Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
Not a member yet
    99 research outputs found

    Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa menggunakan strategi writing to learn pada siswa SMP

    Get PDF
    Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita dalam matematika tergolong masih rendah. Siswa cenderung kesulitan mengungkapkan ide-ide yang mereka miliki dalam menyelesaikan soal. Dengan kata lain kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VIII C SMPN 1 Martapura dengan pembelajaran menggunakan strategi writing to learn. Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas mengacu pada model Kurt-Lewin, yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan(action), pengamatan (observation) dan refleksi (reflection). Subyek adalah siswa kelas VIIIC SMPN 1 Martapura yang berjumlah 32 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis dan dokumentasi, dan Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan komunikasi matematis siswa. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan strategi writing to learn dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dari kategori cukup ke kategori baik

    Pembinaan karakter dalam pembelajaran matematika

    Get PDF
    Anak-anak adalah harta karun bangsa. Nasib masa depan bangsa ada di pundak para generasi muda. Memperlakukan anak secara istimewa, baik perkembangan emosional, kesehatan, kecerdasan maupun perilaku mereka menjadi kewajiban bersama. Para pendidik bertanggung jawab untuk menggelorakan revolusi mental dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Intergrasipendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran diarahkan untuk membawa peserta didik ke pengenalan nilai-nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan bermuara pada pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter membekali kepada peserta didik ilmu, pengetahuan dan pengalaman budaya, perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai ideal kehidupan, baik yang bersumber pada budaya lokal maupun budaya luar. Ada banyak local genius khasanah budaya bangsa yang dapat digali dari seantero kawasan nusantara yang sarat makna dan kaya akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Potensi budaya dikembangkan sebagai basis dan sumber belajar berbagai mata pelajaran untuk mewujudkan bangsa yang berjati diri. Matematika bukan sekedar kegiatan hitung menghitung, tetapi banyak yang berkaitan dengan pemberdayaan berbagai kekayaan yang tersedia di sekitar kehidupan peserta didik. Para guru matematika meski berpikir, berkreasi dan menghasilkan karya yang berguna untuk pembelajaran matematika, agar dapat mengajar dan mendidik peserta didik menuju masa depannya sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional.Anak-anak adalah harta karun bangsa. Nasib masa depan bangsa ada di pundak para generasi muda. Memperlakukan anak secara istimewa, baik perkembangan emosional, kesehatan, kecerdasan maupun perilaku mereka menjadi kewajiban bersama. Para pendidik bertanggung jawab untuk menggelorakan revolusi mental dalam rangka mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Intergrasipendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran diarahkan untuk membawa peserta didik ke pengenalan nilai-nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan bermuara pada pengamalan nilai secara nyata. Pendidikan karakter membekali kepada peserta didik ilmu, pengetahuan dan pengalaman budaya, perilaku yang berorientasi pada nilai-nilai ideal kehidupan, baik yang bersumber pada budaya lokal maupun budaya luar. Ada banyak local genius khasanah budaya bangsa yang dapat digali dari seantero kawasan nusantara yang sarat makna dan kaya akan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Potensi budaya dikembangkan sebagai basis dan sumber belajar berbagai mata pelajaran untuk mewujudkan bangsa yang berjati diri. Matematika bukan sekedar kegiatan hitung menghitung, tetapi banyak yang berkaitan dengan pemberdayaan berbagai kekayaan yang tersedia di sekitar kehidupan peserta didik. Para guru matematika meski berpikir, berkreasi dan menghasilkan karya yang berguna untuk pembelajaran matematika, agar dapat mengajar dan mendidik peserta didik menuju masa depannya sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional

    Berpikir aljabar dalam menyelesaikan masalah matematika

    Get PDF
    Transisi dari berpikir aritmetika ke berpikir aljabar merupakan salah satu langkah yang paling sulit yang dialami siswa dalam belajar matematika. Tulisan ini membahas tentang apa yang dimaksud dengan berpikir aljabar dalam menyelesaikan masalah matematika, dan diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh guru dalam merencanakan dan menentukan model dan pendekatan pembelajaran, serta tugas-tugas matematika di kelas. Sehingga dapat membantu siswa untuk transisi yang mulus dari aritmetika ke aljabar, dan dapat mendorong serta mengembangkan pemikiran aljabar pada tahap selanjutnya

    Pembelajaran matematika dengan kemampuan metakognitif berbasis pemecahan masalah kontekstual mahasiswa pendidikan matematika Universitas Balikpapan

    Get PDF
    Pembelajaran matematika diupayakan menumbuhkan perilaku metakognitif mahasiswa yang memiliki peranan penting dalam pemecahan masalah, khususnya dalam mengatur dan mengontrol aktivitas kognitif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah sehingga belajar dan berpikir yang dilakukan siswa menjadi lebih efektif dan efisien. Pembelajaran diawali dengan pemberian masalah tentang matematika yang menuntut tumbuhnya perilaku metakognitif siswa yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membangun karakter bangsa. Metakognisi memiliki dua komponen yaitu pengetahuan metakognitif dan keterampilan metakognitif. Pengetahuan metakognitif berkaitan dengan pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural dan pengetahuan kondisional. Pengetahuan metakognitif merupakan keterkaitan antara individu, tugas dan strategi. Keterampilan metakognitif berkaitan dengan perencanaan, monitoring dan evaluasi terhadap penyelesaian suatu tugas tertentu. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dapat dilakukan adalah dengan melaksanakan pembelajaran berbasis masalah matematika kontekstual. Melalui pengetahuan dan keterampilan metakognitif yang berbasis kontekstual, mahasiswa dapat memecahkan setiap permasalahan dalam matematika, sehingga mahasiswa tidak ragu dan percaya diri dalam mengerjakan persoalan matematika

    Scaffolding dalam pembelajaran matematika

    Get PDF
    Dalam belajar matematika, siswa menggunakan strategi kognitif untuk dapat menentukan bagaimana ia belajar, bagaimana ia memanggil kembali informasi, menggunakan apa yang dipelajari, dan bagaimana ia berpikir untuk mendapatkan strategi penyelesaian masalah yang tepat, sehingga ia dapat mencapai tujuan kognitif yaitu menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, prosedur penyelesaian masalah matematika merupakan proses kognitif berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Tidak jarang dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama pada saat siswa memecahkan masalah matematika, siswa menemui kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan ini diperlukan peranan guru atau orang lain yang dapat menjadi fasilitator dan motivator dalam meminimalkan kesulitan dan mengarahkan proses kognitif untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya. Salah satu alternatif penerapan scaffolding memuat komponen-komponen explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking.Dalam belajar matematika, siswa menggunakan strategi kognitif untuk dapat menentukan bagaimana ia belajar, bagaimana ia memanggil kembali informasi, menggunakan apa yang dipelajari, dan bagaimana ia berpikir untuk mendapatkan strategi penyelesaian masalah yang tepat, sehingga ia dapat mencapai tujuan kognitif yaitu menyelesaikan masalah. Dalam menyelesaikan masalah, prosedur penyelesaian masalah matematika merupakan proses kognitif berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Tidak jarang dalam pelaksanaan pembelajaran, terutama pada saat siswa memecahkan masalah matematika, siswa menemui kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan ini diperlukan peranan guru atau orang lain yang dapat menjadi fasilitator dan motivator dalam meminimalkan kesulitan dan mengarahkan proses kognitif untuk membantu siswa menyelesaikan masalahnya. Salah satu alternatif penerapan scaffolding memuat komponen-komponen explaining, reviewing, restructuring, dan developing conceptual thinking

    Kreativitas siswa SMP dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan gaya belajar visual-spatial dan auditory-sequential

    Get PDF
    Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kreativitas siswa SMP dalam menyelesaikan masalah geometri berdasarkan gaya belajar Visual-Spatial dan Auditory-Sequential.  Penilaian kreativitas didasarkan pada penilaian tugas penyelesaian masalah yang diselesaikan oleh subjek dengan tinjauan tiga aspek kreativitas; yakni kefasihan, keluwesan dan kebaruan. Penelitian ini dilakukan di SMP AL’Azhar Menganti Gersik dengan subjek penelitian 2 siswa, terdiri dari seorang siswa dengan gaya belajar  Visual-Spatial dan seorang siswa dengan gaya belajar Auditory-Sequential. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama yang dibantu dengan tes gaya belajar, tugas penyelesaian masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)  Kreativitas siswa dengan gaya belajar Visual-Spatial dalam menyelesaikan masalah geometri, mencakup (a) Kefasihan, ditunjukkan dengan terdapat keberagaman jawaban masalah yang dibuat dengan benar dengan membuat banyak bangun yang ukuran berbeda-beda; (b) Keluwesan; ditunjukkan dengan   menghasilkan cara lain atau berbeda dalam menyelesaikan masalah tanpa menggunakan rumus melainkan dengan cara menggunakan salah satu bentuk  bangun yang sudah diperoleh sebelumnya, misalnya dengan menggunakan media kertas; (c) Kebaruan; ditunjukkan dengan menyelesaikan masalah dengan cara baru yaitu dengan menggambar suatu bentuk bangun datar gabungan. (2)  Kreativitas siswa dengan gaya belajar Auditory-Sequential dalam menyelesaikan masalah geometri, mencakup (a) Kefasihan; ditunjukkan dengan terdapat keberagaman jawaban masalah yang dibuat dengan benar dengan membuat banyak bangun yang ukuran berbeda-beda; (b) Keluwesan : tidak mampu  menghasilkan cara lain atau berbeda untuk mendapatkan salah satu bentuk  bangun yang sudah diperoleh sebelumnya tanpa menggunakan rumus, misalnya dengan menggunakan media kertas; (c) Kebaruan; ditunjukkan dengan menyelesaikan masalah dengan cara baru yaitu dengan menggambar suatu bentuk bangun datar gabungan

    Matematika hijau sebagai salah satu upaya pendidikan karakter berwawasan lingkungan

    Get PDF
    Kerusakan lingkungan akhir-akhir ini semakin terasa dampaknya bagi masyarakat. Keterlibatan semua pihak diperlukan untuk mengendalikan dan memperbaikinya, termasuk keterlibatan pelaku pendidikan. Pembelajaran matematika di sekolah dituntut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Nilai-nilai positif yang dimaksud adalah nilai peduli terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Artikel ini menguraikan terlebih dahulu tujuan dan fungsi pembelajaran matematika di sekolah, kemudian dikaitkan dengan perannya dalam pembentukan karakter berwawasan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup yang diintegrasikan dalam pembelajaran matematika ini disebut sebagai pembelajaran matematika hijau. Peran guru sangat penting sebagai subjek atau pelaku pendidikan di sekolah. Peran guru tersebut adalah dalam hal mengembangkan konsep dan contoh permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan isu lingkungan. Tujuannya adalah selain siswa menguasi matematika juga tertanamnya nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup dalam diri siswa sehingga akan membawa manfaat bagi kesejahteraan umat manusia.Kerusakan lingkungan akhir-akhir ini semakin terasa dampaknya bagi masyarakat. Keterlibatan semua pihak diperlukan untuk mengendalikan dan memperbaikinya, termasuk keterlibatan pelaku pendidikan. Pembelajaran matematika di sekolah dituntut berpartisipasi dan berkontribusi dalam pembentukan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Nilai-nilai positif yang dimaksud adalah nilai peduli terhadap upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Artikel ini menguraikan terlebih dahulu tujuan dan fungsi pembelajaran matematika di sekolah, kemudian dikaitkan dengan perannya dalam pembentukan karakter berwawasan lingkungan. Pendidikan lingkungan hidup yang diintegrasikan dalam pembelajaran matematika ini disebut sebagai pembelajaran matematika hijau. Peran guru sangat penting sebagai subjek atau pelaku pendidikan di sekolah. Peran guru tersebut adalah dalam hal mengembangkan konsep dan contoh permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dikaitkan dengan isu lingkungan. Tujuannya adalah selain siswa menguasi matematika juga tertanamnya nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup dalam diri siswa sehingga akan membawa manfaat bagi kesejahteraan umat manusia

    Deskripsi kemampuan komunikasi matematis mahasiswa pada mata kuliah geometri analitik bidang

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis mahasiswa pada mata kuliah geometri analitik bidang. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa semester I kelas A angkatan 2014 Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Data penelitian ini diperoleh melalui observasi, wawancara  dan dokumentasi. Data yang didapatkan berupa kemampuan komunikasi matematis kemudian direduksi, dianalisis, disajikan data dalam bentuk kualitatif, dan ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi mahasiswa yang tercermin pada setiap indikator-indikator kemampuan komunikasi mahasiswa tampak pada pembelajaran Geometri Analitik Bidang

    Membangun kepribadian dengan nilai-nilai pendidikan matematika

    Get PDF
    Pendidikan merupakan sarana yang sangat tepat dalam membantu manusia untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik atau karakter baik atau pribadi yang positif atau berakhlak mulia dalam menjalan ikhtiar/syariat kehidupan sesuai dengan tuntunan agama yang diturunkan Allah melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dengan kata lain menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai religius atau menjadi manusia religius dalam istilah filsafat atau manusia yang utuh dalam istilah Negara. Matematika sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, hendaknya tidak hanya dipandang memiliki makna krusial, melainkan juga harus sampai pada makna esensial yang mengandung nilai edukasi sebagai pembentuk kepribadian. Aktualisasi nilai-nilai pendidikan matematika melalui pengungkapan dan penekanan nilai-nilai yang terkandung dari proses pembelajaran melalui pemaknaan.Pendidikan merupakan sarana yang sangat tepat dalam membantu manusia untuk mengembangkan potensi diri agar menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik atau karakter baik atau pribadi yang positif atau berakhlak mulia dalam menjalan ikhtiar/syariat kehidupan sesuai dengan tuntunan agama yang diturunkan Allah melalui Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dengan kata lain menjadi manusia yang memiliki nilai-nilai religius atau menjadi manusia religius dalam istilah filsafat atau manusia yang utuh dalam istilah Negara. Matematika sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, hendaknya tidak hanya dipandang memiliki makna krusial, melainkan juga harus sampai pada makna esensial yang mengandung nilai edukasi sebagai pembentuk kepribadian. Aktualisasi nilai-nilai pendidikan matematika melalui pengungkapan dan penekanan nilai-nilai yang terkandung dari proses pembelajaran melalui pemaknaan

    Keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan STAD "Plus" pada materi trigonometri

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, serta pembelajaran konvensional; 2) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif (tipe STAD dan tipe STAD “plus”) dan pembelajaran konvensional; dan 3) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, dalam pembelajaran matematika materi trigonometri ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar siswa SMA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan dua kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Sampel penelitian terdiri dari tiga kelas yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian adalah instrumen tes prestasi, angket minat dan motivasi belajar. Analisis data meliputi: 1) uji t one sample; 2) analisis multivariat dengan Helmert Contrast; 3) uji lanjut dengan Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” efektif ditinjau dari minat dan motivasi tetapi tidak efektif ditinjau dari prestasi, sedangkan pembelajaran konvensional tidak efektif ditinjau dari ketiga variabel dependen; 2) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” lebih efektif daripada pembelajaran konvensional ditinjau dari minat dan motivasi belajar matematika siswa; 3) tidak terdapat perbedaan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar matematika siswa.Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan keefektifan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, serta pembelajaran konvensional; 2) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif (tipe STAD dan tipe STAD “plus”) dan pembelajaran konvensional; dan 3) membandingkan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus”, dalam pembelajaran matematika materi trigonometri ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar siswa SMA. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan dua kelompok eksperimen dan satu kelompok kontrol. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Sampel penelitian terdiri dari tiga kelas yang dipilih secara acak. Instrumen penelitian adalah instrumen tes prestasi, angket minat dan motivasi belajar. Analisis data meliputi: 1) uji t one sample; 2) analisis multivariat dengan Helmert Contrast; 3) uji lanjut dengan Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” efektif ditinjau dari minat dan motivasi tetapi tidak efektif ditinjau dari prestasi, sedangkan pembelajaran konvensional tidak efektif ditinjau dari ketiga variabel dependen; 2) pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” lebih efektif daripada pembelajaran konvensional ditinjau dari minat dan motivasi belajar matematika siswa; 3) tidak terdapat perbedaan keefektifan antara pembelajaran kooperatif tipe STAD dan tipe STAD “plus” ditinjau dari prestasi, minat, dan motivasi belajar matematika siswa

    97

    full texts

    99

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Math Didactic: Jurnal Pendidikan Matematika
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇