252 research outputs found

    Behavioral Mapping Dan Adaptasi Terhadap Lingkungan Pada Squatter Settlement

    Get PDF
    ABSTRAK. Hunian, seringkali mengambil peran krusial sebagai wadah kehidupan manusia, esensi serta eksistensinya seolah hampir tidak pernah luput dan menjadi standar pencapaian sebagai dasar kebutuhan hidup. Keterbatasan lahan serta tidak terjangkaunya biaya membuat sebagian lapisan masyarakat berimprovisasi untuk mendapatkannya. Malfungsi terhadap tata ruang serta lahan pun terjadi sehingga terbentuklah squatter settlements, salah satunya di Semanggi, Surakarta. Merespon hal ini, tindakan penataan kawasan tanpa pemindahan dilakukan oleh pihak berwenang sebagai titik temu demi kebaikan bersama. Penelitian ini dilakukan untuk menggali sejauh mana komunikasi yang telah terbentuk antara warga squatter settlements dengan pihak berwenang yang berkaitan dengan penataan kawasan, bagaimana perilaku yang terbentuk di squatter settlements melalui behavioral mapping, serta adaptasi yang terjadi di squatter settlements. Penelitian ini berbasis rasionalistik, kualitatif dengan memanfaatkan observasi, serta wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa eksistensi dari ruang publik sangatlah penting, Warga memanfaatkan jalan, tanggul, puing-puing sebagai wadah interaksi sosial dan bertetangga. Hasil lain menunjukan adanya adaptasi yang dilakukan oleh warga pada area squatter settlements yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Perlunya penggalian lebih dalam terhadap kebutuhan ruang baik itu ruang didalam hunian, maupun ruang publik diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya perilaku serta adaptasi yang mengarah pada hal-hal yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh kurang terwadahinya aktivitas setelah selesainya penataan kawasan. Kata Kunci: Adaptasi Lingkungan, Behavioral Mapping, Squatter Settlements ABSTRACT. Residential often takes a crucial role as a container of human life; its essence and existence rarely escape and become a standard of achievement as the basis for life's needs. Limited land and unreachable costs make some layers of society improvise to get it. Malfunctions in spatial planning and property ensued so that squatter settlements were formed, one of which was in Semanggi, Surakarta. Responding to this, the act of structuring the area without relocation was carried out by the authorities as a meeting point for the common good. This research was conducted to explore the extent of communication that has been formed between squatter settlements and authorities relating to the arrangement of the area, how the behaviour formed in squatter settlements through behavioural mapping and adaptations that occur in squatter settlements. This research is based on rationalistic, qualitative by using observation and interviews. The results showed that the existence of public space is essential. Residents use roads, riverbanks, debris as a place for social interaction and neighbours. Other findings show that there are adaptations made by residents in the squatter settlements that are influenced by several factors. The need for deeper excavation of space needs both in a residential area, and public space is required in order to anticipate the occurrence of behaviour and adaptation that leads to things that are not desirable due to the lack of activities in the area after the completion of the area.Keywords: Environmental Adaptation, Behavioral Mapping, Squatter Settlement

    Sensasi Termal Pelajar di Dalam Ruang Kelas

    Get PDF
    ABSTRAK. Kota Banjarmasin memiliki iklim tropis lembab, kenyamanan termal menjadi unsur kenyamanan yang vital untuk dicapai khususnya untuk efektifitas kegiatan belajar bagi pelajar. Terutama dengan terjadinya pemanasan global, penggunaan penghawaan buatan seperti Air Conditioning (AC) justru akan memperparah terjadinya climate change karena AC merupakan salah satu sumber utama penghasil emisi. Metode pelaksaan penelitian ini dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui kondisi termal di dalam dan di luar ruang kelas dengan mencari temperatur efektif kondisi termal di dalam ruang kelas dan kondisi iklim lingkungan sekolah dengan menggunakan alat environmental meter. Sedangkan metode kualitatif untuk mengetahui sensasi termal yang dirasakan pelajar saat berada di dalam ruang kelas, pengambilan data dilakukan 3 kali dengan interval 2 jam dimulai pukul 08.00 WITA. Hasil penelitian menunjukan bahwa sensasi termal yang dirasakan oleh pelajar pada pukul 08.00 dan pukul 10.00 WITA kurang dari 30% yang merasa nyaman saat berada di dalam ruang kelas dan tersisa hanya 5.14% pelajar yang merasa nyaman pada pukul 12.00 WITA. Puncaknya pada pukul 12.00 WITA saat matahari berada persis di puncak tertinggi 93.15% pelajar merasakan kepanasan, yaitu terasa agak panas, panas dan panas sekali. Hal ini didukung dengan data kuantitatif yang temperatur efektif di dalam ruang kelas berada di atas batas kenyamanan Webb, yaitu 30.58°C TE pada pukul 08.00 WITA, meningkat menjadi 31.38°C TE pada pukul 10.00 WITA dan puncak tertinggi pada pukul 12.00 WITA mencapai 31.57°C TE. Kata kunci: Kenyamanan Termal, Temperatur Efektif, Lubang Udara, Ruang Kelas, Ventilasi Silang ABSTRACT. Banjarmasin city has a humid tropical climate, which makes thermal comfort one of the vital comfort elements to be achieved. Especially for the effectiveness of the students' learning activities. Global warming is a hot topic today; the use of artificial ventilation such as air conditioning (AC) will aggravate climate change. AC is one of the primary sources of global emission. This research used both quantitative and qualitative methods. The quantitative approach is used to determine thermal conditions inside and outside the classroom by finding the classroom's effective temperature and school environment using environmental meter tools. On the other hand, the qualitative method is used to determine student's thermal sensations inside the classroom. Data collection was carried out three times in 2-hour intervals starting at 08.00 WITA. The results showed that the students' thermal feeling inside the classroom at 8:00, and 10:00 WITA was less than 30% who felt comfortable while only 5.14% felt comfortable at 12.00 WITA. The peak is at 12.00 WITA when the sun is precisely at the highest peak, 93.15 % of students feel discomfort, which is feeling rather hot, hot, and very hot. This is supported by quantitative data where the effective temperature in the classroom is over Webb's comfort limit, which is 30.58 ° C ET at 08.00 WITA, increasing to 31.38 ° C at 10:00 WITA and the highest peak at 12.00 WITA reaching 31.57 ° C ET. Keywords: Thermal Comfort, Effective Temperature, Air Opening, Classroom, Cross Ventilatio

    CITRA DAN HARAPAN TERHADAP KAWASAN KESAWAN DI KOTA MEDAN

    Get PDF
    Masyarakat yang tinggal di suatu kawasan akan mengalami kualitas fisik dan non fisik yang ada di kawasan tersebut secara langsung. Pengalaman sehari-hari dalam suatu kawasan akan menciptakan  citra dan harapan terhadap kawasan tersebut. Kawasan bersejarah dianggap penting sebagai karakter dan nilai citra suatu daerah. Kawasan Kesawan merupakan kawasan bersejarah yang berada di Kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap citra dan harapan Kawasan Kesawan menurut penduduk Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat eksploratif. Data dikumpulkan dengan membagikan kuesioner daring yang berisi pertanyaan terbuka. Kemudian didapatkan data teks yang berisi persepsi dan pemikiran masyarakat tentang citra dan harapan terhadap Kawasan Kesawan. Data tersebut dianalisis dengan analisis isi. Dari hasil analisis, terungkap bahwa citra Kawasan Kesawan yang dominan di mata penduduk Kota Medan adalah memiliki nilai sejarah tetapi tidak terawat. Terungkap pula bahwa mempertahankan bangunan lama dan tetap menjadikan Kawasan Kesawan sebagai kawasan bersejarah adalah harapan penduduk Kota Medan yang dominan

    PENGARUH SETING INTERIOR RUANG TUNGGU TERHADAP ATRIBUT KENYAMANAN PENGGUNA (Studi Kasus: Ruang Tunggu BRI)

    Get PDF
    Perancanan tata ruang-dalam (nterior) dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai subjek pengguna properti. Terkadang, perilaku manusia tidak sesuai dengan perencanaan arsitek dan itu menyebabkan beberapa masalah baru yang membutuhkan solusi.Kenyamanan utama yang dikaji dalam penelitian ini dibatasi terutama dalam kenyamanan sirkulasi terkait dengan aspek tata letak dan dimensi furnishing di ruang tunggu BRI Ungaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh seting interior ruang tunggu, terhadap atribut kenyamanan manusia sebagai pengguna ruang dan untuk mengevaluasi seberapa jauh rencana seting interior sesuai dengan kondisi nyata di lapangan, dalam hal lay out dan dimensi furnishing.Penelitian ini menggunakan paradigma kuantitatif, dengan metode person center maping dan teknik analisis statistik deskriptif. Hasil akhir menunjukkan beberapa perencanaan yang tidak sesuai dengan sirkulasi pengguna yang sebenarnya. Beberapa desain alternatif diharapkan bisa menjadi solusi untuk masalah yang dihadapi

    Evolusi Pada Tatanan Ruang Rumah Baduy (Studi Kasus Rumah Baduy Dalam dan Baduy Luar)

    Get PDF
    ABSTRAK. Ruang dibentuk oleh api pada saat membuat api unggun. Ruang atau tempat untuk mempertahankan api tersebut yang disebut dengan perapian (fireplace). Tujuan penelitian ini dibuat untuk memperkuat posisi studi tentang api dalam pemahaman terhadap ruang. Keterangan inilah yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian mengenai penggunaan perapian di rumah Baduy Dalam dan Baduy Luar, sehingga nantinya memperkaya perkembangan arsitektur Nusantara. Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode interpretive-historical research, dimana metode ini digunakan untuk mendapatkan data-data tentang perubahan atau pergeseran yang terjadi pada pola tatanan ruang dalam serta segmentasi ruang yang ada di rumah Baduy Dalam dan Baduy Luar. Pada penelitian sebelumnya banyak yang menerangkan keterkaitan antara api dan ruang. Api sebagai pencipta ruangan dapat tercipta melalui kegiatan yang terkait penggunaan api, diantaranya kegiatan untuk menghangatkan badan, memasak juga untuk penerangan. Pada rumah Baduy Dalam dan Baduy Luar, fungsi api lebih kearah pemanfaatan ruang dan perapian, hal tersebut ditunjukkan dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan api. Penggunaan perapian tidak mengenal perbedaan gender, artinya semua anggota keluarga dapat menggunakan parako tersebut tanpa kecuali. Jumlah parako yang ada di rumah Baduy Dalam dan Baduy Luar biasanya terkait dengan jumlah kepala keluarga di dalam rumah tersebut, dimana masing-masing parako tersebut bertanggungjawab terhadap 1 kepala keluarga yang ada di dalamnya. Evolusi ruang yang terjadi adalah adanya penambahan ruang tepas. Asal mulanya, di rumah Baduy Dalam tatanan ruang terdiri dari imah dan sasoro, lalu muncul tepas. Tepas terbentuk karena adanya penambahan kegiatan di sekitar parako. Kata Kunci: Evolusi, Tatanan Ruang, Tungku Perapian, Baduy Dalam, Baduy Luar ABSTRACT. Space is formed by fire when making campfires. Space or place to maintain the fire is called a fireplace. The purpose of this study was to strengthen the position of the study of fire in the understanding of space. This information is the background of research on the use of fireplaces in the Baduy Dalam and Baduy Luar house so that later it will enrich the development of the archipelago architecture. The research method used in this paper is the interpretive-historical research method. This method is used to obtain data about changes or shifts that occur in the pattern of interior space and space segmentation in the Baduy Dalam and Baduy Luar house. In previous studies, many have explained the link between fire and space. Fire as a room creator can be created through activities related to the use of fire, including activities to warm the body, cooking also for lighting. In Baduy Dalam and Baduy Luar's house, the function of fire is more towards the use of space and fireplace. This is indicated by the existence of activities related to fire. The use of a furnace does not recognize gender differences, meaning that all family members can use the parako without exception. The evolution of space that occurs is the addition of peripheral space. Originally, in Baduy Dalam house, the arrangement of space consists of imah and sasoro, then appeared tepas. It has been formed because of the addition of activities around the Parako.Keywords: Evolution, Space Order, Fireplace, Baduy Dalam, Baduy Lua

    Kajian Kondisi Jalur Pejalan Kaki di Dalam Kawasan Kampus Universitas Bengkulu

    Get PDF
    ABSTRAK. Berjalan kaki merupakan kegiatan yang esensial dalam menikmati suatu wilayah sekaligus moda transportasi yang alami dan tanpa emisi. Berdasarkan observasi awal peneliti, ditemukan pada kawasan Universitas Bengkulu tidak tersedia jalur pejalan kaki, jalur pejalan kaki yang terputus, serta  jalur pejalan kaki yang tidak memenuhi standar. Sehingga untuk mewujudkan jalur pejalan kaki yang memenuhi standar dan mendorong aktivitas berjalan kaki di dalam kampus maka dibutuhkan jalur pejalan kaki yang sesuai standar dan walkable. Teknik pengumpulan data dan informasi primer pada penelitian ini meliputi teknik observasi dan kuesioner untuk mengkaji tingkat aktifitas pejalan kaki di kawasan kampus. Berdasarkan penilaian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa pada segmen 1 merupakan area dengan kondisi jalur pedestrian yang telah tersedia sesuai standar dan berfungsi dengan baik dan pada segmen 2 merupakan area yang memiliki permasalahan jalur pejalan kaki yang tidak sesuai standar sehingga perlu beberapa solusi yang tepat untuk meningkatkan kondisi jalur pejalan kaki. Kata kunci: Kampus, Observasi, Jalur Pejalan Kaki ABSTRACT. Walking is an essential activity in enjoying an area as well as a mode of transportation that is natural and without emissions. Based on the researchers' preliminary observations, it was found that there were no pedestrian paths in the University of Bengkulu area, broken pedestrian paths, and pedestrian paths that did not meet standards. To realize pedestrian paths that meet the criteria and encourage walking activities on campus, pedestrian paths appropriate to the standard and walkable are needed. This study's primary data and information collection techniques include observation and questionnaire techniques to assess the level of pedestrian activity in the campus area. Based on the assessment that has been done, it was found that in segment 1 is an area with pedestrian track conditions that have been available according to the standard and functioning correctly. Segment 2 is an area with pedestrian path problems that are not following standards, so it needs some appropriate solutions to improve pedestrian path conditions. Keywords: Campus, Observation, Pedestrian Wa

    Studi Perencanaan Pengelolaan Dampak Lingkungan Berkelanjutan Pada Bangunan Jenis Cabin Hotel

    Get PDF
    ABSTRAK. Pengelolaan dampak lingkungan hidup dari bangunan hotel terutama jenis cabin hotel harus sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perencanaan Pengelolaan Dampak Lingkungan Berkelanjutan yang sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lingkungan sekitar terutama pada bangunan jenis Cabin Hotel. Variabel penelitian meliputi 2 (dua) parameter yaitu Parameter Besaran Skala Kegiatan dan Parameter Dampak Lingkungan Yang Ditimbulkan. Analisis yang digunakan pada penelitian kali ini adalah Analisis Kuantitatif dan Analisis Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan parameter besaran skala kegiatan adalah penggunaan lahan untuk bangunan dan parkir sebesar 48,53% dari total luas lahan, penggunaan air sebesar 4,8 m3/ hr, sampah yang dihasilkan sebesar 28 Kg/ h, penggunaan energi listrik dengan daya 33 KVA dan Genset 44 KVA, jumlah tenaga kerja hotel 10 orang. Hasil analisis terhadap ketersediaan ruang parkir sangat tergantung dari jenis Hotel dan segmen pasar yang dituju, yaitu segmen tidak membawa kendaraan ‘menginap’ untuk Cabin Hotel ini. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah Perencanaan Pengelolaan Dampak Lingkungan Berkelanjutan Pada Bangunan Jenis Cabin Hotel dipengaruhi oleh besaran skala kegiatan yang terdiri dari 9 indikator yaitu luasan bangunan, penggunaan air, penggunaan energi listrik dan bbm, jenis komoditas usaha, sampah yang ditimbulkan, jumlah tenaga kerja, jenis peralatan dan mesin, konservasi lahan hijau dan ketersediaan area parkir. Kata kunci: Dampak Lingkungan; Lingkungan Berkelanjutan; Kabin Hotel ABSTRACT. Management of the environmental impact of hotel buildings, especially the type of hotel cabin, must be following the environment's capabilities and carrying capacity. This study aims to find out Sustainable Environmental Impact Management Planning that is following the abilities and carrying capacity of the surrounding environment, especially in Cabin Hotel type buildings. Research Variables include two main parameters, Parameter (1) The Scale Of Activity and Parameter (2) The Environmental Impacts that are caused. The analysis used in this research is a quantitative analysis and qualitative descriptive analysis. The results showed that the scale of the activity was land use for buildings and parking at 48.53% of the total land area, water use at 4.8 m3 / day, waste generated at 28 kg/day, the use of electrical energy with 33 KVA power and Genset 44 KVA, the number of hotel workers ten people. The analysis results of the availability of parking spaces are very dependent on the type of hotel and the target market segment. The conclusion from this research that the Planning for Sustainable Environmental Impact Management in the Hotel Cabin Type Building is influenced by the magnitude of the scale of activities consisting of 9 indicators namely the extent of the building, water use, the use of electricity and fuel, types of business commodities, waste generated, the amount of labor work, types of equipment and machinery, conservation of green land and the availability of parking areas. Keywords: Environmental Impact; Sustainable Environment; Cabin Hote

    IDENTIFIKASI IKLIM MIKRO DAN KENYAMAN TERMAL RUANG TERBUKA HIJAU DI KENDARI

    Get PDF
    ABSTRAK. Fenomena UHI (Urban Heat Island) mengakibatkan suhu udara perkotaan menjadi tinggi, sehingga menurunkan kualitas lingkungan kota. Untuk dapat meningkatkan kualitas kota dan mengimbangi pertumbuhan kota, maka pemerintah menggalakkan pengembangan infrastruktur hijau perkotaan melalui pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kota Kendari memiliki beberapa ruang terbuka yang beberapa diantaranya merupakan pusat aktifitas dan interaksi masyarakat kota, diantaranya Taman Walikota dan Pelataran Tugu Religi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif untuk mengetahui kondisi iklim mikro dan kenyamanan termal ruang terbuka. Data-data yang dikumpulkan berupa karakteristik dan nilai indikator iklim mikro yang meliputi suhu udara, kelembaban relatif, dan kecepatan angin pada sejumlah titik ukur pada siang hari. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Statistik Independent T Test untuk mengetahui perbedaan iklim mikro antara kedua lokasi dan analisis Temperature Humidity Index (THI) untuk mengetahui tingkat kenyamanannya. Hasil dari uji statistik menunjukkan tingkat perbedaan yang tidak sigifikan antara kedua lokasi, meliputi suhu udara (sig.=0,283); kelembaban relatif (sig.=0,115); dan kecepatan angin (sig.=0,105). Sementara itu, melalui analisia THI menunjukkan nilai index tidak nyaman hampir terjadi pada keseluruhan titik ukur. Nilai THI tertinggi pada lokasi Taman Walikota terletak pada titik A5 (THI=31,9), yaitu pada daerah memiliki kecepatan angin rendah karena posisinya pada bagian tengah kawasan. Sedangkan pada lokasi pelataran Tugu Religi, nilai terendah THI diperoleh pada titik B9 (THI=33,12), yakni titik yang sebagian besar material permukaan lahannya berupa aspal. Kata kunci: ruang terbuka, temperatur, angin, kelembaban relatif, Temperature Humidity Index ABSTRACT. The UHI (Urban Heat Island) phenomenon affected urban air temperatures become high, which decreases the quality of the city environment. To be able to improve the quality of the city and to balance the growth of the city, the government promotes the development of urban green infrastructure through the development of Green Open Space (RTH). Kendari City has several open spaces, some of which are the center of the activities and interactions of urban communities, including the Taman Walikota and the Pelataran Tugu Religi. This research is a descriptive study to determine the microclimate conditions and thermal comfort of open spaces. The data collected is in the form of characteristics and values of microclimate indicators which include air temperature, relative humidity, and wind speed at some measuring points during the day. The collected data were analyzed using the Independent T-Test Statistic Test to determine the differences in microclimate between the two locations and the Temperature Humidity Index (THI) analysis to determine the level of comfort. The results of the statistical tests show a significant level of difference between the two locations, including air temperature (sig. = 0.283); relative humidity (sig. = 0.115); and wind speed (sig. = 0.105). Meanwhile, through THI analysis, the uncomfortable index value almost occurs at the whole measuring point. The highest THI value in the location of the Taman Walikota is located at point A5 (THI = 31.9), which is in the area with low wind speed because of its position in the central part of the city. Whereas in the location of the Pelataran Tugu Religi, the lowest value of THI is obtained at point B9 (THI = 33.12), which is the point where most of the surface material in the land is asphalt. Keywords: open space, temperature, wind, relative humidity, Temperature Humidity Index

    GERITEN KARO SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS TEMPAT

    Get PDF
    Perkembangan arsitektur dunia adalah memunculkan ciri lokalitas. Saat ini peneliti Arsitektur Nusantara tengah menyusun kertas kerja dengan semangat pengungkapan kecerdasan Arsitektur Nusantara yang setara dengan pengetahuan arsitektur dunia. Penelitian ini bertujuan mengungkap potensi Geriten sebagai kecerdasan Arsitektur Nusantara. Pengungkapan karakter dan  identitas tempat Geriten dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif antara lain transformasi dan modifikasi geriten untuk berbagai fungsi di masa kini. Temuan menunjukkan bahwa elemen wajah arsitektur Geriten Karo meng-kini menunjukkan kecenderungan sebagai unsur pembentuk landmark (penanda tempat) melalui desain rhythm perulangan, vista, vertikalitas, ungkapan focal point. Bentuk ayo tampil sebagai pembentuk identitas Karo dalam transformasi bentuk dan proporsi. Unsur bentuk atap Geriten pantas dilestarikan dan dikuatkan sebagai unsur arsitektur pembentuk identitas tempat.Kata kunci: Geriten Karo, Transformasi Arsitektur, Identitas Tempa

    Gang sebagai Tempat Aktivitas di Permukiman Perkotaan Referensi Kampung di Kota Surabaya

    Get PDF
    Kampung merupakan permukiman perkotaan dengan keterbatasan tempat aktivitas bagi penghuni. Kampung memiliki keunikan yang khas dalam pembentukan tempat aktivitas.Hal ini karena penghuni tidak hanya beraktivitas di dalam rumah namun juga di luar rumah, khususnya di gang. Paper ini menerangkan secara naturalistik kualitatif tentang bagaimana penghuni kampung membentuk place di gang kampung untuk beragam aktivitas individu dan bersama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gang kampung berfungsi dengan baik sebagai link (jalur sirkulasi) dan tempat aktivitas yang adaptable, fleksibel, dan negotiable. Pembentukan tempat aktivitas di gang kampung dipengaruhi oleh karakteristik space kampung, aktivitas, aktor dan makna gang bagi penghuni kampung.Kampung is a spontaneous urban settlement that lack of an inhabitant’s place activity. Kampung has unique ways for forming an activity place due to where it placed. Kampung’s inhabitant not only do their daily activities inside their houses but also in the kampung’s alley. The objective of research is understand how the inhabitant of kampung are making a place activity at alley. The research method is qualitative approach with naturalistic paradigm. The result showed that the kampung alley are running well as a link (channel of movement) and an activity place that adaptable, flexible, and negotiable. The kampung alley as an activity place formed by space characteristic of kampung, inhabitant’s activities at alley, actor and the meaning of alley for inhabitant.

    225

    full texts

    252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    NALARs
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇