Jurnal Ilmu Perilaku
Not a member yet
143 research outputs found
Sort by
Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Kecemasan Anak Berhadapan Hukum di Lembaga Pembinaan Khusus Anak
The number of children in conflict with the law continues to increase from year to year. It was noted that in 2020 and 2021 there were 1,700 children and increased to 1,800 children in 2022. Children in conflict with the law can feel negative feelings, can feel negative feelings, in the form of anxiety and one of the factors that influence it is parenting. One of the factors that influence anxiety is parenting. Children in conflict with the law in their detention period have very limited contact with their parents. This study aims to look at the relationship of parenting on children in conflict with the law anxiety in correctional institutions. The research method used was purposive sampling, with a total of 52 participants. The measuring instruments used in this study consisted of two, namely the Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) and Parenting Scale. The results of this study showed that paternal permissive parenting was associated with children in conflict with the law anxiety while other paternal types of parenting were not. Furthermore, maternal parenting did not have a relationship with children in conflict with the law anxiety. This study highlights the importance of social support in correctional institutions to reduce the anxiety of children in conflict with the law and the need to educate parents about the impact of permissive parenting in supporting children's developmentJumlah anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat pada tahun 2020 dan 2021 terdapat 1.700 ABH dan meningkat menjadi 1.800 ABH pada tahun 2022. ABH dapat merasakan perasaan negatif, berupa kecemasan dan salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah pola asuh orang tua. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan pola asuh orang tua pada kecemasan ABH di Lembaga Pemasyarakatan. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan purposive sampling, dengan jumlah partisipan 52 anak ABH. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua, yaitu Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) dan Alat Ukur Pola Asuh Orang Tua. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh ayah permisif berhubungan dengan kecemasan ABH sedangkan pola asuh ayah tipe yang lain tidak berhubungan. Kemudian, pola asuh ibu tidak memiliki hubungan dengan kecemasan ABH. Penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan sosial di LPKA untuk mengurangi kecemasan anak ABH dan perlunya edukasi kepada orang tua mengenai dampak pola asuh permisif dalam mendukung perkembangan anak
Pelatihan Konselor Sebaya untuk Meningkatkan Pengetahuan Mengenai Keterampilan Dasar Konseling Agen Kesehatan Mental di Perguruan Tinggi
College students often encounter a range of emotional and academic challenges that can adversely affect their mental health. Peer counseling offers a promising approach to help students manage these difficulties and enhance their mental well-being. To maximize the effectiveness of peer counseling, it is crucial to develop and refine counseling microskill through targeted training. This study investigates the impact of peer counseling training on counseling the microskill of university students. Utilizing a quasi-experimental pretest-posttest design, the research involved 29 university students. Data were collected through both objective and subjective measures. Objective measures included cognitive test scores on counseling material, while subjective measures assessed participants' self-perceptions of their microskill. Results indicated a significant improvement in counseling microskill post-training, with objective and subjective measurements showing increased scores. The subjective analysis yielded a significance value of .000 (p<0.05) with a negative t-value of -12.345, while the objective analysis also showed significance at .000 (p<0.05) with a negative t-value of -10.822. These findings suggest that peer counseling training effectively enhances counseling microskill among university students.Mahasiswa sering menghadapi berbagai masalah emosional dan akademik yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Konseling sebaya menawarkan pendekatan yang menjanjikan untuk membantu mahasiswa mengatasi tantangan ini dan meningkatkan kesejahteraan mental mereka. Untuk memaksimalkan efektivitas konseling sebaya, penting untuk mengembangkan dan memperbaiki keterampilan konseling melalui pelatihan yang terfokus. Penelitian ini melihat pengaruh pelatihan konseling sebaya terhadap pengetahuan mengenai keterampilan konseling mahasiswa universitas. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain eksperimen: quasi-eksperimental pretest- posttest satu kelompok. Penelitian ini melibatkan 29 mahasiswa universitas di kota Padang, Sumatera Barat. Data dikumpulkan melalui kaidah eksperimen, dengan menggunakan dua jenis pengukuran, yaitu pengukuran objektif dan subjektif, yang saling melengkapi dalam menilai hasil pelatihan. Pengukuran objektif meliputi skor tes prestasi belajar tentang
materi konseling, sedangkan pengukuran subjektif menilai persepsi peserta tentang keterampilan mereka. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam meningkatkan pengetahuan mengenai keterampilan konseling setelah pelatihan, dengan ukuran objektif dan subjektif menunjukkan skor yang meningkat. Analisis subjektif menghasilkan nilai signifikansi .000 (p<0,05) dengan nilai t negatif -12,345, sementara analisis objektif juga menunjukkan signifikansi pada .000 (p<0,05) dengan nilai t negatif - 10,822. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan konseling sebaya secara efektif meningkatkan pengetahuan mengenai keterampilan konseling di kalangan mahasiswa
Reliabilitas dan Validitas The Light-Moran Positive Empathy Scale-15 pada Mahasiswa Indonesia
Empathy is a change in emotional state that results from reflecting on the emotional state of others and experiencing an emotional quality similar to the emotions experienced by other people. The Light-Moran Positive Empathy Scale (PES-15) was developed to measure positive emotional responses to others’ emotional expressions. This study aims to adapt Light-Moran PES-15 and test the validity and reliability of the Indonesian version of Light-Moran PES-15. A total of 101 Indonesian students participated by completing the Indonesian version of Light-Moran PES-15. Data were analyzed using descriptive statistics, Cronbach’s alpha, corrected item-total correlation, and CFA. The Cronbach's alpha result = 0.89 with each dimension being 0.79 and 0.83. Item-total correlation = 0.39 – 0.72. CFI = 1.00, TLI = 1.00, NFI = 0.981 RMSEA = 0.00. This shows that this measuring instrument can be trusted and is able to measure the level of positive empathy with the Indonesian student population. This study provides an important contribution to the development of empathy measurement tool in Indonesia.Empati merupakan perubahan keadaan emosional dari merenungkan keadaan emosional orang lain dan mengalami serangkaian emosi yang serupa dengan emosi dialami oleh orang lain. The Light-Moran PES-15 dikembangkan berbeda dari alat ukur empati lainnya karena semua item berhubungan dengan respons emosional positif terhadap tampilan emosional orang lain, dan alat ukur tersebut hanya mencoba mengukur komponen emosional dari empati. Sebanyak 101 mahasiswa Indonesia menjadi partisipan yang mengisi Light-Moran PES-15 Versi Bahasa Indonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif, uji cronbach’s alpha, corrected item-total correlation, dan CFI. Hasil cronbach’s alpha = 0,89 dengan masing-masing dimensinya 0,79 dan 0,83. Item-total correlation = 0,39 – 0,72. CFI = 1,00, TLI= 1,00, NFI= 0,981 RMSEA = 0,00. Hal ini dapat menunjukan bahwa alat ukur ini dapat dipercaya dan mampu untuk mengukur tingkat positive empathy dengan populasi mahasiswa di Indonesia
PENDEKATAN COLLABOTARIVE/ITERATIVE DALAM PROSES PENTERJEMAHAN SKALA SCRUPULOSITY
Indonesian researchers often use translation of a scale before conducting further studies. The process is mainly conducted by back-translation procedures. However, the procedure also has limitations to validate the result; hence, the present study aims try to do an alternative approach to translate the scale, i.e., collaborative/ iterative. By utilizing data from two studies (study 1, 99 respondents; study 2, 124 respondents) on Indonesian students studying outside Indonesia and in Indonesia, the present study uses a T-Test Independent sample to analyze it. The scale is revised of Penn Inventory of Scrupulosity (PIOS-R), which is used to recognize Obsessive-compulsive disorder symptoms with a religius theme. As expected, the results show that the scale's translation is not different from the original version; specifically, the PIOS-R score between the two versions of the scale, English and Indonesia, has no statistical difference. The translation process supports the arguments that explain the collaborative/iterative approach is able to provide a good translation.Proses penterjemahan skala berbahasa Inggris seringkali harus dilakukan oleh peneliti di Indonesia sebelum melakukan kajian lebih lanjut. Hal ini biasanya dilakukan dengan menggunakan metode terjemah balik (back-translation). Namun demikian metode ini juga memiliki kelemahan dalam proses validasinya sehingga kajian ini menguji metode alternatif untuk menterjemahkan skala, yaitu collaborative/ iterative. Dengan menggunakan data dari dua studi (studi 1, 99 responden; studi 2, 124 responden) pada mahasiswa Indonesia yang kuliah diluar Indonesia dan di Indonesia, penelitian ini melakukan analisa T-Test independent sample. Skala yang digunakan adalah Penn Inventory of Scrupulosity versi revisi (PIOS-R), yang merupakan skala untuk mengenali simptom gangguan Obsessive-Compulsive Disorder dengan tema agama. Hasilnya, sesuai harapan, terjemahan dari skala ini sama dengan versi asli yang berbahasa Inggris, yaitu tidak ada beda skor PIOS-R secara statistik antara skala versi Bahasa Inggris dengan Bahasa Indonesia (t=0.973; p=0.333). Proses dari penterjemahan ini mendukung argumentasi bahwa penggunaan pendekatan collaborative/ iterative mampu memberikan hasil terjemahan skala yang lebih baik
The transition from junior high school (SMP) to senior high school (SMA) is a challenge for tenth-grade students who must adjust to a new learning environment. Academic adjustment is influenced by family function, with academic self-efficacy serving as a mediating variable between the two. This study also explores the role of socioeconomic status, as students from lower economic backgrounds often face difficulties in academic adjustment. The purpose of this study was to examine the role of academic self-efficacy in mediating the relationship between family function and academic adjustment in high school students from low socioeconomic backgrounds in Jatinangor. The participants of this study were 245 tenth-grade students (138 female, 107 male, aged 14-17 years). Data were collected using the Family Assessment Device, the Academic Adjustment Scale, and the Motivated Strategies for Learning Subscale Self- Efficacy, which were adapted into Indonesian. Simple mediation analysis was conducted using Hayes' Process Macro SPSS 24. The results indicate that academic self-efficacy acted as a partial mediator in the relationship between family function and academic adjustment. These findings highlight the importance of the family's role in academic self-efficacy, which in turn enhances students' academic adjustment at school. The implications of this study emphasize the importance of involving families and strengthening academic self-efficacy to improve academic adjustment and achievement in high school students.
Transisi SMP ke SMA adalah tantangan bagi siswa kelas X yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru. Penyesuaian akademik dipengaruhi oleh keberfungsian keluarga, dengan efikasi diri akademik sebagai variabel mediator antara keduanya. Penelitian ini juga mengkaji peran status ekonomi, di mana siswa dengan latar belakang ekonomi rendah sering mengalami kesulitan dalam penyesuaian akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran efikasi diri akademik dalam memediasi hubungan antara keberfungsian keluarga dan penyesuaian akademik pada siswa SMA dengan status sosio-ekonomi rendah di Jatinangor. Partisipan penelitian ini adalah 245 siswa kelas X (P=138, L=107, usia 14-17 tahun). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Family Assessment Device, Academic Adjustment
Scale, dan Motivated Strategies for Learning Subscale Self-Efficacy yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Analisis data mediasi sederhana dilakukan menggunakan aplikasi Hayess Process Macro SPSS 24. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri akademik berperan sebagai mediator parsial dalam hubungan antara keberfungsian keluarga dan penyesuaian akademik. Temuan ini menyoroti pentingnya peran keluarga dalam membentuk efikasi diri akademik, yang pada gilirannya meningkatkan penyesuaian akademik siswa di sekolah. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya melibatkan keluarga dan memperkuat efikasi diri akademik untuk meningkatkan penyesuaian akademik dan prestasi siswa di SMA.
Kata kunci: Penyesuaian Akademik, Efikasi Diri Akademik, Family Function, Mediasi Parsial, Sosio-Ekonomi Rendah
Adaptasi dan Validitas Konstruk Adaptive Performance Scale (APS) di Indonesia
Adaptive performance reflects an individual's ability to adapt to changes in the work environment. Although the Adaptive Performance Scale (APS) has been widely used, no version has been adapted into Indonesian. This study aims to evaluate the validity and reliability of the Adaptive Performance Scale (APS), developed by Charbonnier-Voirin & Roussel (2012) and adapted for use in Indonesia, as a tool for measuring individual adaptive performance within an organizational context. This research was conducted in two studies. In study 1, the translation process and content validity testing involved 4 translators, 5 expert reviewers, and 7 laypeople. Meanwhile, study 2 involved 322 employees in Indonesia (134 males; 188 females) aged between 18-58 years (mean age = 28.9 years; SD = 8.1), using purposive sampling technique. The entire adaptation process referred to the International Test Commission (ITS) Guidelines for Test Adaptation. Confirmatory Factor Analysis (CFA) was utilized to evaluate the measurement model. The results demonstrated that the APS fulfilled the model fit criteria as a multidimensional construct comprising five factors. The APS also demonstrated good reliability. Overall, this study shows that the APS is valid and reliable, making it suitable for measuring adaptive performance in Indonesia.Adaptive performance menggambarkan kemampuan individu dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan di lingkungan kerja. Sayangnya, belum ada skala APS dalam bahasa Indonesia untuk mengukur kinerja adaptif ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana alat ukur Adaptive Performance Scale (APS) yang dikembangkan oleh Charbonnier-Voirin & Roussel (2012) yang diadaptasi di Indonesia dapat dianggap valid dan reliabel sebagai instrumen pengukuran kinerja adaptif individu dalam konteks organisasi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua studi. Pada studi 1, proses penerjemahan dan pengujian validitas isi melibatkan 4 orang penerjemah, 5 expert reviewer, dan 7 orang awam. Sedangkan studi 2 melibatkan 322 karyawan di Indonesia (134 laki-laki; 188 perempuan) dan berusia antara 18-58 tahun (usia rerata = 28.9 tahun; SD = 8.1) yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling. Keseluruhan proses adaptasi mengacu pada prosedur International Test Comission (ITS) Guidelines for Test Adaptation. Confirmatory Factor Analysis (CFA) diterapkan untuk menilai model pengukuran. Hasil CFA menunjukkan bahwa Skala Kinerja Adaptif memenuhi kriteria kecocokan model sebagai konstruk multidimensi yang terdiri dari lima faktor. Skala Kinerja Adaptif juga menunjukkan reliabilitas yang baik. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa instrumen Skala Kinerja Adaptif valid dan reliabel sehingga dapat digunakan untuk mengukur kinerja adaptif di Indonesia