Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
160 research outputs found
Sort by
Strategi Budaya melalui Mobilisasi Masyarakat untuk Membuat, Mengedarkan, dan Menonton Film Di Purbalingga
Selain itu, kehadiran lm di Indonesia memanglah tidak begitu lentur fungsinya kepada masyarakat. Jika masyarakat masih menempatkan lm sebagai hiburan, padahal lm memiliki fungsi yang beragam, maka terjadi persoalan pada tata peredarannya. Terdapat agenda politik ekonomi tertentu yang menggiring lm memiliki fungsi atas kepentingan tertentu. Padahal lm mampu memiliki fungsi sebagai media alternatif untuk mendapatkan pengetahuan yang luas, di saat konsumsi terhadap pengetahuan di Indonesia masih saja dibatasi. Celakanya pembatasan tersebut tidak dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga kelompok-kelompok baik berbasis massa maupun berbasis modal. Persoalan tersebut sebenarnya sudah disiasati oleh kelompok CLC Purbalingga. Kelompok ini tidak lantas bergantung pada regulasi tata edar per lman di Indonesia dan budaya menempatkan lm sebagai strategi hiburan. Mereka berinisiasi mengelola ruang tontonan dan turut memberikan fasilitas berupa pengetahuan kepada siswa- siswa SMA dan SMK di Purbalingga dalam membuat lm. Hasilnya tidak hanya berbicara mengenai kuantitas jumlah lm saja, melainkan tontonan lm mampu menjadi bagian dari budaya masyarakat Purbalingga. Sedangkan produk lmnya, secara konsisten selalu mendapat apresiasi dan penghargaan dalam skala nasional maupun internasional dari tahun 2004 hingga 2018. Upaya yang dilakukan CLC Purbalingga terhadap lm dapat mengubah posisi lm tidak sebatas menjadi media hiburan saja, melainkan menjadi literasi bahkan menjadi bagian dari budaya
The Meaning Of Meaning dalam Teori Lacan
In this article contains the discourse of understanding of an understanding. Self- understanding when we contemplate quite broad, abstract, and infinite. Not separated from it, the author tries to provide a frame of discussion in this paper, among others; (1.) Discourse of Lacques Jacques (Lacoste), (2.) Language and Significance, (3.) Lacanian and Language Psychoanalysis, (4.) Symbolic Order, (5.) Schizophrenia as Metaphor, (6.) Schizophrenia as Psychoanalysis. The issue discussed in this paper is the discourse of psychoanalytic semiotics and correlates with semiotic philosophy. So the reader understands a science related to philosophy as well as its relation to the truth and beliefs contained in an analysis
Plot Sebagai Penjelasan Sejarah: Perihal Kembalinya Arjuna dari Kematian atau Hilangnya
Arjuna died. He was accidentally killed by Prabu Suteja. There was a war between Prabu Suteja and Raden Purwagada, sons of Prabu Kresna. In its next few scenes, Arjuna is revived and appears in Dwarawati Kingdom’s scene without any explanation. It is narrated in a play entitled Kresna Adu Jago by Ki H. Anom Rusdi from Cirebon. Arjuna disappeared since the war between Prabu Kresna and Dewi Pertiwi’s son Bomanerakasura and Samba the son of Prabu Kresna and Dewi Jembawati. Punakawan reported that Arjuna had died in the war. Arjuna and punakawan were both vanished while Arjuna actually lives as an ascetic in Mintaraga cave and later be called as Begawan Ciptaning Mintaraga. Arjuna as Begawan Ciptaning Mintaraga appears in Mintaraga play by Ki Timbul Hadiprayitno from Yogyakarta. Kresna Adu Jago and Mintaraga plays are not identical. Names of the involved characters are different though problems within both plays are similar: a war between sons of Kresna which exacerbates the next problem. The next problem in Kresna Adu Jago is Nerakasura’s grudge against the death of his father, Prabu Suteja, which makes him face Gatutkaca and meet the same fate: died in Gatutkaca’s hands. Problem in Mintaraga is liberation efforts of Dewi Supraba in avoiding Prabu Nirbita Niwatakaca’s intention to marry the angel. Both plays appear identical only on matters of Arjuna’s death, disappearance, as well as his reappearance. Arjuna’s reappearance have the most important difference: Arjuna’s reappearance in Kresna Adu Jago is without reason while it has reasons in Mintaraga. In theories of plot, this cause-effect or effect-cause patterns (instead of a time-based sequence) are called plot. In historical theories, this cause-effect interaction, rather than a sequence of events based on the background of time, is referred to as historical explanation. Through theories of plot, Arjuna’s death in Kresna Adu Jago is a muted history. Through historical theories, Arjuna’s reappearance in Mintaraga is a forged history. Both ways of telling, as options of storytelling, are equally valuable as aesthetic strategies
Sumbangan Budaya Islam dalam Pelestarian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Tradisional di Jawa
Genuine culture or prehistoric culture, such as: Nusantara, is a culture that was not influenced by foreign culture. However, the development stimulates possibility of culture mixing. The mixing process between that is a dialogical process, which placed the local culture as non-passive culture. The arrival (or expansion, ed) of Islamic culture in Java does not ruin the culture that existed (pre Islamic era), but there was a mixing or acculturation. This paper deals with various wayang as the material of the mixing dialogue. The conclusion of this case is the diffusion or spreading Islamic Art adopted pre-Islam element with cultural acculturation, then the continuity of Javanese culture keep continues. In other hand, the existence of traditional art is maintained
Perhatian Tubuh dalam Bingkai Festival
Studies on the festival are much found, both traditional and modern festivals. However, there are still many focus points that discuss management and governance, especially in an organization. We know that the festival is a moment which is an event to break the time and space temporarily in real time. At least there are certain techniques that unconsciously ‘capture’ what we are seeing and feeling as personal experiences. Then the part that constructs our understanding of what message the organizer communicates. Need to be examined further when reviewing a festival would be very important to categorize the form of the festival. This paper tries to find opportunities to examine the festival through the response of the performer and audience with a focus on body attention. Moreover, the audience is a member of a community and actively participates in festivals (outside the committee) which actually always emphasizes culture. Some of the possibilities that have been described in this paper can be stimulus to start viewing a festival from the attention of the body of the audience, participants, performer as well as what is involved in the scope of the festival. In addition, this paper highlights the festival through its community, social movements, expressive culture, individual bodies, social bodies, and interactions between bodies as a methodological offer in groping and sorting out what are likely to be studied
Intuisi Musikal sebagai Metode Penciptaan Lagu Istikharah Cinta Karya Yedo Kurniawan dari Grup Sigma, Dumai
Tulisan ini membahas penciptaan lagu Istikharah Cinta oleh Yedo Kurniawan grup Sigma dari Kota Dumai yang mengandalkan intuisi musikal dalam penciptaannya. Lagu Istikharah Cinta diciptakan oleh Yedo Kurniawan terinspirasi dari pengalaman pribadinya sebelum menikahi perempuan pilihannya. Yedo Kurniawan menuangkan intuisi lagunya pada musik nasyid tanpa memikirkan baik atau buruk ketika dipublikasikan. Pada lirik lagu yang sarat sastra diperoleh dari pengalaman membaca buku-buku Buya Hamka. Melodi lagu merupakan pengalaman dan membayangkan tiap kejadian kemudian dilahirkan dengan suasana musik. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik wawancara dan pengamatan mendalam terhadap lagu Istikharah Cinta. Lagu ini diaransemen hasil dari seleksi arranger dari beberapa kota, seperti: Dumai, Medan, Bandung, Semarang dan pilihannya pada arranger dari Yogyakarta, karena lebih cocok dengan selera musiknya. Hasilnya lagu Istikharah Cinta menjadi populer di kalangan pencinta nasyid.Kata Kunci: musik nasyid, instuisi musikal, lagu Istikharah Cinta, Sigm
Alua Jo Patuik Simarantang Karang Manih dalam Bingkai Proses Kreatif Efyuhardi
Intellectual beauty is a wonderful thought based on science. The beauty in the sense of a purely aesthetic concerns aesthetic experience of a person in relation to everything dicerapnya. Efyuhardi traditions of knowledge as the son of Pariaman area, as well as the knowledge acquired through the theater Theater Arts education makes work interesting Manih Simarantang Reefs for review of the creative process. Efyuhardi implement cultural creativity in the form of Pariaman to Simarantang identified as Tuo Randai. Efyuhardi creative acts of the creation of the Simarantang Karang Manih shelter on aesthetics Minangkabau is Alua jo Patuik. Keywords: Simarantang Karang Manih, Efyuhardi, and Alua jo Patui
Pengalaman Musikal dalam Teori Kecerdasan Majemuk Howard Gardner
The interest in music studies from various disciplines has increased in recent years. This is because the results of studies that show musical abilities are related to non-musical abilities. One example is research on music and intelligence. Music with intellectual intelligence and emotional intelligence has been proven to have strong relationships. Therefore, this paper was made as one of the studies on the relationship of music with intelligence, especially multiple intelligences that have not been widely studied before. The research method used is the study of literature. This literature study aims to build and construct conceptions more strongly based on empirical studies that have been done before
Bentuk Perkembangan Busana Pengantin Perempuan Masyarakat Gorontalo dalam Prosesi Malam Mempertunangkan
Adat perkawinan bagi masyarakat Gorontalo merupakan peristiwa penting dan mengandung nilai-nilai budaya, di antaranya dicerminkan pada busana pengantinnya. Objek kajian penelitian ini adalah busana pengantin perempuan masyarakat Gorontalo. Fenomena perkembangan busana dari masa ke masa menjadikan busana pengantin Gorontalo juga mengalami perkembangan dari aspek bentuk. Perkembangan bentuk busana pengantin dipengaruhi faktor sosial masyarakatnya dan pengaruh perkembangan industri tekstil. Pengaruh sosial ditandai adanya perluasan masyarakat Gorontalo yang tinggal di luar daerah asal, sedangkan pengaruh bidang industri ditandai dengan alat dan bahan lebih variatif untuk membuat busana pengantin Gorontalo. Penelitian ini bertujaun menemukan bentuk perkembangan busana pengantin tahun 2013-2017, dengan objek busana madipungu sebagai busana yang dikenakan pada acara malam mempertunangkan. Analisis data dideskripsikan secara kualitatif dan disertai dengan tabel perkembangan. Hasil penelitian menemukan unsur-unsur busana pengantin perempuan yang dimodifikasi, terdiri dari aspek bentuk, tekstur, warna, ragam hias, dan cara pembentukannya
Kajian Nilai Pendidikan Karakter dalam Simbolisme Visual Topeng Panji & Relevansinya pada Pembelajaran Apresiasi Seni Rupa di SMA
Tujuan penelitian ini adalah ingin menjelaskan nilai pendidikan karakter dalam simbolisme visual topeng Panji dan relevansinya dalam pembelajaran apresiasi seni rupa di SMA. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi, dan analisis dokumen pada koleksi museum, koleksi pengrajin, dan sumber pustaka lain. Data dianalisis dengan langkah reduksi data, display data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa topeng Panji memiliki banyak simbolisme visual dari beberapa tokoh. Simbol-simbol yang ditemukan yaitu bentuk jamang, alis, mata, hidung, mulut, dan warna wajah topeng. Masing-masing simbol memiliki nilai pendidikan karakter. Nilai pendidikan karakter yang telah ditemukan relevan dalam Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi. Dilain sisi, topeng panji dapat digunakan sebagai materi ajar dalam pembelajaran apresiasi seni rupa di SMA. Siswa dapat mengevaluasi dan mendiskripsikan sejarah, unsur seni, bentuk, dan makna topeng. Terdapat dua manfaat, pertama siswa tahu tentang seni rupa tradisi, dan kedua siswa memiliki karakter yang baik melalui hasil dari pembelajaran tersebut