NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
PEMBENTUKAN ATRIBUT RUANG BERSAMA PADA PERMUKIMAN DUSUN BONGSO WETAN GRESIK
ABSTRAK. Suatu kelompok masyarakat hidup dalam suatu permukiman mempunyai keterkaitan sosial satu sama lain. Dusun Bongso Wetan Gresik merupakan permukiman yang berpenduduk awalnya berasal dari Madura, beragama Hindu dan Islam yang saling berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakan ruang sosial yang digunakan bersama pada kehidupan sehari-hari maupun pada kegiatan ritual tertentu sehingga menjadi ruang bersama masyarakat. Latar belakang budaya dan kekerabatan masyarakat Dusun Bongso Wetan dalam suatu kawasan pedesaan menjadikan interaksi sosial dan aktivitas budaya yang khas dan beragam. Ruang bersama yang terbentuk dalam suatu lingkungan fisik dipengaruhi aktivitas, pelaku, ruang fisik dan waktu aktivitasnya yang terbentuk dalam suatu setting dengan elemen ruang pembentuknya yaitu elemen fix, elemen semifix dan elemen non fix. Tujuan studi adalah untuk mengetahui bagaimana suatu aktivitas masyarakat membentuk ruang bersama dengan atributnya. Melalui metode penelitian kualitatif dengan pengamatan aktivitas pada tempat sehingga diperoleh hasil studi suatu setting dari elemen-elemennya yang membentuk ruang bersama pada permukiman. Setting ruang aktivitas bersama sehari-hari maupun aktivitas budaya masyarakat menunjukkan bagaimana pembentukan ruang bersama memiliki atribut yang berbeda sehingga dapat memenuhi fungsi ruang yang tumpang tindih. Keleluasaan dan aksesibilitas yang mudah memungkinkan berbagai aktivitas terjadi dalam suatu setting.Kata kunci: ruang bersama, setting, atribut ruang, elemen ruang ABSTRACT. A community lives in a settlement has social relation each other. People of Dusun Bongso Wetan Gresik originally came from Madura Island, and now with their religion Islam and Hindu, they live together in their daily activities in Dusun Bongso Wetan. These activities use social spaces in their settlement together in their daily community interactions or in occasionally rituals and then common space for society formed. This community with their cultural and kinship background in rural area makes a unique and diverse of their domestic activities. In physical environment, common space influenced by activities, person (who did the activity), space (where the activity happen) and time (when the activity happen) formed as a setting with its space elements: fixed element, semi-fixed element, and non-fixed element. The purpose of this study was to identify how common space with its attribute formed by activities. Qualitative method with place centered mapping observation has been used to get the result of this study, a setting with its space elements form common space in settlement. Setting for daily activities and cultural activities in society shown how common space have different attribute to accommodate the sumperimposed using of space. Flexibility and accessibility of space make more activities possible to take place inside the setting.Keywords: common space, setting, space attributes, space element
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DAN PERILAKU MASYARAKAT KAWASAN PERMUKIMAN NELAYAN DI SEKITAR TELUK KENDARI
ABSTRAK. Pada suatu permukiman terjadi hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam serta manusia dengan pencipta-Nya. Permukiman tersebut sangat berkaitan erat dengan karakteristik lingkungan dan perilaku penggunanya yang dominan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk menemukan karakteristik lingkungan dan faktor-faktor lingkungan yang membentuk kawasan permukiman nelayan yang berada di pinggiran Teluk Kendari, serta mengetahui seberapa jauh perilaku masyarakat nelayan yang berada di kawasan permukiman tersebut mempengaruhi lingkungannya. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif deskriptif dengan pendekatan rasionalistik, dan pengambilan sampel dilakukan secara purposif (bertujuan). Pengambilan data dilakukan dengan metode observasi, yaitu melakukan pengamatan sistematis terhadap karakteristik lingkungan dan perilaku masyarakatnya; dan metode survey, yaitu pengumpulan informasi dengan menggunakan kuesioner kepada responden, wawancara secara verbal yang tidak diamati secara langsung, dan kajian literatur. Penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik permukiman merupakan perpaduan antara pola pikir manusia dan perwujudan kebudayaan yang sama yang menghasilkan suatu karakteristik yang dapat dikenali, ini dapat dilihat melalui struktur fisik lingkungan permukiman tersebut serta perilaku masyarakat yang mendiami permukimannya. ABSTRACT. There are several relationships in the settlements i.e between human and human, human and nature, as well as humans with God. Those settlements are very closely related to the environmental characteristics and the dominant user behavior.The purpose of this study was to find the characteristics of the environment and environmental factors that form the fishermen settlement located on the outskirts of Kendari Bay, and to investigate how the behavior of a fishermen community within area of the settlement affect their environment. This study has chosen a descriptive qualitative methodology with rationalistic approach as a method to complete the research. Sample selection is done purposively. Data collection was performed by the systematic observation method by observing the environmental characteristics and behavior of society; and survey methods by collecting information using a questionnaire to the respondents, verbal interview that was not observed directly, and reviews of the literature. The result of this study has shown that the characteristics of the settlements are a fusion between the human mindset and the realization of their culture that produces a recognized characteristic. It can be seen through the physical structure of the settlement environment and the people behavior in the settlement
INVESTIGATION OF CERAMIC ROOF, METALLIC ROOF AND CONCRETE ROOF THERMAL PERFORMANCE IN TROPICAL CLIMATE
ABSTRACT. The objectives of this research are to investigate thermal performance of ceramic roof, metallic roof, and concrete roof. Experimental buildings were located in Universiti Teknology PETRONAS (UTP), Perak, Malaysia that had three different types of roof: ceramic roof, metallic roof, and concrete roof. This research measured temperature outdoor and indoor. The results of this research were the highest outdoor and indoor temperature compared between three types of roofs was on metallic roof. The highest heat flux compared between three types of roofs was on metallic roof. The highest value of cooling energy compared between three types of roofs was on metallic roof. The room in building with metallic roof needs more energy to reduce temperature than room in building with ceramic roof and concrete roof. ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah meneliti tentang suhu termal yang dihasilkan oleh atap genteng keramik, atap jenis logam, dan atap beton. Obyek untuk eksperimen dalam penelitian ini mengambil tiga bangunan dengan konstruksi atap berbeda (genteng keramik, logam, dan beton) yang berlokasi di Universiti Teknology PETRONAS. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melakukan pengukuran suhu luar dan suhu dalam ruangan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa atap jenis logam mempunyai suhu luar dan suhu dalam tertinggi, nilai heat flux tertinggi dibandingkan jenis atap genteng keramik dan atap beton, sehingga ruang dalam bangunan dengan jenis atap logam membutuhkan lebih banyak energi untuk menurunkan suhu ruangan dalam bangunan dibandingkan dengan atap jenis genteng keramik dan atap beton
KARAKTERISTIK UNIT HUNIAN DAN PENGHUNI PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KELURAHAN SUNGAI BELIUNG KOTA PONTIANAK
ABSTRAK. Efisiensi dalam penggunaan lahan di perkotaan dan perlunya penataan permukiman menjadikan pembangunan rumah susun menjadi pilihan bagi penentu kebijakan untuk menyelesaikan permasalahan perumahan. Rusunawa di kelurahan Sungai Beliung Kecamatan Pontianak Barat dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang dan karakteristik yang beragam.Perbedaan unit hunian terletak pada ketinggian lantai, posisi dan orientasi dalam blok massa bangunan.Hal ini menyebabkan penghuni melakukan penyesuaian (adjusment) terhadap tipe hunian vertikal dengan memanfaatkan ruang-ruang yang tersedia.penelitian ini dilakukan untuk menelusuri karakteristik unit hunian dan penghuni yang mempengaruhi pola pemanfaatan ruang unit hunian pada Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) di Kelurahan Sungai Beliung, Kota Pontianak.Penelitian in termasuk ke dalam klasifikasi basic research (penelitian dasar). Penelitian dasar tidak ditujuan untuk memberikan efek langsung terhadap pemecahan masalah sehari-hari namun untuk menjawab pertanyaan penelitian atau fenomena yang terjadi untuk pengembangan suatu teori. Dari hasil pengamatan dan analisis dapat disimpulkan bahwa Karakteristik unit hunian Pada Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Di Kelurahan Sungai Beliung Kota Pontianak adalah unit dengan pemanfaatan ruang yang diterjemahkan berdasarkan pemahaman tentang kebutuhan bagi setiap penghuni unit hunian, dan karakteristik penghuni sementara untuk suatu unit hunian yang menjadikannya seperti rumah tinggal horizontal. Kondisi ini dapat dilihat dari motivasi menghuni, intensitas lama tinggal (beraktivitas) di hunian dan jumlah penghuni dengan melakukan perubahan dan fungsi jamak untuk setiap ruang.Kata kunci: unit hunian, penghuni, ruang, rusunawa ABSTRACT. Efficiency of landuse within city and the need of settlement planning had encouraged government to deliver a policy to provide vertical houses as an alternative solution to solve a housing problem. Rental vertical houses as known as Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak are occupied by community with variety background and characteristic. The differences of dwelling unit could be seen at the level of floor, position and orientation of the building’s blocks. This situation will affect the dwellers to do adjustment to the vertical dwelling’s unit type by using avalible rooms. This research is aimed to explore the characteristic of dwelling units and the dwellers as well which will affect the pattern of dwelling’s unit rooms at Rusunawa at Sungai Beliung district, West Pontianak.This research has been classified as a fundamental research. This fundamental research is not aimed to give a driect effect to the daily problem solution, but to answer research question or happening phenomena to develop a related theory. From the exploration and analysis result, it could be concluded that dwelling’s unit characteristic of Rusunawa at Sungai Beliung District, West Pontianak is a unit with a space utilization which transformed from an understanding of need for each dwellers, and the characteristic of temporary dwellers of a dwelling’s unit who make it as a horizontal houses. This condition could be seen from the dwellers’ motivation, intensity of the length of stay (activities within dwelling’s unit) and the number of dwellers who make changes and do some functions/ activities in the same room.Keywords: dwelling unit, dwellers, space, rental vertical house
POSISI TEORI BINCAR-BONOM DALAM KONSEP DASAR ELEMEN-ELEMEN PEMBENTUK PERMUKIMAN
ABSTRAK. Desa Singengu sebagai hasil karya arsitektur masyarakat Mandailing memiliki sejumlah fenomena tempat-tempat yang terkait dengan ruang luar dan tatanan massa bangunan hingga membentuk tatanan lingkungan yang khas Mandailing. Elemen-elemen pembentuk permukimannya tidak hanya yang berbentuk fisik dan kasat mata tetapi juga berbentuk non fisik dan tak kasat mata. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tata ruang desa Singengu dibentuk oleh filosofi Bincar-Bonom. Studi ini bertujuan untuk melihat posisi atau kedudukan teori bincar-bonom terhadap beberapa teori elemen-elemen pembentuk permukiman lainnnya menurut beberapa pakar.Studi yang telah dilakukan tentang desa Singengu dengan elemen-elemen pembentuknya menunjukkan bahwa sebuah permukiman tidak hanya terkait dengan socio-spatial saja, yang menekankan relasi antar manusia dengan benda-benda; atau bukan hanya terkait dengan socio-symbolic spatial saja, yang juga menekankan relasi antar manusia dengan benda-benda; atau bukan juga hanya sekedar global-element space yang menekankan relasi manusia dengan benda tetapi lebih dalam lagi, yaitu terkait dengan socio-symbolic-spiritual spatial. Relasi socio-symbolic-spiritual spatial yang menjadi basis pembentuk tata ruang permukiman bukan hanya mengacu pada relasi antara manusia dengan benda atau benda dengan benda, atau artefak dengan benda, atau artefak dengan manusia tetapi mengacu kepada zat tertinggi, yaitu Tuhan. Elemen-elemen pembentuk permukiman desa Singengu dengan ciri relasi socio-symbolic-spiritual spatial terdiri atas empat elemen, yaitu alam, manusia, leluhur dan TuhanKata Kunci: Socio-symbolic-spiritual Spatial, Alam, Manusia, Leluhur dan Tuhan ABSTRACT. Singengu village as a result of architectural work of Mandailing communities has a number of phenomena of places that was associated with landscapes and arrangements of building mass up to built a unique environment of Mandailings. The elements which shaping the settlement not only physical and visible but also non-physical and invisible. The results of previous studies show that Singengu village arrangement was formed by Bincar-Bonom philosophy. This study aims to look at the position of bonom-bincar theory against several theories about the settlement forming elements according to some experts in certain field.The studies that have been done in Singengu village with its elements indicate that a settlement is not only related to the socio-spatial course, which emphasizes the relationship between humans and objects; or not only related to the socio-symbolic spatial only, which also emphasizes the relationship between humans and objects; or not only a global space-element space that emphasizes human relationships with objects but deeper, which is associated with socio-symbolic-spiritual spatial. Socio-symbolic-spiritual spatial relationships has been forming the basis of spatial settlement not only refers to the relationship between humans and objects or objects with objects, or artifacts with objects, or artifacts with humans but refers to the highest substance, namely God. The elements that forming Singengu village settlement with socio-spiritual-symbolic spatial relations feature consists of four elements, namely nature, humans, ancestors and GodKeywords : Socio-symbolic-spiritual Spatial, Nature, Humans, Ancestors and Go
KAJIAN KENYAMANAN TERMAL PADA RUMAH TINGGAL DENGAN MODEL INNERCOURT
ABSTRAK. Sejak akhir abad ke-20, kota-kota dunia telah dilanda pemanasan global. Untuk mengatasi kondisi itu, rumah masyarakat kota tropis pada umumnya menggunakan sistem penghawaan buatan demi mendapatkan kenyamanan termal, seperti AC, ceiling fan atau kipas angin. Cara ini tentu mengakibatkan pemborosan energi dan memicu kondisi global itu lebih buruk lagi. Secara umum rumah tinggal mempunyai halaman depan dan belakang bangunan serta pada bagian ruang dalam dibuat tertutup. Untuk mendapatkan kenyamanan termal secara alami maka diupayakan terjadi pergerakan angin dari luar ke dalam bangunan melalui bukaan yaitu berupa pintu dan jendela pada bagian depan dan belakang rumah. Selain menggunakan bukaan di depan dan belakang bangunan maka ada beberapa cara lain untuk memperoleh kenyamanan termal secara alami antara lain dengan menggunakan air (kolam atau air mancur) dan cerobong udara. Rumah yang diteliti merupakan rumah kuno milik keturunan Tionghoa yang telah direnovasi pada tahun 1912. Rumah ini terletak di kawasan Pasar Gede yang biasa disebut kawasan Pecinan yang merupakan permukiman padat kota. Tujuan penelitian ini adalah berupaya membangun konsep desain yang membantu memecahkan permasalahan kenyamanan termal pada rumah tinggal di perkotaan yang padat dengan cara menguji kenyamanan termal pada rumah tinggal dengan model innercourt. Penelitian ini dilakukan melalui uji kenyamanan termal dengan cara mengukur suhu, kelembaban udara dan kecepatan angin pada area teras, innercourt dan ruang dalam. Alat ukur kenyamanan termal yang digunakan adalah model dijital LM-81HT dan LM-81AM. Pengukuran dilakukan pada 16 September 2013 jam 11.30 – 12.30 wib. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa dengan media innercourt maka pada lantai satu terjadi penurunan suhu didalam bangunan terhadap suhu di luar bangunan mencapai 4°C sedangkan pada lantai dua terjadi penurunan suhu didalam bangunan terhadap suhu diluar bangunan mencapai 2°C. Dan pada lantai tiga menghasilkan suhu dalam ruang sama dengan suhu diluar bangunan. ABSTRACT. Since end of 20th century, cities in the world have been hit by global warming. To overcome this condition, tropical house of community of the city have used artificial thermal system to get thermal comfort such as Air Conditioner, ceiling fan as well as fan. This methods will give another impact of waste energy and supporting worst global warming. Generally, a house has a front and rear yard in the building and spaces inside the house have made separately enclosed. To get thermal comfort naturally, thus it should be planned to have air circulation from outside to inside the house through windows and doors at the front and the rear of the house. There area some methods to get thermal comfort beside using doors and windows, such as providing waters inside the house (pools and fountain) as well as air chimney. The object of the research has been regarded as an old house belong to Chinese which had been renovated in 1912. This house is located at the area of Pasar Gede which known as China Town (Pecinan). The aim of this research is to create design concept which could solve a problem of thermal comfort within houses in the crowded cities by testing and assessing thermal comfort of houses with innercourt model. This research will be completed by measuring the temperature within the house, humidity and speed of the wind at terrace area, innercourt and space within the house. Measuring instrument that has been used is a digital model LM-81HT and LM-81AM. Measurement has been completed on 16th September 2013, time 11.30-12.30 WIB. The result of the research has shown that innercourt media has an significant role within house. There are significant changes on the first floor, temperature of this floor has decreased to 4°C. On the other hand, on second floor the temperature has decreased to 2°C. And on third floor the temperature is remain the same with the outside of the house.
SINKRETISME DALAM ARSITEKTUR: METODOLOGI
ABSTRAK. Sinkretisme sudah ada sejak zaman dulu dan terus bergema di relung-relung kehidupan manusia hingga sekarang ini; ia menjadi tema yang tidak pernah usang untuk dijadikan bahan diskusi dan arena penelitian para ilmuwan. Pada awalnya, sinkretisme memang terjadi pada bidang agama dan filsafat, namun lambat laun merambah pula pada aspek arsitektur. Hal ini bisa kita lihat pada bangunan-bangunan kuil, candi, gereja dan mesjid. Dengan metodologi penelitian yang tepat, sinkretisme dalam aspek arsitektur diharapkan bisa ditelusuri apa penyebabnya, bagaimana proses terjadinya, dan mengapa hal itu bisa terjadi. Dalam tulisan ini ditunjukkan bagaimana cara-cara mengungkap makna dibalik wujud fisik arsitektur yang mengalami proses sinkretisasi dan simbol-simbol yang diciptakan dan digunakan oleh masyarakat pendukung arsitektur itu dalam melaksanakan fungsi-fungsi arsitekturnya. Yaitu dengan bantuan perangkat penelitian: metodologi.Kata Kunci: sinkretisme, arsitektur, metodologi ABSTRACT. Syncretism has existed since along time ago and continuously take part in the human life until present day. Syncretism become significant issue which never been obsolescented to be a discussion material and research topic for researcher. At first, syncretism only be focused in the field of religion and philosophy, but then gradually touch on architectural aspects. This can be seen on temple’s buildings, churches, mosques. By conducting appropriate research method, syncretism in architectural aspect could be explored the causes, how the process and why it could be happended. This paper is aimed to show how to explore the meaning behind architectural physical form which encounters the process of syncretism and created symbols which has been used by community of architecture. Those proceses will be conducted by using research tool called methodology.Keywords: syncretism, architecture, methodolog
KAJIAN POLA PERMUKIMAN DUSUN NGIBIKAN YOGYAKARTA DIKAITKAN DENGAN PERILAKU MASYARAKATNYA
ABSTRAK. Pola permukiman masyarakat desa biasanya dipengaruhi oleh lokasi desa, iklim, serta adat budaya desa tersebut. Di antara adat budaya yang ada, beberapa di antaranya telah melekat kedalam diri masyarakat desa sehinggga membuat sebuah kebiasaan dan perilaku yang tercermin dari bagaimana cara mereka bersosialisasi terhadap sesama. Di sebuah dusun yang terletak di desa Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul, kehidupan bermasyarakat dan gotong royong yang turun temurun menjadi sebuah budaya dan kebiasaan dari masyarakat telah membawa dusun ini bangkit dari keterpurukan atas terjadinya bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006. Tak hanya itu, berkat gotong royong dan kerja keras masyarakat membangun desanya kembali, desa ini berhasil masuk dalam nominasi Aga Khan Award pada tahun 2010 di Doha, India. Tentunya atas prakarsa arsitek senior, Eko Prawoto, yang telah menggerakkan hati masyarakat dan membuatkan sebuah desain yang unik untuk merekonstruksi kembali desa itu. Desa ini bernama dusun Ngibikan. Desa yang memiliki warisan leluhur yang tetap dijaga baik, warisan yang membuat desa ini mendapatkan predikat sebagai desa yang memiliki konsep Arsitektur Komunitas di dalamnya, yaitu konsep dimana pembangunan desa berbasis pada kebutuhan dan keinginan komunitas/ masyarakatnya, hal tersebut dikenal dengan warisan hidup bergotong royong. Perilaku masyarakat yang membentuk suatu pola permukiman pedesaan yang indah dan nyaman untuk dihuni.Kata kunci: pola permukiman, dusun ngibikan, perilaku masyarakat ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between patterns of settlement with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintaned heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable.Keywords: pattern of settlement, Ngibikan village, community’s behaviou
PENGATURAN PRIVASI DALAM DESAIN RUMAH SEDERHANA
ABSTRAK. Privasi adalah keinginan atau kecenderungan pada diri seseorang untuk tidak diganggu kesendiriannya. (Sarwono, 1992). Manusia adalah makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan makhluk lain untuk keberlangsungan hidupnya. Tetapi manusia sebagai individu juga memerlukan privasi atau mengatur jarak personalnya. Penelitian ini memfokuskan pada pengaturan privasi dengan melihat pada desain rumah sederhana.Desain rumah sederhana baik tipe 36 maupun 45 sebenarnya sudah mengupayakan pengaturan privasi. Namun karena keterbatasan luasan bangunan dan ruang, seringkali pengaturan privasi menjadi tidak efektif. Dalam perencanaan ruang dan zona, rumah sederhana sudah mengatur privasi. Akan tetapi karena kebutuhan ruang yang semakin berkembang maka pada rumah sederhana dibutuhkan perluasan ruang yang biasanya merupakan ruang publik. Begitupula halnya dengan pengaturan sirkulasi. Pengaturan privasi di dalam rumah diupayakan supaya jalur sirkulasi tidak terganggu atau mengganggu aktivitas. Selain itu jalur sirkulasi hendaknya tidak bisa digunakan untuk melihat secara langsung ke dalam aktivitas yang ada di dalam rumah.Elemen bangunan yang menunjukkan pengaturan privasi antara lain terwujud dengan pemagaran, pintu dan jendela. Pemagaran pada rumah ditujukan untuk membatasi privasi seluruh penghuni rumah. Keberadaan pintu terutama yang mempunyai dua buah pintu juga merupakan pengaturan privasi yang baik. Sehingga apabila ada tamu di dalam rumah maka penghuni rumah tidak akan merasa terganggu.Kata kunci: privasi, desain, rumah sederhana ABSTRACT. Privacy is a need or tendency of someone who does not want to be disturbed (Sarwono, 1992). Human is a social creature who need to interact with others to survive. Though human as an individual also need privacy as well by creating a personal distance with others. This research is focused on privacy setting by defining at a design of simple house.Design of simple house either 36 m2 or 45 m2 types, both are considering the setting of privacy needs. However, regarding to the limited building area and space, sometimes the setting of privacy is not effectively considered. In the process of planning in space and zones, simple house has setting the privacy need. However, the need of spaces has been regarded developed, this will affect space’s expansion of simple house which used to be a public space. This condition will affect the setting of circulation as well. The setting of privacy within house has been considered as an effective as possible though the circulation line will not disturb the activities within house. Furthermore, the circulation line should not been used as a direct view through the activities within house.Building elements which could show setting privacy, could be defined as follow: by using fencing, doors and windows. Fencing at house is intended to control the privacy of residents. The existence of doors particularly house with two doors could be considered as a good privacy setting. Thus, if there are visitors within the house, the residents will not be disturbed by their existence.Keywords: privacy, design, simple hous
TERITORI PEDAGANG INFORMAL (Studi Kasus Ruang Antara Pasar Johar dan Pasar Yaik Semarang )
ABSTRACT. An informal trade sector is a part of the informal sector that emerged as a result of the increasing urbanization. The existence of this informal trade sector cannot be separated from urban spatial elements. Johar market is a considerable trade area having high historical value. Informal traders in Johar occupy public spaces and form mutual environment among them.The rapid growth triggers claims of public spaces. Claim of public space is a problem between humans’ behavior and their territories. These claims disrupt the public spaces function.The space between Johar and Yaik market is strategic. This space is the main circulation towards the parking garage from northerly direction and becomes the transitional space between Johar market building and Yaik market building. This strategic feature makes the growth of informal sector traders increases. These traders occupy right and left of the road by placing sign as a physical border to state their territory and as self-image recognition to control and personalizing space. By understanding the territorial behavior, it is expected the territory formation pattern and the factors influencing it can be understood, so the problems related to informal sector traders territorial claims over public space can be coped.Keywords: informal sector traders, territories, claims of spaceABSTRAK. Pedagang sektor informal merupakan bagian dari sektor informal yang muncul sebagai hasil meningkatnya urbanisasi. Keberadaan dari pedagang sektor informal ini tidak dapat dipisahkan dari elemen-elemen ruang kota. Pasar Johar dianggap sebagai kawasan perdagangan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Pedagang-pedagang informal di pasar Johar menempati ruang-ruang publik dan membentuk ruang baru diantara mereka. Perkembangan yang sangat pesat memicu timbulnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut. Pada akhirnya klaim atas ruang-ruang publik tersebut menjadi masalah baru antara perilaku pedagang-pedagang informal tersebut dan teritorinya. Klaim inilah yang menjadi mengganggu dan merubah fungsi asal dari ruang publik tersebut.Ruang antar pasar Johar dan pasar Yaik merupakan lokasi yang strategis. Ruang inilah yang menjadi sirkulasi utama menuju ke area parkir dari arah utara dan menjadi ruang transisi antara bangunan pasar Johar dengan bangunan pasar Yaik. Keberadaan dari ruang strategis inilah yang memicu munculnya dan meningkatnya pedagang-pedagang sektor informal. Pedagang-pedagang tersebut menempati sepanjang jalan baik sisi kanan maupun kiri dengan meletakkan penanda teritori mereka sebagai bukti fisik. Selain itu penanda tersebut dianggap sebagai pengakuan terhadap ruang teritori untuk kontrol dan personalisasi ruang. Dengan memahami perilaku teritori, diharapkan pola pembentukan teritori dan faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dipahami, sehingga masalah-masalah yang timbul berkaitan dengan klaim ruang-ruang publik oleh pedagang-pedagang sektor informal dapat diatasiKata Kunci: pedagang sektor informal, teritori, klaim ruan