0,008), and self-efficacy (r=0,214; p= 0,038). No significant relationship was not identified with DSM(r=0,317; p=0,187). It is concluded that age, level of education, and self-efficacy were contributed to DSM

    Pengaruh Program Edukasi Perawatan Kaki Berbasis Keluarga terhadap Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

    No full text
    Perilaku perawatan kaki merupakan komponen yang penting dalam pencegahan kaki diabetik. Namun, banyakpasien Diabetes Melitus (DM) yang tidak menjalankannya akibat rendahnya pengetahuan dan self-efficacy pasienmaupun keluarga. Di sisi lain, dukungan dan keterlibatan keluarga merupakan aspek penting dalam terlaksananyaperilaku perawatan kaki pasien DM. Pengembangan program peningkatan perawatan kaki DM berbasis keluargapenting dilakukan guna mengatasi kelemahan program sejenis yang berbasis individu. Tujuan penelitian iniadalah untuk mengidentifikasi pengaruh program edukasi perawatan kaki berbasis keluarga terhadap perilakuperawatan kaki pasien DM. Penelitian quasi experiment dengan pre-test and post-test with control group designini melibatkan 72 responden DM Tipe 2 dan keluarganya yang diseleksi secara purposive dari populasi respondenDiabetes Melitus di wilayah kerja Puskesmas Pasirkaliki Kota Bandung. Sampel dibagi menjadi kelompokintervensi dan kontrol dengan masing-masing 36 responden. Responden pada kelompok intervensi mendapatkanprogram edukasi perawatan kaki berbasis keluarga, konseling serta tindak lanjut 1 kali melalui telepon dan tigakali melalui kunjungan langsung ke rumah. Perilaku perawatan kaki dikumpulkan menggunakan kuesioner.Data dianalisis menggunakan paired dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaankarakteristik antar kelompok. Perilaku perawatan kaki post test (M=84.69, SD=4.49) pada kelompok intervensiberbeda secara bermakna (p = 0.000) lebih tinggi dibanding pre test (M=49.50, SD=9.40), sedangkan padakelompok kontrol ada penurunan skor setelah pengukuran (sebelum M=51,33, SD=8,58; sesudah M=49,50,SD=9,40; p=0,219). Program edukasi perawatan kaki berbasis keluarga efektif meningkatkan perilaku perawatankaki pasien DM. Dengan demikian, perawat dapat mengintegrasikan program edukasi perawatan kaki berbasiskeluarga ke program perkesmas sebagai upaya pencegahan kaki diabetik pada pasien Diabetes Melitus

    0

    full texts

    379

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Keperawatan Padjadjaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇