Jurnal Ilmu Perilaku
Not a member yet
143 research outputs found
Sort by
Perilaku Cyberbullying pada Remaja Ditinjau Dari Empati dan Regulasi Emosi
The development of information technology, especially the internet, has many positive impacts, but of the many positive impacts, there are several negative impacts, one of which is cyberbullying. Teenagers are the most active social media users in Indonesia and are prone to cyberbullying behavior. There are several factors that cause adolescents to commit cyberbullying, including empathy and the ability to regulate emotions. This study aims to look at the influence of empathy and emotion regulation on adolescent cyberbullying behavior. The subjects in this study amounted to 137 adolescents with characteristics aged 18-25 years, actively using social media, having committed acts of cyberbullying in the last 6 months (such as writing comments using harsh and angry words to others, uploading photos or videos of other people's disgrace (embarrassing) without permission, ostracizing someone in online group activities, and the like). Data collection was carried out by distributing questionnaires via google form. The data analysis technique uses multiple regression. The results revealed that there was an effect of empathy and emotion regulation together on cyberbullying behavior by 7.2% with a sig. value 0,007. Separately, empathy has a negative influence of 27% with a sig. value 0.002 on cyberbullying behavior while emotional regulation has no effect on cyberbullying behavior with a sig. value 0.526. Therefore, it is important to conduct empathy training so that adolescents can increase their empathy to prevent cyberbullying.Perkembangan teknologi informasi, terutama internet memiliki banyak dampak positif, namun juga terdapat beberapa dampak negatif, salah satunya yaitu cyberbullying. Remaja merupakan pengguna media sosial aktif terbanyak di Indonesia dan rentan melakukan perilaku cyberbullying. Ada beberapa faktor yang menyebabkan remaja melakukan tindakan cyberbullying antara lain empati dan kemampuan meregulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh empati dan regulasi emosi terhadap perilaku cyberbullying remaja. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 137 orang remaja dengan karakteristik berusia 18-25 tahun, aktif menggunakan media sosial, pernah melakukan tindakan cyberbullying dalam 6 bulan terakhir (seperti menuliskan komentar menggunakan kata-kata kasar dan penuh amarah kepada orang lain, mengupload foto atau video aib (memalukan) orang lain tanpa izin, mengucilkan seseorang dalam kegiatan grup online, dan sejenisnya). Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner melalui google form. Teknik analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh empati dan regulasi emosi secara bersama terhadap perilaku cyberbullying sebesar 7.2 % dengan nilai sig. 0,007. Secara terpisah empati memiliki pengaruh negatif sebesar 27% dengan nilai sig. 0.002 terhadap perilaku cyberbullying sementara regulasi emosi tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku cyberbullying dengan nilai sig. 0.526. Maka dari itu penting untuk melakukan pelatihan empati agar remaja dapat meningkatkan empati untuk mencegah terjadinya cyberbullying
Teachers’ Beliefs : Kompetensi Emosional dan Sosialisasi Emosi pada Anak Usia Dini
Teachers' beliefs about emotions can provide an overview of how teachers support the development of emotional competence in early childhood. This study aimed to investigate preschool teachers’ beliefs about emotional competence and emotion socialization. A sample of 194 preschool teachers from 22 Kindergartens completed the Teachers' Emotion Beliefs Scale (TEBS) and open questionnaires. The data were analyzed using descriptive statistical techniques and thematic analysis. The research results showed that 67% of teachers had developmentally appropriate beliefs, while 33% of teachers had beliefs that were not appropriate to children's emotional development. The developmentally appropriate belief explains the importance of the teacher's role in facilitating children's emotional competence. On the other hand, unappropriateness is explained by teachers' beliefs regarding children's expressions of negative emotions (such as sadness and anger), which according to teachers, young children do not need to express these emotions for certain reasons. Furthermore, the results of
the open-ended questionnaire showed several teacher limitations regarding conceptual understanding of children's emotional competence, as well as in using appropriate strategies for emotional socialization (especially in helping children manage negative emotions). The way teachers socialize emotions is based on their beliefs regarding children's emotional competence
Compassion for Trauma: Role of Self Compassion in Posttraumatic Growth of Fatherless among Orphanage Adolescents
Individuals who have self-compassion tend to have more positive thoughts regarding traumatic experiences, which in turn will relate to better emotional outcomes. The struggles of individuals with great challenges in the life crisis will result in a positive change experience called posttraumatic growth (PTG). The study aims to see the relationship between self-compassion and posttraumatic growth in adolescence who have been fatherless (because of death) and living in the orphanage. The study participants were 100 adolescences (57 males and 43 females) aged 12-15 years. The selfcompassion variable is measured by Self-Compassion Scale (Neff, 2003), whereas posttraumatic growth variables are measured by the Post Traumatic Growth Inventory (Tedeschi & Calhoun, 1996) through the adaptation process. The results showed that there was a positive relationship between self-compassion and posttraumatic growth in adolescence that stayed in the orphanage (R = 0.252, p <0.01). In this research, the self-compassion aspect that the most impact for posttraumatic growth is self kindness (r = 0,351, p < 0.001) and common humanity (r = 0,303, p < 0.001).Individu yang memiliki self-compassion cenderung memiliki pikiran yang lebih positif terkait pengalaman traumatik, yang pada gilirannya akan berkaitan dengan hasil emosional yang lebih baik. Perjuangan individu dengan tantangan besar dalam krisis kehidupan akan menghasilkan pengalaman perubahan positif yang disebut posttraumatic growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara self-compassion dan posttraumatic growth pada pada remaja yang mengalami fatherless (karena meninggal dunia) dan tinggal di Panti Asuhan. Partisipan penelitian adalah 100 remaja (57 laki-laki dan 43 perempuan) berusia 12-15 tahun. Variabel self-compassion diukur menggunakan Self-Compassion Scale (Neff, 2003), sedangkan variabel posttraumatic growth diukur menggunakan Post Traumatic Growth Inventory (Tedeschi & Calhoun, 1996) dengan melalui proses adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara self-compassion dan posttraumatic growth pada remaja fatherless yang tinggal di Panti Asuhan (r=0.252, p<0.01). Pada penelitian ini, aspek self compassion yang paling berperan untuk posttraumatic growth ialah self kindness (r=0,351, p<0,001) dan common humanity (r=0,303, p<0,001).
 
Penerimaan Diri dan Subjective Well-Being pada Penyandang Difabel yang Berkarier
Being a disabled person with a career is not easy in living a daily life in the world of work. In the work environment, people with disabilities often experience social inequality. The problems faced make it difficult for people with disabilities to achieve subjective well-being in a career due to poor self-acceptance factors. This study aims to determine the relationship between self-acceptance and subjective well-being in people with disabilities who have a career. The research method used was quantitative with a correlational design. 127 career-disabled people were used as participants in the study using a purposive sampling technique. Research data collection for self-acceptance variables using the Berger Self Acceptance Scale (BSAS) and subjective well-being variables using the Satisfaction with Life Scale (SWLS) and Positive Affect Negative Affect Scale (PANAS). The results of data analysis from the Pearson Correlation value of 0.053 and sig. = 0.283 (p > 0.05) showed that the research hypothesis was rejected, meaning there was no significant relationship with self-acceptance. This indicates that self-acceptance is not one of the factors associated with subjective well-being in people with disabilities who have a career.Menjadi seorang penyandang difabel yang berkarier tidaklah mudah dalam menjalani kehidupan sehari-hari di dunia kerja. Dalam lingkungan pekerjaan, penyandang difabel sering mengalami kesenjangan sosial. Masalah yang dihadapi membuat penyandang difabel kesulitan mencapai subjective well-being dalam berkarier karena faktor penerimaan diri yang buruk. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan penerimaan diri dan subjective well-being pada penyandang difabel yang berkarier. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 127 penyandang difabel yang berkarier dijadikan sebagai partisipan dalam penelitian dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data penelitian untuk variabel penerimaan diri menggunakan Berger Self Acceptance Scale (BSAS), dan variabel subjective well-being menggunakanSatisfaction with Life Scale (SWLS) dan Positive Affect Negative Affect Scale (PANAS). Hasil analisis data dari nilai Pearson Correlation sebesar 0,053 dan sig. = 0,283 (p > 0,05), yang menunjukkan hipotesis penelitian ditolak. Hal ini mengindikasikan bahwa penerimaan diri bukan menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan subjective well-being pada penyandang difabel yang berkarier. Artinya, ketika terjadi peningkatan atau penurunan penerimaan diri, tidak ada kaitannya dengan peningkatan atau penurunan subjective well-being
Studi Fenomenologis tentang Fatherless pada Narapidana Perempuan
Fatherlessness is a phenomenon that can have various negative impacts on children's development into adulthood. The absence of a father's role, especially for women, means that individuals do not have appropriate role models in enforcing discipline and implementing principles. This can become problematic behavior and has the potential to lead to crime. This research aims to explore the image of fatherlessness among female prisoners. This research uses a qualitative research method with a phenomenological approach involving several women who are prisoners at the class IIA Palembang Penitentiary. Semi-structured in-depth interview methods, unstructured observation, and member checking. Data obtained from the field will be analyzed using interpretative phenomenological analysis (IPA) techniques. The results of this research found main themes: lack of affection, longing for a father figure and hope for family unity.Fatherless menjadi fenomena yang dapat membawa berbagai dampak negatif bagi perkembangan anak hingga masa dewasa. Ketiadaan peran ayah, khususnya pada wanita, membuat individu tidak memiliki role model yang tepat dalam penegakan disiplin dan penerapan prinsip. Hal tersebut dapat menjadi problematika perilaku dan berpotensi mengarah pada tindak kejahatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran fatherless pada narapidana wanita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dengan melibatkan beberapa orang wanita yang berstatus sebagai narapidana di Lembaga Pemasyarakatan kelas IIA Palembang. Metode wawancara mendalam semi terstruktur, observasi tidak terstruktur, dan member checking. Data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisis menggunakan teknik interpretative phenomenological analysis (IPA). Hasil penelitian ini menemukan tema-tema utama, yaitu: kurangnya kasih sayang, kerinduan akan figur ayah dan harapan akan keutuhan keluarga
Pengaruh Transformational Leadership Dan Psychological Capital Terhadap Work Engagement Pada Karyawan Generasi Z
Generation Z is known for frequently moving from one company to another. This is related to how Generation Z employees commit to their jobs both emotionally and intellectually within an organization or company. In other words, the issue among Generation Z employees is related to work engagement. The aim of rhis research is to determine the influence of transformational leadership and psychological capital on work engagement among generation Z employees. The population of this research is generation Z employees aged 18-27 years. In sampling, non-probability sampling techniques with purposive sampling were used. This research involved 102 generation Z employees as participants. The measuring instruments used are the Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) by Bass and Avolio (2004) with a realibility value of 0.953, the Psychological Capital Questionnaire – Short Version (PCQ) by Luthans, Avolio, Avey, and Norman (2007) with a reliability value of 0.817, and the Utrecht Work Engagement Scale (UWES) by Schaufeli and Bakker (2004) with a reliability value of 0.948. data collection in this research was carried out by providing an online questionnaire using google forms. The data analysis technique in this reasearch uses multiple linear regression. Based on the result of the research conducted, it shows that there is a significant influence of transformational leadership and psychological capital together on work engaggement in generation Z employees, amounting to 88,4% with a significance value of 0.000. Separately, transformational leadership has an influence of 47,9% with a significance value of 0.000 on work engagement, while psychological capital has an influence of 47,6% with a significance value of 0.000 on work engagement. Therefore,it is important to pay attention to leadership style and psychological capital to increase employee work engagement.Generasi Z dikenal sebagai karyawan yang sering keluar masuk dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lainnya. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana karyawan generasi Z berkomitmen dengan pekerjaan baik secara emosional maupun secara intelektual dalam suatu organisasi atau perusahaan. Dengan kata lain, permasalahan pada karyawan generasi Z ini berkaitan dengan work engagement. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya pengaruh tranfsormational leadership dan psychological capital terhadap work engagement pada karyawan generasi Z. Populasi penelitian ini yaitu karyawan generasi z yang berusia 18-27 tahun. Dalam pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan purposive sampling. Penelitian ini melibatkan 102 orang karyawan generasi Z sebagai partisipan. Alat ukur yang digunakan adalah Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) oleh Bass dan Avolio (2004) dengan nilai reliabilitas sebesar 0.953, Psychological Capital Questionnaire – Short Version (PCQ) oleh Luthans, Avolio, Avey, dan Norman (2007) dengan nilai reliabilitas sebesar 0.817, dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) oleh Schaufeli dan Bakker (2004) dengan nilai reliabilitas sebesar 0.948. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan kuesioner secara online dengan menggunakan google form. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi linear berganda. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan transformational leadership dan psychological capital secara bersama-sama terhadap work engangement pada karyawan generasi Z sebesar 88,4% dengan nilai sig. 0.000. Kemudian, secara terpisah transformational leadership memiliki pengaruh sebesar 47,9% dengan nilai sig. 0.000 terhadap work engagement, sementara psychological capital memiliki pengaruh sebesar 47,6% dengan nilai sig. 0.000 terhadap work engagement. Maka dari itu penting untuk memperhatikan gaya kepemimpinan dan psycholoigcal capital untuk meningkatkan work engagement karyawan