NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
SPACE :IDENTIFICATIONS AND DEFINITIONS Case study on The Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan Indonesia
ABSTRACT. A house has function as a shelter for the occupants from directly physical influence of the environmental changes such as climate or weather. Each object of traditional Malay dwellings which taken as case study represent the type of traditional Malay dwellings in each city across West Kalimantan. According to the indentifications on the space, researcher have found the definitions of respective rooms within The Traditional Malay Dwellings of West Kalimantan which is related to the religious belief of the Malays. The teaching of Islam is manifested in the design of house’s form and elements that support the space inside the dwellings. Keywords : traditional dwelling, space, identification, definitions ABSTRAK. Sebuah rumah memiliki fungsi sebagai pelindung bagi penghuninya dari pengaruh fisik secara langsung dari perubahan lingkungan seperti iklim atau cuaca. Setiap obyek dari hunian tradisional Melayu yang diambil sebagai studi kasus mewakili setiap tipe hunian tradisional Melayu pada setiap kota di Kalimantan Barat. Berdasarkan identifikasi ruang, peneliti menemukan definisi dari ruang tertentu dalam hunian tradisional Melayu di Kalimantan Barat yang dikaitkan dengan kepercayaan agama dari orang Melayu. Ajaran Islam diwujudkan dalam disain bentuk rumah dan elemen-elemen yang mendukung ruang di dalam hunian-hunian tersebut. Kaca kunci: hunian tradisional, ruang, identifikasi, definis
GARDEN CITY’: THE SUITABILITY OF ITS PRINCIPLES AS A MODEL TO THE CONTEMPORARY PLANNING
ABSTRACT. Garden City is an urban planning concept that adopted from of Ebenezer Howard who developed the idea of garden cities as a way towards a better and brighter civilization. This article discuss the Garden City concept as associated to planning evolution and describes the later changes in approach to planning better cities in current circumstances. Based on arguments from some experts and evidence derived from practice, Garden City is the novel idea that has a unique presentation because of its simplicity and range of details which consist of three main elements including decentralization, garden and city or in simple terms are location, physical design and community ownership. These days, while in some extent the Garden City idea is still attractive especially in terms of the idea of green design and social city model, the appropriateness of the Garden City idea to contemporary planning seems invalid. The Garden City concepts such as decentralization, low density, self-containment communities, new settlements and proportion of population to land are not anymore fit with current situation which is urban population growth rapidly imbalance with land availability. Urban concept today tends to consider environmental approach in order to gain sustainable goals such as ‘compact city’ concept in planning the better city. The Garden City has a valuable contribution to evolution of urban and regional planning approach, but it is not entirely relevant to the contemporary planning approach. Keywords: Garden City, Contemporary Planning ABSTRAK. Garden city adalah salah satu konsep perencanaan perkotaan yang diadopsi dari karya Ebenezer Howard yang mengembangkan ide ‘kota taman’ sebagai langkah menuju sebuah peradaban yang lebih baik. Tulisan ini mendiskusikan konsep Garden City terkait perkembangan perencanaan kota dan menjelaskan perubahan terkini dalam pendekatan perencanaan kota yang lebih baik. Berdasarkan pendapat beberapa ahli dan hasil penerapan yang pernah dilakukan, Garden city adalah sebuah konsep awal yang memiliki sebuah keunikan dikarenakan kesederhanaannya dan detil yang beragam. Konsep Garden city terdiri dari 3 (tiga) elemen utama, yaitu: desentralisasi, garden dan city atau dengan istilah lain adalah lokasi, desain fisik, dan kepemililkan masyarakat (community ownership). Konsep Garden City sampai saat ini cukup mendapat perhatian terkait dengan konsep green design dan social city model. Tetapi, beberapa konsep lainnya dari Garden City seperti, disentralisasi, tingkat kepadatan yang rendah, masyarakat mandiri, pemukiman baru, dan proporsi jumlah penduduk terhadap lahan tidak sesuai dengan situasi saat ini dimana pertumbuhan penduduk kota yang sangat cepat tidak seimbang dengan ketersediaan lahan. Konsep perkotaan masa kini cenderung mempertimbangkan pendekatan lingkungan untuk mencapai sustainable goals seperti, konsep compact city dalam merencanakan kota yang lebih baik. Konsep Garden City memiliki kontribusi yang bernilai terhadap perkembangan pendekatan perencanaan kota dan wilayah, tetapi tidak secara keseluruhannya relevan pada pendekatan perencanaan masa kini. Keywords: Kota Taman, Perencanaan masa kin
PENATAAN KOTA BERMUATAN ANTISIPASI BENCANA
ABSTRACT. Many types of disasters are resulted from natural phenomenon that cannot be avoided. What should we do is reducing the risks of the disasters. Here human safety is placed in the first priority. Each type of natural disaster brings specific hazard. Learning from previous disasters and scientific data of an area (or a city), we can analyze the potential of hazards, vulnerability, and strategy of mitigation for each threat of disaster. In reducing the risks of natural disasters, a city should be equipped with integrated plan for anticipating disasters. Follow are steps that should be needed: (1) Identifying disaster potentials; (2) Setting-up spatial plan that contains disaster-preparedness; and (3) Building institutions and tools of disaster management. Keywords: natural disaster, risk reduction, disaster preparedness ABSTRAK. Banyak jenis bencana yang dihasilkan dari fenomena alam yang tidak dapat dihindari. Apa yang harus kita lakukan adalah mengurangi resiko bencana. Disini keselamatan manusia ditempatkan dalam prioritas pertama. Setiap jenis bencana alam membawa bahaya tertentu. Belajar dari bencana sebelumnya dan data ilmiah dari suatu daerah (atau kota), kita dapat menganalisis potensi bahaya, kerentanan, dan strategi mitigasi untuk setiap ancaman bencana. Dalam mengurangi risiko bencana alam, sebuah kota harus dilengkapi dengan rencana terintegrasi untuk mengantisipasi bencana. Diantara langkah yang diperlukan adalah: (1) Mengidentifikasi potensi bencana; (2) Pengaturan rencana tata ruang yang berisi kesiapan bencana, dan (3) Membangun institusi dan alat-alat manajemen bencana. Kata Kunci: bencana alam, pengurangan risiko, kesiapsiagaan bencan
UPAYA ADJUSTMENT DAN ADAPTASI UNTUK MENGATASI EKSTERNALITAS RUANG NEGATIF
ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besar eksternalitas ruang negatif dari ruang hasil dari pola pembangunan Bandung Super Mall. Besar eksternalitas ruang diukur dari upaya yang dilakukan penghuni untuk mengatasi eksternalitas ruang negatif. Upaya tersebut berupa tindakan adaptasi dan adjustment penghuni. Penelitian ini bersifat kualitatif-kuantitatif. Metodologi penelitian awalnya bersifat deskriptif-eksploratif, selanjutnya untuk menghitung besar dampak dari upaya penghuni secara adjustment, perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga satuan bahan dan upah bangunan yang dikeluarkan oleh Departemen Kimpraswil. Sedangkan untuk mengetahui besar upaya adaptasi digunakan metoda psikologi. Kata kunci : eksternalitas ruang negatif, adjustment, adaptasi, penghuni ABSTRACT. This research was conducted to determine the size of externalities of negative space from a result space of the development pattern of Bandung Super Mall. The size of externalities space has been measured from the efforts made by residents to overcome externatilies of negative space. Those efforts are adaptation action and residents’ adjustment.This research is qualitative-quantitative research. Initially the research methodology is descriptive-explorative, and then to calculate the impact of the efforts of residents in adjustment, the calculation is done by using the unit price of building materials and wages incurred by the Ministry of Settlement and Regional Infrastructure. On the other hand, to determine how extend to which the adaptation efforts, it has been used psychology method. Keywords : Exsternalities of negative space,, adjustment, adaptationi, resident
KONSEP PRIVASI RUMAH-RUMAH DI KOTA LAMA KUDUS
ABSTRAK. Manusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan makhluk lain untuk keberlangsungan hidupnya. Tetapi manusia sebagai individu juga memerlukan privasi atau mengatur jarak personalnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendapatkan gambaran tentang privasi pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus; (2) Mengungkapkan konsep privasi pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus. Dapat disimpulkan dari penelitian ini didapatkan bahwa konsep privasi khas pada rumah-rumah di Kota Lama Kudus pada intinya adalah kontrol interaksi yang bersifat profan (antar sesama manusia) dan sakral (manusia dengan Tuhannya). Konsep privasi ini terkait erat dengan faktor transendental keIslaman dan sebagian lain mendapat pengaruh dari konsep Jawa. Kata kunci : privasi, konsep, rumah ABSTRACT. Human beings are social creatures who need to interact with other creatures to survive. But human beings as individuals also need to set up a private space as well as personal space. This study is aimed to: (1) Obtain an overview of privacy of the houses in Kota Lama Kudus, (2) Disclose the concept of privacy in the houses in Kota Lama Kudus. It can be concluded from this study that it has been found that the concept of privacy typical of the houses in Kota Lama Kudus is its core which is the control of interaction that are profane (among humans) and sacred (human with God). The concept of privacy is closely associated with Islamic transcendental factors and others are influenced by the concept of Java. Keywords: privacy, concept, hous
FENOMENA BENTUK DAN WUJUD ARSITEKTURAL: Antara Materialitas, Representasi dan Muatan Kehidupan Keseharian dari Permukiman Kampung Perkotaan
ABSTRAK. Pengetahuan arsitektur yang bukan fisik (kultur material), yakni artefak lingkung bangun dan keteknikannya, banyak dijelaskan melalui ide metafisik (non-material culture) hasil reka-pikir yang tidak terkait langsung dengan obyek fisik yang diamati. Ide metafisik arsitektural tidak dapat diklaim sebagai pengetahuan yang tetap. Kampung sebagai topik diskusi dalam tulisan ini akan dibahas bukan dari aspek fisik, seperti teknologi, tipologi, yang seringkali dipahami sebagai ide yang tetap dan tergeneralisasi, tetapi sebagai fenomena kehadiran bermukim sekelompok masyarakat perkotaan. Tropotopia sebagai sebuah ide untuk membahas kampung perkotaan suatu ‘ada’ akan mengungkap ‘apa’ dan ‘keapaan’nya. Ide ini juga dimaksud sebagai penjelasan tandingan dari ide kampung yang ada secara umum. Kata kunci: Kampung perkotaan, Bentuk, Wujud, dan Tropotopia ABSTRACT. Architecture as knowledge can be conceived as material or non-material culture. Analysis on non-material culture is basically a metaphysic; it cannot be claimed as fixed knowledge. Kampung can be discussed in this sense, as a non-material culture. Its does not concern technology (techne) or even typology, but as an existence or ‘being in the world’ – a phenomenon of human settlement di urban settings. Tropotopia as a metaphysical idea is bring forward to analyze urban kampung conceived as a being. It will discuss urban kampung to uncover ‘what’ and ‘whatness’ of it. This analyisis is also to put forward a rival paradigm against what is traditionally or generally accepted in architectural discourse. Keywords: urban kampung, form,appearance,tropotopi
ANATOMI BUBUNGAN TINGGI SEBAGAI RUMAH TRADISIONAL UTAMA DALAM KELOMPOK RUMAH BANJAR
ABSTRAK. Rumah Bubungan Tinggi merupakan Rumah adat suku Banjar, Kalimantan Selatan yang menempati strata paling tinggi dari kelompok Rumah Banjar yang berjumlah 11 jenis. Dengan fungsinya sebagai rumah raja atau sultan yang berkuasa dan merupakan jenis rumah Banjar tertua di antara rumah-rumah lainnya menjadikan jenis Bubungan Tinggi ini sebagai wajah dari arsitektur tradisional Kalimantan Selatan. Nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi rumah Bubungan Tinggi menjadikan rumah tradisional ini sebagai ekspresi keberagaman latar belakang kepercayaan serta tanggapan terhadap potensi lokal dalam hal kekayaan hasil alam seperti kayu-kayuan. Dalam tulisan ini diuraikan secara anatomis bagaimana wujud rumah Bubungan Tinggi dan diharapkan dapat terurai lebih lanjut kajian-kajian yang lebih dalam menjelaskan konteks filosofi, fungsi dan lainnya yang berkaitan dengan metode desain arsitektural. Kata Kunci: Rumah Banjar, Bubungan Tinggi ABSTRACT. Bubungan Tinggi is one of 11 types in Banjar’s (South Kalimantan) Traditional Houses group, which occupies the highest strata within the group. With its function as the home of the ruling king or sultan, and the oldest type among other type of house, makes this Bubungan Tinggi as the main character/ typical image of traditional architecture in South Kalimantan. The values embodied in the philosophy of the house makes this traditional house as an expression of the diversity of beliefs background and responses to the local potential in terms of natural resources such as various woods. In this paper the Bubungan Tinggi house described anatomically and expected to be developed in further studies to explaining the context of philosophy, specific explanations about functions and other discussions related to architectural design methods. Key words: House of Banjar, Bubungan Tingg
UTILITAS PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT
ABSTRAK. Limbah cair adalah hasil buangan berupa cairan yang perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang. Menteri kesehatan RI telah mengatur melalui keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1204/MENKES/SK/X/2004, Tentang : Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Sebagian besar Rumah Sakit masih membuang air limbah langsung ke sistem drainase atau saluran air kota. Dalam beberapa kasus air limbah rumah sakit juga langsung dibuang ke sistem irigasi yang biasa digunakan untuk air minum. Padahal air limbah rumah sakit banyak mengandung polutan dari bahan-bahan yang dapat menimbulkan penyakit dan berbahaya bagi manusia dan lingkungan.Untuk itulah perlu diadakan pengolahan limbah cair rumah sakit dengan menggunakan teknologi pengolahan limbah cair yang efektif dan efisien serta ekonomis. Kata kunci : Limbah cair rumah sakit, karakteristik air limbah cair, teknologi pengolahan limbah cair. ABSTRACT. Liquid waste is a liquid waste product that needs to be treated before disposed. The Health Minister of RI has established a decision of the health ministers of the Republic of Indonesia Number: 1204/ MENKES/ SK/ X/ 2004, about: Requirements of Environmental Health Hospital. Most hospitals have not concerned about this issues. They do not have waste management thus all the liquid waste have been disposed through water drainage system or directly into city waterways. In some cases the liquid waste from hospital is directly discharged into the irrigation system which will be used for drinking water. It is too dangerous to consume this drinking water, because it has been regarded that liquid waste from hospital contains pollutants from organic materials. Thus, it is necessary to deliver liquid waste management for hospital by using technology which are effective, efficient and economical. Keywords : hospital’s liquid waste, characteristic of liquid waste, technology of liquid waste treatmen
KONSEP RUANG TERBUKA SEBAGAI ELEMEN ARSITEKTUR KOTA
ABSTRAK. Tulisan ini akan memaparkan tentang bagaimana konsep ruang terbuka diaplikasikan dalam perencanaan sehingga fungsinya sebagai elemen arsitektur kota dapat terasa keberadaannya. Ruang terbuka sebagai elemen arsitektur kota mempunyai beberapa fungsi dari mulai fungsi sosial, kultural maupun ekonomi. Beberapa dampak akibat pergeseran fungsi terbuka juga dirasakan, dari mulai beralihnya fungsi pedestrian menjadi tempat berjualan pedagang kaki lima, sampai dengan menjadi jalur sirkulasi kendaraan bermotor. Kata kunci: ruang terbuka, elemen arsitektur ABSTRACT. This paper will explain about how extend to which an open space will be applied in planning, thus its function as architecture element of city will be existed. Open spaces as architecture element of city have some functions from social, cultural, and economic function. Some effects have been determined from transformation of open spaces, for example the function of pedestrian as public market, as well as the change of pedestrian function to sirculation for vehicle. Keywords: open space, architecture elemen
’KARSTEN’ DALAM PERENCANAAN KOTA DAN PEMUKIMAN DI KOTA MALANG
ABSTRACT. The industrial revolution in Europe make an impact on the development of big cities in Indonesia especially producing region for industrial raw materials in Europe. Political ethics reciprocation by the Netherlands to the Indonesian nation manifested in urban planning, among others, improvement of quality and environmental management due to the increase of the Dutch people who go to big cities and towns in the Netherlands Indies plantation. Malang City as the region surrounded by plantations developed quite rapidly in 1917 as a residential area planned by Ir. Herman Thomas Karsten Dutch city planners. This study uses data exploration methods using observational study of literature and documentation. In the first stage described the concept of town owned by Ir. Thomas Karsten. In the second phase, analysis of case planning by the city of Malang, Ir. Herman Thomas Karsten. This research has produced: the concept of "Indiese Stedebouw" that can be drawn into the three red lines as follows: the macro-scale planning (satellite town), messo (neighboorhod) and micro (house lots). In principle, the concept is a concept Indiese Stedebouw to plan the town follow the town master plan that is comprehensive as controller. Malang City as one of the city planned by Karsten planned to live in unity together with great harmony. Keywords: Indiese Stedebouw, Karsten, kota Malang ABSTRAK. Revolusi industri di Eropa memberikan dampak pada perkembangan kota-kota besar di Indonesia khususnya daerah penghasil bahan baku mentah industri di Eropa. Pengaruh politik dari bangsa Belanda terhadap bangsa Indonesia juga mempengaruhi perencanaan kota satu dengan lainnya, peningkatan kualitas dan juga manajemen lingkungan terhadap meningkatnya orang-orang Belanda yang tinggal di kota-kota besar di perkebunan Hindia Belanda. Kota Malang sebagai daerah yang dikelilingi oleh perkebunan, berkembang secara pesat pada tahun 1917 sebagai daerah permukiman yang direncanakan oleh Ir. Herman Thomas Karsten, perencana kota berwarga negara Belanda. Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi data yang menggunakan studi observasi dengan literatur maupun dokumentasi. Pada tahap pertama menggambarkan konsep kota yang dikenalkan oleh Ir. Thomas Karsten. Sementara di tahap kedua, analisa dari studi kasus perencanaan kota malang oleh Ir. Herman Thomas Karsten. Penelitian ini menghasilkan: konsep dari Indiese Stedebouw yang dapat dijabarkan kedalam 3 hal penting yaitu perencanaan skala makro (kota satelit), skala menengah (lingkungan/ kawasan kecil), dan skala mikro (perumahan). Secara prinsip, konsepnya adalah konsep Indiese Stedebouw yang merencanakan kota mengikuti masterplan kota secara komprehensif sebagai pengontrol. Kota malang adalah salah satu kota yang direncanakan oleh Karsten, yang direncanakan bagi masyarakatnya untuk hidup bersama secara harmonis. Kata Kunci: Indiese Stedebouw, Karsten, Kota Malang