NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
DINAMIKA ARSITEKTUR INDONESIA DAN REPRESENTASI ‘POLITIK IDENTITAS’ PASCA REFORMASI
ABSTRAK. Menguatnya politik identitas di Indonesia pasca reformasi telah melahirkan formasi arsitektur baru yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Identitas budaya terkait indigenitas menjadi bagian dari politik identitas yang menurut sebagian pengamat politik disinyalir dimanfaatkan para elit dan penguasa untuk kepentingan politik kekuasaan. Ironisnya, dalam bidang arsitektur, definisi tentang identitas ini justru semakin tidak jelas. Definisi-definisi ini berputar pada debat tentang pencarian jati diri yang tidak pernah selesai dan sering diasosiasikan dengan proses untuk memunculkan jati diri kebudayaan sebagai jawaban atas tantangan universalitas arsitektur modern, globalisasi dan kemajuan teknologi. Makalah ini mencoba mengambil dari sudut pandang yang berbeda yaitu politik identitas dalam silangannya dengan arsitektur (‘space’), waktu (sejarah) dan aspek sosial-politik. Isu yang muncul adalah bagaimana politik identitas perlahan-lahan melanjutkan pengaruhnya dalam formasi arsitektur di Indonesia pasca reformasi, di balik kesalah-pahaman tentang definisi ‘identitas’ dalam debat-debat arsitektur di Indonesia. Hal ini terjadi karena banyak arsitek atau teoretikus arsitektur di Indonesia membatasi dirinya hanya dalam lingkup arsitektur, dan gagal berinteraksi secara lebih luas dengan isu-isu sosio politik. Konsekuensinya, di satu sisi, istilah ‘identitas’ kehilangan pengaruh sosio-politiknya dan direduksi kepada masalah-masalah estetika visual semata, yang mengaburkan identitas arsitektur sebagai suatu konsep sosial budaya. Sementara itu, di sisi lain pemanfaatan identitas sebagai bagian dari komoditas politik juga melanjutkan dinamika yang terjadi di daerah (regional) yaitu warna kekuasaan (power) dalam formasi arsitektur di Indonesia sebagai imbas dari Desentralisasi. Makalah ini mengkritisi perilaku politik identitas yang cenderung berubah menjadi ‘regime’ dalam formasi identitas arsitektur saat ini, dan kurang terangkatnya isu identitas arsitektur dengan dinamika sosio-politik dan keseharian (‘everyday-life’) masyarakat. Kata Kunci: subjektivitas, hibrid, indigenitas, pasca-nasionalisme ABSTRACT. Straighthening the politics of identity in Indonesia after the 1997 political reformation has increased the formation of new architecture which are scattered in various regions in Indonesia. The cultural identity on indigeneity and become part of identity politics. It was exploited by elites and rulers for the sake of power politics. Ironically, in the field of architecture, the definition of this identity is even more unclear. These definitions spin on the debate about the search for identity that was never finished and is often associated with the process to bring a cultural identity as a response to the challenges of modern architecture such as universality, globalization and technological progress. This paper tried to look at architecture (space) in the intersection with time (history) and socio-political aspects. The issue that arises is how the politics of identity is slowly continuing influence in the formation of architecture in Indonesia after the 1997 political reform, under misconceptions about the definition of 'identity' in debates of architecture in Indonesia. This happens because many architects or architectural theorists in Indonesia restricts itself only in the sphere of architecture, and failed to interact more broadly with social and political issues. Consequently, on the one hand, the term 'identity' loss of the socio-political influences and are reduced to a visual aesthetic problems alone, which obscure the identity of architecture as a socio-cultural concept. Meanwhile, on the other hand the use of identity as part of a political commodity also continue the dynamics that occur in the area (regional) is the color of power (power) in the formation of architecture in Indonesia as the impact of decentralization. The paper criticized the behavior of identity politics that tends to turn into a 'regime' in the current architectural identity formation, and less lifting of architecture with issues of identity and everyday social and political dynamics ( 'everyday-life') of community. Keywords: subjectivity, hybrid, indigeneity, post-nationalis
POLA PEMANFAATAN DALAM TATA SPASIAL HUNIAN SUKU BAJO YANG BERKEMBANG DI KAMPUNG WURING KOTA MAUMERE
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pola pemanfaatan ruang dalam tata spasial hunian yang berkembang berupa sistem spasial hunian dan aspek-aspek yang melandasi pembentukan dan pemanfaatan spasial hunian Suku Bajo pada kawasan kampung Wuring sebagai upaya untuk memahami kondisi awal hingga terbentuknya permukiman kampung saat ini. Aspek pembentukan spasial didalamnya mengandung substansi gagasan perencanaan dari fungsi, bentuk asli, variasi bentuk dan perkembangannya. Kondisi spasial hunian Suku Bajo di kampung Wuring Kota Maumere dilihat dari karakteristik permukiman masyarakat sebagai kampung awal peradaban muslim dan menjadi pusat penyebaran agama Islam di Kabupaten Sikka. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan analisa deskriptif kualitatif dan bersifat naturalistik yaitu menggambarkan dan menginterpretasi catatan budaya Suku Bajo berupa keterangan sejarah, dokumen peta, maupun wujud fisik bangunan rumah masyarakat Suku Bajo. Hasil penelitian memberikan gambaran secara umum yaitu sistem spasial hunian mencakup organisasi ruang, orientasi ruang dan hirarki ruang dalam lingkup mikro hunian yang berdampak terhadap perkembangan lingkungan. Secara khusus ada perkembangan ruang dalam (mikro) berupa konsep ma’bunda-ma’buli serta bentuk rumah panggung tumbuh dan bentuk rumah panggung diaruma sebagai respon terhadap kecenderungan pola pemanfaatan ruang hunian dan beberapa aspek non fisik yang melandasi pembentukan spasial hunian di kawasan kampung Wuring. Kata kunci: pemanfaatan, sistem spasial, hunian, Suku Bajo, kampung Wuring. ABSTRACT. The purpose of this research is to examine using spatial pattern of a dwelling which developed into the form of spatial system occupancy and aspects to underline the formation and spatial utilization of Bajo Tribe at Wuring village as an effort to understand the initial condition until the creation of current village settlement. The aspects of spatial formation in it contain substance the idea of the planning of the function, the original form, the variation of form and its development. The spatial condition of the Bajo Tribe in Maumere City is seen from the characteristics of the settlement’s community as the early village of Muslim civilization and became the center of spreading out of Islam in Sikka District. By the approach in this research has been using phenomenology method with qualitative descriptive and naturalistic analysis that is descriptive describing and interpreting cultural record of Bajo Tribe in the form of description history, map document, and physical form of Bajo Tribe’s house. The results of the study provide a general overview of the spatial system of occupancy includes organization, orientation, and hierarchy space within the scope of micro occupancy that impact on the development of the environment. Particularly, there is a development of inner space (micro) in the form of ma'bunda-ma'buli concept and the formation at the growth of stage house and diaruma’s stage form as a response to the trend of occupancy utilization pattern space and some non-physical aspects underlying on the spatial establishment of dwelling in Wuring village. Keywords: utilization, spatial system, dwelling, Bajo Tribe, Wuring village.
HERMENETIK SEBAGAI DISKURSUS DALAM ARSITEKTUR
ABSTRAK. Dalam sebuah penelitian, dikenal secara umum dua buah metode, yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pada implementasinya, penelitian arsitektur lebih menitikberatkan dengan menggunakan metode kualitatif karena fokus pada obyek penelitiannya lebih kepada penafsiran dan opini akan obyek tersebut. Subyektifitas sangat dirasakan lebih tinggi daripada tingkat obyektifitas pada sebuah penelitian kualitatif, namun tidak menutup kemungkinan bahwa obyektifitas dalam sebuah penelitian kualitatif juga dapat dicapai dengan dasar teori yang cukup kuat sebagai pendukungnya. Tulisan ini merupakan sebuah ulasan mengenai bagaimana ilmu hermenetik atau penafsiran dapat digunakan dalam sebuah penelitian arsitektur. Berbagai teori mengenai hermenetik dituangkan dalam tulisan ini sebagai sebuah diskursus. Tulisan ini juga merupakan bagian dari penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis untuk mendukung metode penelitian yang akan dipilih dalam penelitian bidang arsitektur. Tulisan ini juga akan menjawab bagaimana hermenetik dapat digunakan dalam sebuah penelitian arsitektur. Dengan memaparkan ilmu hermenetik dalam tulisan ini, maka dapat diambil sebuah pelajaran tentang bagaimana langkah-langkah serta tahapan dalam menerapkan hermenetik pada penelitian arsitektur. Kata Kunci: hermenetik, penelitian, arsitektur ABSTRACT. Generally, there is two methods of research, quantitative and qualitative method. In the implementation of the architectural study, a qualitative approach has been used frequently and familiarly, because in architectural research usually focused on interpreting and giving an opinion of something, in this case, an object of the study. And for the result, the subjectivity of architectural research is high compared with the objectivity, but it is not possible to have an objective result in architectural research. This article is a review of how the extent to which hermeneutic could be used in architectural research, and how the extent to which hermeneutic has a role in architectural discourse. Some theories of hermeneutic will be discussed in this paper as a discourse. This paper is also a part of research that still ongoing to support the method of the study that will be conducted by the researcher in architectural research. By describing this hermeneutic method in this paper, the researcher could underline the lesson about how are the steps and processes in the application of hermeneutic in architectural research. Keywords: hermeneutics, research, architectur
ARSITEKTUR RUMAH ULU OGAN
ABSTRAK. Rumah Ulu adalah rumah tradisional yang berada di daerah uluan Sumatera Selatan. Sebaran Rumah Ulu di daerah Pasemah, Semendo, Minanga, Lamban Tuha dan Ogan. Rumah Ulu adalah rumah panggung dengan bentuk dasar segi empat dan kemiringan atap yang curam. Rumah Ulu di daerah Ogan disebut Rumah Ulu Ogan dan bisa dijumpai di tepian sungai Ogan. Kondisinya kurang terawat dan sudah banyak mengalami perubahan bentuk maupun bahan konstruksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji arsitektur Rumah Ulu Ogan. Lokasi penelitian berada di permukiman Desa Mendala, Kecamatan Peninjauan Ogan Komering Ulu. Hasil identifikasi selanjutnya dianalisis untuk menentukan karakter arsitekturnya. Hasil penelitian menunjukkan, Rumah Ulu Ogan memiliki tampilan yang khas yang tidak dimiliki pada Rumah Ulu daerah lainnya, yaitu tiang-tiang tinggi yang menopang atap pada teras depan. Denah rumah bangunan inti berbentuk segi empat dengan tambahan ruang pada sisi kanan, kiri dan belakang serta beranda rumah ada di sebelah kiri. Tidak ada sekat yang permanen dalam rumah. Atap pada bangunan inti berbentuk pelana dengan kemiringan 55 derajat yang terhubung dengan atap tambahan di sekelilingnya, bubungan atap datar atau tidak melengkung dan memiliki tebeng layar yang tegak. Ada ornamen ukiran pada bagian atap dinding dan balok lantai yang menghadap ke depan rumah. Tata letak Rumah Ulu Ogan berpola linier yang berlapis, memanjang dan sejajar aliran sungai juga orientasi bangunan tidak selalu menuju ke sungai. Kata kunci: arsitektur, Rumah Ulu, Ogan ABSTRACT. Rumah Ulu is a traditional house located in Uluan area of South Sumatra. The distribution of Rumah Ulu in the area of Pasemah, Semendo, Minanga, Lamban Tuha and Ogan. Rumah Ulu is a stilt house with a rectangular base shape and a steep roof slope. Rumah Ulu in the Ogan area is called Rumah Ulu Ogan and can be found on the banks of the Ogan river. The conditions are lack of maintenance and have undergone much change in shape and construction materials. This research is aimed to study the architecture of Ogan's house. The research site is located in the Mendala village settlement, Sub-District of Ogan Komering Ulu District. Further identification results are analyzed to determine the character of the architecture. The result shows Rumah Ulu Ogan has a distinctive look that is not owned in the home of other areas, namely high poles that support the roof on the front porch. House structure of the rectangular core building with additional space on the right side, left and back and the porch of the house on the left. There is no permanent bulkhead in the house. The roof of the saddle-shaped core building with a 55-degree slope connected to an additional roof around it, a flat roof ridge or non-curved and has an upright sidewall. There are ornaments carved on the roof of the walls and floor beams that face the front of the house. The layout of Ogan's house is linearly patterned, elongated and parallel to the flow of the river also the orientation of the building does not always go to the river. Keywords: architecture, Rumah Ulu, Oga
IDENTIFIKASI KEANEKARAGAMAN HAYATI RTH DI KOTA DEPOK
ABSTRAK. Pembangunan perkotaan tidak hanya harus terfokus pada lanskap binaan tetapi juga pada lanskap alami. Salah satu elemen lunak yang dianggap penting yaitu keberadaan ruang terbuka hijau (RTH). Pengembangan RTH di lanskap perkotaan selama ini umumnya lebih terfokus dalam mencapai tujuan mereduksi polutan, menciptakan kenyamanan termal, dan juga estetika. Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan manfaat RTH dari sudut pandang konservasi khususnya flora dan fauna. Studi ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman hayati di Kota Depok untuk menjadi acuan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan (green development), sehingga kualitas lingkungan dapat ditingkatkan dan fungsional bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi flora dan fauna. Studi dilaksanakan di tiga lokasi dengan karakter yang berbeda yaitu Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, dan Jalan Juanda. Hasil yang diperoleh nilai keanekaragaman vegetasi berturut-turut berada pada Tahura Pancoran Mas (2,535), Taman Lembah Gurame (1,287), dan Jalan Juanda (0,967). RTH di Jalan Juanda merupakan RTH dengan nilai keanekaragaman vegetasi paling rendah. Rendahnya nilai keanekaragaman vegetasi berpengaruh langsung terhadap keberadaan fauna yang tidak ditemukan pada RTH Jalan Juanda. Studi ini juga berhasil mendata vegetasi-vegetasi penting pada tiap-tiap lokasi yang dapat memberikan informasi mengenai mampu tidaknya vegetasi tersebut beradaptasi dengan lingkungannya. Kata kunci: fauna, flora, konservasi, lanskap perkotaan, ruang terbuka hijau. ABSTRACT. Urban development should not only focus on the man-made landscape but also the natural landscape. One of the important natural landscape is the existence of green open space. Green open space development in urban landscape areas has generally been more focused on achieving the goal of reducing pollutants, creating thermal comfort, as well as aesthetics. Unfortunately, the benefits of green space from the conservation, especially for flora and fauna are still largely ignored. This study aims to record biodiversity in Depok City to become a reference in achieving sustainable development (green development), so that environmental quality can be improved and functional not only for human but also for flora and fauna. The study was conducted in three locations with different characters namely Taman Lembah Gurame, Tahura Pancoran Mas, and Jalan Juanda. The results obtained by the value of vegetation diversity are consecutively in Tahura Pancoran Mas (2,535), Lembah Gurame Park (1,287), and Jalan Juanda (0.967). Green open space on Jalan Juanda has the lowest value of vegetation diversity. The low value of vegetation diversity directly affects the presence of fauna because not found in the Jalan Juanda. This study also managed to record important vegetations in each location that can provide information for whether or not the vegetation well-adapted in its environment. Keywords: conservation, fauna, flora, green open space, urban landscap
Karakteristik Arsitektur di Kota Lama Kudus
ABSTRAK. Kota Lama Kudus atau yang lebih sering disebut Kudus Kulon adalah sebuah kawasan bersejarah yang berada di Kabupaten Kudus, Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten Kudus terbagi menjadi dua yaitu Kudus Kulon dan Kudus Wetan dengan sebuah sungai sebagai pemisah kedua area tersebut. Kudus Kulon atau Kota Lama Kudus merupakan cikal bakal kota Kudus dan sebuah tempat bersejarah dengan adanya makam Sunan Kudus dan Masjid Menara Kudus. Kudus yang kita kenal sekarang ini selain adanya Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus, juga terkenal karena industri rokok. Dalam sejarah dikisahkan dahulu industri rokok berkembang mulai dari home industry di Kota Lama Kudus sekitar tahun 1900. Jauh sebelum industri rokok berkembang, sudah ada perdagangan yang memajukan daerah Kota Lama Kudus yaitu perdagangan palawija dan tembakau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan serta menginterpretasikan karakteristik arsitektur Kota Lama Kudus. Deskripsi dan interpretasi ini penting dilakukan karena kondisi terkini Kota Lama Kudus sudah mengalami banyak perubahan. Data diambil melalui observasi lapangan tentang kondisi rumah, permukiman dan kawasan Kota Lama Kudus. Pada daerah sekitar Masjid dan Menara Kudus, permukiman didominasi oleh rumah-rumah Kilungan sehingga membentuk jalan-jalan berbentuk lorong seperti labirin. Semakin jauh dari Masjid dan Menara Kudus bentuk permukimannya berubah menjadi rumah-rumah terbuka tanpa dinding kilungan. Selain lingkungan permukimannya, arsitektur rumah di Kota Lama Kudus juga beragam. Ada rumah tradisional Kudus dengan bangunan sisir (tempat usaha), rumah tradisional Kudus tanpa bangunan sisir, rumah gedong (gaya eropa) dan rumah kilungan (rumah di dalam pagar tinggi). Tiga arsitektur rumah tersebut adalah asli sebagai karakteristik arsitektur Kota Lama Kudus. Faktor yang mempengaruhi karakteristik arsitektur di Kota lama Kudus adalah aktivitas yang di lakukan di kawasan tersebut Kata Kunci: karakteristik, arsitektur, rumah, permukiman, Kota Lama Kudus ABSTRACT. Kota Lama Kudus or more commonly called Kudus Kulon is a historic area located in Kudus District, Central Java Province. Kudus District is divided into two namely Kudus Kulon and Kudus wetan with a river as a separator of both areas. Kudus Kulon or Kota Lama Kudus is the forerunner of Kudus city and a historic place with the tomb of Sunan Kudus and Mosque of Menara Kudus. Kudus that we know today besides the existence of the Masjid Menara and the Tomb of Sunan Kudus, also famous for the cigarette industry. In the history of the first cigarette industry began to grow from the home industry in the Kudus Old City around the year 1900. Long before the cigarette industry develops, there is a trade that promotes the area of the Old Town Kudus palawija and tobacco trade. This research is qualitative descriptive research that describes and interpret the architectural character of Kota Lama Kudus. These descriptions and interpretations are essential because the current condition of the Kudus Old City has undergone many changes. The data was taken through field observations on the condition of houses, settlements and the area of the Old City. In the area around the Mosque and the Menara, the settlements are dominated by Kilungan houses to form alley-shaped streets such as labyrinths. The farther away from the Mosque and the Menara form the settlements are transformed into open houses without the globe walls. In addition to its residential neighborhood, the architecture of the house in the Kudus Old City also varied. There is a traditional Kudus house with a sisir building (place of business), a traditional Kudus house without a sisir building, a gedong house (European style) and a kilungan house (house inside a high fence). The three architectural houses are genuine and are a character of the architecture of the Kudus Old City. Factors affecting the architectural characteristics of the old city of Kudus are the activities undertaken in the region Keywords: characteristics, architecture, house, settlement, kudus Old Cit
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN TEKNIK BIOPORI UNTUK MENGENDALIKAN BANJIR KOTA (Studi Kasus : Kelurahan Tanjung Rejo – Medan)
ABSTRAK. Permasalahan banjir merupakan hal utama kinerja utilitas kota Medan. Banjir pada suatu kawasan terjadi antara lain karena drainase yang tidak memadai untuk menampung volume air hujan akibat curah hujan yang cukup tinggi. Tingkat partisipasi masyarakat ditentukan dari pemahaman dan pengetahuan yang diterima tentang pengelolaan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai hubungan antara persepsi dan partisipasi, dengan metoda uji (sebelum – setelah) melalui serangkaian FGD dan simulasi penggunaan teknik biopori. Nilai korelasi 0,998 menunjukkan persepsi berkaitan erat dengan pengetahuan akan mempengaruhi tingkat partisipasi masyarakat sebelum dan sesudah FGD dan simulasi dengan nilai korelasi 0,954. Tingkat partisipasi masyarakat cukup antusias terhadap teknik biopori setelah dilakukan pengkayaan pengetahuan, pelatihan dan simulasi penggunaan untuk mengendalikan banjir kota. Penelitian ini berguna sebagai masukan kepada Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kegiatan alternatif pengendalian banjir lingkungan. Kata Kunci: banjir, biopori, persepsi, partisipasi masyarakat ABSTRACT. Flood problems are the main performance of utilities in Medan. Flooding in an area occurs due to inadequate drainage to accommodate rainfall volume due to high rainfall. The level of community participation is determined by the understanding and knowledge received about flood management. This study aims to obtain the value of the relationship between perception and participation, with the test method (before-after) through a series of FGD and simulation of the use of biopore techniques. The correlation value of 0.998 indicates that perception closely related to knowledge will influence the participatory level of society before and after FGD and simulation with a correlation value of 0.954. The level of community participation is enthusiastic about biopore techniques after enrichment of knowledge, training, and simulation of use to control the city flood. This research is a useful solution as an input to Local Government to increase an alternative activity of flood control environment. Keywords: flood, biopore, perception, community participatio
KEGIATAN RITUAL ZIARAH MAKAM HABIB HUSEIN ALAYDRUS DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENGGUNAAN RUANG PUBLIK DI KAMPUNG LUAR BATANG
ABSTRAK. Kegiatan yang dilakukan oleh manusia akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Penelitian ini membahas tentang kegiatan yang dilakukan pada Makam dan Masjid Bersejarah serta melihat pengaruhnya terhadap penggunaan ruang Publik. Objek studi yang diambil menjadi studi kasus adalah Makam dan masjid Luar Batang yang terletak di permukiman padat penduduk. Studi kasus ini diambil dengan pertimbangan bahwa Makam dan Masjid Luar Batang termasuk kawasan masjid bersejarah yang sampai saat ini masih ramai menjadi tujuan ziarah. Menariknya, Makam dan Masjid ini terletak di daerah padat penduduk yang minim ruang publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan serta mendapatkan relasi dari kegiatan ritual ziarah Makam Habib Husein dengan penggunaan ruang publik di Kampung Luar Batang. Metode penelitian menggunakan deskriptif interpretatif terhadap data dan analisis secara kualitatif dengan sampel diambil secara purposif. Kegiatan yang diamati adalah kegiatan ritual ziarah Makam dan kegiatan yang dilakukan di ruang publik. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah ada relasi dari kegiatan ritual ziarah makam Habib Husein dengan penggunaan ruang publik di Sekitar Masjid Luar Batang. Kegiatan yang masuk dalam ritual ziarah makam antara lain berdo’a-sholat-mengaji di sekitar Makam, kegiatan akhir ziarah, haul habib Husein, dan pengajian di Masjid Luar Batang yang merupakan rangkaian dari ziarah. Sedangkan ruang publik pada Kampung Luar Batang yang berkaitan dengan kegiatan ziarah adalah halaman masjid Luar Batang dan jalanan umum. Kegiatan ritual ziarah makam menimbulkan kegiatan lain di ruang publik. Aktivitas lain yang dimaksud adalah aktivitas yang berhubungan dengan komersil dan kegiatan sosial. Kata kunci : kegiatan ritual ziarah, makam Habib Husein, ruang publik, Kampung Luar Batang. ABSTRACT. Activities undertaken by humans will affect the surrounding environment. This study discusses the activities conducted at the Tomb and the Historical Mosque as well as see the effect on the use of Public space. The object of the research taken into the case study is the Tombs and Masjid Luar Batang located in densely populated settlements. This case study was taken into the consideration that the Tombs and Masjid Luar Batang including the historic mosque which until now is still a busy pilgrimage destination. Interestingly, the Tomb and the Mosque is located in a densely populated area with minimal open space. The purpose of this research is to describe and interpret and get relation from the activity of pilgrimage Habib Hussein Habib with the use of public space in Kampung Luar Batang. The research method used descriptive interpretative of the data and analyzed qualitatively with the sample taken purposively. The activities observed were the activities of the pilgrimage rituals of the Tomb and the activities carried out in the public sphere. The results obtained from this research is no relation to the activities of pilgrimage Habib Husein tomb with the use of public space in the vicinity of Masjid Luar Batang. Activities included in the pilgrimage ritual of the tomb include praying around the Tomb, the end of the pilgrimage, haul Habib Hussein, and praying in Masjid Luar Batang which is a series of pilgrimages. While the public space in Kampung Luar Batang associated with the pilgrimage activities is the courtyard outside the Stem and public streets. The ritual pilgrimage activity of the tomb raises other activities in the public sphere, other activities in question are activities related to commercial and social activities. Keywords: pilgrimage ritual activity, Habib Hussein's grave, public space, Kampung Luar Batang.
MENELAAH TERITORIALITAS KELOMPOK SOSIAL PENGHUNI DI RUSUNAWA: PROSES HOME-MAKING WARGA RELOKASI
ABSTRAK. Makna rumah tidak hanya pada kehadiran bangunan fisiknya saja, tetapi juga kehadiran ruang yang membuat rasa aman, nyaman dan kepemilikan penghuninya. Tulisan ini mencoba untuk membahas proses Home-Making dengan mengangkat sebuah kasus relokasi warga kampung padat ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). Perbedaan mendasar pada hunian sebelum dan sesudah relokasi adalah kemampuan ruang huni yang tersedia mewadahi interaksi sosial warga. Melalui kasus ini dapat terlihat pembentukan teritori di rusunawa yang dikontrol dan dikuasai kelompok-kelompok sosial bedasarkan kebutuhan setiap kelompok. Teritorialitas tersebut merupakan upaya kelompok sosial mengklaim suatu area geografis yang didasari dengan kebutuhan interaksi kelompoknya. Kebutuhan privasi dan elemen ruang memiliki peran penting dalam menciptakan teritori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan mengangkat Rusunawa Jatinegara Barat sebagai kasus. Rusunawa Jatinegara Barat dipilih karena rusun ini dikhususkan untuk warga relokasi Kampung Pulo yang telah rampung perpindahan seluruh warganya pada bulan Agustus 2015. Dalam rentang waktu huni tersebut, warga relokasi sudah menyesuaikan dengan lingkungan barunya. Bedasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pembentukan teritori kelompok sosial warga di rusunawa merupakan proses home-making penghuni relokasi kampung padat untuk menghadirkan kembali suasana dan nilai-nilai ‘rumah’ yang mereka yakini. Proses home-making ini diharapkan mampu meningkatkan rasa kepemilikan penghuni seiring tanggung jawab dalam menjaga dan memelihara lingkungan tempat tinggalnya. Kata kunci: teritorialitas, home-making, kelompok sosial, rumah susun ABSTRACT. The Meaning of Home is not only about the existence of its physical building, but also the existence of a space where the owners feel safe, comfortable and belong to it. This paper addresses processes of Home-Making of a relocation case of crowded kampong’s residents to Rental Low-cost Apartments (Rusunawa). The basic difference between before and after settlements is the ability of housing space to accommodate social interaction of residents. The case explains the formation of territory in Rusunawa that controlled and owned by specific social groups based on their needs. The territoriallity factor is an effort of social groups to claim a particular geographic area based on their interaction needs. The needs of privacy and space elements are important roles to create their territory. This study used a qualitative method with the case at Rusunawa Jatinegara Barat. Rusunawa Jatinegara Barat was chosen because it has been devoted to Kampung Pulo’s people who was moved in August 2015. During the settlement period, the relocation residents have adapted to their new neighborhood. The findings of this study suggest that the formation of social groups resident in Rusunawa is a process of home-making of crowded kampong’s residents to represent their concept of the atmosphere and values of home. These processes of home-making are expected able to increase resident’s sense of belonging and increase their responsibility to maintain and preserve their neighborhood. Keywords: territoriality, home-making, social groups, low-cost apartmen
PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT MEDIKA DRAMAGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS VISUAL
ABSTRAK. Beberapa penelitian melaporkan cara negara-negara di berbagai belahan bumi melestarikan kualitas visual lanskap. Tingginya apresiasi terhadap lanskap membuat mereka selalu melakukan sebuah penilaian atau assessment setiap adanya penambahan struktur baru pada lanskap. Hal inilah yang membuat kualitas visual mereka tetap terjaga dari kerusakan baik yang disengaja maupun tak disengaja. Di Indonesia, perhatian ini masih lemah dan belum ada peraturan dari pemerintah yang khusus mengaturnya. Penelitian ini mencoba melakukan penilaian terhadap kualitas visual pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga yang didirikan pada tahun 2012. Proses proyek dan setelah proyek memiliki beberapa efek yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah dampak visual konstruksi pada lanskap sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis dampak visual dari kegiatan pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga bagi masyarakat sekitar yang dilihat dari aspek natural resources dan cultural resources; dan 2) mengidentifikasi persepsi dan preferensi masyarakat sebagai user utama. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi perlindungan visual setelah adanya pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga terhadap lanskap sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode visual impact assessment (VIA) dengan menggunakan pendekatan dari Ogawa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa kualitas visual Rumah Sakit Medika Dramaga umumnya dapat diterima secara visual, namun perlu dilakukan sedikit tindakan mitigasi (modifikasi kecil) untuk menghilangkan kontras visual yang terjadi dengan lingkungan. Kata kunci: kualitas lingkungan, lanskap, penilaian dampak visual, kualitas visual ABSTRACT. The prior researches in many countries report about preserving their visual landscape qualities. Due to their high appreciation for managing their landscape makes them always conduct an assessment of every new structure in its landscape. That is what makes their landscape well managed. In Indonesia, the attention to that case is still weak, and there are no specific rules issued by the governments. This research tries to assess the visual quality development of Medika Dramaga Hospital that built in 2012. The project process and after the project has several effects that must be considered. One of them is the visual impact of construction on the surrounding landscape. The aims of this article are to 1) analyze the visual impact of Medika Dramaga Hospital towards the community nearby based on natural resources and cultural resources aspects, and 2) to identify the community perception and preference as the primary user. The output of this research is a recommendation for the visual preservation after the completed process of Medika Dramaga Hospital development towards is landscape. This study using visual impact assessment (VIA) method based on Ogawa approaches. The results of the assessment of visual quality Medika Dramaga Hospital acceptable as visually, but need to do a few of mitigation actions (minor modifications) to eliminate the visual contrast that occurs with the surrounding environment. Keywords: environmental quality, landscape, visual impact assessment, visual qualit