Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
160 research outputs found
Sort by
Gedrukan, Regeng, dan Pemicu Semangat Gerak: Makna Pemakaian Kelinthing dalam Pertunjukan Topeng Ireng
The discussion of art is closely related to the issue of symbols and meanings that has become the foundation on artistic buildings. This also clarifies the existence of art as one of the elements of the embodiment of culture in a society, such as the use of kelinthing in the Topeng Ireng performances. This paper uncovers and explains the forms of artistic expression symbols of the kelinthing and conception of the artist interpret as an element of the Topeng Ireng performances that developed and spread widely in Magelang and surrounding area. Ethnographic approach supported theories related, such as culture, philosophy, and aesthetics into a rationale as outlined by the scientific method in this paper. In this paper shows that the forms of artistic expression symbols of the kelinthing has various meanings associated with intrinsic value (form) and extrinsic value (content). The intrinsic value of kelinthing closely related to dance and music TopengIreng, while the extrinsic value of kelinthing closely related to sound in the show are interpreted regeng. In addition, kelinthing also be interpreted as a stimulus to the spirit of the motion of dancers. AbstrakPembahasan seni terkait erat dengan persoalan simbol dan muatan makna yang telah menjadi pondasi pada bangunan artistiknya. Hal ini sekaligus memperjelas keberadaan seni sebagai salah satu unsur perwujudan kebudayaan dalam suatu masyarakat, seperti pemakaian kelinthing dalam pertunjukan Topeng Ireng. Tulisan ini mengungkap dan menjelaskan bentuk simbol ungkap artistik kelinthing dan konsepsi seniman dalam memaknainya sebagai unsur pertunjukan Topeng Ireng yang berkembang dan tersebar secara luas di wilayah Magelang dan sekitarnya. Pendeketan etnografi dengan didukung teori-teori terkait, seperti kebudayaan, filsafat, dan estetika menjadi landasan pemikiran yang dituangkan dengan metode ilmiah dalam tulisan ini. Pada tulisan ini menunjukkan bahwa bentuk simbol ungkap artistik kelinthing memiliki makna yang berhubungan dengan nilai intrinsik (bentuk) dan nilai ekstrinsik (isi). Nilai intrinsik kelinthing berkaitan erat dengan gerak tari dan musik Topeng Ireng, sedangkan nilai ekstrinsik kelinthing berkaitan erat dengan bunyinya dalam pertunjukan yang dimaknai regeng. Di samping itu, kelinthing juga dimaknai sebagai pemicu semangat gerak penari
Perubahan Fungsi pada Ornamen Tionghoa Gereja Santa Maria De Fatima Jakarta
Gereja Santa Maria de Fatima merupakan sebuah bangunan rumah tinggal seorang kapitan Tionghoa. Pater Wilhelmus Kraus Van Eiden. SJ mengubah dan menetapkan bangunan rumah tinggal tersebut sebagai gereja Katholik. Sebagian ornamen–ornamen Tionghoa yang dipertahankan dianggap memiliki nilai filosofis karena pemilik sebelumnya merupakan seorang kapitan yang memilik kepercayaan Konfusius, Taoisme, dan Buddha (Tridharma). Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui elemen visual pada ornamen Tionghoa dan perubahan fungsi ornamen Tionghoa gereja Santa Maria de Fatima pada saat menjadi rumah tinggal dan setelah menjadi bangunan gereja. Teori yang digunakan pada artikel ini adalah estetika. Hasil memperlihatkan bahwa terdapat perubahan fungsi pada beberapa ornamen Tionghoa yang dipertahankan, dan melalui elemen visual pada ornamen Tionghoa dapat memberikan budaya baru di dalam gereja Katholik Indonesia. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ornamen Tionghoa yang dipertahankan memiliki bentuk khas yang memiliki nilai loso s yang berkaitan dengan nilai religi dan kebudayaan pemilik rumah ,fungsi ornamen Tionghoa juga berubah setelah bangunan dialih fungsikan sebagai bangunan gereja. Perubahan fungsi tergantung pada sudut pandang manusia itu sendiri
Budaya Pop Islam: Proses Transit dan Transisi Lagu Jaran Goyang Menjadi Ayo Move On
Penelitian ini membahas tentang perubahan lagu Jaran Goyang yang bergenre dangdut koplo, yang kemudian digubah menjadi lagu sholawatan dengan judul Ayo Move On. Kedua lagu tersebut memiliki latar belakang musik yang jauh berbeda, dimana lagu Jaran Goyang dimainkan oleh grup orkes dangdut koplo, sedangkan Ayo Move On dimainkan oleh grup hadrah Syubbanul Muslimin dari para santri remaja di Pondok Pesantren Nurul Qadim Probolinggo. Perubahan Lagu Jaran Goyang menjadi Ayo Move On mengalami proses transit (geografis) dan transisi (makna). Kedua lagu tersebut sama-sama popular melalui jejaring sosial youtube yang kemudian membentuk wacana baru di dalam budaya pop. Dengan menggunakan pisau analisis yang digagas oleh Maruška Svašek yaitu transit dan transisi, penulis mengungkap bagaimana proses yang terjadi dari perubahan kedua lagu tersebut, serta dampak yang ditimbulkan pada budaya pop khususnya budaya pop Islam yang dipengaruhi oleh kehadiran grup hadrah Syubbanul Muslimin. Kata Kunci: perubahan, dangdut koplo, sholawatan, budaya pop Islam
Metode Mengajar Kendang Tunggal I Ketut Widianta
I Ketut Widianta adalah seorang seniman karawitan Bali yang menekuni ilmu kendang tunggal dan sekaligus memiliki metode mengajar yang unik. Penelitian ini sangat penting untuk dilakukan, mengingat I Ketut Widianta memiliki metode mengajar yang sangat berbeda dengan guru-guru kendang tunggal lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengungkap bagaimana metode mengajar beliau, dari metode mengajar yang biasa dan yang tidak biasa. Penelitian ini akan di analisis dengan metode deskriptif kualitatif, dalam implementasinya menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah ditemukannya dua teknik mengajar yang dimiliki oleh I Ketut Widianta, yaitu teknik mengajar yang biasa dan tidak biasa. Teknik mengajar yang biasa diterapkan beliau dengan membagi kelas pengajaran menjadi beberapa jurusan, sedangkan teknik mengajar yang tidak biasa diterapkan beliau dengan menyuruh muridnya untuk memukul bantang kendang yang belum jadi
Akhudiat sebagai Penulis Naskah Drama Indonesia
Abstrak Akhudiat merupakan tokoh penulis naskah drama Indonesia yang benyak memberikan kotribusi terhadap perkembangan teater. Penelitian ini mengungkapkan latar belakang kreativitas Akhudiat, yang terdiri dari kehidupan masa kanak-kanak, proses pendidikan, berkesenian dan dukungan keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan naratif. Cerita naratif dalam penelitian menuturkan pengalaman individual, dikumpulkan melalui beragam bentuk data, disusun secara kronologis, dianalisis, mengandung titik balik dan berlangsung di tempat dan situasi yang spesifik. Data penelitian berfokus pada tokoh Akhudiat, naskah-naskah yang dihasilkan dan motivasi berkarya yang dilakukan. Pengambilan data dilakukan dengan proses observasi dan wawancara terhadap tokoh-tokoh yang terlibat dalam proses kesenian Akhudiat yaitu tokoh di Bengkel Muda Surabaya dan keluarganya. Selain itu proses pengumpulan data juga menggunakan kajian literatur berupa buku dan artikel yang berhubungan dengan Akhudiat dan proses berkaryanya.Kata Kunci : Akhudiat, naskah drama, tokoh, teate
Analisa Melodi pada Gending Sekati Ririg Cenik di Desa Adat Tejakula Kabupaten Buleleng
Gending sekati ririg cenik sebagai salah satu diantara kelima gending sekati yang ada di desa adat Tejakula kabupaten Buleleng. Pada sajiannya gending ini menggunakan barungan gamelan gong kebyar. Gending ini disajikan ketika masyarakat setempat sedang melaksanakan upacara dewa yadnya. Melodi merupakan unsur musikal yang bereperan penting dalam terbentuknya suatu karya musik. Gending sekati ririg cenik ini memiliki ciri khas atau keunikan yang dapat dilihat dari rangkaian nada yang disusun menjadi sebuah melodi. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dan menganalisa melodi pada gending sekati ririg cenik. Sehingga dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu bagaimana struktur melodi gending sekati ririg cenik di desa adat Tejakula? Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan informasi dan pemahaman terkait dengan melodi pada gending sekati ririg cenik di desa adat Tejakula kabupaten Buleleng
Estetika Gamelan Gong Gede di Desa Adat Tejakula: Ditinjau dari Tabuh (Gending)
Barungan gamelan Gong Gede adalah satu wujud dari berbagai bentuk di Bali. Penelitian artikel ini bertujuan untuk menganalisis estetika tabuh Gong Gede di Desa Adat Tejakula di Kabupaten Buleleng Bali. Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu mengungkapkan suatu masalah sesuai dengan logika yang ada dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data diperoleh dari sumber data primer berupa wawancara dengan informan Pande Gede Mustika dan Made Imawan (Jro Bau) dengan teknik purposive sampling. Data sekunder diperoleh melalui hasil dokumentasi pelaksanaan pertunjukkan Gamelan Gong Gede di Pura Desa Adat Tejakula. Hasil penelitian ini adalah mengetahui bentuk estetika pertunjukkan gending lelambatan Gamelan Gong Gede. Dalam penyajiannya, estetika pertunjukkan Gamelan Gong Gede yang terdapat di Desa Adat Tejakula diawali dengan tabuh gilak, tabuh telu, dan tabuh megending (tabuh pat dan tabuh nem). Dalam estetika terdapat wujud atau rupa (appreance), bobot atau isi (content), dan penampilan (presentation)
Kosmologi Sekala-Niskala Refleksi Estetika Lukisan I Nyoman Sukari
Philosophical reflection provides an understanding of all the activities of various components of the work of human works as a related entity in a network with one another. Language, myth, religion, and art and artists as human creators are not unrelated, but rather integrated into a single bond.I Nyoman Sukari as an artist, has a pluralistic and multicultural variety of artistic achievements bringing all the charm, experience, mystery, stories, mythology of Bali and Java inherent in his body, mind, and soul. The philosophical issues in Sukari's paintings are full of Balinese locality values and their multicultural nature; religiosity, mythology, history, scale, tradition art, cross-culture, and contemporary or globalization issues become more complex and multi-layered in aesthetic and metaphysical terms.In this article, I will investigate and study with a hermeneutic-metaphysical approach; what is the nature of the art for I Nyoman Sukari, how far the basic principles of Hindu aesthetics reflect in his art, how Sukari understands the world of metaphysics and then interprets all inner and worldly issues (Sekala-niskala), how to negate Hindu-Balinese philosophy and the contemporary world to give birth the narratives of spirituality through painting with metaphors and symbolizations. Keywords: Metaphysics, Painting, Hindu-Balinese Philosophy, Aesthetics, Hermeneutics
Tubuh yang Mencipta Momen: Praktik Negosiasi Tubuh dalam Tari Wajah Karya Hartati
The practice of the body in contemporary dance is always marked by novelty and invention. For Indonesian choreographers, contemporary dance is a practice of negotiation that brings the influence of tradition from the past into contemporary body. This paper is intended to reveal the practice of body negotiation in Wajah (2013), a dance work of Hartati, an Indonesian choreographer of Minangkabau descent who is known for her progressive dance works. It is one of Hartati’s dance work which reflect her background as a choreographer embodied two different traditions, namely the Minangkabau tradition and the urban Jakarta. The non-linear experience of the body became the foundation of Hartati’s creativity in the creation of his contemporary works. Therefore, Wajah is an experimental dance, a result of negotiation which bring together the influence of Minangkabau dance tradition based on silat with another influences like balet and daily movements into contemporary bodies. By applying the perspective of embodiment, this paper analysed the performative text as well as the negotiation practice in the making process of dance. This practice has resulted an extra daily technique with moment making orientation
Eksperimentasi Metode Terapi dengan Musik untuk Pasien Skizofrenia di RSJD Surakarta
AbstractThe object of study "Experimentation With Music Therapy Method for the Treatment of Schizophrenia in a Psychiatric Hospital Area Surakarta" aims to uncover and describe the shape of healing method performed by a team of occupational RSJD Surakarta to patients with schizophrenia. The research appears as the existence of a form of musical phenomenon in which there are adaptations as a form of healing effort to psychiatric patients with schizophrenia. Schizophrenia is classified as severe mental disorders ( psychotic ) that attacks the majority of patients at the Mental Hospital of Surakarta. Besides occupational team also did a musical experimentation that aims to find the song material in accordance with the psychological and social conditions of patients with schizophrenia This study uses the approach of ethnomusicology delivered with the theory and the concept of the four imperatives Talcot Parson as follows; adaptation, goal Attaintment, integration, and latency. Then the author uses to do research in qualitative ethnographic methods using techniques literature study, observation, and interviews. The results of the analysis found that occupational therapy is music with a tempo of 60-75 bpm is able to stabilize the emotions in schizophrenic patients. Occupational therapy with the tempo of the achievements gained 75% of the experimentation results obtained through the four models of the patient. Keywords: Schizophrenia, Occupational Therapy, Regional Psychiatric Hospital Surakarta