NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
MEMPERTAHANKAN KEBERADAAN KAMPUNG DI TENGAH-TENGAH KAWASAN MODERN JAKARTA
ABSTRAK. Orientasi pembangunan kota Jakarta adalah mewujudkan Jakarta sebagai kota global dan modern mampu berkompetisi dengan kota-kota dunia lainnya. Proses tersebut dilalui dengan optimalisasi lahan kota sebagai ruang produktif. Kondisi tersebut tidak dapat dihindari. Paradigma pembangunan kota berkelanjutan adalah mewujudkan masa depan berimbang antara kebutuhan generasi sekarang dan yang akan datang. Konsekuensinya proses pembangunan harus mampu memelihara nilai-nilai keadilan sosial budaya dan kemampuan menumbuhkan kehidupan bersama dalam kota. Penulisan penelitian ini diangkat dari sebuah cita-cita orang kampung untuk bertahan di tengah-tengah perkembangan sebuah kawasan paling mddern di Indonesia yaitu Segitiga Emas Kuningan. Suatu kondisi dualisme pemikiran pembangunan antara proses peningkatan kualitas fisik dan perekonomian kota serta proses pembangunan yang justru menghilangkan potensi sosial budaya masyarakat kehidupan kota . Adakah jalan keluar bagi permasalahan ini? Tulisan ini mengingatkan kewajiban para perencana dan perancang kota untuk mengintegrasikan nilai lokal-global dalam pembangunan kota. Tulisan ini merupakan gagasan dasar desain pengembangan kampung yang memiliki potensi sejarah dan budaya dalam rangka melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya kawasan global Kuningan. Kata kunci: pembangunan kota berkelanjutan, lokal-global, kawasan modern, kampung ABSTRACT. Orientation of the development of Jakarta is by creating Jakarta as global and modern city which could compete with other cities in the world. This process will get through by optimilizing urban land as a productive space. This condition for sure cannot be avoided. The paradigm of sustainable city development is by providing future which is balance between the need of present generation and future generation. The consequency of this development process should be able to maintain the values of socio-culture justification and the ability to create togetherness life within city. This paper has been conducted from the vission of kampung’s community to survive in the middle of the development of modern district in Indonesia, particularly Segitiga Emas Kuningan. There is a dualism condition of development thinking and approach between a process of physical quality enhancement and economical condition of the city, as well as the process of development which is regarded will vanishthe socio-culture potency within urban community. Is there any way out for this probles? This paper will remind the obligation of all parties including urban planners, architects and stakeholders to integrate all the global-local values in the process of city development. This paper is a basic idea of the design development of kampung which has a cultural and historical potency in the term to conserve and preserve the cultural and historical values of global area of Kuningan. Keywords: sustainable development, global-local, modern area, kampun
KAJIAN CROWDING DI ANJUNGAN PENGANTAR (WAVING GALLERY) BANDARA INTERNASIONAL ADISUCIPTO YOGYAKARTA
ABSTRAK. Crowding atau disebut juga dengan kesesakan merupakan kejadian di mana kuantitas populasi pengguna ruang yang tidak hanya manusia tapi juga benda dan non-benda melebihi dari apa yang suatu ruang bisa mewadahinya. Dipilihnya studi kasus waving gallery bandara internasional Adi Sucipto karena fenomena crowding berpotensi terjadi di ruang ini. Waving gallery tersebut memiliki luasan yang terbatas sementara fungsinya termasuk yang cukup penting bagi pengguna/ pengunjung bandara. Lebih lanjut kajian yang diangkat adalah bagaimana pola crowding yang terjadi dan perilaku keruangan apa saja yang dilakukan oleh user berkaitan dengan crowding tersebut. Sebagai kesimpulan terdapat kecenderungan bahwa crowding yang terjadi terlihat pada waktu siang hari di hari libur, yang dipicu dengan pertambahan pengunjung ke ruang tersebut dan membentuk zona-zona seperti zona orientasi, zona settled/ menetap, dan zona mobile/ berpindah-pindah, serta terjadi perilaku withdrawal untuk keluar dari kesesakan dan menempati zona kosong.Kata Kunci: Kesesakan, Anjungan Pengantar, Perilaku PenggunaABSTRACT. Crowding is a condition in which the quantity of the users, objects and non-objects excess of what a room could accomodate it. Waving gallery at Adi Sucipto International Airport has been conducted as a case study because the phenomenon of crowding could potentially occur within the area. The waving gallery has a limited area while the function is quite vital for the users/ visitors of the airport. Study conducted is how the crowding pattern occurs and what kind of spatial behavior is being done by the user associated with the crowding. As the conclusion, there is a tendency that the crowding occurs during the daytime on the holiday, which was triggered by the increase of visitors to the gallery and forming zones of orientation, settled and mobile/ nomadic, as well as the withdrawal behavior occurs to get out of distress situation and occupy the empty zone.Key Words: Crowding, Waving Gallery, Using Behavio
PENGARUH FUNGSI RITUAL PADA BENTUK ARSITEKTUR Kasus Studi : Gereja Katedral, Gereja Theresia,Gereja Salib Suci, Gereja Santo Matias Rasul dan Gereja Stella Maris
ABSTRAK: Fenomena pudarnya sakralitas bentuk gereja Katolik di seluruh dunia cukup merisaukan Paus Benedictus. Ternyata pudarnya sakralitas bentuk terjadi juga pada gereja Katolik di Indonesia khususnya Jakarta. Secara keseluruhan, permasalahan yang muncul dari fenomena ini adalah tidak terjalinnya relasi yang baik antara fungsi kegiatan dengan bentuk tersebut serta makna yang tampil dari relasi tersebut. Tarik-menarik antara kedua fungsi dan bentuk inilah yang kemudian dimaknai oleh manusia melalui pengamatan langsung bagi pengguna maupun pengamat arsitektur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, merekam fungsi liturgi dan bentuk pada gereja-gereja sebagai obyek studi kemudian menggambarkan kembali secara rinci agar dapat dianalisis seluruh bentukan arsitektur yang ada. Kedua, menggunakan gabungan pendekatan sakralitas dari Eliade, Hoffman, Jones, dan Martasudjita untuk menelusuri seluruh fungsi kegiatan sedangkan untuk identifikasi ornamen dengan pendekatan Peirce. Sedangkan untuk menelusuri ekspresi bentuk digunakan elaborasi dari pendekatan arsitektur Salura dan Evensen. Analisis ini berlandas pada pendekatan strukturalisme yang menelusuri struktur-dalamnya. Ketiga, setelah dianalisa semua kasus studi kemudian diperbandingkan pada setiap obyek studi mana struktur-dalam. Keempat, interpretasi relasi kegiatan dan konsepsi sakral pada obyek studi. Kelima, menyimpulkan bahwa pemaknaan relasional fungsi dengan sakralitas bentuk arsitektur gereja. Dengan demikian jika elemen sakralitas bangunan ini ada maka keseluruhan arsitektur gereja pada obyek studi dapat dikatakan memancarkan ekspresi bentuk sakral yang sarat dengan nilai ke-Katolik-an. Kata kunci: Relasi, Fungsi dan bentuk, Ekspresi, Sakralitas, Gereja Katolik ABSTRACT: The phenomenon of fading off form “sakralitas” of Catholic Church in the world has worried Paus Benedictus. Evidently, this phenomenon had been happened to Catholic Church in Indonesia, particularly Jakarta. Generally, problem has been occurred from this phenomenon is because there is no well relation between activities function with the form as well as the appearance meaning from that relation. The attraction between these both function and form, will be interpreted by people through direct observation for user as well as architectural researcher. This research will use some methods, firstly, will record liturgy function and form on the conducted churches as case studies then will describe in detail, thus could be analyzed all the existing architecture form. Secondly, will use combination “sakralitas” approach from Eliade, Hoffman, Jones and Martasudjita to explore all activities function, although to identify ornament will use Peirce approach. On the otherhand, to explore form expression will use elaboration from architectural approach of Salura and Evensen. This analysis will be based on to structuralism approach, which will explore the inner structure. Thirdly, after analysis process, all case studies will be compared each other on each study object which known as inner-structure. Fourthly, interpretation of activities relation and sacred conception on study objects. Fifthly, to conclude the signification of function relational with form sakralitas of church architecture. Therefore, if this building element’s sakralitas exist, then all the church architecture on study objects could be said, they are throwing off the expression of sacred form which full of Catholic’s values. Keywords: relation, function and form, expression, sakralitas, Catholic Churc
KAJIAN BEHAVIOR SETTING DI PASAR TUGU SIMPANG LIMA GUMUL KEDIRI
ABSTRAK. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis behavior setting di Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG) Kediri. Untuk mengkaji behavior setting, dilakukan behavioral mapping atau pemetaan perilaku. Analisis yang digunakan dalam studi ini terdiri dari dua langkah. Pertama, analisis dilakukan dengan tinjauan teori behavior setting Roger Barker. Kedua, untuk menganalisis data yang ditemukan di lapangan, dilakukan behavioral mapping dengan metode person centered map. Lokasi pengamatan yang ditentukan adalah di segmen barat Pasar Tugu. Behavior setting yang terjadi di setiap tenda dagangan memiliki ciri tersendiri sesuai dengan barang yang diperdagangkan. Peletakkan dan penataan tenda didasarkan pada jenis barang dagangan, setiap tenda untuk satu penyewa. Hubungan antara aktivitas perilaku pengguna (standing patterns of behavior) dan lay out ruang lingkungan pengguna (milieu) sangat sesuai dan terpenuhi dengan baik (synomorphic).Kata kunci: behavior setting, pemetaan perilakuABSTRACT. This study is aimed to identify and analyze behavior setting within Pasar Tugu Simpang Lima Gumul (SLG), Kediri. To explore behavior setting, behavioral mapping had been conducted. Analysis method that had been used in this research consisted two steps. Firstly, analysis was carried out by using a theory review of behavior setting by Roger Baker. Secondly, to analyze data on the field, behavioral mapping was carried out with person centered map method. The designated location of this research was in the west segmen of Pasar Tugu. Behavior setting which had been happened in every stand had its own character depend on the commercial’s goods. The placement and the layout of the stands were based on the commercial’s goods of the every stands for every tenants. The relation between behavior activity of the stand’s users and the users’ environment layout is well organized and appropriated.Keyword: behavior setting, behavioral mappin
THE EFFECTS OF TOURISM ON VERNACULAR HOUSES IN TRADITIONAL VILLAGE: THE COMPARISON BETWEEN KAMPUNG NAGA IN WEST JAVA AND DESA KANEKES IN BANTEN
ABSTRACT. Tourism is one of the significant economic sectors in Indonesia. It has major, economic, social and environmental impacts. However, it may become unsustainable tourism, if its management ignores environmental issues, especially the degradation of the cultural heritage environment. Kampung Naga in West Java and Desa Kanekes in Banten are two cultural heritage villages that became tourist attractions in Indonesia. Their vernacular houses experienced several shifts and changes since then. How are the effects of tourism in Kampung Naga and Desa Kanekes on their vernacular houses? Are there any differences between both of them? A comparative approach is adopted in investigating the cases. This study is expected to find the implementation of current tourism in both villages and its effects on vernacular houses. The study shows that unsustainable tourism is occurred in both locations and result several concerned effects on their vernacular houses.Keywords: sustainable tourism, cultural heritage, vernacular architectureABSTRAK. Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi penting di Indonesia. Ia memiliki dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Meskipun begitu, ia menjadi pariwisata tidak berkelanjutan, jika pengelolaannya mengabaikan isu-isu lingkungan, terutama penurunan kualitas lingkungan warisan budaya. Kampung Naga di Jawa Barat dan Desa Kanekes di Banten adalah dua kampung warisan budaya yang menjadi tujuan wisata di Indonesia. Rumah-rumah vernakularnya mengalami pergeseran dan perubahan sejak saat itu. Bagaimana pengaruh pariwisata di Kampung Naga dan Desa Kanekes pada rumah-rumah vernakularnya? Apakah ada perbedaan di antara keduanya? Pendekatan komparatif dipakai untuk menyelidiki kasus tersebut. Kajian ini diharapkan untuk menemukan pelaksanaan pariwisata saat ini di kedua kampung dan pengaruhnya pada rumah-rumah vernakularnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pariwisata yang tidak berkelanjutan terjadi di kedua lokasi dan menghasilkan beberapa pengaruh-pengaruh yang memprihatinkan pada rumah-rumah vernakularnya.Kata Kunci: pariwisata berkelanjutan, warisan budaya, arsitektur vernakula
TRANSFORMASI MUSIK DALAM BENTUK ARSITEKTUR
ABSTRAK. Saat berbicara tentang musik dan arsitektur, satu yang dapat didefinisikan pada keduanya, yaitu bahwa keduanya merupakan karya seni. Sebuah karya seni tentunya muncul tidak dengan sendirinya, pengaruh beberapa aspek tentunya menjadi sangat penting dalam proses terbentuknya suatu karya seni. Pengaruh tersebut tidak hanya internal namun juga eksternal. Faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proses terbentuknya suatu karya seni diantaranya adalah manusia, ruang dan waktu. Kedua karya seni musik dan arsitektur sangat dipengaruhi oleh ketiga faktor eksternal tersebut dalam proses perencanaan, perancangan dan implementasi idenya. Keterkaitan musik dan arsitektur sudah banyak diperbincangkan sejak lama, bagaimana dan aspek apa saja yang dapat mengkaitkan keduanya juga sudah lama diperdebatkan. Tulisan ini akan mengkaji tentang benang merah antara musik dan arsitektur, terutama elemen-elemen yang saling terkait di dalamnya, kemudian bagaimana mendiskripsikan dan menganalisis transformasi sebuah musik dalam bentuk arsitektur. Pembahasan masalah ini akan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan deduktif yaitu mengambil sebuah studi kasus dan dianalisa secara umum kemudian dikaitkan secara khusus sesuai dengan teori yang berkaitan dengan musik dan arsitektur.Kata Kunci: transformasi, musik, bentuk, arsitekturABSTRACT. When we discuss about music and architecture, there is a significant thing that should be underlined about it, both of them are artworks. An artwork will not performed by itself, there are some aspects that would become important in the process of artworks’ formation. Those aspects were not just an internal aspect but also external one. Some external factors which would effect the process of artworks’ formation are human as doer, space and time. Both artworks either music or architecture have been affected by those three external factors in the process of planning, designing and implementing the idea. The relation between music and architecture had been talked since years ago, how and what kind of aspects which will connected both of those artworks had been debated as well. This paper will review about the relation between music and architecture, particularly the elements of each artwork, then how to describe and analyze the transformation of music into architectural form. The discussion of this paper will conduct a descriptive method using deductive approach by taking a case study and analyse generally then will be connected in particular referring to the appropriate theory about music and architecture.Keywords: transformation, music, form, architectur
KONSEP AMALGAMATION SEBAGAI SUATU PENYESUAIAN DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DI KAWASAN NAGOYA BATAM, PROVINSI KEPULAUAN RIAU
ABSTRAK. Amalgamation merupakan kombinasi dari dua atau lebih sebuah lahan/ kavling; subdivision merupakan pembagian dari lahan besar menjadi beberapa blok atau kavling untuk tujuan pengembangan. Amalgamation dan subdivision adalah perangkat penting dalam pengembangan dan perencanaan dalam restrukturisasi kawasan yang akan dirubah. Blok-blok dan kavling-kavling menentukan tipe-tipe bangunan yang memungkinkan dibangun dan kapasitasnya yang sesuai dengan kawasan yang terpilih. Ketika sebuah area berubah dari satu fungsi ke fungsi lain – misalnya dari rumah berkapasitas keluarga tunggal atau dari kawasan industrial menjadi area perumahan vertikal – maka bentuk dan ukuran dari kavling tentunya harus dipertimbangkan kembali, selain itu juga layout dari jaringan jalan serta ukuran blok juga perlu dirubah.Terkadang, akan lebih mudah untuk menggabungkan kavling-kavling kecil menjadi kavling besar. Dengan cara ini, kita dapat membangun pengembangan yang lebih besar dengan besaran lahan yang sama. Strategi ini juga dapat membantu untuk merevitalisasi kawasan seperti halnya pada Nagoya Square di kota Batam. Hal ini membawa kehidupan baru dengan penduduk baru dan bisnis baru, karena dengan merevitalisasi sebuah area juga dapat menyediakan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih nyaman seperti halnya area parkir, taman, tempat makan dan juga pertokoan. Tipikal rumah toko dapat mengakomodasi pertokoan/ retail kecil dan juga kantor kecil. Beberapa rumah toko bahkan dapat dikombinasikan sehingga menjadi satu properti dengan menyediakan blok baru terbangun di belakangnya.Konsep ini dapat diaplikasikan di Nagoya Square, dimana area ini merupakan area untuk perdagangan dan layanan internasional namun memiliki kondisi fisik bangunan yang sangat buruk. Melalui cara ini, kita dapat menciptakan ruang untuk bernafas seperti kantong-kantong taman di antara bangunan-bangunan padat atau merubah jalur kendaraan menjadi jalur pedestrian serta menciptakan ruang-ruang publik baru yang dapat dinikmati oleh pengguna yaitu masyarakat. Tulisan ini akan menjelaskan tentang konsep tersebut dan hasilnya bagaimana sebuah kehidupan baru akan terjadi dengan aplikasi konsep tersebut. Beberapa rumah toko dapat dikombinasikan menjadi satu properti, dengan membangun satu blok baru di belakangnya. Deretan rumah toko yang lama adalah model pengembangan baru dan lama dengan menggandakan ruang yang disediakan.Kata Kunci: amalgamasi, penggabungan kecil, kavling besar ABSTRACT. Amalgamation is the combination of two or more lots; subdivision is the division of large land holdings into blocks and/or lots for the purpose of redevelopment. Amalgamation and subdivision are important planning and redevelopment tools for restructuring an area undergoing change. Blocks and lots determine the possible building types and capacities that fit into an area. When areas change from one use to another - for example, from single family detached houses or from industrial estates into residential flats - the size and shape of lots need to be considered, and street layout and block sizes may need to change.Sometimes, it is better to join small, fragmented plots of land into bigger plots. This way, we can build larger developments with the same amount of land. This strategy also helps to revitalise mature areas such as Nagoya Square in Batam City. This brings in new population and business, revitalizing an area; it also provides more amenities such as parking lots and parks, eateries and shops. A typical shophouse can accomodate small retail shops and small offices. Several shophouses can combine to become one property, with a new block built behind.This concept can be applied in Nagoya Square which is as an are for international trading and services but has poor condition of old buildings. Through this way, we can create breathing spaces like a pocket park between densely packed buildings, or pedestrianise a road to become and create new public spaces that all can enjoy. This paper tells about the concept itself and the result how a new lease of life happen. Several shophouses can combine to become one property, with a new block built behind. The old shophouse row is modeled to an old-new development, with double the space it used to provide.Keywords: Amalgamation, join small, bigger plot
PENGARUH SETTING PERON TERHADAP ADAPTABILITAS PENGGUNA KRL STUDI KASUS: STASIUN KERETA API KEBAYORAN PADA JAM SIBUK
ABSTRACT. The increasing population of Jakarta caused huge number of passengers of Commuter Line (KRL), especially during rush hour . For instance, Serpong Line (Serpong - Manggarai). The trip Frequency of Serpong Line has been no additions yet, though the number of passengers continues to increase. Kebayoran station has a very short platform, that made the passengers in difficult conditions (Dira, 2011) . The Limited wide of the platform and low platform type must bring difficulties. To go up and down the train, the passengers should use "bancik", which is a small staircase made of iron. But now, long iron staircases has been built along the side of the platform, which is also used by the passengers as a seat. But it made the wide of the platform smaller and narrow. In addition, the number of passengers caused the platform becomes congested that will cause discomfort and the passengers will begin to adapt to these conditions. Is there a relationship between the platform setting to the passenggers adaptability? Is there any influence of the platform setting to the passengers adaptability? This study has used quantitative methods to determine the presence or absence of the influence by using SPSS software version 16. Through this research is expected to provide knowledge on the influence of the platform setting to the passengers adaptability. The results of this study showed that there was indeed a strong and significant correlation, with r = 0.553 and t = 4.59, between the platform setting to the passengers adaptability. And the influence of the platform setting to the passengers adaptability are around 30,5% ABSTRAK. Bertambahnya penduduk kota Jakarta menyebabkan terjadinya lonjakan penumpang Commuter Line (KRL), terutama pada jam sibuk. Salah satunya adalah Serpong Line (Serpong-Manggarai). Frekuensi perjalanan KRL Serpong Line hingga kini belum ada penambahan, padahal jumlah penumpang terus mengalami peningkatan. Peron di Stasiun Kebayoran Lama sangat pendek sehingga menyulitkan penumpang (Dira, 2011). Luas peron yang terbatas tersebut dan ditambah dengan jenis peron yang rendah pasti sangat menyulitkan. Untuk naik-turun, penumpang harus menggunakan bancik, yaitu tangga kecil yang terbuat dari besi. Namun sekarang sudah dibangun tangga besi sepanjang sisi peron, yang justru digunakan sebagai tempat duduk, namun di lain sisi justru makin mempersempit luas peron. Selain itu banyaknya penumpang menyebabkan peron menjadi sesak yang akan menimbulkan ketidak nyamanan dan mulai beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Adakah hubungan antara setting peron dengan adaptabilitas KRL? Adakah pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL? Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk mengetahui bahwa ada atau tidaknya pengaruh tersebut dengan menggunakan software SPSS versi 16. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan mengenai pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ternyata memang ada hubungan yang kuat dan signifikan dengan r=0,553 dan t=4,59 antara setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL. Dan pengaruh setting peron terhadap adaptabilitas pengguna KRL sebesar 30,5 %
AKTIVITAS RITUAL PEMBENTUK TERITORI RUANG PADA PESAREAN GUNUNG KAWI KABUPATEN MALANG
ABSTRAK. Salah satu bentuk kebudayaan yang ada pada kehidupan masyarakat diwujudkan dalam bentuk aktivitas. Salah satu aktivitas yang menjadi tradisi pada masyarakat di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa adalah berkunjung atau ziarah ke makam tokoh-tokoh yang dianggap penting atau berjasa, seperti yang terjadi pada Pesarean Gunung Kawi. Pengunjung tidak hanya dapat melakukan satu jenis ritual karena pada Pesarean Gunung Kawi terdapat beberapa ritual yang diadakan sebagai peringatan hari-hari tertentu yang dianggap penting. Selain banyaknya jenis ritual yang dilaksanakan, keberagaman juga terdapat pada pelaku ritual yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yakni kelompok muslim, kejawen dan Tridharma. Hal tersebut dapat menimbulkan perbedaan teritori ruang pada aktivitas ritual yang ada di Pesarean Gunung Kawi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui teritori ruang yang terbentuk akibat aktivitas ritual pada Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil studi ini menunjukkan bahwa banyaknya aktivitas ritual yang terdapat pada Pesarean Gunung Kawi menimbulkan beragamnya ruang ritual yang terbentuk pada ruang yang sama. ABSTRACT. One of the types of culture within society is translated into activites. One of the activites within Javanese Society which become a tradition is pilgrimage to the tomb of the figures that are considered as an important or meritorious person. This activity could be seen in Pesarean Gunung Kawi, Kabupaten Malang. The visitors not only could do one kind of ritual because there are some rituals at Pesarean Gunung Kawi that performed as a celebration on certain days that considered important. Therefor many kinds of rituals that could be performed, diversity is also found in the ritual actors that can be divided into three groups, there are moslem, kejawen and Tridharma. It would cause differences of space territory in Pesarean Gunung Kawi. The purpose of this study is to determine space territory that made by ritual activities at Pesarean Gunung Kawi Kabupaten Malang. The method has been used in this study is a qualitative descriptive research. The result of this study has shown that many kinds of rituals in Pesarean Gunung Kawi cause the diversity of the ritual space which formed in the same space
THE IMPLICATIONS OF DENSIFICATION POLICIES FOR GREATER RESISTENCIA (ARGENTINA): AN ASSESSMENT OF RECENT EXPERIENCE
ABSTRACT. Since 2001, Resistencia City Council has been promoting growth in building height by steering development towards built-up areas in central districts that already have complete infrastructure, through the implementation of the Ordinance 5403/01 - high density. If Ordinance 5403/01 is to be accomplished, with the proposed density of up to 2400 inhabitants, there is a need for 128 hectares of green open space at the neighborhood level (Pérez and Schneider, 2011). In the last 10 years, although the population growth of the city (16%) has been followed by an increase in the supply of greenfield per inhabitant (85%), this increase has not been reflected in the inner city areas, where there is a higher population density. This legislation does, however, include sections that make it possible to optimize this situation. This paper continues on from previous studies and attempts an analysis of the application of existing legislation that proposed the intensification of land use in built up core of Resistencia city. It is focused on an assessment of the scope of the implementation of this legislation, with an emphasis on the design of buildings which enable the supply of areas dedicated to leisure or recreation, which would allow a decompression in the demand for green spaces in the central area. ABSTRAK. Sejak tahun 2001, Dewan Kota Resistencia sudah mulai mempromosikan pertumbuhan kotanya secara vertikal yang terlihat pada area-area terbangun dengan mengarahkan pembangunan menuju ke daerah-daerah di distrik pusat kota yang sudah memiliki infrastruktur lengkap melalui pelaksanaan Ordonansi nomor 5403/01 tentang kepadatan tinggi. Apabila Ordonansi nomor 5403/01 telah dilaksanakan secara menyeluruh, dengan kepadatan yang diusulkan mencapai 2400 jiwa, maka akan diperlukan sekitar 128 hektar Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada tingkat lingkungan/ RT (Perez dan Schneider, 2011). Pada sepuluh tahun terakhir, walaupun pertumbuhan penduduk pada kota (16%) diikuti dengan peningkatan suplai dari area hijau/ penduduk (85%), peningkatan ini tetap saja tidak terlihat secara signifikan pada area pusat kota, dimana kepadatan penduduknya relatif sangat tinggi. Peraturan ini bagaimanapun juga melibatkan bagian-bagian yang memungkinkan untuk mengoptimalkan kondisi tersebut. Tulisan ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian sebelumnya dan bertujuan untuk menganalisa aplikasi dari peraturan yang ada dimana di dalamnya diusulkan mengenai intensifikasi tata guna lahan dalam pembangunan pusat kota Resistensia. Penelitian ini difokuskan pada penilaian tentang ruang lingkup pelaksanaan dari peraturan tersebut, dengan penekanan pada perencanaan dan perancangan bangunan-bangunan yang dapat mensuplai kawasan-kawasan yang ditujukan untuk rekreasi dan hiburan, dimana akan mendorong untuk kebutuhan akan ruang-ruang hijau di dalam kawasan pusat kota