NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
BENANG MERAH ANTARA DISAIN DAN POLA TATA RUANG RUMAH TAHAN GEMPA NGIBIKAN YOGYAKARTA TERHADAP PERILAKU PENGHUNINYA
ABSTRAK. Pada tahun 2006 silam, Yogyakarta luluh lantak oleh bencana alam yang begitu dashyat yaitu bencana gempa bumi. Sebagian besar kota Yogyakarta terutama desa-desa di pinggiran kota Yogyakarta dan sekitarnya ikut merasakan bencana ini. Kehancuran bangunan-bangunan dan desa-desa di Yogyakarta juga terjadi di salah satu desa di daerah Bantul. Dusun Ngibikan nama desanya, dan dampak bencana tersebut dirasakan mendalam bagi masyarakat dusun ini. Dusun yang terletak di Kelurahan Canden, Kecamatan Jetis, Kabupaten Bantul ini terletak sekitar 10 km dari pusat gempa sehingga tidak dapat dihindari sebagian rumah warga desa sudah rata dengan tanah dan rumah yang masih berdiripun sudah rusak parah. Dengan kondisi tersebut, muncul inisiatif akan salah satu bentuk keprihatinan dan kepedulian seorang arsitek Eko Prawoto yang mengajak masyarakat Ngibikan bersama-sama membangun kembali desanya dengan dipimpin oleh pemimpin masyarakat Pak Maryono. Dalam penelitian ini, peneliti mengangkat masalah bagaimana keterkaitan antara rumah tahan gempa Ngibikan yang didesain Eko Prawoto terhadap perilaku masyarakat Ngibikan pasca gempa Rumah lama berbentuk limasan direkonstruksi menjadi rumah baru dengan modifikasi inovatif yang dirancang agar tahan dari gempa bumi. Beberapa rumah dibangun tetap berada pada setting layout rumah yang lama, tujuannya untuk mempertahankan kebutuhan ruang seperti yang pernah ada sebelumnya. Proses rekontruksi tersebut melalui bentukan arsitekturnya dan perubahan fisik bangunan sedikitnya telah merubah karakteristik lingkungan Desa Ngibikan. Secara tidak langsung perubahan tersebut dapat mempengaruhi kegiatan/ aktifitas, perilaku dan psikologi masyarakatnya. ABSTRACT. This research is aimed to analize the relation between design and pattern of spaces within house with the behavior of the community within the settlement. A case study of Ngibikan village has been conducted as a significant village within Yogyakarta city which had been destroyed by earthquake in 2006. This village has been nominated in Aga Khan Award 2010 in Doha, India, as a village that known well as a village which had been built by community participation or gotong royong’s concept. This village has a well maintained heritage, that makes this village has been regarded as a village with a concept of community architecture within it. This concept known as a concept of a rural development based on the needs and desires of the community/ society by implementing the concept of community participation or gotong royong. By applying this concept, hopefully could create a settlement for the community which is comfort and livable. Former house with pyramid shape had been reconstructed to be a new house with an innovative modification which had been designed to resistant with earthquake. Some houses had been built by remaining the old setting layout house, in order to maintain the need of space. The reconstruction processes through the formation of architectural and physical change of the houses at least have changed the characteristic of the environment of Ngibikan Village. Indirectly, those changes may affect the activities, behavior and psychological of the community
FALSAFAH TASAWUF ISLAM DALAM ARSITEKTUR TAMAN SUNYARAGI
ABSTRAK. Taman Sunyaragi adalah salah satu warisan arsitektur yang dibangun pada masa kebudayaan Islam Cirebon. Arsitektur Sunyaragi merupakan mosaik yang menampilkan perpaduan antara berbagai elemen budaya Hindu Jawa, Arab Islam dan kebudayaan Cina. Pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah konsep apa yang mendasari arsitektur tersebut? Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah sosial budaya dan semiotik untuk dapat menganalisis bentuk arsitektur yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur Taman Sunyaragi didasarkan pada falsafah Islam tasawuf yang dikembangkan para Wali Songo di pulau Jawa. Falsafah tersebut menekankan adanya nilai-nilai simbolik, harmoni budaya dan penghayatan olah batin. ABSTRACT. Taman Sunyaragi is one of the Indonesian architectural heritage that was built during the golden era of the Islamic culture in Cirebon, West Java. The architecture of Sunyaragi is a mozaic architecture which presenting a combination of many elements of the Javanese-Hindu, Arabic-Islamic and Chinese culture. The purposed question in this research is what are the basic concepts beyond the architectural aspect of Taman Sunyaragi? This study has used a semiotic approach in analyzing the existing architectural forms. The results has shown that the architecture of Taman Sunyaragi is based on the philosophy of Islamic Tasawuf (Sufism) that was taught and developed by the “Wali Songo” or the nine Islamic preacher in Java. The phylosophy has emphasized symbolic values, cultural harmony and trancendental meditation (that was commonly practiced by the sufis).
KARAKTER VISUAL FASADE BANGUNAN KOLONIAL BELANDA RUMAH DINAS BAKORWIL KOTA MADIUN
ABSTRAK. Salah satu bangunan kolonial Belanda yang masih bertahan dan menjadi salah satu ikon kawasan di Kota Madiun adalah bangunan rumah dinas Bakorwil. Namun sayang pada beberapa bagian fasade bangunan telah mengalami perubahan yang diakibatkan oleh perubahan ruang. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui karakter visual dari fasade bangunan kolonial Belanda rumah dinas Bakorwil Kota Madiun. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dengan langkah mendekripsikan elemen-elemen visual bangunan dan menganalisisnya sehingga dapat disimpulkan karakter visual bangunan. Karakter visual yang ditunjukkan oleh rumah dinas Bakorwil Kota Madiun adalah langgam Indische Empire style. Penggunaan pilar-pilar jenis Tuscan, jendela dan pintu dengan ukuran gigantis pada fasade bangunan menggambarkan bangunan milik penguasa pada masa lampau. ABSTRACT. One of Dutch colonial building that still survives and become one of the icons in Madiun district is the home office building of Bakorwil. But unfortunately in some parts of the building facade has been changed due to the change of the rooms. The purpose of this study is to determine the visual character of the Dutch colonial building facade official residence Bakorwil Madiun. The method has been used is a descriptive analysis method with some steps by describing the visual elements of building and analyzing it, thus we can conclude the visual character of building. Visual character that has been shown by the home office Bakorwil Madiun is a style Indische Empire style. The use of type Tuscan pillars, windows and doors to the gigantic size of the building facade of the building belongs to past authority
LANSKAP BUDAYA WISATA BUDAYA BETAWI
ABSTRAK. Jakarta banyak memiliki beragam potensi, salah satu diantaranya berupa wisata kota. Melihat potensi ini Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta merencanakan jalur wisata kota, dimana di dalamnya terdapat wisata budaya. Banyak sumber daya wisata budaya potensial yang dapat diangkat menjadi daya tarik wisata budaya kota Jakarta. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi kawasan budaya Betawi yang potensial untuk diangkat menjadi obyek wisata budaya. Penelitian dan perencanaan diperlukan untuk menunjang kegiatan wisata budaya Betawi di Kota Jakarta.Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kawasan sebagai lanskap budaya Betawi, menganalisis potensi kawasan wisata budaya Betawi Kota Jakarta dan menghasilkan rekomendasi tata ruang budaya Betawi sebagai sumber daya wisata budaya Betawi kota Jakarta. Metode yang digunakan berupa identifikasi kawasan sebagai lanskap budaya dan analisis pembobotan pada parameter kelangkaan dan kenyamanan lingkungan, obyek wisata, pencapaian, serta sarana dan prasarana wisata. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 kawasan termasuk dalam klasifikasi tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata yaitu Kota Tua, dan Setu Babakan yang masing-masing perlu dikembangkan dan direncanakan berdasarkan potensinya. ABSTRACT. Jakarta has been regarded as a big city in Indonesia and has various potency, such as city tourism. By looking at this potency, Local Government of DKI Jakarta is planning to deliver city tour line, which consist some cultural tour. There are so many cultural tourism potencies that could be promoted as a point of interest of Jakarta cultural tourism. Therefore, it should be needed to identify the potential of Betawi cultural area which could be promoted as an object of cultural tourism. Research study and planning will be needed to support the activities of Betawi cultural tourism in Jakarta. This research is aimed to identify the area as Betawi cultural landscape, to analyze the potency of Betawi cultural tourism in Jakarta and to deliver recommendation of Betawi cultural spatial as a Betawi cultural tourism resources in Jakarta. Research method that has been used is an identification of area as cultural landscape and analysis of the quality of rareness parameter and comfort of environtment, tourism object, achievement, as well as facilities and tourism infrastructures. The result of this research has shown that there are 2 significant areas which have been designated as high classification and potential to be developed as tourism area. There are Kota Tua area and Setu Babakan area which each of them has their own potency to be developed and planned.
PENGARUH KEBERAGAMAN ACTIVITY SUPPORT TERHADAP TERBENTUKNYA CITRA KAWASAN DI JALAN PANDANARAN KOTA SEMARANG
ABSTRAK. Suatu kawasan perkotaan tidak dapat terlepas dari activity support terutama pada kawasan pusat kota. Kehadiran activity support di suatu kawasan pusat kota adalah sebagai pemenuh kebutuhan bagi masyarakatnya, selain itu agar suatu kawasan kota lebih ‘hidup’. Salah satu kawasan pusat kota yang memiliki keberagaman activity support di Kota Semarang adalah Jalan Pandanaran. Pada perencanaannya, kawasan Jalan Pandanaran ini memang difungsikan sebagai kawasan komersial. Seiring dengan berjalannya waktu, kemudian hadir fungsi bangunan lain seperti perkantoran yang melengkapi keberagaman aktivitas di kawasan ini. Adanya keberagaman yang terjadi di kawasan ini, tentu ada pengaruhnya terhadap terbentuknya citra kawasan. Dengan keberagaman activity support yang ada di Jalan Pandanaran, masyarakat kota Semarang sangat mengenal kawasan Jalan Pandanaran sebagai kawasan pusat oleh-oleh dimana kawasan pusat oleh-oleh hanya sebagian dari penggal Jalan Pandanaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberagaman activity support terhadap terbentuknya citra kawasan. Metode kuantitatif rasionalistik digunakan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner, dan observasi lapangan. Selanjutnya analisis statistik dengan uji regresi menggunakan software SPSS 17.0 for windows. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh keberagaman activity support terhadap terbentuknya citra kawasan sebesar 40%. ABSTRACT. An urban area cannot be separated from activity support particularly in central bussines district within city center. The presence of activity support in urban area is as a provider for its society needs, on the other hand, it will support the living urban areas. One of a city center area within Semarang city which have diversity of activity support is Jalan Pandanaran. According to the urban planning of Semarang, Jalan Pandanaran area has been purposed as a commercial district. As the time go, the presence of another function of building such as office complex which complete the diversities of activity support in this district. The existence of these diversities that occurs within this area, surely has its influence to the form of the image of the area. But the phenomena that happen with those diversity of activity support at Jalan Pandanaran, this area is well known as “semarang-ish” culinary centre and souvenir in Semarang City which the souvenir center only the half of Jalan Pandanaran. This research is aimed to know the influences of activity support diversity to the image area formed. A quantitative rasionalistic method is used by collecting literature study, questionnaires and field observationns. The method of data analysis will use statistical analysis by regression test using SPSS 17.0 software for windows. This research has shown that there is influence of activity support diversity to the image area formed as amount as 40%
EFEKTIFITAS VOID PADA PENGUDARAAN SILANG UNTUK KENYAMANAN DI DALAM RUANG
ABSTRAK. Kenyamanan di sebuah tempat merupakan dambaan semua orang dalam melakukan segala macam aktivitasnya, sehingga semua faktor yang mendukung kenyamanan beraktifitas akan diusahakan untuk dipenuhi, seperti ruang gerak yang cukup, fasilitas yang memadai, penerangan yang cukup, pengudaraan yang nyaman, keamanan, keindahan, harga diri dan lain sebagainya.Yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah bagaimana kenyamanan itu bisa dicapai dengan cara yang alami, yaitu dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tak terbatas, yaitu angin. Angin sebagai faktor alam dan faktor void(bukaan vertikal) pada ruang dalam sebagai faktor desain fisik yang akan dicari korelasinya. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen(percobaan), yaitu dengan membuat 2(dua) ruang dengan luas yang sama tetapi dengan perlakuan yang berbeda, yaitu ruang (a) dengan void dan ruang (b) tanpa void.Dengan penelitian ini, diharapkan mampu memberikan solusi desain void yang mampu memberikan faktor kenyamanan terutama pada pengudaraan didalam ruang dengan meminimalkan penggunaan energi buatan seperti listrik dan memaksimalkan penggunaan sumber daya alam anginKata kunci: kenyamanan, sumber daya alami, angin, void ABSTRACT. A comfort in a place is an everyone need in doing some activities, thus all supported factors could be fulfilled appropriately, such as a proper mobilization space, sufficient facilities, an adequate lighting, comfort air conditioning, safety, aesthetic, self conception and many more.There should be underlined in this research, that comfort could be achieved naturally, for example by using unlimited natural resources such as sun and wind. Wind as a natural factor and void factor in the interior as a physical design factor could be looked for the correlation between both of them. This research will be completed by using experimental method, which will deliver two rooms with the same size but using different treatment, room A will use void and room B without void.By completing this research, hopefully could deliver an alternative solution of void design which could provide a comfort factor particularly for air conditioning within rooms by minimalizing the using of artificial energy such as electricity and maximalizing the using of natural sources of wind.Keywords: comfort, natural resources, wind, voi
KAJIAN ARSITEKTURAL TAMAN YANG MENGAKOMODASI AKSESIBILITAS DIFABEL STUDI KASUS TAMAN TRIBECA CENTRAL PARK MALL, TAMAN MENTENG DAN TAMAN AYODIA
ABSTRAK. Selama ini difabel masih dinomorduakan dalam hal pemenuhan kebutuhan aksesibilitas baik di dalam bangunan maupun di luar bangunan. Banyak fasilitas umum yang hanya sedikit menyediakan akses dan fasilitas sesuai dengan kemampuan khusus mereka. Bahkan ruang terbuka hijau berupa taman kotapun masih belum ramah terhadap keberadaan para difabel. Padahal taman kota menurut Undang-Undang Penataan Ruang no. 24 tahun 1992 merupakan tempat yang cukup penting yaitu sebagai tempat bermain aktif untuk anak-anak dan dewasa, tempat bersantai pasif untuk orang dewasa, dan bahkan sebagai areal konservasi lingkungan hijau. Penelitian ini bertujuan menganalisa bagaimana implementasi 7 Prinsip Universal Design dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 30/PRT/M/2006 tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan pada Taman Tribeca, Taman Menteng dan Taman Ayodia.Kata kunci : Aksesibilitas Difabel, Taman Ayodia, Taman Menteng, Taman Tribeca. ABSTRACT. For decades, disabled people always become a second priority in providing the need of accessibility either within buildings or outside buildings (open spaces and public spaces). There are many public facilities which are only few of them providing special access and facilities for disabled people (difable). Even, parks and green open spaces within city mostly are not user friendly for difable, though city parks as an important place to do activities such as sport and playing, passive place for relaxation, and as a conservation area for green environment, should provide facilities which are user friendly for children and adult (UU Penataan Ruang No. 24 tahun 1992).This research is aimed to analyse how to implement the seven principle of universal design and regulation from Menteri Pekerjaan Umum No. 30/PRT/M/2006 about technical guidelines of facilities and accessibilities for buildings and environment at Taman Tribeca, Taman Menteng and Taman Ayodia.Keywords: accessibilty for difable, Taman Ayodia, Taman Menteng, Taman Tribeca
MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG LEBIH BAIK DENGAN PENYEDIAAN JALUR PEDESTRIAN BAGI PEJALAN KAKI
ABSTRAK Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya dengan judul “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” yang dipublikasikan pada Jurnal yang sama Volume 12 Nomor 2 Bulan Juli 2013. Tulisan ini adalah hasil akhir dari Penelitian Desentralisasi Skim Penelitian Hibah Bersaing tahun kedua. Oleh karenanya pada tulisan ini, hasil akhir luarannya adalah berupa disain sesuai dengan yang diajukan sebelumnya. Ajuan disain alternatif dari Jalur Pejalan Kaki atau dikenal dengan jalur pedestrian ini merupakan hasil telaah survey lapangan, analisa baik fisik maupun fisik dari studi kasus yang terpilih yaitu Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat serta hasil dari pemikiran berdasarkan studi preseden dari beberapa lokasi yang dianggap berhasil dan juga teori-teori yang berkaitan dengan hal tersebut. Sebelum solusi disain diberikan, tentunya penelitian harus melalui beberapa tahapan proses yang akan menghasilkan luaran yang optimal. Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis penerapan konsep pedestrianisasi dalam area kampus sebagai ruang terbuka bagi komunitas kampus baik untuk memfasilitasi kebutuhan sosial juga untuk beraktifitas di dalamnya. Sebagai fakta terlihat bahwa jumlah arus pejalan kaki dalam waktu area kampus cukup tinggi. Perlunya kegiatan bersosialisasi antara mahasiswa dan lain-lain sangat penting. Metode deskriptif serta metode studi banding telah dipilih sebagai metodologi penelitian dalam merangkum fakta yang ada dan menganalisa data yang didapatkan, kemudian metode perencanaan juga dilakukan dalam menghasilkan luaran solusi disain yang tentunya diharapkan dapat diadopsi untuk direalisasikan. ABSTRACT This paper is a continuation from the former paper titled “Kajian Jalur Pedestrian Sebagai Ruang terbuka Pada Area Kampus” which had been published in the same Journal Volume 12 Number 2 July 2013. This paper is a final output from Decentralization Research Program with a scheme of Penelitian Hibah Bersaing from DP2M, second year from two years research. Therefor within this paper, will deliver an appropriate design for a better solution. The proposed alternative designed for pedestrian way is a resulft from field survey analysis either physical or non physical analysis from designated case study Jalan Cempaka Putih Tengah XXX Jakarta Pusat which had been sincronized with appropriate theories and succeeded precedent studies. Descriptive method and comparative method have been chosen as a research methodology for concluding the existing facts and to analysis all collected data. Then planning method will be used as well to deliver solution design which hopefully could be adopted
PENGARUH SINKRETISME AGAMA ISLAM – KEJAWEN PADA ARSITEKTUR MESJID MENARA KUDUS
ABSTRAK. Bentuk arsitektur mesjid Walisanga ditengarai dipengaruhi oleh sinkretisme agama Islam-Kejawen. Hal ini sejalan dengan metode kompromis yang diterapkan oleh para Walisanga dalam menyebarkan agama Islam di lingkungan masyarakat Jawa. Studi ini bertujuan untuk memahami pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen pada arsitektur mesjid Menara Kudus. Metode yang digunakan dalam studi ini bersifat deskriptif, analitis dan interpretatif berdasar pada bukti empiris, yang dielaborasikan dengan konsep relasi aspek fungsi-bentuk-makna dalam arsitektur. Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen terjadi pada bentuk arsitektur mesjid Menara Kudus, yakni pada lingkup tapak dan bangunan. Pada lingkup bentuk arsitektur mesjid Menara Kudus yang mendapat pengaruh sinkretisme agama Islam-Kejawen memperlihatkan dominasi. Dominasi ini terjadi melalui proses adaptasi. Studi ini diharapkan dapat menyumbangkan pengetahuan teori tentang dan metode spesifik untuk membaca pengaruh sinkretisme agama Islam – Kejawen pada arsitektur mesjid tradisional di Jawa.Kata Kunci: Sinkretisme, Agama Islam, Kejawen, Bentuk Arsitektur ABSTRACT. The architecture of the mosque Menara Kudus has been influenced by Islam-Kejawen religion syncretism. This is sinergy with the compromise method applied by the Walisanga to spread Islam in the Java community. This study aims to understand the influence of Islam-Kejawen religion syncretism on architecture of mosque Menara Kudus. The method has been used in this research is a descriptive, analytical and interpretive, elaborated with the concept of relation aspects of function-form-meaning in architecture. The results of this study concluded that the influence of Islam-Kejawen religion syncretism occurs in the architectural form of mosque Menara Kudus, which occurs in the site and the building. In the architectural forms of mosque Menara Kudus which has been influenced by Islam-Kejawen religion syncretism show domination. This domination occurs through a process of adaptation. This study is expected to contribute knowledge of the theory about and specific methods to read the influence of Islam-Kejawen religion syncretism on the traditional architecture mosques in Java.Keywords: Syncretism, Islam, Kejawen, Architectural For
MODEL RUMAH SUSUN LAYAK ANAK DI DKI JAKARTA
ABSTRAK. Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Perumahan Rakyat, bertekad membangun Rumah Susun sebanyak 2000 buah pertahun untuk masyarakat dengan penghasilan ekonomi menengah bawah. Kebanyakan pemakai/ penghuni Rumah Susun adalah keluarga muda yang mempunyai anak yang masih kecil baik yang masih bayi, balita maupun remaja. Anak-anak yang masih dalam taraf tumbuh kembang memerlukan tempat tinggal lengkap dengan sarana dan fasilitas yang layak bagi anak baik dari segi keamanan, kenyamanan, kesehatan dan ketersediaannya ruang terbuka hijau untuk sarana bermain dan olah raga.Penelitian ini bertujuan untuk mencari karakteristik Konsep Desain Rumah Susun Layak Anak yang kemudian diaplikasikan ke perancangan model Rumah Susun Layak Anak. Model Rancangan ini nantinya akan menjadi pilot project yang dapat diaplikasikan pada berbagai bangunan Rumah Susun khususnya yang ada di DKI Jakarta. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas bangunan Rumah Susun yang Layak Anak. Maksudnya dapat menjadi wadah tumbuh kembang anak baik dari segi keamanan, kesehatan maupun kenyamanan serta tersedianya lahan atau ruang terbuka hijau yang dapat menjadi sarana dan fasilitas bermain atau olah raga yang layak bagi anak.Kata kunci: rumah susun, layak anak, model, desain. ABSTRACT. The Government of the Republic of Indonesia through the Ministry of Housing, Flats determined to build as many as 2000 pieces per year to the community with middle-low income. Mostly, users/ occupants are young families who have small children either still babies, toddlers and teenagers. Children who are still in early stages of growth and development requires a residence which is complete with facilities and adequate facilities for children in terms of safety, comfort, health and availability of green open spaces for play and sports facilities.This study is aimed to explore the characteristics of Children Friendly Design Concepts Flats then applied to the design of the model flats which are eligible and friendly for children. This design models will be a pilot project that can be applied to various flats buildings/ vertical housing particularly in Jakarta. Another goal of this research is to improve the quality of vertical housing which are eligible and friendly for children. This vertical housing should become a proper space for children to growth either in terms of safety, health and comfort as well as the availability of land or green open space that would become a playing facility or sport facility for children.Keywords: vertical housing, children friendly, model, desig