Edulib
Not a member yet
141 research outputs found
Sort by
KIAT MAHASISWA BERKOMUNIKASI DIDALAM BAHASA INGGRIS PASKA PENDEKATAN FRESHNESS DAN ENTHUSIASM
AbstractThrough DIMBI (Diskusi Ilmiah Mahasiswa Berbahasa Inggris – Student’s English Discussion) some can be drawn that learners (i.e. Students) want to have their messages accepted in a proper way by the receiver in the target language. By merely integrating vocabulary and grammar to communicate, the meaning of the expression could not reach the intended receiver and might end up with being incomprehensive on his part. Elelments of culture are neede to make other people understand what you are trying to say, especially when the one you are talking to is a native speaker of English language. Learners are in the situation in which English fall into the category of a foreign, and not English as a second language. When learning English as a second language takes place, the learners are involved in the language in their daily life ectivities while learning English as a foreign language as the case in Indonesia, acquisition and usage depend on and are restricted to learning structures as designed for classroom mode with its various impacts. However little any attempts made by the learners, appreciation and good points of view must emerge for the sake of skill developments. Ways of exploring with tricks by the learners everytime they try to communicate in English with a number of mistakesn needs to be ameliorated in such a way that hopes for betterments live a good endeavour. Approach in the light of teacher demeanor brings with it a positive impact. The approach generates freshness and enthusiasm as well and thus encouraging the learners to express with confidencde regardless of possible inaccuracies in their various forms.Keywords: vocabulary, grammar points, communication, culture, target language. AbstrakMelalui DIMBI (Diskusi Ilmiah Mahasiswa Berbahasa Inggris) terperoleh simpulan bahwa para pembelajar (baca: Mahasiswa) ingin agar pesan yang mereka komunikasikan dapat berterima. Dengan menggabungkan kosa-kata dan gramatika saja pesan yang mereka sampaikan sebagai penutur belum cukup untuk memenuhi keberterimaan oleh penerima pesan pada bahasa sasaran (Bahasa Inggris). Diperlukan unsur kultur untuk mencapai bahasa sasaran. Unsur kultur akan sangat menentukan makna yang ditangkap oleh penerima pesan, terutama bilamana penerima pesan tadi adalah penutur asli (native speaker). Pembelajar berada dalam situasi yang dikategorikan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English As A Foreign Language) , bukan sebagai Bahasa Kedua (English As A Second Language). Ketika bergagas melalui ujaran didalam Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, pembelajar dilibatkan dengan bahasa ini didalam kehidupan sehari-hari mereka sedangkan pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing seperti misalnya di Indonesia, perolehan dan penggunaan Bahasa Inggris tergantung dan terbatas pada rancangan belajar di ruang kelas dengan segala dampak penyertanya. Upaya sekecil apapun oleh pembelajar harus dilihat dari segi positifnya untuk kemudian dicarikan cara pengembangannya. Kiat penuh kekeliruan sekalipun perlu dihidupkan agar komunikasi tetap berlangsung lancar dan berterima. Pendekatan melalui teacher demeanor yang menyegarkan dan penuh semangat membawa dampak positif bagi pembelajar berupa keberanian berekspresi, terlepas dari ketidakpasan disana-sini.Kata kunci: kosa kata, gramatika, komunikasi, kultur, bahasa sasaran
HUBUNGAN ANTARA PEMANFAATAN BAHAN PUSTAKA PERPUSTAKAAN SEKOLAH DENGAN MINAT BELAJAR SISWA (Studi Deskripsi Korelasi terhadap Siswa SMA Negeri 1 Bandung)
Penelitian ini memaparkan hubungan antara pemanfaatan bahan pustaka perpustakaan sekolah dengan minat belajar siswa SMAN 1 Bandung yang bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif korelasional. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian menggunakan instrumen penelitian berupa angket. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan sampel yang digunakan sebanyak 92 orang. Pengolahan data dilakukan dengan langkah : 1) mendeskripsikan hasil temuan, 2) uji validitas dan reliabilitas, 3) pengujian normalitas data, 4) pengujian hipotesis, 5) penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan diperoleh bahwa pemanfaatan bahan pustaka perpustakaan SMAN 1 Bandung secara umum berada pada kategori cukup baik dan minat belajar siswa SMAN 1 Bandung berada pada kategori tinggi. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pemanfaatan bahan pustaka perpustakaan sekolah dengan minat belajar siswa di SMAN 1 Bandung. Rekomendasi pada penelitian ini adalah untuk memberi keberagaman mengenai variabel terikat karena pemanfaatan perpustakaan sekolah tidak hanya memiliki dampak bagi aspek minat belajarnya saja tetapi juga memiliki dampak pada aspek lainnya
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PEMUSTAKA TENTANG LAYANAN SIRKULASI MANDIRI DAN TINGKAT KEPUASAN PEMUSTAKA PADA PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
Penelitian ini dilatarbelakangi dengan masuknya era informasi dan teknologi informasi dimana perpustakaan merupakan tempat untuk memperoleh informasi. Masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini difokuskan pada persepsi pemustaka tentang layanan sirkulasi mandiri dengan tingkat kepuasan pemustaka. Permasalahan pokok pada penelitian ini adalah bagaimana hubungan antara persepsi pemustaka tentang layanan sirkulasi mandiri dan tingkat kepuasan pemustaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi pemustaka tentang layanan sirkulasi mandiri dan tingkat kepuasan pemustaka. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis studi korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah pemustaka perpustakaan UPI Bandung, dengan sampel 100 orang yang dihitung menggunakan rumus Yamane dengan metode simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket (kuesioner) tertutup dengan skala Likert dengan analisis data menggunakan studi deskriptif dan korelasi. Berdasarkan hasil analisis data persepsi pemustaka tentang layanan sirkulasi mandiri memiliki hasil yang cukup baik. Tingkat kepuasan pemustaka di Perpustakaan UPI Bandung yang tingkat kepuasannya cukup, lebih tinggi dari kategori lain. Hubungan persepsi pemustaka tentang layanan sirkulasi mandiri berpengaruh kuat terhadap tingkat kepuasan pemustaka. Rekomendasi untuk perpustakaan, pemustaka, dan peneliti selanjutnya, agar pemustaka lebih merasakan persepsi yang “sangat baik” dan “sangat puas” tentang layanan sirkulasi mandiri perpustakaan lebih dipertahankan dan ditingkatkan lagi mengenai informasi tentang layanan sirkulasi mandiri dan memperbanyak item dari layanan sirkulasi mandiri
HUBUNGAN PELAYANAN SIRKULASI DENGAN PEMBENTUKAN CITRA PERPUSTAKAAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelayanan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. Adapun secara khusus tujuan penelitian tersebut adalah 1) Untuk mengetahui hubungan fasilitas fisik layanan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. 2) Untuk mengetahui hubungan kecepatan pelayanan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. 3) Untuk mengetahui hubungan kemudahan mendapatkan informasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. 4) Untuk mengetahui hubungan perhatian pustakawan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif studi deskriptif analisis korelasional yaitu meneliti sejauh mana hubungan pelayanan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI. Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah pemustaka Perpustakaan UPI pada bulan Maret 2013. Teknik penarikan sampel menggunakan Accidental Sampling. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik deskriptif, analisis statistik parametris, dan uji hipotesis melalui rumus Koefisien Korelasi oleh Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil analisis data diketahui pelayanan sirkulasi memiliki hubungan yang rendah dengan pembentukan citra perpustakaan. Hasil pengujian hubungan pelayanan sirkulasi dengan pembentukan citra perpustakaan menunjukkan indikator fasilitas fisik, kemudahan mendapatkan informasi dan perhatian pustakawan sirkulasi berada pada kategori sedang, sementara indikator kecepatan pelayanan sirkulasi berada pada kategori rendah. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan dari pelayanan sirkulasi dengan pembentukan citra Perpustakaan UPI
HUBUNGAN KONEKSI WIRELESS FIDELITY (WiFi) DENGAN MINAT MAHASISWA DALAM MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN PUSAT ITB
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ketersediaan koneksi wifi dengan minat mahasiswa dalam memanfaatkan Perpustakaan Pusat ITB. Adapun secara khusus tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk mengetahui hubungan ketersediaan koneksi wifi dengan minat kunjung mahasiswa ke Perpustakaan Pusat ITB. 2) Untuk mengetahui hubungan ketersediaan koneksi wifi dengan minat baca sumber elektronik ilmiah mahasiswa di Perpustakaan Pusat ITB. 3) Untuk mengetahui hubungan ketersediaan koneksi WiFi dengan minat memanfaatkan perpustakaan digital di Perpustakaan Pusat ITB. Penelitian ini menggunakan metode korelasional yaitu meneliti sejauh mana hubungan ketersediaan koneksi wifi dengan minat mahasiswa dalam memanfaatkan Perpustakaan Pusat ITB. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan Accidental Sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui dua cara, yaitu Dokumentasi dan Kuesioner. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ketersediaan koneksi wifi berhubungan kuat dengan minat mahasiswa dalam memanfaatkan Perpustakaan Pusat ITB, ketersediaan koneksi wifi berhubungan kuat dengan minat kunjung mahasiswa ke Perpustakaan Pusat ITB, ketersediaan koneksi wifi berhubungan rendah dengan minat baca sumber elektronik ilmiah mahasiswa di Perpustakaan Pusat ITB, serta ketersediaan koneksi wifi memiliki hubungan rendah dengan minat memanfaatkan perpustakaan digital mahasiswa di Perpustakaan Pusat ITB
METAMORFOSA PARADIGMA PERPUSTAKAAN; Dari not for profit sector menuju income generating unit dengan pemasaran perpustakaan
AbstrakPerpustakaan sudah dikenal sebagai sebuah sebuah organisasi non profit yang menyediakan jasa penyediaan informasi tanpa mengharapkan imbalan. Paradigma tersebut seyogianya berubah, agar pendanaan dari lembaga penaung tidak lagi menjadi satu-satunya harapan untuk berkembang. Perpustakaan harus bermetamorfosa agar bisa membiayai dirinya sendiri, dan terus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Hal ini tentunya dimungkinkan bila perpustakaan mau mengaplikasikan prinsip-prinsip marketing dalam proses dan sistem layanan. Kata Kunci: metamorfosa perpustakaan, paradigma perpustakaan, not for profit sector, income generating unit, pemasaran perpustakaa
PERANAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENDUKUNG TUJUAN SEKOLAH
AbstrakPerpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah yang mendukung proses belajar mengajar di sekolah, berada pada lingkungan sekolah dan sepenuhnya dikelola oleh sekolah yang bersangkutan. Untuk mengelola perpustakaan sekolah diperlukan manajemen yang bersifat menata dan mengatur pelaksanaan kegiatan di perpustakaan karena jika tidak ada manajemen dikhawatirkan peran perpustakaan sekolah sebagai pusat sumber belajar tidak dapat memberikan konstribusi terhadap kegiatan belajar mengajar yang pada akhirnya harapan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia belum dapat diwujudkan. Pada kenyataannya, manajemen perpustakaan sekolah belum berjalan sebagaimana seharusnya, hal ini terjadi karena masih ada hambatan-hambatan antara lain anggaran dan sumber daya manusia. Kata Kunci: perpustakaan sekolah, manajemen, manajemen perpustakaan sekola
PENGARUH DESAIN INTERIOR PERPUSTAKAAN TERHADAP PEMBENTUKAN CITRA POSITIF PERPUSTAKAAN
AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa sejauh mana pengaruh aspek tangible (faktor fisik) dan intangible (faktor non fisik) elemen interior perpustakaan, dalam membentuk citra positif perpustakaan UPI dimata penggunanya. Penelitian ini berangkat dari adanya hubungan antara perilaku manusia dan lingkungan fisik. Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan dengan semua aktivitas manusia secara fisik; berupa interaksi manusia dengan sesamanya ataupun manusia dengan lingkungan fisiknya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian menggunakan deskriptif. Kualitas elemen interior perpustakaan UPI (berdasarkan IFLA Library Building Consideration) yang dibagi menjadi faktor fisik dan non fisik telah ditanyakan kepada repsonden (100 pemustaka UPI) dan kemudian dianalisa. Kuisioner disusun menggunakan skala Likert. Teknik analisa data statistik menggunakan analisis jalur (path analysis), model path analysis digunakan untuk menganalisis pola pengaruh antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung variabel desain interior perpustakaan terhadap variabel pembentukan citra positif Perpustakaan UPI. Kesimpulan penelitian ini adalah faktor fisik dan non fisik desain interior perpustakaan UPI berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan citra positif perpustakaan UPI. Total pengaruh varibel fisik interior sebesar 41.30% dan total pengaruh variabel non fisik sebesar 21,99%
MENGKAJI DAN MENANTI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERMENDIKNAS RI NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR TENAGA PERPUSTAKAAN SEKOLAH/ MADRASAH
AbstrakKebijakan pengelolaan dan tenaga pengelola perpustakaan sekolah/ madrasah sudah cukup lama ditetapkan. Setidaknya ada tiga kebijakan yang terkait dengan hal tersebut, yaitu: Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Nasional Pendidikan, Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan, dan Permendiknas Nomor 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/ Madrasah. Namun demikian, implementasi ketiga kebijakan tersebut masih belum terlihat hasilnya secara nyata di lapangan, bahkan sekedar sosialiasi dari ketiga kebijakan tersebut masih belum banyak terdengar dan terinformasikan ke khalayak sasaran, khususnya para pengelola pendidikan di sekolah/ madrasah. Kata Kunci: Kebijakan Perpustakaan Sekolah/ Madrasah, Implementasi Kebijakan
PUSTAKAWAN, TUNJUKKAN GREGETMU!
AbstrakEra lama Pustakawan akan segera berakhir. Pustakawan berparadigma baru sudah saatnya menghidup-cerahkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Selama tiga puluh tahun profesi Pustakawan berkiprah, citra melekat yang kurang pas harus bergeser ke arah yang sebenarnya, yaitu pencerahan citra di satu sisi dan pengakuan masyarakat luas di sisi lainnya. Di Negara-negara maju, perpustakaan menjadi satu-satunya cerminan “kelas” sebuah lembaga pendidikan. Di Indonesia, jargon “jantungnya pendidikan” menjadi populer secara terabaikan: jantung yang sakit dan dibiarkan tetap berdenyut seadanya. Era tahun 1980-1990 menandai suramnya Pustakawan dengan citranya yang terpinggirkan. Citra yang berbanding terbalik dengan keadaan dimana Pustakawan adalah bagian elit politik dan berkedudukan sangat strategis sebagai sosok kepercayaan para penguasa pemerintahan. Profesi yang dilabelkan sebagai A Feminine Profession di sebuah Negara adidaya karena 83% Pustakawannya adalah wanita, perlu memanfaatkan peluang untuk justru menampilkan sisi cerdas seorang berprofesi Pustakawan tanpa harus mengusung citra wanita secara universal. Momen penting ini akan berupa semakin banyaknya jumlah Pustakawan di Indonesia karena mulai tahun 2013 seluruh sekolah dari tingkat SD sampai SMA/K harus memiliki perpustakaan yang dikelola dan ditangani Pustakawan murni – seseorang berpendidikan ilmu perpustakaan dan tuntas-fokus didalam pekerjaan profesinya. Seperti Dokter, Guru, dan Dosen, para Pustakawan ini akan bersertifikasi untuk apa yang sepatutnya dilabelkan yaitu berkiprah secara kompeten dan professional seutuhnya. Saatnya sudah tiba untuk para professional yang pernah terpinggirkan ini untuk menunjukkan gregetnya atau “taringnya”. Perlu ditunjukkan bahwa Bunny Watson – Bunny Watson baru akan bermunculan dan mencerahkan. Kata Kunci: Pustakawa