252 research outputs found

    JEJAK KEBERADAAN RUMAH TRADISIONAL KUDUS : SEBUAH KAJIAN ANTROPOLOGI – ARSITEKTUR DAN SEJARAH

    Get PDF
    ABSTRAK. Bentuk rumah beratap joglo pencu, bisa jadi meniru gaya bangunan joglo pendapa dan mungkin bangunan rumah beratap joglo milik para penguasa pribumi, bupati dan para pembantunya yang terlebih dulu ada. Dengan menampilkan bangunan monumental berupa pendapa dan rumah-rumah “bangsawan” yang pada umumnya beratap joglo telah menjadikan kelompok orang-orang ini mempunyai kedudukan istimewa dimata masyarakat.  Rumah-rumah tinggal tradisional pada periode pertama, disamping sebagai generasi awal yang mungkin lebih banyak dibangun oleh orang-orang yang punya hubungan dengan para penguasa pribumi, juga dilain pihak telah menciptakan persaingan prestise bagi rumah-rumah tinggal tradisional yang muncul kemudian yang dibangun oleh para saudagar Muslim yang anggota keluarganya mungkin telah menjadi ulama-ulama muda modernis dan bagi mereka yang telah berhasil dalam sektor ekonominya. Adanya dinding tembok tinggi yang mengelilingi rumah mungkin merupakan salah satu cara pembeda antara kelompok Islam modernis di satu pihak dengan kelompok Islam penguasa dan Islam non modernis, serta kelompok yang melulu business oriented di pihak lain. Kelompok yang disebut terakhir mungkin bisa dilihat dari ekspresi rumahnya yang memiliki gebyok lengkung. Kata Kunci : rumah tradisional, kemakmuran, ukiran  ABSTRACT. House with ’joglo pencu’ roof, has been determined as an adopted style from ’joglo pendapa’ style or ’joglo’ houses which belong to local government (bupati and their ’abdi dalem’). The style is presenting monumental building such as ’pendapa’ as well as ’bangsawan’-nobleman houses which usually have a ’joglo’ roof style. This style has shown a group of people who have power, high and special level within community. Traditional houses within first period, has been regarded as building which have special prestige for people who lived within it. Furthermore, traditional houses have been built by moeslem businessman who become modern young ’ulama’ and succeed economically. High wall which surrounded houses, has been determined as a gap between modern islamic group and non modern islamic group as well as with business oriented group on the other part. The last group could be seen from house’s expression which has ’gebyok lengkung’ as a focal point of their house. Keywords: traditional house, prosperity, engraving

    TEKTONIKA BEBADUNGAN DI ARSITEKTUR BALI

    Get PDF
    ABSTRAK. Bata adalah bahan bangunan yang mungkin saja paling dikenal oleh semua orang. Kita tidak perlu mempersoalkan sejak kapan bata ini digunakan sebagai bahan bangunan. Bersamaan dengan masa Renaisans di Eropa, di masa Majapahit bata juga sudah digunakan sebagai bahan pembangunan candi- candi. Bata memang bahan bangunan yang digunakan hampir di semua penjuru dunia. Memang, ada bata yang tidak dibakar dan ada yang dibakar terlebih dulu; juga ada bata yang berukuran kecil dan yang berukuran besar, namun perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi pengkonstruksian bata menjadi sebuah komponen bangunan. Tembok yang dihadirkan dari pasangan bata yang dijejer dan ditumpuk bukan sekadar sebuah teknologi konstruksi bangunan, tetapi juga sebuah tantangan bagi arsitek dan perancang untuk menggubah sebuah tektonika bata, yakni sebuah seni mengkonstruksi bataKata Kunci: tektonika, bebadungan, bataABSTRACT. Redbricks are a common building material in the world. We never know since when this material have been used as a building material. In the same time of Renaissance Period in Europe, in Majapahit Era, redbricks have been used as building material as well for temples. Redbricks have been regarded as a building material which have been used all over the world. Although, it has been know that there are many kind of redbricks: oven redbricks and non oven redbricks; small redbricks and big redbricks, but the differences will not become an obstacle in the process of building construction. Redbricks become one of building component in building construction. Building’s wall which have been constructed from redbricks structure is not only building construction technology, but also a challenge for architect and designer to change redbricks techtonic, which known as an art how to construct redbricks Keywords : Techtonic, ”bebadungan”, redbricks

    KOSMOLOGI RUANG KELUARGA RUMAH TRADISIONAL MELAYU PONTIANAK DITINJAU DARI PERSPEKTIF KEPRIBADIAN DAN KEBUDAYAAN

    Get PDF
    ABSTRAK. Kegiatan penyebaran agama Islam di Indonesia merupakan hal yang sangat penting bagi sejarah pertumbuhan kota dan kebudayaan Melayu Pontianak. Pengamatan terhadap rumah tradisional Melayu Pontianak, terlihat bahwa masyarakat memberikan perhatian yang besar terhadap ruang keluarga baik mengenai luas maupun hal-hal khusus untuk memberikan kenyamanan yang dikaitkan dengan agama Islam yang mereka anut. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sebuah ruang keluarga bagi masyarakat Melayu Pontianak ditinjau dari perspektif kepribadian dan kebudayaan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya serta hubungan keduanya terhadap tinjauan teori kosmologi.  Dari hasil pembahasan diketahui bahwa adat istiadat dan pandangan hidup Melayu Pontianak dipengaruhi hukum syara’ Islam, hal ini juga mempengaruhi kehidupan sosial-budaya, cara hidup dan aktivitas masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk ruang. Norma-norma Islam sebagai wujud kebudayaan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia (Hablumminannas) dan hubungan manusia dengan Sang Khalik (Hablumminallah) melekat sebagai kepribadian menjadi acuan segala tindak-tanduk Masyarakat Melayu Pontianak diterapkan dalam pengunaan ruang di rumah tradisional Melayu Pontianak agar aktivitas yang dilakukan tidak melanggar norma sehingga terjadi keseimbangan antara dunia dan akhirat. Kata Kunci :  Ruang Keluarga, Rumah Tradisional Melayu Pontianak, Kosmologi, Norma Isla

    APLIKASI PARADIGMA NATURALISTIK FENOMENOLOGI DALAM PENELITIAN ARSITEKTUR

    Get PDF
    ABSTRAK. Ada tiga macam paradigma keilmuan yang lazim digunakan dalam penelitian. Ketiga paradigma tersebut adalah positivisme, rasionalisme dan fenomenologi. (Muhadjir, 1989). Penelitian dengan paradigma fenomenologi menuntun peneliti untuk terjun ke lapangan tanpa berbekal kerangka teori yang kuat sehingga memberikan peluang terjadinya perkembangan topik kajian selama penelitian di lapangan berlangsung.  Penelitian arsitektur dengan paradigma fenomenologi bisa dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dalam sebuah penelitian. Fenomenologi memungkinkan sebuah penelitian berada tetap dalam konteks naturalnya serta tidak bertujuan untuk membuat generalisasi. Teori-teori lokal akan dimunculkan dari penelitian dengan paradigma fenomenologi tersebut. Kata kunci : paradigma, fenomenologi, penelitian arsitektu

    TIPOLOGI PROSES MERUMAH DAN MAKNA RUMAH DI ATAS TANAH GARAPAN Studi kasus Permukiman di Kapuk Muara

    Get PDF
    ABSTRAK. Kapuk Muara adalah daerah permukiman di tepi Muara Angke yang telah ada sejak 50 tahun yang lalu. Permukiman di tepi Muara Angke yang berstatus tanah pemerintah. Pemerintah daerah menyebutnya dengan tanah garapan. Beberapa rumah mereka adalah rumah-rumah komersial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tipe proses merumah di Kapuk Muara dan melihat makna rumah. Untuk mencapat tujuan tersebut digunakan pendekatan penelitian naturalistik dengan metode deskriptif-kualitatif. Kesimpulan dari penelitian status tanah garapan berbeda antara penggarap dengan pendatang, dan sangat dipengaruhi proses merumaah. Proses tersebut terjadi sebagai respon dari situasi yang terjadi. Bagi pendatang, selain rumah masih bernilai ekonomis status tanah dan situasi lingkungan bukan masalah yang penting. Bagi penggarap proses merumah di Kapuk Muara akan terus berjalan karena mereka mempunyai hubungan dengan tanah yang mereka kerjakan atau mereka buka. Maka itulah tujuan mereka untuk memperbaiki kondisi rumah. Kata kunci : rumah, proses merumah, tanah garapan, makna ABSTRACT. Kapuk Muara is a settlement area of town residing in edge Muara Angke and has been more than 50 years. Settlement by the side of Muara Angke lies on goverment land status. Local resident conceive this as tanah garapan. Many of their houses are commercial house. This research aims to know types of housing process in Kapuk Muara and look for the meaning of house. To reach this target hence approach of this research to be used is naturalistic with method of qualitative-descriptive. Conclusion of this research of tanah garapan status comprehended to differ between penggarap aand arrival, and very influencing to housing process. The process expands as a response to situation that happened. For arrival, during house still valuable economically hence land status and situation of environment is not an importaant matter. For penggarap, housing process in Kapuk Muara will be still going on because they have strong relationship with land which they worked on or open, so that all their efforts are for improvement of house condition Keywords : house, housing process, tanah garapan, meanin

    POLA PERMUKIMAN BUGIS DI KENDARI

    Get PDF
    ABSTRAK. Snyder (1985) menyatakan bahwa terbentuknya lingkungan permukiman dimungkinkan karena adanya proses pembentukan hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktivitas manusia serta pengaruh setting baik yang bersifat fisik maupun momfisik yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses pewadahannya. Penelitian tentang pola permukiman Bugis di Kendari ini dilakukan pada kelurahan Mata dan Puunggaloba dengan metode rasionalistik kualitatif. Pola permukiman Bugis di kelurahan Mata dan puunggaloba ini membentuk dua macam pola yaitu linier dan mengelompok. Masyarakat di kelurahan Mata dan Puunggaloba dalam menentukan lokasi permukimannya selalu mendekati laut atau sungai, karena laut berperan penting dalam kehidupan masyarakatnya. Kata kunci : pola, permukiman, bugis. ABSTRACT. Snyder (1985) said built environment has been formed from a process of settlement forming as a functional place which based of human activities pattern as well as setting impact either phisically or non phisically. These impacts will affect activities pattern directly within activities process. Research about Bugis setllement pattern within Kendari has been conducted at ‘kelurahan’ Mata and Puunggaloba by using qualitative rationalistic method. Bugis settlement pattern within kelurahan Mata and Puunggaloba has been formed into 2 patterns, linear and grouping. Community within kelurahan Mata and Puunggaloba has used sea or river to decide settlement location, because they believe that sea has an important role in their life. Keywords : pattern, settlement, Bugis

    VARIASI POLA DESA-DESA TRADISIONAL DI KOTANOPAN, MANDAILING NATAL

    Get PDF
    ABSTRAK. Permukiman penduduk di Mandailing terdiri atas beberapa desa yang letaknya tersebar di wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang. Desa-desa tersebut pada awalnya merupakan huta adat yang dalam perkembangan selanjutnya disebut desa. Pola hidup yang menetap sudah lama ada di Mandailing sejak bermukimnya orang-orang yang pertama datang ke daerah ini. Dengan adanya pola hidup menetap, maka terbentuklah kampung-kampung (perkampungan) yang disebut huta.  Desa-desa yang terdapat di Kotanopan Mandailing dewasa ini secara tidak langsung telah mempengaruhi perencanaan dan pengembangan wilayah setempat. Fenomena ini semakin diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa sebagian besar wilayah pedesaan di Mandailing selalu didominasi oleh keberadaan alaman bolak selangseutang (halaman luas di depan rumah raja sebagai penanda bahwa desa tersebut telah melakukan proses adat) Pembahasan ini menjelaskan bahwa berdasarkan status letaknya, desa-desa di Kotanopan merupakan desa pedesaan, sedangkan berdasarkan mata pencahariannya, desa-desa tersebut terkategori dalam kelompok desa-desa pertanian dan desa-desa tambak. Jika ditinjau berdasarkan nilai sosial, desa-desa ini memiliki dua karakter, yaitu desa-desa yang berorientasi kultural dan sekaligus juga desa-desa yang berorientasi agama dan kepercayaan. Bentuk desa berdasarkan tiga kelompok, yaitu (1) Orientasi Rumah : merupakan bentuk desa dengan letak rumah-rumah yang membentuk kelompok terpusat (konsentris); (2) Aspek Fisiografis : merupakan desa lembah/ pegunungan dan (3) Aspek Non-Fisiografis : merupakan desa sepanjang jalan raya. Sedangkan Pola desa-desanya memiliki ciri linier dan radial.  Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Huta, Konsentris, Linier, Radial  ABSTRACT. People Settlement in Mandailing consist of some villages that distribute on Mandailing Julu and Mandailing Godang district. In the beginning, those villages has been tradition huta expand to be a village in the future. Living to reside have been exist in Mandailing since those residence people came first in this region. With living to reside, so they have been created kampong-kampong as called huta.  The Villages in Kotanopan, Mandailing has effected the planning as well as the development of the region. This phenomenon has been strengthening by the fact that mostly on the village areas in Mandailing have been dominated by the existence of alaman bolak selangseutang (Wide yard in front of King House as symbolize that the village has been done the tradition proses). The discussion has tried to explain and describe that according to setting statue the villages in Kotanopan has been traditional village and according to people job the villages has been categoried in farm and lake villages. According to social value, the villages has been two caracter namely cultural oriented villages and religion oriented villages. The form of villages which has been delivered by 3 groups, namely (1) Houses Orientation : are villages form which have consentris house setting, (20 Fisiografis Aspect : are valley villages/ mountain villages and (3) Non-Fisiografis Aspect : are village along the main street. The pattern of Mandailing Villages has been linier and radial caracter.  Keywords:  Regional Settlement, Huta, Concentris, Linier and Radia

    HUMANISME (KEMBALI) DALAM ARSITEKTUR

    Get PDF
    ABSTRAK. Sebagai bagian dari dunia, arsitektur dihadapkan pada masalah-masalah dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mencari konteks yang tepat dari arsitektur dalam mengatasi masalah-masalah tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritiks dan argumentasi logika. Hasilnya mengacu pada pentingnya humanisme kembali pada arsitektur. Namun, konteks humanisme kontras terhadap humanisme yang disajikan pada arsitektur modern. Dalam arsitektur modern, humanisme menempatkan manusia sebagai subyek yang seharusnya melengkapi kebutuhan dan keinginan manusia. Kebutuhan humanisme adalah menempatkan manusia sebagai penentu seluruh kebijakan dalam melindungi alam, humanitarianisme dan juga teknologi untuk kebaikan manusia dan alam.  Kata Kunci: arsitektur, humanisme ABSTRACT. As part of the world, architecture also faced the problem of the world. This study is aimed to look for the fits context of architecture according to faced the problem. Methods of this study are criticism methods and logical argumentation. The result is referred to the importance of humanism back for architecture. But, that humanism context is contrast to the humanism that presented at modern architecture. In modern architecture, humanism placed man as subject that shall be accomplished all of man wish. Needed humanism is that place man as determining all policy in protects nature, humanitarianism and technology to the good man and good nature.   Key Word: Architecture, Humanis

    FUNGSI DAN PERAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI Sebuah Studi Banding Terhadap Fungsi Pedestrian

    Get PDF
    ABSTRAK. Jalur pedestrian pada sebuah kota adalah bagian yang sangat penting, baik sebagai kelengkapan (amenity) kota maupun sebagai tempat orang berjalan kaki dengan aman dan nyaman. Namun untuk kota Jakarta, dan mungkin juga kota-kota lainnya di Indonesia, pedestrian seringkali mengalami perubahan fungsi tidak hanya sekedar sebagai jalur pejalan kaki namun juga bisa menjadi jalur kendaraan bermotor, area berjualan para pedagang kaki lima yang bersifat mobile, tetapi bisa juga menjadi “ruko” alias rumah toko. Permasalahannya adalah bagaimana nasib para pejalan kaki, dimana mereka dapat berjalan kaki dengan aman, tanpa takut tertabrak pengendara sepeda motor, tersenggol bajay, mikrolet atau mobil pribadi? Pembahasan tentang pedestrian ini dilakukan dengan cara mengamati dan membandingkan antara pedestrian yang ada di Jakarta dan di Singapura, dilihat dari segi fungsi dan penataannya. Kata kunci : pedestrian, fungsi, pejalan kaki ABSTRACT. Pedestrian path within the city has been regarded as an important element, either as a city amenity which contribute an aesthetic of city space or as a space for people or pedestrian to walk safely and comfort. Jakarta as one of a big city in Indonesia, has many pedestrian paths within it, but there are many pedestrian paths which have been changed in function. The pedestrian paths are not as a space for people to walk but have been accommodated as motorcycle lines as well as mobile shop or shop-house which has been known as RUKO or rumah toko. The main problem is how people could walk safely and comfort. This discussion of pedestrian paths will be explored in this paper by comparing the function and the design as well as the plan of pedestrian paths in Jakarta and Singapore. Keywords : pedestrian path, function, pedestrian

    “ The most common causes of project failure lie in the project environment ”. Discuss the extent to which you agree with this statement

    No full text
    In recent decades the interest in the academic study of projects and their management has grown considerably. Theorists have conceptualised people’s endeavours in order to provide a clearer understanding of processes, systems and relationships involved. Research into scoping, design, implementation and the outcomes and values of products and services, once a project is considered complete or has terminated, can provide insights to help inform the better management of projects in the future, through grasping what have been key factors in the success or failure of particular projects. Examples in the academic, project management literature can range from the consideration of projects in the slums of a developing country to organising a flight to another planet ( Viratkapan and Prerera, 2006; Sauser et al, 2009 ). The evolving field of study aims for both the development of general concepts that can be applied to many walks of life, and also insights that relate to particular types of circumstances. Sauser (2009) considers that the evolving research of project management has been more focussed on success factors rather than analysis of failure and potential solutions. Despite this, to reflect on whether the most common causes of project failure lie in the project environment, this essay is in three basic sections. Firstly, an outline is given of how project failure and the project environment can be conceived. Secondly, there is a review of discoveries from the governmental and academic literature that aims to point out the reasons for project failure. This is followed by a critical reflection on the literature, and consideration of who judges the quality of project outcomes and how they do it, to bring the essay to a conclusion

    225

    full texts

    252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    NALARs
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇