NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
ANALISIS POLA KONFIGURASI RUANG TERBUKA KOTA DENGAN PENGGUNAAN METODA SPACE SYNTAX SEBAGAI SPATIAL LOGIC DAN SPACE USE
ABSTRAK. Pengembangan kota Palembang terus berkembang sejak adanya kegiatan Pekan Olah Raga Nasional PON dan juga SEA Games yang dilaksanakan di kota Palembang. Saat ini Palembang terus berbenah diri dengan menyosong dilaksanakannya kegiatan olah raga Asean Games di tahun 2018 ini. Berbagai pengembangan fisik kota dari dibangunan jaringan LRT (light rapid transit), pembangunan pusat perbelanjaan dan juga hotel-hotel baru hingga peremajaan dan pembangunan ruang terbuka untuk menampung kegiatan spatial dan kegiatan baik masyarakat kota Palembang itu sendiri ataupun untuk kepentingan pariwisata kota Palembang. Perkembangan ruang kota tersebut dirasakan peneliti dikerjakan dengan terburu-buru dan tidak disertai dengan perencanaan yang matang, sehingga menghasilkan produk yang tidak maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti konfigurasi ruang terbuka yang ada di kota Palembang, dan lokasi dari penelitian tersebut adalah ruang terbuka yang sangat terkenal di kota palembang yaitu ruang terbuka kawasan Benteng Kuto Besak. Di dalam ruang terbuka BKB tersebut terdapat beberapa elemen yang tidak sesuai dengan konfigurasi ruang terbuka yang baik, dan ditinjau dari analisis space syntax yang berguna untuk mengukur kualitas spatial, terlihat bahwa di ruang terbuka BKB tersebut tercipta beberapa ruang-ruang mati dan elemen di kawasan tersebut yang cenderung melemahkan kualitas spatial yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat ruang gerak yang wajar di ruang terbuka BKB, di dalam arsitektur hal tersebut dikenal dengan istilah spatial logic yang berguna untuk melihat arah pengembangan ruang terbuka agar dapat dimanfaatkan secara maksimal bagi space use konfigurasi ruang terbuka kota Palembang. Kata kunci: ruang terbuka, Benteng Kuto Besak, space syntax, spatial logic, space use ABSTRACT. The development of Palembang city has arisen since the National Sporting Event known as PON and also the Southeast Asian games known as SEA games thas is being held in the town. Nowadays the city has transformed itself and constantly changing for the preparation to hold another international sporting event known as Asian games in the year 2018. There are many development that is being done to the city from the building of the new infrastructure of Light Rapid Transit rails across the city and also the development of new shopping malls and even new hotels to the development of the towns open space that is a spatial spot that holds the public event and also has the particular needs to be developed to support the cities tourism. The researcher felt that development that is being done in the city is done carelessly and without careful planning and produces poor spatial products. This research purpose is to analyze the open space configuration carefully and the place that the research is being carried out is a well known open space in Palembang which is the open space of Benteng Kuto Besak, or that is well known as BKB. The elements inside BKB is not appropriate to the spatial configuration of good public space, and through the space syntax analysis to see the spatial quality we can see that there are dead spaces throughout the BKB area and the spatial elements inside the BKB are responsible for them. The purpose of this research is to understand the natural flow of space and to see the spatial logic that is intended for the BKB space. Through the spatial logic, we can also see the best space use designed for the BKB open space configuration pattern in Palembang. Keywords: open space, Benteng Kuto Besak, space syntax, spatial logic, space us
INTERPRETASI KALOSARA DALAM RUMAH ADAT TOLAKI
ABSTRAK. Etnis Tolaki, adalah salah satu dari tiga kelompok etnis utama di Sulawesi Tenggara yang memiliki gaya dan bentuk budaya yang spesifik. Bentuk budaya yang spesifik diwujudkan dalam obyek yang menjadi simbol budaya disebut Kalo Sara. Kalo Sara terdiri dari tiga elemen benda atau bahan, yaitu Rotan, Kain Putih dan Lingkaran (terbuat dari Rotan) ketiga komponen bahan dan benda tersebut merupakan bahasa simbolis yang melambangkan semua aspek kehidupan sosial masyarakat Tolaki. Penelitian ini akan mengeksplorasi nilai ruang dan bentuk rumah adat Tolaki dalam kaitannya dengan Kalo Sara sebagai unsur tertinggi dalam Tatanan Budaya Tolaki. Subyek yang akan diteliti adalah penafsiran Kalo Sara sebagai unsur budaya tertinggi dalam esensi budaya terhadap komposisi ruang, bentuk dan makna dalam rumah tradisional Tolaki. Hasil penelitian menemukan bahwa Kalo Sara sebagai simbol budaya di komunitas Tolaki sangat erat dan melekat dalam konfigurasi ruang rumah tradisional Tolaki. Inti dari ruang yang mendefinisikan sifat Kalo Sara dari seluruh pengaturan ruang disebut istilah Siwolembatohu.Kata Kunci: Rumah Tolaki, Siwolembatohu, Kalo Sara ABSTRACT. Ethnic Tolaki, is one of the three main ethnic groups in southeast Sulawesi that have a specific cultural style and form. A particular cultural form is manifested in an object that becomes a cultural symbol called Kalo Sara. If Sara is made up of three elements of matter or material, namely Rattan, White cloth and Circle (made of Rattan) the three components of the material and the object is a symbolic language symbolizing all aspects of the social life of the Tolaki community. This research will explore the value of space and customs house form Tolaki concerning Kalo Sara as the highest element in the Tolaki Cultural Organization. The subjects to be studied are the interpretation of Kalo Sara as the most top cultural element in the essence of culture to the composition of space, form, and meaning in Tolaki traditional house. The results of the study found that Kalo Sara as a cultural symbol in the Tolaki community is intimately tied to the traditional Tolaki house space configuration. The core of the space that defines the Kalo Sara nature of the whole spatial arrangement is called the Siwolembatohu term.Keywords: Rumah Tolaki, Siwolembatohu, Kalo Sara.
ADAPTASI PERILAKU PEDAGANG BAZAR DALAM TERITORI RUANG DAGANG
ABSTRAK. Bazar telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Tangerang Selatan, kegiatan ini makin marak berkembang dan dikunjungi masyarakat. Bazar memiliki jadwal hari rutin dengan tempat penyelenggaraan yang berpindah-pindah, antara lain di halaman rumah seseorang, ruang terbuka dalam komplek hunian, penggal jalan lingkungan, depan pertokoan. Uniknya, para pedagang tidak saling berebut area serta mampu melaksanakan kegiatan berdagangnya di lingkungan lokasi dagang berbeda-beda. Para pedagang ini kebanyakan merupakan pedagang kecil dan menjajakan barang dagangannya dengan cara membuat lapak. Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk adaptasi perilaku pedagang pada area dagangnya, sehingga memperkuat terbentuknya teritori ruang dagang bazar. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Selanjutnya data diidentifikasi, dikategorikan dan diinterpretasikan untuk menemukankan faktor-faktor, serta keterkaitan antar faktor yang melatarbelakangi adaptasi perilaku hingga terwujudnya teritori ruang dagang bazar tersebut. Hasil penelitian menunjukkan perilaku pedagang; berjalan keliling, duduk di sela-sela barang dagang atau duduk di salah satu sisi tatanan barang yang dijualnya. Bentuk adaptasi tersebut dipengaruhi adanya fleksibilitas perilaku pedagang sebagai upaya adaptasi terhadap ruang dagang yang tersedia, dengan tetap mempertimbangkan kemampuan mengontrol, mengawasi dan berkomunikasi dengan pengunjung, sebagai upaya memperkuat terwujudnya teritori ruang dagang bazar di Tangerang Selatan. Kata kunci: Adaptasi, Pedagang Bazar, Perilaku, Teritori ABSTRACT. Bazaar has become the main interest for the people of South Tangerang. It is increasingly visited by the people, widespread, and also growing. The bazaar has a regular schedule using moveable stalls; in front of houses, on the open space within the residential area, on the sidewalk, and at the storefront. However, the Sellers are not fighting over the venue and they are able to execute their selling activities in a different location. The sellers are mostly small-scale sellers, and they peddle their wares by making stalls. The study aims to determine the way of adapting behavior from the sellers using moveable stall method. Thus it can strengthen the formation of the bazaar trading space. The research method is descriptive qualitative using observation and interviews. Furthermore, the data were already identified, categorized and interpreted for finding the factors as well as the relationship among the factors behind the establishment of the territory behavioral adaptations to the bazaar trading space. The results showed that the behavior of the sellers was; moving around and sitting in between or aside their selling goods. Those adaption behavior were influenced by their flexibilities in adapting to available stall space with taking into account the ability to control and monitor their stalls as well as communicate with visitors as the effort to strengthen the realization of trading fairs territorial space in South Tangerang. Keywords: adaptations, behavioral, the sellers of bazaar, territor
KONSEP PERENCANAAN TATA HIJAU LANSKAP SEMPADAN SETU MANGGA BOLONG SEBAGAI AREA KONSERVASI TUMBUHAN BERNILAI EKOLOGIS DAN BUDAYA
ABSTRAK. Setu Mangga Bolong memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi bagi tanaman khas Betawi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk merencanakan lanskap sempadan Setu Mangga Bolong dengan konsep ekologis tanpa melupakan identitasnya sebagai kawasan budaya. Untuk mencapai tujuan ini maka dilakukan analisis perubahan lahan selama periode 2005-2015. Penilaian kualitas visual dengan menggunakan metode scenic beauty estimation (SBE), semantic differential (SD), dan multidimensional scalling (MDS). Selanjutnya vegetasi yang ada diinventarisasi. Kemudian, vegetasi dalam peraturan dan kebijakan yang memiliki nilai ekologi dan budaya dipertimbangkan. Hasil yang diperoleh kondisi badan air Setu Mangga Bolong pada periode 2005-2015 lebih baik dari tahun ke tahun. Meskipun demikian, terjadi penurunan area hijau di sempadan Setu Mangga Bolong selama periode tahun 2005-2015. Berdasarkan hasil analisis kualitas visual, lanskap pada area sudut setu yang berbentuk irregular (cekungan) dan juga sudut setu yang berdekatan dengan inlet memiliki kualitas visual yang rendah. Untuk merencanakan tata hijau sempadan setu sebagai area konservasi tanaman bernilai ekologis dan budaya, empat puluh spesies vegetasi eksisting perlu dipertahankan selama tidak mengganggu kualitas dan kuantitas badan air. Vegetasi terpilih direkomendasikan ke lanskap Setu Mangga Bolong sebagai ruang terbuka hijau yang memiliki fungsi ekologis dan budaya Betawi. Kata kunci: Betawi, regulasi, seleksi, vegetasi ABSTRACT. Setu Mangga Bolong has opportunity to be developed into a conservation area for Betawinese plants. The purpose of this article was to plan the landscape of Mangga Bolong Lake with the ecological concept without forgetting its identity as a cultural area. To achieve these objectives, an analysis landuse change on 2005 to 2015 was executed. Visual quality analysis used scenic beauty estimation (SBE), semantic differential (SD) and multidimensional scalling (MDS). Next, inventory of existing vegetation was executed. Then, the vegetation in the regulation and policy on ecological and cultural value was considered. The results howed that water body condition of Setu Mangga Bolong in 2005 to 2015 period is better from year to year. However, there was a decrease of the green area in Setu Mangga Bolong during the period. Based on the results of visual quality analysis, landscape on the irregular edge of lake and close to the inlet, has low visual quality. To plan the green open space of Setu Mangga Bolong as ecologicaland cultural plants conservation, the forty species existing vegetation should be maintained as long as it does not effect for the quality and quantity of water body of the lake. Selected vegetation have been recommended to be applied within Setu Mangga Bolong landscape as green open space that has ecological and cultural functions. Keywords: Betawi, regulation, selection, vegetatio
SIMULASI PENCAHAYAAN ALAMI PADA GEDUNG PROGRAM STUDI ARSITEKTUR UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
ABSTRAKPenelitian ini melakukan investigasi performa pencahayaan alami pada Gedung Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (PAFT) Universitas malikussaleh. Berdasarkan observasi pada gedung PAFT, ruangan-ruangan pada bangunan cenderung gelap dan memakai bantuan pencahayaan buatan walaupun pada siang hari, serta memiliki lahan sempit sehingga cahaya alaminya terhalang oleh bangunan perimeter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa performa pencahayaan alami khususnya faktor pencahayaan alami (daylight factor) pada gedung PAFT dan memberikan solusi desain untuk meningkatkan performa pencahayaan alaminya. Metode penelitian dilakukan melalui simulasi Komputer (computer simulation) dengan software Velux Daylight Visualizer versi 2.0 untuk perhitungan faktor pencahayaan alami. Hasil menunjukkan bahwa permasalahan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kedalaman ruang, posisi ruang, pemilihan material bukaan, penempatan bukaan yang tidak sesuai, kondisi sekitar bangunan (penghalang bangunan), dan Window Wall Ratio (WWR) yang kurang memadai. Selanjutnya, penelitian ini memberikan solusi seperti meningkatkan WWR (menambah dan memperluas bukaan), mengganti warna interiordengan warna yang lebih cerah seperti warna putih, mengganti material bukaan dengan nilai Tvis lebih tinggi (0,850) dan menambahkan shading devices pada tempat-tempat yang dianggap Membutuhkan untuk menghindari efek silau berlebihan dalam ruangan.Kata kunci: Pencahayaan Alami, Faktor Pencahayaan Alami, Velux Daylight Visualiser 2.0, Simulasi Komputer ABSTRACTDaylighting provided significant benefits such as visual comfort and energy saving for a building. In addition, it improved productivity and welbeing of its occupants. As an educational building for architecture, the building of Prodi Arsitektur Fakultas Teknik (PAFT) Universitas Malikussaleh, needed to pay attention to its daylighting performance. As observed, on the one hand, spaces within the building relatively dark and it utilised electric lighting during working hours, on the other, it was made worse by narrow site surrounded with perimeter buildings at close distances. The aim of this study was to analyse daylighting performance within PAFT building, particularly, daylight factor (DF). Furthermore, this research offered some solutions to improve daylight performance within PAFT building. Computer simulation were adopted with Velux Daylight Visualizer Version 2.0 for DF calculation. Result showed, majority of spaces within PAFT building did not meet standard as required by Standar Nasional Indonesia (SNI). The causes for the condition were depth of spaces, mispositioning of particular spaces within PAFT building, incorrect glass selection for openings, inappropriate opening positioning, reasonably close distance of adjacent building and insufficient window wall ratio (WWR). The possible solutions for the situation were increasing the WWR, change interior into a brighter color, replaced all of glasses with higher Tvis values and provided shading devices where appropriate. Keywords: Daylighting, Daylight Factor, Velux Daylight Visualiser 2.0, Computer Simulation
AUTOMATICTECTURE : OTOMATISASI PENUH DALAM ARSITEKTUR MASA DEPAN
ABSTRAK. Teknologi memudahkan umat manusia dalam hidup, akan tetapi, perkembangan yang terjadi juga membawa dampak negatif berupa terancamnya sejumlah profesi dengan adanya otomatisasi. Proses otomatisasi telah menggantikan porsi pekerjaan manusia dengan mesin berkecerdasan, dan tren tersebut akan semakin membesar seiring berjalannya waktu. Dalam hubungannya dengan studi eksperimental dan prediksi masa depan, dunia rancang bangun juga memiliki kemungkinan untuk diotomatisasikan dengan adanya perkembangan dalam bidang arsitektur digital, robotika, dan kecerdasan buatan. Di tengah kondisi global yang serba cepat dan penuh dinamika, dunia arsitektur perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi perkembangan tersebut jika tidak ingin segera digantikan. Diskusi dalam paper ini mencoba untuk mengeksplorasi lebih dalam dan memprediksikan profesi arsitek pada masa depan dalam skenario terbaik dan terburuk terkait perkembangan proses otomatisasi yang semakin tidak terhindarkan. Kata kunci: Arsitektur Eksperimental, Arsitektur Digital, Teknologi, Masa DepanABSTRACT. Technology facilitates mankind in life, however, developments that occurred also had a negative impact in the form of threats to a number of professions with automatization. Automation process has replaced the portion of human work with the intelligent machine, and the trend will be growing over time. In conjunction with experimental studies and future predictions, the design and construction field also have the possibility to be automated with the development in the field of digital architecture, robotics, and artificial intelligence. Amid the global fast-paced and dynamic environment, architecture needs to be prepared in facing such developments if do not want to immediately replaced. The discussion in this paper attempts to explore deeper and predict the future of the profession in the best and worst case scenario related to the development of automation process which is increasingly unavoidable.Keyword: Experimental Architecture, Digital Architecture, Technology, Futur
KARAKTERISTIK ARSITEKTUR DESA MEKARWANGI, CISAUK
Mekarwangi Village is in Banten Province area. It has its own architectural uniqueness, which distincts from Baduy and Java-Banten. However, its uniqueness became faded and abandoned. The Mekarwangi people started to adopt western buildings. On the other hand, most of the area became formal and modern housing development of Serpong. Conservation effort should be initiated, by starting a study about its architectural characteristics. How is the characteristics of the traditional architecture in Desa Mekarwangi? This study is a qualitative research, which is aimed to study the architectural characteristics in Desa Mekarwangi. The results showed, that the stylistic, spatial, physics and figural quality characters is sunda and banten.Keywords: traditional architecture, vernacular, conservation, cultural landscape heritage, local wisdo
ADAPTASI ARSITEKTUR VERNAKULAR KAMPUNG NELAYAN BUGIS DI KAMAL MUARA
ABSTRAK.Masyarakat Bugis terkenal sebagai pelaut ulung di Indonesia yang telah menjelajahi seluruh wilayah nusantara.Oleh karena itu permukiman masyarakat Bugis dapat ditemukan di hampir seluruh wilayah Indonesia, terutama di kawasan pesisir.Di pantai Utara Jakarta juga terdapat satu kampung nelayan Bugis, yaitu di wilayah Kamal Muara.Karakter fisik dari permukiman ini menunjukkan ciri-ciri arsitektur vernacular Bugis yang dapat dilihat dari bentuk rumah-rumahnya.Akan tetapi, kondisi lingkungan yang berbeda dengan di tempat asalnya memaksa masyarakat kampung Bugis tersebut untuk beradaptasi baik terhadap lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budayanya.Adaptasi tersebut menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan pada bentuk dan pola perkampungannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengaruh adaptasi terhadap bentuk rumah dan pola kampung yang dibandingkan dengan arsitektur Bugis yang asli.Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif.Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara kepada informan kunci termasuk beberapa pemilik rumah.Hasil dari penelitian ini adalah teridentifikasinya adapatasi bentuk arsitektur dan pola kampung terkait dengan kondisi lingkungan dan sosial budaya. Kata kunci : adaptasi, vernakular, arsitektur, nelayan, kampung ABSTRACT.Bugis people are famous as the best sailor in Indonesia who have sailed all over the archipelago. Their settlements can be found all over the country especially in the coastal area. Kamal Muara is one of the Bugis fishermen village located in the North coast of Jakarta. The physical character of this settlement demonstrates Bugis vernacular architecture which is especially noticeable in the form of its houses. However, the new place has forced the people to adapt to the physical environment as well as to the social and cultural environment. Consequently, the adaptation caused changes of architectural shapes and the pattern of the village. This objective of this research was to find out the influence of the adaptation to the house form and village pattern that was compared to its original Bugis Architecture. The method of this research was qualitative descriptive research. The data was collected through field study, observation, and interview to the key informants including the owner of the houses. The outcomes of this research is the identification of the adaptation in architectural form and village pattern related to the environmental condition and the sociocultural problem. Keywords: adaptation, vernacular, architecture, fishermen, villag
FUNGSI MASJID BERSEJARAH LUAR BATANG, JAKARTA UTARA, DAN PENGARUHNYA TERHADAP POLA PERMUKIMAN DI SEKITARNYA
ABSTRAK. Fungsi atau aktivitas yang terjadi pada suatu bangunan bersejarah akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Penelitian ini mengamati aktivitas yang dilakukan pada bangunan bersejarah Masjid Luar Batang, Jakarta Utara, dan melihat pengaruhnya terhadap permukiman yang terbentuk di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kesimpulan mengenai pengaruh dari aktivitas masjid terhadap permukiman yang ada di sekitarnya. Penelitian dilakukan di permukiman sekitar Masjid Luar Batang Jakarta Utara. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan sampel diambil secara purposif. Aktivitas yang diamati adalah aktivitas rutin pada bangunan bersejarah yang meliputi aktivitas harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah bentuk permukiman yang terkait erat dengan bangunan bersejarah, Masjid Luar Batang. Jalur jalan besar dan permukiman yang padat terjadi pada jalur utama menuju masjid Luar Batang. Dalam konteks lingkungan permukiman yang padat, ruang terbuka di sekitar masjid Luar Batang menjadi ruang publik yang banyak bermanfaat bagi permukiman sekitarnya. Kata kunci : bangunan bersejarah, fungsi, masjid Luar Batang, permukiman. ABSTRACT. Functions or activities that occur within a historic building will affect the surrounding environment. This study looked at the activities undertaken in the historic buildings LuarBatang Mosque, North Jakarta, and saw its influence on the settlements that formed around it. The purpose of this research is to get a conclusion about the effect of the mosque activitiesand its influence on settlements around it. The study was conducted in a settlement around the LuarBatang Mosque, North Jakarta. The research method using descriptive qualitative with the sample taken by purposive sampling. Activities observed are regular activities in historic buildings which include daily, weekly, monthly and yearly activities. The conclusion of this research is the form of settlement that is closely related to the historical building, the mosque of Luar Batang. Major roads and dense settlements occur on the main route to the LuarBatang Mosque. In the context of a dense residential neighborhood, open space around the LuarBatang mosque becomes a public space that is become a great use to the surrounding settlements. Keywords: historic building, function, LuarBatang mosque, settlement
SEMIOTIK RUANG PUBLIK KOTA LAMA ALUN-ALUN SELATAN KRATON YOGYAKARTA
ABSTRAK. Ruang publik kota dibutuhkan warga kota untuk berkumpul tanpa perbedaan. Pada kota lama bekas kerajaan di Jawa seperti Yogyakarta,tata ruang kotanya mengikuti makna filosofi yang dipercaya pada masanya, dan memiliki alun-alun yang berkembang menjadi ruang publik. Meskipun pengertian ruang publik di sini berbeda dengan ruang publik di Eropa, namun sebagai tempat berkumpul cukup menarik. Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta saat ini begitu hidup berkembang sebagai ruang publik terutama setiap malam dengan berbagai kegiatan menarik. Perubahan pemaknaan terjadi seiring perkembangan jaman. Berangkat dari anggapan awal saya tentang perubahan fungsi dan makna alun-alun, di lapangan saya memperoleh temuan bahwa kerelaan pihak kraton memberikan halamannnya untuk rakyat adalah faktor utama terbentuknya ruang publik di alun-alun. Di lapangan saya juga menemukan berbagai makna yang bisa dibaca dari tanda, yang bisa dimaknai sebagai semiotik alun-alun. Penelitian saya memiliki dua arah, kajian sejarah sebagai tolok ukur perkembangan fungsi dan makna, serta proses lapangan menekankan pada eksplorasi aktor-aktor yang terlibat di alun-alun selatan, dengan mengacu Actor Network Theoryserta Semiotik untuk memahami terbentuknya makna bagi pemilik dan pengguna, yang bisa berubah pada kurun waktu yang berbeda. Kata Kunci: alun-alun, ruang publik, makna, semiotik ABSTRACT. Public space needed to gather citizens without distinction. In the old town of the former kingdom in Java such as Yogyakarta, the city follows the spatial meaning of the philosophy that believed in his time, and had the square developed into a public space. Although the notions of public space here is different from the public space in Europe, but as a gathering place quite interesting. South Alun-Alun Kraton Yogyakarta today so thrive as a public space, especially every night with a variety of interesting activities. Changes of meaning occurs over the development period. Departing from my initial assumptions about changes in the function and meaning of the square, on the ground I gained the finding that the willingness of the parties the court gives halamannnya for the people is a major factor in the formation of a public space of the square. On the field, I also found a variety of meanings that can be read from the signs, which could be interpreted as a semiotic alun-alun My research has two directions, the study of history as a benchmark the development of the function and meaning, as well as the pitch emphasis on exploration of the actors involved in the south Alun-Alun, with reference Actor Network Theory and Semiotics to understand the formation of meaning for owners and users, which may change at different times. Keywords: square, public space, , meaning, semioti