Jurnal Pendidikan Matematika Unila
Not a member yet
    550 research outputs found

    Analisis Math Anxiety Taruna Tingkat 1 Politeknik Pelayaran Surabaya

    Full text link
    Math anxiety can be interpreted as feelings of discomfort, anxiety, fear, and lack of confidence when solving math problems. Cadets with high math anxiety have a lack of confidence and anxiety about mathematics lectures so that they feel like avoiding mathematics or immediately ending mathematics learning. This study aims to describe the results of math anxiety analysis in level 1 cadets. The approach used is a qualitative approach with a descriptive method designed to explain the level of cadets' level 1 math anxiety which is reviewed from 4 indicators, namely somatic, cognitive, affective, and mathematical knowledge indicators. The subject of this research is level 1 cadets in 2023/2024 of the Surabaya Shipping Polytechnic. The instrument used was a math anxiety questionnaire which was analyzed using a likert scale to determine the average percentage of each indicator and the category of math anxiety based on the results of the analysis. Descriptively, it can be concluded that cadets' math anxiety has the highest number of high categories and the affective indicator occupies the highest percentage of other indicators. Cadets with high math anxiety have a lack of confidence and anxiety about mathematics lectures so that they feel like avoiding mathematics or immediately ending mathematics learning.Keywords: analysis; cadets; math anxietyAbstrakMath anxiety dapat diartikan sebagai perasaan tidak nyaman, gelisah, takut, tidak percaya diri saat menyelesaikan persoalan – persoalan matematika. Taruna dengan math anxiety yang tinggi memiliki rasa kurang percaya diri dan gelisah terhadap perkuliahan matematika sehingga timbul perasaan ingin menghindari matematika ataupun segera mengakhiri pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil analisis math anxiety pada taruna tingkat 1. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang dirancang untuk menjelaskan tingkat math anxiety taruna tingkat 1 yang ditinjau dari 4 indikator yaitu indicator somatic, cognitive, affective, dan mathematical knowledge. Subyek penelitian ini adalah taruna tingkat 1 tahun 2023/2024 Politeknik Pelayaran Surabaya. Instrumen yang digunakan adalah angket math anxiety yang dianalisis menggunakan skala likert untuk menentukan persentase rata – rata setiap indikator serta kategori math anxiety berdasarkan hasil analisis. Secara deskriptif dapat disimpulkan bahwa math anxiety taruna memiliki jumlah kategori tinggi terbanyak dan indikator affective menempati persentase tertinggi dari indikator lainnya. Taruna dengan math anxiety yang tinggi memiliki rasa kurang percaya diri dan gelisah terhadap perkuliahan matematika sehingga timbul perasaan ingin menghindari matematika ataupun segera mengakhiri pembelajaran matematika.Kata Kunci: analisis; math anxiety; taruna  DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v12i3.pp178-18

    Pengembangan Media Pembelajaran Menggunakan Metode Differentiated Instruction Berbasis Mobile Learning Pada Materi Limit Fungsi

    Full text link
     This research aims to develop learning media using differentiated instruction based on mobile learning on Function Limits material. This research uses the Waterfall model, which consists of requirements, design, implementation, verification, and maintenance. Data collection techniques use questionnaires. The research subjects were students in the 1st semester of the Informatics Engineering Study Program. At the requirements stage, we analyzed students' initial needs and abilities, leading to the creation of mobile learning-based mathematics learning media with differentiated instruction. These results have practical applications for function-limit material. This analysis led to the creating of mobile learning-based mathematics learning media using differentiated instruction. We conceived an engaging concept for mobile learning-based mathematics learning media at the design stage, facilitating its subsequent development. Next, mobile learning-based mathematics learning media was produced at the implementation stage using Android Studio Girrafe. At the verification stage, we conducted black box and functional testing to demonstrate that the learning media operates smoothly by the planned features. Verification on media and material experts received 90.45% and 92.73% results. We conducted user trials and obtained a success rate of 83,56%, the designed application is valid and can serve as a learning medium for Functional Limits material. Keywords: differentiated instruction; instructional media; mobile learning AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan media pembelajaran menggunakan differentiated instruction berbasis mobile learning pada materi Limit Fungsi. Model penelitian penelitian ini menggunakan model Waterfall yang terdiri dari requirment, design, implemetation, verification, dan maintenance. Teknik Pengumpulan data menggunakan angket. Subjek penelitian adalah mahasiswa Program Studi teknik Informatika semester 1. Hasil dari penelitian ini berupa aplikasi media pembelajaran matematika berbasis mobile learning pada materi Limit Fungsi di mana pada tahap requirment telah dilakukan analisis kebutuhan dan kemampuan awal mahasiswa, yang mengarah pada pembuatan media pembelajaran matematika berbasis mobile learning menggunakan differentiated instruction. Pada tahap design, telah merancang suatu konsep media pembelajaran matematika berbasis mobile learning yang menarik agar dapat dikembangkan lebih lanjut. Selanjutnya, pada tahap implementation dihasilkan media pembelajaran matematika berbasis mobile learning menggunakan Android Studio Girrafe. Pada tahap verification, telah dilakukan pengujian blackbox dan fungsioanalitas mendapatkan hasil bahwa media pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai fitur yang direncanakan. verifikasi dilakukan pada ahli media dan ahli materi mendapatkan hasil 90,45% dan 92,73%. Uji coba pengguna telah dilakukan dan mendapatkan hasil sebesar 82,50% sehingga dapat disimpulkan bahwa aplikasi yang telah rancang valid dan dapat digunakan sebagai media pembelajaran materi Limit Fungsi. Kata Kunci: differentiated instruction; media pembelajaran; mobile learning DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v11i4.pp245-26

    Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa SMP pada Penerapan Merdeka Belajar Berdasarkan Teori Wallas

    Full text link
    The research focuses on students' creative abilities in implementing Merdeka Belajar. This research aims to describe students' creative thinking abilities in the creative category in the application of Merdeka Belajar based on Wallas' Theory. This research is descriptive research with a qualitative approach. The subjects of this research were two students from class VII, totaling 28 students. The instruments used are test instruments in the form of description questions and non-test instruments in the form of interview guides. Data analysis techniques will be carried out by collecting data, reducing data, presenting data, and drawing conclusions. Testing the validity of the data was carried out using a credibility test in the form of technical triangulation. The research results found that the creative thinking abilities of junior high school students in the creative category in the application of Merdeka Belajar showed that students in the creative category had different understandings and solutions. The difference lies in fulfilling the stages of creative thinking based on Wallas's Theory. Therefore, based on the analysis of this research, teachers can apply Merdeka Belajar which refers to Wallas's Theory in mathematics lessons.  Keywords: creative thinking ability; merdeka belajar; wallas theory  AbstrakPenelitian ini berfokus pada kemampuan kreatifitas siswa dalam penerapan Merdeka Belajar. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan berpkir kreatif siswa dengan kategori kreatif pada penerapan Merdeka Belajar berdasarkan Teori Wallas. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini dipilih dua siswa dari kelas VII yang berjumlah 28 siswa. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal uraian dan instrumen non-tes berupa pedoman wawancara. Teknik analisis data akan dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas berupa triangulasi teknik. Hasil penelitian ditemukan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa SMP dengan kategori kreatif pada penerapan Merdeka Belajar menunjukan bahwa siswa kategori kreatif memiiki pemahaman dan cara penyelesaian yang berbeda-beda. Perbedaan terletak pada ketercapaian dalam memenuhi tahapan berpikir kreatif berdasarkan Teori Wallas. Oleh karena itu, berdasarkan analisis penelitian ini, guru dapat menerapkan Merdeka Belajar yang mengacu pada Teori Wallas dalam pelajaran matematika. Kata Kunci: kemampuan berpikir kreatif; merdeka belajar; teori wallas  DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v12i1.pp64-7

    Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa Pada Materi Logaritma Melalui Media Pembelajaran LOGAMATHICS

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep siswa melalui penerapan media pembelajaran LOGAMATHICS pada materi logaritma. Media pembelajaran LOGAMATHICS (Logarithm of Mathematics) merupakan aplikasi berbasis android yang dapat digunakan oleh guru sebagai alat untuk mempermudah siswa dalam memahami materi logaritma. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experiment dengan desain penelitian one group pretest-posttest design. Subjek dalam penelitian ini adalah 30 siswa kelas X-1 di SMA Negeri 1 Plemahan dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah lembar tes pemahaman konsep siswa melalui pretest dan posttest. Analisis data penelitian ini adalah analisis kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa analisis data telah terdistribusi normal dan memperoleh kategori “Sedang” dengan nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,59 serta pada uji paired sample t-test diperoleh nilai  yang berarti  ditolak dan  diterima. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran LOGAMATHICS efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep siswa pada materi logaritma

    Kebutuhan Penggunaan Media Berupa Video Pembelajaran Matematika bagi Siswa Tunagrahita

    Full text link
    In studying integer arithmetic operations, mentally retarded students use more learning using teaching materials that are still abstract and difficult to understand. The purpose of this study was to analyze the need for media use in the form of mathematics learning videos for mentally retarded students. This type of research is descriptive qualitative research. The data sources for this study were 3 teachers who taught mentally retarded students in class III elementary school (SD) at SDLB Negeri Metro. The instruments in this study were a needs questionnaire for the development of instructional video media, observation sheets and interview guidelines. Data collection techniques in this study were carried out by distributing questionnaires, observations, and interviews. Based on the results of the analysis and discussion, it can be interpreted that: (1) Media is needed in the form of mathematics learning videos that are in accordance with the conditions of mentally retarded students, (2) already know the numbers 1 to 10 and can add up to a value of 10, (3) it is still possible to use learning media with teacher guidance, and (4) students are more interested in using learning videos in learning mathematics. Keywords: mathematics; mentally disabled students; tutorial video AbstrakDalam mempelajari operasi hitung bilangan bulat, siswa tunagrahita lebih banyak menggunakan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar yang masih bersifat abstrak dan sulit dipahami. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan penggunaan media berupa video pembelajaran matematika bagi siswa tunagrahita. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah 3 orang guru yang mengajar siswa tunagrahita kelas III Sekolah Dasar (SD) SDLB Negeri Metro. Instrumen dalam penelitian ini adalah angket kebutuhan pengembangan media video pembelajaran, lembar observasi dan pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner, observasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat diartikan bahwa: (1) Diperlukan media berupa video pembelajaran matematika yang sesuai dengan kondisi siswa tunagrahita, (2) sudah mengetahui angka 1 sampai 10 dan dapat dijumlahkan hingga bernilai 10, (3) masih memungkinkan untuk menggunakan media pembelajaran dengan bimbingan guru, dan (4) siswa lebih tertarik menggunakan video pembelajaran dalam pembelajaran matematika.Kata Kunci: matematika; siswa tunagrahita; video tutorial DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v12i1.pp1-1

    Pembelajaran Case Method : Efektivitasnya dalam Kemampuan Pemecahan Masalah

    Full text link
    AbstractThis research aims to describe the effectiveness of case method learning in terms of problem solving abilities. This quantitative research used a counterbalanced design. The population in this study were all students of financial mathematics courses in the Undergraduate Program of Mathematics Education, FKIP, Lampung University in the 2022/2023 academic year using saturated sampling. These research instruments were  problem-solving ability tests in the form of essays consisting of two sets of instruments which were equal in quality and fit the content validity and reliability. Based on the results of the inferential statistic tests: i) there are significant differences in the mathematical problem solving abilities of students who study using the case method and conventional learning in both phase I treatment and phase II treatment; and ii) the proportion of students with good problem solving skills in phase I treatment was 93% while in phase II treatment was 33%.  It was concluded that the case method was more effectively implemented in phase I treatment. It is recommended that in case construction, cases not only need to be realistic/contextual but it must also meet the complexity in accordance with the capabilities and breadth of learning resources that students have. Keywords: case method; financial mathematics; problem solving skill AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan efektivitas pembelajaran case method ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain counterbalanced design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang menempuh mata kuliah hitung keuangan Program Studi S1 Pendidikan Matematika FKIP Universitas Lampung pada tahun akademik 2022/2023 dengan sampling jenuh. Instrumen penelitian ini berupa tes kemampuan pemecahan masalah berbentuk uraian yang terdiri dari dua set instrumen dengan kualitas setara dan memenuhi validitas isi dan reliabel. Berdasarkan hasil uji statistik inferensial diketahui bahwa: i) terdapat perbedaan yang signifikan pada kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa yang belajar dengan case method dan pembelajaran konvensional baik pada implementasi fase I dan implementasi fase II; dan ii) proporsi mahasiswa dengan kemampuan pemecahan masalah yang baik pada implementasi fase I sebesar 93% sedangkan pada implementasi fase II sebesar 33% sehingga disimpulkan bahwa case method lebih efektif diimplementasikan pada implementasi fase I. Disarankan bahwa dalam konstruksi case, kasus tidak hanya perlu realistik/kontekstual tetapi juga harus memenuhi kompleksitas yang sesuai dengan kapabilitas dan keluasan sumber belajar yang dimiliki mahasiswa. Kata Kunci: case method; hitung keuangan; kemampuan pemecahan masalah DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v12i1.pp11-2

    Topik Matematika yang Sulit Diajarkan oleh Guru SMP: Sebuah Penelitian Survei

    Full text link
    Mathematics is a crucial subject for students, yet teachers face unique challenges when effectively teaching it. The aim of this research was to identify the topics that were most challenging to be taught by junior high school mathematics teachers to students and the reasons why those topics were difficult to teach. A quantitative survey method was employed, involving 29 active junior high school mathematics teachers participating in the Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP activities in Aceh Tengah Regency, Indonesia. The research findings revealed that geometry was the most challenging topic for teachers to teach, followed by statistics as the second and third most challenging topics chosen by the respondents, while numbers were comparatively easier to teach than other topics. The most dominant factor that contributed to the difficulty of teaching a topic was the lack of adequate teaching aids, followed by teachers' struggles to meet the diverse needs of students and their search for effective teaching strategies. Conversely, teachers' personal preferences for a topic were found to have had the least impact on the difficulty of teaching it. This research provided insights into the challenges faced by mathematics educators and suggested potential areas for improvement in mathematics. education.Keywords: difficult topics; mathematics learning; teacher challenges; teaching challenges AbstrakMatematika adalah mata pelajaran yang sangat penting bagi siswa, namun disisi lain guru memiliki tantangan tersendiri dalam mengajarkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi topik yang paling sulit diajarkan oleh guru matematika SMP kepada siswa dan penyebab topik tersebut sulit untuk diajarkan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif desain survei dengan jumlah responden 29 orang guru SMP yang aktif mengikuti kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) matematika di Kabupaten Aceh Tengah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket yang disebarkan menggunakan google form. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa geometri adalah topik tersulit pertama untuk diajarkan oleh guru, diikuti oleh statistika sebagai topik kedua dan ketiga yang dipilih responden, sedangkan bilangan adalah topik termudah untuk diajarkan dibandingkan topik yang lain. Sementara faktor yang paling dominan penyebab sulitnya sebuah topik untuk diajarkan adalah kurangnya alat peraga yang memadai, guru kesulitan memenuhi kebutuhan siswa yang beragam dan belum menemukan strategi yang tepat. sedangkan faktor yang paling tidak berdampak adalah ketidaksenangan guru terhadap sebuah topik.Kata Kunci: kesulitan guru; pe mbelajaran matematika; tantangan pengajaran; topik sulit DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v11i4.pp261-27

    Analisis Soal dalam Buku Teks Matematika SMP Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada Materi Segitiga dan Segiempat

    Full text link
    This research aims to analyze exercise questions of the triangular and quadrilateral topic in the mathematics textbooks of Indonesian, Malaysian and Singapore (one book from each country) based on the procedure to solve the questions (single or multiple procedures) and the situational dimensions in the questions. The method to analyze the exercise questions is content analysis with the documentation technique to collect data. The results show that the exercise questions in a textbook from Malaysia have the largest percentage with a single procedure (68.97%). Whereas a textbook from Singapore has the largest percentage of questions with multiple procedures (48%). According to the contextual dimension, the textbook from Singapore has pure mathematics questions with the largest percentage (94.67%). Meanwhile, a textbook from Indonesia has the largest percentage (but only 8.87%) for questions that are illustrative described in stories and pictures. Further, the textbook from Indonesia has varied representations than the others have, namely manipulative representations 8.87%, tables 5.91%, images 51.47%, and models 17.15%. Questions requiring the use of technology are only found in the textbook from Malaysia with a percentage of 0.86%.  Keywords: analysis of questions; indonesian; malaysian; mathematics; singapore; textbooksAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan soal-soal latihan pada materi segitiga dan segiempat pada buku teks matematika Indonesia, Malaysia, dan Singapore (masing-masing satu buku dari tiap negara) ditinjau dari prosedur penyelesaiannya (tunggal atau ganda) dan situasi kontekstualnya (matematika murni, ilustratif, penggunaan representasi, atau penggunaan teknologi). Metode yang digunakan adalah metode analisis isi dengan pengumpulan data dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah soal-soal latihan materi segitiga dan segiempat pada buku teks dari Malaysia memiliki presentase soal dengan prosedur tunggal terbesar yaitu 68,97% dan buku teks dari Singapura memiliki presentase soal dengan prosedur ganda terbesar yaitu 48%. Pada dimensi kontekstual, buku teks matematika dari Singapura memiliki soal konteks matematika murni dengan persentase terbesar yaitu 94,67%, dan buku teks matematika dari Indonesia memiliki dimensi situasi kontekstual ilustratif berupa gambar atau cerita dengan persentase terbesar yaitu 8,87%. Buku teks Matematika dari Indonesia merupakan buku yang menggunakan representasi paling bervariasi yaitu representasi manipulatif 8,87%, tabel 5,91%, gambar 51,47%, dan model 17,15%. Soal dengan konteks yang membutuhkan penggunaan teknologi hanya terdapat pada buku teks matematika dari Malaysia, yaitu dengan presentase hanya sebesar 0,86%.Kata Kunci: analisis soal; buku; indonesia; malaysia; matematika; singapura  DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v11i2.pp93-10

    Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMK Berdasarkan Tahapan Polya

    Full text link
    The purpose of this research is to obtain data on the problem solving ability of vocational students based on Polya's stages. This type of research is descriptive qualitative. The research subjects were 5 class X students. The subject selection technique used purposive sampling. The instrument used in this research is a problem solving ability test question. Data collection techniques were carried out by tests and interviews. The data analysis technique uses the stages of Miles and Huberman, namely: reduction, presentation, and conclusion drawing. From the results and discussion, it can be concluded that the mathematical problem solving ability of vocational students based on Polya's stages, namely: (1) the understanding stage, students can understand the information in the problem well, (2) the problem planning stage, students do not write down the general formula used but use the help of images, (3) the problem solving stage, students have not been able to perform calculations appropriately, and (4) the stage of checking back and drawing conclusions, students do not carry out the process of checking back only drawing conclusions. Keywords: polya; problem solving ability; SMK  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data kemampuan pemecahan masalah siswa SMK berdasarkan tahapan Polya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian adalah 5 orang siswa kelas X. Teknik pemilihan subjek menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes kemampuan pemecahan masalah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan tahapan Miles dan Huberman, yaitu: reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Dari hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMK berdasarkan tahapan polya yaitu: (1) tahap memahami, siswa dapat memahami informasi pada soal dengan baik, (2) tahap merencanakan masalah, siswa tidak menuliskan rumus umum yang digunakan tetapi menggunakan bantuan gambar, (3) tahap menyelesaikan masalah, siswa belum dapat melakukan perhitungan dengan tepat, dan (4) tahap memeriksa kembali dan menarik kesimpulan, siwa tidak melakukan proses pengecakan kembali hanya melakukan penarikan kesimpulan. Kata Kunci: kemampuan pemecahan masalah; polya; SMK  DOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v11i3.pp160-16

    SENIOR SCHOOL MATHEMATICS TEACHERS’ AWARENESS AND PERCEPTIONS OF ICT RESOURCES FOR TEACHING AND LEARNING

    Full text link
    This study therefore investigated senior school Mathematics teachers’ awareness and perceptions of ICT resources for teaching and learning of Mathematics: a case of Nigeria. A descriptive research of the survey type was employed. The population for the study consisted of all Senior Secondary School Mathematics teachers in Kwara-Central, Kwara State, Nigeria where two hundred and fifty five Mathematics (255) teachers were involved in the study. Public and private school Mathematics teachers were selected using simple random sampling technique. The research instrument used in the study was “Mathematics Teachers’ Awareness and Perceptions of ICT Resources Questionnaire” (MTAPIRQ). A reliability value of 0.83 was determined using Cronbach alpha in the SPSS version 22. Data were analyzed using percentage and chi-square statistical tools at 0.05 significant level. The result revealed that Mathematics teachers are aware and have positive perceptions of ICT resources for teaching and learning. The result finally revealed that teachers’ perceptions are not dependent on their years of teaching experience. Recommendations were therefore made. Keywords: awareness; ease-of-use; experience perceptions; ICT; usefulness AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki kesadaran guru Matematika Sekolah Menengah Atas dan persepsi terhadap sumber daya TIK untuk pengajaran dan pembelajaran Matematika: kasus di Nigeria. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan jenis survei. Populasi penelitian terdiri dari semua guru Matematika Sekolah Menengah Atas di Kwara-Central, Negara Bagian Kwara, Nigeria di mana 255 guru Matematika terlibat dalam penelitian ini. Guru Matematika sekolah negeri dan swasta dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mathematics Teachers’ Awareness and Perceptions of ICT Resources Questionnaire  (MTAPIRQ). Nilai reliabilitas sebesar 0,83 diperoleh berdasarkan rumus Cronbach alpha pada SPSS versi 22. Data dianalisis dengan menggunakan alat statistik persentase dan chi-square pada taraf signifikan 0,05. Hasilnya mengungkapkan bahwa guru Matematika memiliki kesadaran dan persepsi positif tentang sumber daya TIK untuk pengajaran dan pembelajaran. Hasilnya akhir dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa persepsi guru tidak tergantung pada pengalaman mengajar mereka selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, rekomendasi dibuat.Kata Kunci: ease-of-use; ICT; kegunaan; kesadaran; persepsiDOI: http://dx.doi.org/10.23960/mtk/v11i1.pp29-4

    517

    full texts

    550

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Matematika Unila
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇