Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
    160 research outputs found

    Album Kompilasi sebagai Pembentuk Habitus Musikal bagi Komunitas Jazz Jogja

    Get PDF
    Musisi dan penggemar musik jazz di Yogyakarta tergabung dalam Komunitas Jazz Jogja (KJJ). Yogyakarta yang predikatnya sebagai kota pelajar mampu merekonstruksi pertunjukan jazz yang dikatakan elit, salah satunya acara Jazz Mben Senin. Acara ini dipentaskan di halaman parkir gedung Bentara Budaya Yogyakarta. Akses yang mudah inilah membuat penikmat dan musisi jazz semakin bertambah di Yogyakarta. Komunitas Jazz Jogja telah memproduksi album kompilasi sebagai salah satu wujud eksistensinya. Pengisi atau grup pada album kompilasi ini tidak semuanya memiliki basik musik jazz. Melalui album kompilasi, habitus musikal anggota Komunitas Jazz Jogja terkonstruksi mengikuti benang merah pada setiap albumnya

    Kreativitas dan Spiritualitas dalam Pertunjukan Goro-Goro Diponegoro Karya Mantradisi

    Get PDF
    INTISARIMacapat secara umum didefinisikan sebagai karya sastra Jawa Baru yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dan memiliki aturan persajakan yang baku. Berdasarkan catatan sejarah,  tercipta dari unsur budaya Islam, Hindu, dan kepercayaan Jawa (kejawen), secara implisit mengandung nilai spiritualitas dari beberapa unsur budaya religi tersebut karya sastra ini cukup populer bagi masyarakat Jawa berfungsi untuk berbagai kepentingan mulai praktik artistik, keagamaan, sosial, pendidikan, dan sebagainya.Seiring berjalannya waktu, tembang macapat dihadirkan dalam bentuk sajian budaya musik populer. Kelompok musik Mantradisi menghadirkan bentuk kreativitas penyajian tembang macapat menggunakan media musik populer dan teknologi audio-visual effect. Kehadiran Mantradisi menghadirkan bentuk baru dalam penyajian macapat, dari musik tradisional menjadi musik populer. Transformasi bentuk musikal tersebut memberikan perubahan dalam penilaian estetika dan spiritualitas.Perubahan bentuk wahana dari macapat menjadi pertunjukan Goro-goro Diponegoro menghadirkan perubahan bentuk musikal yaitu  komposisi, tangga nada,  dan non-musikal seperti performativitas dan estetika. Pertunjukan Goro-goro Diponegoro juga menghadirkan bentuk praktik spiritualitas bagi para pemainnya. Keterkaitan antara macapat dan pertunjukan Goro-goro Diponegoro sebagai media praktik spiritual memberikan kesimpulan bahwa sifat sakral dan profan dalam pertunjukan Goro-goro Diponegoro telah melebur menjadi spiritualitas.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mewacanakan berbagai perspektif keilmuan. Analisis tekstual penelitian ini menggunakan wacana kreativitas, estetika, alih wahana, performativitas sedangkan Analisis kontekstual spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kreativitas yang terdapat pada pertunjukan Goro-goro Diponegoro dan mencari relasi antara seni dengan agama.    

    Rekonseptualisasi Dokumenter: Kebenaran Filmis dalam Perspektif Kognitif

    No full text
    Rekonseptualisasi dokumenter memiliki urgensi dalam kajian dokumenter untuk memberikan sudut pandang lain bagi klaim kebenaran filmis. Rekonseptualisasi ini berangkat dari persepektif film kognitif dengan melibatkan kegiatan menonton, di mana proses pemahaman dan pengalaman penonton menjadi dasar bagi rekonseptualisasi ini. Kajian literatur menjadi langkah awal dalam rekonsetualisasi dengan tujuan (1) mengkaji berbagai isu dan pemahaman dokumenter mutakhir: (2) memetakan dan mengulas teori-teori yang menjelaskan bagaimana dokumenter didefinisikan selama ini: dan (3) menentukan sudut pandang alternatif bagi kebenaran filmis bagi dokumenter. Rekonseptualisasi dilakukan bertahap melalui tiga jalur konseptual, yaitu: (a) penyelidikan terhadap penelitian terdahulu, (b) pemetaan problem dari penelitian terdahulu, dan (c) tawaran sudut pandang sebagai alternatif bagi penyelesaian problem terdahulu. Tiga jalur konseptualisasi tersebut dipilih dengan alasan bahwa sejak dokumenter didefinisikan dan diteorikan, maka saat itu juga muncul isu-isu sentral yang memusatkan pembicaraan terhadap klaim kebenaran. Problem terkait klaim kebenaran yang dimaksud, notabene diletakkan pada hubungan antara fakta (realitas) dan kebenaran filmis dalam film dokumenter, di mana hubungan itu memiliki keterkaitan yang sesungguhnya keduanya tidak dapat diidentikan

    Menyemai Benih Nilai Multikultural melalui Pembelajaran Penciptaan Tari Kelompok di Sekolah Menengah Atas

    Get PDF
    Negara Indonesia dengan penduduk yang multietnis perlu mengupayakan bagaimana membangun sikap menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antar golongan), agar memiliki sikap untuk saling toleransi, menerima dan menghormati perbedaan. Hal itu dilakukan antara lain melalui pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA), pada khususnya pembelajaran tari dianggap strategis sebagai alat pendidikan multikultural di sekolah. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana Sekolah Mengah Atas Yogyakarta menterjemahkan kurikulum 2013 dalam pembelajaran tari, bagaimana memaknai empat sifat multilingual, multidimensi, multikultural, dan multikecerdasan dalam dimensi koqnitif, affektif, dan motorik. Artikel ini difokuskan untuk mengkritisi praktik pembelajaran tari sebagai alat pendidikan dan bermanfaat untuk menyemai nilai multikultural agar siswa mempunyai sikap toleransi dan apresiatif terhadap keberagaman budaya Indonesia. Observasi dilakukan di Sekolah Menengah Atas (SMA) Yogyakarta dengan metode purposive sumpling, mendiskripsikan, dan mengidentifikasi sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran tari dalam perspektif multikultural. Selain itu dengan kriteria menggunakan kurikulum 2013, materi tari yang diajarkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia terutama pembelajaran penciptaan tari kelompok, siswa berasal dari beberapa daerah termasuk dari desa dan kota. Hasil pengamatan bagaimana menyemai atau menanamkan nilai multikultural perlu digali dan diupayakan terus menerus melalui pembelajaran penciptaan tari kelompok. Siswa mendapat pengalaman menciptakan tari kelompok, diharapkan akan membentuk karakter kerjasama, kreatif, dan estetis. Nilai multikultural dalam pembelajaran penciptaan tari kelompok adalah toleransi, apresiatif, dan menerima perbedaa

    Proses Dramaturgi dari Teks Sastra Syair Lampung Karam ke Teks Pertunjukan Teater Under The Volcano

    Get PDF
    Penelitian ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses dramaturgi yang menjembatani transformasi dari teks sastra Syair Lampung Karam menjadi teks pertunjukan teater Under The Volcano. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Sumber datanya adalah pengamatan langsung atas pertunjukan, pengamatan atas proses penciptaan, dokumentasi pertunjukan, catatan proses dan hasil wawancara. Berdasarkan data tersebut dilakukan analisis terhadap tindakan dramaturgi dan pemikiran dramaturgis yang melatar belakanginya terciptanya teks pertunjukan teater Under The Volcano, yang dipandang sebagai rangkaian proses dramaturginya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks pertunjukan teater Under The Volcano adalah bentuk ekspresi dari pengalaman masyarakat yang tinggal di lingkungan gunung berapi, yang dibangun dengan mengambil abstraksi dari pengalaman bencana alam letusan Gunung Krakatau yang dikisahkan dalam Syair Lampung Karam

    Mwathirika sebagai Materi Tambahan dalam Mempelajari Sejarah 1965

    Get PDF
    30th of September Movement, or Gerakan 30 September in 1965 was one of the watershed moments in the course of history of Indonesia. The transition to the New Order from the Old Order and the events surrounding it are deemed so important that the Department of Education and Culture includes it into the official curriculum taught at XII grade students. G30S and the conflicts around the year 1965 are pictured in an optimistic tint, like a good struggle towards a better new era of development. On the other hand, what happened – and what is felt - in the artistic world is more on the contrary, since many artists associate the events with dark, dreadful situations of violence and unrest. Mwathirika by Papermoon Puppet Theater is one example of artists’ works regarding G30S, with this one in particular using the medium of contemporary puppet theater. The play Mwathirika itself doesn’t explicitly show the transition of governmental power. Instead, it focuses on the loss of the victims around the events. These differing point of views from the government and artistic world is what prompted this research, thus arriving to the question of whether contemporary performance art can provide supplemental education for high school students, especially regarding sensitive matters in one own’s history

    Mendengar untuk Membaca Fantasia for Piano and Orchestra, Theme From The Indonesia Pusaka Music Karya Joko ‘Lemazh’ Suprayitno

    Get PDF
    Membicarakan karya komposisi dan aransemen musik dalam konteks musik di Indonesia merupakan hal yang cukup membingungkan. Semakin hari batas antara keduanya semakin dimaknai sebagai proses yang bertolak belakang, padahal sesungguhnya merupakan proses yang saling bertautan dan tidak terpisah. Persoalan ini kiranya perlu untuk segera diuraikan agar tidak terjadi kesalahan dalam memahami karya musik yang semakin larut. Berbekal pengalaman dalam komposisi dan aransemen musik, Joko Lemazh dan karyanya Fantasia for Piano and Orchestra, Theme from The Indonesia Pusaka Music by Ismail Marzuki menjadi pilihan tepat untuk mengurai persoalan tersebut. Systematic musicology dan tinjauan sejarah musik menjadi pintu pertama dalam menganalisis karya. Melalui pintu tersebut pembicaraan akan mengarah pada pencarian nilai estetis dalam karya sebagai upaya memahami kedalaman antara komposisi dan aransemen musik. Dengan mempraktikan deep listening, setidaknya ditemukan empat aspek dalam membentuk kemenarikan atau attractiveness sebagai estetika musik dalam karya ini. Empat aspek tersebut meliputi kerumitan, momentum, keindahan, dan vistuositas. Merujuk uraian dalam tulisan ini, dapat dikatakan bahwa komposisi dan aransemen bukan sebuah proses yang berbeda melainkan proses yang bertautan dan tidak terpisah. Hal yang membedakan hanyalah tujuan memberi pengalaman attractiveness kepada pendengar, dan upaya ini hanya bisa dilakukan dengan kedalaman pengolahan struktur formal musiknya

    Rampak Kendang Patimuan Cilacap sebagai Wujud Difusi Kesenian Jawa Barat

    Get PDF
    Persamaan atau kemiripan budaya yang ada di satu daerah dengan daerah yang lain terjadi karena adanya difusi atau persebaran budaya. Kemungkinan tersebut terjadi karena adanya agen yang membawa produk budaya tersebut ke wilayah baru yang ia tempati sehingga terjadi akulturasi di dalamnya. Seperti halnya pada pertunjukan rampak kendang yang berada di wilayah Patimuan Cilacap. Akulturasi terlihat dari bentuk pertunjukan yang memiliki perpaduan antara musik Jawa Barat dan Jawa Tengah hingga memunculkan suatu sajian baru yang menarik. Perpaduan yang ada merupakan bentuk negosiasi seni pertunjukan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor di dalamnya

    Ekspresi Seni Warga Kampung Joyoraharjan

    Get PDF
    Tulisan ini merupakan studi terhadap ekspresi seni warga kampung Joyoraharjan, Purwodiningratan, Jebres Surakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi warga kampung Joyoraharjan dalam membangun kampungnya melalui kegiatan kesenian dan sejauh mana warga kampung mengelola lingkungan kampung dan mengekspresikan kreativitas seninya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan beberapa warga kampung. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa motivasi warga kampung dalam membangun kampungnya adalah memperkuat kolektivitas dalam rangka membangun identitas kampung. Ekspresi seni warga Kampung Joyoraharjan meliputi beberapa bentuk atau medium antara lain seni rupa yang terwujud dalam mural, lukisan dan musik yang berupa permainan Gejluk Lesung. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa kampung sebagai penyangga kota memiliki keterikatan dengan tradisi yang terus-menerus berusaha diartikulasikan kembali oleh warganya

    The ‘New Enemet’: Politics of Religion in Indonesia and The Impact on Contemporary Artistic Practies

    No full text
    The present paper wishes to investigate the relation between the politics of religion and the consequent effects on the contemporary art practices in Indonesia during the last decade. By looking at two major cases:Christanto’s exhibition in 2002 and “Pinkswing Park” from 2005 CP Biennale, the article takes an incursion into the relations between religion and politics by looking at how and in what ways the Islamic extremist groups can influence and restrict freedom of expression in a democratic country. I argue that the Islamic fundamentalists are representing the new enemies in the current freedom of expression, after the previous eras which saw the presence of other enemies: the state and the military, affecting both the levels of nation policies, contemporary art world and the individual artistic practice

    144

    full texts

    160

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Seni
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇