BERKALA SAINSTEK
Not a member yet
254 research outputs found
Sort by
JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKAYU DAN PEMANFAATANNYA OLEH SUKU MADURA DI PULAU GILI KETAPANG PROBOLINGGO
Masyarakat Gili Ketapang memiliki Indigenous Knowledge unik, yang mereka dapatkan melalui proses adaptasi tanpameninggalkan budaya dan tradisi asli mereka yaitu Madura. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhanberkayu yang dimanfaatkan, bagian-bagian dari tumbuhan berkayu yang dimanfaatkan, dan mengetahui cara pemanfaatantumbuhan berkayu oleh masyarakat Gili Ketapang dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan adalah MetodeKepustakaan (Desk Study) dan Metode Participatory Ethnobotanical Appraisal (PEA). Teknik Purporsive Samplingdigunakan untuk menentukan informan kunci, teknik Snowball Sampling digunakan untuk menentukan informan selanjutnyaatas rekomendasi informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 22 jenis tumbuhan berkayu dari 16 suku yangdimanfaatkan oleh masyarakat gili ketapang. Bagian tumbuhan yang banyak dimanfaatkan adalah buah, diikuti batang, daun,ranting dan terakhir bunga. Pemanfaatan tumbuhan berkayu ada 6 cara yaitu sebagai bahan pangan, perahu dan kapal,perangkap ikan, obat, kayu bakar, bahan bangunan, pakan ternak dan kerajinan ukir
SKRINING BAKTERI SELULOLITIK ASAL VERMICOMPOSTING TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT
Biomassa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dihasilkan dalam jumlah melimpah selama pemanenan, sehingga harus didekomposisi dalam waktu singkat. Melalui vermicomposting, TKKS dikonversi menjadi kompos yang berlangsung selama 2-3 bulan, sehingga untuk mempercepat proses dekomposisi, penelitian ini perlu dilakukan. Lima puluh satu isolat bakteri selulolitik berhasil diisolasi dari vermicomposting limbah TKKS. Hasil uji pada media CMC (Carboxymethyl Cellulose) plate, empat isolat memiliki aktivitas selulolitik tertinggi, yaitu isolat 20, 40a, 40b dan 49 dengan indeks aktivitas sebesar 11,90; 10,97; 11,29, dan 11,24. Selama hidrolisis menggunakan substrat CMC dan TKKS, isolat 20 mampu memproduksi gula reduksi tertinggi yaitu sebesar 12,27 μg/mL dan 49,31 μg/mL, sedangkan isolat 40a, 40b, dan 49 sebesar 3,48 μg/mL, 6,28 μg/mL dan 3,10 μg/mL di substrat CMC dan sebesar 24,83 μg/mL, 11,21 μg/mL dan 8,25 μg/mL di substrat TKKS. Keempat isolat bakteri termasuk bakteri Gram negatif dengan bentuk sel batang. Kata Kunci: bakteri selulolitik, gula reduksi, vermicomposting TKKS
Pengendalian Tegangan Inverter 3 Fasa Menggunakan Space Vector Pulse Width Modulation (SVPWM) Pada Beban Fluktuatif
Penggunaan sumber-sumber energi terbarukan yang menghasilkan sumber tegangan DC berkembang dengan pesat, namun perangkat AC lebih banyak digunakan dalam masyarakat sehingga diperlukan inverter untuk mengubah tegangan DC menjadi AC. Ada beberapa teknik pensaklaran yang digunakan dalam inverter. Pada tugas akhir ini akan dirancang dan diaplikasikan sebuah inverter 3 fasa dengan teknik pensaklaran Space Vector Pulse Width Modulation ( SVPWM ) pada beban fluktuatif yaitu fluktuatif seimbang, tidak seimbang dan fluktuasi waktu. Berdasarkan pada pengujian terhadap alat yang dibuat diberi bukti bahwa semakin besar fluktuasi beban yang digunakan maka penurunan tegangan pada inverter juga semakin besar hal ini terlihat pada hasil tegangan keluaran inverter 3 fasa yang turun dari 219 V hingga 205 V namun tingkat keefektifan inverter 3 fasa dengan metode SVPWM memiliki respon yang baik terhadap beban fluktuatif . Kata Kunci: beban fluktuatif, energi terbarukan, inverter 3 fasa, SVPWM
KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DI BLOK BEDUL SEGORO ANAK TAMAN NASIONAL ALAS PURWO
Keseluruhan vertebrata dari 50.000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak dan memiliki jenis atau spesies yangterbesar yaitu sekitar 25.988 jenis yang tergolong dalam 483 famili dan 57 ordo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeanekaragaman jenis ikan dengan menggunakan metode sistem stasiun yang dilakukan di daerah blok Bedul Segoro AnakTaman Nasional Alas Purwo Kabupaten Banyuwangi. Dalam penelitian ini, digunakan 10 stasiun dan ukuran masing-masingstasiun 100 x 100 m dengan jarak antar stasiun 500 m. Pengambilan spesimen ikan dilakukan dengan metode jala tebar danmemancing. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis untuk menentukan indeks keanekaragaman dan kesamarataan jenisikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Segoro Anak terdapat 13 jenis ikan dengan nilai indeks keanekaragamannyasedang yaitu sebesar 2,2 dan indeks kesamarataan dikatakan rendah yaitu hanya 0,86
PENGARUH EKSTRAK KASAR TANIN DARI DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L.) PADA PENGOLAHAN AIR
Penelitian tentang pengaruh ekstrak kasar tanin dari daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) pada pengolahan air telah dilakukan. Ekstrak kasar tanin diperoleh dengan cara maserasi dengan metanol 50% terhadap serbuk kering daun belimbing wuluh (A. bilimbi L.). Selanjutnya ekstrak kasar tanin dikombinasikan dengan koagulan FeCl3 dan FeSO4. Pada pengolahan air parameter yang diamati adalah pH, kekeruhan, padatan terlarut dan daya hantar listrik. Penambahan ekstrak kasar tanin dengan FeCl3 pada kondisi optimum (125 mg/L tanin dan 50 mg/L FeCl3) dapat menurunkan kekeruhan, pH, padatan terlarut dan daya hantar listrik berturut-turut sebesar 72,43%, 47,24%, 86,13% dan 5,44%. Penambahan ekstrak kasar tanin dengan FeSO4 pada kondisi optimum (150 mg/L tanin dan 60 mg/L FeSO4) dapat menurunkan kekeruhan, pH berturut-turut sebesar 6,98%, 25,20%, padatan terlarut tidak dapat didefinisikan dan daya hantar listrik mengalami kenaikan sebesar 5,81%. Pada penambahan tanin tanpa kombinasi koagulan pada kondisi optimum (125 mg/L) dapat menurunkan kekeruhan sebesar 19,14%, pH mengalami kenaikan sebesar 19,33%, dan menurunkan padatan terlarut dan konduktivitas berturut-turut sebesar 69,33% dan 2,70%. Kata kunci: Averrhoa bilimbi L., koagolan, tanin
Perancangan Simulasi Unjuk Kerja Motor Induksi Tiga Fase Dengan Sumber Satu Fase Menggunakan Boost Buck Converter Regulator Dan InverterTiga Fase Pulse Width Modulation (PWM) Menggunakan Software Matlab
Motor induksi merupakan motor yang paling banyak digunakan dalam dunia industri karena mempunyai beberapa kelebihan yaitu perawatan yang sederhana, memiliki struktur yang kokoh, harga yang relatif terjangkau dan mudah didapat dipasaran. Pengoprasian motor induksi tiga fase dengan sumber satu fase menjadi pilihan yang sangat baik untuk keaadaan dimana sumber tiga fase tidak tersedia. Tegangan nominal pada sumber satu fase adalah 220 volt, jika menggunakan motor induksi tiga fase dengan tegangan nominal 380 volt maka dibutuhkan boost buck konverter untuk menaikkan tegangan dari sumber satu fase dan control PI untuk mengontrol tegangan dalam merespon perubahan beban pada motor induksi. Proses konversi tiga fase menggunanakan inverter pulse width modulation. Simulasi unjuk kerja pada motor induksi dalam penelitian ini menggunakan matlab R2010b dengan spesifikasi motor 5 HP, 380 volt 50 Hz 1500 rpm. Hasil simulasi diperoleh nilai faktor daya saat terhubung dengan sumber satu fase saat tanpa beban 0,0925 dan saat beban nominal 0,8259. Hasil dari efisiensi rata – rata sebesar 89,64% pada saat motor terhubung dengan sumber satu fase lebih besar dari saat motor terhubung dengan sumber tiga fase yaitu 89,22%. Kata kunci : motor induksi, boost buck konverter, PI controller, inverter pulse width modulation
IDENTIFIKASI KUALITATIF BAHAN ANALGESIK PADA JAMU MENGGUNAKAN PROTOTYPE TES STRIP
Penggunaan bahan analgesik pada jamu merupakan salah satu pelanggaran prosedur pembuatan jamu sehingga diperlukan metode analisis untuk mengetahui keberadaan bahan analgesik secara dini. Peneliti sebelumnya telah membuat tes strip untuk pengujian parasetamol, aspirin, dan asam mefenamat menggunakan reagen mandelin, asam nitrat pekat, ferri klorida, dan metil merah yang diimmobilisasi ke dalam membran selulosa bakterial-Al2O3. Studi lebih lanjut dilakukan pemanfaatan prototype untuk identifikasi bahan analgesik pada jamu setelah dilakukan uji interferensi analit, daya beda, waktu respon, dan uji real sampel pada jamu anti nyeri. Hasil menunjukkan bahwa prototype memiliki limit deteksi yang cukup baik pada kisaran 0,125 – 5 mg/ml untuk parasetamol dalam air dengan waktu respon yang cepat pada kisaran 56 – 266 detik, 0,125 – 1 mg/ml untuk aspirin dalam air dengan waktu respon yang cepat pada kisaran 26 – 36 detik, dan 0,125 – 0,25 mg/ml untuk asam mefenamat dalam kloroform dengan waktu respon sedang pada kisaran 90 – 435 detik. Prototype mampu membedakan keberadaan analit secara spesifik melalui warna pada tiap series strip. Uji real sampel menunjukkan keberadaan parasetamol pada jamu J1 dan asam mefenamat pada jamu J2. Kata Kunci: Analgesik, Jamu, Prototype, Tes stri
SISTEM PENGENDALI LAJU TETESAN INFUS MENGGUNAKAN PARAMETER DENYUT JANTUNG
Dalam dunia medis, dehidrasi merupakan penyebab utama kematian. Diare merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan dehidrasi. Penanganan yang pertama harus dilakukan adalah dengan pemberian cairan infus secara berkala dan harus selalu diawasi oleh petugas medis. Kesalahan dalam pengawasan dapat berakibat fatal terhadap pasien. Dibutuhkan sebuah alat yang dapat memperkecil kesalahan dalam pengawasan terhadap infus pasien. Penelitian tentang “Sistem Pengendali Laju Tetesan Infus Pada Pasien Diare†diharapkan dapat membuat sistem pengendali laju tetes infus menjadi otomatis berdasarkan denyut jantung pasien diare itu sendiri. Denyut jantung diukur menggunakan sensor fotodioda  dan led infrared. Sensor denyut jantung ini diletakkan pada jari tangan pasien. Hasil pengukuran sensor kemudian diolah oleh mikrokontroler dan digunakan sebagai acuan untuk mengendalikan laju tetesan infus menggunakan motor servo. Untuk mengetahui nilai kebenaran laju tetesan infus digunakan sensor fotodioda dan led infrared yang diletakkan di tabung selang infus. Sensor ini mendeteksi laju tetesan pada tabung infus dan ditampilkan pada LCD. Dari perancangan alat yang sudah dijelaskan di atas, didapat hasil bahwa rata-rata eror persen sistem mencapai 9,6 %. Nilai tersebut merupakan hasil dari perbandingan laju tetesan infus pada alat dengan laju tetesan infus yang diharapkan. Kata Kunci: Dehidrasi, Denyut jantung, Diare, Laju, Tetesan Infus
PENGARUH PENAMBAHAN SURFAKTAN ANIONIK SODIUM DODESIL SULFAT TERHADAP KARAKTERISTIK MEMBRAN SELULOSA ASETAT
Penelitian ini telah dilakukan tentang pengaruh penambahan surfaktan anionik sodium dodesil sulfat terhadap: sifat fisik membran selulosa asetat (densitas, derajat swelling), sifat kimia membran selulosa asetat (IR, sudut kontak), kinerja membran selulosa asetat (koefisien permeabilitas dan koefisien rejeksi dekstran). Selulosa asetat (CA) dimodifikasi dengan menambahkan SDS (sodium dodecl sulphate) yang befungsi sebagai agen pembentuk pori dan meningkatkan sifat hidrofilisitas membran. Preparasi membran selulosa asetat dilakukan dengan metode inversi fasa. Modifikasi membran selulosa asetat dilakukan melalui dua tahap, meliputi: Preparasi membran selulosa asetat dengan menambahkan SDS ke dalam larutan polimer membran dan karakterisasi membran selulosa asetat. Hasil penelitian ini menunjukkan membran hasil modifikasi dengan komposisi 2% SDS, 16% CA mempunyai pori yang lebih rapat. Hasil pengukuran kerapatan, derajat swelling, Uji FTIR, sudut kontak fluks dan rejeksinya berturut-turut sebagai berikut: 0,3916 gr/cm3, 4, 96 %, hasil uji IR menunjukkan adanya interaksi ikatan van der waals antara CH3-CH3 dan ikatan hidrogen antara OH-SO4,, 62o(sedikit hidrofilik), 7,6191 (L/m2.jam) dan 65,02 %. Kata Kunci: Selulosa Asetat, SDS, Sudut Kontak, Inversi Fas
ANALISIS REGRESI KELAS LATEN UNTUK DATA KATEGORIK DENGAN SATU KOVARIAT
Analisis regresi kelas laten merupakan analisis multivariat untuk data kategorik. Estimasi parameter pada analisis regresi kelas laten menggunakan algoritma EM (ekspektasi-maksimisasi) yang dilanjutkan dengan metode Newton-Raphson. Dalam penelitian ini, analisis regresi kelas laten digunakan untuk mengklasifikasikan responden berdasarkan persepsinya terhadap peluang (opportunity) dan ancaman (treath) bagi distributor produk Unilever, PT. Panahmas Dwitama Distrindo Regional Jember. Lamanya responden berlangganan terhadap distributor ini dijadikan sebagai kovariat. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan persepsinya terhadap opportunity, responden dikelompokkan menjadi tiga kelompok, sedangkan terhadap treath dikelompokkan menjadi dua kelompok