JTK (Jurnal Tadris Kimiya)
Not a member yet
189 research outputs found
Sort by
LEMBAR KERJA BERBASIS PROYEK PADA PEMBUATAN KRIM ANTIJAMUR
Konsep koloid bersifat abstrak dengan contoh konkrit, sehingga diperlukan suatu lembar kerja praktik aplikatif yang sesuai dengan konsep tersebut. Pemanfaatan lengkuas dalam bentuk krim antijamur dengan pengaplikasian pembelajaran proyek, dapat mewujudkan pembelajaran yang bersifat bermakna dan dekat dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini untuk menyusun LK berbasis proyek, mengetahui uji kelayakan LK berbasis proyek, dan penentuan karakteristik terbaik krim antijamur dari berbagai variasi komposisi fasa terdispersi, pendispersi dan keberadaan zat tambahan. Lembar kerja dibuat menggunakan metode research and development. Prosedur dalam lembar kerja ditentukan melalui pembuatan dan analisis karakteristik krim antijamur dari fraksi nonpolar ekstrak aseton lengkuas. Hasil uji validasi terhadap format LK dinyatakan valid, dengan nilai rata-rata rhitung yang diperoleh sebesar 0,84, persentase keterbacaan LK adalah 97%, sedangkan karakteristik LK yang dihasilkan membuat siswa dapat menentukan konsep dan prosedur pembuatan sistem koloid emulsi, faktor yang mempengaruhi karakteristik emulsi dan penerapan koloid
PENINGKATAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS SISWA MELALUI TASK BASED LEARNING PADA LARUTAN BUFFER
Task based learning (TBL) adalah suatu pembelajaran yang menuntut siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir dalam memahami konsep-konsep yang dipelajari. Keterampilan generik sains memiliki indikator, di antaranya: pengamatan langsung, pengamatan tidak langsung, bahasa simbolik, inferensi logika, pemodelan matematik, dan membangun konsep. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan keterampilan generik sains siswa pada pembelajaran TBL larutan buffer. Metode penelitian yang digunakan adalah metode peneitian tindakan kelas dengan dua siklus sesuai ketercapaian KKM. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA-5 dari salah satu SMA negeri di kota Bandung sebanyak 32 orang. Instrumen yang digunakan adalah soal yang mengacu pada indikator keterampilan generik sains. Data hasil penelitian diolah dengan menggunakan statistika dekriptif persentase. Hasil tes keterampilan generik sains siswa mengalami peningkatan dengan rata-rata pada siklus I 70 dan siklus ke II 82. Maka hasil peneltian ini menunjukkan bahwa penerapan TBL dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan keterampilan generik sains siswa
PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK PADA KONSEP KOLOID UNTUK PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menelusuri keterampilan proses sains siswa yang dikembangkan oleh guru pada konsep koloid melalui pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini melibatkan subyek penelitian sebanyak 35 siswa. Data-data diperoleh dari lembar observasi pembelajaran untuk mengetahui keterampilan proses sains yang dikembangkan siswa dan angket yang digunakan untuk menjaring respon siswa terhadap pembelajaran. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa siswa telah memiliki semua indikator keterampilan proses sains yang termasuk kategori baik (nilai rerata 78,41). Siswa memberikan respon yang positif terhadap pembelajaran, karena merasa lebih paham, meningkatkan motivasi dan minat belajar
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN TPACK UNTUK MENINGKATKAN LITERASI SAINS
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran menggunakan pendekatan TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge) untuk meningkatkan literasi sains siswa. Perangkat pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS) pembelajaran. Metode penelitian ini adalah Research and Development yang terdiri dari tiga tahap yaitu pendefinisian, perancangan dan pengembangan. Pada tahap pendefinisian dilakukan persiapan studi awal. Pada tahap perancangan dilakukan untuk menentukan indikator, tujuan pembelajaran dan analisis materi laju reaksi. Pada tahan pengembangan dilakukan pengembangan langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada RPP dengan menggunakan pendekatan TPACK dan model discovery learning serta LKS pembelajaran yang akan diuji kelayakannya oleh dua orang dosen validator dan dua orang guru kimia Sekolah Menengah Atas (SMA). RPP dan LKS pembelajaran dikembangkan untuk meningkatkan literasi sains yang mencakup ketiga aspek yaitu aspek konteks sains, konten sains dan proses sains. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran dikatakan memiliki kelayakan yang baik dengan rata-rata skor untuk RPP yaitu 49,75 dan untuk LKS pembelajaran yaitu 43,5. Selain itu, uji kelayakan dengan menggunakan Aiken’s V perangkat pembelajaran dikatakan memiliki validitas yang tinggi dengan rata-rata nilai Aiken’s V yaitu 0,675. Dengan demikian, perangkat pembelajaran menggunakan pendekatan TPACK dengan model discovery learning dapat digunakan khususnya pada materi laju reaksi kimia
PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN DISCOVERY INQUIRY PADA KONSEP KOLOID
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterampilan berpikir kritis siswa setelah proses pembelajaran. Metode penelitian kelas digunakan dalam penelitian ini untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di kelas melalui penerapan pembelajaran discovery inquiry. Subjek penelitian ini adalah 42 siswa kelas XI IPA di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jawa Barat. Instrumen yang digunakan adalah deskripsi pembelajaran, lembar kerja siswa, tes keterampilan berpikir kritis, dan pedoman observasi. Hasil penelitian menunjukkan keterampilan berpikir kritis siswa setelah pembelajaran secara keseluruhan termasuk pada kategori sangat baik (nilai 81). Pencapaian keterampilan berpikir kritis tertinggi pada indikator mengidentifikasi contoh (89) dan terendah pada indikator membuat kesimpulan (72). Kelompok prestasi tinggi pencapaiannya tertinggi (90), sedangkan kelompok prestasi rendah pencapaiannya paling rendah (73)
PENGGUNAAN LEMBAR KERJA BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS MAHASISWA
Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kemampuan mahasiswa dalam menggunakan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) berbasis Problem Based Learning (PBL) pada penentuan kadar asam palmitat bebas dalam minyak goreng dan menganalisis keterampilan proses sains. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kelas pada mahasiswa mata kuliah kimia bahan makanan sebanyak 38 orang. Data diperoleh dari jawaban mahasiswa dalam menyelesaikan setiap tahapan LKM yang diberikan, sedangkan keterampilan proses sains didapat dari jawaban siswa pada LKM yang disesuaikan dengan indikator ketrampilan proses sains. Kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan LKM diinterpretasikan sebagai berikut : fase “orientasi pada masalah†baik (70.3), faseâ€belajar mandiri’ baik (76.0), fase â€penyelidikan†baik sekali (94.3), fase â€penyajian data†baik (72.7) dan fase “evaluasi hasil kerja†baik (72.4). Keterampilan proses sains mahasiswa secara keseluruhan diinterpretasikan baik dengan rata-rata 75.6, dengan perolehan nilai pada indikator mengamati 88.9, mengajukan pertanyaan 70.3, mengajukan hipotesis 70.8, menerapkan konsep 75.6, merancang percobaan 91,6, menyimpulkan 67.3 dan mengomunikasikan 73.
PENGGUNAAN TWO-TIER MULTIPLE CHOICE DIAGNOSTIC TEST DISERTAI CRI UNTUK MENGANALISIS MISKONSEPSI SISWA
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan miskonsepsi yang dialami siswa pada materi larutan elektrolit dan konsep redoks serta menjelaskan faktor-faktor penyebab miskonsepsi siswa. Sasaran penelitian adalah siswa kelas X SMAN 1 Tambang Tahun Ajaran 2016/2017. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data miskonsepsi siswa diperoleh dari tes diagnostik, wawancara, dan kuisioner. Intrumen tes diagnostik two-tier multiple choice  divalidasi isi dan konstruk oleh satu dosen ahli dan satu guru mata pelajaran kimia SMAN 1 Tambang serta divalidasi empirik oleh 25 siswa kelas XI IPA SMAN 1 Tambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10,63% siswa mengalami miskonsepsi, 32,73% siswa paham konsep, dan 56,64% siswa tidak paham konsep. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa disebabkan oleh kondisi siswa, buku pegangan dan guru.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan miskonsepsi yang dialami siswa pada materi larutan elektrolit dan konsep redoks serta menjelaskan faktor-faktor penyebab miskonsepsi siswa. Subyek penelitian adalah siswa kelas X SMAN 1 Tambang Tahun Ajaran 2016/2017. Sampel dipilih menggunakan teknikpurposive sampling. Data miskonsepsi siswa diperoleh dari tes diagnostik, wawancara, dan kuisioner. Intrumen tes diagnostik two-tier multiple choicedivalidasi isi dan konstruk oleh satu dosen ahli dan satu guru mata pelajaran kimia SMAN 1 Tambang serta divalidasi empirik oleh 25 siswa kelas XI IPA SMAN 1 Tambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10,63% siswa mengalami miskonsepsi, 32,73% siswa paham konsep, dan 56,64% siswa tidak paham konsep. Miskonsepsi yang terjadi pada siswa disebabkan oleh kondisi siswa, buku pegangan dan guru
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA BERBASIS INKUIRI PADA ANALISIS KAFEIN BERBAGAI BAHAN BAKU MINUMAN
Penelitian ini dilatar belakangi oleh perlunya melakukan pengembangan lembar kerja berbasis inkuiri pada materi praktikum Kimia Organik yaitu analisis kafein dalam minuman. Bahan baku minuman mengandung kafein yang digunakan dalam penelitian adalah biji cokelat, biji kopi, dan daun teh. Metode penelitian ini adalah Research and Development yang terdiri dari dua tahap yaitu perencanaan dan pengembangan. Pada tahap perencanaan dihasilkan prosedur analisis kafein secara kualitatif dengan metode Parry, pemisahan senyawa kafein dan analisis kuantitatif dengan spektrofotometer UV-Vis. Pada tahap pengembangan dihasilkan lembar kerja berbasis inkuiri diturunkan dari prosedur analisis kafein yang telah dilakukan di Laboratorium. Lembar kerja inkuiri hasil pengembangan ini memiliki karakteristik yaitu adanya wacana, pertanyaan dan tugas yang mendorong kegiatan berinkuiri serta dilengkapi dengan rubrik penilaian untuk mengukur proses dan produk yang dihasilkan oleh peserta didik. Lembar kerja berbasis inkuiri pada analisis kafein dari berbagai bahan baku minuman dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran dengan nilai rata-rata rhitung 0,8. Hasil analisis kafein dari berbagai bahan baku minuman menunjukkan kondisi optimum proses ekstraksi dicapai dengan menggunakan pelarut kloroform yaitu biji kopi memiliki kadar kafein tertinggi dengan nilai rata-rata sebesar 1,007%. Dengan demikian, lembar kerja berbasis inkuiri dapat digunakan dalam praktikum Kimia Organik khususnya pada materi pemisahan senyawa organik kafein
PERMAINAN “KIMIA KOTAK KATIK†SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PADA MATERI SISTEM PERIODIK UNSUR
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendiskripsikan tingkat kelayakan permainan “kimia kotak katik†ditinjau dari isi dan kontruksi serta untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada materi Sistem Periodik Unsur. Sasaran penelitian ini adalah 12 orang siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik. Rancangan penelitian menggunakan desain One Group Pretest-Postest. Hasil analisis data menunjukan bahwa permainan ini layak digunakan sebagai media pembelajaran dengan presentase kelayakan sebesar 83,33%. Ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 75%. Berdasarkan hasil uji coba, permainan kimia kotak katik layak untuk diterapkan untuk pembelajaran kimia
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA BERORIENTASI MULTIPEL REPRESENTASI KIMIA
Kesetimbangan kimia merupakan konsep abstrak/terdefinisi dengan contoh konkrit yang memerlukan pemahaman pada fenomena makroskopik, submikroskopik, simbolik serta keterhubungan ketiga levelnya. Namun bahan ajar yang digunakan pada pembelajaran kimia belum sepenuhnya mengembangkan keterhubungan multipel representasi (makroskopik, submikroskopik, dan simbolik). Penelitian Research and Development ini ditujukan untuk mengembangkan bahan ajar yang memenuhi keterhubungan tiga level representasi pada materi kesetimbangan kimia. Penelitian dilakukan melalui tiga tahap: 1) Studi pendahuluan meliputi (tahap analisis konsep, analisis representasi, storyboard), 2) Desain produk, 3) validasi dan uji kelayakan. Dari hasil penelitian didapatkan produk bahan ajar dengan menghubungkan tiga level representasi kimia. Representasi makroskopik disajikan dalam bentuk wacana fenomena kontekstual dan prosedur kerja percobaan, representasi submikroskopik divisualisasikan melalui gambar dan animasi video yang keterhubungannya disajikan dalam bentuk representasi simbolik. Validasi konten dilakukan melalui pertimbangan 6 orang ahli materi dan uji coba kelayakan bahan ajar terhadap 20 orang siswa. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba diperoleh kesimpulan bahwa bahan ajar yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran kimia