NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KOTA BARU DI INDONESIA: Antara Fasilitasi Bisnis dan Pelayanan Publik
ABSTRACT. The development of new-town in Indonesia have been initiated since 1950s through the development of Kebayoran Baru newtown as a satellite city in Southern Jakarta. Subsequently, a number of new-town were then built in Klender and Depok and in urban fringe area of other metropolitan like Surabaya and Medan. Hitherto, new-town development are then dominated by private developers, including industrial new-town development. In other side, various problems were occured in those new-town related to spatial planning, infrastructure and social and public facilities management issues. Through policy analysis on various documents, policy dialog notes and media analysis, it were found that there is an obscure policy direction in new-town development, both in national and local government levels, whether it is focused in business facilitation or it is focused in public service initiatives. As recommendations for next study and research, an obscure of policy direction is led to the need of strengthtened legal framework, capacity building and institutional development on new-town development in Indonesia. Keywords: new town, policy direction, Indonesia ABSTRAK. Pembangunan kota-kota baru di Indonesia pada dasarnya sudah dimulai sejak masa awal kemerdekaan, yaitu dengan dibangunnya Kota Kebayoran Baru sebagai kota satelit di sebelah Selatan dari Kota Jakarta. Selanjutnya, beberapa kota baru berupa permukiman terpadu skala besar dibangun oleh Perumnas seperti di Klender dan Depok. Pada perkembangannya hingga kini, pembangunan kota-kota baru lebih didominasi oleh usaha bisnis properti yang dilakukan oleh para pengembang swasta. Di sisi lain, beragam permasalahan bermunculan yang terkait dengan isu-isu penataan ruang dan pengelolaan pelayanan prasarana dasar dan fasilitas sosial dan umum di kota-kota baru tersebut. Berdasarkan analisis perkembangan kebijakan yang bersumber dari dokumen-dokumen rencana, catatan dari beberapa diskusi publik dan analisis media, dijumpai bahwa ada ketidakjelasan arah kebijakan pembangunan kota-kota baru, apakah lebih difokuskan kepada pelayanan bisnis properti atau perlu kembali ditekankan pada aspek pelayanan publik. Sebagai rekomendasi, adanya ketidakjelasan arah kebijakan ini menghantarkan pada perlunya dilakukan penguatan-penguatan pada aspek kerangka peraturan, peningkatan kapasitas dan pengembangan konsep dan sistem kelembagaan pembangunan kota-kota baru di Indonesia. Kata-kata kunci: kota baru, arah kebijakan, Indonesia
PENGARUH ASPEK EKSTERNAL PADA RUMAH MELAYU TRADISIONAL DI KOTA SAMBAS KALIMANTAN BARAT
ABSTRAK. Fungsi rumah secara fisik untuk mempertahankan hidup mereka dari ancaman lingkungan seperti iklim dan cuaca atau hewan liar, sementara rumah juga sebagai diperuntukkan untuk kebutuhan rohani mereka dengan memfasilitasi interaksi antara penghuni di rumah atau interaksi dengan orang di luar rumah. Kebutuhan rohani di sini juga berarti bahwa rumah adalah tempat penampungan untuk mencapai kebahagiaan keluarga. Sebuah rumah memiliki fungsi sebagai tempat tinggal bagi penghuni dari pengaruh langsung fisik dari perubahan lingkungan seperti iklim atau cuaca. Penelitian ini dilakukan terhadap 3 (tiga) kasus rumah tradisional di kota Sambas yang dijadikan sebagai kasus penelitian. Lokasi ketiga kasus tersebut terletak di kampung Dalam Kaum sebanyak 1 (satu) rumah Potong Kawat (kasus II) dan kampung Tanjung Mekar sebanyak 2 (dua) buah rumah yaitu potong Limas (kasus I) dan Potong Godang (kasus III). Rumah Melayu tradisional di kota Sambas telah dirancang menyesuaikan dengan persyaratan iklim lokal yang menggunakan perangkat kontrol terhadap pengaruh sinar matahari langsung dan bahan kapasitas termal rendah. Penyesuaian-penyesuaian yang ditemukan di rumah-rumah tradisional Melayu di kota Sambas dalam penggunaan bahan dan desain yang mampu mengurangi pengaruh diterima dengan mengendalikan pemanasan, pendinginan, kelembaban dan menstabilkan lingkungan internal. Penggunaan material panas yang rendah di semua bagian rumah Melayu tradisional di kota Sambas mampu mengendalikan pemanasan yang berlebihan di dalam rumah pada siang hari dan juga oleh desain yang cocok digunakan untuk menjaga kehangatan pada malam hari atau musim hujan. Kata kunci : rumah Melayu tradisional, faktor ekternal, keawetan struktur, kenyamanan termal ABSTRACT. Function of a house is physically to preserve human lives from the environmental threats such as climate, bad weather or wild animals, while the house as well to accomodating for their spiritual needs by facilitating the interaction between the occupants inside the house or the interaction with people outside the home. The spiritual needs here is also means that the house as a shelter for the family happiness. A house has a function as a residence for the occupants from the direct physical influences of the environment such as the climate change or weather. The research was conducted on 3 (three) cases of the traditional Malay houses that serve as cases on this study. Three cases and its location site which were choosed as samples is in the following: 1 sample in the village of Dalam Kaum for Potong Kawat or the Kawat shape (as case II) and 2 samples were choosen in the village of Tanjung Mekar for Potong Limas or the Limas shape (as case I) and Potong Godang or Godang shape (as case III). The traditional Malay dwellings in the town of Sambas have been designed with adjustment to the local conditions of climatic by using a control device to the direct effects of sunlight and by the materials of low thermal capacity. Adjustments are found in the traditional Malay houses in the town of Sambas with the use of low thermal capacity materials that can reduce the received impacts by controlling the heating, cooling, moisture and also stabilize the internal environment inside the house. The use of material with low thermal capacity in all parts of the traditional Malay house in the town of Sambas is able to control excessive heating in the house during the day and its also caused by a suitable design to keep the warmly conditions at night or in the rainy season. Keywords : traditional Malay dwellings, external factors, structure durability,thermal comfor
GREATER RESISTENCIA STUDY CASE: GREENFIELD AND INCREASED DENSIFICATION
ABSTRACT. This paper focuses on one of the relevant issues of the phenomena of urban expansion and densification, i.e. the lack of planning of public greenfields. At the regional level, since 2001, Resistencia City Council has been promoting a growth in height by increasing built-up areas in central districts that have complete infrastructure, through the implementation of the Ordinance 5403/01 - high density. On the other hand, in the last 10 years the population growth of the city (16%) has been followed by an increase in the supply of open space per inhabitant (85%). However, this increase is not reflected in the inner city areas, where the higher population density is located. This paper aims to analyze and relate the results arising, so far, from the densification of central areas and its relationship with the availability of open space in central districts of Greater Resistencia City. Keywords: Increased densification, greenfield availability, environmental quality.
ANALISA PENGARUH ELEMEN-ELEMEN PELENGKAP JALUR PEDESTRIAN TERHADAP KENYAMANAN PEJALAN KAKI STUDI KASUS: PEDESTRIAN ORCHARD ROAD SINGAPURA
ABSTRAK. Kebutuhan akan pedestrian sebagai ruang terbuka publik semakin dirasakan saat ini, terlebih keterbatasan ruang untuk bersosialisasi tidak banyak yang difungsikan secara optimal. Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan dan perancangan pedestrian adalah penyediaan elemen-elemen pelengkap yang justru akan memberikan kenyamanan bagi para penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendefinisikan elemen-elemen apa sajakah yang terdapat pada pedestrian sebagai ruang publik terbuka. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengedepankan data-data primer sebagai data utama dengan survei ke lokasi dan membandingkannya dengan teori yang ada. Kata kunci: elemen-elemen, pedestrian, Orchard Road ABSTRACT. The need of pedestrian as a public open space has been increased nowaday, partifularly there is a limitation of space for socialization has been not functioned optimally. There is one thing that should be concerned in planning and designing a pedestrian, there should provide elements within area of pedestrian to give comfort for the user. This research is aimed to explore and define what are elements which have been provided within area of pedestrian as a public open space. The research method that have been conducted is a qualitatif descriptive method. Keywords: elements, pedestrian, Orchard Roa
KESINAMBUNGAN DAN PERUBAHAN SPASIAL PADA RUMAH TRADISIONAL KUDUS
ABSTRAK. Rumah tradisional Kudus merupakan rumah adat yang masih banyak ditemukan di Kota Lama Kudus. Rumah ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu, dan masih difungsikan hingga sekarang ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang kesinambungan dan perubahan spasial pada rumah tradisional Kudus. Penelitian menggunakan metode rasionalistik kualitatif dengan pengambilan sampel secara bertujuan (purposif sampling). Temuan fisik mengenai kesinambungan dan perubahan spasial ditemukan pada pada hirarki ruang, fungsi ruang dan orientasi rumah. Temuan non fisik meliputi pola kegiatan tradisi upacara adat yang berhubungan dengan kehamilan, kelahiran, khitanan dan kematian. Kata kunci : Kesinambungan, Perubahan Spasial, Rumah Tradisional Kudus ABSTRACT. Kudus traditional house is a traditional house that is still found in the Old Town Kudus. This house has been there for hundreds of years ago, and still functioned until nowadays. The purpose of this study was to gain an overview of spatial continuity and change in the traditional house of Kudus. This research has conducted qualitative rationalistic method by taking some sampling purposely (purposive sampling). Physical findings on the spatial continuity and change have been found in the hierarchy of space, space function and the orientation of the house. On the other hand, non-physical findings include the pattern of tradition ceremonial activity which is associated with pregnancy, birth, circumcision and death. Keywords: continuity, spatial change, Kudus traditional hous
DESAIN INTERIOR PERSINGGAHAN TRANSPORTASI PUBLIK SEBAGAI ALAT REKOGNISI TEMPAT (PENGAMATAN STASIUN MASS RAPID TRANSIT DI SINGAPURA)
ABSTRAK.Persinggahan transportasi publik seperti halte bus, terminal, dermaga, pelabuhan laut maupun udara memiliki fitur yang dapat membantu pengguna atau penumpang moda transportasi tersebut untuk bernavigasi menentukan rute perjalanan sekaligus mencari jalan ke tempat tujuannya. Fitur tersebut adalah penanda tertulis atau grafis berupa signage yang informatif bagi pengguna/penumpang. Yang menjadi permasalahan adalah apabila signage yang tersedia tidak dapat direspon oleh pengguna moda transportasi karena memiliki keterbatasan fungsi indera. Lingkungan yang paling dekat dengan pengguna ketika tidak dapat membaca signage yang ada adalah dengan melihat bentukan desain interior persinggahan yang ada. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengamati bagaimana desain interior dalam studi kasus stasiun transportasi massal di Singapura, SMRT dapat menjadi penanda kawasan yang dapat dibaca sebagai alternatif selain signage yang ada. Hasil dari pengamatan tersebut dirumuskan ke dalam ciri-ciri utama yang dapat dikembangkan konsepnya menjadi instrumen pananda kawasan selain hanya sekedar pemanis ruang dalam. Kata Kunci: Penanda, Desain Interior, Stasiun MRT. ABSTRACT. Transit facilities in public transport services such as bus stop, bus terminal, boat pier and port, or airport have feature that can help the users to navigate their journey. That feature formed as a written signage or illustrated graphically which informative to the users. This signage feature become not functioning when if the users cannot respond the notification appear on the signage caused by their sensory disability. The closest element in the built environment which can directly scanned by disabled users are the interior surround them. observed in this article about how the design in some sample stations from Singapore Mass Rapid Transit system, can become an alternate signage-function. This observation result is in form of definitive characteristic of the interior design, which can developed as a signage design concept. Key words: Signage, Interior Design, MRT Station
ARSITEKTUR ISLAM ATAU ARSITEKTUR ISLAMI?
ABSTRAK. Diskusi dan kajian tentang arsitektur Islam sudah sedemikian banyak, terutama di kalangan akademisi dan praktisi. Sebagian diskusi tersebut memfokuskan pada aspek bentuk, langgam, peninggalan historis dan hal-hal lain yang bersifat fisik yang dianggap merupakan bagian dari kebudayaan umat muslim. Sementara itu sebagian kalangan merasa bahwa sesungguhnya Islam tidak cukup hanya diwujudkan dengan aspek fisik semata. Saat ini semakin berkembang wacana tentang arsitektur islam yang lebih mengedepankan nilai-nilai keislaman daripada tipologi fisik produk arsitektur. Di dalam pengertian ini, penulis menyebutnya sebagai arsitektur islami. Tulisan ini bertujuan untuk menggali sejauh mana perbedaan antara kedua pemikiran tentang arsitektur Islam dan arsitektur Islami, dan mengetahui apa sajakah aspek yang berpengaruh dalam perencanaan produk arsitektur yang islami, melalui kajian terhadap berbagai sumber berupa Al Qur’an dan hadits, buku, jurnal, dan beberapa artikel, di samping analisis pemikiran penulis sendiri. Dari kajian tersebut ditemukan bahwa bahasan tentang arsitektur islam sangat berbeda dengan arsitektur islami. Arsitektur islam menekankan tentang aspek fisik sebuah lingkungan binaan, sedangkan arsitektur islami lebih mengedepankan pada nilai-nilai keislaman yang bersumberkan pada Al Quran dan Hadits atau sunnah Rasulullah. Aspek dari arsitektur islami yang perlu untuk dikembangkan adalah efisensi, egaliter, privasi, kearifan lokal. Kata kunci : arsitektur islam, arsitektur islami, nilai Islam ABSTRACT. It has been regarded, there are so many discussion and study of Islamic architecture, particularly among academics and practitioners. Most of the discussion focuses on aspects of form, style, historical relics and other things that are considered physical is part of the culture of Muslims. Meanwhile, some people feel that the real Islam is not enough just realized with the physical aspect only. Currently, growing discourse about Islamic architecture which tends to emphasize Islamic values rather than physical typology of product architecture. In this matter, the author referred to it as Islamic Architecture.This paper is aimed to discover how extend to which the differences between two thinking about Islam Architecture and Islamic Architecture, and to find out the aspects which influence in Islamic Architecture product planning, through the study of various sources of the Qur'an and hadith, books, journals, and several articles, in addition to analysis of the author's own thoughts.From those studies it was found that a discussion of Islam architecture is very different from Islamic architecture. Islam architecture emphasizes the physical aspects of the built environment, while Islamic architecture is more advanced on Islamic values which root on Al Quran and hadith or sunnah of the Prophet. Aspects of Islamic architecture that need to be developed is efficiency, egalitarian, privacy and genius loci. Keywords : Islam Architecture, Islamic Architecture, Islamic value
POLA DAN STRATEGI PERBAIKAN PERMUKIMAN KUMUH DI PERKOTAAN
ABSTRAK. Tulisan ini akan membahas sedikit banyaknya tentang pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh di perkotaan khususnya DKI Jakarta yang dinilai terlalu banyak kantong-kantong permukiman kumuh. Pola dan strategi perbaikan yang dibahas dalam tulisan ini meliputi pola dan strategi perbaikan permukiman kumuh dari yang pertama digulirkan oleh pemerintah maupun yang sampai saat ini masih diterapkan oleh pemerintah. Kata kunci: strategi, pola, permukiman kumuh ABSTRACT. This paper will discuss more or less about strategies and patterns of slum settlement improvement programme within cities, particularly DKI Jakarta. DKI Jakarta has been regarded as a city which has many slum areas’ within it. Strategies and patterns of improvement programme which will be discussed in this paper include patterns and strategies of initial programme which had been delivered by government as well as programme which is still employed by government.. Keywords: strategies, patterns, slum settlemen
ANALISIS KONSEP DESAIN HYBRID PADA MASJID AGUNG JAWA TENGAH (TINJAUAN ASPEK RUANG DAN BENTUK )
ABSTRAK. Desain arsitektur perlu memperhatikan sejarah dan budaya lokal, agar karya-karya arsitektur tidak asing berada di tempatnya dan sekaligus tetap memiliki karakternya yang unik. Salah satu cara untuk mendesain karya-karya berkarakter lokal dan unik adalah dengan menggunakan konsep desain Hybrid. Gagasan pokok konsep desain Hybrid adalah mencampur atau menggabungkan dua hal (referensi arsitektur) yang berbeda untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Oleh sebab itu, konsep desain ini sangat menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Obyek penelitian adalah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Lokasi obyek penelitian berada di kota Semarang, Jawa Tengah. Teknik pengambilan data primer dengan survei (observasi dan dokumentasi). Data sekunder berupa gambar perencanaan. Teknik analisis data dengan analisis grafis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hybrid diterapkan pada desain MAJT, baik pada aspek bentuk maupun ruang.Pada aspek bentuk berupa mixing atau percampuran antara bentuk-bentuk elemen arsitektur masjid Timur Tengah dan arsitektur tradisonal Jawa.mixing elemen arsitektur ini terdapat pada: a) atap masjid, b) interior ruang utama sholat,dan c) elemen penting lainnya, seperti: plafond mezanin, kolom-kolom dan menara masjid. Sedangkan pada aspek ruang, diterapkan konsep desain: a) dominasi organisasi ruang masjid tradisional Jawa pada ruang sholat utama, b) ambiguity pada serambi masjid, dan c) displacing beberapa elemen penting masjid. Kata Kunci: mixing, ambiguity, displacing ABSTRACT. The architectural design needs to consider the local history and culture, thus architectural masterpieces will not become out of place within their location and will have unique character. How to design masterpieces which have local and unique character is by using Hybrid design concept. Hybrid design concept main idea is to mix or combine the two things (reference architecture), which is different to produce something new. Therefore, this design concept is very interesting to study. The paradigm of research is rationalism. A research using a grand concept. The case of research is Central Java Province Great Mosque (CJP-GM). The location of object lay on street of Gajahmada in Semarang City, capitol of central Java Province. The data is qualitative one and the method of collecting data is survey. The data have been analyzed using graphical method. The results of research show that hybrid design concept is used in formal aspect and space one of researched object. In formal aspect is used mixing method between arabic mosque (ottoman type) and javanese traditional mosque. The method was used in several ways: a) on the roof. It is used the principal of equivalent-mixing by wrapping and simplicity technique to form roof of CJP-GM, b) in interior of haram. it used the principal of dominant-mixing to create the haram interior. The affect of javanese traditional mosque is strong enough in creating interior sense than arabic mosque, c) ambiguity principal is used in creating the form of Serambi of CJP-GM by cutting the Shan form. For the space aspect, it used some methods: a) organisational space. The organisational space of Javanese traditional mosque is used as the rule to organize the space of CJP-GM, but the one space, called serambi (front porch), is modified in touch of an arabic mosque space, b) serambi of mosque. The space of Serambi is formed using ambiguity methods. The technique of placing-displacing is treated between serambi and shan, and the merging technique is treated berween shan and pelataran, c) the wudlu place and bedug. Both of them are important elements in javanese traditional mosque. Both element are treated with displacing technique. By this technique, both elements are placed differently from javanese traditional mosque. Keywords: mixing, ambiguity, displacin
JOINT STUDIO PADA STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR
ABSTRAK. Terdapat lebih dari 170 perguruan tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan program studi sarjana arsitektur. Seluruh program studi tersebut menggunakan format studio sebagai salah satu cara utama pembelajaran, seperti juga halnya pada umumnya sekolah arsitektur di dunia (Lawson, 2004: 20). Dominasi studio tercermin dalam kurikulum program sarjana arsitektur nasional yang menuntut minimum 48 SKS studio. Diantara sekian banyak program studi arsitektur tersebut, terdapat berbagai “warna” atau paradigma yang dianut masing-masing program studi. Paradigma tersebut juga mewarnai tugas dan pelaksanaan studio perancangan arsitektur. Keragaman dalam studio perancangan merupakan kekayaan pengetahuan dan ketrampilan yang perlu diserap. Joint studio merupakan salah satu cara “menyerap” kekayaan ini. Artikel ini menyampaikan pengalaman penyelenggaraan joint studio perancangan arsitektur. Kata kunci : joint studio, studio, perancangan arsitektur ABSTRACT. There are more than 170 universities in Indonesia that are organizing study program of architecture. Those entire study programs is applying studio format as one of the main ways of learning, as well as most schools of architecture in the world (Lawson, 2004: 20). Studio dominance is reflected in the national curriculum of architecture degree program that requires a minimum of 48 credits of studio. Among those many study programs of architecture, there are various "colors" or paradigm that has been adopted by each study program. The paradigm is also color the task and the implementation of architectural design studio. Diversity in the design studio is a power of knowledge and skills that need to be absorbed. Joint studio is one way to "absorb" this power. This article will deliver and share the experience of organizing joint studio in architectural design. Keywords: joint studio, studio, architectural desig