NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
ARAHAN PELESTARIAN TATA RUANG PERMUKIMAN MASYARAKAT ETNIS MANDAILING DI SUMATERA UTARA
The Mandailing community settlement in North Sumatra has many historic elements. The purpose of this research is to identify the physical and non-physical aspects of the Mandailing community's residential areas in three villages that have the potential to be preserved and maintained, as well as to determine how large an area is appropriate for conservation. This study employs a descriptive-exploratory-qualitative approach to identify settlement physical elements (buildings, open spaces, and roads) and non-physical elements (socio-cultural, layout, orientation, and patterns) with the potential to be preserved. According to the study, physical characteristics are classified into physical buildings and non-buildings. Bagas Godang, Sopo Godang, Sopo Emme, mosques, Pancur Paridian, Sopo Saba, Sopo Ladang, and Bale Hombung are among the physical elements of the structure. Alaman Bolak Selangseutang, roads, rivers, plantation areas, fields, rice fields, and forests are non-building physical features. Non-physical aspects that impact the settlement environment include: a) using the Banua principle, b) differences in village status, and c) the spatial Dalihan Natolu Social System. Overall, the Mandailing residential area can be divided into two zones: conservation areas, which are planned to be renovated, restored, and rehabilitated using contextual Mandailing architectural designs while still adhering to local regulations, and preservation areas, which are allowed to preserve the existence of each of its constituent elements while adhering to local laws. The preservation and conservation policies that will be implemented in each case will be handled in a specific order based on established criteria, namely immediate handling of case 4 and subsequent handling of the following three points in the order of handling case 2, case 3, and case 1. Salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki banyak elemen-elemen bersejarah adalah permukiman masyarakat Mandailing di Sumatera Utara. Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen-elemen fisik dan non fisik kawasan permukiman masyarakat Mandailing di tiga kampung yang berpotensi untuk dilestarikan dan dipertahankan keberadaannya serta menentukan seberapa luas kawasan yang layak untuk di konservasi. Kajian ini menggunakan metode deskriptif-eksploratif-kualitatif yang berupaya mengidentifikasi elemen fisik permukiman (bangunan, ruang terbuka, jalan) dan elemen non-fisik (sosial-budaya, tata letak, orientasi, pola) yang potensial untuk dilestarikan. Hasil penelitian menunjukkan aspek-aspek non-fisik yang dapat dilihat pengaruhnya terhadap lingkungan permukiman ini antara lain adalah a) penerapan prinsip Banua; b) perbedaan status kampung; c) Sistem Sosial Dalihan Natolu yang me-ruang. Secara keseluruhan kawasan permukiman Mandailing ini dapat diklasifikasikan atas dua kategori zona yaitu pertama, kawasan konservasi yang direncanakan untuk direnovasi, direstorasi dan direhabilitasi melalui kontekstual desain arsitektur Mandailing dan tetap memperhatikan aturan-aturan setempat; dan kedua, kawasan preservasi yang diberi kesempatan untuk tetap mempertahankan keberadaan tiap elemen-elemen penyusunannya tetapi juga tetap mempertahankan aturan-aturan setempat. Urutan penanganan terhadap kebijakan preservasi dan konservasi yang akan dilakukan pada tiap kasus memiliki urutan tertentu berdasar kriteria yang ditetapkan, yaitu penanganan segera terhadap kasus 4 dan penanganan berikutnya pada tiga kasus berikutnya dengan urutan penanganan adalah kasus 2, kasus 3 dan kasus 1
KAJIAN ATRIBUT PADA AKTIVITAS PEDAGANG PASAR INFORMAL DI PASAR LOAK JEMBATAN ITEM, JAKARTA
Urban public open spaces have very high accessibility, making it easier for various activities to emerge even though they are not by the function of the area, including trading activities. Trading activities that grow in public open spaces lead to the growth of informal market spaces that often get pressure from the environment. The efforts of informal market traders to survive are studied through the attributes contained in the market space. A qualitative research method with a case study approach is needed to answer the "how" and "why" of the occurring phenomena. This study found that the Adaptation Attribute is not only part of the attribute but helps other attributes in the survival efforts of informal market traders. Then, it was found that the Legibility Attribute was not found in the casual market space. An interesting finding from this research is that in addition to Weisman's attributes, the "expertise" factor is also found in the survival of informal markets.Ruang terbuka publik kota memiliki aksesibilitas yang sangat tinggi sehingga memudahkan berbagai aktivitas muncul walaupun tidak sesuai dengan fungsi ruang tersebut diantaranya aktivitas berdagang. Aktivitas berdagang yang tumbuh pada ruang terbuka publik menimbulkan tumbuhnya ruang pasar informal yang sering mendapatkan tekanan dari lingkungan. Upaya pedagang pasar informal untuk bertahan dikaji melalui atribut yang terdapat di dalam ruang pasar tersebut. Untuk melakukan penelitian ini diperlukan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menjawab “how” dan “why” terhadap fenomena yang terjadi. Hasil penelitian ini didapat bahwa Atribut Adaptasi bukan hanya menjadi bagian dari atribut saja melainkan membantu atribut lain dalam upaya kebertahanan pedagang pasar informal. Kemudian didapati bahwa Atribut Legabilitas tidak ditemui pada ruang pasar informal. Suatu temuan yang menarik dari penelitian ini bahwa selain atribut Weisman juga ditemukan faktor “keahlian” dalam kebertahanan pasar informal
PERANCANGAN AKSESIBILITAS PADA FASILITAS INTEGRASI ANTARMODA YANG RESPONSIF PANDEMI COVID-19 DI KAWASAN TOD DUKUH ATAS
Fasilitas integrasi antarmoda merupakan ruang publik yang rawan terhadap persebaran COVID-19. Aksesibilitas menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya. Buruknya aksesibilitas dapat menyebabkan terjadinya kerumunan pengguna yang berpotensi menyebarkan virus. Perlunya merancang aksesibilitas yang responsif Pandemi COVID-19 untuk meminimalisir persebaran virus pada fasilitas integrasi antarmoda. Kawasan TOD Dukuh Atas merupakan kawasan transit yang terintegrasi dengan 4 jenis moda transportasi. Setiap harinya kawasan tersebut dipadati oleh 1,8 juta pengguna. Pengaturan sirkulasi dan signage untuk mendukung aksesibilitas di Kawasan TOD Dukuh Atas belum diatur dengan mempertimbangkan kebersihan dan kesehatan pengguna di masa Pandemi COVID-19. Tujuan penelitian ini adalah merumuskan rancangan aksesibilitas pada fasilitas integrasi antarmoda yang responsif Pandemi COVID-19 di Kawasan TOD Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Terdapat dua tahapan analisis. Pertama, identifikasi karakteristik pengguna berdasarkan behaviour setting dan place setting. Dihasilkan kecenderungan perilaku pada tujuh tipologi karakteristik pengguna. Kedua, merumuskan kebutuhan perancangan aksesibilitas pada fasilitas integrasi antarmoda berdasarkan aspek sirkulasi dan signage. Dari pengaturan sirkulasi dihasilkan 71% pengguna yang memilih memisahkan arah sirkulasi dalam rangka menerapkan physical distancing. Sedangkan dari pengaturan signage dihasilkan 72% pengguna memilih wayfinding dengan dimensi lebih tinggi dari manusia yang diletakan di persimpangan jalan sebanyak serta area entrance dan exit sebanyak.Intermodal integration facilities are public spaces prone to the spread of COVID-19. Accessibility is one of the things that affect it. Poor accessibility can lead to crowds of users potentially spreading the virus—the need to design accessibility to minimize the spread of the virus in intermodal integration facilities. The Dukuh Atas TOD area is a transit area integrated with four types of transportation modes. Every day the area is crowded with 1.8 million users. Circulation and signage arrangements to support accessibility in the Dukuh Atas TOD area have not been regulated by considering the cleanliness and health of users during the COVID-19 pandemic. This study aims to formulate an accessibility design for an intermodal integration facility responsive to the COVID-19 pandemic in the Dukuh Atas TOD area, Central Jakarta. This research uses quantitative methods. There are two stages of analysis. First, identify user characteristics based on behavior settings and place settings and generate behavioral tendencies on seven typologies of user characteristics. Second, formulate the need for accessibility design for intermodal integration facilities based on circulation and signage aspects. From the circulation settings, 71% of users chose the direction of the running circulation into one direction. Meanwhile, from the resulting signage settings, 72% of users chose wayfinding with dimensions higher than humans and placed at crossroads and entrance and exit areas from the signage arrangement
REKOMENDASI DESAIN BANGUNAN SEHAT UNTUK FUNGSI HUNIAN DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BIOFILIK
During the COVID-19 pandemic, all activities must be carried out at home, which makes us further away from nature. Productivity, health, and well-being must be in balance. The biophilic design approach of dwelling allows occupants to experience space and nature, both directly and indirectly. The qualitative method conducted through a literature review on biophilic design is the foundation for housing design. Therefore, implementing a biophilic strategy should accommodate occupancy needs and create spatial quality and the value of the design pattern. The design method is carried out by analyzing space requirements, evaluating case studies, and elaborating on biophilic design attributes. Applying these principles is manifested through characteristics of space, forms of play, and play elements. The outcome of the interaction of residents, buildings, and nature will accelerate the new normal; permanent residents can experience health and well-being. Selama pandemi COVID-19, semua aktivitas harus dilakukan di rumah. Hal ini berarti juga membuat kita semakin jauh dari alam. Tuntutan untuk tetap produktif harus juga diimbangi dengan kesehatan dan kenyamanan berhuni. Perancangan hunian dengan pendekatan desain biofilik dapat memberikan pengalaman penghuni untuk merasakan ruang dan alam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Metode kualitatif yang dilakukan melalui kajian literatur tentang desain biofilik dilakukan sebagai dasar perancangan hunian. Dengan demikian, implementasi desain biofilik tersebut seharusnya tidak hanya mengakomodasi kebutuhan berhuni, namun juga harus mampu menciptakan kualitas ruang dan nilai pada sebuah pola desain. Metode perancangan dilakukan melalui analisis kebutuhan ruang, studi preseden dan elaborasi atribut desain biofilik pada rancangan. Penerapan prinsip arsitektur biofilik terwujud melalui karakteristik ruang, bentuk ruang dan elemen ruang. Melalui pendekatan desain ini, interaksi penghuni, bangunan dan alam dengan optimal dapat mempercepat kenormalan baru. Sisi lain manfaat dari model perancangan ini, penghuni tetap dapat merasakan kesehatan dan kenyamanan berhuni
IDENTIFIKASI PENCAHAYAAN ALAMI BANGUNAN PASAR GEDE SURAKARTA
Pasar Gede Solo merupakan salah satu pasar tradisional yang tersohor di Surakarta. Terletak di Jalan Jendral Urip Sumoharjo membuat Pasar Gede Solo mudah dijangkau oleh banyak kalangan guna berbelanja dan membeli berbagai macam kebutuhan. Pasar ini dibangun sekitar tahun 1930 lalu dengan nama Pasar Gede Hardjanagara. Bangunan pasar ini berbeda dengan pasar-pasar yang ada di Kota Surakarta, pencahayaan alami Pasar Gede dinilai lebih baik dibandingkan dengan pasar-pasar pada umumnya. Pemanfaatan pencahayaan alami yang baik serta dapat mengurangi penggunaan energi untuk pencahayaan buatan dan menandakan bijak dalam penggunaan energi. Penelitian ini menggunakan beberapa metode didalamnya yaitu, studi literatur guna mendapatkan referensi maupun penguat fakta yang ada, lalu menggunakan metode observasi secara langsung guna memudahkan penilaian kawasan yang sudah ada dan beroperasi sehingga data yang diperoleh bersifat real, selanjutnya menggunakan metode pengukuran guna mendapat data secara langsung dan sesuai dengan keadaan. Menggunakan metode membandingkan dengan standar yang ada serta pada bangunan lain yang memiliki fungsi sama digunakan untuk mengetahui seberapa jauh perbedaan pemanfaatan pencahayaan alami yang telah diterapkan. Didukung menggunakan software guna mengolah dapat pengukuran yang didapat dilapangan. Kuisioner digunakan untuk mengetahui tanggapan pengguna pasar. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini menujukkan Pasar Gede memiliki pencahayaan alami yang sudah sesuai dengan standar dengan rata-rata 131,80 lux. Pola persebaran cahaya di Pasar Gede kurang merata dengan clerestory window sebagai salah satu bukaan utama di pasar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi atau dapat menjadi acuan oleh pasar-pasar lai
KORESPONDENSI KETIDAKTERSEDIAAN RUANG MAKAN TERHADAP JENIS HUNIAN MELALUI PENDEKATAN GROUNDED THEORY
ABSTRAK. Ruang makan pada hunian umumnya menjadi tempat untuk mewadahi kegiatan makan, pengolahan makanan, penyimpanan bahan pokok dan makanan siap saji. Namun, penghuni diberbagai hunian masih menggunakan ruang lain sebagai wadah kegiatan tersebut disebabkan keterbatasan ruang untuk memuatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor ketidaktersediaan Ruang Makan pada berbagai jenis hunian seperti Apartemen, Rumah, Indekos, dan Rusun. Selain itu, penelitian ini juga mengungkap alternatif ruang kegiatan makan penghuni berdasarkan jenis hunian. Penelitian dengan metode kualitatif ini menggunakan pendekatan grounded theory serta pengumpulan data melalui kuesioner daring. Hasil penelitian menemukan sebanyak 24,86% responden dari jenis Apartemen, Rumah, Indekos, dan Rusun yang tidak memiliki Ruang Makan untuk mewadahi kegiatan makan, mengolah makanan dan menyimpan makanan. Pada penelitian ini disimpulkan kegiatan makan pada hunian yang tidak memiliki ruang makan dapat dilakukan di Ruang Tamu, Ruang Keluarga, Ruang Kerja dan Ruang Tidur. Kata kunci: jenis hunian, kegiatan makan, ketidaktersediaan ruang, ruang makan. ABSTRACT. The dining room in residential generally provides a place to accommodate eating activities, food processing, storage of staples, and faster food storage. However, residents in various dwellings still use other spaces to carry out these activities due to the limited space to accommodate them. This study aims to determine the unavailability of the dining room for various types of housing such as vertical houses, landed houses, boarding houses, and flats. Furthermore, this study also reveals alternative dining rooms based on the type of occupancy. This qualitative study with a grounded theory approach also collects data through an online questionnaire. This study found that 24.86% of respondents in various types of housing such as vertical houses, landed houses, boarding houses, and flats did not have space for a dining room to accommodate eating, processing food, and storing food. This study reveals that eating activities can be carried out in the Drawing Room, Living Room, Study Room, and Bedroom for residents who do not have a dining room. Keywords: dining room existence, dwelling types, eating activities, unavailable spac
ARSITEKTUR SEBAGAI MANIFESTASI IDENTITAS INDONESIA
Arsitektur secara umum dipahami sebagai ilmu bangunan. Namun bagaimana latar belakang munculnya pemikiran arsitektur terutama dalam perspektif politik dan kebangsaan tidak banyak di bahas.Paper ini melihat bagaimana suatu bangsa – dalam hal ini Indonesia – menempatkan arsitektur sebagai sebuah identitas kebangsaannya. Kasus waktu yang dipakai dalam paper ini adalah masa pemerintahan Sukarno, Suharto dan Joko Widodo. Pembacaan kasus arsitektur menggunakan cara baca semiotika, yang menempatkan karya arsitektur sebagai simbol yang dipersepsi oleh penerima simbol tersebut. Metode penulisan menggunakan metode sejarah yang sinkronik dan diakronik.Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dari ketiga Presiden Indonesia tersebut menempatkan ‘arsitektur’ sebagai simbol identitas. Arsitektur diposisikan sebagai sarana komunikasi terhadap kebijakan-kebijakan politik identitasnya. Perbedaan dari ketiganya adalah lebih pada pendekatan arsitektur yang digunakan. Masa Presiden Sukarno menggunakan arsitektur modern sebagai sarana mempersatukan keberagaman arsitektural dan menunjukkan jati diri kesetaraan dengan bangsa lain. Hal yang penting sebagai salah satu negara yang baru merdeka saat itu. Masa Suharto justru sebaliknya menempatkan keberagaman arsitektural sebagai identitasnya atau menggunakan pendekatan arsitektur regionalisme, walau dengan pendekatan sentralistik dalam kebijakan politiknya dengan perundang-undangan yang mengikat. Pemerintahan Joko Widodo menggunakan keberagaman arsitektur namun dalam kemasan yang lebih mengkini dengan istilah arsitektur nusantara mengkini. Disini terlihat bahwa arsitektur dimaknai sesuai dengan pemimpin yang berkuasa saat itu. Arsitektur menjadi mempunyai kaitan erat dengan pemilihan pendekatan politik saat pemerintah itu berkuasa
Mengembangkan Heritage Tourism Di Kota Denpasar Dengan Memanfaatkan Dokar Hias
Heritage Tourism merupakan wisata yang menjadikan tempat atau Kawasan yang memiliki sejarah dan peran penting dalam suatu daerah sebagai tempat tujuan wisata. Kota Denpasar yang merupakan salah satu jaringan Kota Pusaka dalam upaya mendukung pengembangan Kota Pusaka tersebut pemerintahan Kota Denpasar dalam master plan pengembangan smart city telah menyepakati pula adanya smart heritage, di mana seluruh aspek penting Kota Pusaka turut dijaga kelestariannya dan dikelola menjadi destinasi wisata baru. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi wisata heritage yang dimiliki Kota Denpasar dalam uapaya pengembangan heritage tourism di Kota Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui observasi lapangan dan data yang di dapat dari situs resmi Kota Denpasar.Hasil penelitian menunjukan Kota Denpasar memiliki tempat dan kawasan heritage didalamnya, bangunan, tempat dan Kawasan tersebut memiliki potensi untuk membangun Heritage Tourism di Kota Denpasar. Bangunan, tempat dan Kawasan tersebut diantaranya; Hotel Inna Bali, Museum Bali, Puri Agung Denpasar, Pura Maospahit dan lainnya. Terdapat 3 hal yang wisatawan lihat ketika akan melakukan wisata heritage di Kota Denpasar yaitu, sesuatu yang dapat dilihat oleh wisatawan, sesuatu yang dapat dilakukan dan sesuatu yang dapat dibeli oleh wisatawan. Selain itu dokar hias dalam program “Denpasar Heritage City Tour: Menjelajah Kota Denpasar dengan Dokar Hias” dapat dimanfaatkan sebagai sarana transportasi utama dalam pengembangan heritage tourism di Kota Denpasar
TINDAKAN KOLEKTIF AKTIVIS KAMPUNG MISKIN KOTA DALAM PERENCANAAN DESAIN KAMPUNG SUSUN BAHARI AKUARIUM, PENJARINGAN JAKARTA UTARA
ABSTRAK. Penelitian ini menganalisis tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota dalam perencanaan desain Kampung Susun Bahari Akuarium menggunakan teori Strategic Action Fields (SAFs). Tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota telah dibentuk sejak penggusuran Kampung Akuarium. Mereka membuat rancangan desain kampung susun sebagai kampanye anti penggusuran. Tindakan kolektif tersebut membuat Aktivis Kampung Miskin Kota memiliki posisi tawar dalam kebijakan perumahan rakyat yang berhubungan dengan kampung miskin kota. Beragam tindakan kolektif mereka lakukan selama periode kontestasi sosial pasca penggusuran salah satunya perencanaan desain pembangunan kembali Kampung Akuarium. Setelah proses kontestasi sosial selesai tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota mengalami perubahan. Peneliti ingin mendalami perubahan tersebut dengan melakukan penelitian studi kasus. Peneliti melakukan proses pengumpulan data primer melalui wawancara dan observasi penelitian selama bulan Februari hingga April 2021. Sementara pengumpulan data sekunder dilakukan dengan studi literatur jurnal-jurnal penelitian, dokumentasi foto dan mengikuti webinar yang membahas Kampung Akuarium. Penelitian ini menemukan tindakan kolektif Aktivis Kampung Miskin Kota berkembang seiring keterlibatan mereka dalam perencanaan desain Kampung Kampung Susun Bahari Akuarium. Tindakan kolektif yang dibentuk Aktivis Kampung Miskin Kota dengan Pemprov DKI Jakarta menghasilkan ide baru tentang Kampung Susun (vertical house) sebagai model hunian baru yang selaras dengan peraturan tata ruang wilayah dan aspek sosial-budaya yang sudah terbentuk sejak lama. Kata Kunci: Tindakan Kolektif, Aktivis Kampung Miskin Kota, Perencanaan Desain, Kampung Susun Bahari Akuarium ABSTRACT. This study analyzes the collective action of the Urban Poor Activist in planning the design of the Kampung Susun Bahari Akuarium using the Strategic Action Fields (SAFs) theory. The collaborative action of the Urban Poor Activist has been formed since the eviction of Kampung Akuarium. They drafted the design of the flats as an anti-eviction campaign. This collective action has made the Urban Poor Activist have a bargaining position in public housing policies related to urban poor villages. They took various collective actions during the post-eviction period of social contestation, one of which was the planning for the redevelopment of the Akuarium Village. After the social contestation process was completed, the collective actions of the Urban Poor Activist changed. Researchers want to explore these changes by conducting case study research. Researchers conducted the primary data collection process through interviews and research observations from February to April 2021. Meanwhile, secondary data collection was carried out by studying literature in research journals, photo documentation, and attending webinars discussing Akuarium Village. This study found that the collective action of the Urban Poor Activists developed along with their involvement in the design planning of the Kampung Susun Bahari Aquarium. The collaborative action formed by the Urban Poor Activist with the DKI Jakarta Provincial Government resulted in a new idea of Kampung Susun (vertical house) as a new residential model. It is in line with regional spatial planning regulations and socio-cultural aspects that have been formed for a long time. Keywords: Collaborative action, Urban Poor Activist, Design Planning, Kampung Susun Bahari Akuariu
KONSEP PERANCANGAN MASJID AGUNG JAWA TENGAH
ABSTRAK. Desain masjid agung Jawa Tengah untuk Indonesia merupakan hasil dari lomba tingkat Nasional dan telah terpilih menjadi juara 3. Ide pembangunan masjid agung Jawa Tengah ini berawal dari visi Jawa Tengah dalam “menuju Jawa Tengah sejahtera dan berdikari” dengan salah satu misinya yaitu “membangun masyarakat Jawa Tengah yang religius, toleran dan guyup untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Dalam tulisan ini studi literature, observasi lapangan, dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan data-data awal dengan pendekatan kualitatif. Selanjutnya, hasil desain masjid agung Jawa Tengah diperoleh dan telah dipaparkan dalam tulisan ini. Masjid agung Jawa Tengah diharapkan mampu menunjang kebutuhan masyarakat dan merepresentasikan kondisi masyarakat Jawa Tengah yang berkarakter toleran dan multikultural.Kata kunci: Desain arsitektur, Indonesia, Jawa Tengah, Masjid agungABSTRACT. The great mosque of Central Java designed for Indonesia resulted from a national-level competition and has been selected as the 3rd place winner. Development ideas of the great mosque of Central Java originated from the vision of Central Java "towards a prosperous and independent Central Java" with one of its missions, namely "build a religious, tolerant and harmonious society in Central Java to protect the Unitary State of the Republic of Indonesia." This paper used literature studies, field observations, and interviews to obtain initial data with a qualitative approach. Furthermore, the results of the Great Mosque of Central Java design are accepted and have been described in this paper. The great mosque of Central Java is expected to be able to support community needs. It represents the condition of the people of Central Java with a tolerant character and multicultural.Keywords: Architectural Design, Central Java, Great Mosque, Indonesi