ARISTO
Not a member yet
366 research outputs found
Sort by
PERILAKU MASYARAKAT DESA SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENYAKIT HIPERTENSI
Hypertension is an abnormal increase in blood pressure in the arteries continuously over a period. People with hypertension are very heterogeneous and suffered by people who come from different sub - groups at risk in the community. Hypertension is influenced by multiple risk factors, both endogenous such as age, gender and genetics / heredity, or exogenous, such as eating behavior or unhealthy diet (obesity), the behavior of salt intake, smoking and coffee drinking behavior). The purpose of this study is to get an idea of the behavior of the community as a risk factor for hypertension, and analyze the behavior of the dominant society as a risk factor for hypertension. The study was conducted in the village Slahung Ponorogo, a representative sample of 100 respondents taken by purposive sampling. Design Cross sectional quantitative design. The instrument of this study using questionnaires and observation sheets. Analysis using frequency distribution. The result showed the eating behavior or unhealthy diet (obesity) is a risk factor with the highest prevalence of hypertension with a percentage of 88% or 88 respondents. The behavior of the community as a risk factor for hypertension in sequence from the most dominant is eating behavior or unhealthy diet (obesity) a number of 88 respondents, coffee consumption behavior of a number of 77 respondents, some 66 respondents smoking behavior and excessive salt consumption behavior a number of 14 respondents. With these results it is possible the respondents have more than one behavior as a risk factor for hypertension. For that is expected to increase healthy behavior in an effort to prevent hypertension disease risk factors that can lead to complications. In addition to the sustainability of this study, the researchers will further examine the behavior of the community in preventing complications of hypertension in rural communities.Keywords : Behavior, Rural Communities, Risk Factors, Disease Hypertension
ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan pada dasarnya menyangkut berbagai hal, mulai dari aspek fisik sampai perubahan kehidupan manusia. Perubahan kehidupan manusia atau terkait dengan lingkungan kehidupannya itulah yang kemudian disebut sebagai perubahan sosial. Sejumlah pertanyaan tersebut menggambarkan realitas sosial dengan berbagai dinamikanya sejalan dengan pilihan jawaban yang ditetapkan. Menjawab pertanyaan tersebut Charles F. Andrain mengemukakan klasifikasi pola perubahan sosial sebagai berikut :Pertama, Golongan revolusioner, mengambil pilihan perubahan sosial secara fundamental dan cepat dengan kekerasan secara meluas untuk menggugah massa yang pasif dan membalas tekanan elit yang menentang perubahan.Islam sebagai sistem keyakinan atau tata nilai memuat generalisasi atau konseptualisasi yang memberikan kerangka bagaimana seharusnya manusia berpikir dan berperilaku dalam hidup dan kehidupan bersama. Fanatisme kelompok atau golongan di internal umat Islam itu sendiri dengan klaim-klaim kebenarannya yang final telah mereduksi universalitas ajaran Islam itu sendiri, termasuk peluangnya untuk mengambil peran potensial dalam mendorong perubahan sosia
KORUPSI DAN PELANGGARAN HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA DI INDONESIA
Korupsi merupakan budaya yang sudah lumrah terjadi di Indonesia, dalam keseharian perpolitikan di Indonesia bahkan tidak akan lepas dari aktifitas korupsi dimana pada kenyataannya korupsi sendiri akan berdampak sistemik bukan hanya berdapmapa kepada kemakmuran Negara tetapi juga berdampak kepada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kesejahteraan Masyarakat sesungguhnya dapat dilihat dari tingkat pemenuhan hak EKOSOB (Ekonomi, Sosial dan Budaya), ketiga poin tersebut merupakan bagian kecil indikator kesejahteraan rakyat. Bersama-sama dengan Hak Sipil, hak ekosob telah diakui secara internasional sebagai bagian dari the international bill of human rights. Kerangka hukumnya menjadi semakin jelas setelah hak-hak tersebut dituangkan dalam perjanjian multilateral yang tertuang dalam Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (selanjutnya disingkat CESCR), yang disahkan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966 sebagai pelaksanaan dari prinsip-prinsip yang dimuat dalam DUHAM 1948. Kewenangan negara yang dalam hal ini adalah pemerintah untuk menjamin hak-hak ekonomi, sosial dan budaya di indonesia dirasa tidak memenuhi hasil yang memadai sehingga dapat dilihat dengan masih banyaknya pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya tingkat pendidikan warga negara. Selain itu, tingkat korupsi di Indonesia masih sangat tinggi dibanding negara-negara lain yang menyebabkan tingkat pelanggaran hak EKOSOB di Indonesia masih sangat tinggi
PEMAHAMAN MAHASISWA MENGENAI IDENTITAS DAN PRIVASI DALAM MENGGUNAKAN FACEBOOK (Studi Fenomologi Pada Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNMUH Ponorogo)
ABSTRA
MEDIA MASSA DAN RUANG PUBLIK (Public sphere), SEBUAH RUANG YANG HILANG
Ruang publik dipahami sebagai ruang kehidupan Meminjam konsep Habermas tentang ruang publik (public sphere), bahwa manusia selalu berada dalam ruang kehidupan. Dalam ruang hidup tersebut ada proses interaksi dan komunikasi dengan sesama dalam sebuah ruang pula, inilah yang disebut ruang publik. Habermas mengatakan, semua wilayah atau ruang kehidupan sosial yang memungkinkan adanya terbentuk pendapat umum (public opinion) dapat dipahami sebagai ruang public. Berkaca pada pemikiran Habermas, posisi media massa awalnya menjadi sarana atau distribusi informasi dalam ruang publik. Media massa menjadi katarsis (perekat) kepentingan yang berjalan dalam logika ruang publik. Sehingga, posisi media massa masih sebagai perpanjangan tangan dari manusia; dalam konteks ruang publik tentu saja pemerintah dan masyarakat, karena itu apakah bisa dikatakan ruang public adalah sebuah ruang yang hilang, hanya kita sendiri yang bisa menjawab