NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
KAJIAN KETERHUBUNGAN DAN KATASTROPIK DALAM TEORI FOLDING ARCHITECTURE
ABSTRAK. Kajian ini merupakan langkah penelitian dalam memahami bagaimana teori folding architecture didefinisikan dan diterapkan ke dalam karya bangunan/arsitektural. Dalam beberapa telaah di aspek filosofis yang menjadi dasar teorinya, ditemukan bahwa teori dan konsep folding architecture bercabang pada penerapan praktisnya dalam membentuk massa dan tampilan bangunan, atau penerapan abstrak yang perwujudannya adalah mengatur ruang aktivitas secara menyatu atau terpisah tergantung pada perlakuan lipat-melipat bidang/elemen bangunan. Melalui telaah tersebut dapat dikerucutkan bahwa inti dari konsep folding architecture adalah prinsip keterhubungan melalui perlakuan-perlakuan seperti mentransfer aktivitas secara mulus, memiringkan bidang, menekuk bidang dan membuka bidang.Kata kunci: Fold, Folding Architecture, Keterhubungan, Katastropik,ABSTRACT. This study is a process in understanding how the folding architecture theory is defined and applied to architectural/building works. In several studies on the philosophical aspects on which the theory is based, it was found that the theory and concept of the folding architecture branched out from its practical application in shaping the mass and appearance of a building. Moreover, it also an abstract application where the embodiment is to organize the activity space unified or separately to depend on the plane building elements' folding treatment. This study can conclude that the core of the folding architecture concept is the principle of connection through treatments such as smooth transfer of activity, tilting the plane, bending the plane, and opening the plane.Keywords: Fold, Folding Architecture, Connectivity, Catastrophe
KARAKTERISTIK PENGGUNA RUANG TERBUKA PUBLIK PADA TAMAN KOTA DI PALEMBANG
ABSTRAK. Ruang terbuka publik digunakan masyarakat kota untuk melakukan kegiatan sosialisasi. Taman kota merupakan salah satu elemen perkotaan yang memberikan pelayanan spasial pada masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan kota. Pelayanan ruang kota yang berkualitas adalah pelayanan yang dapat memberikan kenyamanan dan memenuhi kebutuhan pengguna ruang. Dengan kenyataan ini maka perlu dilakukan studi untuk melihat karaktersitik pengguna yang akan menjadi pedoman pengembangan ruang terbuka pada Taman kota yang sesuai dengan karakter pengguna. Metode kualitatif ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pelaku kegiatan pada setting ruang taman kota dengan mengandalkan survei pengamatan di lapangan. Lalu hasil survei akan dikompilasi dengan analisa deskriptif untuk melihat karakter pengguna antar taman kota. Fokus penelitian terdapat pada karakter pengguna ruang terbuka publik pada taman kota. Hasil penelitian menyatakan bahwa karakter pengguna dan jenis kegiatan dipengaruhi oleh karakter fisik taman yaitu berupa lokasi, setting ruang, elemen pendukung taman dan sistem keamanan. Ruang terbuka publik yang memberikan kenyamanan terhadapt pengguna adalah terdapat banyak teduhan, pedestrian yang baik, tempat duduk, arena bermain anak, tempat jualan makanan dan kondisi taman yang terawat. Karakter pengguna pada taman kota sangat beragam mulai dari anak- anak, remaja hingga dewasa dimana alasan utama datang ke taman adalah untuk refreshing, makan dan berolahraga. Kata kunci: Karakteristik, ruang terbuka publik, taman kota ABSTRACT. Public open space is an essential requirement for society, which functions as a place to socialization activities. City park is a one of the urban design elements that provide spatial services to the community and improve the quality of the city environment. Good quality city space services can provide comfort and meet the needs of space users. With this fact, its nessecary to conduct a research to observe the charactheristic of users in physical setting space at city parks that will guide the development of city park according the users character. The result of the physical’s character spacial observatioan will be compilaton with descriptive analysis to find the users character In city parks. The focus of the research is on the users character of the public open space in city park. The result showed that the characteristic of park, which including the location, the setting of space, the elements support of park and security system affect to the users character. Indicators of public open space that provide comfort to users, namely: there is a lot of shade in the vegetation, good pedestrian, seating, children's playground, where to sell food and well-maintained garden conditions. The variety of User characters in city park ranging from teenagers, adults to families, found a tendency to interest users to come to the park to refreshing, eating and exercising. Keywords: characteristic, public open space, city park
KAJIAN RUMAH GABA-GABA DI PERKOTAAN MERAUKE
ABSTRAK. Merauke sebagai kabupaten terujung timur dari wilayah NKRI, selain dikenal dengan area perbatasannya juga menghasilkan tanaman sagu (Metroxylon sp.). Bagian dari tanaman sagu yaitu pelepahnya kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat setempat menjadi material penyusun dinding rumah. Berdasarkan hasil wawancara, rumah ini selanjutnya dikenal masyarakat Merauke dengan sebutan Rumah Gaba-Gaba. Penerapan Rumah Gaba-Gaba bukan hanya ada di daerah perkotaan tetapi dijumpai juga di daerah lain seperti pedalaman di sekitar Distrik Merauke. Untuk di daerah kota, Rumah gaba-gaba semakin berkurang. Pembelajaran detail sambungan kontruksi gaba-gaba di bangku perkuliahan jurusan bangunan (arsitektur dan teknik sipil) juga sekolah menengah kejuruan bidang teknik bangunan juga tida dijumpai. Penelitian ini kemudian bertujuan melihat bagaimana detail sambungan pelepah sagu pada dinding Rumah Gaba-Gaba di perkotaan Merauke serta menemukan bagaimana potensi dan tantangan pelestarian Rumah Gaba-Gaba dalam kaitannya dengan akses memperoleh material sagu di daerah perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, jenis metode yaitu observasi terlibat dan pengambilan data ethnografis. Teknik pengambilan data secara tidak acak, teknik purposive sampling. Observasi/pengamatan dan wawancara dengan teknik penyajian data yaitu dengan verbatim. Hasil penelitian ini adalah gambar sambungan dinding pelepah sagu dimana terdapat kayu list ukuran 2/2 mengapit gaba-gaba, antar gaba disambung dengan tusukan bambu (seperti tusukan sate) dengan jarak antar tusukan adalah tidak saling sejajar secara vertikal dan juga kajian potensi dan tantangan pelestarian rumah material sagu area perkotaan Merauke. Kata kunci: pelepah sagu, dinding, material lokal ABSTRACT. Merauke, the easternmost district of the Republic of Indonesia, besides being known for its border area, also produces Metroxylon sp., the sago plants. Part of the sago plant, namely sago midrib, is then used by the local community to become the building material for the walls of the houses. Based on the interview results, information was obtained that this house was later known as Rumah Gaba-Gaba. The application of Rumah Gaba-Gaba exists in urban areas and can also be found in other areas such as the rural around Merauke District. The application of Rumah Gaba-Gaba exists in urban areas and can also be found in other areas such as the rural around Merauke District. However, it is found that the application of Gaba-Gaba wall construction is decreasing in urban areas. Then learning the details of this construction in the lectures majoring in building (architecture and civil engineering) and vocational high schools in building engineering is not there. This research then aims to see how the details of the connection of the sago midrib on the walls of the Rumah Gaba-Gaba in Merauke city and find out how the potencies and challenges of preserving the Rumah are preserved Gaba-Gaba are related to access to sago material in urban areas. This research uses qualitative research methods. The types of methods are involved observation and ethnographic data collection. The collecting data is not a random, purposive sampling technique—observations and interviews with data presentation techniques, namely verbatim. The results of this study are a picture of the connection of the Gaba-Gaba wall where there is a list of 2/2 size wood flanking the Gaba-Gaba. Between the Gaba is connected with a bamboo puncture (such as a satay puncture). The distance between the punctures is not parallel to each other vertically. It is also a study of the potential and challenges for the conservation of sago material houses for the urban area of Merauke.Keywords: sago midrib, wall, local materia
PERSPESI PENGGUNA TERHADAP KENYAMANAN TERMAL DI AREA THRESHOLD PADA IKLIM MIKRO
Dalam merancang bangunan perlu mempertimbangkan kondisi iklim di sekitarnya. Threshold space merupakan area transisi antar ruang luar dan dalam yang mengandung pengalaman ruang yang sesuai dengan persepsi dan psikologis pengguna. Iklim mikro merupakan kondisi iklim yang ada di suatu wilayah yang sangat terbatas kurang lebih 2 (dua) meter setinggi permukaan tanah. Penelitian ini berfokus pada kenyamanan ruang bagi pengguna ruang threshold di area teras gedung dekanat Universitas Bengkulu. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang diawali dengan tahap pengamatan, pengumpulan data, dan penyebaran kuesioner. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, hasil responden terhadap kenyamanan ruang threshold gedung dekanat sesuai dengan nilai Temperatur Humidity Index (THI)
VERNAKULARITAS ARSITEKTUR PENINGGALAN PERADABAN ISLAM
ABSTRAK. Peninggalan dari sebuah peradaban dapat dilihat dari karya yang ditinggalkan. Arsitektur merupakan salah satu wujud karya yang dapat digunakan untuk melihat dan menelusuri peninggalan dari sebuah peradaban. Peninggalan peradaban di satu wilayah dengan wilayah lain akan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat. Hal inilah latar belakang pentingnya dilakukan penelitian berkaitan dengan vernakularitas arsitektur. Penelitian ini merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan dan memahami vernakularitas peninggalan peradaban Islam. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan data dilakukan secara purposif sampling. Alat analisis pada penelitian ini adalah aspek vernakularitas yang dikemukakan oleh Mentayani (2017). Aspek vernakularitas dapat dilihat dari 3 hal yaitu aspek teknis, aspek budaya, dan aspek lingkungan yang ketiganya bisa dibahas secara bersamaan karena saling terkait pada ranah unsur dan abstrak. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian ini adalah : (1) vernakularitas pada arsitektur peradaban Islam dapat dilihat pada bentuk massa dan denah bangunan, yang tidak selalu mengikuti bentuk awal (tipologi) peninggalan peradaban Islam yaitu hypostyle; (2) vernakularitas ditunjukkan pada penggunaan material setempat dengan teknologi setempat, misalnya di Afrika Barat menggunakan bata tanah liat yang dikeringkan tanpa dibakar dan penguat dinding dari batang kayu. Kata kunci: vernakularitas, arsitektur, peninggalan peradaban Islam ABSTRACT. The legacy of a civilization can be seen from the work left behind. Architecture is a form of work that can be used to view and trace the relics of a civilization. The legacy of civilization from one region to another will be influenced by local environmental conditions. This is the background of the importance of conducting research related to architectural vernacularity. This research is a research that aims to identify, describe and understand the vernacularity of Islamic civilization heritage. The method used in this study is a qualitative descriptive method with data collection carried out by purposive sampling. The analytical tool in this study is the aspect of vernacularity proposed by Mentayani (2017). Aspects of vernacularity can be seen from 3 things, namely technical aspects, cultural aspects, and environmental aspects, all three of which can be discussed simultaneously because they are interrelated in the elemental and abstract realms. The conclusions obtained from this study are: (1) vernacularity in Islamic civilization architecture can be seen in the shape of the mass and building plans, which do not always follow the initial form (typology) of Islamic civilization heritage, namely hypostyle; (2) vernacularity is shown in the use of local materials with local technology, for example in West Africa using clay bricks that are dried without being burned and wall reinforcement from logs. Keywords: vernacularity, architecture, heritage of Islamic civilizatio
KONSEP PENGEMBANGAN MASTERPLAN BANGSAL SEWOKOPROJO KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Bangsal Sewokoprojo merupakan salah satu bangunan cagar budaya dan meurupakan asal muasal pusat pemerintahan di Kabupaten Gunungkidul. Kawasan bangsal telah mengalami perubahan dengan penambahan bangunan baru dan pada area pendopo yang merupakan bangunan utama yang menyebabkan hilangnya nilai dan keaslian bangunan. Pemerintah Gunungkidul telah melakukan kajian dan akan mengembalikan fungsi dan bentuk kawasan bangsal Sewokoprojo sesuai dengan aslinya. Pada pengembalian fungsi tersebut terdapat beberapa penyesuaian termasuk pembongkaran bangunan kantor yang baru dan dipindahkan ke kawasan perkantoran terpadu. Tujuan dari pengembangan masterplan Bangsal adalah mengembalikan fungsi dan kawasan Bangsal sebagai bangunan yang menjadi asal mula pusat pemerintahan di kabupaten Gunungkidul serta upaya untuk melestarikan bangunan cagar budaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kombinasi pendekatan kualitatif untuk untuk menggali dan mendapatkan informasi lebih detail mengenai bangunan dan kuantitatif untuk menindaklanjuti hasil yang dicapai pada pendekatan kualitatif guna membantu dalam pengembangan Bangsal Sewokopraja Kabupaten Gunungkidul. Hasil dari penelitian ini adalah konsep pengembangan kawasan masteplan bangsal yang menggunakan zonasi dan karakteristik bangunan tradisional Jawa sebagai salah satu cara dalam melestarikan nilai budaya dalam pelestarian bangunan cagar budaya di Kabupaten Gunungkidul
PEMAKNAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT KESENIAN DAN KEBUDAYAAN DI YOGYAKARTA
ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana makna ataupun nilai dari Taman Budaya Yogyakarta bagi masyarakat mengingat keberadaannya sebagai pusat kesenian dan kebudayaan di Yogyakarta. Setiap ruang publik seharusnya tidak hanya hadir secara fisik akan tetapi dapat memberi rasa atau makna tersendiri bagi kota (“places” matter most), bagaimana suatu ruang publik dapat memenuhi kebutuhan masyarakat kota akan adanya sebuah wadah interaksi sosial antar masyarakat. Taman Budaya Yogyakarta merupakan salah satu ruang publik yang dijadikan masyarakat sebagai tempat berekreasi serta aktivitas seni dan kebudayaan. Taman Budaya Yogyakarta atau yang dulu disebut dengan Purna Budaya, pertama kali dibangun pada tanggal 11 Maret 1977 di daerah kawasan Universitas Gadjah Mada. Taman Budaya dibangun kembali pada tahun 2002 di Kawasan Gondomanan. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan wawancara secara online melalui aplikasi WhatsApp serta metode studi pustaka. Hasilnya, diketahui bahwa Taman Budaya Yogyakarta memiliki makna kultural, makna sosial (interaksi individu dengan lingkungannya), makna pentingnya relasi antar manusia, dan memiliki makna harmonisasi kehidupan sosial dan budaya. Makna suatu ruang publik bisa terbentuk dari tatanan serta keadaaan fisik ruangnya. Kata kunci: Makna, Ruang Terbuka Publik, Taman Budaya Yogyakarta ABSTRACT. This study aims to find out how the meaning or value of the Taman Budaya Yogyakarta for the community, given its existence as a centre for arts and culture in Yogyakarta. Every public space should not only be physically present but can give a sense or meaning to the city ("place" matter most), how public space can meet the needs of the city community for a place of social interaction between communities. Taman Budaya Yogyakarta is one of the public spaces used by the community as a place of recreation and artistic and cultural activities. Taman Budaya Yogyakarta or formerly called Purna Budaya was first built on March 11, 1977, in the area of Gadjah Mada University. The Cultural Park was rebuilt in 2002 in the Gondomanan Region. The method used is to conduct online interviews through the WhatsApp application and literature study method. As a result, it is known that the Taman Budaya Yogyakarta has a cultural meaning, a social meaning (the interaction of individuals with their environment), the importance of relationships between people, and meaning of harmony in social and cultural life. The meaning of a public space can be formed from the physical structure and condition of the space.Keywords: Meaning, Public Space, Taman Budaya Yogyakart
TINJAUAN BUDAYA TERHADAP LINGKUGAN PADA BENTUK RUMAH VERNAKULAR DI KELURAHAN JABUNGAN SEMARANG
Rumah vernakular merupakan bangunan warisan yang mempunyai bentuk menyerupai rumah tradisional pada daerahnya. Rumah vernakular adalah suatu artefak yang dapat digali lagi untuk mendapatkan simbol dan mengetahui detail maknanya. Rumah vernakular yang ada di daerah Jawa mencerminkan status sosial dan kondisi ekonomi pemiliknya. Ini terlihat dari bentuk, elemen dan karateristiknya. Dalam perkembangannya, sebuah rumah akan menyesuaikan dengan kebutuhan pemilik yang terlihat pada penambahan ruang-ruang. Seperti yang ada di daerah Semarang Selatan, Kelurahan Jabungan, Semarang. Dalam penelitian ini, mempunyai tujuan untuk menggali lebih dalam akan kajian budaya dari suatu rumah vernacular, sehingga diperlukan penelitian yang berdasarkan teori Amos Rapoport. Metode penelitian menggunakan deskiptif analisis, dengan pengumpulan data dari studi literatur dan studi lapangan dengan cara dokumentasi dan wawancara. Simpulan yang didapat berupa suatu temuan mengenai kajian hubungan budaya dan lingkungan terhadap bentuk rumah vernakular dan elemen arsitekturnya yang ada yang ada di Kelurahan Jabungan, Semarang
KAJIAN SPIRIT OF PLACE PADA PASAR LEGI KOTAGEDE YOGYAKARTA SEBAGAI KARAKTER PASAR TRADISIONAL
ABSTRAK. Pasar tradisional menjadi ruang transaksi ekonomi dengan tradisi tawar menawar antara penjual dan pembeli. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kearifan lokal masyarakat Kotagede berupa pendidikan atau cara belajar “srawung” salah satunya adalah Pasar, oleh karena itu penelitian ini berfokus pada Pasar Legi Kotagede untuk membuktikan pernyataan tersebut. Tujuan dari penelitian untuk mengidentifikasi srawung sebagai Spirit of Place pada Pasar Legi Kotagede. Untuk membuktikan bahwa hal tersebut merupakan keunikan khas Pasar Legi Kotagede maka perlukan pembanding. Hasil penelitian ternyata penataan layout, zonasi pedagang, toleransi, keakraban dan kerjasama antara pedagang maupun pembeli merupakan faktor-faktor yang membentuk Spirit of Place pada pasar tradisional. Kata Kunci: karakter Pasar Tradisional, Kearifan lokal, Pasar Legi Kotagede, Spirit of Place ABSTRACT. Traditional markets are an economic transaction space with a tradition of bargaining between sellers and buyers. A study states that the local wisdom of the Kotagede community in the form of education or how to learn "srawung" one of which is the Market. Therefore this research focuses on the Pasar Legi Kotagede to prove the statement. The purpose of this research is to identify srawung as a Spirit of Place in Kotagede Legi Market. To confirm that this is the uniqueness of the Pasar Legi Kotagede, we need a comparison. The study results turned out to be layout arrangement, trader zoning, tolerance, familiarity, and cooperation between traders and buyers are the factors that make up the Spirit of Place in traditional markets. Keywords: Character of Traditional Market, Local Wisdom, Pasar Legi Kotagede, Spirit of Plac
BAHASA NARATIF DALAM KOMUNIKASI ARSITEKTUR
ABSTRAK. Tulisan ini merupakan sebuah kajian tentang bagaimana mengungkapkan sebuah karya arsitektural, gagasan maupun ide dalam sebuah Bahasa naratif yaitu tulisan. Beberapa teori tentang Bahasa naratif tersebut disajikan oleh beberapa ahlinya sebagai sebuah dasar dan referensi dalam mengungkapkan tiga buah studi kasus yang akan ditinjau. Tinjauan yang dilakukan terhadap tiga studi kasus tersebut menggunakan metode kualitatif deskriptif naratif, dimana Saya mencoba untuk mengungkapkan kekuatan penulis dalam gaya penulisannya terutama dalam menggiring opini pembaca baik negatif maupun positif bahkan imaginatif. Tulisan ini akan memberikan wacara bagi para calon arsitek yaitu mahasiswa arsitektur atau para civitas akademika lainnya sehingga dapat lebih memahami bagaimana seharusnya sebuah karya arsitektural baik bangunan maupun ruang arsitektural harus diungkapkan untuk mempersuasi pembacanya. Kata Kunci: naratif, linguistik, komunikasi, arsitektur ABSTRACT. This paper is a research about how to express and describe an architectural masterpiece, idea, and thought into a written narrative language. Some theories about narrative language and linguistic language have been discussed in this article and have been used as a primary reference in discussing three case studies. I have reviewed three case studies using a qualitative method with a narrative descriptive approach. I have tried to reveal the author's power with their character and style of their written language, mainly how to persuade the reader either negatively, positively, and imaginatively. This research will give architecture students a new discourse to understand how an architectural masterpiece should be described in a written narrative language to persuade the readers. Keywords: narrative, linguistic, communication, architectur