NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
EVALUASI PURNA HUNI DI PERUMAHAN CONDONGCATUR DITINJAU DARI ASPEK PENGGUNAAN DAN PERUBAHAAN RUANG
ABSTRAK. Perumahan merupakan hunian massal yang bersifat komoditi dengan bentuk bangunan yang tipikal dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat. Bangunan akan mengalami perubahan ketika tidak dapat memenuhi kebutuhan penghuni atau mengalami kerusakan. Proses atau cara yang digunakan oleh penghuni atau pengguna untuk melakukan perubahan pada bangunan untuk mencapai kenyamanan dan kebutuhan pengguna adalah berbeda-beda. Hubungan antara pengguna lingkungan hunian yang terbangun dengan perilaku penghuni tersebut menyebabkan adanya upaya evaluasi untuk mengetahui keterkaitan pengguna bangunan terhadap performa bangunan termasuk fasilitas dan fungsinya. Proses evaluasi untuk penggunaan bangunan dalam mencapai hal tersebut disebut dengan Evaluasi Pasca Huni (EPH). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek Evaluasi Purna Huni yang terjadi di Perumahan Condongcatur dari aspek Evaluasi Purna Huni yang terkait dengan penggunaan dan perubahan ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualititaif dengan analisis Post Occupancy Evaluation (POE) atau Evaluasi Purna Huni (EPH). Hasil penelitian yang telah dilakukan menujukkan bahwa adanya perubahan fungsi pada bangunan sebagai ruang usaha maupun ruang lain. Acara komunitas juga mempengaruhi penggunaan dan perubahan ruang. Perubahan pada bangunan dilakukan secara horisontal maupun vertikal dengan adanya penambahan konstruksi. Faktor yang mempengaruhi penggunaan dan perubahan ruang disebabkan adanya perkembangan kawasan, kebutuhan ruang, penambahan anggota keluarga serta keamanan dan keselamatan bangunan. Kata kunci: evaluasi purna huni, perumahan, ruang ABSTRACT. Housing is a commodity mass residences that have a typical building and is built to meet residential needs for the community. Buildings will experience changes when they cannot meet the needs of residents or are damaged. The method used by residents or users to make changes to the building to achieve user comfort and needs are different. The relationship between the user of the residential built environment and the behavior of the occupants led to an evaluation effort to determine the relationship of building’s users to the performance of the building including its facilities and functions. The evaluation process for building’s use in achieving this is called the Post-Occupational Evaluation (EPH). This study aims to identify aspects of the Post-Occupational Evaluation that occur in Condongcatur Housing from the Post Evaluation aspect related to space use and change. The research method used is qualitative with the Post-Occupancy Evaluation (POE) analysis. The results of the research show that there is a change in the function of the building as a business space or other space. Community events also affect the use and replace the space. Changes in buildings are carried out horizontally and vertically with the addition of construction. Factors that influence the use and modification of space are due to the development of the area, space requirements, the acquisition of family members and the security and safety of buildings. Keywords: post-occupational evaluation, housing, spac
PERMEABILITAS KAWASAN JALAN MH. THAMRIN TERHADAP AKSES PEJALAN KAKI MENUJU STASIUN MRT BUNDARAN HI JAKARTA
ABSTRAK. Kawasan jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat merupakan kawasan perkantoran yang berdampingan dengan kawasan permukiman serta pusat perbelanjaan dengan skala sosial-ekonominya yang beragam. Keberadaan fasilitas MRT Jakarta dengan stasiun MRT Bundaran HI yang berdiri di kawasan tersebut menjadi faktor tarikan terhadap pergerakan pejalan kaki di sekitarnya, terutama yang berasal dari permukiman (bangkitan pergerakan). Dengan akses ruang jalan yang eksisting, blok perkantoran dan pusat perbelanjaan yang ada perlu dikaji kemampuan permeabilitasnya untuk mempermudah pejalan kaki untuk menuju faktor tarikan di kawasan tersebut. Latar belakang tersebut mendasari permasalahan yang diangkat, agar ditemukan solusi aksesibilitas dan kemampuan permeabilitas yang lebih baik sehingga keberadaan fasilitas MRT dapat lebih terjangkau dari kawasan sekitarnya. Dalam teori tentang aktivitas berjalan kaki, pengurangan waktu tempuh atau peningkatan mobilitas dapat diperoleh dari tingkat permeabilitas lingkungan yang baik terhadap pelaku pejalan kaki/pedemstrian-nya. Konektivitas dan aksesibilitas adalah faktor-faktor yang berpengaruh dalam menciptakan lingkungan yang permeabel. Penelitian ini bertujuan untuk; Mengidentifikasi kondisi aksesibilitas di kawasan Jl. MH. Thamrin Jakarta Pusat terkait keberadaan fasilitas MRT di area tersebut. Selain itu, penelitian ini juga ditujukan untuk menemukan potensi permeabilitas lingkungan untuk menyediakan akses fasilitas MRT melalui kawasan perkantoran yang ada. Obyek dalam penelitian ini adalah jaringan jalan di sekitar akses masuk stasiun MRT Bundaran HI Jakarta, dengan menggunakan teknik simulasi sintaksis ruang (Space Syntax). Kata kunci: Akses MRT, Permeabilitas, Sintaksis Ruang ABSTRACT. The Area of Jalan MH Thamrin in Central Jakarta is an office area adjacent to residential areas and shopping centers with diverse socio-economic scales. The existence of the Jakarta MRT facility with the Bundaran HI MRT station that stands in the area has become a pull factor towards the movement of pedestrians in the vicinity, especially those from settlements (trip generation). With access to existing road space, existing office blocks, and shopping centers, permeability capabilities are needed to facilitate pedestrians to get to the attraction factors in the region. This background underlies the issues raised so that accessibility solutions and better permeability capabilities can be found so that the presence of MRT facilities can be more affordable from the surrounding area. In theory about walking activities, reducing travel time or increasing mobility can be obtained from a good level of environmental permeability towards pedestrians. Connectivity and accessibility are influential factors in creating a permeable environment. This research aims to; Identify accessibility conditions in the area Jl. MH. Thamrin Central Jakarta related to the existence of MRT facilities in the area. Besides, this research also aims at discovering the potential of environmental permeability to provide access to MRT facilities through existing office areas. The object of this research is the road network around the entrance of the Bundaran HI Jakarta MRT station, using space syntax simulation techniques. Keywords: Access of MRT, permeability, space syntaxnta
KAJIAN PERILAKU PADA RUANG TERBUKA PUBLIK
ABSTRAK. Ruang terbuka publik merupakan elemen kota yang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan suatu kota. Aksesibilitas yang tinggi menjadikan ruang ini menjadi tempat bertemunya bermacam aktivitas dari berbagai pengguna. Dalam interaksinya para pengguna menghadirkan aspek perilaku yang beragam. Untuk melihat aspek tersebut maka dilakukan penelitian berdasarkan teori dan penelitian yang sudah ada dan pernah dilakukan sebelumnya. Metode yang digunakan berupa content analysis yang didukung dengan teori dan literatur lainnya. Dari hasil yang didapat terbukti bahwa teori yang digunakan membuktikan penelitian-penelitian mengenai perilaku pengguna di ruang terbuka publik. Selain itu ada juga temuan bahwa ada atribut perilaku lain yang berperan, yaitu: kepercayaan dan jenis kelamin. Kata kunci: arsitektur, ruang terbuka publik, perilaku ABSTRACT. Public open space is one of an element of the city that cannot be separated from the development of a city. High accessibility makes this space become a meeting place for various activities from various users. In their interactions, the users present diverse behavioral aspects. To discover these aspects, this research conducted based on existing theory and previous research that had been done before. The method used is a content analysis which is supported by theory and other literature. From the results obtained it showed that the approach used proves studies regarding user behavior in public open space. Besides, there are also findings that there are other behavioral attributes that play a role: believe and gender. Keywords: architecture, public open space, behavio
INFLITRASI NILAI KEMUHAMMADIYAHAN PADA STRUKTUR KAWASAN DAN DESAIN BANGUNAN KOTA DI SULAWESI SELATAN
ABSTRAK. Penelitian ini menjabarkan eksistensi nilai Kemuhammadiyahan yang mempengaruhi aspek fisik dan non fisik kawasan kota, baik dalam bentuk tata ruang (spatial) maupun pada bangunan kepemilikan Muhammadiyah. Substansi penelitian diharapkan dapat membuka cakrawala dan pemikiran bahwa keterkaitan masa lalu dalam ajaran murni Islam yang telah berkembang sebelum era perancangan kota dan arsitektur modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah dan fenomenologi dengan jenis penelitian kualitatif-eksploratif. Teknik pengumpulan data dilakukan dari data primer, data sekunder dimana pengambilan populasi melalui purposive sampling dan random sampling. Metode analisa yang digunakan antara lain metode fenomenologi dan sejarah dengan teknik sikronik dan diakronik reading serta memadukan metode urban morfologi dan tipologi. Kajian ini akan memberikan aplikasi penciptaan lingkungan yang terbangun berdasarkan pengamalan amal makruf nahi mungkar yang menjadi tujuan pendirian Muhammadiyah. Kata kunci: Bangunan, Kawasan, Mamminasata, Muhammadiyah, Tipologi ABSTRACT. This study describes the existence of the value of Kemuhammadiyahan which affects the physical and non-physical aspects of the city area, both in spatial form and in the ownership of Muhammadiyah’s buildings. The substance of research is expected to be able to open knowledge and thoughts that the past linkages in the pure understanding of Islam which have developed before the era of urban design and modern architecture. This study uses a historical and phenomenological approach with a type of qualitative-explorative research. Data collection techniques were carried out from primary data, secondary data where the population was collected through purposive sampling and random sampling. The analytical methods used phenomenology and history methods with synchronous and diachronic reading techniques and integrating urban morphology and typology methods. This study will provide an application for the creation of an environment that is built based on the practice of charitable and moral merit which is the aim of the establishment of Muhammadiyah. Keywords: Buildings, Regions, Mamminasata, Muhammadiyah, Typolog
MODEL RANCANGAN DESAIN REVITALISASI KAWASAN NIAGA (Studi Kasus : Pasar Petisah Medan)
ABSTRAK. Ketimpangan pembangunan kawasan komersial pusat kota menunjukkan perwajahan urban economics berindikasi urban sprawl. Kawasan Niaga Pasar Petisah di Kecamatan Medan Petisah dimanfaatkan sebagai mix-use land use, minimalisasi ruang publik dan in-efisiensi pemanfaatan ruang luar menjadikan degradasi fungsi kawasan publik kota. Ketimpangan pemanfaatan ruang publik tersebut memerlukan upaya revitalisasi kawasan. Berdasarkan analisis awal konsep revitalisasi urban linkage berbasis kearifan lokal, maka dilakukan perencanaan model desain revitalisasi Kawasan Petisah dengan pendekatan retrofitting urban antara linkage visual, struktural, unsur tata guna lahan, arsitektur lokal, sirkulasi, ruang terbuka publik, aktifitas khas lokal. Keluaran penelitian berupa model rancangan desain revitalisasi kawasan niaga dalam wujud gambaran pra-rencana arsitektural zonasi, sirkulasi, pedestrian, ruang publik, parkir dan model tempat berdagang portabel. Model ini merupakan acuan / guide lines bagi revitalisasi kawasan niaga untuk peningkatan dan pemerataan pembangunan ekonomi di pusat kota Medan Kata-kunci : Model Rancangan Desain, Revitalisasi, Kearifan Lokal, Pasar Petisah Medan. ABSTRACT. Inequality in the development of downtown commercial areas shows that urban economics indicates to become urban sprawl. The commercial area of Pasar Petisah in Medan Petisah District is used as mix-use land use, the minimization of public space and the inefficiency of the use of outer space, making the function of the open area of the city degraded. This imbalance in the use of public space requires efforts in the revitalization of the area. Based on the preliminary analysis of the revitalization concept of urban linkage based on local wisdom, then it will be appropriate to plan the design model for revitalization of the Petisah Area. This design was carried out using an urban retrofitting approach between visual linkage, structural linkage, land use elements, local architecture, circulation, public open space, as well as local special activities. The research output is a design model for the revitalization of the commercial area in the preliminary design of architectural zoning, circulation, pedestrian ways, public space, parking, and portable trading place design. This model is become a guideline for the revitalization of the commercial area to increase and equalize economic development in downtown Medan. Keywords: Design Model, Revitalization, Local Wisdom, Pasar Petisah Meda
PENERAPAN SEDERHANA VIRTUAL REALITY DALAM PRESENTASI ARSITEKTUR
Presentasi dalam arsitektur memiliki perkembangan dari masa ke masa. Dari awalnya menggunakan gambar tangan beralih menggunakan visual yang diciptakan oleh komputer. Semakin berkembangnya teknologi, semakin menarik presentasi yang dihasilkan. Hasil presentasi juga semakin nyata, sehingga mendekati objek rancangan aslinya. Perkembangan teknologi semakin maju, penggunaan teknologi Virtual Reality banyak digunakan hampir di semua bidang, tidak luput di bidang Arsitektur. Dalam Arsitektur, penggunaan Virtual Reality sebagai alat presentasi sudah cukup banyak dilakukan. Namun, metode yang diterapkan membutuhkan biaya yang cukup besar dan masih terlalu rumit untuk di aplikasikan. Penelitian ini menemukan penerapan Virtual Reality secara sederhana dan dapat diterapkan secara umum maupun praktisi arsitektur. Metode yang digunakan yaitu simulasi dengan beberapa perangkat yang pendukung. Kesimpulan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa, Virtual Reality dapat diterapkan dengan penerapan sederhana.Kata kunci: Penerapan Sederhana, Virtual Reality, Presentasi Arsitektu
DESAIN PARAMETRIK PADA PERANCANGAN DESAIN STUDI BENTUK BANGUNAN BERTINGKAT BANYAK
ABSTRAK. Melalui penelitian ini, peneliti menggunakan metode Desain Parametrik untuk studi bentuk bangunan bertingkat banyak. Rhinoceros dan Grasshopper digunakan sebagai alat studi bentuk bangunan bertingkat banyak. Desain parametrik dilakukan dengan parameter, yaitu berupa bentuk lantai dasar, jumlah lantai, ketebalan lantai, jarak antar lantai, derajat putar, dan olah bentuk. Eksperimen ditunjukkan dengan jumlah alternatif yang dihasilkan dari mengolah nilai parameter. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan gambaran proses mendesain bangunan berlantai banyak menggunakan metode desain parametrik. Hasil penelitian menunjukkan kreativitas dalam mengolah bentuk dasar menjadi bentuk bangunan bertingkat banyak.Kata kunci: Desain Parametrik, Software Rhinoceros dan Grasshopper, Bangunan Bertingkat Banyak ABSTRACT. The researcher has used the Parametric Design method to do form studies of a multi-story building. The Rhinoceros and Grasshopper software have been used as a design tool. Design parameters were ground floor shapes, number of floors, the thickness of the story, the distance between levels, degree of rotation, and graph mapper. The experimental results are indicated by the number of alternatives generated from processing parameter values. The purpose of this study is to get a description of the process of designing many-story buildings using parametric design methods. The results of the study showed that creativity in processing basic forms into multi-story buildings. Keywords: Parametric Design, Rhinoceros and Grasshopper Software, Multi-storey Building
PENINGKATAN KUALITAS VISUAL LANSKAPJALAN DI SEMPADAN SETU BABAKAN PADA AREA WISATA SETU BABAKAN
ABSTRAK. Perkampungan Budaya Betawi (PBB) merupakan satu kawasan dengan komunitas yang ditumbuhkembangkan dengan Budaya Betawi meliputi hasil gagasan dan karya baik fisik maupun nonfisik yaitu kesenian, adat istiadat, foklor, kesasteraan, bahasa, tanaman dan bangunan yang bercirikan keBetawian. Batasan area penelitian ini adalah Perencanaan Lanskap jalan di sempadan Setu Babakan dan pulau jalan yang ada sebagai pusat wisata dalam kawasan PBB Setu Babakan. Secara visual Setu Babakan bisa dikatakan sejuk dan asri, terlihat dari adanya pohon-pohon existing yang mengelilingi bantaran Setu Babakan yang memberikan fungsi ekologis pada suatu kawasan. Pohon tersebut juga menghasilkan bayangan pada air Setu, sehingga seperti bercermin dan memberikan estetika visual yang baik. Namun beberapa area komersial dan parkir yang yang berada di sebelah barat dan timur memberikan dampak yang kurang baik. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan J. Simonds (1983). Penelitian ini bertujuan untuk membuat perencanaan lanskap jalan di sempadan Setu Babakan yang dapat memberikan identitas kawasan Setu Babakan sebagai area wisata, dan dapat memberikan nilai tambah bagi kawasan tersebut. Selain itu dapat meningkatkan kualitas visual pada kawasan Setu Babakan serta memberikan pelayanan bagi seluruh pengguna jalan yang nyaman, aman dan memperhatikan kelestarian lingkungan di sekitarnya. Kata kunci: Perencanaan Lanskap, Ornamen Betawi, Wisata Setu Babakan ABSTRACT. The Betawi Cultural Village (PBB) is an area with a community that is cultivated with Betawi Culture which includes the results of ideas and works both physical and non-physical, namely art, customs, folklore, literature, language, plants, and buildings characterized by Brethren. The boundary of this research area is the Landscape Planning road in the border of Setu Babakan and the island of the street that exists as a tourist center in the Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan region. Visually, Setu Babakan can be said to be relaxed and beautiful, as seen from the existing trees surrounding the banks of Setu Babakan which provide ecological functions in an area. The tree also produces shadows on Setu water, so it looks like a mirror and offers good visual aesthetics. However, some commercial and parking spaces which are in the west and east have an adverse impact. The method J. Simonds (1983) approach includes design planning in the stages of preliminary activity, inventory, analysis, synthesis, construction, concepts, and designs. This study aims to make a road landscape planning in the Setu Babakan border that can provide the identity of the Setu Babakan area as a tourist area, and can provide added value to the district. Besides, it can improve the visual quality of the Setu Babakan area ludes design planning in the area and offer services to all road users who are comfortable, safe and pay attention to the preservation of the surrounding environment.Keywords: Landscape Planning, Betawi Ornaments, Setu Babakan Touris
Pengaruh Modul Besaran Ruang Terhadap Tata Ruang Rumah Sangat Sederhana
ABSTRAK. Bangunan rumah sangat sederhana pada permukiman padat penduduk pada umumnya merupakan bangunan yang tidak memenuhi syarat kelayakan sebuah hunian, Ketidaklayakan bangunan rumah tidak saja dari segi luasan masing-masing ruang di dalamnya tetapi juga dari segi kenyamanan ruang yang mencakup pencahayaan, penghawaan serta penataan perabot di dalam ruang. Metode penelitian yang digunakan untuk mengetahui korelasi antara besaran ruang dan tata ruang rumah sangat sederhana ini adalah metode deskriptif, berdasarkan fenomena yang terjadi di lapangan. Modul besaran ruang rumah sangat sederhana yang relatif sangat kecil menuntut adanya penyelesaian pada disain tata ruangnya. Dengan modul besaran ruang rumah sangat sederhana sebesar 3 x 3 m2 pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah dengan menata ruang dengan sistem split level. Dengan sistem tersebut memungkinkan terjadinya pemisahan ruang privat berdasarkan jenis kelamin serta pengoptimalan pencahayaan dan penghawaan alami. Kata Kunci: modul, besaran ruang, tata ruang ABSTRACT. A simple residential building in densely populated settlements, generally, is a building that does not meet the requirement of a dwelling, not laying the house not only in terms of the area of each space in it but also in terms of comfort space that includes lighting, air conditioning and the arrangement of furniture within a room. The research method that has been used to find out the correlation between space and spatial layout of this simple house is a descriptive method, based on phenomena that occurred in the field. Module size of the house space is very simple which is relatively minimal demands the completion of its spatial design. With the module size of a very simple home space 3 x 3 m2 problem solving can be done to arrange space with a split-level system. With such an arrangement allows the separation of private areas by sex and optimization of natural lighting and air conditioning.Keywords: module, dimension of space, layou
BENANG MERAH TERBENTUKNYA POLA PERMUKIMAN DAN POLA HUNIAN DESA BALI MULA DIKAITKAN DENGAN ASPEK SOSIAL, EKONOMI DAN BUDAYA STUDI KASUS: DESA PAKRAMAN JULAH, KECAMATAN TEJAKULA, BALI
ABSTRAK. Desa Pakraman Julah merupakan salah satu desa adat tertua di Bali, desa ini sudah ada pada tahun caka 844 pada masa pemerintahan Sang Ratu Sri Ugrasena di Bali. Desa Pakraman Julah ini tepatnya terletak di Kecamatan Tejakula, Bali. Desa ini mempunyai keunikan tersendiri, dari adat istiadat, kebudayaan dan juga arsitektur yang dimilikinya seperti pola permukiman dan pola huniannya. Penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai sejauh mana aspek sosial, ekonomi dan budaya mempengaruhi dan berkaitan erat dengan terbentuknya pola permukiman dan pola hunian di Desa Pakraman Julah ini. Pola permukiman pada Desa Pakraman Julah ini terbentuk karena didasari oleh adanya konsep “Nyegara Gunung”, yang ada di dalam adat istiadat dan filsafat masyarakat Bali. Di dalam filosofi Bali “Nyegara Gunung” adalah bahwa elemen antara laut dan gunung tidak dapat dipisahkan, dan menjadi satu kesatuan yang sejajar dan saling mendukung satu sama lainnya. Sementara itu pola hunian yang ada di dalam masyarakat Desa Pakraman Julah terbentuk karena adanya konsep “Rwa Bhineda” yaitu dua elemen/ hal yang bertentangan seperti: luan-teben; sakral-profan, hulu-hilir; utara-selatan; positif-negatif; dan sebagainya. Pola permukiman dan pola hunian yang terbentuk di dalam kehidupan masyarakat Desa Pakraman Julah maupun desa adat lainnya di Bali, tentunya secara tidak langsung di pengaruhi oleh aspek sosial, ekonomi dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Di dalam penelitian inilah akan dikaji lebih dalam mengenai kaitan dan hubungan timbal balik antara terbentuknya pola permukiman dan pola hunian di Desa Pakraman Julah ini dengan aspek sosial, ekonomi, dan budayanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif komparatif yang mengedepankan pendekatan deduktif dalam analisis pembahasannya.Kata Kunci: pola permukiman, pola hunian, aspek sosial, aspek ekonomi, aspek budaya ABSTRACT. Desa Pakraman Julah is one of the old traditional villages in Bali. This village has existed since 844 year of caka, during the reign of Queen Sri Urgrasena in Bali. Pakraman Julah Village is precisely located in Tejakula District, Bali. This village has its own uniqueness, from customs, culture and also its architecture such as the pattern of settlements and patterns of the dwelling. This study raises the issue of the extent to which social, economic and cultural aspects affect and is closely related to the formation of settlement patterns and patterns of the dwelling in this Pakraman Julah Village. The pattern of settlement in Pakraman Julah Village is formed because it is based on the concept of "Nyegara Gunung", which is in the customs and philosophy of Balinese society. In the Balinese philosophy "Nyegara Gunung" is that the elements between sea and mountain cannot be separated, and become a unity parallel and mutually supportive of each other. Meanwhile, the pattern of occupancy that existed in the community of Pakraman Julah Village was formed because of the concept of "Rwa Bhineda" ie two elements/ contradictory things such as luan-teben (outside-inside); sacred-profane, upstream-downstream; north-south; positive-negative; etc. The pattern of settlements and pattern of the dwelling that formed in the life of the community of Pakraman Julah Village and other traditional villages in Bali, of course, indirectly influenced by social, economic and cultural aspects of the community. In this research will be studied more deeply about the relationship and reciprocal relationship between the formation of settlement patterns and pattern of the dwelling in this Pakraman Julah Village with the social, economic, and cultural aspects. This study uses a qualitative comparative method that puts forward the deductive approach in the analysis of the discussion.Keywords: pattern of settlement, pattern of dwelling, social aspects, economic aspects, cultural aspect