Jurnal Analisa
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
Analysis of Mathematical Reasoning Ability Reviewed Based on The Level of Mathematical Anxiety
Kemampuan penalaran matematika merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa. Oleh karenanya guru sebagai pendidik, harus dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematika selama proses pembelajaran sekaligus mengurangi hambatan siswa dalam belajar matematika. Namun demikian kenyataanya ada hambatan kecemasan yang dialami oleh siswa yang tidak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan penalaran matematika siswa ditinjau berdasarkan tingkat kecemasan matematika. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek dalam penelitian berjumlah 6 orang siswa yang dipilih dari tiap kategori kecemasan matematika. Instrumen pendukung dalam penelitian ini meliputi: 1) Angket Kecemasan Matematika; 2) Tes Kemampuan Penalaran matematika; 3) Pedoman Wawancara. Dari hasil analisis diketahui bahwa siswa dengan tingkat kecemasan matematika rendah yaitu S1 dan S2 dapat memenuhi 3 dari 4 indikator penalaran matematika; siswa dengan tingkat kecemasan matematika sedang yaitu S6 mampu memenuhi 1 dari 4 indikaor penalaran matematika dan S16 tidak mampu memenuhi semua indikator penalaran matematika; siswa dengan tingkat kecemasan matematika tinggi yaitu S11dan S20 tidak mampu memenuhi semua indikator penalaran matematika. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan pertimbangan bagi peneliti lain dan guru dalam memilih strategi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan penalaran matematika sekaligus mengurangi tingkat kecemasan siswa. Mathematical reasoning ability is a basic ability that must be possessed by students. Teachers as educators must be able to improve to learning mathematics. However, in reality there are anxiety barriers experienced by students who are not known. The purpose of this study was to analyze and describe students\u27 mathematical reasoning abilities in terms of their level of math anxiety. This research is a qualitative research with descriptive method. Supporting instruments in this study include: 1) Mathematical Anxiety Questionnaire; 2) Mathematical Reasoning Ability Test; 3) Interview Guidelines. The Result known that students with low levels of math anxiety, namely S1 and S2, can fulfill 3 of the 4 indicators of mathematical reasoning; students with a moderate level of math anxiety, namely S6 were able to fulfill 1 of 4 indicators of mathematical reasoning and S16 were not able to fulfill all indicators of mathematical reasoning; students with high levels of math anxiety, namely S11 and S20, were unable to fulfill all indicators of mathematical reasoning. The results of this study are expected to be a reference for other researchers and teachers in choosing learning strategies so that they can improve mathematical reasoning abilities while reducing students\u27 anxiety levels
The Development of Problem Solving-Based Interactive Learning Media to Improve Mathematical Communication and Self-Regulated Skill
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran interaktif valid, praktis, dan efektif yang dikembangkan melalui model Problem Based Learning, menganalisis peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan self-regulated learning siswa dengan menggunakan media pembelajaran interakitf model Problem Based Learning, serta menganalisis proses jawaban siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan komunikasi  matematis.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian  pengembangan dengan menggunakan model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 8 SMP. Penelitian ini menghasilkan media pembelajaran interaktif yang berupa RPP, lembar kerja peserta didik, tes kemampuan komunikasi matematis siswa, dan angket self-regulated learning. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran interaktif yang dikembangkan melalui model Problem Based Learning valid, praktis, dan interaktif, adanya peningkatan kemampuan komunikasi matematis dan self-regulated learning siswa menggunakan media pembelajaran interakitf melalui model Problem Based Learning, serta pada  proses jawaban, jenis kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam menyelesaikan tes kemampuan komunikasi matematika adalah konsep, operasi perhitungan, dan prinsip. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar guru dapat menggunakan perangkat pembelajaran ini guna menumbuhkembangkan kemampuan komunikasi matematis matematis siswa. This research aims to produce valid, practical, and effective interactive learning media developed through the Problem Based Learning model, analyzing the increase in students\u27 mathematical communication skills and self-regulated learning using interactive learning media using the Problem Based Learning model, also analyzing the process of students\u27 answers in solving mathematical communication ability test. This research is development research using the 4D model (Define, Design, Develop, Disseminate). The subjects of this research were class VIII students of junior high school. This research produces interactive learning media in the form of lesson plans, student worksheets, tests of students\u27 mathematical communication skills, and self-regulated learning questionnaires. The results of this research show that the interactive learning media developed through the Problem Based Learning model was valid, practically, and effectively, increased students\u27 mathematical communication skills and self-regulated learning using interactive learning media through the Problem Based Learning model, also in the answer process, the types of errors that students often make in completing mathematical communication ability tests are concepts, calculation operations, and principles. Based on the results of this research, the researcher suggests that teachers can use this learning tool to develop students\u27 mathematical communication skills
Students\u27 Pseudo-Thinking Process in Solving SPLDV Problems Based on Polya\u27s Stages
Proses berpikir pseudo siswa terdiri dari pseudo benar dan pseudo salah, dapat dilihat dari cara menyelesaikan soal SPLDV berdasarkan tahapan Polya. Masalah yang akan dikaji adalah proses berpikir pseudo siswa saat menyelesaikan soal SPLDV dengan tahapan Polya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses berpikir pseudo siswa dalam memecahkan masalah berdasarkan Tahapan Polya. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Kota Jambi, Provinsi Jambi, dengan subjek penelitian 2 siswa kelas 8 untuk materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Metode yang diguanakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi data, adapun instrumen penelitian menggunakan tes pemecahan masalah dan pedoman wawancara. Analisis data yang dilakukan terdiri dari reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Temuan dari penelitian ini adalah: 1) Pada proses pemecahan masalah matematis, terdapat siswa yang menjawab benar akan tetapi saat di wawancara ternyata siswa hanya hafal rumus dan tidak memahami konsep, ini dinamakan pseudo benar. 2) Pada proses pemecahan masalah matematis, terdapat siswa yang menjawab salah tetapi setelah diwawancara siswa dapat merefleksikan sehingga mampu memperbaiki jawaban, ini dinamakan pseudo salah. Berdasarkan hasil penelitian, saat mengajar guru dapat mengetahui mana siswa yang benar-benar berpikir dan mana yang berpikir pseudo. The student\u27s pseudo thought process consists of pseudo-true and pseudo-false, it can be seen from how to solve SPLDV problems based on Polya\u27s stages. The problem to be studied is the pseudo thought process of students when solving SPLDV problems with Polya\u27s stages. This study aims to describe the pseudo thought process of students in solving problems based on Polya\u27s stages. This research was conducted at one of the Jambi City Junior High Schools, Jambi Province, with the research subject 2 students of 8th grade students for the material of the System of Linear Equations of Two Variables. The method used in this research is qualitative research. Data collection was carried out by triangulating data, while the research instruments used problem solving tests and interview guidelines. The data analysis consisted of data reduction, data display and conclucing drawing/verification. The findings of this study are: 1) In the process of solving mathematical problems, there are students who answer correctly but when interviewed it turns out that students only memorize formulas and do not understand concepts, this is called pseudo correct. 2) In the process of solving mathematical problems, there are students who answer incorrectly but after being interviewed students can reflect so that they can improve their answers, this is called pseudo-false. Based on the results of the study, when teaching teachers can find out which students are really thinking and which ones are pseudo thinking
Analysis of context utilization in mathematics learning based on teacher competency
Pemahaman konteks matematika merupakan kemampuan yang penting dikuasai siswa dalam rangka memaknai matematika. Namun data lapangan menunjukan pemahaman konteks yang dimiliki siswa masih tergolong rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pemanfaatan konteks yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran matematika serta mengetahui faktor – faktor apa saja yang menjadi penghambat sekaligus pendukung pemanfaatan konteks dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian fenomenologi. Partisipan penelitian ini adalah guru matematika sekolah SLTA sebanyak 8 orang yang sudah mengajar setidaknya 2 tahun. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemanfaatan konteks yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran matematika masih mengalami keterbatasan baik dari segi metode penyampaian maupun dari segi jenis konteks yang digunakan. Adapun faktor – faktor yang menjadi penghambat sekaligus pendukung pemanfaatan konteks dalam pembelajaran matematika yaitu kemampuan guru, jenis dan tingkat kesulitan materi, kemampuan dan motivasi siswa, serta ketersediaan media. Understanding the context of mathematics is an important ability for students to master in order to interpret mathematics. However, field data shows that students\u27 understanding of the context is still relatively low. The purpose of this study is to analyze the use of context by teachers in learning mathematics and to find out what factors inhibit and support the use of context in learning mathematics. This study uses a qualitative approach with phenomenological research methods. The participants of this study were 8 high school mathematics teachers who had taught for at least 2 years. The results of this study indicate that the use of context by teachers in learning mathematics is still experiencing limitations both in terms of the method of delivery and in terms of the type of context used. The factors that inhibit and support the use of context in learning mathematics are the ability of the teacher, the type and level of difficulty of the material, the ability and motivation of students, and the availability of media.Â
Improving Mathematical Literacy Based on Ethnomathematical Approach in Congklak Game
Hasil Program International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018, dalam kategori literasi, Indonesia menduduki peringkat ke-74 dari 79 negara, sedangkan untuk penilaian kemampuan matematika dan kemampuan sains, Indonesia berada di peringkat ke-73 dan peringkat ke-71 dari peringkat ke-79 negara peserta PISA. Dalam hal ini pengaruh literasi berperan besar dalam kemampuan matematika. Literasi matematika merupakan kemampuan memahami, memecahkan masalah, memanipulasi untuk di tuangkan sebagai bentuk matematis. Etnomatematika sebagai peranan penting dalam meningkatkan literasi matematis, karena etnomatematika memuat sebuah unsur budaya, adat istiadat maupun permainan tradisional. Pada unsur etnomatematika memiliki unsur pola matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan literasi matematika melalui pendekatan etnomatematika pada permainan congklak permainan tradisional yang memuat unsur pola matematis berupa operasi hitung. Penelitian ini dilakukan pada kelas VA dan VB di SDN Menes 1, Pandeglang, Banten. Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan metode penelitian quasi experiment dan desain penelitian ini adalah Pretest-Posttest Control Group non-ekuivalen Design. Instrumen penelitian ini adalah dengan pengumpulan data dari tes kemampuan literasi matematis etnomatematika pada Congklak dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya perbedaan peningkatan kemampuan literasi matematis antara kelas VB kelas Eksperimen dan VA kelas Kontrol. Peningkatan kemampuan literasi matematis kelas VB lebih tinggi dari kelas VB. The results of the International Student Assessment Program (PISA) in 2018, in the literacy category, Indonesia was ranked 74th out of 79 countries, while for the assessment of mathematics ability and science ability, Indonesia was ranked 73rd and 71st respectively. -79 countries participating in PISA. In this case, the influence of literacy plays a major role in mathematical abilities. Mathematical literacy is the ability to understand, solve problems, manipulate to be expressed in mathematical form. Ethnomathematics plays an important role in increasing mathematical literacy, because ethnomathematics contains an element of culture, customs and traditional games. The element of ethnomathematics has elements of mathematical patterns. The aim of this research is to determine the increase in mathematical literacy skills through an ethnomathematics approach to the traditional game congklak which contains elements of mathematical patterns in the form of arithmetic operations. This research was conducted in VA and VB classes at SDN Menes 1, Pandeglang, Banten. This research is quantitative with a quasi-experimental research method and the research design is a non-equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. The instrument of this research was data collection from ethnomathematics mathematical literacy skills tests in Congklak and interviews. The research results showed that there was a difference in increasing mathematical literacy skills between the VB experimental class and the Control class VA. The increase in mathematical literacy skills in the VB class is higher than in the VB class
Cognitive Flexibility in Developing Higher-Order Thinking Skills in the Course of Ring Theory
Mata kuliah Teori Ring merupakan salah satu mata kuliah bidang matematika yang cukup ketat dalam memberlakukan sistem deduktif-aksiomatik, namun mahasiswa kesulitan memecahkan masalah karena kurang bisa berpikir secara fleksibel saat menerima informasi baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara cognitive flexibility dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Metode penelitian yang digunakan adalah korelasional Ex Pose Facto. Penelitian dilakukan di Prodi Pendidikan Matematika UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jumlah mahasiswa yang diteliti sebanyak 120 orang sebesar 1,2%. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Cognitive Flexibility memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi sebesar . Pengaruh positif ini bermakna semakin meningkatnya Cognitive Flexibility mahasiswa maka akan berpengaruh terhadap peningkatan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi mahasiswa, sehingga akan memberikan impact pada kemampuan yang dihasilkan dari keterampilan mengerjakan soal HOTS terhadap kemampuan fleksibilitas kognitif yang pada akhirnya terwujud sebuah produk manusia yang siap menghadapi tantangan kompleksitas masalah. The Ring Theory course is one of the mathematics courses that are quite strict in applying deductive-axiomatic systems, but students have difficulty solving problems because they are less able to think flexibly when receiving new information. This study aimed to determine the relationship between cognitive flexibility and Higher-Order Thinking Skills (HOTS). The research method used is correlational Ex Pose Facto. The research was conducted at the Mathematics Education UIN Sunan Gunung Djati Bandung with the number of students studying as many as 120 people amounting to 1.2%. The data analysis technique used is a simple linear regression test. Based on the study results, it can be concluded that Cognitive Flexibility positively influences higher-order thinking skills. This positive influence means that the increasing Cognitive Flexibility of students will affect the improvement of students\u27 higher-order thinking skills, it will have an impact on the abilities resulting from the skills of doing HOTS questions on the ability of cognitive flexibility which ultimately materializes a human product that is ready to face the challenges of problem complexity
Implementation of Cognitive Learning Theory in Polya Learning to Improve Mathematical Problem Solving Ability
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan teori pembelajaran kognitif dalam pembelajaran Polya terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di salah satu SMA di Magelang menggunakan desain penelitian eksperimen. Subjek penelitian adalah siswa kelas 10 yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerima pembelajaran Polya dengan penerapan teori pembelajaran kognitif, sementara kelompok kontrol menerima pembelajaran Polya tanpa penerapan teori pembelajaran kognitif. Data dikumpulkan melalui tes dan observasi kelas. Hasil analisis data menggunakan software SPSS dengan teknik analisis statistik ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan dalam kemampuan pemecahan masalah matematika siswa pada kelompok eksperimen setelah intervensi. Hasil analisis observasi kelas menunjukkan adanya peningkatan interaksi antara siswa dan guru serta penggunaan strategi metakognitif oleh siswa dalam kelompok eksperimen. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan teori pembelajaran kognitif dalam pembelajaran Polya secara signifikan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di SMA di Magelang. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penerapan teori pembelajaran kognitif dalam pembelajaran Polya sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di SMA di Magelang. This study aims to test the effectiveness of the application of cognitive learning theory in Polya learning on the mathematical problem-solving ability of students in one of the high schools in Magelang using an experimental research design. The subjects of the study were 10th-grade students who were divided into an experimental group and a control group. Data were collected through classroom tests and observations. The results of data analysis using SPSS software with ANOVA statistical analysis techniques showed that there were significant differences between groups. In addition, the results of the analysis showed that there was a significant improvement in students\u27 mathematical problem-solving abilities in the experimental group after the intervention. Based on the results of the study, it can be concluded that the application of cognitive learning theory in Polya learning significantly improves the mathematical problem-solving ability of students in high school in Magelang. Therefore, this study recommends the application of cognitive learning theory in Polya learning as an alternative to improve students\u27 mathematical problem-solving skills in high school in Magelang
The Development of Think Pair Share-Based Learning Tools to Improve Mathematical Metacognition and Communication Abilities
Penelitian ini menguji validitas, kelayakan, dan keefektifan metode pembelajaran Think Pair Share untuk meningkatkan metakognisi dan komunikasi matematis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan 4-D. Penelitian ini melibatkan siswa SMP Negeri di Panyabungan kelas VIIIA dan VIII-B. Penelitian ini menemukan bahwa: perangkat pembelajaran Think Pair Share Buku Siswa, Lembar Kerja Peserta Didik, Tes Kemampuan Metakognisi Matematis, dan Tes Kemampuan Komunikasi Matematis valid; perangkat pembelajaran berbasis Think Pair Share praktis; perangkat dapat digunakan dengan sedikit revisi dan hasil observasi perangkat pembelajaran di kelas menunjukkan rata-rata nilai kepraktisan Trial II siswa mempunyai pre-test sebesar 20,83% dan post-test sebesar 87,50%, serta lebih dari 80% siswa menyukai perangkat pembelajaran dan 85% setiap komponen keterlibatan siswa membuktikan siswa belajar; kemampuan metakognisi dan komunikasi matematis siswa menggunakan perangkat pembelajaran berbasis Think Pair Share yang dikembangkan meningkat dengan skor N-gain 0,54 untuk kemampuan metakognisi matematis dan 0,52 untuk kemampuan komunikasi matematis. This research tested the validity, feasibility and effectiveness of the Think Pair Share learning method to improve students\u27 metacognition and mathematical communication. This research is 4-D development research. This research involved State Middle School students in Panyabungan classes VIIIA and VIII-B. This research found that: the Think Pair Share learning tools: Student Books, Student Worksheets, Mathematical Metacognition Ability Tests, and Mathematical Communication Ability Tests were valid; think Pair Share based learning tools are practical; the tools can be used with a little revision and the results of observations of learning tools in class show that the average practicality score for Trial II students has a pre-test of 20.83% and a post-test of 20.83%. 87.50%, as well as more than 80% of students like learning tools and 85% of each component of student engagement proves students are learning; students\u27 mathematical metacognition and communication abilities using the developed Think Pair Share-based learning tool increased with an N-gain score of 0.54 for mathematical metacognition abilities and 0.52 for mathematical communication abilities
The Development of Website-based Faimathematics in Mathematics Learning to Increase Student Learning Interest
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan Faimathematics berbasis website dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan minat belajar siswa. Penelitian pengembangan ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terdiri dari 5 tahapan yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Produk yang dihasilkan adalah media pembelajaran berbasis website (Faimathematics). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah non tes berupa lembar validasi dan angket minat belajar. Subjek penelitian ini terdiri dari  6 orang siswa kelas IX A pada skala kecil dan 23 orang siswa kelas IX B pada skala besar di SMPN. Hasil penelitian ini menunjukkan: validitas ahli media dengan kriteria sangat valid, validitas ahli materi dengan kriteria sangat valid, validitas ahli pedagogik dengan kriteria sangat valid, dan validitas ahli bahasa dengan kriteria sangat valid. Hasil uji praktikalitas oleh siswa pada uji coba skala kecil mendapat hasil sangat praktis, hasil uji praktikalitas oleh siswa pada uji coba skala besar mendapat hasil praktis, dan hasil uji praktikalitas oleh guru mendapat hasil praktis. Peningkatan minat belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan Faimathematics termasuk dalam kategori sedang. The purpose of this study is to develop website-based Faimathematics in mathematics learning to improve students learning interest. This development research uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model which consists of 5 stages namely Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The resulting product is a website-based learning media (Faimathematics). The Data collection techniques used in this study were a non-test in the form of validation sheets and interest in learning questionnaires. The subjects of this study consisted of 6 students of class IX A on a small scale and 23 students of class IX B on a large scale at SMPN. The results showed: The validity of media experts with very valid criteria, the validity of material experts with very valid criteria, the validity of pedagogic experts with very valid criteria, and the validity of linguists with very valid criteria. The results of practicality tests by students in small-scale trials got very practical results, the results of practicality tests by students in large-scale trials got practical results, and the results of practicality tests by teachers got practical results. Increasing students\u27 interest in learning after participating in learning mathematics using Faimathematics is included in the medium category
The Influence of Batak Culture Problem Based Learning Models to Junior High School Students\u27 Computational Thinking Ability
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan berpikir komputasi siswa dengan model pembelajaran berdasarkan masalah-berbasis budaya Batak (PBM-B3) dengan konvensional). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Pembelajaran Berdasarkan Masalah-Berbasis Budaya Batak dengan subjek penelitian 46 orang siswa kelas VIII di SMP Advent 2 Medan. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir komputasi siswa pada materi sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir komputasi antara siswa yang diberi pembelajaran berdasarkan masalah berbasis budaya batak dengan siswa yang diberi pembelajaran langsung. Secara deskriptif diperoleh rata-rata postes eksperimen 1 adalah 86,96, sedangkan eksperimen 2 adalah 78,04. Berdasarkan indeks gain ternormalisasi, diperoleh bahwa pada uji coba II terjadi peningkatan kemampuan berpikir komputasi siswa sebesar 0,25. This research aims to determine whether there are differences in students\u27 computational thinking with conventional problem-based learning models based on Batak culture (PBM-B3). This research is a quasi-experimental research. The model used in this research is a problem-based learning model based on Batak culture with research subjects of 46 class VIII students at SMP Advent 2 Medan. The object of this study is students\u27 computational thinking skills in the matter of a system of two-variable linear equations (SPLDV). The results of the research show that there are differences in computational thinking abilities between students who were given learning based on problems based on Batak culture and students who were given direct learning. Descriptively, the average post-test for experiment 1 was 86.96, while experiment 2 was 78.04. Based on the normalized gain index, it was found that in trial II there was an increase in students\u27 computational thinking abilities of 0.25 (criterion "medium")