NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
PEMODELAN 3D KOPEL OBSERVATORIUM BOSSCHA MENGGUNAKAN TERRESTRIAL LASER SCANNER DENGAN METODE CLOUD TO CLOUD
Menurut UU RI No. 11 Tahun 2010 bangunan Observatorium Bosscha termasuk kedalam bangunan Cagar Budaya Nasional. Observatorium Bosscha kini difungsikan sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal astronomi di Indonesia. Bangunan Observatorium Bosscha tidak boleh mengalami fungsi ataupun bentuk, maka dari itu diperlukan pendokumentasian model 3D guna pemeliharaan berkelanjutan. Di era modern perkembangan teknologi sangatlah pesat diantaranya adalah teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS) yang dapat memberikan solusi dalam pendokumentasian bangunan Cagar Budaya, dikarenakan dapat merepresentasikan seperti bentuk aslinya, dapat melakukan akuisisi dengan cepat, dan tingkat akurasi yang baik. Dalam penelitian ini alat yang digunakan yaitu TOPCON GLS-2000 dan metode yang digunakan yaitu metode cloud to cloud. Hasil dari penelitian ini berupa model 3D bangunan Kopel di Komplek Observatorium Bosscha. Secara statistik penelitian ini menghasilkan hasil yang cukup baik, dikarenakan selisih perbandingan dari kedua alat berada dalam satuan millimeter. Serta nilai RMS saat registrasi sudah masuk kedalam toleransi dikarenakan nilai kesalahan <0.100 meter
MODEL REVITALISASI RETROFITTING PADA KAWASAN WISATA KAMPUNG MADRAS MEDAN
ABSTRAK. Aglomerasi kawasan budidaya ditandai terkelompoknya kegiatan wisata kota, yang pada kenyataannya justru menurunkan daya tarik wisata kota itu sendiri. Kampung Madras di Kota Medan termasuk salah satu wilayah wisata kota lama yang mengalami penurunan vitalitas wisata berupa degradasi penampilan dan sedikitnya aktivitas wisata. Penelitian ini bertujuan menyusun model revitalisasi kawasan wisata berbasis retrofitting sub-urban. Metode Kualitatif Deskriptif dilakukan untuk mengungkap potensi genius loci sebagai unsur revitalisasi menjadikan Kampung Madras sebagai kawasan wisata Little Indian District kota Medan. Model revitalisasi Kampung Madras sebagai Cultural District City dapat diterapkan melalui 3 (tiga) cara antara lain: (1) melalui penataan fasada bangunan yang dibuat bercorak khas, dynamic skyline serta penataan pedestrian menjadi 3 jalur (window shopping lane, circulation lane, amenity lane) (2) Indian bridge and street carnival (3) Foodcourt Pagaruyung. Model revitalisasi ini memerlukan dukungan dan partisipasi para stake holder terutama masyarakat Tamil setempat berupa kegiatan culinary, occasion dan event khas meningkatkan vitalitas ekonomi dan pembentukan suasana Hindustan Kampung Madras. Kata kunci: Kampung Madras, Revitalisasi, Retrofitting, Wisata Kota ABSTRACT. Agglomeration cultivation area is centralized city tourism activities, which in fact worsened the city tourist attraction itself. Kampung Madras in Medan, one of the old town tourist area decreased vitality in an example, degradation of appearance and minimal tourist activity. This research aims to develop a revitalization model of the tourist area based on the sub-urban retrofitting concept. Qualitative Methods Descriptive conducted to revealed the genius loci potential as an element of revitalization to make Kampung Madras be a tourist area Little Indian District of Medan. Revitalization model of Kampung Madras as the Cultural District City can be applied through three ways, among others: (1) through the arrangement of buildings facade typical patterned, dynamic skyline and pedestrian (window shopping lane, circulation lane, amenities lane) (2) Indian bridge and street carnival (3)Pagaruyung foodcourt. These revitalization models require the support and participation of stakeholders, especially the local Tamil community in the act of culinary activity, occasion and event that increase economic vitality and the establishment of Kampung Madras Hindustan atmosphere. Keywords: Kampung Madras, Revitalization, Retrofitting, City Touris
POTENSI BUDAYA PADA KAWASAN PERMUKIMAN TEPIAN SUNGAI STUDI KASUS KELURAHAN SEBERANG MESJID
ABSTRAK. Kota Banjarmasin yang pada tahun 2018 berumur ke 492 tahun merupakan anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Sebagai Kota berbasis sungai, sejak dulu kehidupan masyarakatnya bergantung dengan aliran sungai yang ditandai permukiman di tepian sungai, persimpangan sungai atau muara sungai. Di kawasan tepian sungai ini pula terjadi ekspansi kekuasaan, kontak agama dan kebudayaan serta kontak perdagangan. Perkembangan di bidang teknologi material, pengetahuan berhuni, dan perkembangan infrastruktur kota secara tidak langsung berdampak pada pudarnya identitas lokal, yaitu budaya sungai pada fisik permukiman dan lingkungan permukiman di tepi sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya sungai pada kawasan permukiman tepian sungai di Kota Banjarmasin. Lokasi Penelitian adalah kelurahan Seberang Mesjid yang terletak di tepian sungai Martapura dan persimpangan antara Sungai Martapura dan Sungai Kuin. Objek penelitian adalah unsur budaya pada kawasan tepian sungai. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian terhadap identifikasi budaya di Kelurahan Seberang Mesjid menunjukkan, kawasan ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi wisata belanja dan wisata edukasi berbasis pada budaya sungai. Kata kunci: Banjarmasin, budaya, permukiman, tepian sungai ABSTRACT. The city of Banjarmasin, which was 492 years old in 2018, is a member of the Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). As a river-based city, the life of the people depends on the river flow which is characterized by settlements on the banks of rivers, crossing rivers or estuaries. In this area of the river, there was also an expansion of power, religious and cultural contacts and trade contacts as well. The developments in the field of material technology inhabited knowledge and the development of urban infrastructure indirectly have an impact on the fading of local identities, such as river culture on physical settlements and settlement’s environments on the banks of rivers. This study aims to determine river culture in riverbank settlement areas in the city of Banjarmasin. The research location is the Seberang Mesjid village which is located on the banks of the Sungai Martapura and the intersection between the Sungai Martapura and Sungai Kuin. The object of research is the cultural element in the river bank. The method used is descriptive qualitative. The results of the study on cultural identification in Seberang Mesjid Village indicate that this area has the potential to be developed into shopping and educational tourism based on river culture. Keywords: Banjarmasin, culture, settlements, river bank
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP BENTUK RUMAH PADA PERMUKIMAN TEPIAN SUGAI KOTA BANJARMASIN
ABSTRAK. Kota Banjarmasin merupakan kota yang dipengaruhi oleh lingkungan sungai. Keberadaan sungai berperan terhadap pembentukan karakteristik identitas Kota Banjarmasin yang dapat dilihat dari permukiman tepian sungainya. Salah satu permukiman tepian sungai yang masih memiliki unsur kelokalan dan kebudayaan sungai yang kuat, yaitu pada permukiman tepian Delta Pulau Bromo. Lingkungan sungai sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan aktivitas masyarakat pada permukiman ini. Aktivitas masyarakat yang banyak dilakukan di sungai membuat masyarakat cenderung membangun hunian atau tempat tinggalnya di tepian sungai, hal ini dilakukan agar memudahkan akses untuk melakukan aktivitas di sungai. Rumah-rumah masyarakat dibangun dengan menyesuaikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Penggunaan jenis struktur, konstruksi dan material pembentuk rumah menjadi pertimbangan dalam membangun rumah. Metode yang dipakai untuk melihat pengaruh lingkungan terhadap bentukan rumah pada permukiman tepian sungai ini memakai metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian ini didapati bahwa, konstruksi kayu dengan material alam, serta struktur pondasi panggung atau terapung menjadi pilihan pada rumah tepian sungai untuk merespon lingkungannya. Selain itu terdapat pula elemen penunjang pada rumah, seperti titian, batang, dermaga dan jamban yang menjadi akses penghubung penghuni untuk berinteraksi dengan lingkungan sungai. Kata kunci: Rumah Tepian Sungai, Lingkungan Sungai, Kota Banjarmasin ABSTRACT. Banjarmasin is the city that has been influenced by the environment of the river. The existence of the river plays a role to establish the identity of Banjarmasin that can be seen from the riverside settlements. One of the places which still have the local-wisdom element and dominant river cultures is Bromo Island Delta. The environment of the river is very influential in the lives and activities of the community in the settlement. The activities at the riverside make the community tend to build a residence on it, and this is done to facilitate access to have an activity on the riverside. The community houses built by adjusting and adapting to its environment. The use of structures, constructions, and material forming of the house is considered in creating them. The method that used to see the influence of the environment to the house in the riverside settlement was a qualitative descriptive method. The result of this research found that the wood construction with natural materials and the structure of the foundation stage or floated are the choice of the river house as a community respond to its environment. Besides, there are also supporting elements at home, such as terrace, logs, piers, and toilet which are being accessed connecting residents to interact with the environment of the river. Keywords: Riverside Settlement House, River Environment, Banjarmasi
PENGARUH GEJALA “PARIWISATANISASI” REVITALISASI TEPIAN SUNGAI SEKANAK KHUSUSNYA TERHADAP KARAKTERISTIK BANGUNAN DAN KAWASAN HERITAGE SEKANAK SEBAGAI POTENSI URBAN HERITAGE TOURISM DI PALEMBANG
ABSTRAK. Wisata sejarah saat ini merupakan segmen pertumbuhan potensial untuk pariwisata perkotaan. Sejak beberapa tahun belakangan wisata sejarah menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ekonomi kembali sebuah kota yang tentunya dengan tidak lupa mengangkat nilai-nilai lokal untuk diikutsertakan dalam perkembangan wisata sejarah tersebut. Sekanak yang merupakan salah satu kawasan bersejarah di kota Palembang berada tepat di tepian sungai Musi, kawasan bersejarah Sekanak khususnya di sepanjang sungai Sekanak dilakukan perubahan tema lansekap dengan konsep yaitu mewarnai bangunan dan elemen hardscape di sepanjang koridor sungai Sekanak. Apabila disesuaikan dengan kaidah dasar pelestarian kawasan bersejarah. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pengecatan warna warni bangunan dan bantaran sungai Sekanak terhadap karakteristik kawasan Sekanak Palembang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data-data primer melalui observasi dan data sekunder dari studi literatur dan studi dokumen. Analisis yang dilakukan adalah dengan melihat elemen variabel standar bangunan dan kawasan yang masuk dalam syarat teori pelestarian sehingga dapat dinyatakan bangunan dan kawasan tersebut merupakan kawasan heritage kemudian akan dilakukan studi mengenai kesesuaian pengecatan kawasan tepian sungai Sekanak dengan karakteristik kawasan yang telah diperoleh sebelumnya. Kata kunci: Wisata, Kota, Pariwisata, Sejarah, Sekanak. ABSTRACT. Historical tourism is a potential growth segment for urban tourism. Since the past few years, historical tourism has become one of the ways to improve the economy of a city, of course by not forgetting to raise local values to be included in the development of historical tourism. Sekanak which is one of the historical areas of the city is located right on the banks of the Musi River, the historic neighborhood along the Sekanak river is done by changing the landscape with a concept made by studying buildings and hardscape elements along the Sekanak river. It is a fundamental principle of preserving the historic area. This research aimed at examining the characteristics of buildings and the banks of the characters of the Palembang area. The research method used by collecting primary data through collection and secondary data from literature studies and document studies. The inheritance area and surveys will be carried out on a standard variable. The inheritance area and studies had been carried out based on the suitability of the Sekanak river bank with the preservation area previously obtained.Keywords: Tour, City, Tourism, Heriage, Sekana
REKONSTRUKSI BENTUK ARSITEKTUR CANDI PADANG ROCO DI KABUPATEN DHARMASRAYA SUMATERA BARAT
Abstrak. Penelitian rekonstruksi bentuk Candi di Sumatera perlu dilakukan dikarenakan Candi di Sumatera umumnya hanya tersisa bagian kaki, sehingga penelitian mengenai langgam dan terkait budaya sulit dilakukan. Selain itu kajian pemaknaan bentuk dan perumusan langgam arsitektur candi perlu dilakukan kajian morfologi terlebih dahulu. Permasalahan yang dijumpai pada situs percandian di Sumatera adalah tidak semua candi di Sumatera memiliki bentuk yang utuh melainkan mayoritas hanya menyisakan bagian dasar candi dan paling lengkap hanya badan candi, hal ini apabila dibiarkan maka masalah ini akan tetap mengambang tanpa ada solusi ke depan. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan kajian tafsiran bentuk candi secara utuh. Dari beberapa penelitian umumnya menggunakan metode komparasi dengan melihat bangunan-bangunan candi di Indonesia akan tetapi metode urutan rekonstruksi bentuk tidak begitu rinci, di dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan bersifat penelitian lapangan. Adapun analisis data yang dilakukan menggunakan analisis morfologi dan komparasi, data hasil pengukuran candi Padang Roco dirumuskan angka perbandingannya. Berdasarkan hasil rekonstruksi ditemukan bahwa bentuk Candi Padang Roco memiliki gaya arsitektur yang berbeda dari candi di Indonesia pada umumnya mulai dari bentuk punden berundak seperti tipe candi di Indo-Cina. Bentuk candi ini juga serupa dengan keberadaan struktur kuno yang berbentuk punden berundak yang ditemukan di Lampung dan memiliki analogi dengan perabotan tradisional di Palembang juga serupa dengan punden berundak.Kata Kunci : Rekonstruksi, Bentuk, Proporsi, Candi ABSTRACT. Research on the reconstruction of temple form in Sumatera needs to be done because the temples in Sumatera generally only left with the base of the temple, so research on culture and culture-related is difficult. Besides that, the study of the meaning of the form and formulation of the temple architectural style needs to be carried out morphological study first. The problem encountered in the ensemble site in Sumatera is that not all of them have a complete form, but the majority only leaves the leg and most complete only the body parts of the temple. This problem will remain floating without any future solutions. Based on these problems, the researchers tried to begin by enlightening the study of how the interpretation of the temple form, which left the foot of the temple became the appearance of the temple as a whole. From several studies generally using the comparative method by looking at temple buildings in Indonesia but the purpose of explanation of the order of the reconstruction process is not very detailed, in this study the method used is qualitative and is field research. As for the data analysis carried out using morphological and comparative analysis, the data from the measurement of Padang Roco temple were compared. Based on the result of the reconstruction it was found that the shape of the Padang Roco temple had a different architectural style from the temples in Indonesia, in general, ranging from the form of Punden terraces such as the type of temple in Indo-China. The shape of the temple is also similar to the existence of ancient structure in the form of Punden terrace found in Lampung and have an analogy with traditional furniture in Palembang which is also identical to Punden form.Keywords : Reconstruction, Form, Proportion, Cand
TINJAUAN KRITIS: RESTORASI MINOR DAN MAYOR PADA HUNIAN TRADISIONAL CAGAR BUDAYA DI INDONESIA STUDI KASUS RUMAH TUO KAMPAI NAN PANJANG DAN RUMAH WAE REBO
Tulisan ini merupakan sebuah tinjauan kritis tentang penerapan restorasi minor dan mayor pada hunian tradisional terutama yang ditetapkan menjadi cagar budaya di Indonesia. Studi kasus yang terpilih untuk diulas dalam tulisan ini adalah Rumah Tuo Kampai Nan Panjang yang terdapat di Sumatera Barat dan Rumah Wae Rebo yang terdapat di Flores. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk dapat memahami lebih dalam tentang praktek kegiatan restorasi baik minor dan mayor terutama pada bangunan cagar budaya, dimana dalam hal ini difokuskan pada bangunan hunian tradisional. Metode yang digunakan dalam tinjauan kritis ini adalah kualitatif naratif deskriptif, dimana penulis memaparkan secara deskriptif kedua studi kasus dengan mengacu pada panduan Undang-Undang Cagar Budaya Indonesia No. 10 Tahun 2011 dan panduan prinsip-prinsip konservasi cagar budaya di Cina yang dianggap memiliki similaritas dalam penerapannya. Kata Kunci: restorasi minor, restorasi mayor, cagar budaya, Rumah Tuo Kampai Nan Panjang, Rumah Wae Reb
IDENTIFIKASI POTENSI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA ALAM DANAU PICUNG DITINJAU DARI ASPEK PRODUK WISATA DI MUARA AMAN PROVINSI BENGKULU
ABSTRAK. Danau Picung merupakan objek wisata alam yang terletak di Muara Aman Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu yang memiliki potensi dan keindahan alam yang sangat menarik. Objek wisata alam danau Picung dilihat dari produk wisata ( atraksi, amenitas, aksesibilitas ) masih belum berkembang dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari pola penataan fasilitas sarana dan prasarana belum tertata dengan baik serta jumlah nya masih sangat sedikit sehingga kunjungan wisatawan belum maksimal. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis SWOT (strenght, weakness, opportunity, theart). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi obyek wisata alam danau Picung ditinjau dari aspek produk wisata, menganalisis strategi pengembangan obyek wisata alam danau Picung terkait aspek produk wisata, dan mengetahui rencana pengembangan dan arahan desain zonasi kawasan objek wisata alam Danau Picung. Potensi yang bisa dikembangkan di danau Picung adalah sebagai wisata alam dan rekreasi yang memiliki perbedaan keindahan dan keunikan dari objek wisata yang lainnya. Strategi pengembangan kawasan wisata alam danau Picung dengan peningkatan atraksi budaya, atraksi buatan, dan atraksi alam serta amenitas yang memiliki potensi keaslian dan keunikan yang menarik, serta peningkatan SDM di daerah sekitar kawasan objek wisata dengan memberikan pembinaan dan pelatihan sehingga bisa meningkatkan kompetensi. Program pengembangan produk wisata adalah pengembangan atraksi wisata agro, wisata fauna (Kebun binatang, kolam pemancingan), outbond, waterpark, taman hiburan, taman bunga, atraksi kereta gantung, perahu bebek, festival budaya, kesenian dan kerajinan khas ( souvenir ). Pengembangan amenitas hotel/ resort terapung, restoran terapung, pusat informasi wisatawan, toilet, mushola, kios souvenir, gazebo, loket. Peningkatan kualitas aksesibilitas dengan menjaga kondisi jalan dan dibuat sarana transportasi umum. Kata kunci: Produk Wisata, Potensi Wisata Alam, Danau Picung ABSTRACT. Lake Picung is a natural tourist attraction located in Muara Aman Rejang Lebong District Province Bengkulu which has the potential and natural beauty that is very interesting. Lake Picung's natural attractions seen from tourism products (attractions, amenities, accessibility) are still not well developed. This condition can be seen from the arrangement of facilities and infrastructure facilities that have not been well organized, and the amount is still minimal so that tourist visits have not been maximum. This research uses a qualitative descriptive method. The analysis used in this research is a SWOT analysis (strength, weakness, opportunity, threat). This research aims to determine the potential of Lake Picung's natural attractions in terms of aspects of tourism products, analyzing the strategy of developing Lake Picung's natural attractions in terms of tourism products and find out about the development plan and direction of zoning design in the area of Lake Picung's natural tourism. The potential that can be developed in Lake Picung is as a natural and recreation tourism that has differences in the beauty and uniqueness of other tourist objects. The strategy for improving the natural tourist area of Lake Picung with the increase of cultural attractions, human-made attractions, and natural attractions and amenities that have the potential for authentic and exciting uniqueness, and increasing human resources in the area around the tourist attraction area by providing coaching and training so that it can improve competence. Tourism product development programs are the development of agro-tourism attractions, fauna tourism (zoos, fishing ponds), outbound, waterpark, recreation park, flower garden, attractions of cable cars, duck boats, cultural festivals, distinctive arts and crafts (souvenirs). Development of hotel/resort amenities, floating restaurants, tourist information centers, toilets, prayer rooms, gazebos, the place to buy an entrance ticket. They are improving accessibility quality by maintaining road conditions dan making public transportation facilities.Keywords: Tourism Product, Nature Tourism Potential, Lake Picun
TINJAUAN KRITIS: METHODS FOR INVESTIGATING LOCALS’ PERCEPTIONS OF A CULTURAL HERITAGE PRODUCT FOR TOURISM LESSONS FROM BOTSWANA-SUSAN KEITUMETSE
ABSTRAK. Dalam sebuah penelitian kualitatif, dikenal banyak sekali metode pendekatannya, salah satu metode pendekatan dalam penelitian kualitatif adalah pendekatan etnografi di mana di dalamnya menggunakan visualisasi. Tulisan ini merupakan sebuah ulasan dan tinjauan mengenai bagaimana pendekatan etnografi dalam hal ini penggunakan metode visualisasi digunakan dalam menggali data-data dari masyarakat langsung. Tulisan Susan Keitumetse dengan judul “Methods for Investigating Local’s Perceptions of a Cultural Heritage Product for Tourism: Lessons from Botswana”, merupakan salah satu paparan dari penelitian yang dilakukan Susan Keitumetse dalam menggali informasi dari masyarakat dengan menggunakan pendekatan etnografi dengan visualisasi. Susan menggunakan pendekatan ini untuk menggali informasi seberapa jauh peran masyarakat dalam kegiatan pariwisata berbasis cultural heritage. Banyaknya kendala yang ditemui dalam penggalian data dengan menggunakan metode ini, tentunya justru dapat menjadi catatan penting bagi penelitian lainnya yang sejenis yang menggunakan pendekatan etnografi. Kata Kunci: Cagar Budaya, Botswana, Persepsi Masyarakat, Metode Investigasi ABSTRACT. In the qualitative research, there are many approach method; one of the approaches in qualitative research is an ethnography approach which uses visualization as a tool. This paper is a review of how an ethnography approach, particularly in using visualization method, is using to digging up information from local’s community directly. Paper of Susan Keitumetse titled “Methods for investigating Local’s Perception of a Cultural Heritage Product for Tourism: Lessons from Botswana,” is one of a discussion from research which has been done by her to digging up the information from the local community by using ethnography approach with visualization. Susan has used this approach to digging up how far the role of society in the activity of tourism based on cultural heritage. Many challenges have been met for sure in using this approach, but these challenges will become an essential note for the next another research which using this ethnography approach. Keywords: Cultural Heritage, Botswana, Local’s Perception, Methods for Investigatin
PERENCANAAN RTH SEMPADAN SUNGAI CILIWUNG D I KAWASAN KAMPUNG PULO DAN BUKIT DURI JAKARTA
ABSTRAK. Sungai merupakan salah satu bentuk alur air permukaan yang harus dikelola secara menyeluruh dengan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk kebutuhan masyarakat. Dengan demikian untuk mewujudkan kemanfaatan sungai serta mengendalikan kerusakan sungai, perlu ditetapkan garis sempadan sungai, yaitu garis batas perlindungan sungai. Garis sempadan sungai ini selanjutnya akan menjadi acuan pokok dalam kegiatan pemanfaatan dan perlindungan sungai serta sebagai batas permukiman di wilayah sepanjang sungai. Sempadan sungai merupakan salah satu klasifikasi ruang terbuka hijau yang berada di kawasan tertentu sepanjang kiri-kanan sungai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Sungai Ciliwung merupakan sungai terpanjang yang melintas di tengah Kota Jakarta. Usaha untuk menata dan mengembangkan sungai Ciliwung menemui banyak kendala, terutama terkait dengan kekumuhan. Penyebabnya adalah adanya perubahan penggunaan lahan menjadi pemukiman yang berdampak negatif pada kondisi fisik lingkungan, kualitas air sungai, dan kualitas estetika lingkungan sungai. Perencanaan tata hijau merupakan penggunaan tanaman sesuai dengan fungsi tanaman yang mendukung terbentuknya ruang fungsional. Metode dengan Pendekatan J.O.Simonds tahun 1987, meliputi perencanaan desain diawa;li dari tahapan-tahapan kegiatan pendahuluan, inventarisasi, analisis, sintesis, konstruksi , konsep dan desain. Tujuan Penatailangkan an tata hijau tidak lepas bahwa sempadan sungai merupakan salah satu bentuk RTH (ruang terbuka hijau), dalam kasus ini RTH yang dikembangkan memiliki manfaat diantaranya memperbaiki iklim mikro, menjaga dan memperbaiki kualitas udara, struktur tanah dan resapan air, sebagai area konservasi, dan meningkatkan kualitas visual. Kata kunci: ekologi, konsep perencanaan, konservasi, RTH, sempadan, Sungai Ciliwung ABSTRACT. A river is one form of surface water flow that must be managed thoroughly by realizing sustainable use of water resources for the needs of the community. Thus to understand the benefits of the river and control the damage, it is necessary to establish a river borderline, which is known as the river protection boundary line. The river borderline will then become the primary reference in river utilization and protection activities as well as settlement boundaries in areas along the river. The river boundary line is one of the classifications of green open space in certain areas along the bank of the river which have essential benefits to maintain the sustainability of river functions. Sungai Ciliwung is the longest river that crosses in the middle of Jakarta City. Efforts to organize and develop the Sungai Ciliwung encountered many obstacles, primarily related to slums. The cause is a change in land use into a settlement that has a negative impact on the physical condition of the environment, the quality of river water, and the aesthetic quality of the river environment. One of the green open space planning is the use of plants following plant functions that support the formation of functional space. The method with the J.O.Simonds approach in 1987, includes design planning in the stages of preliminary activities, inventory, analysis, synthesis, construction, concepts, and designs. The purpose of greening is that the river borderline is one form of green open space, in this case, the green open space developed has benefits including improving the microclimate, maintaining and improving air quality, soil structure, and water absorption, as a conservation area, and improve visual quality. Keywords: ecology, planning concept, conservation, green open space, borderline, Sungai Ciliwun