Jurnal Kajian Seni
Not a member yet
160 research outputs found
Sort by
Dialektika Kreatif Penataan Tari Inai dari Panggak Laut, Daik Lingga, Kepulauan Riau Dalam Tari Seri Inai
This aims article to present a dialectic of the dance composition, Seri Inai that is based on traditional Inai dance from Sri Kemuning dance group in Panggak Laut, Daik Lingga, Kepulauan Riau. This dance composition is an effort to dance organization with local values and wisdom. The purpose of the dance composition is to enable it to be easily performed by the community, especially the younger generation. Qualitative research method is used through interviews, observation and study of references. Dance sociology approach is explain to scrutinize the dance, and choreography used in the process of the dance composition of Seri Inai. The conclusion in this article is related to dance composition of Seri Inai in textual aspects that is customized by socio-culture values of the Malay community in Panggak Laut, Daik Lingga. Key words: dance composition, Seri Inai, dance organization, Panggak LautArtikel ini bertujuan untuk menunjukan dialektika pada wujud penataan tari kreasi Seri Inai yang berpijak dari tari Inai tradisional dari Sanggar Sri Kemuning, Panggak Laut, Daik Lingga, Kepulauan Riau. Penataan tari ini merupakan upaya pelembagaan tari yang berkaitan dengan keberlangsungan wadah dan nilai-nilai kearifan lokal pada tari tertentu. Tujuan penataan tari kreasi Seri Inai adalah hasil komposisi tari yang bisa lebih menarik dan dapat diperagakan oleh masyarakat umum terutama generasi muda. Metode penelitian kualitatif dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Pendekatan Sosiologi Tari digunakan untuk mencermati tentang pelembagaan tari dan pendekatan Koreografi digunakan untuk proses menata tari Seri Inai. Hasil pembahasan dalam tulisan ini berkaitan dengan wujud penataan tari Seri Inai secara tekstual yang melibatkan penyesuaian antara sumber penciptaan tarinya dengan komposisi tarinya, yang juga berkaitan dengan aspek nilai-nilai sosial budaya masyarakat Melayu di Panggak Laut, Daik Lingga.Kata kunci: penataan tari, Seri Inai, pelembagaan tari, Panggak Laut
Suling Dewa Sebagai Identitas Simbolik Masyarakat Sasak Kuto-Kute di Karang Bajo Bayan Lombok Utara
This study aims to identify the role of Suling Dewa as a symbolic identity of the Karang Bajo community, North Lombok. The groups living in Bayan have different backgrounds. This phenomenon becomes interesting when among the four community groups in Wet Bayan, only the Karang Bajo people present different symbolic values for the existence of Suling Dewa. This theory used in this study is the theory of Burke and Jan E. Stets which states that identity is formed through symbols and the meaning of symbols as a perception. To see how the ideological reflection the author also refers to Thomson's opinion on ideology and the use of symbolic forms and the attraction between interpretation, self-reflection, and identity criticism. This research identifies that the background predicate as spiritualists in the Karang Bajo community is a fundamental substance that gives birth to a symbolic identity of a supernatural bridge in Suling Dewa
Adaptasi Estetika Permainan Musik Barat pada Big Band Salamander
This article describes the adaptation of foreign culture in the form of jazz big band music by Salamander Big Band. Aesthetics is a study of the processes that occur in three basic elements, namely: aesthetic objects, aesthetic subjects, and aesthetic values related to aesthetic experiences, aesthetic properties, and attractive and unattractive parameters. The process of adapting the aesthetics of playing music is the process of adjusting the aesthetics of playing music carried out by an individual/community to cultural outcomes from outside the individual/community culture. This research uses qualitative approach method with descriptive analysis. Researchers describe the results of the research based on the results of observation, interview, and documental studies relating to players and experts in the field of big-band music. This paper presents the basic elements of western music aesthetics, especially big band jazz music and how Salamander Big Band can adapt and implement the aesthetic values of western jazz big band music in its music playing. Through a process of appreciation, habituation, additional insight into jazz music, continuous and consistent practice, Salamander Big Band members are able to adapt to cultures from outside of Indonesia’s popular music culture, that is playing American big band music with the correct aesthetic.Artikel ini menjelaskan tentang estetika permainan musik big band jazz yang diadaptasi oleh komunitas non-formal big band Salamander. Estetika merupakan kajian tentang proses yang terjadi pada tiga elemen dasar, yaitu: objek estetis, subjek estesis, dan nilai estesis yang terkait dengan pengalaman estesis, properti estesis, dan parameter kemenarikan maupun ketidakmenarikan. Proses adaptasi estetika permainan musik adalah proses penyesuaian estetika permainan musik yang dilakukan oleh suatu individu/komunitas terhadap hasil budaya asing atau budaya baru. Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Tulisan ini menghadirkan elemen-elemen dasar dari estetika musik barat khususnya musik big band jazz serta bagaimana big band Salamander dapat mengadaptasi dan mengimplementasikan nilai-nilai estetika musik big band jazz barat dalam permainan musik yang dimainkan. Melalui proses adaptasi estetika dalam memainkan musik dengan benar dan sesuai, dapat menghasilkan produk musik yang lebih baik, mendekati estetika musik aslinya atau bahkan lebih baik dari versi aslinya
Encounter with The Other: The Serialists and The Spectralists
Musik kontemporer di Paris pada tahun 1970an didominasi oleh musik serial, dan spektralisme hadir memberi alternatif. Di tulisan ini, saya berargumen bahwa fenomena naiknya musik spektral ini bukan hanya sekedar masalah domestik musik kontemporer Eropa, tetapi fenomena ini berkaitan erat dengan masalah hubungan dengan yang “Liyan”, termasuk dengan budaya musik non-Barat. Dalam analisis saya, saya menemukan tendensi pada komposer musik serial untuk menjadi eksklusif melalui apa yang saya sebut mekanisme Othering, yang muncul pada tulisan-tulisan Schoenberg dan Boulez. Sebaliknya, komposer spektral menunjukkan sikap yang lebih inklusif terhadap musik di luar musik kontemporer Eropa. Musik spektral menawarkan terobosan dalam cara pandang terhadap musik, baik dalam ranah teknis mau pun kultural. Sebagai contoh, menggunakan spektrum inharmonik untuk basis komposisi daripada spektrum harmonik—spektrum harmonik sering digunakan sebagai landasan teori untuk membingkai musik non-Barat sebagai “alami” dan “belum tersentuh”. Contoh lain adalah memblurkan perbedaan antara warnanada dan harmoni, di mana konsep ini memperluas konsep harmoni, hingga tidak terbatas pada definisi harmoni klasik Eropa. Musik spektral membuka jalan baru untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang inklusivitas. The Parisian contemporary music scene was dominated by serial music in the 1970s, and spectral music came to provide a musical alternative. In this essay, I argue that the rise of spectral music is not merely a domestic phenomenon within the European contemporary music scene, but that it is deeply tied with the issues of Othering, including the relationship with non-Western musical cultures. My analysis points out the tendency of exclusivity of the serialists via what I call mechanisms of Othering, as appears in the writings of Schoenberg and Boulez. On the contrary, the view and approach of the spectral composers tend to be more inclusive towards various musical system. Spectral music proposes viewpoints that are groundbreaking on the technical and cultural level. For example, putting the focus on the inharmonic spectra as a compositional basis, which negates the obsession towards the harmonic spectra, as it is often used as a theoretical justification to frame non-Western music as being “natural” and “untouched”. Another example, blurring the distinction between timbre
Konstruksi Musikal Sekar Anyar dalam Tembang Sunda Cianjuran: Analisis Struktur Dongkari dan Formula Ornamen pada Lagu “Wegah”-“Sajeroning Sindang”
ABSTRACTSekar anyar is tembang sunda cianjuran innovation who created by Ubun Kubarsah. The term of serkar anyar in tembang sunda cianjuran first appeared in the XIX Pasanggiri Tembang sunda cianjuran (PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) that goes on Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung in December 2009. During this time, sekar anyar in tembang sunda cianjuran is still a debate among the tembang sunda cianjuran community. The discourse that appears in the sekar anyar is basically debating about the terminology itself, the problem of characteristics (in this case, the issue of musical and non-musical), the issue of character assassination, to the issue of whether sekar anyar is fit to be included in the category of the tembang sunda cianjuran genre. The following resarch aims to explain how the musical construction of sekar anyar in the tembang sunda cianjuran from the perspective of using the dongkari structure and the formula ornamen in the song "Wegah" - "Sajeroning Sindang".This research employs the ethnographic method with the theoretical framework of Bruno Nettl's selective approach to musical descriptions. The average use of dongkari and the use of ornaments in the sekar anyar song tends to be minimal. The lack of dongkari and ornamentation in the sekar anyar greatly influenced the achievement of the nuances of character that usually apply to tembang sunda cianjuran. ABSTRAKSekar anyarmerupakan karya inovasi dalam tembang sunda cianjuranyang digagas oleh Ubun Kubarsah. Istilah sekar anyardalam tembang sunda cianjuranpertama kali muncul pada Pasanggiri Tembang Sunda Cianjuran(PTSC) Daya Mahasiswa Sunda (DAMAS) ke-XIX yang berlangsung di gedung Graha Sanusi Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung pada bulan Desember 2009. Keberadaan sekar anyardalam tembang sunda cianjuranhingga saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan masyarakat tembang sunda cianjuran. Wacana yang muncul pada fenomena sekar anyarpada dasarnya memperdebatkan soal peristilahannya itu sendiri, masalah ciri-ciri mandiri (dalam hal ini adalah persoalan musikal dan non musikal), issue pembunuhan karakter, sampai pada persoalan apakah laik sekar anyardimasukkan ke dalam kategori genre tembang sunda cianjuran. Penelitian ini difokuskan untuk melihat bagaimana konstruksi musikal sekar anyardalam tembang sunda cianjurandari perspektif penggunaan struktur dongkaridan formula ornamen pada lagu “Wegah”-“Sajeroning Sindang”. Penelitian dilakukan menggunakan metode etnografi dengan kerangka teori pendekatan selektif deskripsi musikal Bruno Nettl. Hasil yang didapatkan rata-rata penggunaan dongkaridan penggunaan ornamen pada lagu sekar anyarcenderung minim. Minimnya dongkaridan ornamen pada sekar anyarsangat berpengaruh terhadap pencapaian nuansa karakter yang biasa berlaku pada lagu-lagu tembang sunda cianjuran.
Teater Pose, Adaptasi Seni Peran Teater untuk Aplikasi Pertunjukan Fesyen Naratif
The purpose of this article is to find ways and formulas to create performance models with the application of forms and expressions of body poses, in a narrative fashion performance format. The adaptation method will be applied to identify forms and expressions of theater acting that are in accordance with the concept of narrative fashion performance. This type of research combines desk-research (literature study) and field-research (phenomenon studies), resulting in the identification of a number of themes, related to the phenomenon of pose expression, especially those that develop in social media.The making of the Pose Theater model, in the form of this Narrative Fashion Performance, is carried out with a multi-theory inclusion approach, namely: Performative Body, Pose Presentation, Affect Dramaturgy, Equilibrium Narrative, Transcoding Adaptation, and Atmospheric Aesthetics.The article resulted in the formulation of applied knowledge in the form of a theater acting adaptation strategy for the application of narrative fashion performances. The performance model is a synthesis of Theater Semiotics knowledge, with a focus on studying semiotics of clothing (in fashion styles) and the creation of performative body poses, which are based on research results on the phenomenon of 'selfie' and 'TikTok' on social media. The visual form of pose theater is established through the creation of ready-to-wear fashion, as well as the arrangement of the stage atmosphere based on the adaptation of the rules of fashion-ology.The script model still applies the Aristotelian dramatic structure, intended as an act of borrowing, where this model uses materials, ideas, or forms from the previous text, namely the modeling convention in theatre. But the way of arranging the elements in each scene is a transposition where adaptation is a change from one semiotic system to another, namely from a dramatic theater system to a kinetical-visual theater system. ABSTRAKPengembangan seni teater, khususnya bidang seni peran (acting) dapat dilakukan melalui strategi inklusi (multi) teori, dan diperkaya dengan wawasan lintas disiplin sebagai rekoneksi pengetahuan. Tulisan ini akan membahas strategi inklusi teori, antara Seni Peran Teater, Semiotika Pakaian, dan Fashion-ology; yang diperkaya dengan wawasan rekoneksi keilmuan untuk menghasilkan formulasi konsep baru, yaitu Teater Pose. Tulisan ini menghasilkan rumusan konsep Teater Pose, berupa strategi kinetik-visual untuk menyampaikan unsur naratif dan semiotika busana, dan adaptasi seni peran menjadi suatu vokabuler seni pose. Pada tingkat aplikasi, konsep ini diturunkan menjadi formulasi model Pertunjukan Fesyen Naratif. Pertunjukan Fesyen Naratif dibangun oleh kekuatan kreasi pose sebagai re-kreasi seni tablo, semiotisasi gaya fesyen menjadi representasi karakter, yang konsep naratif dan mode pengisahannya dikaitkan dengan hasil riset fenomena ‘selfie’ dan ‘TikTok’ di media sosial, sebagai referensi eksternalnya.Pembuatan model skrip sebagai aplikasi dari konsep Teater Pose, menggunakan struktur dramatik Aristotelian yang klasik, dimaksudkan sebagai tindakan meminjam (borrowing), di mana model ini menggunakan bahan, gagasan atau bentuk dari teks sebelumnya, yaitu konvensi pengadeganan dalam teater. Tetapi cara menyusun unsur-unsur dalam setiap adegan merupakan sebuah transposisi di mana adaptasi adalah perubahan dari satu sistem semiotik ke sistem semiotik lain, yakni dari sistem teater literal-dramatik menjadi sistem performatif visual-kinetik
Transformasi dan Transisi Opera Batak Studi Kasus Tilhang Serindo dan Plot
Opera Batak yang terlahir dari masyarakat Batak Toba mengalami mati suri sejak tahun 1980-an, setelah melalui perjuangan masa kolonial hingga masa kemerdekaan NKRI. Hingga pada awal abad ke-21 sekitar tahun 2000-an Opera Batak muncul kembali dengan penamaan, struktur dan makna pertunjukan berbeda. Kehadiran PLOt sebagai wujud tranformasi Opera Batak dari TIlhang Serindo, dipahami melalui teori transformasi-transisi Svašek, dengan pendeskripsian Opera Batak Klasik dan Transisi. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus di lakukan untuk pendeskripsian sejarah-naratif (Droysen) eksistensi kedua kelompok yang berasal dari Pematang Siantar Sumatera Utara, dengan melakukan metode rekonstruksi historis, field research dan wawancara. Transformasi Opera Batak adalah peristiwa transisi objek tradisi melalui ‘pengayaan’ yang berasal dari dalam tradisi atau perubahan endogen, yakni subjek kultural sebagai pelaku (pewaris), di lokasi sama dengan ruang waktu berbeda. Pengayaan sebagai hasil transisi terjadi berupa (akibat) perubahan visi (nilai) dan konsep (wujud) dalam struktur Opera Batak, yang menghasilkan identitas, nilai dan pemaknaan baru. Arti penting eksistensi Tilhang Serindo dalam Opera Batak Klasik adalah sebagai seni hiburan profan pengusung identitas kultural batak sentris abad ke-20. Sedangkan kehadiran PLOT sebagai seni representatif adalah upaya suatu entitas etnis untuk menghidupkan kembali dan melanjutkan visi Opera Batak Klasik, melalui ‘pengayaan’ seni tradisi lisan abad ke-21 dan di definisikan sebagai Opera Batak Transisi
Tata Ruang Perjalanan Matahari di Pondok Pesantren Pabelan Mungkid Magelang Jawa Tengah: Perspektif Arsitektur Islam
Arsitektur Islam dalam dalam tulisan ini diwacanakan dengan perspektif teori dari Nangkula Utaberta tentang Arsitektur Islam ditambah pemahaman tentang seni Islam dari Seyyed Hossein Nasr dan penafsiran Al-Quran dari Buya Hamka. Arsitektur Islam yang terwujud dalam tatanan ruang Perjalanan Matahari terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip; pengingatan terhadap Tuhan, ibadah dan perjuangan, kehidupan setelah kematian, toleransi kultural, dan terakhir tentang kehidupan yang berkelanjutan. Tata Ruang Perjalanan Matahari di Pondok Pesantren Pabelan dapat dimaknai sebagai sebuah karya Arsitektur Islam. Pemaknaan tersebut terwujud dari pengintegrasian model tata ruang Perjalanan Matahari sebagai penggambaran kehidupan manusia, yang tidak hanya sebatas perancangan fisik tanpa isi, melainkan model tata ruang tersebut lahir dari pemahaman akan nilai-nilai Islam yang bersumber pada Al-Quran dan Hadist
‘Being Contemporary’: Proses Ari Ersandi Dalam Karya Lalube
Artikel ini melihat bagaimana perspektif kekontemporeran seorang koreografer muda, yakni Ari Ersandi, melalui pengalaman serta prosesnya berkarya Lalube. Pelabelan tari kontemporer secara ekplisit maupun implisit pada festival maupun pergelaran karya tari. Produksi karya terus dihasilkan namun tidak seturut dengan produksi wacananya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memperhatikan fenomena yang terjadi melalui proses latihan dan pengalaman koreografer. Pewacanaan rasionalitas, kebebasan, kreativitas, dan kemanusiaan oleh Sal Murgiyanto dipadukan dengan konsep kekontemporeran Giorgio Agamben. Ari Ersandi, koreografer urban yang datang dari Lampung ke Yogyakarta mulai belajar tari di perguruan tinggi. Keterbatasannya menari tarian tradisi dan pengalaman hidupnya membuat Ari terpacu untuk mencari teknik gerak sendiri. Lalube menjadi ungkapan resistensi dan eksistensi Ari Ersandi. Kata Kunci : Kekontemporeran, Koreografer, Mud
Proses Kreatif Eko Supriyanto dalam Penciptaan Tari Balabala
Penelitian ini mengemukakan persoalan proses kreatif Eko Supriyanto dalam penciptaan tari Balabala, ditujukan untuk mengungkap bagaimana gagasan dan praktik kreatif tari kontemporer yang dikembangkan oleh Eko Supriyanto, dengan latar belakang kreativitas dalam ranah kultural dan jender yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan pendekatan etnokoreologi. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggabungkan studi pustaka, penelitian lapangan. Penelitian nantinya meghasilkan Buraian berupa proses kreatif penciptaan tari Balabala, serta gagasan kebaruan yang ada pada karya Balabala. Disisi lain, penelitian ini dapat menjadi refleksi kritis terhadap perkembangan tari kontemporer dan seniman tari di Indonesia yang dinamis, dengan tradisinya yang terus berubah dan beradaptasi dengan situasi kontemporer saat ini. Perlu ditegakan lagi bahwa kerangka pokok yang menjadi acuan dalam tulisan ini adalah proses kreatif dan hasil.Kata kunci: tari balabala, kreativitas, proses kreatif