252 research outputs found

    SIKAP PEJALAN KAKI TERHADAP SETING RUANG TRANSISI PARAGON MAL SEMARANG

    No full text
    ABSTRAK. Ruang transisi merupakan ruang penyangga atau ruang pengantar atau ruang peralihan atau ruang penghubung menuju ruang utama, yang fungsinya sebagai perekat antar ruang dan memberikan pengantar akan pengalaman meruang berikutnya, serta memberikan jeda kepada pengguna ruang untuk beraktivitas sebelum memasuki ruang utama. Ruang transisi penting sebagai pembentuk persepsi seseorang terhadap ruang selanjutnya, sehingga dalam perancangannya perlu mempertimbangkan sikap perilaku pengguna sebagai dasar mendesain ruangan. Permasalahan utama yang tampak pada ruang transisi pada obyek studi adalah adanya kemacetan pada ruang transisi, akibat bertemunya pejalan kaki dengan kendaraan bermotor yang bisa mempengaruhi kenyamanan pejalan kaki.Penelitian ini berusaha mengetahui dan menjelaskan permasalahan dengan paradigma kuantitatif, dengan cara berfikir deduktif, dengan tipologi pendekatan adalah positivistik, dengan metode analisis statistik deskriptif. Penelitian ini berusaha mengetahui kaitan antara sikap pejalan kaki terhadap seting ruang transisi (ruang antara pagar pintu masuk kawasan sampai dengan pintu masuk utama gedung) pada obyek studi, terkait dengan kenyamanan fisik, kenyamanan sirkulasi dan kenyamanan aksesibilitas.Hasil akhir menunjukkan bahwa adanya kaitan antara sikap pejalan kaki dengan seting ruang transisi terkait atribut kenyamanan fisik, kenyamanan sirkulasi dan kenyamanan aksesibilitas. Indikator kenyamanan yang paling menonjol adalah panas, tidak adanya pembatas bagi pejalan kaki dan kendaraan bermotor, terganggunya pejalan kaki ketika berpapasan dan jarak pencapaian yang tidak efektif. Kata kunci: Sikap, Seting Ruang, Ruang Transisi ABSTRACT. The transitional space is a buffer room or threshold room or transition room or connecting room to the main room, which has many functions as a connector between spaces and provides an introduction to the experience of the next room and gives an interlude before entering the main room. The transitional space is essential as forming perception of the next space, so it is necessary to consider man behaviour as the basis for designing it. The main problem in the Object study transition room is the congestion due to the meeting of pedestrians with vehicles that can affect the comfort of pedestrians.This research tries to identify and explain the problem with a quantitative paradigm, deductive thinking, with the typology of a positivistic approach, and descriptive statistical analysis methods. This research seeks to determine the relationship between pedestrian attitudes towards the setting of the transition space (the space between the entrance gate to the main entrance of the building) in the object study, especially to physical, circulation, and accessibility convenience.The final result shows a relationship between pedestrian attitudes and the arrangement of the transitional space related to the attributes of physical, circulation, and accessibility comfort. The most prominent indicators of comfort are heat, the absence of barriers for pedestrians and motorized vehicles, disruption of pedestrians when passing, and distances that are ineffective to reach. Keywords: Attitude, Room Setting, Transitional Spac

    KARAKTER LINGKUNGAN PERUMAHAN BERBASIS SPACE ATTACHMENT YANG ADAPTIF DAN RESPONSIF DI MANDAILING

    Get PDF
    ABSTRAK. Space-attachment adalah konsep keterikatan ruang yang dikembangkan dari teori place- attachment atau keterikatan tempat yang menggambarkan keterikatan manusia dengan tempat hidupnya berdasar atribut sosial dan lingkungan. Konsep space-attachment pertama kali diungkap berdasar analisis pengembangan teori place-attachment berbasis bincar-bonom di salah satu lingkungan perumahan perdesaan pegunungan di Mandailing, yaitu Singengu. Menarik untuk diteliti apakah lingkungan perumahan/ permukiman lain di kawasan tersebut memiliki ciri yang sama sesuai dengan temuan  riset sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi hasil riset sebelumnya dan merumuskan karakter desain perumahan perdesaan pegunungan yang berbasis space-attachment khususnya dalam konteks adaptif dan responsif lingkungan. Penelitian ini menggunakan paradigma rasionalistik dengan metode kombinasi (mixed-methods) antara deskriptif-kualitatif dan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter desain perumahan berbasis space-attachment yang adaptif dan responsif ditunjukkan pada: 1) aspek keterbacaan (kemudahan mengenali tempat), 2) unsur keragaman (variasi dan perbedaan tempat aktifitas), 3) aspek temporal (ruang-ruang temporal), dan 4) setting tempat (sesuai dengan kondisi lingkungan/ kontur). Empat karakter tersebut menegaskan karakter lingkungan perumahan berbasis space-attachment, bahwa lingkungan perumahan perdesaan di Mandailing tidak hanya terikat dengan tempat (place) yang menitikberatkan pada ‘fisik tempat’ yang bersifat fisik, tetapi lebih terikat kepada space (ruang) yang menitikberatkan pada ‘non-fisik ruang’ dan bersifat tak teraga. Kata kunci : Karakter, Lingkungan Perumahan, Space-Attachment, Adaptif, Responsif. ABSTRACT. The concept of space attachment is developed from place-attachment theory, which describes humans' attachment to their place of life-based on social and environmental attributes. The concept of space-attachment was first revealed based on an analysis of the development of a place-attachment theory based on bincar-bonom in one of the mountainous residential areas in Mandailing, namely Singengu. It is interesting to study whether other housing/settlement environments in the Mandailing area have the same characteristics as previous research findings. This study aims to verify previous research results and formulate the character of the mountainous housing environment based on space-attachment, especially in the context of adaptive and environmentally responsive. This study uses a rationalistic paradigm with a mixed-method between descriptive qualitative and case studies. The results showed the adaptive and responsive character of the housing environment based-on space-attachment in legibility aspects (ease of recognizing places), elements of diversity (variations and differences in places of activity), temporal aspects (temporal spaces), and setting of the place (according to environmental conditions/contours). These four characters emphasize the character of the housing environment based on space-attachment. The rural housing environment in Mandailing is tied to a place that focuses on 'physical place,' which is physical. Still, it is more tied to space focuses on 'non -physical space 'and intangible. Keywords : Character, Housing Environment, Space-Attachment, Adaptive, Responsiv

    KARAKTER FASAD BANGUNAN TERMINAL PENUMPANG BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA

    Get PDF
    ABSTRAK.   Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta merupakan pintu gerbang ke berbagai negara/daerah maka bentuk bangunan terminal penumpang dapat  memberikan ciri khas atau identitas atau karakter visual bagi kawasan bandar udara dan memberikan keindahan saat dilihat dari sisi udara dan sisi darat. Terminal penumpang merupakan bangunan yang dapat menampilkan karakter visual bandar udara. Karakter visual dapat dirasakan oleh setiap pengguna bandar udara yang terlihat pada fasad bangunan. Fasad pada Terminal Penumpang bandar udara memiliki peranan penting dalam mempresentasikan dan memudahkan masyarakat untuk mengenal Bandar Udara sebagai ciri khas kawasan , sehingga fasad terminal penumpang perlu dikaji elemen-elemennya yang dapat menampilkan karakter bangunannya. Penulisan ini bertujuan mengidentifikasi elemen fasad pada bangunan terminal 1, terminal 2 dan terminal 3. Metode yang digunakan pada penulisan ini adalah metode kualitatif dengan mendeskripsikan karakter fasad bangunan terminal penumpang. Dari hasil analisis maka didapatkan karakter fasad bangunan terminal penumpang Bandar Udara Internasional Sooekarno-Hatta berupa atap, pintu, jendela dan ornament. Kata kunci : fasad, terminal penumpang, bandar udara ABSTRACT. Soekarno-Hatta International Airport is the gateway to various countries/regions, so the passenger terminal building's shape can provide characteristics or identities or visual character for the airport area and provide beauty when viewed from the airside and the side of the ground. The passenger terminal is a building that can display the visual character of the airport. The visual character can be felt by every airport user seen on the façade of the building. The facade of the airport Passenger Terminal has an essential role in presenting and making it easier for the public to know the airport as a characteristic of the area. The façade of the passenger terminal needs to be reviewed; its elements that can display the character of the building. This writing aims to identify the facade elements in terminal 1, terminal 2, and terminal 3. The method used in this paper is a qualitative method by describing the character of the façade of the passenger terminal building. From the results of the analysis, it is found that the character of the facade of the passenger terminal of Soekarno-Hatta International Airport in the form of roofs, doors, windows, and ornaments. Keywords: façade, passenger terminal, the airpor

    JENIS DAN MAKNA JALAMBA (PAGAR ADAT) SEBAGAI PENCIRI IDENTITAS DAERAH GORONTALO

    Get PDF
    ABSTRAK. Indonesia dengan banyaknya suku dan budayanya kaya akan keragaman arsitekturnya. Tradisi dan budaya di tiap daerah, meskipun berbeda-beda tapi menghasilkan karya arsitekur tradisional yang ternyata memiliki benang merah antara satu dengan yang lainnya. Rumah panggung di berbagai daerah memiliki pagar pembatas pada teras atau serambi yang memiliki nilai makna, fungsi, dan keindahannya. Salah satu pagar pembatas tersebut adalah jalamba dari daerah Gorontalo yang umumnya digunakan pada upacara adat pernikahan, kedukaan, dan lain-lain. Jalamba ini juga menjadi pagar penciri identitas adat daerah-daerah di Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam tentang jalamba, jenis dan makna dari jalamba melalui kajian literatur, wawancara, dan pengamatan terhadap rumah panggung tempat jalamba yang digunakan saat ini. Setelah dianalisis melalui teropong sejarah dan kebudayaan, hasil penelitian menunjukkan dua dari enam jenis jalamba saat ini telah menjadi penciri identitas daerah Gorontalo. Kata kunci: Rumah panggung, Pagar pembatas, Pola dan Ragam ABSTRACT. Indonesia, with its many ethnic groups and cultures, is rich in architectural diversity. The traditions and culture in each region, although different, have resulted in the work of traditional architects, which have a common thread with one another. Stilt houses in various areas have a guardrail on the terrace or porch, which has a value of meaning, function, and beauty. One of the guardrails is a Jalamba from the Gorontalo area, which is generally used in traditional wedding ceremonies, grief, and others. This Jalamba is also a fence that identifies the traditional identity of areas in Gorontalo. This study aims to examine the Jalamba's types and meaning of Jalamba through literature review, interviews, and observations of the house on stilts where the Jalamba is currently used. After analyzing historical and cultural binoculars, the results showed that two of the six types of Jalamba now had become the characteristics of Gorontalo's regional identity. Keywords: Stilt house, Railing, Pattern and Styl

    KAJIAN PENATAAN RUANG STUDIO GAMBAR PROGRAM STUDI ARSITEKTUR DI ERA NEW NORMAL PANDEMIC COVID 19

    Get PDF
    ABSTRAK. Pada Program Studi Arsitektur salah satu proses kegiatan yang penting adalah kegiatan perancangan dengan beberapa tahapan antara lain membuat konsep, rancangan gambar dua dimensi dan tiga dimensi dan pembuatan maket. Kegiatan tersebut dilakukan di studio gambar dengan penataan dan bentuk pengelolaan desain ruang kuliah yang khusus. Pada saat sebelum pandemic desain ruang kuliah studio hanya didasarkan pada aktivitas di dalam kegiatan perancangan.Pada saat pandemic covid 19 sekarang ini mengharuskan sebuah desain ruang kuliah studio yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran virus. Metode yang digunakan adalah deduktif kualitatif dengan menggambarkan kondisi ruang kuliah studio dan penyebaran kuesioner kepada para mahasiswa melalui pengisian kuesioner online. Hasil dari penelitian ini adalah analisis desain penataan perabot ruang kuliah studio berdasarkan protokol kesehatan antara lain pada fasilitas fisik meliputi dimensi, desain wujud konfigurasi, desain pembatas antar kursi. Dimensi baru yang dihasilkan berdasarkan pertimbangan new normal adalah keefektifan sebesar 31,5% dengan jarak antar kursi minimal 1 meter. Sedangkan desain wujud konfigurasi yang paling optimal adalah tipe rectangle. Pada desain pembatas antar kursi dihasilkan desain partisi yang berfungsi menghalangi droplet antar mahasiswa dan dosen di dalam ruangan. Untuk sirkulasi dan sign diberikan tanda pada ruang kuliah studio agar arah masuk dan keluar tidak berpapasan. Dengan dihasilkannya desain ruang kuliah studio yang optimal di program studi arsitektur yang sesuai dengan kondisi pandemic covid 19 maka diharapkan akan tercapai peningkatan mutu pembelajaran juga bisa tetap mendukung program pemutusan mata rantai virus covid 19. Kata kunci:perabot, studio, arsitektur, new normal ABSTRACT. One of the essential activity processes in the Architecture Study Program is a design activity with several stages, including conceptualization, two-dimensional and three-dimensional drawing designs, and making mock-ups. This activity is carried out in a drawing studio with a particular arrangement and management of lecture room designs. Before the pandemic, the design of studio lecture rooms was only based on activities in design activities. At the time of the current Covid 19 pandemic, it requires a studio lecture room design that can adapt to health protocols' needs to break the chain of the spread of the virus. The method used is qualitative deductive by describing the studio lecture room conditions and distributing questionnaires to students through online questionnaire filling. This study analyses the design of studio lecture room furniture based on health protocols, among others, the physical facilities, including dimensions, configuration design, and barrier design between chairs. The new size produced based on the new normal considerations is the effectiveness of 31.5% with a minimum distance of 1 meter between seats.Meanwhile, the most optimal configuration design is the rectangle type. In the divider design between chairs, a partition design is produced, which functions to block droplets between students and lecturers in the room. For circulation and sign is given a warning in the studio lecture room so that the entry and exit direction does not cross. With the production of an optimal studio lecture room design in an architecture study program following the conditions of the Covid 19 pandemic, it is hoped that an increase in the quality of learning will be achieved and can continue to support the program to break the Covid 19 chain link. Keywords: furniture, studio, architecture, new norma

    PENETAPAN KAWASAN BERSEJARAH SEBAGAI SEBUAH USAHA PELESTARIAN

    Get PDF
    ABSTRAK.  Sebuah Kawasan bersejarah yang memiliki nilai sejarah dan berkarakter akan menjadi lebih signifikan jika telah ditetapkan sebagai sebuah Kawasan bersejarah secara hukum baik dengan ketetapan tingkat lokal, nasional maupun internasional. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai apa itu penetapan Kawasan bersejarah dan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat khususnya dan negara umumnya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode eksploratif dengan pembahasan menggunakan pendekatan deskriptif naratif. Narasi hasil yang dipaparkan dalam artikel ini adalah bagaimana manfaat penetapan Kawasan bersejarah menjadi signifikan ketika dikaitkan dengan identitas sebuah bangsa umumnya dan sebuah kota khususnya. Kata Kunci: Kawasan bersejarah, pelestarian, penetapan, identitas ABSTRACT. A historic area with historical value and character will be more significant if legally designated as a historical area with local, national, or international regulations. This paper aims to examine more deeply what the designation of a historical site is and how it benefits the community in particular and the country in general. The method used in this study is an explorative method with a discussion using a descriptive narrative approach. The final result presented in this article is how the benefits of establishing a historic area become significant when associated with the identity of a nation in general and a city in particular. Keywords: historical site, preservation, designation, identit

    Kajian Aspek Vernakularitas Pada Rumah Kilungan Di Kota Lama Kudus

    Get PDF
    ABSTRAK. Kota Lama Kudus mempunyai karakteristik menarik dengan adanya tiga elemen yaitu menara, masjid, dan makam, yang ketiganya mempunyai daya tarik dan pengikat bangunan-bangunan di sekitarnya. Rumah kilungan merupakan sebutan lokal rumah yang berada dalam satu lingkup dinding tinggi masif setinggi 3-4 meter, yang berisi rumah tradisional atau rumah gedong. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menafsirkan makna aspek vernakularitas rumah kilungan di Kota Lama Kudus. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi kasus rumah di dalam kilungan di Kota Lama Kudus. Rumah Kilungan Kudus mempunyai susunan jogosatru, gedongan dan pawon. Keseluruhan material rumah kilungan terbuat dari kayu, digunakan pada kuda-kuda, dinding, gebyok, tiang, blandar, pintu dan jendela, kecuali pada lantai dan penutup atap.Tujuan utama rumah kilungan dibuat untuk melindungi barang dagangan yang tersimpan di dalam rumah. Latar sebagai pusat atau orientasi permukiman merupakan ruang terbuka yang dapat langsung terlihat ketika  memasuki kilungan. Pada aspek budaya ditemukan keterkaitan antara bentuk rumah dengan aktivitas masyarakat yaitu mengaji dan berdagang, mempunyai pintu penghubung dengan tetangga meskipun tidak terdapat hubungan kekerabatan. Penempatan pintu masuk kilungan dari arah samping dan menuju ke latar ini dapat dimaknai bahwa rumah kilungan mempunyai privasi yang tinggi. Pada aspek lingkungan, Kota Kudus dikenal sebagai kota santri, bangunan utama dalam rumah kilungan menghadap selatan, mempunyai lahan memanjang utara-selatan, orientasi ke arah latar dan terdapat pintu masuk dari arah samping.Kata kunci: Kilungan, Kota Lama Kudus, Latar, Material Kayu, VernakularABSTRACT. Kudus Old City has a characteristic with the three elements of the tower, mosque, and tomb, which have the appeal and binding of the surrounding buildings. The kilungan house is a local design in a massive 3-4 meter high wall, which contains a traditional or gedong house. The objectives are to identify, describe, and interpret the meaning of vernacular aspects of the kilungan house in Kudus Old City. This research used a descriptive qualitative method with a case study of a kilungan house in Kudus Old City. Kilungan house has an arrangement of jogosatru, gedongan, and pawon. The house's entire material is made of wood, used on kuda-kuda, walls, gebyok, column, blandar, doors, and windows, except on the floor and roof coverings. Latar as the center or orientation of the settlement is an open space that can be directly seen when entering kilungan. In the cultural aspect, found the relation between the form of the house with community activities, especially praying and trading has a connecting door with neighbors even though there is no kinship. The entrance of kilungan from the side and towards the Latar can be interpreted as the kilungan house with high privacy. In the environmental aspect, the Kudus City is known as the city of santri. The main building in the kilungan house is south orientation, has a land stretching north-south, orienting towards the Latar, and there is an entrance from the side.Keywords: Kilungan, Kudus Old City, Latar, Wood Material, Vernacula

    Kajian Ornamen pada Rumah Tradisional Madura

    Get PDF
    ABSTRAK. Ornamen merupakan suatu hiasan yang dibentuk dengan mengembangkan dari bentuk-bentuk yang ada di alam. Ornamen pada bangunan tradisional berbentuk ragam hias dimana teknik maupun pengungkapannya dibuat menurut aturan-aturan, norma serta pola yang telah digariskan dan menjadi kesepakatan bersama dan diwariskan secara turun temurun.  Pada rumah tinggal Madura, terdapat ornamen dalam elemen arsitekturalnya dimana keberadaan ornamen tersebut tidak lepas dari adanya akulturasi kebudayaan antar suku yang menetap di Madura. Penelitian ini membahas akulturasi kebudayaan mana saja yang mempengaruhi bentuk, warna ornamen di rumah tradisional Madura serta makna dari masing-masing motif ornamen yang digunakan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deduktif untuk mengetahui rupa visual dari ornamen pada rumah tradisional di Madura. Hasil analisis menunjukkan beberapa motif yang digunakan pada rumah tradisional Madura antara lain motif flora, fauna antara lain motif ekor ular, naga, burung phoenix dan motif swastika. Pada motif flora-swastika merupakan akulturasi kebudayaan dari Cina, Jawa hindu, dan Madura. Motif flora fauna didominasi dengan hasil akulturasi budaya antara Madura dengan Cina. Untuk area penempatan ornamen bagian atap, dinding, pintu, kolom. Sedangkan penempatan ormanen pada komplek hunian Tanean Lanjhang adalah roma tongghuh (rumah induk) dan Roma na’poto (Rumah Anak). Sedangkan pada kobhung (langgar), tanean (halaman), dapor (dapur), kandhang (kandang) tidak terdapat ornamen karena tempat tersebut lebih diutamakan segi fungsinya. Kata kunci: Ornamen, Rumah, Madura ABSTRACT. Ornament is a decoration that is formed by developing from the forms that exist in nature. Ornaments in traditional buildings are in the form of decoration. The techniques and disclosures are made according to the rules, norms, and patterns that have been outlined and become collective agreements and passed down from generation to generation. In Madura's house, there is an ornament in its architectural element where the decoration's existence is inseparable from the acculturation of cultures between tribes who settled in Madura. This study discusses which cultural acculturation influences the shape, the colour of ornaments in traditional Madurese homes, and the meaning of each ornamental motif used. The method used is a qualitative method with a deductive research method to determine the visual appearance of ornaments in traditional houses in Madura. The analysis results showed several motifs used in traditional Madurese homes, including flora and fauna motifs, including snake-tailed motifs, dragons, phoenixes, and swastika motifs. The flora-swastika motif is an acculturation of culture from China, Hinduism, Java, and Madura. The motif of flora and fauna is dominated by the results of cultural acculturation between Madura and China. For the ornamental placement area of the roof, walls, doors, columns. The placement of people in Tanean Lanjhang residential complex is Rome Tongghuh (main house) and Roma na'poto (Children's House). While in kobhung (langgar), tanean (page), dapor (kitchen), kandhang (cage), there are no ornaments because the place is preferred in terms of function.Keywords: Ornament, House, Madura

    APLIKASI FABRIKASI DIGITAL ARSITEKTUR STUDI DESAIN PARAMETRIK DIAGRAM VORONOI

    Get PDF
    The development of technology and design methods in architecture continues, for example, parametric design methods and the application of digital fabrication technology to create models of representation and construction. Digital fabrication defined the process of manipulating objects using a CNC router, 3d printer, and laser cutter using a reduction or addition method. Studying digital fabrication technology is now a demand for academics and professionals in the field of architecture. Both architecture instructors and students are now required to increase their understanding and ability to process digital designs into scale-scale representation through a digital fabrication process.Through this research, researchers will describe the learning process of digital laser cut fabrication applications using parametric design methods, which are in the form of developing a Voronoi diagram-based design. Parametric design development will be carried out using Rhino software with Grasshopper. This research activity was carried out in the Department of Architecture FST Campus 2, University Technology of Yogyakarta. This research divided into several activities, namely the digital design process, the fabrication preparation process, and the installation or assembly of the model. Also, researchers will explain the obstacles or problems faced in each activity, as well as the opportunities and challenges of digital fabrication applications in architecture.The results of the study showed a clear process in each phase of the activity, and the explanation complemented by obstacles or problems encountered and problem-solving. Failures that occur in the fabrication process provide learning that digital design and digital fabrication are a unified, interconnected process. The opportunities and challenges of digital fabrication applications in the architectural world are further interesting considerations to discuss

    Identifikasi Struktur Bangunan Rumah Tradisional di Desa Pinggirpapas

    Get PDF
    ABSTRAK. Arsitektur tradisional di Desa Pinggirpapas memiliki karakter dan kekhasan tersendiri. Karakter yang kuat dapat dilihat dari bentuk bangunan rumah tradisional yang mengandung nilai filosofis. Bangunan rumah tinggal di Desa Pinggirpapas terdiri dari tiga massa bangunan yang terikat dalam tanean atau halaman. Penelitian dengan judul Identifikasi Struktur Rumah Tinggal Tradisional di Desa Pinggirpapas, Kabupaten Sumenep bertujuan untuk mengenal bagian-bagian struktural konstruksi bangunan rumah tinggal tradisional yang masih menunjukkan jejak keaslian.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rasional-kualitatif yang bersifat deskriptif dan eksploratif, serta dalam pemilihan sampel bangunan digunakan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan berdasarkan pembagian struktur bangunan yang terdiri dari struktur bawah, tengah, dan atas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional di Desa Pingirpapas memiliki keragaman struktur mulai dari struktur pandemen (pondasi), struktur tana’ (lantai), struktur canggha dan sasaka ageng (kolom), dan struktur ata’ (atap). Struktur bangunan rumah tradisional dibuat dengan sistem bongkar – pasang sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Ketiga massa bangunan menggunakan perpaduan material alam. Kayu jati untuk keseluruhan rangka bangunan (badan bangunan dan rangka atap). Batu karang untuk kaki bangunan atau pondasi, dan genteng tanah liat dari Palembang untuk penutup atap. Kata kunci: Struktur, Rumah Tradisional, Desa Pinggirpapas ABSTRACT. Traditional architecture in the village of Pinggirpapas has its character and uniqueness. A strong character can be seen in the form of traditional house buildings that contain philosophical values. Residential buildings in the village of Pinggirpapas consist of three building masses bound in a Tanean or courtyard. Research with the title Identification of Traditional Residential Structures in Pinggirpapas Village, Sumenep Regency aims to recognize the structural parts of traditional residential building construction that still show traces of authenticity. The study uses descriptive rational-qualitative methods that are descriptive and exploratory, and in the selection of building samples, the purposive sampling method is used. The parameter used as a reference in this study is the suitability of secondary data (theory) with the building's empirical conditions. Data analysis was performed based on the division of building structures consisting of the lower, middle, and upper structures. The results showed that traditional houses in Pingirpapas village had a variety of structures ranging from Pandemen (foundations), tana' structures (floors), Canggha structures and Sasaka Ageng (columns), and structures to Ata (roofs). The construction of a traditional house building is made with a knock-down system to move from one place to another. The three-building masses use a combination of natural materials. Teak wood for the overall frame of the building (building and roof frame). A chunk of coral reefs for building footings and clay tile from Palembang for roofing. Keywords: Structure, Traditional House, Pinggirpapas Villag

    225

    full texts

    252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    NALARs
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇