Jurnal Ilmu Perilaku
Not a member yet
143 research outputs found
Sort by
Penanganan Cabin Fever melalui Terapi Kelompok Kognitif Perilaku pada Dewasa Muda selama Pandemi Covid-19
The Covid-19 pandemic is perceived as an unpleasant experience for many people. The various consequences of the Covid-19 pandemic have attracted the attention of various parties, one of which is mental health issues. The restrictions on social activities over a long period of time invoked among others the phenomenon of cabin fever. Cabin fever is a popular term that describes a person’s psychological responses such as demotivation or uncomfortable feelings. This study aims to examine the effectiveness of cognitive behavioral group therapy as an intervention effort for cabin fever in experimental quantitative research. Quantitative data was collected using the cabin fever phenomenon scale. Group therapy participants were 6 young adults aged 20-22 years. Friedman ANOVA test showed a significant difference between pre-test, post-test, and follow up. This showed that group therapy with a cognitive behavioral approach is effective reducing cabin fever symptoms in young adults.Pandemi Covid-19 dipersepsikan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan bagi banyak orang. Berbagai konsekuensi dari pandemi Covid-19 menjadi perhatian berbagai pihak, salah satunya mengenai permasalahan kesehatan mental. Adanya pembatasan kegiatan sosial dalam jangka waktu yang cukup panjang antara lain menimbulkan fenomena cabin fever. Cabin fever merupakan istilah populer yang menggambarkan respons psikologis seseorang seperti demotivasi atau perasaan tidak nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efektivitas dari terapi kelompok dengan pendekatan kognitif perilaku sebagai upaya intervensi cabin fever dan melibatkan pendekatan kuantitatif eksperimental. Pengambilan data kuantitatif dilakukan dengan kuesioner cabin fever phenomenon scale. Partisipan terapi kelompok adalah sebanyak 6 orang dewasa muda berusia 20-22 tahun. Friedman ANOVA test menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pre-test, post-test, dan follow up. Hal ini menunjukkan bahwa terapi kelompok dengan pendekatan kognitif perilaku mampu menurunkan gejala cabin fever pada dewasa mud
Peran Dukungan Sosial dalam meningkatkan Harga Diri Ibu Primipara
Primiparous, mothers who have just had their first child experience many physical, biological ,and physiological changes, coupled with new challenges and lack of experience in parenting, make mothers tend to experience stress levels, so self-esteem is needed to optimize child care and development. One of the factors that affect self-esteem is social support, but the limited previous research related to this, this research aims to see the effect of social support on the self-esteem of primiparous mothers. A total of 250 primiparous mothers were recruited using a purposive sampling technique to fill out the self-esteem and social support scale. The results of the regression analysis showed that social support had a significant effect on self-esteem. Social support contributes 66% to the self-esteem of primiparous mothers. The most influential social support on the self-esteem of primiparous mothers is the husband's support of 35.4%. This indicates that social support, especially husband's support, is an important thing that must be considered to increase the self-esteem of primiparous mothers in adjusting to their new role as mothers. Primiparous mothers who have high self-esteem will be satisfied with their character. The existence of a positive appreciation will provide a sense of security in adjusting and reacting to stimuli from the environment
Primipara sebagai ibu yang baru memiliki anak pertama mengalami banyak perubahan baik fisik, biologis maupun fisiologis ditambah dengan berbagai tantangan baru dan kurangnya pengalaman dalam cara pengasuhan membuat ibu cenderung mengalai level stres, sehingga diperlukan harga diri untuk mengoptimalkan pengasuhan dan perkembangan anak. Salah satu faktor yang mempengaruhi harga diri adalah dukungan sosial, namun terbatasnya penelitian terdahulu terkait hal ini, penelittian ini bertujuan untuk melihat pengaruh dukungan sosial terhadap harga diri ibu primipara. Sebanyak 250 ibu primipara direkrut menggunakan teknik purposive sampling untuk mengisi skala harga diri dan dukungan sosial. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh yag signifikan terhadap harga diri. Dukungan sosial berkontribusi sebesar 66% pada harga diri ibu primipara. Dukungan sosial yang paling berpengaruh terhadap harga diri ibu primipara adalah dukungan suami sebesar 35,4%. . Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan sosial khususnya dukungan suami merupakan hal penting yang harus diperhatikan untuk meningkatkan harga diri ibu primipara dalam menyesuaikan diri menjalani peran baru menjadi ibu. Ibu primipara yang memiliki harga diri yang tinggi akan puas dengan karakter yang dimilikinya. Adanya penghargaan yang positif akan meebrikan rasa aman dalam menyesuaikan diri serta bereaksi terhadap stiulus dari lingkunga
Pengetahuan Mengenai Disabilitas sebagai Prediktor Sikap dalam Menangani SBK pada Guru SD Inklusi X
Salah satu faktor penting untuk mengoptimalkan pendidikan Siswa Berkebutuhan Khusus (SBK) dalam sistem pendidikan adalah guru. Namun, seringkali dijumpai praktik penanganan di kelas yang belum sesuai dengan kebutuhan siswa dan kebijakan yang berlaku. Penelitian terdahulu sering membahas sikap guru terhadap SBK sebagai faktor yang belum tepat terhadap penanganan SBK terutama di sekolah inklusi. Sikap dapat diprediksi oleh berbagai variabel, namun pengetahuan mengenai disabilitas dalam konteks inklusif merupakan hal yang cukup penting. Penelitian mixed method dengan pendekatan explanatory sequential ini dilakukan secara khusus kepada 22 guru di SD Inklusi X, Jakarta, dengan menggunakan teknik analisis regresi linier. Variabel pengetahuan mengenai disabilitas secara statistik dapat memprediksi sikap guru dalam menangani SBK di kelas (=.315; p= .007). Sebanyak 40,9% guru memiliki pengetahuan mengenai disabilitas pada kategori rendah, 40,9% guru berkategori sedang, dan 18,2% lainnya berkategori tinggi. Sementara terkait sikap guru dalam menangani SBK di kelas, 59,1% berkategori netral dan 40,9% berkategori positif. Tidak ada perbedaan tingkat pengetahuan mengenai disabilitas dan sikap guru dalam menangani SBK di kelas berdasarkan kelompok yang dibagi menurut data demografi. Ditemukan adanya perbedaan pada data kualitatif melalui wawancara perwakilan guru. Disarankan agar pihak sekolah memfasilitasi guru untuk mengikuti pelatihan terkait pengetahuan mengenai disabilitas dalam konteks inklusif.
Kata kunci: sikap guru, pengetahuan mengenai disabilitas, siswa berkebutuhan khusus, SD inklus
Persepsi Kontrol Perilaku dan Niat terhadap Perilaku Memilah Sampah di Perusahaan Jasa Konstruksi Migas
Abstract. The growing economic sector and people’s living standards growth have caused the number of domestic solid waste in urban areas to increase. The paper aims to analyze correlation between perceived behavioral control and intention to sort waste towards waste sorting behavior at work by applying Theory of Planned Behavior (TPB) from Icek Ajzen. This study uses a quantitative approach towards 251 respondents using likert scale (1 – 4) as the instrument. The measuring instrument are Pearson Product Moment and Multiple Correlation. The results of this study indicate that (1) there is a correlation between perceived behavioral control and waste sorting behavior (0.371); (2) there is a correlation between intention to sort waste and waste sorting behavior (0.313); (3) there is a strong correlation between perceived behavioral control and intention to sort waste (0.802); (4) correlation between perceived behavioral control and intention towards waste sorting behavior shows R2 = 0.372. Company’s intervention through the provision of appropriate types of trash bins with close proximity to the employee's position at work is needed to improve waste sorting behavior.
Keywords: intention, perceived behavioral control, TPB, waste sortingAbstrak. Pertumbuhan sektor ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat menyebabkan jumlah sampah domestik di perkotaan semakin meningkat. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi kontrol perilaku dan niat memilah sampah terhadap perilaku pemilahan sampah di tempat kerja dengan menerapkan Theory of Planned Behavior (TPB) dari Icek Ajzen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 251 responden dengan instrumen skala likert (1 – 4). Alat ukur penelitian ini adalah Pearson Product Moment dan Korelasi Berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan antara persepsi kontrol perilaku dengan perilaku pemilahan sampah (0,371); (2) terdapat hubungan antara niat memilah sampah dengan perilaku memilah sampah (0,313); (3) terdapat hubungan yang kuat antara persepsi kontrol perilaku dengan niat memilah sampah (0,802); (4) koefisien korelasi persepsi kontrol perilaku dan niat terhadap perilaku pemilahan sampah menghasilkan R2 = 0,372. Penelitian ini akan berkontribusi pada sistem pengelolaan sampah dan mempengaruhi perilaku individu untuk memilah sampah sebelum dibuang di tempat kerja. Intervensi perusahaan melalui penyediaan jenis tempat sampah yang tepat dan dekat dengan posisi karyawan di tempat kerja diperlukan untuk meningkatkan perilaku pemilahan sampah.
Kata kunci: niat, pemilahan sampah, persepsi kontrol perilaku, TP
Strategi Koping dan Stres pada Mahasiswa: Studi Pendahuluan Promosi Kesehatan Mental Berbasis Sekolah
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kondisi stres mahasiswa melalui desain penelitian cross-sectional survey. Partisipan dalam penelitian ini adalah 111 mahasiswa program studi sarjana. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan open-ended questionnaire, perceived stress scale-10, dan brief COPE questionnaire. Data kualitatif dianalisis dengan analisis tematik. Data kuantitatif dianalisa dengan One-Way ANOVA dan Multiple Regression. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) permasalahan kehidupan kampus, perasaan dan pikiran negatif, serta permasalahan relasi merupakan situasi sulit yang dihadapi oleh mahasiswa; 2) sebanyak 49,5% mahasiswa menunjukkan tingkat stres pada kategori rendah dan 50,5% mahasiswa menunjukkan tingkat stres pada kategori tinggi; 3) strategi koping dapat memprediksi stres secara signifikan; dan 4) strategi koping jenis positive reframing dan active coping dapat memprediksi penurunan stres, sedangkan strategi koping jenis self-blame dan self-distraction dapat memprediksi peningkatan stres. Intervensi psikologis yang berkaitan dengan strategi koping aktif dan berpikir positif diperlukan untuk membantu mahasiswa menghadapi permasalahan akademik, emosional, dan sosial.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kondisi kesehatan mental mahasiswa melalui desain penelitian cross-sectional survey. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan open-ended questionnaire, perceived stress scale-10 (PSS-10), dan the Brief COPE Questionnaire. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) permasalahan kehidupan kampus, perasaan dan pikiran negatif, serta permasalahan relasi merupakan situasi sulit yang dihadapi oleh mahasiswa; 2) sebanyak 50.45% mahasiswa mengalami stres pada kategori sedang, 45.05% mengalami stres pada kategori tinggi, dan 4.5% mengalami stres pada kategori rendah; 3) strategi koping dapat memprediksi stres secara signifikan [F(14,96)=5.781; p<0.001]; dan 4) strategi koping jenis positive reframing dan active coping dapat memprediksi penurunan stres, sedangkan strategi koping jenis self-blame dan self-distraction dapat memprediksi peningkatan stre
Pengaruh Career Adaptability terhadap Kesiapan Kerja Mahasiswa pada Masa Pandemi
The COVID-19 pandemic has had an impact on the high rate of unemployment, which may indicate the low level of work readiness especially for those who will enter the realm of work after completing their education. However, due to the limited research investigating this topic, the present study aimed to examine the effect of career adaptability on the work readiness of final year students during the pandemic. A total of 182 students were recruited through quota sampling to complete Career Adaptability and Work Readiness scales. The regression analysis results showed that career adaptability had a significant effect on work readiness. Career adaptability contributes 60% to the students’ work readiness. It indicates that career adaptability is an important aspect that must be possessed by students to develop their work readiness. Students with career adaptability have concerns about their future careers, so they would be better prepared to face the work conditions during pandemics.Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada tingginya tingkat pengangguran terbuka, yang mengindikasikan rendahnya kesiapan kerja terkhusus bagi mahasiswa tingkat akhir yang akan memasuki dunia kerja. Mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan pilihan pekerjaan untuk diambil. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan analisis regresi yang bertujuan untuk melihat pengaruh career adaptability terhadap kesiapan kerja mahasiswa tingkat akhir pada masa pandemi. Sejumlah 182 mahasiswa direkrut menggunakan sampling kuota untuk mengisi skala Career Adaptability dan Kesiapan Kerja. Hasil analisis regresi menunjukan bahwa career adaptability memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan kerja (p<0.05). Career adaptability berkontribusi sebesar 60% pada kesiapan kerja mahasiswa. Hal ini mengindikasikan bahwa career adaptability merupakan hal penting yang harus dimiliki mahasiswa dalam menumbuhkan kesiapan kerja. Mahasiswa dengan career adaptability memiliki kepedulian akan karirnya di masa mendatang, sehingga lebih siap menghadapi perubahan kerja yang terjadi dalam kondisi pandemi
English
Love is a fundamental part of psychological well-adjustment, but a gap in the literature exists surrounding how perceptions of how loved adults felt by their biological parents in childhood can contribute to life satisfaction and psychological adjustment. This study aims to fill that gap by examining the impact of feeling loved by biological parents and grandparents on psychological well-being and adjustment factors later in life. 1,189 college-aged participants volunteered for the study and were recruited online via SONA at a university in the United States. We constructed a Likert-style rating scale to measure individuals’ level of perceived love (LUV) and its contribution to various adjustment indicators, including life satisfaction, depression, anxiety, trait anger, and conduct disturbance. Linear regression models and bivariate correlations were calculated for the predictor and maladjustment indicators. Results showed a modest correlation between the LUV index and life satisfaction as well as other maladjustment indicators and revealed that LUV significantly predicted life satisfaction. LUV was also a significant predictor of depression, anxiety, anger, and conduct disturbance. These results suggest that perceived love could be an important resilience factor and could be used to predict life satisfaction and psychological adjustment later in life