Jurnal Ilmu Perilaku
Not a member yet
143 research outputs found
Sort by
Hubungan Tingkat Penalaran Moral dengan Kecurangan Akademik pada Mahasiswa Universitas Andalas
Kecurangan akademik meruapakan tantangan yang sulit diatasi di lembaga pendidikan. Studi ini meneliti hubungan antara penalaran moral dan kecurangan akademis. Studi dengan partisipan 393 mahasiswa menunjukkan hasil berupa korelasi negatif penalaran moral dengan kecurangan akademis. Hasil lain juga menunjukkan. bahwa pengetahuan tentang kecurangan akademik mahasiswa tidak menunjukkan rendahnya keterlibatan mahasiswa melakukan kecurangan akademik, terlebih ketika berkaitan dengan prestasi akademik mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam kecurangan akademik mungkin menggunakan kerangka etika yang berbeda dari penalaran moral.Kecurangan akademik meruapakan tantangan yang sulit diatasi di lembaga pendidikan. Studi ini meneliti hubungan antara penalaran moral dan kecurangan akademis. Studi dengan partisipan 393 mahasiswa menunjukkan hasil berupa korelasi negatif penalaran moral dengan kecurangan akademis. Hasil lain juga menunjukkan. bahwa pengetahuan tentang kecurangan akademik mahasiswa tidak menunjukkan rendahnya keterlibatan mahasiswa melakukan kecurangan akademik, terlebih ketika berkaitan dengan prestasi akademik mereka. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang terlibat dalam kecurangan akademik mungkin menggunakan kerangka etika yang berbeda dari penalaran moral
Fear and Obedience: Mengungkap Kekerasan Seksual Terhadap Istri melalui Photovoice
Despite three years of implementing the Law on Sexual Violence Crimes (UU TPKS) in Indonesia, the number of sexual violence cases remains high, leading this study to focus on wives experiencing domestic sexual violence who choose not to pursue legal action. Employing the empowering photovoice method, which allows participants to share their experiences through photos and narratives, this research reveals the types of sexual violence experienced and their reasons for remaining in abusive relationships. The findings reveal four categories of sexual violence: physical/non-physical sexual harassment, sexual torture, and marital rape. Wives choose to stay due to fears concerning their children's future and the belief in the "obedient wife" ideal. This study highlights the prevalence of domestic sexual violence despite the enactment of the UU TPKS.Meskipun telah tiga tahun implementasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), angka kasus kekerasan seksual masih tinggi, sehingga penelitian ini berfokus pada istri yang mendapatkan kekerasan seksual dalam rumah tangga dan memilih untuk tidak membawanya ke ranah hukum. Dengan menggunakan metode photovoice yang memberdayakan partisipan untuk berbagi pengalaman melalui foto dan narasi, penelitian ini mengungkap jenis kekerasan seksual yang dialami dan alasan mereka bertahan. Temuan penelitian menunjukkan empat kategori kekerasan seksual, yaitu pelecehan seksual fisik/non-fisik, penyiksaan seksual, dan pemerkosaan dalam pernikahan. Istri memilih bertahan karena ketakutan akan masa depan anak-anak mereka dan adanya keyakinan tentang "istri yang baik adalah istri yang patuh". Penelitian ini menyoroti maraknya kekerasan seksual dalam ranah domestik meskipun UU TPKS telah disahkan
Growth Mindset sebagai Determinan Perilaku Kerja Inovatif: Peran Pemberdayaan Psikologis sebagai Mediator
The era of globalization affects the business challenges faced by organizations, including higher-education institutions. Hence, it is such an essential thing for higher-education institutions to enhance their workforce's innovation in order to respond to the needs of society through the implementation of Tri Dharma Perguruan Tinggi. This research was aimed to empirically test the role of psychological empowerment as a mediator of the association between growth mindset and innovatife work behavior of lecturer. This study was conducted using a correlational quantitative approach with method of survey. The participants of this study consist of 113 permanent lecturers at University X in Surakarta who were selected using convenience sampling techniques. Research variables were measured using the innovative work behavior scale, empowering leadership questionnaire, and growth mindset scale. Research hypothesis analysis was carried out using path analysis. The analysis results revealed that psychological empowerment fully mediated the association between between growth mindset and innovative work behavior of lecturer. These findings show the importance of the role of growth mindset in cultivate the feeling of being empowered psychologically and how it impacts the level of innovative work behavior among lecturer.Era globalisasi menuntut para pengelola organisasi, termasuk institusi perguruan tinggi untuk menghadapi tantangan bisnis yang terus berkembang. Oleh karena itu, penting bagi institusi perguruan tinggi untuk mendorong perilaku kerja inovatif dari tenaga kerjanya dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat, terutama melalui implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji secara empiris peran pemberdayaan psikologis sebagai variabel mediator dalam hubungan antara growth mindset dan perilaku kerja inovatif. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif korelasional dengan metode survei. Partisipan dari penelitian ini adalah 113 dosen tetap di Universitas X di Surakarta yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Pengukuran variabel penelitian dilakukan dengan menggunakan innovative work behavior scale, growth mindset scale, dan psychological empowerment scale. Adapun pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis jalur. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberdayaan psikologis memediasi secara sempurna hubungan di antara growth mindset dan perilaku kerja inovatif pada dosen. Temuan ini menunjukkan pentingnya growth mindset dalam menumbuhkan rasa berdaya secara psikologis dan bagaimana hal tersebut berdampak terhadap perilaku kerja inovatif pada dosen
The Role of Psychological Empowerment in Mediating the Relationships between Flexible Working Arrangements and Innovative Work Behavior
In today's dynamic work environment, the rise of flexible working arrangements and psychological empowerment has sparked a keen fascination with exploring how these new approaches drive employee innovation. This study examines the role of psychological empowerment in mediating the relationship between flexible work arrangements and innovative work behavior. A quantitative approach was used with a cross-functional method. A total of 255 employees in Indonesia took part in the research by filling in instruments via Google Forms. The convenience sampling technique was implemented in this study, focusing on those with at least one year of experience in organizations with hybrid or flexible work designs. Data were analysed using SMART PLS 4.0. The results showed that psychological empowerment fully mediated the relationship between flexible work arrangements and innovative work behavior. These findings suggest that organizations should focus on designing flexible work arrangements that encourage psychological empowerment in individuals, which may ultimately lead to increased innovative work behavior
Tantangan dan Strategi Kepemimpinan pada Era Virtual di Indonesia
Akhir-akhir ini perusahaan/organisasi mengalami tuntutan yang semakin besar untuk mengadopsi sistem kerja virtual. Tuntutan ini tentunya mensyaratkan adanya kebutuhan penyesuaian cara kerja termasuk bagaimana seorang pemimpin menjalankan kepemimpinannya. Hal ini dikarenakan memimpin dalam situasi kerja virtual berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan apabila tidak berhasil dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan-tantangan yang dipersepsikan pemimpin ketika memimpin secara virtual, serta mengeksplorasi beragam strategi yang telah diterapkan pemimpin dalam menghadapi situasi tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian kualitatif. Sebanyak empat orang pimpinan perusahaan terlibat dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui proses wawancara dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian mengindikasikan beragam tantangan dalam menjalankan kepemimpinan virtual, meliputi: (1) kesulitan melakukan monitoring pekerjaan; (2) kesulitan dalam menjalin komunikasi; (3) keterbatasan fasilitas komunikasi virtual; (4) kesulitan membangun budaya organisasi; dan (5) kesulitan membangun komitmen. Berbagai strategi yang telah diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut, meliputi: (1) pembuatan kesepakatan kerja; (2) pelaksanaan koordinasi berkala; (3) pengembangan sistem kerja terdigitalisasi; (4) penciptaan budaya kerja yang berorientasi pada output; dan (5) membangun team building. Hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya bagi perusahaan untuk memperhatikan tantangan dan strategi tersebut agar mampu menjalankan kepemimpinan virtual secara efektif
Peran Kepribadian Proaktif dan Resiliensi terhadap Keterikatan Kerja Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
Work engagement is an important aspect, especially for employees who have a job with a high level of risk, to minimize the impact of risks and maximize their performance. Therefore, this research investigated the role of proactive personality and resilience in work engagement. The method was a quantitative approach with a correlational research design. The population in this study were firefighters and rescue personnel in Yogyakarta. The sampling technique used was saturation sampling with a sample size of 167 individuals. Data were collected using the Modified UWES by Aulia et al. (2019), the Modified PPS by the author, and the Resilience Scale by Aulia et al. (2022). The analytical technique used was multiple linear regression. The study's results indicate that proactive personality and resilience played a highly significant role in work engagement. A proactive personality significantly and positively influences work engagement, as does resilience. Both proactive personality and resilience contributed effectively to work engagement by 61.2%, whereas the remaining 38.8% was determined by other factors not discussed in this study. This finding can be used by organizations and companies to understand their employees related to work attachment to increase human resources within the scope of work.Keterikatan kerja merupakan aspek penting yang perlu dimiliki karyawan dengan pekerjaan beresiko tinggi, untuk meminimalisir dampak dari risiko kerja yang tinggi dan memaksimalkan kinerjanya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji peranan kepribadian proaktif dan resiliensi terhadap keterikatan kerja. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasi. Populasi pada penelitian ini meliputi petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan di Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampel jenuh dengan jumlah anggota sampel sebanyak 167 orang. Instrumen pengumpulan data menggunakan UWES yang telah dimodifikasi oleh Aulia, et al. (2019), PPS yang telah dimodifikasi oleh penulis dan alat ukur resiliensi dari Aulia, et al. (2022). Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian proaktif dan resiliensi berperan sangat signifikan terhadap keterikatan kerja, kepribadian proaktif berperan positif sangat signifikan terhadap keterikatan kerja, dan resiliensi berperan positif secara sangat signifikan terhadap keterikatan kerja. Kepribadian proaktif dan resiliensi secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif sebesar 61,2% terhadap keterikatan kerja, sementara 38,8% ditentukan dari faktor-faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh organisasi maupun perusahaan dalam memahami karyawannya terkait dengan keterikatan kerja sehingga tercipta peningkatan sumber daya manusia dalam lingkup pekerjaan
Evaluasi Efektivitas Mindfulness Therapy terhadap Smoking Cessation: Studi Meta-Analysis
The prevalence of smoking which continues to increase into a problem that to this day has not found a concrete solution certainly requires various tactical and dynamic measures, one of which is through therapeutic mindfulness. This research aims to test the effectiveness of mindfulness therapy against smoking cessation in various groups such as adult men, adolescents, and women. This study used a meta-analysis method that used 12 experimental journals on mindfulness therapy and smoking cessation on an international scale published in English, with a total of 1,017 project participants consisting of 498 experimental subjects and 519 control subjects. Result analysis showed an I2 number of 95.29% which was categorized as random effects due to the heterogeneity of the respondent population in the research that became the references. Hedges analysis g is -0.17 which means mindfulness therapy has little effect on the effectiveness of smoking cessation. Results of the analysis also obtained a signification score of egger's regression at 0.895 which is greater than 0.001 (0.001 < 0.895) which concluded no indication of publication bias. The results of this study concluded that mindfulness therapy had a small effect on smoking cessation. This finding is based on smoking cessation status which is more nicotine addiction and not something that can be assessed cognitively, so additional treatment is needed to make the impact significant.
Keywords: Meta-Analysis, Mindfulness Therapy, Smoking Cessation Prevalensi merokok yang terus mengalami peningkatan menjadi masalah yang hingga hari ini belum menemukan solusi konkrit tentunya membutuhkan berbagai langkah-langkah taktis maupun dinamis, salah satunya melalui mindfulness therapy. Riset ini memiliki tujuan untuk menguji efektivitas mindfulness therapy terhadap smoking cessation pada berbagai kalangan seperti laki-laki dewasa, remaja, dan juga perempuan. Penelitian ini menggunakan metode meta-analisis melalui aplikasi Jamovi Version 1.6.23.0. Penelitian menggunakan 12 jurnal eksperimen mengenai mindfulness therapy dan smoking cessation berskala internasional yang diterbitkan dalam bahasa Inggris, dengan jumlah partisipan 1.017 subjek yang terdiri dari 498 subjek eksperimen dan 519 subjek kontrol. Hasil analisis menunjukkan angka I2 sebesar 95,29% yang dikategorikan sebagai random effects disebabkan adanya heterogenitas populasi responden dalam riset yang menjadi rujukan analisa. Analisa hedges g bernilai -0,17 yang berarti mindfullness therapy memiliki pengaruh yang kecil terhadap efektivitas smoking cessation. Disamping itu, hasil analisa juga memperoleh skor signifikansi Egger’s regression pada angka 0,895 yang lebih besar dari 0,001 (0,001 < 0,895) yang disimpulkan tidak ditemukan adanya indikasi bias publikasi. Secara menyeluruh, temuan riset ini menunjukkan bahwa mindfulness therapy memiliki pengaruh yang positif terhadap smoking cessation, walaupun tidak signifikan. Temuan ini berdasarkan status smoking cessation yang lebih kepada adiksi nikotin dan bukan sesuatu yang bisa dinilai secara kognitif, sehingga dibutuhkan treatment tambahan untuk membuat dampaknya menjadi signifikan.
Kata kunci: Meta-Analisis, Mindfulness Therapy, Smoking Cessation